Apa Sih Lontong Orari Itu?


Traveling tanpa berwisata kuliner, rasanya kurang maksimal karena sudah jauh-jauh bepergian berbiaya, alokasi waktu dan meninggalkan PR di rumah tapi tanpa membawa oleh-oleh kesan dan kenangan mencicipi menu khas daerah yang kita kunjungi. Maka Bismillahirrahmaanirrahiim saya pun sudah pre-order jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Banjarmasin untuk disempatkan menikmati menu khas di sekitaran Banjarmasin.
Nyobain Lontong Orari saja ya Lek?” demikian tawar Andri, keponakan saya yang saat masih setia menghuni salah satu bagian belantara Kalimantan.
Kuliner apa sih Lontong Orari itu?” tanya saya penasaran. “ Enakan mana sama lontong balap cobak?
Ya bedalah Lek “, jawab Andri dengan nada meyakinkan “ Dijamin so special pokoknya…”

Fantasi yang spontan melintasi otak saya adalah: sejenis menu lontong yang disajikan ala sambil siaran Orari atau makannya di rumah yang empunya pemilik station Orari? Lha kalau ketupat kan sudah biasa, berbagai daerah familiar dengan makanan berbahan beras ini dengan ciri kedaerahannya yang khas. Sebenarnya lontong serupa dengan ketupat, hanya beda pada pembungkusnya. Ketupat menggunakan janur [daun kelapa], sedangkan lontong memakai daun pisang untuk pembungkusnya. Di desa saya juga punya tradisi bikin ketupat tiap lebaran ketupat dan di Yogya ini saya dipertemukan tahoe teloepat: ketupat yang disajikan dengan sambel bumbu kacang, taoge dan kubis.

Dan ketika berkesempatan menjejak di Banjarmasin, bisa mencicipi sisi lain wisata kuliner menu lontong yang lebih dikenal dengan nama Lontong Orari. Lokasi RM Orari yang saya kunjungi sebenarnya berada, tepatnya di kampung Melayu yang terletak di seberang Mesjid [dekat Pasar Lama Banjarmasin]. Walaupun terletak di gang yang cukup kecil tapppiii….begitu tiba kami tiba RM Lontong Orari tersebut, WOW…parkiran penuh oleh pengunjung baik yang bersepeda motor maupun bermobil. Alhamdulillah, pas kami datang pas ada satu meja yang kosong jadi tak perlu masuk waiting list untuk menikmati kayak Apa Sih Lontong Orari itu?

Lauk pelengkap Lontong Orari lumayan variatif, mulai aneka olahan ayam, telur dan ikan. Dan saya antusias memilih ikan haruan karena namanya masih asing. Kan salah satu kode etik saat berwisata kuliner, pilihlah jenis makanan yang sekiranya belum pernah atau jarang ditemui sebelumnya.
Ikan haruan itu apa sih?” tanya saya lagi ke Andri.
Ikan yang sejenis ikan gabus atau kalau di Tlanak yang biasa disebut iwak Dheleg itu lho Lek But” …”
Model pembungkusan lontong Orari
Untunglah pelayanannya cukup cepat [bisa bikin BeTe pelanggan yang cukup banyak kalau pelayanannya lemot kan ya?]. Penasaran pengen tahu seperti Apa sih Lontong Orari itu? Tak lama berselang setelah memesan, datanglah paket menu yang kami pesan, dimana cara penyajiannya adalah lontong dibiarkan utuh dalam piring yang diracik bersama sayur nangka bersantan kental, yang ditaburi bawang goreng, untuk sambel dan lauknya disajikan secara terpisah.

Umumnya lontong dimasak dengan bungkusan daun pisang dengan bentuk lonjong/memanjang, maka lontong Orari ini dimasak dalam bungkusan daun berbentuk segitiga pipih dengan tekstur yang cukup padat.

Untuk kuah sayur nangkanya kental, ada rasa sedikit pedas dan manis serta ada aroma harum rempahnya yang khas. Menurut ukuran orang Banjar, rasa pedas kuah sayur nangka sudah cukup dianggap pedas. Tapi faktanya Orang Banjar umunya penyuka masakan manis. Jadi sepedas apapun sambal yang disajikan, masih ada taste manis yang muncul.. Nah berhubung saya penggemar pedas, maka saya masih perlu menambahkan sambel berwarna merah merona sebanyak 2 – 3 sendok lagi deh.
Cara Penyajian Lontong sayur secara terpisah
Sedangkan ikan haruan yang jadi menu andalan tersebut dimasak habang yang sekilas saya pehatikan kok ada miripnya dengan bumbu bali atau balado yaitu dimasak merah dengan sejumlah bumbu antara lain cabe merah, gula, garam, bawang merah, serai, kemiri, bawang putih dan lain-lain.  Tekstur Ikan haruannya sendiri sangat lembut dengan bau khas ikan asap.
Ketika kombinasi kuah nangka yang kental dengan aroma khas bercampur dengan bawang goreng, bercampur dengan tambahan sambel kemudian disantap bersama potongan lontong dan daging ikan haruan, ehmmmm yummyyy……….satu porsi lontong orari pun segera kandas dari piring yang diakhiri dengan segelas jeruk hangat.
1 Porsi Lontong Orari siap disantap

