Ada apa dengan Splash After Class?

Ada apa dengan Splash After Class? Pertanyaan yang spontan menyeruak dibenak saya ketika mendengar pemberitaan yang gencar mengenai perayaan kelulusan SMA yang bertajuk Splash after class dengan dress code bikini bagi siswi. Iya Bismillahirrahmaanirrahiim, memang sudah bukan hot news lagi saat saya memposting uneg-uneg karena pesta perayaan kelulusan yang semestinya digelar pada tanggal 25 April lalu gagal terselenggara karena menuai banyak protes dan tentangan. Padahal pesta serupa ternyata sudah pernah terselenggara dengan sukses di tahun sebelumnya? Mencuatnya model perayaan yang bergaya ala  Holywood (atau Melrose Place?) menjadi tamparan yang sangat keras bagi semua elemen dunia pendidikan: orang tua (lingkungan keluarga), lembaga pendidikan (sekolah), pemerintah dan masyarakat luas pada umumnya. 
Splash After Class lebih DAHSYAT hentakannya bagi saya, menyadari jika aktualitas dan implementasi diri menjadi orang tua (ibu) masih cethek ~ dangkal/abal-abal dan bisa dibilang I’m still learning to be A Mommy [and not better yet]
Fenomena perayaan kelulusan sekolah secara over dan dosisnya FAKTAnya semakin meningkat ke level yang memprihatinkan dari tahun ke tahun. Kalau di masa saya sekolah, aksi perayaan kelulusan diekspresikan dengan mencorat-coret seragam sekolah dan seiring berjalannya waktu model perayaan kelulusan pun semakin mengheboh (kalau tidak bisa disebut menggila). Splash after class bisa jadi hanya salah satu model perayaan kelulusan yang extrem dan menjauh dari koridor budaya, kesopanan, susila dan moral. 

Sebagai orang tua (juga pernah berada di usia anak-anak kita sekarang), sebenarnya saya juga gemas. Bagaimana bisa mereka begitu berani menandai kelulusan dengan cara-cara yang tidak masuk akal sehat seperti itu? Lha kan baru lulus SMA, perjalanan berikutnya masih panjang dan membutuhkan banyak energi dan persiapan. Tapi kok ya bisa tercetus pemikiran merayakan kelulusan secara all out, seolah inilah moment puncak ujian hidup yang baru saja bisa dilaluinya dan patut dirayakan dengan pesta yang naudzubillah: berpakaian bikini ditemani hingar bingar musik dan minuman keras? 

Relevansi yang bisa saya tarik dari fenomena tersebut adalah Sistem pendidikan masih menjadi momok dan masa menjalani pendidikan di bangku sekolah di anggap sebagai penjara.  Sehingga begitu UN dilalui, seperti mendapatkan moment yang tepat untuk merayakan kesuksesan keluar dari tembok “penjara” bangku sekolah. Fakta bahwa dunia pendidikan di negara kita masih fokus memborbardir murid-muridnya dengan bejibun ujian:  ulangan harian, ulangan dadakan (short quiz), UTS, ulangan umum, ujian kenaikan kelas, dan ujian nasional menjadi sumber antipati yang menggunung bagi siswa. Belum lagi setumpuk PR yang dibebankan ke siswa setiap harinya yang konon katanya demi mendidik anak agar rajin belajar dan disiplin. Rutinitas yang demikian berlangsung sepanjang 220 hari efektif bersekolah setiap tahunnya. Siswa dicekoki dengan  PR pelajaran ini, itu dan serangkaian ritual tes/ujian dengan labeling yang berbeda-beda. 


Bayangkan, betapa  kompleksnya stress yang harus dikelola oleh siswa in every single day they have? Belum lagi metode yang digunakan dalam membuat proses belajar-mengajar yang menyenangkan (learning is fun) juga masih jauh dari impian. Masih banyak guru mengajar secara satu arah dengan metode ceramah yang amat dominan dan mendoktrin. Alih-alih anak terbentuk menjadi pribadi yang tangguh paripurna, yang terjadi adalah akumulasi antipati terhadap sekolah dan membentuk opini betapa bersekolah menjadi belenggu kemerdekaan. Sehingga saat kelulusan tiba, mereka amat sangat merasa layak untuk merayakan dengan acara yang spektakuler. 

Dan jika kemudian mereka memilih cara merayakan “kemerdekaan” dari belenggu rutinitas bersekolah secara extrem,  kalau dicermati secara rasional tentunya tidak serta merta ide “liar” tersebut tercetus begitu saja di benak anak-anak. 

Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah “Bening” atau murni seperti sifat air yang netral. Seandainya seorang anak dibiarkan di atas fitrahnya, tentulah dia akan mendapat hidayah menuju kebaikan dan kebenaran. Akan tetapi ketika datang erosi dari sekitarnya maka berubahlah anak tersebut. Bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan lebih bening dari pada air, lebih putih dari susu, tetapi kemudian kita dapati dari anak – anak tersebut muncul kedustaan yang tadinya dia tidak pernah berdusta, muncul sifat egoisme yang tadinya juga tidak demikian dan berperilaku menyimpang lainnya. Dan tidaklah semua ini terjadi kecuali muncul dari sebab – sebab yang datang dari luar. Keluarga, Sekolah dan lingkungan sosial ( media massa, media on air/on line, media sosial, pergaulan) merupakan variable external yang memiliki kontribusi significant terhadap tumbuh kembang anak-anak.

Bila Anak diumpamakan seperti air yang murni, maka zat yang memiliki sifat dasar murni ini akan berasa pahit, manis, asam; bagaimana air akan berbentuk sesuai model wadah seperti mangkok, gelas piala atau melebar tanpa bentuk; serta akan kemana arah aliran air, maka ketiga main stream di atas [ keluarga, sekolah dan lingkungan sosial] yang pastinya saling terkait dan saling melengkapi dalam proporsinya masing-masing berkontribusi secara linkage dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. 

