Ternyata Bersyukur itu Tidak Sulit

Tulisan ini pada awalnya berjudul “Mudahnya Bersyukur dan Mensyukuri” yang Bismillahirrahmaanirrahiim sebenarnya saya buat dalam rangka azaz pendampingan untuk Aida. Iyah, waktu itu Aida mendapat tugas membuat tulisan untuk mading di sekolahnya. Aida bilang pengen menuliskan salah satu kisah yang terdapat dalam buku  yang berjudul berjudul Syukur yang di tulis oleh Ustadz Nauval atau akrab dipanggil Habib Novel (Solo). 

Dan Bulan Agustus lalu, saya memantaskan (baca: memberanikan) diri mengirimkan tulisan tersebut ke Nurul Hayat. Lha iyah, secara sadar saya kan memang masih super minder kalau ngirim tulisan ke redaksi media massa. Karena ingat chit-chat sekian bulan lalu dengan Mbak Nurul Rahmawati sang empunya blog Bukan Bocah Biasa bahwa donatur dipersilahkan untuk mengisi rubrik di majalah NH. Ya sudahlah, saya mention beliau jika saya pengen mengirim tulisan tapi secara tata naskah masih amburadul dan temanya juga sederhana. Dan mendapatkan angin segar jika saya boleh kok mengirimkan naskah walaupun susunannya masih kacau-balau. Alhamdulillah, sungguh kesempatan  yang sangat berarti untuk belajar mengasah pena bagi saya.

Oh iya, langsung saja pada point maksud dan tujuan untuk memposting versi asli tulisan saya.   Bisa diperbandingkan tampilan tulisan saya bergaya nglantur dan yang sudah mendapatkan make over. Maka, terima kasih sekaliii atas kesempatan yang diberikan untuk menerima tulisan sederhana saya di majalah NH. Dan berikut ini tampilan tulisan saya cantik banget hasil sentuhan tangan editor NH ( Mbak Nurul Rahmawati) dan versi aslinya yang masih berantakan berikut ini:

Ternyata Bersyukur itu Tidak Sulit ~ NH edisi 129
Ketika aku mengeluh banyak PR, Ulangan, makan tidak selera, protes televisi yang gambarnya hilang-hilang karena tidak berlangganan TV kabel, dengan sabar Ayah selalu bilang “ Aida, kamu harus belajar untuk selalu bersyukur. Nikmatilah apa yang ada saat ini, itu akan membuatmu lebih nyaman daripada memikirkan hal-hal yang saat ini belum atau tidak bisa dimiliki”. 

Sebetulnya aku bingung dan gak habis pikir, bagaimana bisa kita merama nyaman dan enek-enak saja manakala sesuatu yang aku inginkan belum aku ada? Masak iya bisa menikmati tayangan televisi yang sebentar-sebentar gambarnya hilang gara-gara antena tidak maksimal merelay gambarnya? Apalagi jika ada Haikal CJR sedang tampil di acara TV, atau Morgan mantan personilnya SMASH itu sedang main sinetron? Hughh…rasanya gemes plus pengen uring-uringan tapi kan tidak mungkin aku uring-uringan sama Ayah atau Bunda? Apalagi sama Azka, adikku yang yang suka rebutan lihat acara sepak bola itu, bisa terjadi perang dunia ketiga karena Azka bisa punya alasan untuk memilih tayangan TV dengan acara sepak bola terus-terusan deh.

Dan beberapa hari lalu, sepulang Ayah dari Solo membawa oleh-oleh beberapa buku yang salah satunya berjudul Syukur.  “ Ini ada buku yang bagus, coba deh Aida baca…” demikian kata ayah sambil menyerahkan buku yang di tulis oleh Ustadz Nauval atau yang akrab dipanggil Habib Novel oleh Ayah.

“ Daripada tak ada kerjaan, boleh juga neh baca-baca buku ini” demikian pikirku, itung-itung sambil belajar untuk suka membaca. Seperti kata Bunda “ Dengan membaca kamu bisa melihat dunia meski kamu belum bisa keliling dunia, Da”.

Maka, jadilah aku mulai membuka-buka buku yang di kasih oleh Ayah tersebut. Buku yang berisi 29 judul dengan kisah-kisah menarik tentang sikap-sikap bersyukur dan salah ceritanya yang sangat menarik adalah kisah tentang seorang pemuda dan Rajanya. Kurang lebih seperti ini ceritanya:

Di suatu tempat, hidup seorang pemuda yang bijaksana dan gemar berburu. Kebaikan dan kebijakan pemuda tersebut didengar oleh seorang raja yang juga gemar berburu. Singkat cerita, pemuda tersebut diangkat menjadi penasehat sekaligus teman berburu.
Pada suatu hari raja dalam perjalanan berburu. Sayangnya dalam perburuan kali itu raja kurang beruntung. Secara tak sengaja, pedang sang raja mengenai dirinya sendiri sehingga salah satu jari tangannya terputus. Raja pun mengakhiri perburuannya. Setelah berhari-hari luka sang raja sembuh, akan tetapi beliau sedih karena kehilangan salah satu jarinya. 
Melihat sang raja yang murung, pemuda merasa iba, lalu pemuda menasehati sang rajanya, “sabar paduka, walaupun kehilangn satu jari, pasti itu yang terbaik untuk paduka” 
“Yang terbaik? apa buktinya?” Ujar sang raja dengan geram dan merasa dihina sehingga pemuda itu dimasukkan ke penjara bawah tanah.
Selang beberapa hari kemudian sang raja menghampiri si pemuda dan berkata,”bagaimana keadaanmu disana?apakah itu yang terbaik untukmu?”
Pemuda pun menjawab dengan tenang, ”tentu saja ini adalah yang terbaik untuk saya.” Dengan kesal raja pun meninggalkan pemuda tersebut dan pergi berburu lagi.
Dalam perburuan kali ini raja mengalami musibah. Raja masuk perangkap suku pedalaman dan akan dijadikan tumbal untuk dipersembahkan pada gunung berapi.
Detik-detik terakhir saat raja akan dilemparkan ke kawah gunung tersebut, tiba-tiba kepala suku melihat jari jemari sang raja. Mengetahui bahwa jari raja tidak sempurna, maka sang kepala suku memberhentikan upacara ritual tersebut dan langsung melepaskan raja tersebut.
Dengan nafas terengah-engah raja pun kembali ke istana dan langsung menuju ke ruang bawah tanah untuk menemui pemuda tersebut. “kamu benar segala yang kita dapatkan adalah yang terbaik, meski terkadang tidak sesuai keinginan kita. Hilangnya satu jariku merupakan yang terbaik untukku. Karena tidak memiliki satu jari ini maka aku selamat dari kematian. Maafkan aku, aku telah memasukkan kamu ke penjara” ucap sang raja pada pemuda itu dengan tulus.
“Paduka tidak perlu meminta maaf, seperti yang sudah saya sampaikan, dijebloskan dipenjara adalah yang terbaik buat saya. Jika saya tidak dimasukkan ke penjara pasti saya akan menemani paduka berburu dan sayalah yang akan menggantikan paduka menjadi tumbal. Berkat di penjara justru saya selamat” demikian jawab sang pemuda tetap dengan sabar dan rasa bersyukur atas semua yang dialaminya.     SELESAI

Sebuah cerita yang menggambarkan bahwa apapun yang sedang kita alami atau bagaimana pun kondisi kita saat ini merupakan hal terbaik dan tepat yang diberikan oleh Allah SWT untuk kita. Betapa sebenarnya kunci bersyukur itu hanya dengan kesediaan kita untuk menerima kenyataan yang sedang kita alami.

Dan dari cerita tersebut, aku memetik beberapa pelajaran antara lain: Bahwa Allah SWT senantiasa memberikan apa-apa yang kita butuhkan, BUKAN apa yang kita inginkan karena seringkali keinginan kita lebih banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu [bisikan setan]. Allah juga tidak tidak pernah terlambat dalam memberikan nikmat kepada kita. Bahkan dalam setiap detik kita adalah nikmat yang besar, tapi kebanyakan dari kita belum bisa merasakan bahwa setiap detik adalah nikmat dari Allah. Kita baru merasa mendapatkan nikmat jika kita telah memperoleh apa yang kita inginkan. Padahal allah telah memberikan nikmat yang banyak pada diri kita. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 34 yang artinya “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, maka tidaklah kalian akan mampu menghitungnya”.

Oleh karena itu sebelum terlambat, marilah kita mensyukuri atas apa yang telah Allah berikan untuk kita. Walaupun awalnya terasa sulit sekali untuk menerima kenyataan yang tidak kita harapkan,  tapi Insya Allah dibalik itu semua, pasti itu yang terbaik untuk saat tersebut.