Oia, Penggunaan nama Orari ternyata diambil dari fungsi tempat yang dipakai untuk berjualan makanan ini merupakan tempat berkumpulnya para aktivis radio amatir yang tergabung dalam Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia [ORARI]. At least, tebakan saya masih ada nyrempetnya kan ya? Cuma sayangnya, saya belum sempat mencari tahu apakah kegiatan ORARI di dekat-dekat RM Lontong Orari apa masih eksis sampai saat ini?
Yukkk...makan Lontong Orari

Cerita kuliner Apa Sih Lontong Orari Itu? dalam rangka berpartisipasi dalam "EAT and Travel With B Blog" Competition. Mau ikutan juga di event lomba blog berikutnya?  Ayo buruan daftar menjadi member BBlog Member www.bblog.web.id. BBlog merupakan layanan terbatas untuk anggota, yaitu hanya bloger yang sudah terdaftar menjadi member yang bisa ikutan berbagi kisah dan cerita  dalam event-event kompetiblog yang diadakan oleh BBlog.

<img src="http://tag.ripre.com/campaign?guid=on&k=81yht9nFScAAf2jMJKQoE9Tm0e898I93&c=c47cccab377f857138b4adcee72c507f" width="1" height="1" />


Untuk kompetisi blog kali ini disponsori oleh:
2.    Elbelle Shop
3.    My Rasl
4.    Poupee Shop



Facebook | Twitter | Instagram
 






Read More - Apa Sih Lontong Orari Itu?

Di Antara Dua [pilihan] KA Pasundan

Menjadi tua itu kodrat, tapi bertambah usia dan menjadi lebih bijaksana adalah PILIHAN yang berarti Bismillahirrahmaanirrahiim mestinya semua orang bisa menjadi lebih bijaksana dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya asam garam kehidupan yang dicecap. Dan ketika saya pertanyakan pada diri saya sendiri, apakah saya sudah lebih bijaksana dari tahun lalu atau hari kemarin? Alhamdulillah, saya hanya bisa menjawab “…saya hanya bisa berusaha agar lebih baik, soal hasilnya….masing-masing orang check list [standar] ukur sendiri kan ya?”.

There’s no one the best, karena akan selalu ada yang lebih baik lagi di luar sana. Kata Simbok: ojo dumeh lan ojo jumowo, amarga isih ono langit maneh sak duwure langit. Simbok juga menasehati, jangan mengulangi kesalahan yang sama karena itu artinya kita tidak belajar dari pengalaman. Makanya saya pun pasang status siaga agar tidak mengalami kejadian yang salah kedua atau ketiga kalinya. Tapi eh tapi, ternyata kenyataan memang berbeda..hhmmm…mau tau cerita lengkapnya? Yuk, simak cerita yang bikin kesel, bingung sekalian gemesin ini hihi...*edisi emak-emak bercerita MODE ON*

Sebenernya kejadian ini gak cuma sekali saja dan saya juga mengalaminya di beberapa moda transportasi hehe. Pemilihan moda transportasi ini juga tergantung kebutuhan sih, misal kalau waktunya mepet maka mau gak mau saya harus mengandalkan transportasi pesawat tetapi kalau waktunya masih cukup longgar mending naik kereta atau bus dong. Nah, kebetulan waktu itu sedang ada urusan urgent, makanya cari tiket pesawat. Lihat-lihat harga di situs penjualan tiket online seperti Traveloka dan Tiket, dan ternyata lagi ada tiket promo Air Asia, makanya saya langsung melanjutkan pemesanan di situs airlinenya. Ya, waktu itu saya baru menjadikan layanan seperti Traveloka sebagai acuan saja untuk mendapatkan perkiraan harga tiket pesawat murah dengan cepat. Tapi denger-denger dari teman, katanya layanan seperti Traveloka ini lebih mudah caranya dan harga jualnya juga bersaing. Hheemmm….jadi bikin penasaran.

Senang rasanya pas tiket sudah di tangan, tapi pas waktu keberangkatan, kenyataannya aku ditinggal pesawat take off. Perasaan kesel, bingung, dll bercampur aduk jadi satu. Ehh…kejadian seperti ini ternyata ga cukup sekali, karena kembali terulang kedua kalinya dan rasanya bikin sesak, ribet plus bikin panik semua orang pula hehehe. Bagi yang sudah pernah, pasti tahu rasa dan rentetan akibatnya gimana jika tertinggal pesawat. Bagi yang belum pernah, please…jangan pernah ngarep untuk punya pengalaman serupa itu ya?

