Bapak adalah Ayahku

Prolog: Niat awal postingan ini dalam rangka menyemarakkan perhelatan GiveAway Cah Kesesi AyuTea. Tapi setelah menyimak dengan lebih seksama dalam tempo yang secukupnya tentang isi T&Cnya, ternyata ada point yang menyebutkan: diutamakan kisah sendiri.

Meski demikian, karena niat sudah diikrarkan maka tidak bisa saya tarik lagi sehingga tetap saya posting [Alhamdulillah jika ditoleransi untuk masuk kriteria GA #Mauuunya!] . Dan Bismillahirrahmaanirrahiim here is my story [based on true story] yang saya narasikan dalam bentuk cerpen. Hope you’ll enjoy this entry.
♠♥♠♥♠♥

Pesawat telpon di meja kerjaku berdering kembali padahal baru satu menit aku meletakkan   gagang telpon tersebut,  “Iya Lia, ada apa lagi ?” tanyaku tanpa basa-basi pada sekretarisku. 
“ Maaf Pak, ada yang ingin bertemu dengan Pak Damar. Bisa saya persilahkan masuk sekarang atau…”
“ Siapa lagi? Bukannya sudah tidak ada appointment?”
“ Seorang bapak, tapi tidak mau menyebutkan namanya..” kudengar nada agak ragu di seberang telpon yang aku pegang.
Sok misterius banget, mau bertemu denganku tapi tidak mau menyebutkan identitasnya. Tapi demi mengingat didikan etika kedua orang tuaku, maka aku bilang pada Lia untuk mempersilahkan tamu itu masuk ke ruang kerjaku.
“ Assalamu’alaikum…” seorang lelaki seumuran bapak tapi sedikit lebih tinggi memasuki ruanganku. Kulitnya sawo matang, rambut agak bergelombang. Garis wajahnya mengingatkanku pada seseorang tapi aku tidak ingat sama sekali kapan dan di mana pernah melihatnya.
“ Wa’alaikum salam,” kuterima uluran tangannya,”silahkan duduk Pak..”
“ Maaf jika kedatangan saya mengganggu Nak Damar..”
Kalau boleh saya tahu bapak ini siapa dan ada keperluan apa ingin ketemu saya?” tanyaku to the point.
Lelaki itu tidak langsung menjawab, kulihat seberkas gundah menghiasi wajahnya yang mulai terpahati keriput di beberapa bagian.
“ Sangat wajar jika Nak Damar tidak mengenaliku, sama halnya aku juga tidak akan tahu bagaimana rupa Damar kecil yang telah kutinggalkan 24 tahun silam…”
“ Maksud Bapak…?” perasaan aneh, gugup dan bingung serta merta membadai di dadaku. Apakah dia….?
“ Iya aku ayahmu…” satu kalimat yang cukup membuat bumi terasa berhenti berputar. Aku terdiam dalam keterpanaan tiada terkira, terkejut dan ingin tidak mempercayai ucapannya. Tapi ingatanku yang langsung mendarat pada selembar foto yang pernah ditunjukkan Embah saat aku SMA adalah pembenaran yang tak bisa ku tolak.
Bippp...bippp...suara handphone menghentikan lamunanku tentang pertemuan kemarin sore dengan lelaki yang menyebut dirinya ayahku. Kulihat layar dan tampak nama Prastama muncul dilayar. Aku tak berminat mengangkatnya karena adikku itu pasti akan mencerca dengan banyak pertanyaan kenapa dan untuk apa aku tiba-tiba mau pulang ke Surabaya lagi padahal belum ada seminggu berada di Jakarta. Sebagai gantinya kukirimkan pesan singkat agar besok menjemputku di Juanda.
♠♥♠♥♠♥
 “ Bapak mana, Buk?” tanyaku begitu masuk rumah dan mencium tangan ibu.
“ Kamu ini ada apa? Tiba-tiba pulang lagi dan langsung nanyain bapakmu “ protes ibu sambil mengacak rambutku, kebiasaan ibu jika gemas padaku. “ cuci kaki dan minum teh dulu. Jam segini bapakmu ya bersama taxinya, apa lupa kalau pekerjaan bapakmu itu sopir taxi?”
“ Lha bapak sih ngeyel, suruh berhenti jadi sopir tidak mau. Sekarang aku sudah kerja dan Andi sudah lulus kuliah. Hanya tinggal Prastama yang harus dibiayai, aku sanggup bayari kuliahnya”.
“ Kamu ini datang-datang bicara ngalor-ngidul gak jelas begitu? Ada apa sih, Mar? Apa kamu malu punya bapak jadi sopir taxi? ”
Astagfirullah, kok jadi salah paham begini ? Ibuk tahu jika Damar sangat menghargai dan kagum dengan bapak kan ?” aku berusaha meredamkan perasaan ibu, merangkul pundaknya dan mencium keningnya dengan lembut. “ Bagi Damar, bapak adalah ayah terhebat di dunia, jadi tidak ada alasan buat Damar untuk malu dengan pekerjaannya sebagai sopir “.
“ Iya ibuk heran tiba-tiba kamu pulang lagi dan baru satu menit masuk rumah sudah bicara yang membingungkan seperti orang kesambet gitu “.
Ya Allah, aku tak sanggup mengatakan pada ibuk kenapa aku mendadak pulang lagi. Menceritakan pertemuanku dengan lelaki yang sudah menelantarkannya tanpa jejak demi menikah dengan wanita selingkuhannya, bahkan untuk memperjelas status pernikahannya ibuk harus bersusah payah sendiri mengurus surat cerai tanpa kehadiran lelaki itu. Jiwa besarnya mungkin sudah memaafkan lelaki tersebut, tapi aku yang tidak tega untuk melihat Ibu harus berperang kembali dengan desir luka karena aku membangkitkan lagi gores kelamluka masa lalunya.

