WHAT'S NEW?
Loading...

Tempeleng

Bismillahirrahmaanirrahiim, Ini tentang sebuah peristiwa ‘sesaat’ tapi cukup membuat ‘shocking theraphy’ bagi saya. Peristiwa yang secara tidak sengaja pernah saya jumpai di suatu ketika [di negeri atas angin dan jaman antah berantah]. Kala itu, ketika untuk sekian tahun saya tidak pernah mendengar kata “tempeleng” diucapkan langsung atau sengaja ditujukan pada diri saya, kalau toh saya pernah mendengarnya juga secara tak terhindarkan telinga saya mendengarnya saat ada orang  bertengkar pada doeloe kala.

Ketika saya mendengar kalimat yang diselipi kata “tempeleng” di jaman antah berantah itu, saya berasumsi telinga ini salah dengar...saya meyakinkan diri bahwa kalimat tersebut tidak serius. Iyah, saya beranggapan kalimat “ Nanti kamu tak Tempeleng!” aselinya sekedar bercanda terlebih itu diucapkan   oleh seorang ayah pada putri kecilnya yang berusia sekira 4 tahun.

Hehehe...feature-nya gak nyambungg....
Namun ketika saya melihatnya langsung, serta-merta ada ketakutan, ngeri, juga sedikit gemetar menghinggapi diri saya karena ternyata si Ayah tersebut tidak sedang bercanda! Saya mengira dan berharap ‘little accident’ itu hanya sesaat saja. Tapi ternyata masih berkelanjutan..nyata sekali saya melihat ekspresi sang Ayah yang penuh amarah dan menakutkan sehingga si anak spontan menangis. Dan melihat si anak menangis, bukannya amarahnya reda tapi justru diperjelas dengan beberapa kalimat lagi hingga sang Mama langsung menggendong putri kecilnya serta berusaha meredakan letupan emosi suaminya. Dan saya pun tak berani berlama-lama jadi penonton tak diundang, dengan agak tergesa-gesa pun saya segera berlalu dari some where no where tersebut, tidak berani memamerkan senyum untuk menyapa atau sekedar membunyikan klakson pada kucing yang sedang melintas.

Kejadian di negeri antah berantah tersebut, bukan hanya sukses membuat saya merasa tidak enak/serba salah telah terikutkan melihatnya, deeply saya merasa takut dan ngeri, ehmmmagak gemetar juga sey, maklum meski saya sering kena omelan ortu atau bentakan senior saat jaman Bakti Kampus [OSPEK]  tapi tidak pernah sampai terselipkan kata ‘tempeleng’ yang dilafalkan demikian sangat fasihnya!  

Banyak pertanyaan dan rasa tak percaya jika saya mendengar kata “tempeleng” [after so long time ago] dan terlebih ditujukan pada sesosok makhluk mungil yang lucu dan imut-imut. Saya juga tidak sanggup membayangkan jika saya adalah si Obyek yang menerima kata ‘sakti’ tersebut.


95 comments: Leave Your Comments

  1. saya juga gemas membaca ini Mbak. kebiasaan di lingkungan si ayah tu pasti yang kebawa di lingkungan keluarganya. harusnya bisa ucapkan goodbye untuk semua dunia serapah sampahnya sebelum berumah tangga yang beresensi mulia. sungguh parah dan sangat disayangkan sebuah ketidaksiapan mental itu. kecaman dan sekaligus doa agar segera berubah dari saya, if any.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya kurang tahu spt apa lingkungan keluarganya Pak, tp apapun dan bagaimanapun...[ini penalaran logis saya yg blm pengalaman jd ortu], mestinya semarah apapun ortu pd anak harusnya msh ada sisi kasih sayangnya shg msh bisa keep control their speech/action. Apalagi si anak masih kecil...rasanya kok gak tega jk marahin anak kecil dengan demikian berangngnya.

      #mgk begitulah jk org sedang dikuasai emosi dan hawa amarah ya?

      Delete
    2. Makasih mbak, baca tulisan ini saya jadi inget krucil saya di rumah. Saya ndak abis pikir ada orang tua yang bisa berkata kasar kepada anaknya, apabila kata-kata kasar sering di dengarkan setiap hari, tentu saja akan berpengaruh langsung terhadap watak si anak di masa yang akan datang. semoga kejadian itu cukup sekali saja dialami si anak.

      Don't try this at home ya mbak hehe

      Delete
    3. Kalau try this at terminal...boleh gak Mas?
      hehehee

      Delete
    4. ini pembicaraan bagi para mereka yang sudah memiliki anak. ehm... jadi seru dan dapat pengalaman baru.