Kembali teringat sebuah peribahasa yang sangat akrab diajarkan di sekolah: Seperti padi yang semakin bertambah umur (menguning) akan semakin merunduk. Dengan mengambil sifat padi menguning yang selalu merunduk tersebut, MAKA semestinya aku bisa belajar untuk berpikir dahulu sebelum mengeluh:  
bahwa ketika sedang bersedih dan dalam situasi yang kurang baik tetap harus bisa bersyukur karena masih di beri kehidupan. Sebelum nggrundhel kehujanan waktu naik motor, mestinya aku ingat akan orang (jaman dulu) yang menempuh jarak ribuan KM dengan berjalan kaki. Saat  hendak merasa nelongso tidak bergelimang kemewahan seperti cerita-cerita di sinetron atau orang lain, aku harusnya melihat bahwasanya di luar sana banyak orang terpaksa harus jadi peminta-minta hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Sebelum aku protes karena televisi yang sering ngeblur layarnya, mestinya aku senang karenanya aku bisa belajar tanpa terganggu acara televisi lagi. Ketika merasa suntuk karena PR sekolah yang banyak, aku harus ingat akan wajah anak-anak seusiaku yang sering kulihat ketika perjalanan mudik ke Jawa Timur, mereka jadi pengamen di lampu-lampu merah dan tidak bisa menikmati indahnya masa-masa sekolah.
Tentunya masih banyak hal ‘menunduk’ = menerima dan menikmati apa yang ada lainnya yang bisa menjadi motivasi untuk menyalakan lentera kebersyukuran terhadap apapun yang kita miliki saat ini. Mari kita belajar dengan cara selalu melihat ke bawah, membandingkan kondisi kita dengan orang lain yang keadaannya dibawah kita dan lebih menderita dari, misalnya:

  • kita memiliki orang tua yang baik, penyabar dan penyayang, dengan segenap kemampuannya berusaha untuk mencukupi segala kebutuhan dan keinginan kita. Sementara banyak anak seusia kita yang terpaksa mengemis untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Maka dari itu hormatilah dan sayangilah orang tua kita.
  • kita dapat mengenyam pendidikan yang layak. Sementara banyak orang yang ingin sekolah tapi tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya. Maka dari itu sebagai pelajar kita harus sekolah dengan baik dan benar.
  • kita masih bisa makan 3 Kali bahkan lebih dari 3 kali. Sementara banyak anak-anak jalanan sana yang mencari makan saja susah, belum tentu dalam sehari dia bisa makan. Maka dari itu janganlah kalian memilih-milih makanan, mencela menu makanan yang sudah disiapkan oleh ibu kita, apalagi membuang-buang makanan.
  • kita masih bisa bernafas bebas. Sementara banyak orang yang tengah terbaring sakit. Bahkan bernafas saja harus memerlukan bantuan alat atau mesin.
  • Kita masih bisa bermain dengan leluasa setelah pulang sekolah, sementara banyak teman-teman kita yang harus membantu orang tuanya mencari nafkah dengan berjualan atau bekerja di sawah setiap hari di luar jam-jam sekolah.

Singkatnya adalah, bersyukur itu tidak sulit dan mudah untuk dipraktekkan. Dengan bisa bersyukur bisa membuat kita bahagia tanpa henti dimana pun dan kapan pun. Jadi dengan bersyukur kita akan senantiasa bahagia tanpa perlu mengeluarkan biaya yang mahal.

Dan yang pasti Allah tidak segan-segan memberikan nikmat yang lebih dari apa yang kita miliki saat ini, seperti termaktub dalam Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya “ Jika kamu bersyukur, maka AKU akan menambah nikmatKU kepadamu. Dan Jika kamu ingkar (kufur) akan nikmatKU, sungguh siksaKU amat pedih”


Tahun demi tahun berlalu, 
purnama datang dan pergi pada titian garis edar mengantar hitungan bulan. 
Hari-hari yang merangkumkan dalam bingkai minggu pergi melaju, 
sehingga jam dan detik mengesahkan tiap nadi berdetak teratur
merentakan segenap organ kehidupan.

Jadi mari berusaha menikmati segala apa yang ada dan kita miliki saat ini, memaknainya demi mengambil hikmahnya untuk pembelajaran agar hari esok menjadi lebih baik.  AMIIIN  


 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


Read More - Ternyata Bersyukur itu Tidak Sulit

Menjadi Wirausaha Perempuan Berdaya saing Tinggi

#LATEPOST hopefully NOT Too Late Yet!
Seminar Wirausaha, yang mengambil tema “ Menjadi Wirausaha Perempuan Berdaya saing Tinggi” yang saya ikuti secara free. Bismillahirrahmaanirrahiim Thank a lot buat Mak Grace Melia yang telah melelang tiketnya pada saya. Berasa dapet hadiah tanpa ikutan lomba lhoh? Beberapa hari menjelang pelaksanaan, si Emaknya Ubii ini woro-woro jika beliau interest untuk menghadiri seminar tentang Home Schooling di hari yang bersamaan, so tiket seminar wirausaha gak mungkin dianggurin kan? Makanya dipromosiin dulu di WA dan Alhamdulillah saya yang pertama nyabet tiketnya.  Singkat prolognya demikian, dan selanjutnya berikut resume yang bisa saya buat dari seminar yang menghadirkan 3 pembicara: Ferry Yuliana (owner Gendhis Bag dan peraih Wanita Wirausaha), Herlina P. Dewi (praktisi keuangan dan CEO penerbit Stiletto Book), dan Carrolina Ratri (Marketing Communicator dan penulis buku “ Sukses Membangun Toko Online”.

Dalam postingan reportase, akan saya secara berurutan sesuai penyampaian materi pada saat seminar tersebut. Maka untuk  part I ini, saya menuliskan uraian non teks yang disampaikan oleh Ibu Ferry Yuliana tentang " Menjadi Wirausaha Perempuan Berdaya saing Tinggi". Ibu Ferry ini pernah meraih penghargaan wanita wirausaha dengan produk tas hand made-nya yang dibranded dengan nama GENDHIS. Tas berbahan natural ini sejak beberapa tahun lalu bahkan sudah bisa Go International, sukses menembus pasar ekspor sampai ke Eropa. Keren and TOP BeGETe kan? 

Ibu Ferry yang memilih pemaparan no text alias telling story, beliau sharing banyak tentang perjalanannya sejak mulai berwirausaha, proses jatuh bangun membangun usaha dan aneka lika-liku dalam persaingan di kancah bisnis.  Bagaimana step by step beliau membangun usahanya yang dimulai dengan dari rumah dan di saat beliau sedang hamil. As we know, Ibu Ferry ini secara background akademik adalah graduated dokter gigi. Tapi cerita hidup yang kemudian dijalaninya adalah merajut benang menjadi tas. Iyap, awal mula tas buatan Ibu Ferry adalah tas wanita berbahan benang yang dirajut. 
Sebagai ganti missed motoin Ibu Ferry---> poto ini saja ya?
First Power yang membuat beliau menekuni usaha pembuatan tas hingga sukses seperti sekarang adalah PASSION. Tanpa adanya passion, maka apapun yang kita kerjakan akan terasa berat dan mentah hasilnya. Passion akan menyuplai spirit dan energi sehingga kesulitan yang datang tak akan menyurutkan nyali kita untuk membangun usaha/do the job secara optimal. Sebanyak apapun rintangan yang muncul, maka akan sebanyak itu pula ide kreatif muncul. Bukankan setiap permasalahan sudah terpaketkan dengan solusinya? #berasa kena sindir jadinya.

Dengan Passion yang membuat langkah demi langkah membangun usaha bertumbuh dan berkembang tentunya dengan MELIBATKAN PASANGAN [suami], hal ini menjadi point penting untuk disampaikan karena saat memulai bisnisnya Ibu Ferry ini sudah memiliki suami. Penting untuk digarisbawahi, bahwa usaha tetap wajib melibatkan suami. Iya sih, dalam konteks universal manakala cerita hidup sudah dijalani secara berpasangan logikanya ya kudu saling melibatkan, even just menginformasikan. Terlebih jika berada di pihak istri, kan perlu tuh ijin suami. Kalau suami belum keluar ijinnnya, ya secara persuasif berusaha agar suami bisa ikhlas menyetujui niatan sang istri untuk berwirausaha atau apapun jenis aktifitas positif yang akan kita lakukan. Awalnya, bisa jadi suami masih sekedar just says “ Ok, you can do what you wanna do”. 

But just believe, kala rintisan usaha menunjukkan hasil yang progress, tak jarang suami jadi tergerak untuk membantu baik secara langsung maupun di belakang layar. Setidaknya demikian yang dialami oleh Ibu Ferry ini. Keterlibatan suaminya yang tergerak karena melihat usaha istrinya semakin berkembang, membuat sang suami berinisiatif untk membranded produk yang dihasilkan istrinya sehingga menjadi surpraise indah karena dilakukan secara diam-diam dan baru show up ketika hasil brandingnya sudah existing. 

*Untuk case yang masih single, libatkan ortu dijamin minimal dapat doa restu kan bisa bikin usaha berkah bangettttt [IMHO]

PASSION dan MELIBATKAN PASANGAN akan membuahkan hasil yang rahmatan lil alamin JIKA   Keep ‘Communication’ secara vertical. Sehingga apapun hasilnya, kita bisa lebih legowo dan bisa tetap bersyukur. Tak hanya ketika usaha menuai perkembangan yang menanjak, bahkan ketika “tersandung” yang menyebabkan laju usaha tersendat, edisi galau yang kita alami InsyaAllah bisa handle agar gelombang labilisasinya tidak berkepanjangan. 

Ketiga modal utama non material yang secara value memiliki akuntabilitas yang solid dan saling melengkapi kan? Artinya bahwa, modal yang berupa uang dan yang similar with that semestinya bisa kita poisikan tidak jadi kendala utama untuk memulai dan menjalankan wirausaha. 

Setelah modal utama yang berbentuk soft material tersebut sudah diimplementasikan, [ already start], selanjutnya Ibu Fery menjelaskan mengenai tips dan trik yang beliau lakukan dalam rangka untuk survive dan mengembangkan usaha antara lain melalui cara-cara:
  1. Uji Produk / Test pasar yang bisa dilakukan terhadap kelompok masyarakat terdekat kita: keluarga sendiri, tetangga dan jika modal awalnya memungkinkan bisa dalam lingkup yang lebih luas misalnya lingkungan tempat tinggal kita. Atau saat ada acara arisan di RT, bisa juga tuh dibawa untuk dijual murah dulu maupun ketika ada event-event yang didalamnya memungkinkan untuk mempromosiin produk kita. So many ways untuk melakukan test pasar ini.
  2. Kenali segmen pasar ini bisa merupakan hasil dari test pasar yang dilakukan. Feedback yang diperoleh dengan serangkaian test pasar akan menunjukkan segmentasi konsumen kita itu dari golongan apa, usia berapa, mayoritas gendernya apa, dst. Selain itu bisa juga, test pasar juga bisa menghasilkan saran dan kritikan yang bisa menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki produk sehingga bisa memperkuat segmen pasar yang kita peroleh. 
  3. Bangun networking secara off line dan on line ini bisa dilakukan antara lain dengan Aktif di komunitas/kelompok, On line-kan produk, Perbanyak teman lintas jalur (berteman dengan teman-temannya orang yang sudah kita kenal tentu akan memperluas lingkaran community sehingga akan menyebarkan informasi keberadaan produk secara viral), Bawa brosur kemana-mana
Ehmmm, sebenarnya sedari awal hingga akhir sesi pemaparan dari Ibu Fery kala itu isinya yahuudd kabeh. Tapi ya dasarnya saya yang pas acara terkena demam ngantuklah, buka-buka HaPe, celingak-celinguk juga, jadinya yang nyanthol tidak banyak sehingga isi repostase ini tidak mencover secara keseluruhan seperti yang telah disampaikan oleh Ibu Ferry kala itu.
3 Best Dress Code, salah satunya dapetin hadiah Tas Gendhis [Warna Hijau itu]
Iya neh, Ibu Ferry juga berpesan untuk mempertimbangkan dengan sebaik mungkin berdasarkan pola logika ketika menerima menetapkan margin keuntungan. Jangan lantas karena mumpung ada pesanan banyak, semangat menyanggupi kuota yang diminta buyer toh secara kalkulasi sudah untung. Karena meskipun secara hitungan di dalam kalkulator sudah untung, sebaiknya dipikirkan faktor unpredictable eror seperti: Listrik mati sebulan, Pekerja terkena wabah, bahan baku macet, (sstt…maap, ini contoh case-nya sengaja saya pilih yang very dramatic). Intinya sih Jangan ambil margin terlalu MEPET karena kita bukan Bandung Bondowoso yang bisa bikin candi sewu (kurang satu arca) dalam semalam.