Aku memandang pigura yang menggantung di tembok, foto kami sekeluarga saat acara wisudaku beberapa tahun lalu. Ada bapak, ibu dan kedua adikku, sungguh potret keluarga utuh yang harmonis. Dan kenyataanya keharmonisan itu tak hanya tampak di foto. Dengan bekerja sebagai sopir taxi dan dibantu ibu yang melayani pesanan kue, mereka membesarkan kami bertiga dalam kesederhanaan di tengah kerasnya kehidupan kota Surabaya dan mampu mengantarkan kami sampai jenjang kuliah. 
Bapak menikah dengan Ibu yang janda beranak satu yaitu diriku. Sebenarnya saat itu bapak kerja di sebuah perusahaan tapi karena mengalami kebangkrutan akhirnya bapak kena PHK sehingga harus mencari pekerjaan lain dan jadi sopir taxi sampai sekarang. Aku hanya mengenal Bapak sebagai ayahku, karena yang aku tahu dari cerita sekilas, ayah kandungku sudah meninggalkan ibu sejak aku belum genap berumur setahun. Dan kenyataan itu tidak pernah menggangu karena sikap serta kasih sayang yang dicurahkan bapak tidak ada yang berbeda kepada kami bertiga. Lingkungan sekitarpun bukan tipical tokoh-tokoh dalam cerita sinetron yang usil terhadap bentuk hubungan anak dan ayah/ibu yang tidak sedarah.
“ Kamu kenapa? Kok dari tadi mandangi foto itu? “.
Aku menoleh dan tersenyum pada ibu “ Coba lihat di foto itu, bapak kelihatan kelihatan keren kan Buk? Hehehe…”
“ Dari tadi bapakmu terus yang kamu omongin, Mar “ selidik ibu dengan instink ingin tahunya.
“ Ibuk bisa saja “, elakku sekenanya “ Damar mau istirahat dulu Buk..
♠♥♠♥♠♥