      Delete
    5. Belum punya anka juga gak dilarang kok kalau mau ikutan

      Delete
  2. memang sebagai orang tua harus bisa menjaga omongan... kira kira mikir lah sebelum ngomong... anak anak bisa meniru dan berprasangka buruk atas setiap ucapain kita...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Sob, memory [anak] akan merecord hal-2 yg memberikan kesan mendalam [baik atau buruk].

      Delete
  3. tega benar sang ayah,
    mau dikemanakan masa depan sang anak, bila sekecil itu sudah dihadiahi dengan kata-kata keras dan kasar ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga saja kejadian tersebut hanya sekali itu ya Bang dan si anak sudah bisa melupakannya..

      Delete
  4. Hedeehh ...Bapaknya sakit jiwa tuh Mbak..Jd emosi sy bacanya...Gak ingat kali ya kalau suatu saat dia bakal tua...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Miris ya Mbak, jika kita amati betapa masih banyak tipe Ayah yg seprti ini terhadap anaknya.

      Delete
  5. Mudah-mudahan saya ga sampai melakukan hal seperti itu Mbak Rie.
    Miris hati juga kalau melihatnya langsung.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, semoga kita kelak bisa jadi orang tua yg bijaksana dan bisa mengendalikan emosi ya:)

      Delete
  6. Kalau tempeleng memang konotasinya negatif sekali sahabat

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya pastinya konotasinya negatif dan bikin ngeper jika diucapkan dengan penuh nada amarah

      Delete
  7. wau tempeleng...
    bapaknya aja yg harus ditempeleng...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayyo siapa yg berani menempeleng bapaknya?

      # aku gak berani!

      Delete
  8. mudah-mudahan aq gak jadi ayah macam itu....:)
    kasar banget ya,masa sama anaknya sendiri mau nempeleng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, semoga jadi ayah yg bijaksana..penyabar dan sayang keluarga selalu :)

      Delete
  9. mungkin kalimat ini yg jadi biang keladinya tawuran!. metode kata2 yg kurang baik dengan tujuan memberikan efek jera sebenarnya malah bikin efek lain yang berbahaya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. 'Tempeleng' jika di-nada-kan serius dan ditujukan anak SMA..sptnya bisa jd penyulut tawuran juga tuh.

      Delete
  10. Ini mode militer lagi on mbak, barang siapa indisipliner maka di "gojlog" habis,

    ReplyDelete
    Replies
    1. MOde militer yang kurang tepat waktu dan obyeknya ya

      Delete
  11. kata ini juga prnh buat mimi trauma ngeliat orang berkumis say, krn pernah liat org yg kumisnya lebat menempeleng istri dan bayinya di depan mimi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whaaa..sampai beneran di tempeleng itu ya Mi? sadiis banget yaa...saya pasti shock kalau melihat adegan spt itu

      Delete
  12. tapi jaman sekarang masih ada kok mbak kata tempeleng itu, teman saya terkadang mengucapkan itu saat bercanda dengan temannya..

    ReplyDelete
  13. yaa allah masak masih kecil gitu di tempeleng toh mbak :(

    Semoga ketempelengan gag terjadi lagi yoo mbak #sakit

    ReplyDelete
    Replies
    1. kan ada sang mama yg langsung menyelamatkan putri kecilnya..#selamat deh

      Delete
  14. tadi aku salah baca judul mbak, aku mikir apa arti tempeleng, oooh ternyata yang itu ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehhehe...ada arti tempeleng lainnya apa Mbak?

      Delete
  15. sudah bukan jamannya mendidik anak dengan kata-kata dan perilaku kasar. Kalo orang tua mendidik kasar, maka jangan heran jika anaknya akan berperilaku kasar. Mendidik anak dengan santun, maka anakpun Insya Alloh menjadi pribadi yang meneyenangkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya ya Pak Ies, hari gini kok masih saja mendidik anak dengan kalimat2 yg kasar. Padhal klo dengn lemah lembut kan lbh adhemm

      Delete
  16. Tempelengg... itu kekerasan pasti... sama halnya dengan jotosss

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyap...jotos, biasa dipakai kalau tawuran tuh

      Delete
  17. wah masih mending tu kata2 tempeleng....? klo jaman sekarang banyak perkataan yang lebih rusak lagi..dan tentunya g layak untuk ditujukan kepada anak-anak yang masih imut-imut kayak saya wkwkwkwkw..
    mungkin emosi boleh setinggi langit,tp jaga kata2 untuk se kecil..nice post

    ReplyDelete
  18. di daerah dimana saya tinggal, kata "tempeleng" relatif jarang terdengar, tetapi mungkin ada kata lain yang setara dengan kata tempeleng yang digunakan orang sehari hari :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah jenis kata lain yang equal dengan kata tempeleng itu? hehehe

      Delete
  19. Kalau mendengar kata itu lagi diajeng bilang saja " Beraninya sama anak kecil wheak..wheak..wheak..", dijamin orang itu akan ngakak.

