Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Panic attack Ketika Terkena HERPES Zoster

Mendengar kata HERPES, bisa jadi sebagian orang langsung tertuju pada nama penyakit yang satu paket dalam TORCH: Toxoplasma, Cytomegalovirus, Rubelle dan HERPES Simpleks. Tidak sepenuhnya keliru, karena memang ada dua jenis HERPES yaitu Herpes Simplex dan  Herpes. 

Awalnya saya hanya tahu HERPES, “hanya” sejenis penyakit pada kulit yang menyerupai penyakit cacar air tapi tidak separah cacar air *persespsi saya saat masih unyu-unyu*. Pertama kali terkena si Herpes ini di bagian pundak. Saat itu, Bismillahirrahmaanirrahiim usai sesi Pra Jabatan selama dua minggu yang dipusatkan di Bumi Moro, Surabaya. Nah, setiba dirumah saya baru nyadar jika di pundak kiri saya ada semacam ruam-ruam merah. Awalnya saya kira keringet buntet, tapi keesokan harinya kok lebih eksis menyerupai cacar air yang disertai timbulanya gejala-gejala lain: rasa panas seperti luka bakar, ada rasa gatal, nyeri-nyeri di seluruh tubuh dan badan mulai demam.  Panic attack deh, “ jangan-jangan kena cacar air beneran neh?”. Secara, saya kan belum pernah kena cacar air.

Baru merasa cukup tentram dan damai saat ke dokter dan dibilangi “ini bisa disebabkan karena airnya yang tidak bersih, kondisi daya tahan tubuh yang menurun atau juga oleh stress”. Kala itu kan saya masih lebih beraliran, cuek dan gak suka banyak komentar, jadi gak tanya ba-bi-bu lagi.  Dengerin dokternya ngomong, terima obat (salep dan pil) dan pulang deh.  “Ehmm, it’s make sense. Kan selama masa PraJab yang berlansung dua minggu, saya berbaur dengan ratusan orang di asrama AAL tersebut, mandi pun berbagi air alias rebutan, sudah harus bangun sebelum shubuh dan baru bisa istirahat paling cepat jam 10 malam “, demikian pikir saya menyetujui pernyataan sang dokter.

Beberapa hari kemudian, penyakit yang mirip cacar air itu pun kering dan lama-lama hilang tanpa bekas lagi. Saya pun lama-lama lupa dan melupakan jika pernah ketiban penyakit kulit tersebut. 
Acyclovir merupakan salah satu Antivirus
yang sering digunakan untuk mengobati Herpes Zoster
Dan sekian tahun kemudian (setelah berlalu hampir 7 tahun), sama sekali gak pernah kepikiran bakalan terkena penyakit kulit itu lagi. Tapi nyatanya, di bagian kaki muncul penampakan yang serupa tempo dulu itu. Saat saya tunjukkan ke Tita yang paham soal medis karena suaminya berkecimpung di dunia kesehatan dan Tita sendiri knew well soal biologi (yang akrab dengan bakteri, virus, dan sebangsanya), 
Iki Herpes Mbak. Sampean pernah kena herpes ta?” diagnosa dari Tita tanpa menunggu jeda satu menit setelah melihat rona-rona kemerahan dengan beberapa bintik-bintik kecil yang ada semacam cairan. Olalalala……akhirnya jadi tahu kalau namanya HERPES.
Pernah dulu, pas selesai Prajab. Seperti ini di pundak tapi aku gak tau namanya apa”.
Oooo…nek jarena wong tuwo biyen, ngene iki jenenge cacar ulo (kata orang jaman dulu,  seperti ini disebut cacar ular)..” komentar Mbak Yah, teman yang ikut nimbrung memperhatikan ruam-ruam merah di kaki saya.
Kalau sudah pernah kena Herpes, memang ada kemungkinan memang bisa terkena lagi Mbak. Gak perlu panik, di kasih salep Acyclovir dan minum pil-nya juga. Itu Obat Generik kok, bisa dibeli di apotik-apotik. Kalau mau nunggu, besok ta bawain dari rumah saja gimana?” hemmm...sedikit lega mendengar kata obat generik, berarti kan herpes tidak termasuk penyakit yang mematikan. *tapi tetap bisa merenggut nyawa (menyebabkan kematian) jika tidak diobati ! *
Dan saya pun bertanya lebih untuk memperjelas apakah herpes ini sama seperti pada paket test TORCH yang dianjurkan pada persiapan kehamilan itu? 
Saya gugling dan mendapakan pencerahan jika jenis Herpes yang nyamperin saya adalah Herpes Zoster yang disebabkan virus Varicella zoster, yaitu jenis virus yang sama pada kasus cacar air. Karena penyebabnya virus, seperti kita ketahui sejak mengenal pelajaran bilogi bahwa yang namanya virus itu SULIT dimatikan. Sehingga Virus penyebab Herpes dan cacar air ini akan tetap ada di dalam sel saraf dan bisa berubah aktif lagi ketika ada pemicunya antara lain:
  • Karena usia (sebagian besar kasus terjadi di atas usia 50 tahun ke atas)----> padahal saya belum 50 tahun lhoh?
  • Pernah terkena cacar air ----> Alhamdulillah saya tidak pernah terkena cacar air.  
  • Stamina drop, imunitas tubuh sedang labil, baik akibat kecapekan maupun efek tidak sehat lainnya, apalagi jika disertai dengan stres. So, be carefull guys, yang namanya stamina tidak prima kan gak hanya Herpes, aneka penyakit lainnya siaga satu untuk menyerbu tubuh kita kan? -----> Sepertinya ini pemicu aktifnya virus herpes yang sekian tahun hiatus setelah menyerang saya pasca prajabatan dulu.
Sedangkan Herpes pada TORCH adalah HERPES SIMPLEX yang disebabkan Virus HSV 1 dan HSV 2. Noted: perlu ada pelurusan terhadap penyakit Herpes Simplex karena sebagian orang memiliki stigma kalau penyakit ini disebabkan (biasanya) dari hubungan seksual yang tidak sehat, padahal penyebab utama penyakit herpes adalah infeksi virus.

Untuk detailnya Herpes Simplex, saya potoin saja dari leaflet tentang TORCH yang saya peroleh dari RSIA tempat yang rutin saya sambangi dalam rangka program kehamilan selama dua tahun ini.
Herpes Simplex disebabkan oleh Virus HSV1 dan HSV2
Years gone by dan bulan lalu saat apel pagi, saya melihat di bagian leher teman kantor terlihat jelas penampakan menyerupai herpes. Karena sudah dua kali ngalamin serangan Herpes, saya pun nylethuk “ kadosipun njenengan kena Herpes, Pak?” dan sekedar forward info saya pun menyampaikan jika herpes tersebut bisa diobati dengan salep Acyclovir atau untuk pastinya ke dokter saja. Keesokan harinya, si bapak cerita kalau sudah ke dokter dan di kasih salep Acyclovir.

Rupanya drama queen Herpes belum usai, tiga hari kemudian saya mendapati seorang teman lagi yang terjangkiti herpes di pergelangan tangan bagian siku, lebih luas area kulit yang kena. Dan taraaaa….kok ya dua sebelum perhelatan #Arisan Ilmu Asyiknya Belajar Food Photography di Maple Tree Resto, saya pun dapat jatah Herpes muncul di pelipis kiri saya. Awalnya saya kira kena gores kuku secara tak sengaja. Eaaaa….penampakan esoknya mulai ke arah rupawan Herpes karena mulai terasa lagi “sensasi” panas seperti terbakar dan gatel-gatel di sekitar penampakan herpes tersebut. 
Ya sudah, segera saya olesi salep Acyclovir. Alhamdulillah, pas acara Arisan Ilmu lalu Herpes di pelipis saya sudah mulai kering dan sekarang tinggal menunggu bekasnya menghilang secara tuntas.
Noted: Selain Acyclovir (salep, tablet dan tets mata), ada famciclovir dan obat antivirus lainnya. Biasanya, jika diminum dalam tiga hari setelah ruam muncul sudah efektif meredakan kemunculan Herpes. Untuk kasus Herpes yang saya alami: 3 -5 kali pakai salep Acyclovir sudah mengering kok.

Bahwa sebuah Fakta yang tak ingin saya akui sebagai mantan orang yang terkena Herpes  saya termasuk orang yang carier virus herpes Zoster, sehingga (masih) bisa sewaktu-waktu virus tersebut pengen narsis lagi di kulit. Maka, bilamana serangkaian preventive action sudah di keep in daily tapi karena sesuatu sebab yang kita tidak tahu, ternyata Herpes menyerang (lagi), next step yang harus saya lakukan adalah: minimalkan terjadinya penularan pada orang lain, terutama pada keluarga karena merekalah orang-orang yang memiliki resiko terbesar kena paparan virus Herpes Zoster ini.