Semilir angin sore yang meniup perlahan, menawarkan kesegaran tersendiri dengan aroma basah sisa hujan beberapa jam lalu. Duduk pada salah satu sudut tribun di Stadion Tambaksari, melayangkan pandangan ke tengah lapangan. Tampak beberapa anak sedang asyik main bola dengan keriangannya yang tanpa beban. Pemandangan yang menerbangkan ingatan pada masa kanak-kanakku.
Tak terasa sudah delapan belas tahun berlalu saat bapak setiap hari minggu mengajakku main bola di lapangan ini. Bersama kedua anak kandungnya dan aku yang lahir dari benih laki-laki lain tapi bapak menyayangiku dengan demikian tulusnya sehingga aku tak pernah merasakan jika dia bukan ayah kandungku.
Bapak yang mengajariku naik sepeda, menemaniku main bola dan membuatkan aku layang-layang. Bapak yang panik saat aku diserempet sepeda motor, bapak yang meredamkan amarah Ibu waktu tahu aku coba-coba merokok. Terlalu banyak kenangan dan tak bisa aku sebutkan satu persatu betapa bapak sudah menempatkan dirinya sebagai sosok ayah yang luar biasa bagiku. Dan yang membuatku aku lebih bangga lagi, semarah apapun bapak tidak pernah sampai menurunkan tangan pada kami.
“ Menangis itu normal Mar, tapi jadi laki-laki cengeng itu yang salah besar..” nasehatnya ketika aku jatuh saat belajar naik sepeda.
“ Kenapa cengeng itu salah, Pak?” tanyaku kala itu.
“ Karena cengeng itu artinya kamu lemah, kamu tidak hebat…” dengan bahasanya bapak mencoba memberi penjelasan yang bisa diterima oleh nalar kanak-kanakku.
Dedauanan hijau yang masih basah oleh sisa air hujan, beberapa butirnya jatuh di tubuhku saat angin bertiup perlahan. Kupejamkan mata, merasakan romantisme suasana di stadion ini sambil mengenang kembali setiap kenangan masa-masa aku sering bermain di lapangan ini.
“ Damar…” sapaan suara yang teramat aku kenal, menghentikan laju lamunanku. Perlahan kubuka kelopak mataku, menoleh ke samping dan kudapati sosok lelaki yang akrab aku panggil bapak sudah duduk dengan santai. Senyumnya mengembang di antara kumis tipisnya yang kelihatan habis dicukur.
Kucium tangannya dengan takzim “ Kok Bapak tahu Damar di sini?”
“ Di sini kamu dulu suka menghabiskan waktu untuk bermain, dan di sini pula kamu biasa menyendiri jika ada masalah kan?”
Yah, tentu saja bapak dengan mudah bisa menemukan aku di sini karena dia sedemikian paham dan hafal akan semua kebiasaanku.
“ Apa dia sudah menemuimu, Mar? Dan karena itu kamu tiba-tiba pulang dan mau minta penjelasan sama Bapak, kenapa memberitahu dia tentang alamatmu di Jakarta?” tanya bapak langsung pada pokok dilema hati yang aku alami.
“ Damar bingung, Pak. Antara kecewa, sedih dan ingin marah…andai bisa di hapus, Damar akan lebih mudah untuk memilih menghapus jejaknya dalam hidup Damar “.
“ Hushh, jangan ngawur gitu kalau ngomong..”
“ Dan Bapak, kenapa memberitahukan alamat Damar ?”
Bapak menatapku dalam-dalam, seolah hendak menyelami isi hatiku dan sesaat kemudian melemparkan pandangannya lurus ke tengah lapangan.
“ Karena Bapak tahu bagaimana hati seorang ayah untuk anaknya..”
“ Hanya karena dia kebetulan yang menyebabkan aku lahir? Kemudian pergi tanpa rasa tanggung jawab sedikitpun, tidak perduli istri dan anaknya masih hidup atau tidak? Itu yang di sebut hati seorang ayah?”
“ Bapak mengerti perasaanmu, Mar. Tapi dia tetap ayah kandungmu yang harus kau hormati “
“ Dan kalau aku tidak bisa menghormatinya maka aku di sebut anak durhaka ya kan Pak? Kenapa dia tidak di sebut ayah durhaka ?”
“ Damar..!” pintas bapak dengan intonasi agak tinggi.
“ Maaf, Damar tidak bermaksud kasar..”
Bapak menghela nafas  panjang dan merangkul pundakku dengan kasih.
“ Bapak tahu tidak mudah bagimu untuk menerima kenyataan bahwa kau harus menghormati dia. Dan asal kau tahu inipun salah satu resiko tidak mudah yang harus Bapak hadapi ketika memutuskan menikah dengan ibukmu “
“ Maksud Bapak?”
“ Aku yang membesarkan dan selalu ada buatmu..bagiku kau sudah menjadi anak kandungku. Tapi kenyataannya ada laki-laki lain yang jelas-jelas adalah ayah kandungmu ? Dan bapak tidak mungkin meniadakan fakta itu. Sangat tidak mudah buat bapak, Mar. Dengan menekan rasa cemburu dan ego, bapak meyakinkan ibukmu agar mau memperkenalkan kamu dengan keluarga ayahmu demi hubungan silaturahim tidak terputus..”
“ Iya, Damar sama-samar masih ingat. Dulu ibuk sesekali mengajak Damar ke rumah orang yang menyebutkan dirinya sebagai Eyang. Tapi laki-laki itu tak pernah muncul menemui Damar di sana Pak...” jawabku dengan nada suara serak. Ada rasa nelangsa saat mengingat betapa ibu sudah berlapang hati menapak tilas keluarga 'mantan' suaminya agar aku mengenal siapa saja keluarga besar ayah kandungku. Dan kenyataannya lelaki tersebut tak pernah menampakkan batang hidungnya  meski hanya sesaat. Dan ibu pun akhirnya harus mengikhlaskan jika lelaki itu tak ingin bertemu anak kandungnya. Menginjak SMP, ibu berhenti mengajakku mengunjungi keluarga besar itu karena orang yang membahasakan dirinya dengan sebutan Eyang sudah meninggal.   
“ Dan tidak mudah bagi  Bapak saat harus berbesar hati memberikan alamatmu ketika dia datang menemui bapak, Mar. Tapi bapak harus realistis, walau bagaimana tidak ada istilah mantan orang tua bagi anaknya kan?”
Aku terdiam menyimak kalimat demi kalimat yang di ucapkan bapak, berusaha meresapi dan mengendapkannya dalam hati serta meredam emosiku.
“ Sisi manusiawi bapak tidak rela, tiba-tiba dia muncul dan ingin di anggap sebagai ayah kandungmu. Tapi bapak akan jadi sosok ayah yang gagal mendidikmu jika bapak sendiri tidak mampu bersikap gentlemen dengan memberikan apa yang menjadi hak bagi kalian sebagai anak dan ayah..”