Biar perjalanan wirausaha [bisnis] kita tidak memekat oleh tekanan kompetisi, anggaplah Pesaing bisnis adalah partner kerja. Tanamkan niat berwirausaha selain untuk ibadah juga untuk membantu orang lain. Dengan demikian kita bisa lebih berlapang dada manakala partner kerja kita (pegawai) di kumudian hari ingin membuka lapak usaha sendiri. 

Dan alangkah lebih baik lagi jika sedari awal sudah diwacanakan bahwa setiap orang berhak untuk berkembang dan meniti jalan suksesnya masing-masing. Kalau kita sendiri ingin menjadi Bos, sangat wajar kan jika orang-orang yang saat ini bekerja dengan kita one day juga ingin menjadi Bos pula dengan membuka usaha sendiri? 

At least but not the last, Jangan mudah menyerah, Tetap berusaha membangun spirit optimis serta Tidak perlu berlama-lama jika berkecewa jika mengalami down/rugi, ketiga hal yang seharusnya diterapkan dalam semua segi kehidupan, tak terkecuali dalam berwirausaha. Adakah yang tidak paham dengan point ini? Kalau tidak paham, silahkan hubungi petugas penyuluh terdekat ya? #dilempar gadget  

Ah iyaaa, dalam seminar tersebut Alhamdulillah menjadi ajang mini kopdar dengan Mbak Phie, Mbak Lusi, Mbak Ika, Mbak Carra juga pastinya. Dan dapat goodibag yang isinya buku  "Sukses Membangun Toko Online", notes, Kaos (gift dr registrasi di Fitinline), majalah CHIC, dan beberapa brosur. 


*Semoga bisa melanjutkan dengan reportase Part II untuk materi dari Mbak Carra mengenai Mengoptimalkan MedSos sebagai Sarana Pemasaran Produk.

Read More - Menjadi Wirausaha Perempuan Berdaya saing Tinggi

Alur Pendaftaran Haji

Aji mumpung moment Idhul Adha masih Bismillahirrahmaanirrahiim kental yang menggugat hati bersemoga diberikan berkesempatan dan mendapat giliran menjadi tamu Allah SWT unutk menunaikan rukun Islam yang kelima: Ibadah Haji pada tahun-tahun berikutnya. Siapa yang tidak bergetar menyaksikan lautan manusia secara serentak berjalan mengelilingi Ka’bah dan dengan penuh penghayatan melafalkan Talbiyah:
 Labbaikallahumma Labbaik
Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik
Innalhamda Wan Ni’mata
Laka Wal Mulk
Laa Syarikalak
Aku memenuhi panggilanMu ya Allah aku memenuhi panggilanMu. Aku memenuhi panggilanMu tiada sekutu bagiMu aku memenuhi panggilanMu. Sesungguhnya pujian dan ni’mat adalah milikMu begitu juga kerajaan tiada sekutu bagiMu” 
Nah, kebetulan dapat brosur yang berisikan Alur Pendaftaran Haji, sekalian deh re-type dijadiin postingan. Semoga banget, kan siapa tahu tho setelah membaca postingan ini jadi lebih menguatkan niat dan mendapat secercah ide: cling….cliiinggg, kayaknya dengan cara X ini neh bisa daftar haji secepatnya. Eitsss, cara X-nya tentu yang bisa dipertanggungjawabkan pastinya, misalnya: delisting beberapa kebutuhan yang sifatnya komplementer, gadget gak perlu up to date dulu sampai lima tahun ke depan, beli baju yang model dan warnanya bisa all session, sepatu kerja dipakai pas saat berangkat/pulang kerja dan dikantor pakai sandal jepit, kalau biasanya puasa cukup senin-kamis ditingkatkan dengan puasa Daud. You know what to do deh, yang jelas tak hanya ke Roma yang punya jalan lain. Untuk bisa pergi haji juga banyak jalan untuk mewujudkannya, Aamiin:). Dan berikut ini empat tahapan dalam mendaftar haji, silahkan dicoba yaa...:

1. Pergi ke Bank dan bukalah rekening TABUNGAN HAJI dengan setoran minimal 25 juta Rupiah. Silahkan dipilih mau daftar di bank : BRI, BRI Syariah, BNI ’46, BNI Syariah, Mandiri, Mandiri Syariah, Muamalat, BTN, Permata Syariah, Panin Syariah, Mega Syariah atau bank lainnya yang menawarkan jenis tabungan haji.   
*Pada prakteknya, nomimal minimal pendaftaran harus dilebihkan + Rp. 100.000,- (tergantung kebijakan masing-masing lembaga perbankan) untuk penjaga rekening karena pendebetan saat menyerahkan SPPH sejumlah Rp. 25.000.000,-. So, tentunya tidak boleh kan saldo rekening nilainya NOL Rupiah? Lha wong rekening haji tersebut harus dalam kondisi aktif sampai dengan masa pelunasan haji/saat tiba giliran keberangkatan Haji.

2. Kantor KEMENAG Setempat (Kabupaten/Kotamadya)
Setelah menerima buku TABUNGAN HAJI, bersegeralah ke kantor Kementrian Agama secepatnya, as soon as possible, demi efisiensi waktu agar bisa segera diterbitkan SPPH. Semakin cepat memfollow up ke KEMENAG tentu akan mempercepat dapat nomor urutan antrian keberangkatan kan? Jangan lupa, bawa syarat-syarat yang diperlukan yaitu:
- Buku Rekening Tabungan Haji Asli
- KTP ASLI
- KK Asli
- Surat nikah asli dan atau Akta kelahiran Asli
- Sudah mengetahui jenis golongan darah
- Hadir sendiri (tidak boleh diwakilkan)
- Tidak memakai pakaian dinas
- Memakai pakaian SELAIN warna putih
- Khusus wanita WAJIB berjilbab (selain warna putih)
- TIDAK mengenakan kaos
* Silahkan mengisi formulir pendaftaran haji yang diberikan oleh petugas dengan teliti dan seksama. Bagi pendaftar yang namanya belum berjumlah 3 suku kata, akan dipersilahkan untuk menambahkan nama lagi hingga panjang nama sebanyak 3 suku kata. Apabila semua persyaratan dan ketentuan tersebut sudah terpenuhi, akan segera dilakukan entry data secara elektronik dan dilakukan pemotretan untuk penerbitan SPPH (Surat Pendaftaran Pergi Haji).

3. Pergi ke Bank (lagi) untuk menyerahkan SPPH kepada petugas bank untuk mendapatkan nomer porsi/bukti setoran awal BPIH (Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji).
*SPPH yang diterbitkan merupakan dokumen untuk dilakukan pendebetan tabungan haji sebanyak 25 Juta sebagai setoran awal haji yang dibuktikan dengan diserahkannya bukti setoran awal BPIH oleh petugas bank untuk dilanjutkan lagi ke KEMENAG.

4. Ke Kantor KEMENAG Setempat (Kabupaten/Kotamadya) lagi untuk menyerahkan berkas setoran awal BPIH yang harus dilampiri syarat-syarat:
- Foto Copy KTP = 4 lembar
- Foto Copy KK = 4 lembar
- Foto Copy buku rekening tabungan haji 1 lembar
- Foto Copy akta kelahiran atau surat nikah (pilih salah satu) = 1 lembar
- Foto untuk Haji dengan ketentuan: Foto berwarna, Latar belakang putih, dicetak 80% wajah ( ukuran 3 x 4 = 4 lembar; ukuran 4 x 6 = 1 lembar)
*Untuk foto yang diperlukan dan untuk meminimalkan missed interpretasi mengenai ukuran yang +80% wajah, bisa dipilih opsi yang ditawarkan dari KEMENAG yang menyediakan jasa pemotretan saat pedaftaran tersebut.

Alur pendaftaran tersebut, berdasarkan Peraturan Menteri Agama No. 15 Tahun 2012 tentang Syarat dan pendaftaran Haji. Nah….jika masih ada yang perlu penjelasan lebih solid dan Info lebih lanjut, silahkan berkunjung atau menghubungi petugas pendaftaran haji di kantor Kementrian Agama setempat. 

Cukup 4 tahapan pada proses pendaftaran Haji, dimana jika tak ada antrian (anggap saja hari itu adalah lucky day: tidak ada antrian) maka ke-4 langkah di atas bisa diselesaikan dalam waktu sehari. Akan tetapi, pada kenyataannya kan kalau di Bank terlebih jika berkaitan dengan customer service seringnya ada antrian lumayan deh, untuk step 1 s/d 3 biasanya bisa diselesaikan dalam waktu sehari dan final step bisa dilanjutkan pada keesokan hari. Semakin cepat proses pendaftaran difinalisasi maka secepat itu juga nomer antrian (perkiraan) tahun keberangkatan bisa issued. 