Yang berikutnya ini juga termasuk pengalaman yang gak kalah konyolnya dengan kisah ketinggalan pesawat, yaitu Di Antara Dua [Pilihan] KA Pasundan karena sudah gak jaman cerita pacar ketinggalan kereta. Sebenarnya menempuh perjalanan dengan naik kereta api sudah bukan hal baru lagi buat saya. Kalau perjalanan mudik saat masih domisili di Banyuwangi memang seringnya naik bis karena setiap saat ada bis dan gak perlu uber-uberan kejar tayang untuk berangkat. Nah, saat pindah habitat ke Yogyakarta ini dan manakala memenuhi kebutuhan batin untuk mudik ke LA demi melepas kangen pada sang Ayah Bunda, ada kalanya saya mudik sendiri. Ceritanya, karena belakangan ini jalur bis susah di prediksi alias lebih lama perjalanannya dari semestinya, sepakatlah saya untuk naik kereta api karena waktu tempuhnya lebih on schedule yaitu sekitar 5 jam untuk Yogyakarta – Surabaya.

Pengalaman yang saya alami beberapa waktu lalu ini membukukan cerita yang baru lagi selain kisah ketinggalan pesawat. Lha masak saya SALAH PILIH naik Kereta Api?!!! Sumpah saat kejadian, sama sekali ini bukan cerita yang lucu lho? Tapi aselinya sih lucu plus konyol, sampai suami saya bilang “wong biasa mbolang kemana-mana kok bisa salah naik KA gimana tho?”
Long wiken pertengahan bulan Mei lalu, setelah berjuang kesana kemari mencari tiket KA, akhirnya suami saya dapat tiket untuk tanggal berangkat 15 Mei jam 13:43 WIB dengan KA Pasundan. Demi mengantisipasi kemacetan arah menuju stasiun Lempuyangan, saya pun diantar sekira jam 12.30 WIB dan tiba di stasiun 40 menit berikutnya. Masih longgar kan waktunya, saya pun langsung “check in” di petugasnya sekaligus menanyakan kereta Pasundan yang akan saya naiki.
Keretanya nanti di jalur dua dan sekarang masih belum datang kok mbak. Sepertinya terlambat 10an menit”. Demikian penjelasan bapak petugasnya.
Saya pun antri dengan tenang dan confidence di dekat jalur dua dan begitu KA Pasundan datang langsung masuk via gerbong 6 yang saat itu posisinya terdekat dengan tempat saya berdiri.

Begitulah, jeda 5 menit kemudian KA berangkat….Tutt…Tutt..Tut…bunyi kereta Api berjalan, sedangkan saya belum sampai di tempat duduk saya yaitu gerbong dua. Santai sajalah, menikmati jalan-jalan melintasi beberapa gerbong. Begitu sampai di alamat kursi yang tertera di tiket, saya pun kaget karena sudah ada yang menempati seorang Bapak dan anaknya.
Tapi nomer kursi saya juga 2B Mbak….”
Saya pun mulai di hinggapi panik plus bingung. Akhirnya si Bapak minta lihat tiket saya dan membandingkan detail tulisan yang ada di lembaran tiket kami.
Tarraaaa………glodaggg “ Nomer keretanya beda Mbak. Kereta ini nomer 121, Embak hendak ke mana tho?”
Saya mau ke Surabaya Pak. Lah kereta ini arah kemana ya Pak?”
Wah, njenengan keliru….ini mau ke Bandung, arah barat Jawa sedangkan  Embak kan ke arah timur”.
Yaaa….saya gak mudeng arah barat, timur, utara dan selatan jika sudah di tempat umum  pak
Coba Mbak-nya tanya saja ke petugas, dimana stasiun terdekat untuk bisa turun dan apa ada alternatif kereta yang menuju ke Surabaya..” saran si Bapak yang cukup menenangkan saya. Dan kebetulan kok ya pas ada security gerbong yang melintas.
Dengan diantar sekaligus dibawain travel bag oleh si Mas Security, jadilah sampailah saya di gerbong kereta yang disebut gerbong makanan tapi yang isinya para petugas duang.
GAMBAR KUTOARJO
The New Ticket: GAYA BARU MALAM
Akhirnya, pemberhentian terdekat adalah Kutoarjo dan saya disarankan untuk beli tiket baru saja karena oper naik bis justru gak efektif. Sempat juga dikasih saran untuk naik Kereta Pramex ke Yogya [lagi], tapi setelah saya pikir-pikir….sama juga gak efektif. Wong saat itu sudah jam 15.30 dan kereta pramex setengah lima. Tiba di Lempuyangan jelang jam 6 petang, sedangkan tiket baru saya berangkat jam 19.46 WIB. Yang ada, malah suami ikut capek karena bolak-balik antar jemput lagi. Ya…sudahlah, saya jadi penumpang yang super rajin menunggu mulai jam setengah empat di stasiun Kutoarjo.

