WHAT'S NEW?
Loading...

Berani Lebih Memilih Bermetamorfosa jadi Ibu

Keputusan menikah tak hanya mengubah status saya menjadi istri tapi Bismillahirrahmaanirrahiim merupakan keputusan #BeraniLebih memilih BERMETAMORFOSA jadi Ibu. Begitu akad dinyatakan sah, detik itu saya menjadi seorang ibu karena lelaki yang menikahi saya adalah seorang duda dengan 3 anak: Ifa (1 SMP), Aida (5 SD), Azka (3 SD).

Menerima pinangan suami adalah  keputusan kontroversionalisme yang menimbulkan beragam opini dan friksi emosi, dari tetangga, lingkungan sekitar, juga keluarga sendiri yang memercik dari paradigma saya yang single, perawan, berpendidikan cukup, pekerjaan stabil, kok menikahi duda beranak tiga?! So far, saya bisa berTAMENG: yang penting orang tua merestui, anjing menggonggon kafilah berlalu. Toh ortu memang menyerahkan keputusan pada saya, yang penting seiman dan bisa bertanggung jawab sebagai imam. TAPI dilema complicated justru berasal dari diri sendiri: 
  1. Jika menolak karena duda dengan 3 anak, betapa heartless-nya? Menjadi duda, apalagi karena istrinya meninggal adalah  takdir yang tak bisa dihindari. Padahal secara agama, kualifikasinya excellent ? 
  2. Kalau menerimanya, apa saya sanggup serta merta menjalankan peran sebagai ibu? Selaras dengan pernyataan teman-teman dekat saya, “kamu over dosis PeDe atau nekad? style-mu sablenk, sehari-hari seperti koboi, tak ada style keibuan....seyakin itukah bisa langsung berperan menjadi ibu?”
  3. Jika menikah dengannya pasti harus pindah kerja, meninggalkan zona nyaman, memulai ritme kerja dari NOL, beradaptasi dengan lingkungan baru, dst.
  4. Tak hanya kedua keluarga kami yang terhubung, tapi ada keluarga besar almarhumah yang membutuhkan harmonisasi. 
  5. Sanggupkah hati berdamai dengan segala kenangannya  yang hidup selamanya? Dan 1001 pertanyaan lainnya.
Hampir 3 bulan sejak ta’aruf diajukan, saya tidak tahu harus memberikan jawaban apa, walaupun doa demi doa telah saya panjatkan. Hingga suatu hari saya berbincang dengan seorang bapak.
“Ketika kita membuat pilihan, kenapa tidak mengambil pilihan yang membuat nilai diri kita bermanfaat  lebih”. 
Perbincangan singkat tersebut menggelitik sanubariMenikah sekarang atau nanti, kenapa tidak BeraniLebih memilih bermetamorfosa jadi Ibu? Bukankah VALUE diri lebih PLUS, menjadi istri sekaligus berkesempatan melanjutkan peran seorang ibu yang terhenti karena takdir?
#BeraniLebih Bermetamorfosa
Kini, pernikahan kami dua tahun berjalan dan saya menyadari tidak ada standar baku (minimal) tentang kesiapan menjadi ibu  yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Berani Lebih Memilih Bermetamorfosa jadi ibu membawa saya pada achievement diri sebagai diri sendiri, istri, ibu dan anggota masyarakat dengan lingkungan sosial yang lebih heterogen, tanpa kehilangan jati diri dan eksistensi diri saya sendiri.

Saya berpedoman: melanjutkan Peran seorang Ibu bagi mereka dan BUKAN menggantikan posisinya. Dengan mind set ini, saya bersikap be myself dan mulai belajar berkomunikasi yang melting dengan anak-anak. Bukan hal mudah, tapi saya belajar bahwa menjadi ibu adalah bermetamorfosa setiap hari karena setiap hari pula menjalani peran baru. Menjadi Ibu sebulan lalu, tidak lagi sama dengan sebulan berikutnya. Usia anak yang bertambah diperlukan derajat pemahaman dan penyikapan yang meningkat.