Aku terhenyak, trenyuh dalam palung haru yang terdalam. Sedemikian luar biasanya jiwa besar bapak. Dia yang sudah bersusah payah berselimut suka dan duka untuk membesarkan aku yang jelas-jelas bukan darah dagingnya, melimpahiku dengan perhatian dan kasih sayang. Dan dia berbesar hati meyakinkaku agar bisa menerima laki-laki yang mengaku sebagai ayah karena sebagian darahnya mengalir dalam tubuhku.
“ Terima kasih, bapak adalah ayahku yang terhebat” kupeluk bapak dengan sangat erat. Jika tidak ingat ini di lapangan, mungkin air mataku sudah menetes perlahan.
“ Jadi bagaimana..?”
“ Damar tidak akan mengecewakan bapak “ jawabku dengan suara serak “ Damar akan berusaha bersikap sportif terhadap ayah kandung Damar tapi Damar tidak bisa janji kalau hubungan kami akan cepat akrab “
“ Maksudmu, Mar?”
“ Hampir dua puluh lima tahun sejak kepergiannya meninggalkan Damar, tidak bisa di tebus dengan hitungan hari atau bulan untuk melahirkan hubungan emosional antara ayah dan anak..”
“ Iya Bapak mengerti, yang penting kamu bisa memaafkan dia saja dulu..”
“ Bapak sendiri yang suka bilang pada Damar bahwa tidak ada yang instant di dunia ini. Semua butuh proses dan waktu kan ?”
“ Ya sudah, sekarang ayo kita pulang. Ibukmu sudah masak nasi goreng kesukaanmu lho?”
Dan kenyataannya hubungan nasab antara orang tua dan anak memang tak akan terputus mulai masa lalu, sekarang dan nanti, apalagi ada adik perempuan hasil pernikahan ayahku dengan wanita itu....hubungan bertali darah ini akan terus merentang selamanya, demikian serangkum bisikan hati yang memberikan energi proaktif dan kucoba tanamkan dalam mindsetku selain pattern yang tak akan tergeser lagi bahwa Bapak adalah ayahku.
Kami pun beranjak dari stadion dengan diiringi sayup-sayup suara adzan Maghrib, menggema memecahkan langit Surabaya. Warna jingga mulai semburat di sisi barat dan angin senja pun seolah  berhenti sejenak untuk menjawab seruan suara muadzzin yang merdu mengumandangkan panggilan untuk menyeru pada Allah Azza wa Jalla dalam sujud demi sujud yang khusyu.

♠♥♠♥♠♥ End ♠♥♠♥♠♥

Tidak ada yang bisa mengubah dan menghindari masa lalu,
tapi selalu ada pilihan untuk memperbaiki reaksi serta sikap kita sekarang terhadap segala yang telah terjadi demi hari esok yang lebih baik.





"Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Cah Kesesi AyuTea 
yang diselenggarakan oleh Noorma Fitriana M. Zain".







Ririe Khayan

Assalamulaikum. Hi I am Ririe Khayan a Lifestyle Blogger and live in Jogya. I’m the Author Of Kidung Kinanthi, a Personal Blog about my random thought, parenting, traveling, lifestyle, & other activity as well as Personal & Working Mom Story. Kindly feel free to contact me at: ririekhayan(at)gmail(dot)com

119 comments:

  1. Wezeeeehhhh... mengharukan. @_@
    Semoga menang ya mbak \:D/
    Typo typo, panic, patern. Ada inkonsistensi ibu atau ibuk,sama tadi di awal katanya ditinggalkan 27 tahun kok di bawah 25 tahun...

    ReplyDelete
    Replies
    1. For dear my editor,
      Terima kasih ya koreksinya.
      1. Panic ~ automatic dr MS word neh [nulisnya sudah panik tapi berubah jadi panic dan saat finishing terlewatkan dari pandangan]
      2. Patern ~ kurang 1 huruf "t" = maksudku 'Pattern' {segera ta edit lagi]
      3. Asli terjadi inkonsistensi..

      Terima kasiih, di tunggu saran-kritik selanjutnya yaa....

      Delete
    2. Oia, yang Asli terjadi inkonsistensi untuk 27 tahun..[sang tokoh ta perform'kan usia 25 tahun]

      Dan tentang penulisan Ibuk dan Ibu...untuk versi dialog, sengaja ta gunakan 'ibuk' dengan maksud untuk 'lively' percakapan.
      Dan ketika di luar konteks dialog, penulisan ta kembalikan pada format EYD [ beginilah penafsiran penulis cerpen amatir]

      Delete
    3. hmmm, masngut-manggut, tupang kaki- nyeruput kopi ...