    Jangan main tangan atau berkasar tutur kata kepada anak2 yaaa

    Salam sayang selalu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Okelah, nanti saya bilangi kalau kebetulan ketemu kejadian kayak di atas, akan saya bilang: "Beraninya sama anak kecil..coba kalau beneran sama Pakdhe Cholik deh...." hehehee

      Delete
  20. wkwkwk kata tersebut kalau didaerah saya sudah umum, dan sering terdengar.

    ReplyDelete
  21. Tulisan ini seperti "menempeleng" wajah saya. Saya mengucapkan banyak terima kasih atas artikel ini. Begitu dalam artinya buat saya yang masih belajar menjadi ayah yang baik. Saya pun kadang suka kelewat meletup emosinya terhadap anak dan saya coba untuk menenangkan diri dengan membasuh muka dengan air wudhu.

    Marah ibarat api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Dan saya coba berkali kali jika marah kepada anak akan saya usahakan untuk lebih menahan diri baik dalam pengucapan kalimat kuantitatif seperti itu. Terima Kasih saya sudah diingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaa..maap, gak ada maskud untuk 'menempeleng' siapapun kok Kang Asep.

      Memang ketika sedang marah/emosi, sebaiknya kita bisa self control, ya semisal ubah posisi kita saat sedang marah. Dari berdiri kemudian duduk atau pindah ke tempat lain. Labih baik lagi mengambil air wudhlu sperti ya Kang Asep lakukan itu

      Delete
  22. tidak salah ya mbak kalau disekolah bayak terjadi tawuran ternyata karena sejak kecil sudah mendapat pelajaran kekerasan dirumah tangganya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Peran keluarga mmg dominan dalam pembentukan kepribadian anak ya pak

      Delete
  23. tiada yang lebih berharga pemberian orang tua kepada anaknya kecuali budi pekerti yang baik

    ReplyDelete
  24. Kadang emosi tidak terbendung sampai lupa akan akibat spikologis pada anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus ingat-ingat neh kalau sedang emosi ya..

      Delete
  25. semoga saya kalo sudah jadi bapak, tidak mengatakan kata kata yg seperti itu, aminnn

    terima kasih mbak sudah diingatkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. turut mendokan semoga kelak menjadi ayah yg bijaksana:)

      Delete
  26. Duh ngeri mba...
    Mudah mudahan, sebagai Ibu aku selalu diingatkan untuk bisa bersikap sabar sama anak anak ku...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin, semoga Mbak erry jd Ibu yg sellau penyabar yaaa...

      Delete
  27. ya Allah mb, kasihan banget anaknya. takutnya kalau kepribadian si anak itu bisa berubah kayak penakut, minder, gara2 sikap kasar org tuanya (ayahnya).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selalu berharap semoga kejadian tersebut tak berulang lagi Mbak..

      Delete
    2. Semoga hanya kejadian sekali saja Mbak, saya yakin si Ayah juga menyesal telah berkata2 kasar pada putri kecilnya...#semoga

      Delete
  28. ngebaca katanya saja terasa kasar apalagi nge dengarnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apalgi saya yg langsung melihat dan mendengar ya..#aseli ngeri abnget

      Delete
  29. kata-kata yang tidak patut untuk didengar jangankan anak kecil saya aja takut mba.hi...hi...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget, kata-kata yg tidak seharusnya diucapkan pada anak-anak

      Delete
  30. Emang anaknya salah apa, Mbak? koq sampe segitunya yak? ^^a

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ini dia, saya gak tahu salahnya si anak apa..lha kan saya penonton 'tak undang' alias kebetulan melihat adegan tersebut. Yg jelas anaknya masih kecil..belum genap 4 tahun usianya. Dan sekilas-2 yg saya tahu, anaknya lucu dan bukan tipe anak hiperaktif kok

      Delete
  31. sebagai orang tua, apa yg kita lakukan juga omongkan selalu dijaga
    biar tidak ditiru dengan anak nantinya,..:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Anak berkecenderungan berkata dan bersikap what their parents say and do...

      Delete
  32. Ya ampun, kok sampai segitunya tuh Bapak. Tindakannya itu lebih kekanak-kanakan dari pada bocah mungil itu sendiri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. He-eh, perkataannya nunjukin kekanak-kanakan ya..