Meskipun orang yang terkena Herpes Zoster tidak bisa menularkan penyakit ini pada orang lain, , akan tetapi tetap ada resiko dapat menularkan cacar air terhadap orang lain. Jadi, yang harus saya lakukan selain mengobatinya saat herpes mbejudul lagi seperti edisi 3 minggu lalu adalah:
  1. Menghindari kontak langsung kulit dengan suami dan anggota keluarga lainnya, terutama pada bagian yang terkena herpes. Berusaha agar bintik-bintik yang bergelembung (sudah ada cairan) jangan sampai pecah karena cairan tersebut akan menyebarkan virus ke bagian kulit tubuh lainnya. 
  2. Atau kalau terjadi perpecahan, maksimalkan untuk segera membersihkannya dengan desinfektan dan cuci tangan sesegera mungkin. 
  3. Penggunaan sabun mandi secara terpisah, dalam hal ini saya sudah biasa memakai sabun mandi cair kok.
  4. Bagian yang terdapat Herpes, tidak saya lap dengan handuk dan saya biarkan kering alami tiap kali habis kena air (mandi/wudhlu/cuci muka dll).
  5. Cuci handuk lebih sering, dan  secara terpisah. Demikian pula pencucian pakaian, untuk sementara waktu di cuci terpisah dari baju anggota keluarga lainnya. 
  6. Saya tambahkan cairan antiseptik pada air mandi di bak terpisah, untuk sekali mandi (saya gunakan ember dengan jumlah air secukupnya untuk mandi diri saya sendiri)
Karena sudah ketiga kalinya Herpes menampakkan diri di permukaan kulit, artinya saya harus lebih perduli terhadap kesehatan diri dengan langkah preventif, yaitu:
  • Tetap konsumsi vitamin C, vitamin E, vitamin B12, ya di sesuaikan dosisnya karena sudah ada paket multivitamin untuk program kehamilan yang harus saya konsumsi secara rutin setiap hari. 
  • Bila over load pekerjaan (sydrome akhir tahun, banyak pekerjaan yang kejar tayang) mulai menyita waktu, tenaga, pikiran dan kudu pinter-pinter piye carane mengelola stress agar tidak mencapai garis over the limit. Bila diperlukan, segera menambah dosis multivitamin, serta tidak boleh kehilangan selera makan sehat dong *demikian saran dokter*. 
  • Jaga kesehatan kulit selalu tentunya. Menjaga kesehatan tubuh dan kulit merupakan langkah utama yang harus dilakukan untuk menghindari penyakit herpes. As always we heard: Preventive Better than Curative.  

Overall, lagi dan lagi dan seharusnya: budayakan gaya hidup sehat selalu selamanya. *sssttt, jangan bilang-bilang ya? Untuk aktifitas fisik/olah raga, saat ini saya butuh mood booster banget*




Refference: http://www.alodokter.com/ dan leaflet tentang TORCH



Asyiknya Belajar Food Photography di Maple Tree Resto

Nilai artistik sebuah foto memang relatif, tergantung selera dan sudut pandang masing-masing orang. Akan tetapi, base line sebuah foto bisa dikatakan memiliki nilai artistik manakala out put dari obyek yang difoto memiliki kedekatan yang sedekat-dekatnya dengan rupa asli obyeknya. Apa yang ditangkap oleh lensa mata kita (yang sehat/normal) terhadap penampakan suatu benda, begitulah seharusnya foto yang kita hasilkan dari jepretan kamera.

Bismillahirrahmaanirrahiim, pemahaman tersebut semoga tidak menyimpang dari pelajaran yang dipaparkan saat hajatan #arisanilmu yang mengangkat tema Food Photography with smartphone yang digelar di Maple Tree Resto.  Walaupun tanpa kamera canggih DSLR impian *berdoa: semoga semangat untuk belajar Photography membawa berkah pembuka jalan agar bisa memiliki si kamera impian*. Walaupun tanpa kamera DSLR impian, kan ada peralatan potret-memotret yang saya miliki untuk dipakai praktek moto-moto, setidaknya masih ada si camdig untuk dipakai praktek moto-moto. Sejujurnya, ada nada keder juga mengingat camdig sudah mengalami penurunan nilai lensa-nya. Sedangkan hape yang saya beli 3 tahun lalu sedang bermasalah dengan penyimpanan. 
Dua Quote Kece Yang Bisa Jadi Provokasi FOOD Photography
Okelah, yang penting dapet ilmunya. Bismillahirrahmaanirrahiim, saya pun memantapkan diri ikut arisan ilmu setelah (seperti biasa) ada lampu hijau dari Kang Suami sekaligus kesiapannya untuk memfasilitasi antar jemput. Hujan deras mengguyur dengan intim diselingi gelegar petir dan gludug pada hari Sabtu tanggal 12 Desember lalu, sehingga beberapa emak tidak bisa melanjutkan perjalanannya bertemu saya tapi Alhamdulillah setidaknya 13 orang bisa sampai di Maple Tree dengan beragam kondisi. Pas tiba di tekapeh, sudah tampak duduk manis Mak Diba, Mak Kachan, Mak Ratri. Sedangkan Mak Ika dan Mak Lies asyik ngibasin long dress-nya demi mengurangi jumlah air hujan yang terikat.
Di anter suami ya Rie…? Neh, gue basah kuyup. Pokoknya, resolusi tahun 2016 gue harus bisa nyetir !”  Sapa Mak Injul yang juga mengalami kebasahan pada long dress yang dikenakannya.
si Mak Ririe ini kalau gak di anterin, dijamin bisa sampai sini setalah acara kelar Mak Injul. Dan gak bisa pulang alias lost in this Jogya City with successfully” sahut Mak Lies yang bikin saya tersipu-sipu pengen malu.
 “ Nah itu dia, makanya suamiku lebih milih berkorban untuk antar jemput ketimbang istrinya yang limited edition ini gak pulang-pulang kan?” dalil gaya, padahal aslinya dasar sayanya yang gagap arah dan buta peta meskipun sudah 2 tahun lebih tinggal di Yogya ini. *kalimat percakapannya sudah mengalami modifikasi*
Antusiasme Menyimak pelajaran Food Photography
Obrolan renyah diselingi ketawa-ketiwi manis pun berlangsung gayeng, sekira 15an menit kemudian mencungul Mak Lusi yang diikuti dua guide imut-imut berseragam abu-abu putih, kemudian Mak Carra dan disusul oleh emak-emak lainnya.

Sambil menunggu menu pesanan dihabiskan, Acara #arisanilmu di awali dengan demo bagaimana plating Beef Burger dan Menu Bebe andalan Maple Resto. Sayangnya saya gak bisa ngerekam, padahal keren lhoh demo plating-nya. 30an menit kemudian, sesi peragaan menghias menu ala resto pun usai dan dilanjutkan dengan acara inti yaitu sharing ilmu Food photography with smartphone for beginner, tepatnya yang beginner itu saya. Secara emak-emak lainnya terlihat manthuk-manthuk, kecuali saya yang ndomblong sekaligus gak mudeng. Apalagi Emak Irul, dengan tentengan kamera canggihnya yang beraksi cekrek-cekrek sana-sini, sampai ambil posisi naik kursi resto juga dijabanin tuh.
Duo Narasuber #ArisanIlmu Jogya: Belajar Food Photography with smartphone
Walaupun saya masih separuh bingung dan separuhnya lagi gak mudheng, tapi materi yang disampaikan secara duet oleh Mak Ika dan Mak Lies lumayan bisa saya tangkap benang merahnya. Secara beliau berdua juga ngasih unjuk prakteknya bagaimana mengggunakan ISO yang tepat, seperti apa mengatur White Balance dan Exsposure ituh.

Mulai ada setitik cahaya bahwa meskipun saya belum memiliki kamera yang sekelas SLR, tapi dengan memakai samrtphone pun sangat-sangat bisa menghasilkan jepretan yang gak malu-maluin bila disandingkan dengan kamera-kamera yang biasa di tenteng para Photographer *Optimis*.
Secara ringkas, point-point yang disampaikan pada acara Arisan Ilmu di Maple Resto sebenarnya pengetahuan dasar fotografi yang seharusnya dipahami luar kepala dan bisa diaplikasikan saat action moto, jadi gak asal jepret-jepret doang dengan mode auto *lagi-lagi ini mah saya banget kalau moto dengan mode Auto*. Okelah, berikut ini point-point dasar yang saya contek dari materinya Mak Ika:
Setting ISO sangat penting karena sensor kamera memiliki kepekaan terhadap cahaya. Saat menentukan besaran ISO yang akan digunakan, hal yang penting untuk  dipertimbangkan  yaitu berapa banyak cahaya yang ada disekitar kita dan berapa banyak yang dibutuhkan. Pengambilan foto sebelum jam 12 siang, menjelang sore dan saat malam, akan memberikan hasil yang berbeda-beda meskipun si HERO yang kita tembak sama persis tata letak dan sudut pengambilan gambarnya.