Lha kan, tingginya animo masyarakat untuk pergi haji dan sedang adanya renovasi di Mekkah yang menyebabkan kuota haji Indoensia dikurangi. Wong tanpa pengurangan kuota haji saja, antrian pergi haji sudah cukup lama. Apalagi dengan kondisi pengurangan kuota kan ya? Di banyak daerah, antrian keberangkatan Haji sudah mencapai kisaran 10 tahun lebih untuk jenis ONH biasa. Dan ternyata ONH plus juga mengalami fenomena yang semiripan yaitu antri juga. Tahun ini mendaftar ONH Plus, belum tentu dua tahun bisa berangkat, setidaknya yang saya tahu dari cerita-cerita teman katanya ONH plus juga bisa antri kisaran 2 s/d 5 tahun.

Jika menyimak fenomena antrian haji yang super lama, pengennya bisa bergegas mendaftar dan semoga diberikan kesehatan dan umur hingga tiba jadwal keberangkatan tiba. Bagi sebagian besar masyarakat yang tentunya pada pengen bingits bisa segera mendaftar, jumlah nomimal setoran awal BPIH tersebut tentu termasuk jumlah yang tidak sedikit tho? Beberapa tahun lalu, semarak ada penawaran dana talangan tapiii itu pinjaman juga dipersyaratkan harus lunas dalam waktu yang relatif pendek (kisaran satu atau dua tahun). Tapi belakangan ini, kok sepertinya tak terdengar lagi keberadaan fasilitas dana talangan tersebut.

Mau daftar sekarang tapi untuk menyetorkan cash 25 juta (tahun 2014 ini masih setoran awal masih 25 Juta, semoga saja ada angin surga sehingga biaya pendaftaran haji bisa direduksi *berdoa mulai*) di saat kebutuhan masih berada pada fase-fase maksimalisasi tentu masih menjadi dilematis kompleks bagi sebagian orang yang tingkat kebutuhan primernya masih tinggi. Menunggu terkumpul uang segitu, berapa tahun lagi ya? Lantas, kira-kira dapat antrian berapa tahun lagi? Dan sederet pertanyaan pun berseliweran yang butuh ekstra konsentrasi untuk mendapatkan jawabannya.

Apalagi saat pertanyaan galau tersebut ditambahi dengan pertanyaan anak-anak kita?
Kalau mendaftar haji itu harus bayar 25 juta ya Bund? Itu kan berangkatnya masih lama, kenapa harus dibayar sekarang?”
Terus semua uang punyanya calon jamaah haji itu disimpan dimana?”
Kalau di taruh celengan kan gak mungkin ya Bund? Kalau dibuatin buku tabungan, apa muat semuanya ditaruh dalam satu buku getu, kan angka NOLnya bakalan banyak tho?”
Kalau dibelikan sapi, kira-kira dapat berapa ekor Bund?”
Jika dibelikan sapi ceweknya yang buanyakkk, kan bisa punya anak dan jadi tambah banyak, nanti bikin kandangnya kalau sebesar Stadion Maguwoharjo itu tetap gak bakalan muat untuk naruh anak-anak sapi dan ibuknya sapi tersebut tuh Bund?”

Ada yang mau menjawab pertanyaan ala anak SD tersebut?

Oke deh, mari kita endapkan berbagai pertanyaan  ala anak saya yang masih SD tersebut dan kembali fokus untuk menguatkan niat, dan Alhamdulillah jika setelah membaca tulisan copas dari brosur ALUR PENDAFTARAN HAJI yang diterbitkan oleh Kantor Kemenag Sleman ini ternyata menjadi agregat untuk membuka rekening Haji? Dan mulai berkomitmen untuk melakukan setoran rutin tiap bulan sesuai kemampuan kita dan semoga pintu-pintu rejeki yang lain akan dibukakan sehingga bisa diberi jalan lain untuk menggenapkan jumlah minimal setoran awa BPIH, Aamiin. KUN FAYAKUN……

Read More - Alur Pendaftaran Haji

Tunggak Jarak Mrajak, Tunggak Jati Mati

Secara Sadar Hati ~ Bismillahirrahmaanirrahiim bahaSA DAeRah HArus diminaTI, sebagai orang yang lahir dan dibesarkan dengan bahasa pengantar Bahasa Jawa dan hingga sekarang pun berdomisili di central of Java, maka sehari-hari  berbicara Boso Jowo dengan logat Lamongan. Kalau bertemu dengan sesama Orang Jawa, biasanya saya lebih suka menggunakan bahasa percakapan Jowo-an saja. Karena terbiasa berbahasa Jawa, kadang suka keceplosan ngomong Jawa saat berbicara dengan orang yang non Jawa. Atau bicara Bahasa Indonesia tapi bercampur Jowo. Bagi yang pernah berinteraksi dengan orang Jawa Lamongan (seperti saya), tentu pernah mendengar penggunaan kata-kata seperti: bereng, genyo, mari, muleh, sugeh, puteh, koclok, ora ilok, geneyo, dan masih banyak lagi kekhasan Bahasa Jawa dalam kultur Lamongan. Maka benar banget jika bahasa daerah kita sungguh kaya, sekaya sumber alam kita. Misal dalam tatanan tatakrama, kata makan saja bisa memiliki beberapa tingkatan, mulai yang biasa (kasar): mangan--> nedo --> dhahar. 

Terkait dengan kekayaan Bahasa daerah, mulai ragam bahasa, kosa kata dan gramatikalnya, bagi yang dibesarkan dalam ranah Jawa, pernah mendengar kan peribahasa ini: Tunggak Jarak Mrajak, Tunggak Jati Mati. Peribahasa ini sudah akrab di telinga saya sejak usia kanak-kanak, bahkan mungkin sebelum saya mengenal bangku sekolah. 
Matahari terbit diantara pohon jati yg meranggas
(Picture By Dian)
Adalah Ibu saya yang mengenalkan kalimat tersebut, baginya peribahasa Jawa tersebut tak hanya bisa meredakan gundah gulana dan sedikit menetralkan rasa pahitnya hidup, tapi juga diyakininya suatu saat anak-anaknya bakal bisa hidup lebih baik dari yang sedang di alaminya saat itu.  Ketika kondisi ekonomi yang sulit semakin meningkat levelnya hingga akut, ketika cari pinjaman uang dari pintu  ke pintu tapi yang di terima malah sindiran/cibiran yang kalau diverbalkan kira-kira “atase wong mlarat wae kok neko-neko nyekolahno anake”.

Ibu bilang  kalau Tunggak Jarak  Mrajak, Tunggak Jati Mati, sembari memberikan contoh sebuah keluarga yang anaknya banyak dan dulunya juga hidup serba pas-pasan tapi toh anak-anaknya bisa meraih sukses. Sekaligus juga menyebutkan contoh sebuah keluarga yang kaya, sawahnya luas dan memiliki perhiasannya banyak tapi anak-anaknya malah rebutan harta yang ditinggalkan orang tuanya yang endingnya harta itu habis sehingga anak-anaknya mau tak mau mencari nafkah kesana kemari karena tidak memiliki pekerjaan yang jelas.  Yang dalam kalimat Ibu saya “ disik wong tuwone uripe susah, dienyek-enyek. Akhirnya anak-anake iso urip mulyo kabeh tho. Gusti Allah ora turu, nek turunane wong mlarat iku ora selawase bakal urip susah.” 

Dimulai dari akhir era 70an, ketika kebutuhan semakin berlipat ganda dan sekolah masih dianggap exclusive, tapi orang tua saya bersikeras agar anak-anaknya bisa sekolah karena berharap agar memiliki kehidupan yang lebih layak dari yang dialaminya.  Sedangkan bagi kebanyakan keluarga yang lain, meskipun berkecukupan materi tapi enggan menyekolahkan anak-anaknya karena takut hartanya berkurang. Lebih baik nanti hartanya dibagi-bagi sebagai warisan, atau bagi yang senasib dengan kami, banyak memilih untuk menyuruh anak-anaknya bekerja mengumpulkan uang daripada sekolah buang-buang uang dan waktu. 

Peribahasa yang dipegang teguh oleh orang tua kami memang bukan mantra sim sala bim. Butuh waktu, tenaga, keteguhan hati, menguatkan perasaan karena harus tega mengajak anak-anaknya yang masih SD juga ikut berjibaku bekerja jadi buruh tani atau angon sapi orang lain, makan asal ada nasi dengan lauk garam/sambal korek, bayar SPP nunggak-nunggak, kalau pun harus beli baju ya baju second yang dijual keliling kala itu.

Dan, sekian puluh tahun kemudian…
Mengutip kalimat yang disampaikan oleh adik bungsu saya, ketika mewakili keluarga untuk memberi sambutan (memperkenalkan) keluarga dalam acara walimah “ …. Bapak Ibu kami berprofesi T-A-N-I (dieja), bukan TNI lho? Dan bisa dibilang wong TANI tanpa sawah, tidak pernah merasakan indahnya duduk di bangku sekolah, jadi harap dimaklumi jika kedua orang tua kami tidak bisa berbahasa Indonesia. Tapi InsyaAllah bisa nyambung kok kalau mendengarkan percakapan Bahasa Indonesia. Alhamdulillah, ke-10 anaknya bisa baca tulis semua… “

Jika ilustrasi di atas masih memiliki unsur subyektif dimana tingkat keberhasilan kami, mungkin belum seberapa dibandingkan pencapaian kesuksesan orang-orang lain.  Tapi dalam skala ukur dan variable yang dihadapi orang tua kami, boleh kan saya memantaskan case keluarga (besar) kami sebagai contoh Tunggak Jarak  Mrajak, Tunggak Jati Mati
Pinjam dari FB Suparto
Contoh lain yang LEBIH REPRESENTATIF dalam menerjemahkan peribahasa di atas dengan tingkat kesuksesan yang spectakuler adalah SUPARTO (teman sekolah di SMP – SMA) yang sukses menjadi wirausahawan dibidang peternakan. Untuk liputan kesuksesannya yang menginspirasi sudah pernah tayang dalam acara Sarjana Kembali Ke Desa dan Kick Andy. Saya ambil dia sebagai contoh nyata dalam membuktikan peribahasa (atau filosofi?) Tunggak Jarak  Mrajak, Tunggak Jati Mati. Suparto menyelesaikan pendidikannya dengan berlatar kondisi ekonomi yang sulit, orang tuanya petani sederhana di Desa Gunungrejo, Kedungpring, Lamongan. Untuk lulus SMA dan kemudian bisa sukses wisuda dari Kedokteran Hewan di Unair dengan predikat lulusan terbaik tingkat fakultas tahun 2000, ia bekerja keras tak kenal lelah agar bisa membiayai sekolahnya. Maka baginya betapa gelar sarjana memang sangat mahal bagi kebanyakan orang seperti dirinya. Setelah lulus kuliah, Suparto sempat bekerja di salah satu perusahaan peternakan yang cukup ternama, tapi hanya setahun dan mengundurkan diri karena ingin kembali ke desanya. Ia ingin mengubah desanya yang miskin menjadi desa peternakan yang makmur dan dimulai dengan usaha berternak ayam petelur. Tak ayal dia pun menerima cemoohan warga desa "Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau hanya untuk beternak ayam di desa," kata mereka.