Sebuah pertanyaan sederhana bagi orang tua [amatir] seperti saya, sudahkan kita memberikan iklim pendidikan di rumah yang konstruktif bagi anak untuk melalui proses demi proses perkembangan hidup menuju bahagia dengan tidak menjadi sosok yang individualis serta eling marang ingkang Maha Dumadi?. Tiap generasi dibangun di atas generasi sebelumnya. Idealnya generasi sebelumnya (orang tua) harusnya berusaha memperbaiki hal-hal vital yang terkait dengan pendidikan agar lebih konstruktif bagi anak sebagai agent perubahan selanjutnya. Bapak dan ibuk, tentu punya peran penting yang proporsional dalam kapasitas dan posisinya masing-masing. Bahwa Kontribusi terbesar pembentukan karakter anak dari lingkungan keluarga yaitu orang tua-lah yang memegang peran strategis dalam mempersiapkan pondasi dasar karakter anak.

Gaya party yang hedonis, tak hanya output dari gerusan trend life style western yang di anggap sebagai mega trend dan recommended untuk diikuti, juga tak bisa dipungkiri diakibatkan oleh kebiasaan orang-orang terdekat mereka yang sering dilihat sehari-hari. Satu contoh sederhana: berapa banyak orang tua yang menganggap ‘lumrah’ keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk? Alibinya: kan di dalam rumah yang isinya adalah anggota keluarga sendiri. Padahal setiap anak memiliki keinginan untuk meniru, menduplikat dan memodifikasi segala apa yang dilihat dan di dengarnya. Jangan heran jika anak-anak memberikan unjuk modifikasi di level yang lebih tinggi. Mereka menganggap, sesama populasi teman SMA, jadi wajar kan jika sama-sama berbikini, toh di ruang tertutup dan terbatas pada para undangan. Konteks peribahasa Bapak kencing berdiri, maka anak akan kencing dengan berlari, adalah salah satu yang patut membuat kita untuk mawas diri. 

Mencuatnya ceremonial Splash After Class, selain menjadi CERMIN INTROSPEKSI bagi para orang tua (lingkungan keluarga), juga merupakan cambukan telak bagi dunia pendidikan dan semua yang terkait dengan penyelenggaraan proses belajar mengajar. Sudah tidak dapat ditunda-tunda untuk membuat pembaharuan yang holistic. Re-engineering terhadap ruh pendidikan dimana metode pembelajaran yang mampu memberikan rasa nyaman dan menyenangkan karena sejatinya learning is fun dan agama semakin diperlukan untuk menghadapi perubahan-perubahan paradigma, pola pikir dan pola pergaulan yang kian lebar daya permisifnya. 
Apapun rumus yang digunakan untuk menganalisis perubahan zaman dari indikator kemajuan teknologi, yang pasti adalah dewasa ini sedang berlangsung perubahan-perubahan besar yang serius dalam peradaban manusia. 
Pergeseran-pergeseran yang seolah terjadi secara magic. Banyak perubahan gaya dan perilaku hidup yang tak bisa diukur dengan segala kaidah rasional yang dipengaruhi oleh konten-konten tontonan yang semakin menjauh dari role model budaya kita yang mengutamakan susila, beradab dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Yang jelas informasi agama semakin diperlukan untuk menghadapi perubahan-perubahan paradigma, pola pikir dan pola pergaulan yang kian lebar daya permisifnya. Karena agama adalah urusan sosial, urusan kebudayaan, urusan peradaban. 

Agama memberi tuntutan bagaimana bergaul dengan alam, dengan orang lain, dengna jin, malaikat dan Tuhan. Agama memberi pedoman bagaimana mengonsep sejarah dan kehidupan. Peristiwa splash after class sepenuhnya masalah moral, perilaku menyimpang, urusan sosial dan dengan tegas agama apapun melarang perbuatan merayakan sesautu dengan cara-cara yang diluar tatanan etika. Perayaan dan moment apapun yang memiliki Stereotipe seperti Splash after class, bukan lagi urusan pribadi, bukan lagi hak asasi.  Tapi lebih dari sekadar dimensi hak asasi dan kebebasan. Itu adalah persoalan konsep, batas dan strategi kebudayaan manusia.

Ikut menghirup nafas Hari Kebangitan Nasional, saya kutip wejangan Bapak Pendidikan  Ki Hajar Dewantara: 
Pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
"Pinjem" Tempelan Stick NOTE di kamar Aida
Maka melalui tulisan sederhana ini, saya selipkan harapan, peran aktif media massa, media syiaran ( televisi dan radio) dan media-media massa lainnya dalam menyajikan menu-menu yang edukatif dan sehat. Khususnya untuk media televisi, penting untuk dipertimbangkan jika tidak cukup hanya membuat blur gambar-gambar yang menampilkan obyek dengan busana minimalis, adegan merokok, scene kekerasan dan part lainnya yang setipe. Karena sesungguhnya menge-blur-kan gambar/konten yang “minim” nilai susila tersebut justru memantik rasa penasaran dan perhatian yang lebih intens bagi anak-anak. Mengingat, saat ini screening terhadap content media semakin longgar, padahal efek melihat yang walaupun secara sadar mereka tahu tidak baik, tapi perlu dipahami bahwa apa yang kita lihat dan dengar secara berulang dan intens, maka secara perlahan akan memiliki sifat penetrasi pada pola pikir dan perilaku.

Ah, rasanya tulisan saya ini masih selapis tuuuiiiipiiiisss kulit ari mencuatnya Ada apa dengan Splash After Class?

Read More - Ada apa dengan Splash After Class?