      Delete
  33. wah kata itu malah aku pake waktu pedekate ngajak kenalan cewek
    mbak mbak, tau gak pepatah yang mengatakan tak kenal maka tak tempeleng...
    #digampar duluan dah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sungguh cara yang sesat dan salah jurusan.

      Nanti kalo ngajakin kenalan Ade Ray pake cara itu juga ya Mas!

      Delete
    2. monggo atuh Mas-Mas kalau mau saling kenalan dengan gaya saling tempeleng, aku ta cari peluitnya dulu yaaa...awas jangan dimulai dulu ya tempelengannya sebelum wasitnya datang

      Delete
    3. Tolong siapkan Ambulance & booking ICU yang ada TV-nya.

      Delete
    4. yeee, di sipain dulu dunk sblm acara tuker tempelengannya dimulai

      Delete
  34. Tempeleng?! MasyaAllah.. saya sendiri belum pernah mengalami ditempeleng oleh siapapun. Tapi saya pernah loh melihat adik ditempelng Abah, waktu itu saya sedih. Tapi, saya tahu, Abah menempeleng tidak sekuat dayanya serta tidak tepat sasaran. Kata Abah, anak laki-laki sebandel adik saya memang perlu dikerasi. Dengan syarat, tidak memukul di bagian wajah, itu kata beliau petunjuk Rasulullah SAW. Nice share, Jenk.. thanks banget. Salam sahabat.. God bless you

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whaaaa, kalau ditampar beneran kan kasiihan. Mending di kasih sanksi yg bebrbentuk kegiatan pendisiplinan saja deh. hehehee

      Delete
  35. Kalo aku yg jadi mama si anak, udah aku hajar duluan tuh si bapak, pake tali pinggang sekalian ngelibasnya tuh Rie.... #edisi emosi tingkt dewa.... hehe

    Di M*d*n, aku sering banget mendengar kata itu bhkan lebih parah dari itu Rie... tapi melihat perkataan itu diwujudkan sih blm pernah.

    Bagaimanapun, jelas, merapalkan kata2 seburuk itu bukanlah hal yang recommended, tapi harus dikecam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau aku yg jadi si Mama tsb..kayaknya bakal shock juga deh Mbak. #cemen ya?

      Alhamdulillah, aku juga belum pernah lihat adegan kekerasan getu Mbak. Semoga deh gak pernah lht.

      Delete
  36. Weh... aku sih kalo ama temen temen suka becandaan "tak tempeleng kamu"...
    Tapi nek kalo orang tua ngomong ama anaknya gitu,
    piye ya... saake anaknya... OSPEK dini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nanti klo kopdar lagi, pakai kata kunci-nya " tak tempeleng kamu' yaaaa...hahahha

      Delete
  37. dulu waktu kecil aku sering denger kata itu. Alhamdulillah aku sndri blm pernah 'dikatai' itu. Dengernya aja udah miris, apalg klo itu ditujukan utk anak2.. hiks.. tega bgt..

    ReplyDelete
    Replies
    1. banget Mbak, ndengerin saja sdh bikin ngeper. PAlagi jk kita yg dituju oleh kalimat tersbeut

      Delete
  38. nempeleng anak kecil.. bapaknya ngga macho aahh..

    ReplyDelete
  39. ehm mungkin maksudnya bagus dengan memberikan ancaman agar si anak tidak mengulanginya lagi. tapi, bener juga si harusnya bisa di atur dan sopan dalam mengucapkan, apa ga ada kata kata lain? ehm... apa karena saya belum jadi ayah jadinya ga tau ya, ya semoga saja saya tidak seperti itu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Duluu, waktu kecil aku prnh sekali dibentak oleh Bapak dan takut banget padahal Bapakku tdk pernah menjatuhkan tangan sama anak-anaknya.

      Delete
  40. Ini mungkin someway somehow ...
    sama dengan keprihatinan saya terhadap ... orang yang ringan mulut berkata ... (maaf) ... Tolol dan Goblok di tulisan saya yang ini ...
    http://theordinarytrainer.wordpress.com/2012/10/08/ringan-mulut/

    Sudah selayaknya kita senantiasa menjaga omongan kita ... kepada siapapun ...

    salam saya Rie

    ReplyDelete
  41. kata bang haji rhoma--->sungguh terlalu

    "tempeleng " 1 kata yang sangat tidak pantas, diucapkan oleh seorang ayah kepada anaknya.

    ReplyDelete
  42. Jadi inget pak yoyok.
    tak tempeleng sisan pow...

    tae' pak.

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.