Ketika saya share kisah SALAH PILIH naik KA ke beberapa teman dalam rangka mengisi masa menunggu KA datang, rerata komen dari teman-teman adalah : “ Kok bisa sey kamu salah naik KA getu?....bla…bla…”. Kemudian saya contact dengan seorang teman yang biasa mudik tiap wiken Jogya - Madiun dan jawabannya “ memang seringnya begitu Mbak, ada dua kereta dengan nama yang sama, datang di waktu yang hampir bersamaan dan jalur relnya bersisian. Salah satunya ya KA Pasundan itu…

Experience is the best teacher, dan tak perlu harus mengalaminya sendiri untuk bisa belajar dari pengalaman. Sedikit sharing pembelajaran dari pengalaman saya yang berada Di antara dua [pilihan] kereta Api Pasundan yang berada dua jalur rel yang bersebelahan TAPI Beda arah ke barat dan timur [padahal saya juga gak merhatiin posisi lokomotifnya *parahpoll*], terutama bagi yang belum pernah naik KA, juga yang memiliki keistimewaan “miss oriented” dengan arah mata angin kayak saya, sebaiknya:
  1.  jangan datang ke stasiun terlalu mepet untuk menghindari keruwetan antrian saat check ini yang bisa berakibat kita terburu-buru mencari jalur KA yang akan kita tumpangi.
  2. Jika bertanya ke petugas, selain menyebutkan nama KA juga sebutkan kota tujuan.
  3. Perhatikan tulisan yang terpampang di jalur-jalur rel KA [saat itu saya over PeDe sudah fixed info yang saya peroleh sehingga tidak fokus merhatiin tulisan yang tertera di jalur-jalur KA]
  4. Jika masih bingung lagi, di dekat-dekat gerbong biasanya berseliweran petugas berseragam [security atau polisi], cobalah bertanya lagi karena malu bertanya bisa berakibat salah naik gerbong KA juga lho?
Ending ceritanya, harusnya saya sudah tiba di Surabaya jam 19.55 tapi justru baru start [lagi] berangkat dari Kutoarjo jam 19.46 WIB.

Bagi yang suka lihat pilem-pilem Jepang atau Korea, silahkan beranimasi seperti apa ekspresi saya kala itu. Yang jelas, saya pengen nangis tapi malu…pengen teriak tapi gak mungkin bisa…bingung…kalau KA berhenti di stasiun terdekatnya terlalu jauh dari Yogya, lha terus gimana pindah haluan ke arah tujuan mudik saya?

So awesome isn’t it? Tepatnya lucu bin konyol dan bikin geregetan sih, Hehehe…..

Read More - Di Antara Dua [pilihan] KA Pasundan

Ekspresi Demokrasi: Memilih karena Ingin Memilih

Pemilu untuk memilih para anggota DPR, DPD dan DPRD telah sukses dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014 dan Bismillahirrahmaanirrahiim sekarang 9 Juli 2014 adalah agenda penting untuk mendaulatkan siapa yang layak untuk menyandang RI-1 dan RI-2. Pilpres yang dilakukan secara langsung tahun ini merupakan periode yang ketiga, dimana dua periode sebelumnya terpilih RI-1 adalah orang yang sama. Ah…..jadi wondering alias KEPO, andai dan seandainya masa jabatan presiden belum di amandemen, mungkinkah di pilpres secara langsung yang ketiga ini Beliau akan mencalonkan dan memenangkan  pemilu lagi?  
Masa kampanye Pilpres sudah lewat, ada model kampanye off air, on air, on mass media, on stadion dan on TV media. Dan Alhamdulillah, semua jenis kampanye di atas gak ada yang saya ikuti secara all out. Sebagian yang saya simak adalah versi On Line [lha banyak tuh yang nyetatus di SocMed]  dan ON TV media. Yang cukup menyita perhatian publik sepertinya kampanye versi DEBAT capres dan cawapres yang tayang langsung di stasiun televisi. Enam kali penjadwalan debat di TV telah usai, ya iyalah kan H-3 harus ada masa tenang agar calon pemilih bisa berpikir, merenung, mempertimbangkan dan memantapkan pilihan hatinya jatuh pada nomer berapa.