Melukis Fajar

Untuk menambah doping I LOVE Monday Bismillahirrahmaanirrahiim ngeFIKSI dulu (tulisan lama yang ada di dalam Buku MOzaik Kinanthi). Harap maklum jika masih banyak salah tanda baca dan juga alur cerita/konfliknya yang "kasar" alias ujug-ujug antiklimaks
So here is the story... MELUKIS FAJAR

 “ Ada apa lagi dia kesini? Percuma, suruh dia pergi !”
 “ Pak, pelankan suaranya...didengar Bu Laraskan tidak sopan bicara kasar begitu ?”
            Aku berusaha tetap duduk dengan tenang dan tak terpengaruh dengan percakapan yang terjadi di balik dinding bambu. Nada amarah jelas di setiap kalimat yang di ucapkan oleh Pak Karman. Aku mengedarkan pandangan pada rumah sederhana yang serba berdinding bambu dengan beberapa bagiannya ada yang berlubang.
            “Maafkan suami saya, Bu Laras...” suara Bu Karman menghentikan kesendirianku di ruang tamu tersebut. “ Sebenarnya Kang Karmanorangnya baik, nanti saya akan coba membujuknya lagi agar mau mengijinkan Dinar sekolah ”
            “ Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, Bu. Saya akan datang lagi dan semoga Pak Karman berkenan sedikit ngobrol dengan saya.Semoga tidak lama lagi Dinar bisa sekolah seperti anak-anak yang lainya ” pamitku sambil mengurai seulas senyuman.
            “ Sejujurnya saya juga sangat ingin Dinar bisa sekolah, agar tidak jadi perempuan bodoh seperti Emaknya ini ” ujar Bu Karman seolah meratapi keadaan dirinya.
            “ Saya akan berusaha maksimal agar Dinar bisa sekolah, semoga Pak Karman bisa membuka hatinya bahwa anak perempuan juga perlu untuk sekolah dan menjadi pandai ”
            Aku melangkah lesu meninggalkan rumah Pak Karman, salah satu rumah dari calon murid yang  aku perjuangkan agar diijinkan untuk sekolah. Dinar bukan satu-satunya yang tidak diijinkan sekolah oleh orang tuanya. Pergi sekolah merupakan hal baru dan asing di desa terpencil ini. Aku harus mendatangi satu persatu rumah warga yang memiliki anak usia wajib sekolah, berusaha meyakinkan para orang tua betapa pentingnya sekolah bagi anak-anak mereka.
                               
                                 *****
            Sejak beberapa menit lalukudekap pigura yang membingkai wajahku bersama mama, papa,Mas Arga dan Mas Ardo. Di kamar berukuran kecil dengan perlengkapan yang serba sederhana . Rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak membuat air mataku mengalir perlahan.
            “ Kamu yakin akan mengabdikan diri di daerah terpencil itu ?” sekali lagi mama mencoba meyakinkanku untuk mengurungkan niat. “ Apa kamu bisa bertahan hidup disana tanpa fasilitas dan aktifitas yang kamu miliki seperti di sini ?”
            Aku kembali teringat dengan kalimat-kalimat mama dan papa juga kedua kakakkuyang senada meragukan pilihanku untuk terjun sebagai Guru di Sukamade. Semua meragukanpilihanku untuk mengabdikan diri di daerah terpencil itu.
            “ Di sana kamu gak bisa safari mall lagi lhoh? ” ucap Mas Arga.
           “ Iya Nduk, jadi guru di Surabaya saja kan mengabdi juga namanya..” kali ini papa ikutan membujukku anak perempuan semata wayangnya. “Papa mengerti niat tulusmu untuk mengabdi, tapi pertimbangkan juga perasaan orang tua dan kakak-kakakmu ya?”
Perbincangan panjang malam itu di tutup dengan pelukan hangat dan keikhlasan menerima keputusanku yang tidak bisa lagi di belokkan.
            Aku menghela nafas panjang, seandainya mereka tahu alasan utama di balik keputusan nekad yang kuambil, kembaliteringatlembaran kenangandengan Ramon yang kandas tragis. Ramon yang backstreet lagi dengan mantan kekasihnya adalah kenyataan pahit yang tidak bisa aku toleransi.  Aku pilihan untuk memutuskan hubungan dengan Ramon meskibukan hal yang mudah tapi akan lebih tidak mudah lagi jika tidak segera mengambil tindakan tegas dengan mengakhiri hubungan secepatnya. Dan memutuskan untuk menerima tawaran dari sebuah LSMuntuk mengajar di daerah terpencil, berharap bisa menjadi pemercepatanmelupakan Ramon.  
            Melalui daun jendela kamar, taburan bintang di langit seolah tersenyum menatap dirinya. Angin malam berhembus semilir menyapa semesta kehidupan dengan belaian penuh kasih. Harmoni suara alam mengalunkan musik yang demikian merdu dalam keheningan malam yang tenang. Kembali terlintas wajah lugu Dinar, gadis berusia 8 tahun dengan manik-manik matanya yang bersinar saat ditawari untuk sekolah seperti beberapa teman seumurannya yang sudah lebih dulu mendapatkan ijin dari orang tuanya. Beberapa anak memang masuk sekolah tanpa rintangan, tapi sebagian besar butuh usaha diplomasi yang cukup alot.Apalagi untuk anak perempuan karena pola pikir rata-rata masyarakat di desa terpencil ini masih menganggap bahwa kodrat perempuan ya di rumah dan bekerja membantu suami ke sawah atau ladang.  
*****

Untuk  sampai di tempatku sekarang harus menempuh perjalanan darat yang sangat jauh ditambah medan yang sangat sulit untuk di lalui kendaraan biasa.Aku sempat tidak percaya bahwa di Pulau Jawa ini ternyata ada juga daerah terpencil begini,penerangan yang masih belum merata, pembangunan sarana dan prasarana umum yang masih sederhana, jarak sekolah yang luar biasa jauhnya dengan rute harus beberapa kali menyeberangi sungai!. Benar-benar kondisi yang tak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya.
            “ Beginilah Bu Laras keadaan di desa ini..” sambut Pak Kepala dusun saat 3 bulan lalu untuk pertama kalinya aku tiba tiba di daerah ini. “ Semoga Bu Laras betah dan sanggup bertahan menghadapi para warga yang rata-rata masih kolot”
            Awal-awalnya memang cukup tersiksa menjalani kehidupan yang kontras dari keseharianku di Surabaya yang serba ada. Tapi tekadku sudah bulat untuk bisa berbuat sesuatu bagi warga di daerah terpencil ini. Bukan lagi karena alasan untuk melupakan pengkhianatan Ramon, tapi dari lubuk hati terdalam aku ingin melihat Dinar-Dinar di desa ini bersinar dengan memiliki kesempatan belajar dan menjadi perempuan yang melek pendidikan.