Bagi Suparto, ejekan orang desanya adalah tantangan untuk membuktikan bahwa peternakan itu berbeda jika dihandle oleh orang yang punya ilmunya. Dalam tempo setahun dia berhasil membuktikan usaha ternak ayamnya bisa menghasilkan keuntungan banyak. Orang-orang yang awalnya mencemooh, akhirnya ikut bergabung karena memang usaha itu terbukti bisa memberikan keuntungan yang besar. Di tahun 2008, Suparto berekspansi dengan memulai usaha peternakan sapi potong dengan 37 ekor sapi yang kemudian berkembang jadi 215 ekor.

Pinjam dari FB Suparto
Kini, Sebagian besar warga di desa yang dulu hanya menjadi buruh ternak, kini telah menjadi peternak mandiri. Bahkan, sebagian anggota kelompok tani ternak ini berasal dari desa-desa sekitar, tak hanya dari Desa Gunungrejo. 

After all, 
Jika diringkas, Tunggak Jarak  Mrajak, Tunggak Jati Mati  adalah narasi lain mantra Man Jadda Wa Jadda dan merupakan filosofi yang memotivasi dengan luar biasa.

" Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum
   sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri ( Qs. Ar Ra’d: 11) "


Tulisan ini disertakan dalam kontes GA Sadar Hati – Bahasa Daerah Harus Diminati



 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


NOTED: Sengaja pressure kisah pada pengejawatahan TUNGGAK JARAK MRAJAK karena saya lebih ingin menonjolkan nilai inspirasi dan motivasi bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik (sukses)


Tentang Suparto bisa dilihat di:

Noted: Alhamdulillah menang urutan ketiga di SINI.

Read More - Tunggak Jarak Mrajak, Tunggak Jati Mati

Kita Nikah Yuk...........

Rata-rata sinetron kalau masih di awal-awal episode, jalan ceritanya masih enak diikuti dan bisa dinikmati. Case by case yang tidak berbelit-belit, Bismillahirrahmaanirrahiim just like life normally flowing. Setiap orang yang menghadapi persoalan, ujian atau apapun istilahnya, generally ya as fast bisa diselesaikan agar tidak serupa kondisi yang bersifat laten atau seperti benang kusut yang perlu ada tindakan pemotongan agar ada ujung benang yang bisa digunakan untuk menjahit lagi. Pada masalah-masalah tertentu, memang ada persoalan (hidup) yang berlarut-larut untuk sampai pada problem solvingnya. Tapi kan gak yang dibikin jadi mbulet pada problem yang itu-itu saja dan direkayasa agar tidak berkesudahan.  

Berasa serius banget ya? Padahal lagi pengen iseng-iseng nulis sebuah sinetron yang saat ini jalan ceritanya masih asyik so creamy #kayak es cream saja untuk dinikmati minimal sebagai tontonan (positif). Maklum, tipically sinetron kan begitu ratingnya melesat bak meteor garden, langsung deh sedikit demi sedikit [tapi jelas banget] konfliknya mengalami bias dan dipaksakan, satu jenis konflik dibikin berlarut dan mbulet tingkat dewa, hingga unsur logisme suatu cerita jadi absurd. Tanpa maksud untuk menilai atau mengkritik, karena sesungguhnya saya pun gak paham soal kritik mengkritik. Ini sekedar mengapresiasi secara subyektifitas karena kebetulan cukup sering mengikuti tayangan Sinetron KITA NIKAH YUK, setidaknya selama jalan ceritanya masih bisa dinikmati dan bisa bikin enjoy, kalau lagi gak ada acara dan belum ketiduran, KNY ini sering saya tonton belakangan ini. #bukanpromosi

Tema yang diangkat dalam sinetron ini mostly banyak terjadi dan kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat [ketimuran khususnya]: problematika belum menikah yang dihadapi oleh golongan usia yang dianggap sudah matang dan cukup mapan dalam pekerjaan tapi masih belum menemukan pasangan yang serius dan siap diajak menikah. Adalah sang pemeran utama Mawar [Naysila Mirdad] dan Wasit Subeni [Agus Ringgo] yang dilengkapi dengan keberadaan tokoh Sasha dan Krisna yang dihadirkan untuk memperkuat tema utama tentang problematika pada populasi kaum muda yang di usia mereka, akhir dua puluhan dan awal tiga puluhan, dalam ukuran kepantasan sosial dianggap sudah seharusnya membina rumah tangga. Dimana masing-masing dari mereka (Mawar, Wasit, Sasha dan Krisna) berada dalam dilematika menghadapi orang tua yang sudah kebelet banget agar anaknya segera menikah. Mulai dari dikenalkan dengan kerabat-kerabat dekat, kolega/teman, didaftarkan ke biro jodoh dan berbagai macam cara lain yang ditempuh oleh orang tua mereka. Juga ada bumbu-bumbu ‘kompetisi’ antara orang tua Sasha dan Mawar yang adu kecepatan anaknya bisa menikah lebih dulu.

Konflik dimunculkan dengan adanya Pola pikir Takut being single abadi sampai tua hidup sendirian sehingga pokok yang penting menikah (secepatnya) yang diperankan oleh Naysilla Mirdad dengan tipically sebagai sosok gadis yang lugu dan menganggap semua orang sebaik seperti yang disampaikan secara verbal. Sosok Mawar ini disempurnakan dengan model Seorang Ibu yang merupakan representasi kebanyakan ibu-ibu yang dilanda kepanikan manakala punya anak gadis jelang usia 30an tapi belum jelas kapan akan menikah. Some how, sikon ini bisa jadi ada di sekitar kita atau bahkan di antara orang-orang yang kita kenal langsung. Kalau bagi saya, It’s a part of my experience. Senada dengan kondisi Mawar. Salah satu efek riil yang relevan akibat kepanikan Mawar ini: Mawar menanggapi serius kehadiran Arya yang ditokohkan sebagai sosok yang sengaja ingin memanfaatkan kaum perempuan yang bersemangat banget untuk segera menikah. Bukankah, ini juga kasus nyata yang tak jarang terjadi dimana ketika pressure usia yang dianggap sudah seharusnya menikah sehingga logika menjadi oleng dalam mengambil keputusan menikah.

Phobia being single forever yang melanda Mawar dipasangkan dengan sosok Wasit yang memiliki Trauma menikah: gagal menikah karena ditinggalkan oleh calon istrinya di saat-saat semua persiapan pernikahan sudah oke Fixed. In this case, I knew some one yang memiliki traumatik ini dengan penyebab yang hampir sangat mirip, yang saking deeply down karena ditinggal sang calon istri, kemudian berprasangka “jangan-jangan, nanti dia juga akan meningglkanku lagi..bla..bla…”. 
Kuatir jika menolak orang yang saat ini dikenalnya [walaupun validitas orangnya masih perlu dipertanyakan] adalah jangan-jangan ternyata jodohnya? Sehingga ada sisi ‘sembrono’ yang terjadi seperti menganggap nasehat orang lain di sekitarnya dirinya untuk berpikir lebih tenang sebelum mengambil keputusan YES or Not itu dianggap semata karena tdak memahami situasi yang dialaminya

Alur cerita disajikan dengan apik dalam genre drama dan komedi. Hingga menjelang episode ke-70, saya melihat jalinan cerita dalam KNY ini MASIH dalam frame yang wajar dan berada pada tema utama. At least, Ekspose dan eksploitasi status sosial (kekayaaan),  bully pada kondisi fisik, rebutan cinta (pasangan) yang sampai berlebihan, sejauh episode ini, sukses dijauhkan dari alur cerita KNY ini. Sikap-sikap, dialog dan adegan yang dimunculkan masih dalam porsinya, kalaupun ada yang sedikit berlebihan dan agak lebay sepertinya ya perseteruan antara Leny dan Astrid, serta Mira (Emaknya Wasit). Banyak scene konyol tapi sekaligus bikin ketawa jika Leny dan Astrid dipertemukan, atau Astrid sama Mira yang susah untuk akur.

Setting dan latar, lebih kelihatan realistis. Contohnya, kalau pas naik mobil ya kelihatan jika memang mobilnya lagi jalan (bukan backgroundnya doang yang dikesankan ‘berjalan’). Studio, sesi fotografi, rumah mode, perpustakaan-nya Hani, Warung Bakdo, Tempat Jual bubur ayam, dst. Tokoh antagonisnya bisa dibilang juga normal, sebagai pemanis cerita juga seperti tokoh Leny itu gak sampai yang over dosis tingkat antagonisnya. 

Jika disimak lebih baik lagi, scene yang saya sukai adalah  tentang tata krama dan atau unggah – ungguh yang tetap diperhatikan. Dalam KNY ini, bisa dilihat bagaimana sikap/cara Mawar dan Wasit dalam menyikapi ketidaksetujuan orang tuanya terhadap calon pilihannya. Bagaimana mereka berusaha tetap menjaga perasaan orang tua dengan bersikap diplomatis. Reaksi yang terjadi dalam setiap adegan masih dalam konteks yang wajar secara hukum sebab-akibat. 


Setidaknya di KNY ini TIDAK ADA: adegan dengan intonasi yang tinggi melengking cethar membahana, emosi yang meledak-ledak bak gunung Merapi meletus, intrik kejahatan yang kriminal banget, adu kelicikan yang sampai membentuk konspirasi,  bermesraan yang over dosis. 