      Delete
    4. Mana siniii bayaran untuk editorrr...
      Yang gak dialog dalam tanda petik juga ada yang Ibuk kok itu, huekekeke... =p

      Delete
    5. wah hebat di baca dengan teliti... pantas jadi editor nih... ceritanya menyentuh nih...

      Delete
    6. @ Una: Masih ada ya? nah itulah gunanya editor utk betulin yg masih keliru termasuk penuliannya..

      @ applausr: Iyapp..Una mbakat jd editor bangedss

      Delete
  2. Jadi kakeknya mbak riri yg dari bapak ada 2 ya mbak hehe...

    Bagus mbak translate kisah nyatanya menjadi cerpen yg apik :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hohohohoho...ini bukan kisah tentang 2 kakek saya. Lha masak eranya kakek saya sudah ada taxi? Masih jaman penjajahan lho kakek saya?

      Delete
  3. ayahku adalah bapakku ...judulny abaus luvcuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. justru dr judulnya yg unik buat sy penasaran smpe baca smpe abis...cerpen yg sgt bagus dan penuh dgn nilai

      Delete
    2. hehehe..judulnya sempat terbca 'aneh' ya..

      Delete
  4. Waaah perjalanan ceritanya apik tenan ka menyentuh -___-

    ReplyDelete
    Replies
    1. menoba menarasikan sebuah kisah dalam cerita sealian belajar menulis cerpen...thx ya atas apresiasinya

      Delete
  5. ceritanya jadi keren banget di jadiinn cerpen kayak gini ..
    sukses dengan kontesnya ya ..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, yang penting bisa ikutan menyemarakkan GAnya.

      Delete
  6. semoga menang mbak..
    btw,,foto langitnya bagus ..
    :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya itu foto permukaan laut yang bertemu dengan langin pada garis horizon [pandangan] cakrawala...

      Delete
  7. postingannya sangaat keren, saya yakin penulis ini pasti oranga profesional ....hehehe....ya tentu saja cerita ini sungguh menarik, bahkan barusan saya baca ... seolah..olah itu aku...hahaha....
    ini luar biasa, cerita menarik
    oke .....terima kasih
    wasalam......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejujurnya penulisnya masih amatir dalam merangkai tulisan dala format cerpen, Pak.

      Delete
    2. Iya dunk...kalau dah profesioanl mungkin dah rilis novel lho?

      Delete
  8. Banyak kisah nyata seperti inni. Ayah kandung yang meninggalkan anaknya dan ayah sambung yang merawat,mendidik dan menjadikan seseorang sukses.

    Salam hangat dari Galaxi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan kenyataan yang jamak terjadi di sekitar kita ketika terjadi 'perpisahan' sepasang suami istri, seakan tanggung jawab anak adalah kewajiban sang Ibu dan si Ayah tak mau tahu.

      Salam hangat untuk Pakdhe dan keluarga di Galaxy

      Delete
  9. GA nya dikemas unik, sukses ya mba.. btw Ibuk atau Ibu hayooo :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau di kampung biasa logatnya medog.

      Delete
    2. @ NF: Ibuk ~ dalam konteks dialog; Ibu ~ untuk non dialog

      @ Djangkaru : Yups, biar konteks dialognya lebih hidup jadi ta bahasakan seperti sehari-hari

      Delete
    3. ooo gitu, baru tahu :)

      Delete
  10. Replies
    1. Ayah ya Pak'e lah...[panggilan untuk ayah saya]

      Delete
    2. Pak'e sama Mak'e [pangilanku untuk beliau Kak] hehehe

      Delete
    3. kalu utk ibu saya manggilnya 'Mbok'e' lho?

      Delete
  11. kunjungan lagi... nyimak dulu ah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tengkyuuuu dah berkunjng lagi, silahkan menyimak dan jangan lupa di minum kopinya ya?

      Delete
  12. Anak tetap harus berbakti kepada orang tua , walaupun orang tua tidak seideal yang kita dambakan.
    Mungkin Damar di uji seberapa dia tangguh berbaktinya pada orang tuanya.
    Kejelekan/keburukan hanya bisa di lembutkan dengan kebaikan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. YUPS, sebuah pilihan sikap yang tdk mudah manakala sang orang tua pergi tanpa jejak dan kepedulian..