* Exposure adalah jumlah paparan cahaya yang diterima oleh sensor kamera dalam suatu pemotretan. Ketika pengaturan ISO sudah dianggap menthok, maka yang perlu disetting selanjutnya adalah exposure-nya. Untuk lebih jelasnya, monggo dicermati contoh gambar dibawah ini:

White Balance (WB) memiliki fungsi untuk meningkatkan keakuratan warna dimana kamera menentukan warna putih sebagai patokan. Kamera perlu di set up WB karena saat memotret kondisi pencahayaan di sekitar itu berubah-rubah. Kamera tidaklah secanggih mata, karena itu kertas putih belum tentu terlihat putih bagi kamera dalam warna pencahayaan yang berbeda.

Selain menjelaskan dasar-dasar fotography di atas, duo emak yang ilmu  food photography-nya cukup mumpuni juga memeragakan penggunaan  Light Tools yang terdiri dari : White Foam Board, Reflector, Diffuser: White Sheet to the diffuse the light. Cekidot skrinsut yang saya ambil dari materi #ArisanIlmu Belajar Food Photography With Smartphone di bawah ini:

“ Intinya kita harus sregep coba-coba ini – itu. Practise will make us perfect, kira-kira seperti itulah yang kami lakukan. “ 
Setuju banget, kita tak akan tahu seperti lika-liku memotret yang keren tanpa keberanian untuk mencoba-coba. Dalam dunia Photography, kita juga dituntut untuk kreatif membuat setting yang pas untuk hasil jepretan yang optimal. Light Tools di atas juga tak harus serba beli loh? Bisa dimodifikasi sendiri seperti contoh Reflector yang dibawa oleh sang narasumber ini neh:
Reflector Kreasi sang Narasumber
Bagaimana, makin tertarik belajar Food Photography kan? Atau pengen pula menjajal kebolehan motret makanan secara langsung ke Maple Tree Resto ini ya? Monggo diagendakan untuk memuaskan diri wisata kuliner sekaligus mengasah kepekaan untuk memotret di resto yang mengusung tema dining casual yang pas banget untuk mencicipi aneka menu kuliner yang menggoda untuk dicicipi semuanya. Harganya pun masih ramah kok, apalagi pas acara Arisan Ilmu kemarin kan dapat diskon 20% dari management Maple Tree, Alhamdulillah ya....

Sebagian menu-menu yang ada di Maple Tree Resto

Lokasi Maple Tree ini cukup mudah dijangkau dan tidak sulit untuk ditemukan, yakni di Jalan Pakuningratan. Buktinya, begitu saya ngasih tahu alamat Maple Tree, Kang Suami paham tempatnya. Tak hanya lokasinya yang mudah ditemukan untuk resto yang tergolong baru di wilayah Yogyakarta, tata letak resto juga keren banget. Halaman parkirnya memadai, kece badai kalau mau selpi-selpian. Baik di bagian dalam resto maupun luar, juga sangat cocok untuk acara kumpul-kumpul semacam #arisanIlmu atau gathering keluarga (pas acara masih berlangsung ada serombongan keluarga, sepertinya habis ada acara mantenan gettu deh), mini reuni juga cuocok kok.

Doc. By Mak Injul (semoga gak salah sebut owner Foto ini)

Jadi, silahkan bawa selalu kamera Anda karena kita tidak pernah tahu kapan akan bertemu obyek atau moment yang berharga untuk diabadikan melalui tangkapan lensa kamera.

Epilognya adalah, sebuah hasil karya Fotografi butuh waktu dan perjuangan. Adalah perform dari kesabaran, kegigihan, ketelitian dan uji kreatifitas. 







Pentingnya Menggunakan Pelembab Kulit secara Rutin

Sudah biasa menggunakan pelembab kan? Baik untuk pelembab bibir, pelembab untuk tangan dan badan (hand and body lotion) maupun pelembab wajah.  Ada yang rutin menggunakan setiap habis mandi, atau hanya ketika pagi hari saja saat akan mulai beraktifitas. Masing-masing orang punya ritme yang berbeda dalam menggunakan pelembab, pastinya ya? 

Bahkan saya baru rutin menggunakan pelembab setelah bekerja karena sudah ada pendapatan rutin untuk menganggarkan belanja pelembab. Ceiilaaa…istilahnya menganggarkan, berasa seperti anggaran belanja negara saja. Tapi memang demikian sih, slot untuk beli pelembab kulit perlu mendapatkan perhatian. Setidaknya ini semakin saya sadari Bismillahirrahmaanirrahiim setelah semakin sering baca ulasan ataupun sharing artikel mengenai Pentingnya Menggunakan Pelembab Kulit secara Rutin. It’s not just untuk tampak cantik kulit yang keminclong, tapi demi alasan kebutuhan agar terjaga kesehatan kulit. Saya berusaha untuk re-engineering pola pikir bahwa Sehat itu cantik karena jika berorientasi pada ‘cantik’ lebih dulu hasilnya belum tentu akan satu package dengan pola hidup sehat.
no drug; no alcohol; no smoking; pola makan seimbang; rajin olah raga; fitness
Hidup Sehat dengan Rajin Olah Raga 
Untuk mendapatkan kulit yang sehat tubuh kita setidaknya akan memerlukan 30 hingga 40 persen air yang digunakan untuk melembabkan kulit, selain itu juga beberapa ahli kesehatan kulit mengatakan bahwa pelembab sangat berfungsi baik untuk kesehatan kulit dan juga mampu mencegah timbulnya jerawat serta dapat mencegah penuaan dini. Maka tak heran kan jika semakin banyak pilihan jenis moisturizer cream yang beredar di pasaran. 

Sekedar reminder bagi saya bahwa Ternyata Ini loh Manfaat Pelembab Untuk Kesehatan Kulit, berikut ini beberapa manfaat  Menggunakan Pelembab Kulit secara Rutin:

1. Mengembalikan dan menjaga Kelembaban Kulit 
Saat kita menjalani aktivitas sehari-hari maka kulit akan kehilangan kelembaban dan kadar air di dalam tubuh akan menurun drastis, maka langkah tepat dalam mengembalikan kelembaban kulit yang hilang sepanjang hari ialah dengan menggunakan moisturizer cream atau pelembab kulit, menggunakan krim pelembab kulit  akan segera mengembalikan kelembaban kulit Anda dan mencegah kulit terlalu kering serta terhindarkan dari penuaan dini.

2. Untuk Mencegah Iritasi Kulit 
Tahukah anda penggunaan sabun ketika mandi akan dapat membuat kulit mengiritasi kulit anda, hal ini dikarenakan bahan kimia yang terkandung di dalam sabun dapat mengikis lapisan epidermis di dalam kulit, nah manfaat penggunuaan pelembab ialah dapat menyeimbangkan lapisan epidermis di dalam kulit serta dapat membantu mencegah terjadinya  iritasi di kulit anda.

3. Melindungi kulit Anda Terhadap Kerusakan akibat polusi dan radikal bebas.
Beraktivitas di luar ruangan umumnya dapat membuat kulit kita jadi rusak, hal ini dikarenakan polusi udara dan polutan dapat membuat kulit anda kotor dan juga membuat kulit anda hilang kelembabannya, oleh sebab itu untuk mencegah kulit dari kerusakaan penggunaan pelembab sangatlah dianjurkan pelembab ini juga berfungsi menahan agen eksternal yang dapat mengiritasi kulit anda. 

4. Memperkuat Kulit
Ketika kulit anda kering dan hilang kelembabanya maka hal tersebut akan membuat kulit anda rentan terhadap alergi dan infeksi, adapun manfaat pelembab ini ialah membantu meningkat sel-sel epidermis di dalam kulit sehingga mereka dapat membentuk penghalang yang kuat untuk mencegah polutan eksternal berbahaya yang dapat membuat kulit anda terinfeksi selain itu juga Pelembab Dapat Memperkuat Kulit anda  tahan terhadap sinar UVA dan UVB. 

Sebagian manfaat jangka panjang dari pemakaian pelembab kulit secara ajeg, juga memberikan kesempatan untuk mendapatkan Bonusnya yaitu  Mempercantik Kulit karena salah satu manfaat yang paling fenomenal dari penggunaan pelembab ialah dapat mempercantik kulit. Beberapa penelitian di Universitas Harvard menyatakan bahwa orang yang sering menggunakan pelembab kulit jauh lebih muda dibandingkan dengan orang yang sering kekurangan pelembab, hal ini dikarenakan orang yang sering terdihidrasi akan membuat kulit mereka kering dan pecah-pecah. 

So, jika ingin memiliki kulit cantik dan terlihat awet muda jangan lupa gunakanlah pelembab kulit secara rutin yaaa…*koyo pesan sponsor* dan TETAP jalani pola hidup (NO drug, No Alcohol, No Smoking) dan istiqomah terhadap pola makan yang seimbang. 


[Masih Belajar] Mengelola Penggunaan Gadget Pada Anak-Anak

Di era modern atau digital atau apalah sebutan yang lebih gagah lainnya, fenomena umum dan semakin diminati dimana anak-anak lebih suka menonton TV dan bermain dengan gadget ketimbang bermain out door/fisik. Dan dengan alasanya masing-masing,  semakin banyak orang tua yang cenderung memilih gadget sebagai sarana bermain bagi anak-anaknya.