*****
            Dengan memasang senyum ramah, aku mengetuk pintu dari bahan kayu pohon karet yang ada di depanku “Assalamu’alaikum
            Pandangan tidak ramah Pak Karman langsungmembuatku sedikit jengah dan canggung “ Ada apalagi Ibu datang ke sini ? Dinar tidak butuh sekolah !”
            “Wa’alaikumsalam, Bu Laras “wanita parobaya itu langsung menyalami Laras berusaha menetralkan sambutan suaminya yang tidak ramah. “ Mari silahkan duduk Bu..”
“ Maaf jika kedatangan saya tidak diharapkan oleh Pak Karman...” sebisa mungkin aku tetap tenang menghadapi sikap kasar Pak Karman. Toh itu bukan pertama kalinya aku menerima perlakuan tidak ramah dari warga di sini. Dengan kegigihan dan kesabaran, satu demi satu aku bisa melunakkan hati mereka agar mengijinkan anaknya bersekolah.
            “ Apa masih belum jelas kalimat saya, Dinar tdak butuh sekolah. Wong wedhok kuwi kodrate nang pawon, ora usah sekolah..!”
            “Anak-anak perlu belajar untuk mengurus dirinya sendiri dan menerapkan apa yang dipelajari hingga dewasa sehingga bermanfaat pada diri sendiri dan keluarganya. Jadi perempuan pun butuh untuk sekolah Pak..”
            ” Percuma Bu Laras bolak-balik ke sini untuk membujuk saya. Samin, Kang Tarno dan yang lainnya bisa Ibu bujuk tapi tidak untuk saya !”
            “ Lihatlah Dinar Pak..” aku mengarahkan pandangannya ke halaman rumah pada sosok mungil Dinar yang sedang memberi makan kambing dengan rumput yang dibawanya.“Apakah bapak tidak ingin melihat Dinar menjadi perempuan yang pandai? Jika anak bapak memiliki taraf hidup yang lebih baik, apa bapak tidak tidak ikut bahagia?”
            “ Dan apakah Bu Laras tidak melihat kami ini orang susah ? Mau bayar pakai apa sekolahnya Dinar? Jaman sekarang mana ada yang tidak butuh uang, hah?!”
            “ Saya jaminannya kalau Dinar tak perlu bayar apa-apa, Pak”
            “ Maaf Bu, maksud suami saya itu bukan hanya tidak punya uang untuk bayar sekolah tapi Dinar juga harus membantu kami bekerja di sawah ...” kali ini Bu Karman ikut bicara. “ Saya sebagai ibu juga ingin sekali mempunyai anak yang pinter seperti Bu Laras, tapi...”
            “ Beri saya waktu untuk memikirkannya Pak “ janjiku sebelum melangkah meninggalkan kediaman Pak Karmandengan kecamuk tanya di sudut hati. Namun aku tak akan menyerah begitu saja. Akubukanlah tipe orang yang suka untuk mundur atau menyerah pada keadaan.
                                  
                                 *****  
Menikmati hembusan angin pagi yang menyapu segenap pori-pori dengan gemirisik dedaunan dari pohon-pohon yang ada di sekitar pantai. Duduk di sebongkah batu di tepi pantai Sukamade dengan memejamkan mata, merasakan keajaiban nuansa pagi nan tenang, sangat tenang, tanpa bising dan kesibukan yang menyesakkan. Sungguh suasana romantis menyambut matahri terbit yang tiada bosan kunikmati setiap pagi. Dan ketika memandangi langit yang mulai merekah merah di ufuk timur, sungguh panorama eksotis yang tak pernah cukup untuk diuraikan dalam bait-bait syair. Kabut tipis melayang ringan dan menyelimutisekitarku terasa sejuk sampai ke tulang rusuk.
            “ Pagi Bu Laras...” sebuah sapaan menghentikan keasyikanku menikmati keelokan lukisan fajar di Pantai Sukamade 
“ Aku tidak menyangka justru kita akan bertemu kembali di sini. Hidup memang memberikan banyak hal yang tak tertebak, tapi aku suka dengan ketidak-keterbakan ini “ ujarnya lebih lanjut dengan intonasi yang membuatku berdesir, sangat indah mendengarnya.
“ Kamu...Syamara kan? “ tidak perlu waktu lama untuk mengenali sosok yang mengejutakanku barusan “kok kamu bisa ada di sini ? ”
           “ Saat Pak Dukuh bilang ada guru baru bernama Laras, sama sekali aku tidak mengira jika itu kamu lho?”Laki-laki itu tersenyum, menampakkan sederet gigi putih yang rapi. “ Setelah beberapa kali aku gagal untuk menemui sang guru baru tersebut dan akhirnya aku mendapatkan jawaban yang luar biasa pagi ini. Kamu di sini, di daerah terpencil ini? Meninggalkan gemerlap kehidupan kota? Rasanya tak bisa dipercaya deh...”
“ Hahaha...bisa saja kamu,” Pertemuan yang tidak terduga juga merupakan kejutan yang indah buatku. Setelah sepuluh tahun berpisah sejak lulus SMA, kini bertemu kembali dengan sosok laki-laki yang merupakan cinta pertama dan sekaligus cinta dalam hati karena tak berani menunjukkan pada Syam jika aku jatuh hati padanya. Setelah saling bercerita beberapa saat, akhirnya aku tahu jika Syam berada bertugas disini sudah setahun sebagai dokter.
“ Ku dengar kamu bisa meyakinkan warga untuk menyekolahkan anak-anaknya. Luar biasa sekali gebrakannmu, Ras” puji Syam bersungguh-sungguh. “ Beberapa guru yang datang ke sini tidak bertahan lama, tapi kamu dalam waktu 3 bulan bisa membuat perkembangan yang menakjubkan “
“ Belum sehebat itu Syam. Aku belum menemukan jalan untuk Dinar dan masih banyak yang lainnya “jawabku agak galau.
“ Aku akan membantumu, boleh kan?”
             “ Serius?” sahutku antusias dengan menatap lurus bola mata Syam yang ternyata masih membuat hatiku bergetar seperti 10 tahun yang lalu.
            Syam meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat “ kita akan lalui bersama-sama, Ras..”
            Sejurus aku terpana, tak tahu kalimat apa yang tepat untuk mengungkapkan kejutan yang membuncah indah di sanubari.      Aku hanya berharap merekabisa mendapatkan pendidikan yang memadai untuk bekal menjalani kehidupannya. Sehingga untuk ke depan, pilihan apapun yang diambil oleh seorang anak setelah menyelesaikan studinya bukan lagi suatu paksaan dari ‘harapan’ masyarakat semata “ dan Allah memberiku yang luar untuk melukis fajar buat anak-anak di desa ini bersama seseorang yang istimewa. 