Then, isi dan paparan dalam debat tersebut, tentu sudah bisa jadi tambahan bekal untuk menentukan hendak pilih yang mana kan? Wong setiap kali usai tayangan debat, SosMed demikian heboh dengan up date yang merespon isi dari materi yang telah dikupas [belum] tuntas dalam acara debat tersebut. Setidaknya ada tiga [golongan besar]  jenis reaksi yang muncul:
  1. Apapun dan bagaimana pun perform calon yang di dukung, tak mengubah loyalitas pilihannya [baik pendukung nomer urut 1 maupun nomer 2] 
  2. Terjadi transformasi sikap yaitu berubah dukungan dari mendukung A ke B, atau sebaliknya. 
  3. Mengkritisi secara proporsional alias tidak memihak. Jadi isi pemaparan kedua belah pihak dianalisa dan dicermati dari sisi referensi, logika dan kemungkinan aplikasinya akan seperti apa.
Pada tipe yang pertama, mungkin ini yang di sebut The TRUE BELIEVER….right or wrong ….no matter what happen… keukeuh milih si Anu itu. Hebohnya lagi, sampai banyak yang perang komentar di SocMed kan? Demikian solid sikapnya dalam memberi dukungan, maka apapun sanggahan dan opini lain…yang pilihannya kokoh bagai karang. Yang bikin miris, tak jarang sampai terbawa emosi dan timbul konflik serta perseteruan. Saling adu pendapat dan perdebatan yang tak jelas ujungnya dengan disetai emosi jiwa, bahkan juga saling menjelek-jelekkan yang melewati batas kenormalan.
Ini saya kutip dari FB, status seorang teman [Amelia] yang menurut saya harusnya menjadi dasar dalam memberikan dukungan pada Capres- Cawapres, baik PRABOWO – HATTA maupun JOKOWI-JK
“Kampanye presiden. Masih pentingkah kampanye "tanpa isi" yang menjelek-jelekkan atau terlalu mengagung-agungkan salah satu calon? Apakah Anda lupa bahwa semuanya tidak selesai saat kampanye berakhir? Indonesia tetap harus bersatu setelah kampanye selesai. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, salah satu calon yang sudah Anda jelek-jelekkan itu akan memimpin bangsa ini. Jadi, ayo dong...STOP share link atau tulisan yang saya yakin sebenarnya Anda-anda pun belum tentu yakin betul sumbernya benar atau tidak. Berhentilah memfitnah/mempermalukan calon pemimpin bangsa sendiri.”

Beberapa teman yang tanya langsung ke saya, mungkin penasaran atau memang dalam rangka menambahi materi/info agar lebih proporsional dalam membuat pilihan calon Capres-Cawapresnya,
Sebenarnya, saya itu pengennya ada Capres-Cawapre nomer urut tiga…..” ngeles pertama saat menjawab.
Jadinya kan Cuma ada dua tuh Mbak. Terus prefer yang mana dong?”
Ehmmm……yang jelas, saya mendukung yang terpilih jadi Presiden dan wakilnya nanti kok”.

Dijamin jika jawaban saya makin bikin gemes yang tanya tho? Lha iya, saya sebenarnya pengen menjawab gini: Saya akan memilih karena saya memang mau memilih dan tentunya dengan niat semoga yang saya pilih ini bisa amanah dan membuktikan janji/target visi-misinya dengan optimal. Saya sadari yang namanya janji, target, visi dan misi itu kan acuan, tercapi 100% itu sebuah keajaiban. Jadi, kalau toh hanya terrealisasi di kisaran 75% itu kan masih logis kan? Jika memperdebatkan siapa tim dan para pendukungnya para capres-cawapres, perdebatan tak ada habisnya. Wong yang namanya politik, dari sekelumit yang saya tahu….orang-orangnya bisa dengan cepat berubah dukungan kok. Pada putaran pilkada di daerah A beberapa parpol berkoalisi, tapi pada Pilkada di lain daerah lagi sudah beda lagi koalisinya. Tidak jauh berbeda pula dengan pilpres ini kan? Pada periode pilpres yang lalu yang berjalan mesra sebagai partner koalisi, dan di edisi pilpres sekarang berganti koalisi lagi. 
Kalau dipikir-pikir, kan ada miripnya pula dengan tim sepak bola tho? Pada kompetisi Liga, mereka satu tim dan ketika ajang piala dunia sudah berbeda tim lagi menjadi saling berlawanan. Toh ketika pertandingan selesai, mereka langsung salingberpelukan, bersalaman dan ada yang tukeran kaos ya kan? Semoga para pendukung tim-nya juga bisa seperti tim yang di dukungnya, usai kompetisi [pemilu], bisa berjabatan dan bersimbiosis lagi dengan guyub. Tukeran cinderamata juga boleh banget....
Jadi, siapa pun Capres- Cawapres yang didukung, ya marilah dukung seperlunya saja dengan tetap menghargai pilihan teman/saudara/tetangga yang punya hak untuk memilih pula. Dan jika hendak memilih ya pilihlah karena ingin memilih demi kebaikan dan kedaulatan bangsa Indonesia. Jika mengambil keputusan untuk memilih, meskipun tidak dimengerti benar akan capability, skill dan eligibilitasnya karena terbatasnya informasi tentang calon yang hendak dipilih tersebut, lebih baik bila mulai berangkat dari rumah hingga saat akan mencoblos dalam bilik — melafal (berbisik-bisik atau dalam hati) “BISMILLAH…….Niat memilih demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik”.  