Ikut-ikutan film yang box office kan biasanya (sengaja) dibuat sekuel lanjutan. Curcolania ini Bismillahirrahmaanirrahiim merupakan babak lanjutan Ayo [Tetap] Happy Di Musim Liburan Sekolah, bahwa sebenarnya galau yang lebih serius dihadapi oleh para orang tua di musim liburan sekolah tidak hanya karena tak bisa senada dan seirama libur aktifitas dengan anak-anak sekolah. Terlebih jika sang buah hati masih kategori anak-anak (untuk hal ini saya ambil batasan anak-anak dalam interval usia 12 tahun ke bawah) dengan variabel-variabel pelengkap antara lain:
  1. Belum ada kegiatan organisasi atau kegiatan sejenisnya yang sifatnya non formal (diluar kegiatan berrganisasi di sekolah)
  2. Tak ada tugas sekolah selama liburan berlangsung. Tugas atau PR yang diberikan untuk mengisi rentang liburan memang sifatnya tidak wajib dan tidak semua sekolah/guru memberikan tugas untuk dikerjakan saat liburan.
  3. Jadwal les libur. Setidaknya, ada beberapa jenis les yang menyesuaikan jadwal les dengan liburan sekolah.
  4. Apalagi kegiatan ekstra kurikuler juga off , bahlan ada yang  sudah vacuum ekskul mulai 2 – 3 minggu sebelum pelaksanaan ujian sekolah. Maksud dan tujuannya memang mulia kok: agar tersedia waktu yang cukup dan fisik yang bugar untuk mempersiapkan diri belajar dalam rangka menghadapi ujian sekolah/UAS. Kenyataannya, tidak semua siswa selaras dengan tujuan tersebut dan bukannya belajar tapi malah asyik bermain dengan ritme yang lebih lama.
Ke-4 point yang saya sebutkan di atas, tidak bermaksud menggeneralisir lhoh? Fenomena di atas hanya sebagian potret yang kebetulan saya lihat pada musim-musim liburan sekolah anak-anak di sekitar tempat tinggal kami. 

Hal yang dominan dan merupakan domain dalam dunia anak-anak adalah bermain dan tiada hari tanpa mainan. Dan dunia industri dengan cermat telah lama menempatkan anak sebagai target pasar berbagai barang-barang/ produk manufactur, salah satunya adalah industri mainan. Komunitas anak merupakan pangsa pasar yang cukup besar dan potensial karena memang anak sangat dekat dengan mainan. 

Dalam rangka mengikuti perkembangan tekonologi, setiap hari [bahkan bisa jadi dalam hitungan jam?], aneka jenis mainan pun beradaptasi ke dunia digital yang lebih atraktif, lebih memikat, lebih berwarna dan lebih  mempesona dengan unsur “challenge” yang membuat anak-anak semakin penasaran untuk bermain dan bermain lagi. Berbagai aplikasi game digital baik online maupun offine di desain sedemikian rupa agar kekinian. Game yang sudah existing pun secara kontinyu di up grade atau di modifikasi dengan model yang lebih baru dan terlihat exactly different. Apapun bentuknya, kehadiran setiap mainan selalu digandrungi oleh anak-anak. 

Variabel-variabel di atas (dan masih banyak variable lainnya yang tidak bisa saya sebutkan semuanya) seakan menjadi atom-atom yang memiliki koefisien reaksi kimia yang seimbang sehingga membentuk reaksi fusi yang memperkuat landasan let’s play all the day

Yes, it’s not big wrong karena bermain identik dengan dunia anak. mainan seolah memiliki daya magic tersendiri dimata anak-anak. Sepanjang hari anak bisa melupakan hal lain saat bermain dengan mainannya, apalagi di saat musim liburan sekolah dengan critical point di atas, maka musim liburan menghadirkan kekuatiran yang tak kalah bikin galaunya bagi para orang tua semacam kami yang di rumah tak ada ART. Dan kebetulan pula musim liburannya Ifa dan Aida lebih lambat seminggu dari libur sekolahnya Azka. Wajar dong jika kami wondering saat kami tak ada di rumah Azka akan asyik dengan aplikasi produk-produk digital.


Kekuatiran harus di follow up dengan strategi pragmatis yang efektif, efisien dan tidak menimbulkan impresi yang otoriter pada anak-anak. Berangkat dari teori tersebut, kami belajar mempraktekkannya sebaik yang kami bisa lakukan, tidak hanya sebagai jurus menghadapi musim liburan sekolah tapi sebenarnya untuk langkah preventif Agar Tidak Addict Pada dunia digital TV, Gadget dan PS antara lain:
  1. Mengajak Anak Berinteraksi dengan beraktivitas fisik di luar ruangan.  Dengan mengajak anak-anak beraktivitas di luar ruangan seperti bermain badminton, mancing ikan, olah raga bersepeda, mencuci sepeda favorit  bersama, mengenalkan aneka permainan non digital seperti layang-layang, kelereng, petak umpet dan aktifitas out door lainnya secara praktis akan membiasakan anak-anak untuk tidak sepanjang waktu membawa dan atau intim dengan gadget. Anak-anak juga akan memiliki pemahaman dan ketertarikan bahwa bermain yang asyik juga bisa dilakukan diluar gadget. Hasilnya, tiap pulang kerja kami tanya ngapain saja seharian, akan meluncurlah sederet cerita aktifitas apa saja yang dia lakukan dan dominasinya adalah: badminton, sepedaan rame-rame, main air, main COC, nonton Bhalveer (Azka sudah tidak begitu tertarik main PS, hanya sesekali main PS ada lawan main yang dianggapnya punya skill main Psnya setara). *Noted: Azka tipe anak yang suka bercerita, jadi satu pertanyaan akan memberikan semua informasi yang kami butuhkan*
  2. Menjalin hubungan baik dengan tetangga, terlebih tetangga yang punya anak-anak berusia sebaya. Alhamdulillah, kebetulan kami tinggal tidak di komplek perumahan dan tetangga pun memiliki beberapa tipe profesi. Ada tetangga depan rumah (suami istri) yang berprofesi sebagai guru dan bukan urban. Jadi, musim liburan sekolah sudah tersedia volunter yang “ngaruh-ngaruhi” Azka untuk bermain secara variatif (tidak melulu hanya aplikasi digital) selama kami berada di luar rumah (bekerja). Ada juga yang berprofesi kerja di sawah, saat tak ada kegiatan di lahan pertanian sesekali suka mengajak azka dan teman-temannya untuk bermain bareng dengan cucu beliau. 
  3. Secara berkala (saat anak lagi good mood) perlu disampaikan mengenai bahaya terhadap kesehatan bila terlalu lama menggunakan gadget. Juga perlu disampaikan (memang harus berulang-ulang) bagaimana sebaiknya agar tetap aman saat menggunakan gadget, yakni setiap 15 – 20 menit memindahkan pandangan mata dari screen gadget atau mainan digital lainnya. Jika momentnya pas, kami juga mengajaknya bicara mengenai size sebuah aplikasi, bahwa semakin besar aplikasi akan membutuhkan kuota data yang besar pula untuk download dan artinya paket internet akan cepat habis. Dalam hal ini, kami memang menggunakan paket data pra bayar dengan kuota tertentu. So far, ada efek pemahaman untuk berhemat paket data tersebut. #trikiritkuotainternet
  4. Status gadget secara de jure bukan atas nama anak. Trik ini sengaja saya uji coba lakukan saat Azka minta tablet. Awalnya dia bersikeras mau beli dengan menggunakan tabungannya sendiri. Saya hanya bilang “ ya boleh saja, malah bunda bersyukur bisa pakai tablet secara gratis. Kan Azka baru pakai tab saat pulang sekolah, artinya tab mulai pagi sampai sore hari dipakai bunda kan?”. Hasilnya, tanpa perlu berdebat panjang lebar, Azka lebih memilih sparing tab sama saya, tepatnya Kang Suami yang beli tab dan diatas namakan saya serta secara di jure Azka yang menggunakan untuk ngegame. Dengan cara ini, secara otomatis durasi azka mengakses gadget bisa di manage kan? 
  5. Control aplikasi/file  yang di download secara berkala dan rutin. Mungkin bagi sebagian orang tua memberlakukan password pada gadgetnya sebagai langkah preventif untuk memanage anak dalam menggunakan gadget. Tapi kami memilih no password untuk gadget yang kami gunakan. Artinya saya dan kang suami harus lebih rajin mendelete atau tidak mendownload bila ada yang share file di grup yang sekiranya tidak tepat untuk usia anak-anak.  Dengan tanpa password, otomatis memberikan contoh bahwa tak perlu ada yang dirahasiakan dari isi gadget kami.  Hasilnya, tiap tiap azka akan download aplikasi baru, dia selalu minta ijin dulu dan siap mengirim aplikasi yang lainnya ke recycle bin. Sedangkan Ifa dan Aida, keduanya juga hanya mengakses gadget saat libur sekolah (jadwal perpulangan dari asrama), artinya gadget yang biasa mereka gunakan berada di rumah pun tanpa password.
Selain lima hal di atas, sebelum pamit untuk berangkat kerja, biasanya kami tak lupa meninggalkan sederet pesan sponsor: tidak boleh lupa sholat, nge-gamenya gak boleh lama-lama, harus tidur siang, dan beberapa pesan sponsor lainnya. Dan siapa yang kerjaan lagi selow, saya atau kang suami, menyempatkan pulang tanpa aba-aba terlebih dahulu untuk cross check (insidental). Alhamdulillah, meski belum 100% tapi ada hasilnya ketika anak-anak bilang “iya”, mereka akan menepati ucapan IYA tersebut. Sekaligus mereka juga bilang alasannya dan niatan untuk memperbaiki di kesempatan berikutnya jika ada "janji" yang belum dikerjakan atau yang dilakukan tidak sesuai dengan pesan sponsor dari kami. 