                             *The End*


                                 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


Read More - Melukis Fajar

Berani Lebih Memilih Bermetamorfosa jadi Ibu

Keputusan menikah tak hanya mengubah status saya menjadi istri tapi Bismillahirrahmaanirrahiim merupakan keputusan #BeraniLebih memilih BERMETAMORFOSA jadi Ibu. Begitu akad dinyatakan sah, detik itu saya menjadi seorang ibu karena lelaki yang menikahi saya adalah seorang duda dengan 3 anak: Ifa (1 SMP), Aida (5 SD), Azka (3 SD).

Menerima pinangan suami adalah  keputusan kontroversionalisme yang menimbulkan beragam opini dan friksi emosi, dari tetangga, lingkungan sekitar, juga keluarga sendiri yang memercik dari paradigma saya yang single, perawan, berpendidikan cukup, pekerjaan stabil, kok menikahi duda beranak tiga?! So far, saya bisa berTAMENG: yang penting orang tua merestui, anjing menggonggon kafilah berlalu. Toh ortu memang menyerahkan keputusan pada saya, yang penting seiman dan bisa bertanggung jawab sebagai imam. TAPI dilema complicated justru berasal dari diri sendiri: 
  1. Jika menolak karena duda dengan 3 anak, betapa heartless-nya? Menjadi duda, apalagi karena istrinya meninggal adalah  takdir yang tak bisa dihindari. Padahal secara agama, kualifikasinya excellent ? 
  2. Kalau menerimanya, apa saya sanggup serta merta menjalankan peran sebagai ibu? Selaras dengan pernyataan teman-teman dekat saya, “kamu over dosis PeDe atau nekad? style-mu sablenk, sehari-hari seperti koboi, tak ada style keibuan....seyakin itukah bisa langsung berperan menjadi ibu?”
  3. Jika menikah dengannya pasti harus pindah kerja, meninggalkan zona nyaman, memulai ritme kerja dari NOL, beradaptasi dengan lingkungan baru, dst.
  4. Tak hanya kedua keluarga kami yang terhubung, tapi ada keluarga besar almarhumah yang membutuhkan harmonisasi. 
  5. Sanggupkah hati berdamai dengan segala kenangannya  yang hidup selamanya? Dan 1001 pertanyaan lainnya.
Hampir 3 bulan sejak ta’aruf diajukan, saya tidak tahu harus memberikan jawaban apa, walaupun doa demi doa telah saya panjatkan. Hingga suatu hari saya berbincang dengan seorang bapak.
“Ketika kita membuat pilihan, kenapa tidak mengambil pilihan yang membuat nilai diri kita bermanfaat  lebih”. 
Perbincangan singkat tersebut menggelitik sanubariMenikah sekarang atau nanti, kenapa tidak BeraniLebih memilih bermetamorfosa jadi Ibu? Bukankah VALUE diri lebih PLUS, menjadi istri sekaligus berkesempatan melanjutkan peran seorang ibu yang terhenti karena takdir?
#BeraniLebih Bermetamorfosa
Kini, pernikahan kami dua tahun berjalan dan saya menyadari tidak ada standar baku (minimal) tentang kesiapan menjadi ibu  yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Berani Lebih Memilih Bermetamorfosa jadi ibu membawa saya pada achievement diri sebagai diri sendiri, istri, ibu dan anggota masyarakat dengan lingkungan sosial yang lebih heterogen, tanpa kehilangan jati diri dan eksistensi diri saya sendiri.

Saya berpedoman: melanjutkan Peran seorang Ibu bagi mereka dan BUKAN menggantikan posisinya. Dengan mind set ini, saya bersikap be myself dan mulai belajar berkomunikasi yang melting dengan anak-anak. Bukan hal mudah, tapi saya belajar bahwa menjadi ibu adalah bermetamorfosa setiap hari karena setiap hari pula menjalani peran baru. Menjadi Ibu sebulan lalu, tidak lagi sama dengan sebulan berikutnya. Usia anak yang bertambah diperlukan derajat pemahaman dan penyikapan yang meningkat.

Juga bagaimana menguatkan fisik dan mengasah ketrampilan psikologis dengan status baru menjadi istri dengan variable multikompleks: menantu, ipar, berharmoni dengan keluarga besar almarhumah beserta kenangannya, bersosialisasi dengan lingkungan kerja & tempat tinggal yang komponennya serba “baru” kenal. Serta memantaskan sikap untuk menghadapi “surprise-surprise” berikutnya karena sudah #BeraniLebih Memilih bermetamorfosa jadi Ibu agar bisa mendampingi suami ke tempat terbaiknya, bisa membawa anak-anak meraih prestasi terbaik yang bisa diraih dan bisa terus mengayomi keluarga di posisi terbaik dalam kondisi yang ada.


                  Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 




Read More - Berani Lebih Memilih Bermetamorfosa jadi Ibu

Deru Rindu Pengelana

Bismillahirrahmaanirrahiim
Hamparan laut nan membiru
Kicau dan tarian camar di siang itu
Tak kuasa meredam rindu
Nan menggelora dalam kalbu

Debur ombak silih berganti
Datang tanpa henti
Menyuarakan kerinduan hati
Pelaut di tepi pantai yang sunyi

Ketika rindu memuncak
Jiwa menjadi sesak
Bumi sempit tak berjarak
Kekasih pujaan pun slalu tampak

Dalam pejam maupun terbuka
Ia hadir di tengah mata
Memanggil dengan kasih tak terkira
Tanpa kata maupun suara

Jiwa pun bertemu jiwa
hingga raga tak kuasa
Dipisah oleh jarak dunia

Terpana oleh keindahannya
Membisu seribu bahasa
Mabuk dalam rasa
Dari jutaan anggur cinta

Kasih...dekapllah jiwa hamba
Dan berikan selimut cinta
Selamat dari panas asmara
Damai dalam kasih mulia

Ikatlah aku dengan belenggu rindu
Pakulah dengan ketulusan jiwa
Pasunglah dengan rantai asa
Karena aku adalah cinta

Ketika semua rasa
Dari semua bentuk cinta
Berkumpul dalam jiwa
Raga pun tak mungkin kuasa
Berdiam memendam gelora
Nan menghantam tanpa jeda
Tersiksa tapi bahagia

Kala raga tak berdaya
Dihantam jutaan rasa
Maka tiada obat nan kuasa
Menyembuhkan luka demi luka
Yang diderita rongga jiwa
Selain kemurahan yang dicinta
Tuk menyapa budak asmara
Walau hanya sekejap mata

Dari angkasa kurangkai syair cinta
Ratapan rindu sang pengelana
Kepada lentera lentera dunia
Yang menjadikan gelap tak berdaya...