Man-yahdillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.  
Selamat berEkspresi Demokrasi: Memilih karena Ingin Memilih





NOTED: Postingan delay publish gegara gagal koneksi--->Teuteup saja ditayangkan tho? #efekkampanye: ngeyel
Read More - Ekspresi Demokrasi: Memilih karena Ingin Memilih

Aku dan Indonesia: Dulu, Kini, Nanti

Aku dan Indonesia, demikian tema kontes unggulan yang digelar oleh sang Komandan BlogCAmp Group. Seberapa baik saya mengenal Ibu Pertiwi dimana saya lahir, besar dan tinggal ini?  Bismillahirrahmaanirrahiim, Indonesia adalah negara besar tak hanya dari segi penduduk menempati peringkat ke-4 [setalah USA] di dunia, tapi juga memiliki sumber daya alam berlimpah yang gemah ripah loh jinawi, betapa kekayaan negeri ini yang tak ternilai sampai membuat beberapa negara lain “berjibaku” menancapkan Imperialismenya selama 3,5 abad lebih. Negeri nan elok bagai zamrud khatulistiwa dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, pun terdapatnya aneka ragam bahasa, suku, budaya dan  suku. Afirmasi secara kontekstual mengenai Indinonesia tersebut sudah sudah diwacanakan sejak duduk di bangku sekolah dasar melalui Pelajaran IPA dan IPS.

Secara persuasif, di era 90an ketika lagu anak-anak kental dengan nuansa anak-anak [gak seperti belakangan ini, event lomba lagu anak-anak tapi dominan lagu dewasa], lagu Semua Ada Disini.. (Indonesia) yang dinyanyikan Enno Lerian, bait-bait lagunya memiliki daya magic yang membangkitkan rasa bangga sebagai warga negara Indonesia dan cinta akan tanah air Indonesia. Berikut sebait cuplikan lirik lagu tersebut [untuk versi lengkapnya, silahkan klik Youtube-nya ya…]
Hei Indonesiaku..Tanah subur rakyat makmur
Hai Indonesiaku.. Aku sayang kepadamu
Tanam salak tumbuh salak
Tanam duren tumbuh duren
Tanam padi (budi) tumbuh padi (ilmu)
video
Menarik benang merah dari lagu tersebut, membuat saya terdampar pada frase masa kecil yang mengenal Indonesia sebagai negara Agraris yang termasyur dimana sekitar 70% penduduk Indinesia memiliki mata pencaharian sebagai petani. Terlebih saat mengetahui jika Indonesia sebagai negara Agraris  berhasil meraih sukses berswasembada pangan pada tahun 1984 [Pelita IV] dengan mampu memproduksi beras sebanyak 25,8 ton sehingga mendapatkan penghargaan dari FAO pada tahun 1985.  Prestasi sebagai negara agraris yang berkibar di tingkat Internasional ini semakin mengokohkan kebanggaan saya sebagai anak petani, setidaknya Bapak saya punya andil tercapainya target swasembada pangan di Pelita IV tersebut. #GeEr boleh kan? Hal ini membuat saya terdoktrin rasa bangga sebagai anak petani [gurem].

Walaupun hampir setiap hari dikondisikan untuk mengisi waktu diluar jam sekolah dengan membantu ortu bekerja di sawah, tak pernah terbersit rasa minder. Alhamdulillah, saya merasa bersyukur jadi anak petani yang [bisa] bersekolah mengingat  di era kecil saya dan di masa itu, untuk bersekolah masih sesuatu yang “mahal”. Dari rasa bersyukur berkesempatan sekolah, saya pun menjadi bangga karena mengetahui mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani, artinya profesi Bapak saya sebagai petani memiliki nilai prestis yang tidak kalah dengan para pegawai kantoran kan? Lha penghasil bahan makanan pokok di negeri ini. “ Ortuku itu petani tulen lho?” demikian jawaban PeDe plus terselip rasa bangga jika ada yang tanya pekerjaan ortu, terlebih saat kuliah dan masa selanjutnya.

Intinya, figur tentang Indonesia yang saya kenal DULU terrepresentasikan dalam lagu anak-anak di atas. Negara yang besar, tanahnya yang subur, penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Saking suburnya, mau tanam apa saja bisa tumbuh dan berbuah. Buktinya, walaupun sawah yang dimiliki oleh keluarga saya sepetak untuk menafkahi 9 anak, toh setiap hari selalu ada makanan untuk dimakan. Ada ubi jalar di samping rumah, uwi, ganyong, jengkirot yang bisa dipakai sebagai subtitusi makanan pokok. Kala gagal panen, juga masih bisa ngutang gaplek ke tetangga. Ada bulgur yang dijual harga murah merakyat….pokoknya, cerita mati kelaparan di Indonesia [kala itu] tak pernah terlintas di pikiran saya yang masih anak-anak. Jadi, jika ada peribahasa Ayam mati di lumbung padi, saya akan jawab itu ayamnya rakus dan kebanyakan makan padi sehingga temboloknya pecah kemudian mengakibatkan kematian pada si ayam tersebut kan?