Tentunya masing-masing orang tua punya cara smooth (tidak mendikte) agar anak-anak tidak addict pada game ataupun produk aplikasi digital lainnya.  
Tentunya juga Anda punya trik jitu sendiri yang lebih cespleng, boleh dong di share juga bagaimana Mengelola penggunaan gadget pada anak-anak sehingga mereka bisa tetap secure and save bermain di era digital ini?


Ayo [Tetap] Happy Di Musim Liburan Sekolah

Musim ujian sudah lewat, keseruan sesi pendampingan belajar menghadapi gelombang UAS pun jeda dan liburan tlah tiba… liburan tlah…tralala-trilili yeahhhh.  Serunya musim liburan sekolah yang identik dengan penjadwalan ini dan itu atau akan bepergian kemana selayaknya happy family and happy holiday.  Semarak liburan sekolah tapi Bismillahirrahmaanirrahiim tidak semua orang tua bisa kompakan libur bareng anak-anaknya. Akan tetapi sepintas pengamatan saya tanpa survey menunjukkan bahwa ada sebagian orang tua yang dilanda galau dan atau baper ketika musim liburan sekolah tiba. 

Populasi orang tua yang dilanda galau ketika musim liburan sekolah yang saya maksudkan disini diluar konteks kondisi finansial dan dampak bangkitan akibat fluktuasi ekonomi sehingga belum memungkinkan spending time bersama keluarga untuk menikmati peak sesion liburan sekolah. Ternyata tidak semua orang tua bisa senada seirama dengan musim liburan sekolah. Setidaknya ada dua golongan orang tua yang dilanda resah dan gelisah dengan musim liburan ini, yaitu:

Yang pertama, bagi kebanyakan pasangan orang tua yang bekerja tentu perlu pengaturan ritme kerja bila ingin satu frame liburan dengan anak sekolah atau minimal sekian hari bisa ambil cuti di saat musim liburan sekolah berlangsung. Selain kuota cuti yang terbatas, biasanya ada instansi yang menerapkan kebijakan batas limit jumlah karyawan yang ambil cuti dalam satu periode yang sama. Moment hari raya dan musim liburan biasanya yang paling diminati untuk ambil jatah cuti. 

Langkah antisipasinya: Rencanakan pengambilan jatah cuti sedemikian rupa agar bisa dipakai untuk libur saat lebaran dan ketika liburan sekolah. Terkait dengan pemberlakuan jumlah maksimal karyawan yang ambil cuti, artinya kudu jauh-jauh hari mengajukan permohonan cutinya (seperti yang saya lakukan saat ambil cuti di periode lebaran beberapa waktu lalu, yakni sebulan sebelumnya sudah saya ajukan). Secara sudah pengalaman berada di perantauan, makanya saya kudu sigap mensiasati kuota cuti agar optimal, efektif da efisien. Dan, don’t worry kalau musim liburan periode semester gasal ini kan bertepatan dengan adanya libur Hari Natal yang strategis banget, bisa 4 hari full libur resmi. Jika cuti sudah habis, ditambah saja dengan ijin dua hari. Nah kan, sudah cukup recommended kan kalau mau liburan  ke luar kota?

Yang Kedua, bagi orang tua yang memiliki anak sudah menginjak remaja dan termasuk golongan anak sekolahan yang aktif berkegiatan ini, inu dan itu, bahkan di saat musim liburan tiba pun masih kejar tayang dengan kegiatan di sekolah maupun organisasi kepemudaan lainnya, justru orang tua yang dibikin baper karena susahnya nungguin sang buah hati bisa klik and macth untuk happy holiday bareng orang tua. Orang tua sudah sedemikian rupa  meng-arrangement agar bisa available saat musim liburan, eh anaknya yang belum bisa “cuti” dari aktifitasnya yang segabrek-abrek *nguping curhatannya Mbak Lusi di FB*

Opsi yang mungkin bisa dikompromikan ya harap sabar menunggu sang buah hati jeda dulu dari serentetan jadwal aktifitasnya, itung-itung mendukung anak untuk mengoptimalkan masa mudanya dengan hal-hal yang positif dan produktif kan ya? Jika toh sampai jelang musim liburan sekolah usai tapi jadwal kegiatan ananda tercinta masih belum bisa dikompromikan untuk berlibur, semoga bisa ditebus pada periode liburan berikutnya. 
Belajar memasak; food; blogger; kuliner; chef; foodphotography
Belajar Memasak: Salah satu "pelarian" cantik bila gagal liburan
Bagaimana jika sudah terlanjur ambil cuti (bagi yang bekerja full time), lantas ngapain ya kalau tidak jadi liburan kemana-mana? 
Hahaha….saya yakin deh, gak bakalan sampai galau sudah terlanjur cuti terus mau ngapain.  Kalau toh tidak jadi liburan ke luar kota atau bahkan gak kesampaian jalan-jalan meskipun di dalam kota, yang namanya liburan kan bisa di'amal'kan dalam berbagi rupa karya. Anggap saja jika saatnya menikmati hobi dengan full passion tanpa terganggu pernak-pernik urusan kerjaan di kantor. 
Bagi yang suka berkebun, siapkan alat-alat berkebun dan singsingkan lengan baju untuk berani kotor di pekarangan rumah. 
Yang hobi masak-memasak, it’s time to trial and eror dengan aneka resep makanan atau kue. 
Bagi yang punya piaraan, kesempatan untuk take over segala tetek – bengek perawatan si  binatang kesayangan. 
Yang hobi nulis dan ngeBLOG, tuh makin banyak competiblog lho? 
Yang addict membaca buku, saatnya hunting koleksi buku-buku bacaan yang baru.
Pokoknya, there’s always great things to do. 

Kalau saya di musim liburan sekolah kali ini (dan kebanyakan musim liburan sekolah lainnya) termasuk yang tidak ambil cuti karena seringnya jatah cuti saya plot di moment Idhul Fitri. Dan kali ini pun tidak ambil ijin pula karena minggu pertama Januari sudah booking ijin tidak masuk kerja ada acara pernikahan keponakan di Surabaya. Selain itu, titik klimak perkerjaan justru berada di akhir dan awal tahun *curhat* 

So, happy holiday for all….happy life ever after.
Ayo [Tetap] Happy Di Musim Liburan Sekolah walaupun tak punya uang bisa kemana-manaa....

Belanja Hemat Dengan Memanfaatkan Diskon Cuci Gudang Akhir Tahun Ala Emak Cermat

Cuci gudang ditambah dengan diskon besar-besaran hingga 90%? Ehmmmm….siapa yang rela ketinggalan moment istimewa untuk aksi belanja hemat ala emak cermat?

Begitu pula saya, begitu tahu akan ada event spektakuler yang diadakan MatahariMall.com: e-commerce No.#1 dan terbesar di Indonesia, langsung capcus membuat wish list. Tepatnya, melengkapi daftar barang yang akan dibeli yang sebenarnya sudah nangkring manis di notes. KLOPlah, bisa belanja barang yang dibutuhkan dengan harga super miring kan basic instinc-nya emak-emak tuh. Sebagai emak new comer, saya tentu harus pinter pilah-pilih jadwal belanja yang tepat secara cermat selain belajar mengatur keuangan agar tidak terkena syndrom tanggal tua.

Langkah-langkah yang Bismillahirrahmaanirrahiim saya lakukan  agar bisa Memanfaatkan Diskonan Cuci Gudang Gaya Emak Cermat untuk Belanja Hemat pada event SALE akhir tahun adalah:
  1. Tetapkan budget atau tepatnya slot dana untuk membeli. Ini penting untuk membuat skala prioritas daftar belanjaan. First (important) thing  first buy.
  2. Buat daftar belanjaan dimulai dari jenis barang yang sifatnya urgent (primer) dan komplementer. Dengen demikian saya bisa meminimalkan mana barang yang berdasarkan keinginan semata dan mana yang benar-benar dibutuhkan.
  3. Survey harga barang baik harga di store off  line maupun shop online lainnya. Hal ini untuk mengantisipasi dan tameng agar tidak silau ketika melihat-lihat daftar barang yang terpajang di situs e-commerce membandrol dengan harga awal selangit dan menjadi selimit mungkin setelah diskon. Karena bisa jadi, harga awal yang selangit itu bombastis yang memikat calon pembeli agar terpana dan suka cita memasukan barang tersebut ke dalam keranjang belanja. Padahal, nyatanya harga terdiskon tersebut masih sama atau bahkan lebih mahal dari harga barang tersebut pada umumnya. 
  4. Sempatkan untuk membaca ulasan produk yang tersedia. Adanya ulasan review yang tercantum terkait suatu produk bisa menjadi bahan pertimbangan mengenai kualitas barang tersebut. Sehingga kita tidak terkecoh oleh besarnya nilai % diskonan.
  5. Untuk produk IT, sangat-sangat penting untuk mempertimbangkan capability and quality of service after sale dari brand produk tersebut
Setelah menerapkan ke-5 langah tersebut, selanjutnya tentu saja membuka laman e-commerce matahrimall yang sudah sounding bakalan menggelar diskon heboh banget di akhir tahun. Belanja online kan memberikan kita pilihan tak perlu antri bejubel, tak perlu kena macet di jalan sehingga bisa hemat: emosi, waktu, tenaga, BBM.