From WhatsApp
Sudah dibaca semua bait-bait Deru Rindu Pengelana ? 
Tak hanya dirangkai dengan kesungguhan sebagai puisi [ rima yang beraturan], tapi juga diksi yang digunakan memiliki makna religi. 

Daaaannn…..pastinya pada gak yakin kan kalau puisi tersebut bikinan saya? 
Yoiii, memang puisi tersebut karya Ustad Noval Bin Muhammad Alaydrus yang akrab dengan sapaan Habib Novel yang ditulis secara spontan saat berada di pesawat dalam rangka perjalanan Umrah beberapa waktu lalu. Maaf, untuk judulnya yang mungkin kurang KLIK dengan isi puisinya, maklum saya yang memberikan judulnya. Sebenarnya puisi tersebut di share via WA suami saya dan daripada hanya berada di WA, jadi ya ijin ke suami untuk dijadiin postingan deh. Alhamdulillah diperkenankan pula oleh Habib Novelnya.

Habib Novel adalah pendiri dan pengasuh Raudhatul Jannah  yang melakukan syiar dakwah melalui kegiatan kajian, dakwah dan dzikir. Bagi yang berada di berdomisili di Solo, tentu bisa menemukan alamatnya yaitu di  Markas Dakwah Majelis Ilmu dan Dzikir Ar Raudhah Jl Dewutan No.112 Semanggi Ps Kliwon Solo. 

Bagi yang ingin melengkapi koleksi MP3 yang untuk pengkayaan keIslaman, silahkan melaju ke http://ar-raudhah.info/ ada MP3 islami yang recomended untuk memanjakan telinga dan menentramkan hati. Atau bisa juga media sosial Ar Raudhah di:
  1. FB Ar Raudhah di https://www.facebook.com/majelis.ilmu.dan.dzikir.arraudhah
  2. Twitternya https://twitter.com/majlisarraudhah
  3. Youtube : https://www.youtube.com/user/arraudhahsolo 
Dalam berbagi dan Sounding salah satu Majelis Ilmu dan Dzikir, Semoga ada secercah pencerahan yang membawa diri kita menjadi umat Islam yang Kaffah. Aamiin:)



             ♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 



Read More - Deru Rindu Pengelana

Shopious E-commerce yang Prestisius

Online shop bukan hal asing lagi bagi siapa saja yang sudah bersahabat dengan internet. Layanan belanja yang Bismillahirrahmaanirrahiim memungkinkan bagi para pembeli untuk berwindows shopping ria tanpa capek tapi bisa menclok dari satu toko ke toko lainnya, tanpa perlu berdesak-desakan, juga tak perlu berlama-lama menempuh ruwetnya lalu lintas [kota] yang sering macet. berbelanja secara on line juga merupakan cara untuk refreshing tanpa beranjak dari tempat duduk.  

Dari sekian banyak E-commerce, pernah dong terlintas sebaris asa: Kalau satu E-commerce terdiri dari banyak on Shop? Jadi semacam mall yang di dalamnya terdapat banyak department store gettu deh kira-kiranya. Don’t worry be happy on line shopping *abaikan grammarnya* jika memang maunya browsing dalam satu window yang di dalamnya terdapat Online shop. Kehadiran Shopious  yang mulai mengepakkan sayapnya di ranah E-commerce siap memanjakan para shoppers yang ingin satu klik bisa mengakses banyak toko online.   


Sipiriliiiiii….. E-commerce Shopious bisa disebut on line shop yang Prestisius karena menghadirkan konsep one store for all you need karena kita tinggal cari apa yang kita perlukan, semuanya terdisplay dengan rapi dan ciamik plus Komplit pula. Di Shopious tersedia banyak pilihan barang yang di setting dengan kategori yang spesifik sehingga memudahkan bagi para shoppers untuk mencarinya. Gadget? Fasihon? Perlengkapan bayi?.....cukup Klik gambarnya, taraaa…..semua info contact terpampanglah dan bisa langsung menghubungi penjual atau toko on line yang ready stock terhadap item barang tersebut. Ya iyalah, kan shopious itu E-commerce yang sifatnya semacam market place, jadi hanya mengiklankan dan stok barang tentunya ya berada pada toko online yang bersangkutan.
Tidak perlu wis-was akan kredibilitas toko online yang tergabung dalam shopious karena tim management sudah melakukan seleksi ketat terhadap toko-toko yang berjualan di  website shopious. Para sellers yang berminat untuk melamar masuk di shopious akan direview dan ajak bicara sang pemilik toko untuk mengetahui capability mereka sebagai online shop yang eligible karena shopious berkomitment memberikan service prima untuk semua konsumennya yaitu aman dan nyaman. 