Iya sih, beralihnya pada KNY ini Berawal dari titik jenuh pada sinetron yang mengangkat tokoh utama sosok perempuan yang suka menulis dan punya blog. Apalagi kala itu, cara penyajian ceritanya indah dan sarat makna, para pemerannya juga di skenario berperilaku yang masih wajar-wajar saja dalam berekspresi.  Saya pun sepakat dan optimis jika cerita yang diangkat tersebut bakal membawa angin pembaharuan dalam genre sinetron.  Tapi setelah sekian episode berjalan, kok ya permasalahannya berputar-putar pada satu konflik ya? Kesannya jadi dipaksain banget…eh ini dalam sudut pandang saya yang memang lebih suka lihat film lepas, satu judul tayang dan THE END.

Once again, menurut saya yang awam tentang alur skenario dan tata naskah, rasanya kok unsur logis dan kewajaran yang pada awalnya merupakan magnet yang menarik saya untuk duduk manis menonton sinteron tersebut kian memudar. Saya pikir setelah problem perselingkuhan diselesaikan, akan diangkat lagi problematika yang baru layaknya the daily case kehidupan pernikahan pada umumnya. Kalau jaman dulu, semisal Rumah Masa Depan atau ACI = Aku Cinta Indonesia. Tentang apa saja problematika dalam interaksi dengan tetangga, komunitas di sekolah anaknya, lingkungan kerja, bagaimana keruwetan ketika istri bekerja dan tak punya ART, dan so on. Saya yang awalnya antusias dengan sinetron tersebut pun kembali mendapati fenomena klasik gaya persinetronan yang kebanyakan tayang, lama-lama saya jadi bingung sendiri dimana klimaks cerita dan antiklimaknya ya? 

Walahh, ternyata iseng-iseng nulis sinetron ini sudah melebar kemana-mana?
Straight Back to Kita Nikah Yuk, so far penyajian sinetron ini masih konsisten utk mengalir secara natural dan faktor logika pada setiap konflik masih diutamakan. Semoga tidak menjadi sinetron yang ruwet sehingga yang nonton tetap bisa enjoy tanpa kehilangan pesan positifnya. Jika memang antiklimaks cerita sudah seharusnya ada, ya biarlah KNY ini The End dengan alur yang jelas dan meninggal kan kesan yang indah sebagai sinetron yang layak ditonton dan memiliki unsur-unsur yang positif untuk dituntuni (dicontoh). 


Kita Nikah Yuk…..
Siapa Takut???


 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 




Read More - Kita Nikah Yuk...........

Toko Online Impian(ku)

Punya keinginan membuat toko online yang sukses? Buku “Sukses Membangun Toko Online” By Carrolina Ratri ini InsyaAllah bisa menjadi salah satu bekal untuk mewujudkan impian tersebut. Dan saya pun Alhamdulillah kebagian secara gratis buku yang  berisi tutorial membangun on line shop yang efektif tersebut ketika menghadiri Seminar Wirausaha perempuan. Ulasan dalam buku setebal 211 ini memaparkan seluk beluk dan lika-liku mengenai bisnis di dunia maya, yang sebenarnya berpeluang untuk ditekuni oleh kaum perempuan, Bismillahirrahmaanirrahiim apalagi jika memang concern dengan pilihan being full house wife tapi tetap bisa memiliki sumber income  sendiri for any reason deh pokoknya ataupun bagi perempuan yang aktif bekerja tapi juga tertarik untuk berbisnis, maka toko online merupakan salah satu alternatif yang sangat mungkin untuk dijabanin.

Tertarik dengan Toko Online?
Iyah, sejak lama saya pengen punya toko online. Tapi stag dalam konteks keinginan without progress dengan pertanyaan singkat tapi bikin galau berkepanjangan: Gawe toko online kui kudu piye tho? Hemm, pertanyaan yang tak sekedar pada ‘tempat’ yang disebut sebagai toko on line-nya. Tapi semua hal yang terkait dengan penanganan agar toko online yang saya inginkan tersebut bisa survive dan fight di antara komunitas toko on line yang semakin buanyakk. 
Aji mumpung ketemu penulisnya: Mak Carra
Dan setelah mendapat buku “Sukses Membangun Toko Online”, menjadi penguat motivasi bagi saya untuk memiliki toko online. Tahu kan alasannya kenapa? Lha sudah dapat panduan yang lebih konkrit tentang bagaimana tata cara membangun toko online dari buku Mak Carra tersebut. Secara buku tersebut juga disusun berdasarkan studi kasus pada pelaku bisnis berbasis internet yang sudah eksis dan memiliki kestabilan marketing. Dan Ndilalah, pada kesempatan berikutnya ketemu dengan seseorang yang punya hobi desain dan salah satu penyalurannya adalah dengan mendesain batik. Ngobrol sana-sini akhirnya sampai pada kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan “ bolehkan jika kain batik desain Bapak tersebut saya pasarkan secara On Line”.  Alhamdulillah si Bapak berkenan karena memang beliau juga berencana untuk memasarkan hasil desain batiknya secara on line tapi demi mengingat kesibukan yang cukup tinggi sehingga niatan tersebut belum bisa direalisasikan. So far, follow up riilnya masih menunggu beliau balik dari negeri kincir angin. 

Mencari suplier seperti si bapak tersebut, saya ambil untuk stocking isi toko on line. Saya juga mulai membuka dialog serius dengan teman yang punya link ke pelaku usaha skala UKM. Selain itu, nantinya bisa juga kan saya majang barang jualan dari item produk yang ada di show room kantor?. Untuk fasilitas toko on line juga saya pakai media gratisan dulu, start with new blog. Tuh keliatan banget gak mau modal tho? MODAL iritisasi alias hemat polll!!! Bukan gak mau ngeluarin modal, tapi langkah ini saya ambil dengan pertimbangan untuk media praktek langsung dan belajar memanage toko online. As a new comer dan dengan pedoman bukunya Mak Carra ini, saya tetap perlu space time untuk mengadaptasikan diri dan waktu untuk menemukan pola yang harmonis dalam mengelola toko online. By the time, ketika saya sudah mulai bisa mengenali pasang surut gelombang toko on line, saya pengen memfokuskan toko on line saya pada produk out fit perempuan. Secara kan kaum hawa yang suka belanja dan tampil fashionable? Serta model-model out fit perempuan kan dinamis banget perkembangannya.

Saat ini, baru URLnya yang ready: www.rikinkin.blogspot.com Plisss, alamat blog ini aseli baru itu duang yang saya siapkan. Nah, adakah yang berkenan memberi saran/ide/alternatif nama yang catchy untuk Toko Online Impianku ini? #bahkan cari nama toko saja minta bantuan nehNantinya semoga bisa dengan hosting dan domain sendiri, semoga Aamiin. Untuk template dan desain/layout, semoga bisa segera fixed. Akan lebih cepat lagi neh jika menang Ganya Mak Carra ini, kan bisa dibuatin tuh toko onlinenya. Untuk handling dan managementnya, InsyaAllah saya akan mencoba menerapkan ilmu magic yang sudah dibagikan dalam buku “Sukses Membangun Toko Online”.

Teruus, jika masih ada yang gak mudeng atau butuh advise, bisa kan korespendesi dengan sang penulis buku tersebut? Soal friksi-friksi terkait operasional toko online, semoga para sahabat Emak-Emak ketjeh yang sudah established OlShopnya berkenan memberikan bala bantuan. Pokoknya, semoga wishlist punya toko online bisa terwujud tahun ini. Aamiin.



Tulisan ini diikutkan dalam lomba blog TOKO ONLINE IMPIANKU 
By Aurabatik dan Kawan Buku.

♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 

Pssttt, Reportase (singkat) acara seminar menyusul.....
Read More - Toko Online Impian(ku)

Jamu Tradisional [layak] Go International

Siapa yang tidak tahu tentang jamu? Atau tidak kenal jamu?
Di era sekarang, kalau masih ada orang yang bilang gak kenal jamu atau asing dengan dengan minuman tradisional berkhasiat kesehatan tersebut, sepertinya kok aneh bin ajaib. Bismillahirrahmaanirrahiim Jamu sebagai salah satu warisan budaya yang sudah digunakan secara turun menurun sejak ratusan (bahkan ribuan) tahun lalu, saat ini sudah menjadi barang ekonomis yang dibutuhkan masyarakat. Memang sih, sekira dua dasawarsa lalu, jika menyebut tentang jamu umumnya masih dikaitkan dengan hal-hal yang dianggap ndeso, kuno dan, tidak ilmiah. Percaya atau tidak percaya, kalau tempoe doeloe populasi yang dianggap wajar untuk mengonsumsi jamu pun masih identik untuk  orang-orang yang usia tua atau sudah manula. Dan seiring dengan perkembangan dunia ilmu pengetahuan dan serangkaian penemuan serta pembuktian ilmiah bahwa kandungan yang terdapat pada ramuan yang disebut Jamu Tradisional ternyata memang terdapat senyawa yang bermanfaat secara farmakologi, sehingga secara significant level image jamu pun  naik daun.
JIKA DAHULU orang yang minum jamu dianggap ndeso, kuno, udik, kampungan dan tidak sekolah, MAKA SEKARANG berbalik 180 derajat: Orang Pinter minum jamu, orang bejo ya pilih jamu, orang bijak gemar minum jamu, semua keluarga suka minum jamu biar sehat…bla..bla..bla… Maka, justru dianggap tidak up to date lagi dan jumawa jika ada yang mencibir orang yang suka mengonsumsi jamu.
Sebagian Bahan alami yang diramu untuk Jamu

Berkaitan dengan topik jejamuan ini, saya termasuk generasi yang sudah akrab dengan ramuan tradisional ini sejak kecil. Dengan alasan cari obat yang mudah, murah, cepat dan mengacu dari pengalaman yang sudah terekam dalam kenangan indah ortu saya tentang jenis-jenis ramuan yang terbukti nyata berkhasiat bisa untuk mengobati beberapa jenis penyakit, maka saat ada anaknya yang sakit seperti demam, diare, cacingan, demam, kembung, dan masih banyak lagi lainnya, dengan sigap segera diramu obat yang diambilkan dari tetumbuhan yang ada di sekitar rumah.  Tak hanya sebagai obat, beberapa jenis ramuan jamu yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan pun sudah “disosialisasikan dan didogmakan” oleh orang tua saya: seperti kunir asem atau sinom, beras kencur, temu lawak, jamu pahitan atau gepyok, jamu godhog, kudu laos, kumis kucing, serai.