Dengan membuat wish list, maka waktu belanja tentu akan lebih singkat lagi. Tinggal klik – klik, masuk deh ke dalam keranjang belanjaan. Apalagi di mataharimall.com juga tersedia pilihan O2O Online to Off line yang memberikan kesempatan (calon) pembeli untuk memastikan kualitas barang yang akan di beli secara langsung saat pengambilan barang. Karena metode O2O ini memberikan keleluasaan calon pembeli dapat membayar, mengambil, dan mengembalikan produk di ratusan lokasi di seluruh Indonesia.Cuocok kan?
(Sebagian) My Wish List
Nah karena diskonan akhir tahun di matahari.com besar-besaran dan biasanya penyerbunya juga melimpah ruah, saran saya:
Jangan tunggu last day untuk memindahkan wish list ke dalam keranjang belanjaan. Pengalaman di HarBolNas kemarin, saat akan meng-eksekusi barang yang ingin saya beli, eealah pas kena server down. 

Makanya saya pun bersiap diri jauh-jauh hari sebelumnya untuk mindahin isi wish list, tinggal DEAL saat event Cuci Gudang di MatahariMall.com yang akan berlangsung tanggal 29 – 31 Desember 2015.


(Mengenang) Romantika Dibalik Seseringan Mudik

Sering menempuh perjalanan mudik, long trip (maksudya lama di perjalanan), dan sejenisnya menjadi salah satu rutinitas saya sejak sign in di Banyuwangi di awal menekuni dunia kerja. Tetiba ingin menulis sekilas cerita mengenai ritme long trip yang pernah menjadi salah satu rutinitas bagi saya, mostly long trip Banyuwangi - Lamongan, tepatnya ke desaku yang kucinta. Iyah tahun ini adalah my special moment 18an Desember yang tidak saya alami bersama kemeriahan perayaan HarJaba = Hari Jadi Banyuwangi yang jatuh pada tanggal 18 Desember. Seru kan, hari lahir bisa samaan dengan hari jadi sebuah kota dimana kita tinggal. Berasa dirayaian sepenjuru orang yang tinggal di daerah tersebut *GeEr akut*  dan optimis mendapatkan doa kebaikan juga dari orang sebanyak itu pula *Aamiin*. 

Dan kini Bismillahirrahmaanirrahiim saya tergoda untuk “mengabadikan” beberapa cerita dibalik perjalanan wira-wiri mudik tersebut karena beberapa waktu lalu di Grup WA lagi pada sharing cerita LDR yang ternyata di alami oleh banyak teman blogger yang tinggal di Yogya. Walaupun prosesi wira-wiri saya yang rata-rata dua minggu sekali (kadang sebulan bisa 3 kali), bukan dalam rangka menjalani Long Distance Relationship sih. Namanya mumpung ada ide, do write it saja deh. Menempuh perjalanan jarak jauh sendirian dengan ritme yang intens merupakan scene hidup tak pernah terbersit sebelumnya. Untuk sekali jalan mudik butuh waktu sekitar 12 jam lebih dengan transportasi umum. Lamanya perjalanan memang jauh lama dari hitungan di atas kertas yaitu + 9 jam bila menggunakan menggunakan kendaraan pribadi/moda angkutan agent travel dan kondisi lalu lintas lancar jaya.
traveling; keep move; safe; perjalanan aman dan nyaman

Mengingat lamanya waktu tempuh tersebut, saya ambil start perjalanan sore sepulang  kerja atau kadang kisaran jam 7 malam dengan harapan sepanjang jalan sudah tidak se crowded siang hari sehingga relatif lebih lancar deh.  Gak mungkin kan, tiap kali mudik saya mendahului pulang duluan? Sesekali sih masih di anggap wajar atau ada alasan khususan unuk mendahului pulang, tapi kalau sering-sering? Berasa jadi orang yang tidak punya komitmen terhadap pekerjaan. Memilih untuk menempuh perjalanan mudik Bayuwangi – Lamongan di sore hari atau malam hari juga demi alasan udara sudah tidak gerah (secara kala itu bis ber AC masih langka dan jadwalnya tidak sinkron dengan sikon saya.  

Saya yang sebelumnya berada di luar rumah paling malam jam 10 dan itu pun ada temannya (masih kuliah), kemudian harus bermetamorfosa dengan long trip and all by myself, maka kemudian banyak yang mempertanyakan keberanian saya seorang diri menempuh perjalanan malam hari yang jelas gak mungkin hanya dengan sekali naik Bis. Minimal Saya butuh 3 kali ganti bis plus sekali naik ojek untuk sampai di depan rumah Bapak dan Ibu Khayan. Ini sudah jauh lebih ringkas di banding awal-awal dulu karena masih belum pengalaman kala itu Saya bahkan menempuh rute Surabaya-Lamongan sampe 4 kali trip: Banyuwangi - Jember - Probolinggo - Surabaya - Lamongan (Babat) yang terdiri dari naik bis kota – angkot – bis antar kota – ojek dengan jarak tempuh + 10 KM dari Kota Babat sampai rumah yang melintasi bulak dan area persawahan dan semuanya at the middle of the night !

Kalau dirunut ritual mudik saya kala itu merupakan rangkaian perjalanan yang melintasi kabupaten: Banyuwangi - Jember - Lumajang - Probolinggi - Pasuruan - Sidoarjo - Suarabaya - Gresik - Lamongan ( Babat ).

Maka kemudian saya harus bisa terbiasa terbangun (dibangunin kondektur) tengah malam karena harus ganti bis/kendaraan atau tengah malam berdiri di tepi jalan untuk menunggu bis lagi. Kalau rute Banyuwangi – Lamongan, artinya tengah malam – dini hari saya harus serta merta cheers berada hiruk pikuk orang-orang di terminal bungurasih/purabaya. Dan di range yang sama saya akan berada di terminal Tawang Alun Jember untuk rute Lamongan - Banyuwangi.  Yang paling sering sekitaran jam 12 malam – 02 dini hari , tak jarang saya harus berada berjam-jam di pinggir jalan untuk menunggu bis lanjutan ke arah Banyuwangi.

Sebenarnya untuk ke Banyuwangi ada dua jalur: utara  (lewat Situbondo) dan Selatan (lewat Jember). Dan saya seringnya pilih jalur selatan karena ritme armada bisnya relatif lebih sering dan saya suka menikmati pemandangan di jalur KUMITIR atau Mrawan yang berkelok-kelok dengan jurang di satu sisi jalan dan pepohonan tinggi + hamparan menghijau di sisi lainnya. Ini merupakan sesi pemandangan yang sangat saya sukai tiap saya menempuh perjalanan mudik dari Banyuwangi - Lamongan.

Kenapa tidak menunggu di dalam terminal saja? Sepengalaman sebelumnya, banyak bis antar kota (dari arah Ponorogo, Yogyakarta) hanya menurunkan penumpang di depan terminal dan langsung cap cus ke Banyuwangi. Nah, biasanya pada scene ini---apalagi kalo turun hujan/gerimis, rasa nelangsa demikian kental menyelusup dalam labirin sanubari mirip lagu yang judulnya ratapan anak tiri itu lhoh? *lebay* Kalau long week end harus berdiri di bis untuk rute Babat – Surabaya, atau sebaliknya. 
LDR; Traveling: Kisah; Journey
Banyak orang (teman, tetangga, keluarga) yang keheranan “ngapain sih segitunya mempertaruhkan resiko dengan sering-sering mudik? “. Keheranan yang berdasar pada beberapa orang mereka kenal yang juga merantau dan paling banyak pulkam tiga dalam setahun, bahkan ada yang hanya setahun sekali, dengan sederet alasan kenapa mereka memilih jarang-jarang pulang. Kalau saya hanya punya satu alasan sederhana: selagi masih punya orang tua dan selagi saya belum berkeluarga sehingga masih lebih flexible untuk mensetting bisa sesering mungkin. Saya yakin, soal biaya untuk long trip sudah ada jatahnya sendiri kok. 