Komitment Shopious adalah memberikan jumlah seleksi barang yang sangat banyak, dan bervariasi, dengan kualitas yang tinggi karena tiga poit tersebut merupakan Undang-Undang Dasar yang dipedomani bagi para shoppers di mana pun, tak terkecuali yang shopholic di online shop. Singkat cerita, jika ingin bertransaksi di Shopious maka perlu dilakuakn pertama-tama cukup hanya register gratis tentunya. Kalau sudah sukses mendaftar di Shopious, dari semua foto produk yang ada terdisplay terdapat ikon HATI yang fungsinya untuk di klik sebagai tanda jika pembeli menyukai barang tersebut. Nah jika ada kita klik ikon hati tersebut, maka Shopious akan menampilkan barang-barang apa saja sesuai dari pilihan klik ikon hati  yang relevan dan pastinya recommended. Mikir soal onkir yaaa? Santai sajo, kita bisa kok pilah-pilih toko online yang tak jauh dari tempat tinggal kita sehingga bisa free ongkir dong? 
Lantas bagaimana bagi pemilik toko online yang bergabung dengan shopious?
Untuk bisa berjualan di shopious ini, penjual  bisa menitipkan foto barang dagangannya di INSTAGRAM. Iuran membershipnya relatif murah, 10 foto hanya Rp.60.000 untuk masa tayang 1 bulan. Dan lebih murah lagi jika 20 foto = Rp. 70.000,- duang tuh. Sistematikanya, tim dari Shopious akan mengambil foto-foto barang dari toko online di instagram, kemudian foto-foto tersebut akan di sortir ke dalam kategori yang tepat dan ditampilkan di website Shopious.com. Jadi, bagi yang suka berinstagram ria maka belanja di shopious ini dijamin bakal bikin asyik dan super fun deh. 

Masih penasaran pengen tahu lebih lengkap-kap tentang E-commerce Shopious yang Prestisius ini? Monggo disambangi ke Website: www.shopious.com// Twitter: @shopious//Fanpage FB: Shopious//Instagram: @shopious

Read More - Shopious E-commerce yang Prestisius

[Belajar] Teknik SEO dalam Blogging

Sekian lama ngeBLOG [walau belum bisa dibilang ajeg up date] dan Bismillahirrahmaanirrahiim lumayan sering mendengar yang namanya SEO alias Search Engine Optimization tapi toh masih saja yang hang untuk mengaplikasikannya dalam blog. Iya sih, ketika saya mulai menjejak dunia blogsphere dengan simple reason: mendokumentsaikan tulisan. Awalnya, saya berasumsi: yang penting saya bisa ‘menyimpan’ tulisan di media yang tidak dimakan rayap dan bisa saya baca-baca lagi kapan saja, dan gak masalah ada yang membaca atau tidak? Terdengar konyol dan sedikit individualisme. Tapi ya memang seperti itulah mind set saya di awal-awal ngeBLOG.  Hal ini lebih karena saya [terlalu] merasa tulisan saya yang acak kadut,  semrawut dan sekedarnya menulis. 

By the time, sedikit demi sedikit saya pun mulai jalan-jalan ke blog-blog lain dan mulai mendapatkan kunjungan balik, ternyata…. kalau ada yang baca tulisan kita ituh sensasi RASA sukaknya luar biasaa.  Nah, untuk menghadirkan visitor, selain memang kontennya yang berkualitas juga performa blog kita perlu ramah SEO sehingga ketika ada yang mengetikkan kata kunci di mesin pencarian google, yahoo, BING atau lainnya, maka blog kita akan terindek di halaman pertama. Meskipun saya masih termasuk orang yang ngeBLOG for funny dan belum mentargetkan pada hal-hal yang berkaitan dengan page view, page rank atau lainnya, toh tidak bisa saya pungkiri jika saya juga ingin BLOG saya SEO friendly kan? Seperti saya bilang: siapa sih yang gak hepi super duper jika ada yang berminat dan mengapresiasi tulisan kita? 

SEO dalam Blog
Dari hasil mencari-cari tahu tentang SEO seperti apa dan bagaimana menerapkannya? Alhamdulillah, saya paham jika SEO itu untuk mengoptimalkan eksistensi blog dalam pencarian mesin pencarian google. Konon, katanya jika semakin oke SEO-nya maka popular blog akan cethar membahana: nangkring di halaman pertama ketika ada yang sedang melakukan pencarian dengan mesin pencari: google, Yahoo, Bing dll

Tappii…untuk memoles agar blog SEO friendly, Alhamdulillah selama ini saya pahamnya selain bikin konten yang unik and be myself saat menulis, permak-permik tulisan agar SEO yang saya lakukan adalah menyelipkan model tulisan BOLD, ITALIC atau Underline serta sesekali saya kasih warna-warni. Dan sejak saya mulai berani ikut-ikutan lomba nulis di blog, khusus untuk lomba blog yang berbasis penilaian SEO, asas utama keikutsertaan saya adalah demi meng-up date blog. 

Aktifitas ngeBLOG pada dasarnya adalah menulis dengan HATI, RASA dan PIKIRAN. Iya, menuliskan tentang pengalaman-pengalaman kita sehari-hari yang artinya kita mendokumentasikan jejak hidup kita dan  di kemudian hari akan re-read, baik oleh kita sendiri maupun oleh visitor blog kita. So, ngeBLOG itu bisa disebut menuliskan kekinian dan membaca masa lalu [ketika kita membuka tulisan di waktu-waktu sebelum hari ini]. Dalam ngeBLOG pula kita menjalin sosialisasi secara lebih luas: lintas waktu, lintas usia, lintas teritorial, lintas pola pikir dan segala jenis lintasan lainnya. Dan yang lebih AMAZING lagi, ngeBLOG adalah wujud nyata ARISAN ILMU. Bisa jadi kita hanya menulis pengalaman sehari-hari yang kita anggap biasa, tapi tidak menutup kemungkinan memiliki nilai pembelajaran yang kaya hikmah bagi orang lain [yang membacanya].

Aihhh, kenapa prolognya jadi berkepanjangan pula ya? 