      Delete
  13. kenapa air mata ku menetes yaa mbak..?
    ketika aku baca tulisan ini :

    “ Aku yang membesarkan dan selalu ada buatmu..bagiku kau sudah menjadi anak kandungku. Tapi kenyataannya ada laki-laki lain yang jelas-jelas adalah ayah kandungmu ? Dan bapak tidak mungkin meniadakan fakta itu. Sangat tidak mudah buat bapak, Mar. Dengan menekan rasa cemburu dan ego, bapak meyakinkan ibukmu agar mau memperkenalkan kamu dengan keluarga ayahmu demi hubungan silaturahim agar tidak putus..”

    haruuuuuuuuuu :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. kok aku bingung yaa mbak..

      apa mbak lum mendaftarkan ke kotak komentar?
      soalnya gak tau kebanyakan komentar jadi bingung and ada yang ke skip sendiri gitu.,.

      tapi mbak udah jadi peserta GA ku kok.. makasih yaa :D

      Delete
    2. So surprise...sudah diterima sebagai peserta, padahal saya belum daftar. terima kasih Mbak, diijinkan masuk daftar peserta, meskipun postingan ini bikin pola dengan sedikit berimprovisasi dr T&Cnya...

      Delete
  14. Sungguh tokoh Bapak ini sangat bijak, dan menyadari kewajibannya sebagai orang tua, yakni memberikan yang terbaik bagi seorang anak untuk berbakti kepada bapak biologisnya.
    Sebuah cerpen yang memukau, dengan ritma yang mengalir tanpa paksaan!
    Salam sahabat....
    Semoga ridho Allah senantiasa menyertaimu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hubungan darah yang tak mungkin terputus sepanjang masa bahan sampai kelak di akherat. Bahkan seburuk apapun....anak tetap harus bisa berjiwa besar menempatkannya sebagai orang tuanya

      Delete
  15. hmm... sukses mba' GA nya! sukses juga membuat hati saya jadi melankolis :D

    ReplyDelete
  16. wwaahhh.. semoga menang mbakkkk ... kalo dapet hadiah aku juga di kasih yaa.. wkwkwkwk... kalo ceritanya keren mbak. bisa jadi nasehat bisa jadi motivasi ....maju terus mbak.. bdw. gak kebagean spam obat nih mbak???hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Boleh..nanti kalau menang ta bagiin tapi harus di ambil ke sini ya?

      Delete
  17. semoga menag GAnya mbak, asyik membaca tulisan ini. bagaimanapun si anak berhak tahu siapa orang tua biologis yang sebenarnya perkara menerima tidak menerima, lapang tidak lapang adalah urusan belakang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yups, hubungan darah tak akan putus oleh sebab apapun. Tapi ikatan kasih sayang hanya terbentuk oleh adany kasih -sayang yg diberikan oleh orang tua yg membesarkannya.

      Delete
  18. kisah nyata mengharukan yang dikemas apik oleh seorang Ririe Khayan.. keren dan menjadi pembelajaran bagi kita semua. Bahwa setiap manusia sebenarnya memiliki sifat pemaaf dan berjiwa besar di dalam dirinya masing-masing. Hanya saja, sejauh mana kita mampu mengoptimalkan jatah maaf yang ada di hati terhadap seseorang yang telah mengecewakan kita dan sejauh apa kemampuan untuk berjiwa besar, menghadapi kenyataan pahit yang pastinya akan dimiliki setiap anak manusia.

    Pembelajaran berharga dari sebuah kisah nyata yang dikemas begitu apik dalam sebuah fiksi. Keren Rie, semoga menang yaaa..... good luck sist!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beruahalah menjadi samudera [bukan gelas], agar bisa memaafkan kesalahan orang lain. Meskipun dengan kata maaf tak mungkin bisa mengembalikan masa-masa yang seharusnya dipenuhi kehadiran peran dan kasih-sayang sang ayah kandung. Dan pada porsinya, kedekatan hubungan emosional [meskipun ada ikatan darah yg demikian kental] tak bisa dengan mudah terbentuk keakrabannya

      Delete
  19. terus berkarya...

    mari tukaran link... linknya uda kami ambil...

    ReplyDelete
  20. Sukses untuk GA nya. submid info kontes, lomba atau GA Anda di http://info-lomba-kontes-terbaru.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasihh, minimal bisa latihan menulis yg lebih baikkk..

      Delete
  21. Jadi? Jadi? Ini kisah nyata? Kirain cuma ada cerita begini di sinetron...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kisah seprti ini, dimana anak tdk mengenal ayahibu kandungnya banyak lho? Hanya saja 'scene'nya gak lebay kayak di sinetron, semuanya berjalan wajar seprti hubungan lainnya. Kalau si anak bikin salah ya tetap dimarahi secukupnya sj.

      Delete
  22. Ini berdasarkan pengalamannya mbak? Sedih banget sumpah dah... -_-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini kisah nyata dr seseorang yg saya kenal dengan dekat banget...I knew him since he was born

      Delete
  23. ah ,gak mau komen macem-macem, mau baca aja, terus liat2 komentar orang (masa setan), hihihihi seru ya :D
    eh, komenku jangan di anggap spam lho :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lha tulisan ini bukan comment ya mas...