Hamparan persawahan di desa saya
Karena hampir setiap hari akrab dengan acara ke sawah, maka secara pragmatis saya cukup familiar pula dengan metode bercocok tanam yang diterapkan oleh Bapak, yang kemudian saya kenal dengan istilah: Intensifikasi, dan diversifikasi. Untuk detailnya, jika mau tanya bagaimana cara tandur, menyiangi rumput, nanam jagung, metani [membuangi] ulat di daun tembakau, mikul air untuk nyirami tembakau, ngarit padi&kedelai, dan masih banyak jenis pekerjaan di sawah lainnya….just ask me, oke?

Pola tanam secara intensive dipraktekkan  oleh bapak terutama saat musim bercocok tanam padi. Pemilihan bibit unggul yang dibeli dari KUD,  pengelolaan tanah [dicangkul dan dibajak] teknik penanaman wineh [bibit padi] dengan jarak tertentu yang dipetakan saat proses nggaru [saya gak paham apa istilahnya NGGARU ini dalam bahasa Indonesia], pengairan via sarana irigasi yang kala itu dibangun dari program padat karya dan pemakaian pupuk kombinasi organik dan non-organik.

Untuk Langkah diversifikasi ini Bapak ngasih penjelasan yang saya terjemahkan dalam versi sekarang: adalah upaya dalam rangka menjaga tingkat kesuburan lahan pertanian, menghasilkan produk pangan yang juga eligible untuk di konsumsi serta memungkinkan hasil dalam jumlah yang maksimal karena dalam satu masa tanam di lahan yang sama bisa dihasilkan lebih dari satu jenis hasil pertanian. Misal jagung yang dikombinasikan dengan kedelai, ketela dengan jagung, dsb.
Ketika saya beranjak besar dan sedikit bertambah wawasan, hingga KINI…. Mendengarkan kembali lagu Semua ada Di sini ..[Indonesia], yang terbayang adalah serangkaian permasalahan krusial yang siap menurunkan bendera negara Agraris yang pernah berkibar dengan penuh kewibawaan di FAO.  Mestinya potensi pengembangan negara Agraris tak perlu dipertanyakan lagi mengingat SDM yang besar jumlahnya, pendidikan, pengetahuan dan teknologi juga sudah berkembang pesat yang mampu menggerakkan sektor pertanian untuk menjadi FOOD BASKET minimal di kawasan regional Asia [dan sangat memungkinkan untuk menjadi lumbung padi internasional]. Akan tetapi, tak bisa disanggah pula jika anugerah kesuburan yang menghampar di bumi pertiwi ini, sekarang berada dalam dilema benang kusut, beberapa fenomena dunia pertanian yang ada disekitar kita antara lain:
  1. Menurunnya jumlah generasi muda yang tertarik di bidang pertanian. Saat ini sudah mulai terjadi gap generation, SDM muda lebih tertarik untuk bekerja di sektor industri/pekerja kantoran ataupun jenis profesi lainnya [non pertanian]. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan petani merupakan salah satu penyebab [utama] para generasi muda enggan untuk menekuni profesi sebagai Petani muda berbakat. Beberapa faktor yang masih enyebabkan rendahnya kesejahteraan hidup petani antara lain: harga jual gabah yang anjlok saat panen raya, harga pupuk mahal, Sarana dan prasarana produksi pertanian sering tidak terjangkau oleh petani, Serangan hama dan penyakit pertanian masih cukup tinggi.
  2. Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian [perindustrian] masih cukup tinggi, juga dampak kebutuhan tempat tinggal akibat peningkatan jumlah penduduk secara significant juga mengurangi lahan pertanian dijadikan pemukiman.
  3. Diversifikasi produk pangan lokal belum optimal, pada umumnya petani masih “setia” bercocok tanam jenis tanaman yang turun temurun. Jika generasi sebelumnya hanya menanam varietas padi, kedelai, jagung dan tembakau, maka sang penerusnya juga PATUH mewarisi jenis tanaman yang sama untuk dibudidayakan di lahan tersebut.
  4. Kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi produk pangan lokal cenderung menurun, apalagi menjelang Asean Economic Community yang mempertajam persaingan produk antar negara tak terkecuali hasil pertanian. Sementara kemampuan dalam pengolahan pasca panen dan pemasaran hasil produk pertanian masih rendah.
  5. Adanya perubahan iklim yang tidak menentu, sementara tata guna dan tata kelola air belum optimal saat ini sehingga sering terjadi gagal panen akibat kekurangan air.
  6. Akses permodalan bagi petani belum merata sehingga tak jarang sistem ijon masih banyak terjadi di masyarakat petani dengan metode yang diperlunak, misalnya dipinjami pupuk dan dibayar dengan gabah hasil panen yang dibeli dengan harga lebih rendah dari harga pasaran.
Allah SWT yang Maha Kaya menganugerahkan Negeri ini sebagai Zamrud Khatulistiwa: sawah, gunung, lautan, kekayaan alam non hayati, hutan…..semua ada di Indonesia, tapi bukan berarti tanpa persoalan ataupun bebas keruwetan. Bersama banyaknya kenikmatan tentu akan disertakan ujian untuk menempa ketahanan dan sekaligus menstimulai daya kreatifitas dalam mengoptimalkan kekayaan alam tersebut. Demikian pula dengan beberapa permasalahan [pertanian] yang saya sebutkan di atas, yang baru selapis tipis terluar dari dari keseluruhan problematika yang dihadapi bangsa ini. Berkaca pada jejak langkah, berkompromi dengan keadaan maka setiap ujian dan ketidaksenangan adalah momen yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk proses dalam aliran penciptaan baru kehidupan. Dan setiap kesulitan selalu mengandung element untuk berubah menjadi lebih sadar, dibutuhkan pengorbanan dan daya kreatifitas yang segar-baru.