Kalau ada yang tanya “ kok berani jalan sendirian, malam-malam lagi? Apa tidak takut ini itu ba bi bu…..bla bla bla…?” Untuk menjawab dan menjelaskan pertanyaan ini, jujur saya speechless. Hanya saja, saya percaya bahwa semua orang pasti akan beradaptasi dengan kondisi yang ada agar bisa survive sebaik mungkin. Dan ketika sudah on the way, on the line of proccess....everything not so scare like the imagination. I’m not alone....so many people face the sama journey. Saat menjalani seseringan mudik, saat itulah saya mulai tahu bahwa ada sekian banyak pasangan suami istri menjalani pernikahan secara LDR, dengan berbagai alasannya masing-masing yang dianggap tepat untuk dipilih sesuai kondisi yang ada. Itu juga yang Saya yakinkan pada my beloved parents yang tiada henti mengkuatirkanku, juga semua saudara dan orang-orang yang perduli pada Saya.  

Apa tidak bahaya? Bicara bahaya, dimana-mana dan kapan pun ada peluang yang bisa muncul terjadinya bahaya. Take care so tighly, make best efforts...after all serahkan pada Sang Maha Kuasa. Saya pernah kehilangan HP dua kali dalam masa seseringan mudik tersebut, jaket ketinggalan di bis, juga kecopetan dompet. Kecopeta dompet adalah moment so Wouw. Meskipun bukan Dompet Kulit yang harganya selangit dan jumlah uangnya pun tak banyak, tapiiii KTP, STNK, SIM, ATM-ATM, inilah yang bikin arrrgggghhh. Pas kejadian tentu saja sedih dan geram.  Tapi beberapa saat kemudian Saya pun menata emosi dan persepsi: Sayalah yang salah masih teledor dan semoga barang yang hilang bermanfaat bagi pemilik barunya, karena kalau barang-barang yang hilang tersebut masih rejekiku tentu akan di kembali pada ku. Masih bersyukur diriku selamat / tidak cidera. Periode kehilangan barang saat di perjalanan ini di akhiri dengan kecopetan Notebook yang terjadi beberapa bulan sebelum saya pindah ke Yogyakarta.
Wajah kemanusiaan; Human Interest ;Natural; People; Old man
I see so many things, I get more lessons  since I take this long trip. Beragam orang dengan segala daya upayanya untuk survive dalam hidupnya, mulai dari pengemis, pengamen, pedagang asongan mulai yang usianya masih anak-anak, gak hanya laki-laki/perempuan tapi juga trans gender, juga mereka yang secara fisik tidak lengkap anggota badannya yang silih berganti masuk bis. Juga Melihat di sepanjang jalan ada orang-orang yang kurang sehat akalnya. 

Dan tak ketinggalan “panggung sandiwara“ penipuan. Kubilang sandiwara karena ada script ceritanya, di mainkan oleh beberapa orang dan (betapa tidak kreatifnya) selalu sama ceritanya. Bagi orang-orang yang biasa mobile di rute tersebut jadi hafal tapi konyolnya/menyedihkan tidak bisa kasih warning jika ada penumpang yang terungkit rasa empati (iba) setelah mendengar kisah iba yang di pentaskan dan dengan suka rela membeli barang yang dijual dengan harga berlipat-lipat dari harga sebenarnya yang tak seberapa!. Skenario yang dipentaskan adalah:
  • Ada seorang penumpang yang yang salah naik bis dan berakting linglung karena kehilangan tas. 
  • Ada kondektur palsu yang sok perduli memberikan arah-arahan apa yang sebaiknya dilakukan. Endingnya, si penumpang tersebut akan menjual sebuah arloji gold yang katanya satu-satunya barang berharga yang masih ada dan merupakan pemberian dari saudaranya yang di luar negeri. 
  • Kemudian akan "aktor" penumpang dari arah belakang ( satu atau dua orang) yang menawar arloji tersebut. Tawar-menawar pun diperluas ke penumpang lainnya hingga ada penumpang asli yang tertarik untuk membeli. Ini merupakan kejadian yang dulu ebberapa kali saya temu di Jember tapi dua tahun sebelum saya hijrah, sudah tidak lagi bertemu panggung sandiwara tersebut. Semoga sudah benar-benar usai panggung sandiwara tersebut. 
Saya juga pernah melihat langsung peristiwa seorang ibu yang tas di jarah habis di depan saya dan di waktu yang bersamaan ada penumpang yang di todong senjata tajam. Masih banyak cerita lainnya yang berbau “kriminal” diperjalanan yang pernah saya alami tersebut. Tapi juga ada banyak “adegan” lucu (tepatnya konyol) yang saya alami. 
  1. Lupa minta kembalian uang saat turun dari bis. Lha mendadak dibangunkan karena sudah sampai tujuan, saya pun ngloyor turun dan baru keingat beberapa jam kemudian setelah kembali beraktifitas. Rejekinya Pak Kondektur kan namanya?
  2. Kebablasan, karena pulasnya tidur dan tidak mendengar saat kenek/kondektur ngasih woro-woro. Saya yang harusnya turun di Srono, akhirnya turun di Rogojampi di jam 2 dini hari dan sambil menetralkan kantuk, saya pun menyeberang jalan untuk mencegat bis yang ke arah Jember lagi deh:(
  3. Salah naik bis saat di Gempol. Saat nebeng mobilnya Mister Boss bersama Istri plus Pak sopir tentunya yang mudik ke Solo. Sebenarnya bukan kali pertama, beliau memang sering riwa-riwi Solo – Banyuwangi karena anak-anaknya sekolah di Solo semua bersama simbahnya. Nah entah gimana, saya yang biasa memang turun di Gempol (jika mudiknya nebeng beliau) dan tenangnya naik bis arah ke Banyuwangi lagi, langsung ketiduran dan baru nyadar saat kondektur minta ongkos saya bilang turun Bungurasih. Pak KOndektur dengan ekspresi kasihan dan menggratiskan karcis saya pun berucap “ Walah Mbak, bis ini ke arah Banyuwangi. Piye arep mudhun Bungur ?” Olalalala…..akhirnya saya diturunkan di Probolinggo ketika arloji saya menunjukkan jam 12 malam. Duh Gusti, maksud hati nebeng si Bos agar sampai rumah lebih cepat, lah ini malah kayak sya’i balik lagi arah ke Banyuwangi? Untungnya baru sampai Probolinggo *biar gak nelangsa banget jadi mikir untung saja ah*
  4. Di tinggal tukang Ojek. Karena masih dini hari banget, saya pilih baik ojek lah dari Babat (Jembatan Baru yang ke arah Tuban itu). Pas itu pak tukang ojek yang sudah deal tarif, mempersilahkan naik. Eh, belum sempat saya naik…si bapak ojek main tancap gas saja. Sampai teman – teman seprofesinya di pangkalan ojek pada ketawa ngakak dan katanya itu bukan kejadian pertama kalinya lhoh?
  5. Masih banyak banget cerita lucu, konyol lainnya bertemu orang-orang seperjalanan yang selalu berbeda-beda orangnya yang tetap seru untuk saya nikmati kan? Lha bahkan ada kondektur yang hafal dengan wajah saya tuh. *berasa jadi public figure jadinya*
Banyak banget rona-rona yang mewarnai rutinitas long trip saya dan membawa Saya pada perenungan dan spirit untuk bisa lebih bersyukur dengan apa yang Saya miliki, motivasi untuk lebih explore ( ngurangi rasa males-malesan), mengasah empati (karena seringkali kita lupa untuk "mengandaikan" berada di posisi seseorang sebelum memberi komentar atau menilai) serta belajar ramah pada orang yang tidak ku kenal sama sekali. Bagaimana peredaran manusia di terminal yang tidak kenal jam tidur malam demi mencari nafkah untuk keluarganya. 
traveling; keep move; safe; perjalanan aman dan nyaman
Sabar menanti bis yang akan berangkat
Ketika saya pernah  “nginep” di terminal Bungurasih juga Osowilangun. Part of this long trip yang tak kalah meng’enrichment’ spiritual. Dini hari sampai Bungurasih sekitar jam 03.00, biasanya Saya nunggu sampai shubuh di musholla terminal, (waktu dini hari yang seringnya sangat berat untuk melipat selimut serta mengangkat badan dari pembaringan). Sholat bersama orang-orang yang tidak saling kenal, ada beragam orang mulai petugas kebersihan, kru bis, penumpang antar kota sepertiku, juga ada anak kecil bersama ibu/ayahnya.....kemudian saling berjabat tangan dengan senyum ramah antar jamaah, kadang-kadang sempat ngobrol sebentar.....benar-benar moment yang luar biasa. 
LDR; Kota Pelajar: Kota Istimewa; Kota Gunung Berapi
Here I am, 
Alhamdulillah masih sesekali menikmati seseruan mudik-mudik Yogyakarta – Lamongan sendirian dengan rute: Yogyakarta-Ngawi-Bojonegoro-Babat-Rumah. Berangkat sekira jam 22.00 WIB tiba di rumah sekitar jam 5 pagi, dengan 3 kali naik bis dan sekali ojek.
Yaaa...., semua hal memang ada hikmahnya....hanya saja kadang (bahkan seringkali) emosional lebih dominan untuk men’judge unfortunately moment, sadness things, misery story....For while, it’s nature if we have reaction like that ( dissapoint, sad, crying...). For all the things that we didn’t expect it But completely unwise decision when we’re going flow on it all the time . Some time when we go down, we'll find new spirit and inspiration to face the reality. *Sok PeDe nulis Inggris*
Epilognya adalah:
Tulisan ini saya maksudkan sebagai penanda:
Ketika satu rentang usia beringsut perlahan dan Satu Mukadimah baru membentangkan pelajaran yang baru pula. Dengan kaca mata penglihatan masa kini, dapat saya lihat secara jujur sederet kekurangan, kekeliruan dan ketidak-konsistenan dalam bersikap, khususnya saat berada dalam kondisi under pressure atau hardly judgment dari society yang memojokkan. 
Momentum keberulangan hari kelahiran ini kembali mengingatkan saya bahwa sukses merupakan rangkaian proses BUKAN hasil akhir, proses bagaimana saya bisa menjalani dan memaknai setiap hal, baik kesulitan maupun complicated problem yang tak terduga menjelma nyata dalam alur sejarah hidup yang harus saya tuliskan merupakan mata rantai kehidupan yang mengalir pada titik kembali diri pada sang Pemilik Hidup. 