      Aku gk bakal nganggap SPAM comment mas Stumon...biasa kualat nanti...heheheh

      Delete
  24. wah apik bgt jeng critanya.. ditulis dgn apik pula. Mengharukan.. huhuu..
    smoga menang ya GAnya.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg penting bisa ikut menyemarakkan GAnya dulu Mbak..

      Delete
  25. Kok ceritanya sama persis sama kehidupanku. Cuma bedanya ibu sudah meninggal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau case'nya karena meninggal merupakan takdir, sesuatu yang tak bisa dihindari. TApi kalau orang tua meninggalkan anaknya demi selingkuhannya jelaas merupakan 'luka' tersendiri pbagi keluarga yg ditelantarkan

      Delete
  26. So toucyh Mbak Riri, sukses GA-nya ya :)

    ReplyDelete
  27. bagus mbak ^^d cerita ngalir dan mengharukan. sukses GAnya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. di bagian endingnya yg masih terkesan 'tergesa-gesa' kayaknya Mbak..

      Delete
  28. sukses ya mbak dgn kontesnya

    ReplyDelete
  29. mengharukan.... saya jadi teringat kampung halaman di lampung sana :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. oooo..kampungnya di Lampung ya? sama dunk, saya juga lampung= Lamongan Kampung sey...whahahah

      Delete
  30. wahh.. gitu yah... sukses sekalian deh buat GA nya mbak :)

    ReplyDelete
  31. hmm,, ternyata emng bakat ya buat novel,,di tunggu karya2 selanjutnya yg berbentuk narasi,,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wokkkeeey, nanti kalau aku bikin novel, berarti MAs bakal ngeborong ya...#dasarrrr

      Delete
  32. mmg klo bakat penulis yah mbak, ide dan bahasanya cemerlang pisan euy. kalimat pamungkas di bgian akhir juga keren betul.

    congrats buat GAnya, mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalimat akhir di pamungkas salah satu kalimat sakti saya jika lg ngobrol ngomongin masa lalu...hehehehe

      Delete
  33. subhanallah....walaupun bukan ayah kandung tapi cinta kasihnya bisa melebihi ayah kandungnya sekalipun
    dan Ririe sukses banget membuat cerita ini menjadi sebuah tulisan yang sangat indah

    sukses kontesnya ya Riee.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya MBak, bahkan kalu versi aslinya si ayah kandung sampai sekarang belum pernah muncul utk menemui si anak tersebut. Dalam jejak rekam si anak juga tak mengingat apapun ttg sosok ayah kandungnya. Dan saya salut, karena si Anak bisa 'mengabaikan' fakta bhw si ayah kandung tak memeperdulikannya..tak ada dendam maupun marah...dgn singkat kata, no emotional ttg ayah kandngnya.

      Delete
  34. Well done, mbak Rie! Tiba2 jadi narator handal! Eksak [ikutan] tiba2 jd Damar bgt! Ada 2 bpk dan 2 ibuk dlm kehidupanku... Tapi sosok bijak dan elegan orang tua akan selalu melekat pada siapapun yg jadi anaknya.,.. Tinggal siapa yg ada di samping kita dan selalu ada buat kita!

    Moga sukses GA-nya, mbak! ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. In this case...si Damar juga punya 2 ibu dan 2 ayah [karena ayah kandungnya meninggalkann demi menikahi si WIL]. dan benar pula siapa sosok orang tua yg sebenarnya adalah siapa yg berada utk si anak dalam suka dan dukanya. Sebatas formalitas hubungan darah...just for him know sebatas kenyataan ttg nasab ayah kandungnya. Secara aktualnya..baginya Bapaknyalah sebagai ayahnya, org yg ada untuknya sejak kecil

      Delete
  35. setelah membaca postingan ini saya malah jadi berfikir, jangan-jangan tulisan yang saya ikutkan di kontes Mbak Noorma tidak nyambung dengan persyaratan yang diminta.

    Semoga sukses ya, Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehee...santai saja Mas, saya ini sengaja menyimpang dr pakem kayaknya kok. Lha saya ambil cerita orang lin gini...

      Sukses juag buat Mas Abi

      Delete
  36. Waduh mba cerita bapak mba diatas bikin saya teringat ma almarhum bapak saya, bapak kita emang taida duanya didunia dengan memeras keringat dia berusaha ingin membahagiakan anak-anaknya atau keluarganya, hadah jadi bikin nangis dah saya kangen babah, semoga babah ditempatkan ditempat paling indah disisi Allah swt amin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Turut mendoakn semoga babahnya diterima di sisiNYA, Amiin:)

      Delete
  37. Kalo aku jadi jurinya, menang deh Rie :) ekalian aja di kirim ke majalah, siapa tahu dimuat Rie :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. asyik-asyiikk...menag neh dr mbak hany, ta tunggu hadiahnya ya Mbak, patung liberty saja cukup kok...#kurang ajar!