Oke deh, straight back pada hasil dari Arisan Ilmu yaitu Belajar Teknik SEO dalam Blogging. Dari sharing ilmu yang telah dipaparkan oleh Mas Jauhari, terdapat dua jenis SEO yaitu:
SEO Onpage
  1. SEO Onpage  adalah penerapan SEO yang mengoptimalkan pemanfaatan fasilitas-fasilitas yang sudah tersedia di blog, seperti tanda baca, underscore cetak tebal, miring, heading, pengaturan paragraf dll. Semisal kita menuliskan tentang tumbuh kembang anak, maka selain membuat yang berisikan mengenai tumbuh kembang yang berkualitas, frase/kata yang kita target akan di cari oleh pembaca (keyword) kita beri perlakuan unik: bold, italic, underscore, dll dengan berpedoman SECUKUPNYA dan jangan over load juga menggunakan kata/frase yang sama dalam satu artikel karena akan di indek sebagai SPAM oleh mbah gugel. Untuk pemilihan judul tulisan yang SEO masih mirip dengan aturan pemilihan judul tulisan pada umumnya yaitu: singkat dan eye chatching atau mengundang rasa ingin tahu: mau tahu apa mau tahu bangettt…kira begitu deh. . Jika menginginkan pencantuman judul yang lebih panjang, bisa dilakukan dengan meletakkan pada Tag, label atau juga sebagai keyword dalam tulisan. Sedangkan jika menyertakan gambar atau video hendaknya diberi nama file di rename dulu [sebelum di up load] yang disesuaikan dengan artikel yang ditulis. Demikian juga apabila menggunakan gambar/video dari sumber lain, sebaiknya di dunlut dulu kemudian di rename sebelum di aplut serta TETAPlah mencantumkan sumber aslinya. 
  2. SEO offpage merupakan teknik SEO yang memanfaatkan external link yang mengarah ke tulisan di blog kita, artinya ada blogger lain yang mencantumkan link kita dalam postingannya. Selain rajin-rajin Blogwalking, peluang sumber external link yang menuju blog kita tentunya manakala tulisan kita dianggap memiliki nilai lebih sehingga penulis dengan senang hati dan suka rela mencantumkan link kita dalam entry di blognya kan? Secara kan tidak mungkin kita rikues untuk mencantumkan link kita dalam tulisan blog orang lain. Kecuali kita mengadakan Giveaway/lomba blog, pada umumnya kan mempersyaratkan untuk mencantumkan link yang mengarah ke blog kita tuh? Menurut Mas Jauhari, SEO Off page ini banyak dilakukan dengan oleh pelaku internet marketer. 

Untuk penjelasan yang lebih detail Dari hasil ArisanIlmuYogyakarta silahkan klik tautan Youtube di bawa ini ya? Alhamdulillah, waktu acara kemarin saya iseng-iseng merekam sehingga bisa saya upload untuk melengkapi reportase yang teramat singkat ini. 

Dalam versi rekaman, juga terdapat penjelasan yang lebih detail mengenai keyword yang disebut SPAM. Dan walaupun saya belum sepenuhnya ngeh untuk menerapan SEO ini dalam blog, minimal ada pencerahan seperti apa dan bagaimana praktek dan teknik SEO. Setidaknya, saya mulai lebih PeDe sedikit untuk mengulik-ulik tulisan dalam blog agar SEO friendly ON page dulu. Juga kalau ada lomba-lomba yang berbasis SEO, kan saya mulai bisa tuh mempraktekkan SEO On Page-nya.  Kalau SEO offpage, sepertinya saya baru bisa melakukannya dengan berusaha membuat tulisan yang lebih baik. Selebihnya biar pengunjung blog ini yang menilai dan memutuskan layak atau tidak mencantumkan link tulisan saya dalam konten blognya. 

https://youtu.be/umjjuNjCaewe 
Salah satu contoh link external yang saya dapatkan dari postingan saya mengenai HISTAMIN   yang disertakan dalam postingan di entry blog di http://tiakarinaputri28.blogspot.com/2015/01/edukasi-keracunan-tongkol.html *pameria*. Kebetulan saya mengetahui link external yang mengarah ke blog saya juga dalam rangka uji coba ilmu yang saya dapatkan dari Arisan Ilmu Yogya, yaitu mengenai check and re-check link external yang diajarkan Mas Jauhari. 

Jika kita penasaran mengenai status link external ini, buka halaman google.co.id kemudian ketik pada space search: Links (link) namadomain, contohnya: link ririekhayan.com Mengenai penggunaan media sosial untuk publikasi blog, secara significant akan memberikan pengaruh pada page views. 

Yang juga perlu dipahami, SEO itu selalu berkembang seperti halnya manusia berinteraksi, mencari dan berbagi data di dunia Maya dan There is no secret ingredient. Dan sekali lagi, penjelasan detail lainnya silahkan disimak versi rekamannya yaaaaa….*promositerselubung* 

https://youtu.be/bZmDuGrlRNQ

https://youtu.be/UsTT-tYhpMw

Acara arisan ilmu yang dihelat oleh KEB bekerja sama dengan IDBlognetwork sukses memperkaya wawasan ngeBlog terutama mengenai SEO. Tidak salah kan saat di floorkan beberapa opsi tema, saya pun madhep manteb pilih tema SEO dalam Blogging. Dan ketika The time is coming: #ArisanIlmuYogya dengan narasumber Mas Jauhari yang merupakan co-founder ngonoo.com pun terselenggara dengan meriah di rumah Mak Primastuti Satrianto. Mak Kachan yang all out ngemsi sama Dhebay Kinanthi dan Emak-emak yang kompakers dengan dress code genjreng orange heboh habis-habisan apalagi saat sesi sapu jagat bawa kue-kue potluck yang berlimpah, seruuuuu! 


Gayeng menyimak paparan SEO dan Blogging
Sebenarnya ada juga sesi lomba livetweet untuk memperebutkan door prize, tappiii kok ya ndilalah koneksi internet di hape saya ngadat. Jadinya tak satupun tweet yang bisa masuk dalam list #DemiArisanIlmuYogya. Yang tak kalah WOUWnya adalah kopdar dengan emaks blogger yang bikin sensional. Lha bahkan sang Emak rumah ya baru saya kenal saat acara arisan ilmu kemarin itu. Ada juga yang heboh, Mak Lies yang nekad naik ojek untuk sampai di rumah Mak Prima. Kalau saya masih sama: nodong misua untuk nganterin deh. Hehehehee *parah*
Penyerahan Cinderamata pada narasumber

Para Pemenang live tweet 
Biar afdhol, narsis bareng dengan Emak Rumah
After all, semoga di next Arisan Ilmu bisa diselenggarakan lagi dengan tema yang lebih hot agar bisa jadi emak yang ngeBLOG tanpa mengabaikan tanggung jawab pada anak dan suami, seperti pesan sang narasumber: Blog ngehits di halaman pencarian google dan keluarga tetap harmonis. 


                 ♠♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


Read More - [Belajar] Teknik SEO dalam Blogging