Untuk Chapter usia yang baru, semoga maghfirah, hidayah, berkah kebaikan dan keselamatan untuk kehidupan dunia dan akherat juga terlimpahkan selalu buat keluarga, teman dan sahabat yang ber MILAD di tanggal 18 Desember dan tanggal-tanggal lahir lainnya. Every day is new day!


Semarak Trend Fashion Jilbab

Fashion style mengenakan hijab semakin mencuat dan menjadi trend setter yang naik daun dari waktu ke waktu. Sekitar satu dekade belakangan ini kaum hawa yang berhijab (saya lebih familiar dengan penyebutan jilbab) semakin  meluas dan membumi bahkan hingga ke belahan benua Eropa, Amerika dan belahan bumi lainnya. Berjilbab tidak lagi dianggap aneh. Berjilbab tidak  lagi dianggap hanya sebagai kepatutan untuk menghadiri pengajian. Berjilbab saat ini  sudah merupakan bagian dari penampilan keseharian, baik untuk acara formal, non formal maupun untuk keseharian. Berjilbab atau mengenakan hijab merupakan tred fashion yang mendunia saat ini dan semakin banyak diminati oleh kaum perempuan dari berbagai belahan bumi. 

Secara umum pada welcome dengan sosok-sosok anggun perempuan yang mengenakan gaya berbusana tertutup mulai kepala hingga kaki. Suatu perkembangan yang Alhamdulillah sangat luar biasa bila dibandingkan 20 -25 tahun lalu.  Termasuk ketika Bismillahirrahmaanirrahiim di saat-saat awal saya memutuskan dan memberanikan diri untuk berjilbab dipertengahan kelas 3 SMA. Tak hanya populasinya masih langka dan dianggap aneh, tapi juga masih banyak penolakan dari berbagai pihak baik formal maupun non formal.  Bahkan ketika saya lulus kuliah pun masih mengalami “pengkondisian” yang bikin galau menyesakkan dada karena disuruh membuat pernyataan siap menanggung segala resiko yang muncul akibat mengenakan foto berjilbab di Ijazah.  Mengingat betapa dilematisnya  berjilbab dan melihat trend berjilbab yang kini semain solid dan stable memberikan corak yang semarak dalam dunia fashion sungguh sebuah perkembangan yang sangat luar biasa, wonderful getttu. 

Sedemikian boomingnya trend fashion berjilbab dengan berbagai kreasi yang super kreatif-kreatif  mulai dari yang simple hingga glamour.  Nah dari sekian banyak model, gaya, kreasi berjilbab,  ada banyak desainer yang mencoba menciptakan gaya berjilbab kekinian menjadi trending publik antara lain *jadi berasa sok Fashion Blogger*:

1. Gaya Jilbab Casual & Glamour
Jika kita ingin tampil glamour tanpa banyak menggunakan perhiasan mungkin tidak ada salahnya jika kita mennggunakan gaya Jilbab Casual & Glamour ini, gaya ini memang sengaja dengan mengedepankan corak bunga dengan pola sejajar yang membuat kita tampak anggun, glamour dan casual meskipun kita tidak menggunakan accessories tambahan, selain itu juga Gaya Jilbab Casual & Glamour juga sangat cocok jika dipadukan dengan corak berbunga atau motif lainnya.

Fashion Blogger; Trend Setter; Jilbab; Hijab; Syar'i; Busana Muslimah
Ambil dari Kalender
2. Modifikasi Jilbab Pashmina 
Jilbab Pasmina mulai banyak diminati karena ukurannya yang panjang sehingga memungkinkan untuk dipakai dengan berbagai gaya dan bentukan. Apalagi kini jilbab pasmina tersedia dalam beragam pilihan, tak melulu warna polos lagi.  Sudah banyak jilbab pasmina dengan bahan kain yang kaya pilihan, dalam berbagai corak, warna dan motif.

Ini Namanya Asal Pakai Pasmina
Jilbab pasmina pun menjadi trend jilbab yang banyak diminati oleh kebanyakan wanita yang ingin tampil cantik dengan berbusana muslim,  dipadu dengan warna yang elegan dan casual. Gaya Jilbab Pashmina Modern juga sangat cocok untuk dijadikan kitalan ketika menghadiri acara-acara pesta dan acara-acara resmi lainnya. Dan ada baiknya dipertimbangkan untuk menghindari warna yang gelap sebab gaya jilbab pasmina mengedepankan corak warna yang cerah. 

3. Gaya Jilbab Modern & Feminim
Berbeda dengan gaya-gaya Jilbab diatas gaya Jilbab modern dan feminime ini sangat mengedepankan warna-warna feminime seperti Pink, ungu ataupun biru muda.   Biasanya dilengkapi dengan aksesoris yang cantik-cantik pula dengan warna yang harmonis yang ditempelkan pada modifikasi jilbab . Jika kita ingin menghadiri pesta pernikahan ataupun acara-acara resmi kita bisa menggunakan gaya jilbab yang beraliran feminim ini. Asli saya belum pernah sukses berkreasi dengan model berjilbab yang kayak beginian.
Fashion Blogger; Trend Setter; Jilbab; Hijab; Syar'i; Busana Muslimah
Ambil dari Kalender
Ini hasil karya Noe ( saat masih di Banyuwangi)
4. Jilbab Casual Segi Empat Yang ever green dan all session
Menurut saya, jilbab berbentuk segi empat adalah salah satu model jilbab yang ever green dan all session. Lha meskipun berbagai trend berjilbab silih berganti jadi trending setter, dan jilbab segi empat ini tetap eksis tanpa krisis kepercayaan diri bagi siapa saja yang memilih tampil dengan model jilbab ini.
Metamorfosa Jilbab Segi Empat Yang Tak Banyak Berubah
(SMA, Kuliah, Awal Kerja dan Terbaru Arisan Ilmu di Maple Tree)
Maka, boleh dong kalau  jilbab segi empat ini merupakan yang model yang tahan uji dan bandel mengikuti trend fashion busana muslimah khususnya. Harap dimaklumi kalau saya bisa menganggap Jilbab Casual Segi Empat yang ever green dan all session karena dari awal berjilbab hingga  saat ini, model jilbab segi empat yang paling sering saya pakai, demikian juga yang kerap dikenakan oleh orang-orang di lingkaran pertemanan saya.  

Kalau dulu gaya berjilbab cenderung konservatif dan simple, cukup kain persegi yang dilipat segitiga kemudian dijepit dengan peniti untuk mengenakannya *saya banget*. Tapi sekarang,  sudah sangat banyak kreasi berjilbab yang modis, modern dan stylish. Berjilbab  tidak hanya untuk keperluan menghadiri acara-acara formal seperti pesta pernikahan, pengajian, takziah dan acara formal lainnya, tapi juga merupakan trend  fashion untuk berpenampilan sehari-hari untuk berbagai kesempatan formal maupun non formal.

Apalagi saat ini semakin banyak seleb yang berhijrah dengan mengenakan busana muslimah dan penampilannya pun menjadi inspirasi banyak perempuan untuk berani berkreasi memadu padankan warna, motif  dan bentuk jilbab. Kita bisa meniru dan atau memodifikasi gaya berjilbab seleb seperti Dian pelangi, Zaskia Adya Mecca, Ustadzah Okki Setiana, Melly Goeslow, Peggy Melati Sukma, Shireen Sungkar, Alyssa Soebandono, Ririe Khayan dan sederet seleb lainnya. Juga kian banyak tutorial berjilbab yang siap setiap saat untuk dicontoh/dipelajari sehingga kita pun bisa bergaya santun tapi modis dalam berjilbab, iyah tohhh? 

Some how and no matter what the reason
saya yakin apapun pilihan trend model jilbab yang anda pilih tentunya tetap mengutamakan pertimbangan penampilan yang syar’i.