Juga bagaimana menguatkan fisik dan mengasah ketrampilan psikologis dengan status baru menjadi istri dengan variable multikompleks: menantu, ipar, berharmoni dengan keluarga besar almarhumah beserta kenangannya, bersosialisasi dengan lingkungan kerja & tempat tinggal yang komponennya serba “baru” kenal. Serta memantaskan sikap untuk menghadapi “surprise-surprise” berikutnya karena sudah #BeraniLebih Memilih bermetamorfosa jadi Ibu agar bisa mendampingi suami ke tempat terbaiknya, bisa membawa anak-anak meraih prestasi terbaik yang bisa diraih dan bisa terus mengayomi keluarga di posisi terbaik dalam kondisi yang ada.


                  Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 




21 comments: Leave Your Comments

  1. ini kayak metamorfosa kupu kupu ya mbaa...menuju peranan yang lebih mulia setahap demi setahap

    ReplyDelete
    Replies
    1. bagai kepompong, berubah ulat menjadi kupu-kupu . seperti itu ya mbak, hhehe..!!

      Delete
    2. Dan bahkan, tanpa kita sadari sebenarnya setiap hari kita melakukan proses metamorfosa ya kan?

      Delete
  2. keikhlasan dan kesabaran di atas kebenaran, selalu membuahkan kebahagiaan
    salut dengan mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin,
      yg jelas ikhlas itu kata kerja. Spt halnya cinta, perasaannya juga merupakan kata kerja

      Delete
  3. sy suka bgt dengan gaya bahasanya... :)

    ReplyDelete
  4. ya namanya tetangga pasti banyak ngomongin tapi ga usah terlalu didengarkan sih.menikah adalah jalan mulia,saya juga kalo sudah ada rizki pengen banget nikah..

    ReplyDelete
  5. Melanjutkan peran bukan menggantikan.... Aku suka ini mbak...

    Anak2 mbak cakep gitu

    ReplyDelete
  6. pastinya sudah dipikirkan dan melalui istikharah ya mbak,makanya berani maju. Aku salut banget deh.

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah moga langgeng ya mbaa

    ReplyDelete
  8. Yesss aku juga suka kalimat 'melanjutkan peran bukan menggantikan... ' ^^ d Semoga sakinah dan bahagia terus hingga masa ke depan ya mbak Rie.

    ReplyDelete
  9. Dirimu Vicky banget sumpaaah. Mana ada kontroversional hahaha.
    Moga menang jeung.

    ReplyDelete
  10. kelihatan semuanya sudah nyaman satu sama lain
    good luck GAnya ya

    ReplyDelete
  11. Niat yang mulia ya Rie.. semoga Allah memberkahi selalu :)

    ReplyDelete
  12. setelah para saksi berucap sah, sudah ada dech yang panggil "MAMA" hehe..!!

    tetapi itulah kuasa sang kholig, yang mempersatukan hambanya tanpa membedakan status apapun, karena mereka yang sudah dipersatukan adalah pasangan yang terlah dijodohkan olah Allah..
    wadduh malah ceramah kayak ustadjah dech,,hehe..!!
    semoga anak-anaknya bisa anggap mbaknya seperti ibu kandung buat mereka, dan selalu bahagia. amin..!!

    ReplyDelete
  13. Waktu saya menikah juga gak terlalu yakin bisa menjadi dalam arti benar-benar tipikal ibu ideal. Saya masak aja gak bisa. Tapi, memang butuh keyakinan dari diri sendiri, ya. Insya Allah kalau dijalanin, pasti bisa :)

    ReplyDelete
  14. Keren mbak, seribu satu lo yang kayak mbak.

    ReplyDelete
  15. Subanallah Mbak Ririe....semoga makin samara yaaa...

    Gaya bahasamu ki lho Mbak...eksak campur nyastra...keren !

    Gutlak Mbak...

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.