Beberapa jenis jamu yang spesifik untuk kaum wanita juga sebagian sudah saya akrabi sejak kecil. Maklum, dua kakak perempuan saya dulu termasuk yang didisiplinkan untuk minum jamu begitu sudah memasuki usia puber alias sudah haid. Kala itu ibu saya berujar katanya orang perempuan itu harus bisa merawat diri salah satunya dengan minum jamu. Saya ingat salah satu kebiasaan berjamu yang didoktrinkan kepada dua kakak saya adalah kalau habis haid itu wajib minum jamu, kadang beli jamu yang siap seduh atau meracik sendiri dari dedaunan dan umbi-umbian dari tanaman yang memiliki khasiatan jamu yang sudah ada di sekitar rumah. Saya juga sudah familiar dengan jamu pelancar ASI dan bersalin sejak masih SD gegara kakak saya ada yang melahirkan di rumah. Nah pasca persalinan, dia kan harus menjalani ritual minum jamu pelancar ASI juga ada sederet jamu yang minuman wajib bagi wanita habis melahirkan.  Daun beluntas, temu ireng, pepaya gantung, senterewe, sirih hijau, sirih merah, Kunir kuning, kunyit putih, laos, jahe merah, jahe putih, kumis kucing, temu lawak, kencur, sinom, tapak liman, gingseng jawa, binahong, daun mata dewa, daun jambu, mengkudu (pace), jeruk nipis, dan sederet tanaman obat memang banyak di sekitar tempat tinggal kami di Lamongan  sana. Kalau gak ada di pekarangan sendiri, nyari saja di pekarangan tetangga biasanya dapat racikan jamu yang dibutuhkan. Tuh kan, betapa sedemikian ready stock raw material untuk membuat minuman jamu, baik sebagai pengobatan maupun untuk fungsi kesehatan yang tersebar di bumi Nusantara ini. Yang sudah saya kenal dan temui baru sebagian kecil, tidak ada 1% dari ribuan jenis tanaman obat yang ada negeri ini.

Sederet hasil riset yang telah berhasil membuktikan secara ilmiah khasiat tetumbuhan yang digunakan untuk ramuan jamu memang merupakan salah satu trigger kepercayaan untuk mengonsumsi jamu, baik untuk pengobatan dan atau terapi kesehatan jangka panjang. Hal ini tentunya melengkapi alasan-alasan kenapa semakin banyak masyarakat  yang memilih produk jamu, yaitu:
  1. Setiap orang ingin sehat dan memiliki usia harapan hidup yang panjang dengan cara-cara yang alamiah [trend back to nature].
  2. Perubahan gaya hidup dan pola makan yang menyebabkan timbulnya penyakit-penyakit serius dan degeneratif, dimana ramuan jamu dalam beberapa kasus telah terbukti bisa jadi alternatif untuk pengobatan.
  3. Efek samping ramuan jamu yang relatif lebih aman daripada obat-obatan farmasi. kandungannya yang 95% alami  tanpa bahan kimia sintetik
  4. memiliki khasiat mengobati (manfaat farmakologi) dengan efek samping yang minimal.
  5. Tradisi keluarga yang gemar minum jamu sejak masa nenek moyangnya demi kesehatan dan kebugaran
  6. Harganya yang murah meriah dan mudah dibuat
 

Fakta-fakta di atas yang dikolabarikan dengan kenyataan bahwa tanaman obat tersedia melimpah dari Sabang sampai Merauke, makanya raw material jamu termasuk dalam THE BIG TEN komoditas yang memiliki potensi dikembangkan. Ketersedian bahan baku, level teknologi dan tingkat kesulitan yang rendah, merupakan tiga pilar utama yang bisa jadi multiplier effect cukup signifikan dalam pertumbuhan perekonomian mulai dari sektor pertanian/perkebunan (hulu) hingga sektor hilir yang meliputi perindustrian dan perdagangan yang bermuara pada bertumbuhkembangnya industri Jamu. Sehingga berbagai produk jamu dari Indonesia telah menembus pasar dunia seperti Asia Tenggara, Asia Timur, Eropa dan Amerika.

Pasar obat-obatan tradisional masih cukup besar dan sangat menjanjikan. Simulasi sederhananya: bahan baku jamu mudah diperoleh, cara membuat jamu tidak sulit, peralatan (teknologi) untuk mengolah juga sangat bisa secara sederhana, sehingga menjadi peluang untuk menyerap tenaga kerja lebih banyak [menurunkan angka pengangguran].

Tidak mengherankan jika dunia per-jamu-an sekarang menjadi salah satu bidang usaha yang menjanjikan. Fakta-fakta di atas, telah memantapkan posisi jamu dalam dunia bisnis. Tidak mengherankan jika dunia per-jamu-an sekarang menjadi salah satu bidang usaha yang menjanjikan dan memiliki peluang untuk GO INTERNATIONAL.


Global Trend membawa block pasar terus bertumbuh dan hukum alam dalam transaksi perdagangan adalah semua jenis produk jika ingin diproduksi dan sukses penjualannya di berbagai pasar  harus BERSTANDARD. Peluang pasar yang sangat terbuka yang perlu direspon dengan proaktif oleh segenap pelaku usaha termasuk industri jamu. Trend pasar yang bergerak bebas dengan free trade yang semakin solid berbasis pada quality, keamanan, dan klaim kesehatan yang harus dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Bagi stakeholder yang sudah established dan sudah kompetitif dalam market internasional, memproduksi barang yang memiliki standar sudah menjadi out put sehari-hari. Tantangan yang dihadapi sudah bergeser pada bagaimana mengembangkan produk dan memperluas segmen pasar. Akan tetapi bagi pelaku usaha obat tradisional skala menengah ke bawah atau UKM, tentunya tuntutan pasar dan konsumen ini menjadi kendala yang kompleks. Apalagi AEC atau Masyarakat Ekonomi ASEAN yang dimulai tahun 2015 ini, maka seperti halnya PR yang dihadapai oleh pelaku usaha pada umumnya, industri jamu pun disodori tantangan yang cukup serius:
  1. Secara internal: sebagian besar pelaku usaha skala UKM masih concern pada penstabilaan wirausaha yang baru dimulai atau bahkan dalam rangka menambah income keluarga,  maka yang penting adalah bagaimana bisa membuat jamu yang bisa dijual dan mendapatkan keuntungan dan soal Good manufacturing practice [GMP] atau Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB) sekedar berpedoman pada ukuran “baik” dalam versi mereka. 
  2. Eksternal: Negara-negara di ASEAN yang sebagian besar memiliki kemiripan geografi dan iklim dengan Indonesia sehingga berpotensi menjadi pesaing produk Jamu Indonesia juga.
  3. Diluar ASEAN: China, siapa yang tak kenal dengan negeri tirai bambu ini yang hampir semua produk manufaturnya ‘menjajah’ di seantero pasar dunia. 
Seolah menambahi tantangan yang harus disikapi dengan serentak,  saya pernah menjumpai penjual jamu gendong [atau bersepeda] yang menggunakan botol plastik bekas air mineral. Padahal peruntukan botol air mineral termasuk dispossible, yakni tidak boleh digunakan lagi setelah isinya habis. Untuk diisi ulang air putih saja sangat tidak dianjurkan, apalagi digunakan untuk wadah jamu? Ini masih dari segi kemasan, lebih miris lagi ketika berkesempatan melihat langsung bagaimana jamu produk home industri itu dibuat. Tidak ada maksud menggeneralisir, tapi beberapa fakta di lapangan yang pernah saya temui mepaparkan kondisi aktual bagaimana cara pembuatan jamu tradisional masih dilakukan dengan cara yang masih jauh dari standar cara produksi obat tradisional yang baik (CPOTB), antara lain:
  1. Peralatan yang tidak terjaga kebersihannya, peletakan alat bersih masih bercampur dengan alat-alat yang kotor.
  2. area proses yang berdekatan dengan kandang ternak, pintu kamar mandi yang terhubung dengan tempat produksi tidak dikondisikan untuk selalu tertutup.
  3. alur proses yang tidak jelas, tak jarang tahapan yang sudah bersih berada pada posisi sebelum raw material dibersihkan sehingga masih terdapat banyak potensi terjadinya cross contamination
  4. Penyimpanan bahan baku yang bercampur dengan barang-barang lain yang bahkan ada yang tumpang tindih sehingga membuat bahan-bahan jamu cepat rusak/tercampuri bahan non jamu.
  5. Tempat sampah yang berada di ruang pembuatan jamu dalam kondisi terbuka
  6. Sanitasi dan hygiene personil yang perlu ditingkatkan, terutama kebiasaan untuk mencuci tangan.
  7. tidak ada pengendalian serangga dan tikus, 
  8. sarana pencucian yang tidak memadai yang berpotensi menajdi sumber pencemaran bagi produk jamu, dan masih banyak lagi hal lainnya yang TIDAK mendukung produk akhir jamu yang memiliki standar mutu yang baik (tinggi).
Kondisi tempat pembuatan jamu yang belum CPBOT
Terlebih yang semakin memiriskan hati dan logika ketika mendapati statement yang innocent semisal ini “Begini saja jamunya enak dan laris manis lho Bu?”
Fenomena lainnya adalah “ Di daftarin UKOT/IOT itu untuk apa Bu?”. Atau pernyataan ini “apa untungnya repot-repot daftar segala Bu? Wong jamu saya ini kan hanya dijual di kampung-kampung kok?”
Bikin jamu saja kok pakai aturan yang njlimet ya Bu? Itu kan artinya tidak mempermudah industri kecil untuk lebih berkembang?”