Sedikit pemetaan masalah dibidang pertanian yang bisa sebutkan di atas, merupakan gambaran sekilas sebagai sampling betapa multikomplek permasalahan yang menyertai semua potensi dan kekayaan alam Indonesia. Karena bukan hanya di sektor pertanian saja, di sektor perikanan, perkebunan, perternakan, pertambangan pun memiliki PR dari-NYA, tak terkecuali hal-hal yang terkait dengan kependudukan: lapangan pekerjaan/ tingginya angka pencari kerja, masih rendahkan kualitas kesehatan, pendidikan yang belum merata, sarana prasarana publik yang belum terdistribusi secara proporsional di seluruh wilayah kepulauan NKRI, dan masih banyak lagi PR yang saat ini mengantri untuk diselesaikan.
Ketika semakin melimpah nikmat, bukankah ujian juga akan semakin banyak pula? Kenapa kok yang saya tulis hanya membahas sisi permasalahan Indonesia? Ehmmm….pembenarannya kira-kira begini, dengan aware dan awake terhadap permasalahan, maka dari situ kita bisa menentukan pola, model dan design pembangunan untuk menjadi problem solving sekaligus optimalisasi semua sumber/kekayaan alam.  Maka menjadi sangat masuk akal dan memenuhi kriteria kalkulasi akuntabilitas jika eksplorasi dan eksploitasi segala sumber alam mengacu dan berbasis pada:
  1. Berpihak pada masyarakat miskin (Pro poor)
  2. Pertumbuhan ekonomi (Pro growth)
  3. Penyerapan tenaga kerja (Pro Job)
  4. Pengembangan agroindustri/agrobisnis (Pro Bussines)
  5. Penanganan perubahan lingkungan (Pro sustainable) termasuk di dalamnya mempertahankan sesuai peruntukannya, misalnya Mempertahankan fungsi lahan pertanian yaitu menetapkan lahan-lahan pertanian (subur) sebagai area konservasi secara de jure dan de facto sehingga keberadaannya bisa dipertahankan sebagai area pertanian dan ini merupakan replacement (menurut saya) dari metode extensifikasi (menambah luas lahan pertanian dengan membuka area hutan dimana hal ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk diterapkan karena  dampaknya pada global warning).
  6. Pro Kesetaraan Gender karena selain agent of change, secara kuantitas maupun kualitas, perempuan memiliki rasio yang proporsional untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan  di berbagai bidang.
Dengan enam grand strategi pembangungan di atas, goalnya adalah output, out come dan impact untuk keberlangsungan semua sumber alam yang lestari hingga ke generasi-generasi bangsa ini NANTI dan selanjutnya, seperti yang tercermin dalam lirik lagu di bawah ini:

Indonesia kami lahir untukmu
Berkarya dan mengabdi bagimu
Bersatu untuk membangun bagi negri tercinta
Mari majulah Indonesiaku

Bersatulah semua raih kejayaan
Melengkapi dalam perbedaan
Bersatu membela merah putih tercinta
Bangkitlah Indoinesia
Buktilah pada dunia
Mari majulah Indonesiaku

Bangkitlah Indonesia, buktilah pada dunia
Bangkitlah Indonesia, Buktilah pada dunia
Mari majulah
Majulah majulah
Mari majulah Indonesiaku

video

Meresapi tiap bait lagu Bersatulah Indonesia, Cipt. Liliana Tanoesoedibjo adalah rangkuman asa dan cita untuk menuju dan mewujudkan Indonesia menjadi  negara yang besar dan berjaya. Dan semoga berabad-abad tahun ke depan Indonesia tetap bisa berkibar sebagai negara yang tangguh pangan dan industrinya serta berdaulat di semua bidangnya, bukan sebatas memorabilia dalam bait-bait lagu ataupun catatan tinta sejarah belaka.

http://abdulcholik.com/2014/07/01/kontes-unggulan-aku-dan-indonesia/

Aku dan Indonesia: Dulu, Kini, Nanti ini diikutsertakan pada  
Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia






Sources: Wikipedia Indonesia



Read More - Aku dan Indonesia: Dulu, Kini, Nanti