      Delete
  38. Udah banyak yang bilang ini mengharukan ya? Huh.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga tdk hanya megharukan..tapi memberikan wacana bagaimana kita bisa mensikapai masa lalu dengan labih baik

      Delete
  39. koq cerita si damar ini hampir mirip banget dengan cerita kehidupan temen gue namanya Tatho, cuman tatho ini bapak ibu yg ngebesarin dia adalah ortu tirinya, ortu kandung & sodaranya ada sih!! btw, good luck semoga menang kontesnya mbak!

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak kisah yg seperti ini...[oint yg ingin saya sampaikan adalah betapaun crowded masa lalu..kita msh bs mensikapinya dgn bijaksana

      Delete
  40. hmm.. lagi lagi... sys ketinggalan jauh trus nih ma komentarnya di Blog Mba Ririe.. :D kagak pernah masuk 10/20 besar.. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. santai saja sob, komentaror berapaun saya tetap seneng kok, jd happy blogging yaaa

      Delete
  41. Mau komen apa kesini ya bingung Kak, benar² bingung hehehe

    Cerita yang Kak Ririe tulis ini banyak terjadi dikehidupan masyrakat kita, terkadang banyak yang tersimpan rapi tapi pas gede semuanya terbuka begitu saja seperti sudah diatur olehNya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau soal di atur OlehNYA..itu pasti. It's closed variable, tak ada hal yg diluar kehendakNYA.

      Delete
  42. jadi pengen mewek nih mbak saat baca cerita ini....luar biasa bijaknya ya si bapak ini, meskipun sudah membesarkan damar bertahun-tahun namun beliau masih mau menunjukkan ke damar siapa ayah kandungnya.

    tapi kalo saya jadi damar, saya pasti akan lebih merasa nyaman bila bersama ayah tiri saja mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagi 'Damar' ayahnya ya si bapak sambungnya. Karena ketika si bapak menewari 'Damar' utk ketemu dgn ayah kandungnya, dia hanya bilang: Bapakku ya bapak..

      Baginya ayah kandungnya hanya sebagai perantara ia lahir ke dunia, dia menghormatinya hanya sebatas itu..

      Delete
  43. Hikss...terharuuu :|

    GA nye uapik mba yu.. kayaknye mba yang bakal memang ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. # sodorin tisyuuu


      Yg penting lagi bisa berpartisipasi...hehehehe

      Delete
  44. tarik napas dulu...aaaah...

    aduh mba, nulisnya opo gak capek?puanjang bgt.. :D
    tp endingnya nyenengin,
    meski awalnya cukup haru, gak pake bersambung kan? waduh ngbayangin gmn kalo bersambung? nulisnya capek gak mba? itu byk kata yg slh ketik atw emang sengaja?
    semoga menang deh...
    penasaran, aku mau maen ke yg empunya GA ah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. #jangan lama-lama klo tarik napas

      Nulisnya apa gak capek? Lha tiap bikin postingan kan juga nulis, sperti blogger lainnya termasuk dirimu juga nulis kan kalau posting di blog?
      Selama ada ide ya nulis deh mengalir...kalau capek ya isttirahat deh

      Delete
  45. gencar yaaa masih ikutan GA kak..
    semoga menang hihhi..

    suka susah mengambil pelajaran dari masa lalu, terkadang masih terkena masalah yang mirip, walaupun tak sama...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikut GA jika memang punya 'materi'nya utk ikutan..selain utk menyemarakkan dan latihan menulis secara tematik..

      Selalu ada pelajaran yg bisa dipetik dr masa lalu utk di kehidupan sekarang dan esok yg lebih baik

      Delete
  46. terus posting artikelnya,..it's interesting...salam kenal mbk.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kali ini postingan saya bukan ttg artikel, tapi naratif sebuah kisah lho?

      Delete
  47. Semoga menang dengan kontes give awaynya...

    Peran seorang ayah memang sangat berarti bagi sang anak, karena kita bisa benyak belajar dari sosok ayah dan juga sosok seorang ibu.

    ReplyDelete
  48. ada yaa mbak ayah kayak gtu , kyak di sinetron2 yaa....

    sukses kontes nya mbak rie :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. So many life story like this...tapi reaksinya tentu TIDAK lebay kayak di sinetron. Kalau ada salah pada anak dimarahi ya iya tapi secukupnya saja

      Delete
  49. Berbagai kisah nyata bisa dinarasikan untuk menjadi pembelajaran bagi yang lain

    ReplyDelete
  50. Whahahhaa...seneng deh sering hadir di sini. Happy blogging ya..

    ReplyDelete
  51. bagus sekali mb....ceritanya
    sampe "mbrebes" je...xixii

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, atas ketidaknyamanan MODERASI Komentar.

Maaf ya, komentar yang terindikasi SPAM atau mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan.

So, be wise and stay friendly.