Sepintas kilas, menerapkan Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Benar memang memberikan kesan mempersulit dan tidak cooperatif terhadap tumbuh kembangnya industri jamu, terutama dari kalangan UKM. Tapi…tanpa CPOTB, mustahil akan dihasilkan produk jamu yang mampu bersaing di masa mendatang. Sebagai determinasi problematika di atas, kalau saya berbicara dalam posisi sebagai konsumen jamu, maka perceived value di pikiran saya (konsumen) terhadap produk jamu atau apapun barang ekonomi yang saya pertimbangakn untuk dipilih tentunya yang memiliki:
  1. AMAN dikonsumsi: bebas dari kontaminasi mikroba, cemaran bahan kimia, tidak tercampur material fisik (potongan rambut, pasir, dsb) 
  2. MENYEHATKAN dimana kandungan di dalam suatu produk jamu seminimal mungkin terdapat bahan tambahan kimia sintetik.
  3. Informasi yang jelas (terbaca dari labelnya),
  4. kualitas yang tinggi (adanya nomer registrasi dari instansi terkait: Dinkes/BPPOM),
  5. mutu yang terstandar (POM TR/SNI)
Then, bukan hal yang ajaib jika di tahun 2015 nanti akan semakin banyak produk jamu impor yang dengan mudah ditemukan di pasar dalam negeri yang akan memberikan dampak yang rentan terhadap persaingan dan citra jamu kita terutama bagi industri skala kecil dimana kemampuan dan daya saing produknya yang belum terstandarisasi. Padahal produsen jamu dari skala kecil ini jumlahnya tidak sedikit dan cukup potensial mendukung laju pertumbuhan ekonomi nasional.
AMAN: Konsep dasar yang mengenai pangan

Dengan beberapa kondisi yang bisa saya sebutkan di atas, dimana daya dukung alam yang kondusif dan peluang pasar yang terbuka lebar bagi industri jamu, konteks empiris untuk Lestarilah Jamu Indonesia ini adalah dengan setting mind set menjadikan Jamu Tradisional GO International sebagai acuan dasar untuk meng-adjust capability industri jamu nasional kita.  Dengan set up demikian, secara otomatis jamu akan go public dan long lasting dalam peradaban manusia seluruh dunia kan? Hal ini bisa dimulai dengan memenangkan minat beli konsumen dalam negeri dengan menjadikan Indonesia tuan rumah dari pengobatan herbal. Proyeksi sederhananya, jumlah penduduk negara-negara  ASEAN +600jt  (asumsi jumlah penduduk Indonesia +250jt), setidaknya sekitar 40% konsumen adalah dari Indonesia sendiri.

How to deal with that?
Permintaan jamu dalam beberapa tahun terakhir ini mengalami peningkatan dan pertumbuhan pangsa pasar yang lebih baik. Fakta pula jika industri jamu telah banyak mensupport perekonomian bangsa karena mengaktifkan ratusan ribu petani, memperkerjakan ribuan wanita bisa ambil peran dalam produksi dan penjualan jamu, men-trigger banyak peneliti dari bidang teknologi pangan, bioteknologi, biofarmaka, dan sebagainya untuk berinovasi iptek dalam rangka diversifikasi produk jamu, membuka lapangan pekerjaan baru, menumbuhkan kemitraan usaha bagi para penjual jamu, serta menjadi pengungkit tumbuhnya industri pendukung produksi jamu seperti mesin ekstraktor, dryer dan packaging.

Tidak mungkin kan kita legowo dan pasrah nrimo nasib Serangkaian kejayaan yang bangkit dari industri jamu tersebut digilas arus jamu impor ketika pintu pasar bebas ASEAN di buka? Juga BUKAN impian kita menjadikan jamu indonesia sebagai dongeng indah bagi anak-anak cucu generasi bangsa ini.

Solusinya hanya satu: STANDARSISASI produk adalah kendaraan untuk Jamu Tradisional Go International!

Dengan menginjeksikan spirit dan orientasi Standardisasi produk jamu pada skala produksi usaha kecil dan menengah sehingga mereka dengan penuh kesadaran mau berbenah untuk menerapkan cara berproduksi yang baik dan benar untuk menghasilkan jamu yang bermutu dengan penampilan yang menarik dan bervariasi agar produk dalam negeri mampu berdaya saing yang tinggi dengan produk-produk dari luar.

Iya sih, satu solusi tapi butuh kekompakan dari semua pihak. 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Dinas Kesehatan merupakan instansi pemerintah yang memiliki tugas utama dalam menjawab isu keamanan pangan (Food Safety), termasuk didalamnya adalah produk jamu yang membahayakan kesehatan diawasi mulai dari pre-market hingga post-market control yang disertai dengan penegakan hukum dan pemberdayaan masyarakat. Akan tetapi, penegakan hukum berupa pemberian sanksi terhadap produsen jamu tidak selalu menyelesaikan masalah.

Masih dibutuhkan langkah persuasif kepada produsen jamu tersebut berupa edukasi kepada para pelaku usaha jamu mengingat jamu yang diolah dari tetumbuhan memiliki sifat alamiah yang perishable (mudah rusak) sehingga betapa pentingnya menerapkan CPOTB dalam proses produksi jamu mulai dari bahan baku hingga end produk sampai ditangan konsumen. Program pemantauan ke pasar tradisional dan toko obat yang bisa sekaligus memberikan wacana ke penjual obat untuk hanya memperjualbelikan produk jamu yang sudah terdaftar. Dan jika menemukan suatu produk jamu yang belum memiliki ijin edar, akan bisa di traceability ke produsen jamu tersebut untuk dilakukan pembinaan dan pendampingan bagaimana menerapkan CPOTB sehingga bisa memenuhi persyaratan untuk mendapatkan ijin edar. Mengingat salah satu kesulitan standardisasi jamu adalah adanya fenomena pembuat jamu menganggap membuat hanya cukup mengandalkan intuisi alias ILMU KIRA-KIRA dan bukan pada pengukuran secara tepat bahan-bahan yang digunakan.

Dari pihak pelaku usaha jamu perlu memiliki kesadaran dalam menjamin kualitas jamu yang diproduksinya, melakukan pengecekan akan produk-produk racikannya sendiri untuk memberi jaminan pada konsumen bahwa produk yang digunakan telah memenuhi standar keamanan. Baik dari segi bahan yang digunakan, cara pembuatan, sanitasi hygiene: area produksi, personil, air dan peralatan, cara penyimpanan bahan baku dan produk jamu, maupun cara pengemasan yang benar.
Peran aktif masyarakat untuk memiliki awarenes dalam membeli jamu yang aman, proaktif menginformasikan ke instansi terkait manakala menemukan produk jamu yang sekiranya meragukan/tidak memiliki ijin edar. Spesialisasi jamu gendhong, kan itu jenis minuman yang siap minum berarti. Pembinaan dan pengarahan secara rutin bagi para pengolah dan penjual minuman jamu nan segar fresh from an nature oleh instansi terkait, seperti Dinkes dan atau BPPOM. Bagi kita para konsumen jamu gendhong, langkah preventif dalam membeli jamu ini bisa dilakukan dengan cara: mencium baunya dulu. Jika kualitasnya sudah mengalami dekomposisi pasti akan tercium aroma yang ‘nyleneh’ beda dari aroma jamu yang sesuai spesifikasinya.
Epilog
Karena saya sudah bingung mau menguraikan apalagi, maka langsung menuju pada harapan untuk Jamu Indonesia. Dengan semua diversifikasi olahan jamu dan era perdagangan bebas, dimana persyaratan pokok yang dibutuhkan agar produk bisa berkompetisi adalah kualitas produk yang terSTANDARD. Lestarinya Jamu Indonesia merupakan salah satu implementasi nyata akan kearifan budaya yang telah diwariskan oleh nenek moyang kita dalam menggunakan Kekayaan dan potensi sumber daya alam di negeri ini, yang memiliki multiplier effect sangat signifikan dari hulu hingga hilir dalam pertumbuhan perekonomian yang memiliki muara yang antara lain menciptakan banyak lapangan kerja. Dengan demikian industri jamu memiliki potensi untuk menyerap tenaga kerja yang banyak karena indsutri jamu lebih bersifat padat karya, artinya satu sumber kegelisahan sosial (angka pencari kerja/pengangguran) bisa diredam.

Effect lain yang berkorelasi langsung dengan Lestarinya Jamu ini adalah pelestarian lingkungan hidup karena aneka tetanaman yang menjadi bahan baku jamu tradisional Indonesia adalah tanaman obat yang pemanfaatannya berwawasan pelestarian alam sehingga bisa mengurangi dampak global warning saat ini dan selanjutnya.

Daaan………..,
Boleh dong memimpikan pula suatu masa nanti dimana jamu Indonesia akan lebih diperhitungkan dalam dunia medis dan farmasi sebagai produk yang eligible untuk diresepkan dalam sistem pengobatan yang Modern dan memasyarakat sehingga berjajar dengan elegan di setiap apotek-apotek di seluruh dunia karena sudah terstandar, aman dikonsumsi, kandungan yang lebih alami, harga lebih bersahabat dan memiliki khasiat/kandungan  yang Tokcer.

Maka…..
Sepahit-pahitnya Jamu justru menjadi candu bagi siapa saja yang ingin sehat dan memiliki usia harapan hidup bahagia lebih lama. Lha kan, hidup yang sehat dengan usia lebih lama itu salah satu kebahagiaan yang TAK bisa dikalkulasi secara numerik maupun eksponesial lho?
Salah satu Produk Jamu yang mengacu ke penerapan CPBOT [GMP Jamu]

Apakah Anda suka minum Jamu? Punya jamu favorit yang sering diminum? 



Jamu Tradisional GO International diikutkan lomba Blog Lestarilah Jamu Indonesia 
yang diselenggarakan oleh Biofarmaka IPB 
dalam rangka dies natalis Pusat Studi Biofarmaka  ke-16



♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 
References: 
  1. http://biofarmaka.ipb.ac.id/brc-upt/brc-ukbb/bccs-collection,
  2. http://biofarmaka.ipb.ac.id/publication/journal,
  3. Materi workshop standardisasi by Dr. Alva Edi Tantowi, Ph.D
  4. Materi workshop GMP, SSOP, HACCP 

Read More - Jamu Tradisional [layak] Go International