WHAT'S NEW?
Loading...

Sepatu ku sayang

Mengurai salah satu kisah masa sekolah untuk ikutan berbagi cerita tentang sepatu. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim , inilah kisah sepatu ku sayang. Setelah saya ingat-ingat dan memvalidasi hasil ingatan tersebut dengan bertanya pada salah satu kakak, alhasil memang kelas 3 SD saya baru bisa memiliki sepatu untuk sekolah. Saat sebelum memiliki sepatu untuk sekolah tentu bisa ditebak jika saya ke sekolah dengan ‘nyeker’ alias tanpa alas kaki. Saya masih ingat sepatu pertama saya tersebut warnanya putih berbahan plastik dengan ada strip warna merah dan biru di sebelah tali sepatunya. Aturan tidak tertulis di rumah untuk sepatu sama dengan baju seragam, yaitu: sekali beli harus bisa sampai lulus sekolah. Syukur-syukur jika bisa bertahan untuk masuk sekolah berikutnya. Jadi kalau soal ukuran sepatu bisa dipastikan akan kebesaran bagi ukuran kaki saya. Cara menyiasatinya agar ‘pas’ dengan besarnya kaki yaitu menambahkan gumpalan kertas di bagian ujung sepatu. Dan agar bisa awet sampai lulus SD, maka kalau pulang sekolah sepatu tersebut biasanya saya tenteng [kalau berangkat ke sekolah sepatu terpakai dengan manis]. Dan jika sedang musim hujan, akan memberi alasan yang kuat untuk tidak bersepatu ke sekolah dan itu merupakan pemandangan yang sudah biasa bagi guru terhadap saya. 

Saat masuk SMP dan SMA berlaku peraturan menggunakan sepatu warna hitam tiap hari sehingga tidak bisa mencari-cari alasan untuk menenteng sepatu lagi [seperti sewaktu masih SD] dalam rangka memperpanjang masa pakai sepatu. Sebenarnya kalau hari Jumat-sabtu aturan menggunakan sepatu agak longgar [jarang ada inspeksi dari guru] sehingga bagi teman-teman yang tak ada masalah untuk membeli sepatu bisa trial pakai sepatu warna lain [tidak hitam]. Jadi cara terbaik yang bisa saya lakukan agar sepatu tersebut bisa bertahan sampai lulus sekolah [selain pertimbangan waktu beli dengan kriteria sepatu yang: lentur, tahan lama dan harganya terbeli/murah] adalah dengan menjahitnya jika sudah muncul ‘mulut’nya [baca:berlubang]. Dan tentu saja urusan menjahit/sol sepatu juga tidak dibawa ke tukang sol sepatu. Saya harus menjahitnya sendiri dan Alhamdulillah kebetulan untuk urusan menjahit [pakai tangan] saya dan semua saudara bisa melakukannya. Untuk awalnya saya sering melihat dari kakak saya yang nyambi menerima order sol sepatu. Dan secara prinsip, menjahit sepatu memang hampir sama dengan menjahit baju hanya berbeda pada alatnya [jarumnya lebih besar dan benangnya menggunakan senar]. Dengan cara demikian akhirnya bisa mencukupkan 1 pasang sepatu untuk satu masa sekolah.

Kisah sepatu ku sayang masih berlanjut ketika kuliah dan ini yang sampai sekarang masih membuat saya terheran-heran [sambil tersenyum] sendiri jika mengenangnya. Karena situasi [finansial] yang kurang mendukung, maka sepatu kuliah yang saya gunakan dengan membeli sepatu second. Saya masih ingat betul kala itu, diantar oleh kakak ipar untuk membeli di PKL yang ramai berjualan di sekitar Stadion Tambaksari setiap malam. Setelah beberapa kali memilih, saya pun mantap memilih sepasang sepatu warna hitam berbahan [seperti] kulit yang harganya delapan ribu Rupiah. Alasan saya tentu saja pilih sepatu yang kuat [baca: awet] dan bisa digunakan untuk all moment: kuliah dan acara kampus lainnya [non akademis] dan istilah 'merk' merupakan bahasa dari planet luar angkasa yang tak ada dalam kamus  saya tentang kriteria sepatu yang baik. Dan memang sepatu tersebut bisa bertahan jadi alas kaki yang setia sampai saya lulus kuliah dengan didukung sesekali saya menggunakan sepatu pinjaman dari teman kost [yang kebetulan memiliki sepatu banyak].Dan saat-saat menjelang akhir dari masa kuliah yaitu ketika tinggal menunggu yudisium dan wisuda, pada suatu siang ketika sedang ngobrol dengan beberapa teman, saya iseng memperhatikan sepatu dengan lebih intens dan saat itulah saya baru menyadari jika sepasang sepatu yang saya gunakan selama ini bukanlah pasangan yang sepasang. Antara sepatu kanan dan kiri ternyata tidak sama, sekilas pandang kelihatan sama: warna hitam, berbahan [seperti] kulit, model bertali, ukuran sama.Tapi modelnya secara keseluruhan sepasang sepatu tersebut hanya tipically terlihat sama.  Untuk memastikan apakah saya tidak salah lihat [silap], saya pun bertanya pada teman di dekat saya.
“ Coba perhatikan sepatuku deh “
“ Emang kenapa sepatumu ?” tanyanya masih belum aware dengan tujuan permintaan saya.
“ Menurutmu sepatuku itu beneran sepasang atau hanya sekilas saja mirip sepasang sepatu yang berpasangan?”
Sejenak teman saya terdiam, untuk kemudian tertawa “ Hebat deh, jadi selama ini kamu gak nyadar jika menggunakan sepatu yang berbeda antara kanan –kira ya, Rie?”.

Apakah saya malu atau minder dengan kenyataan sepatu ku sayang tersebut? Alhamdulillah, AllAH SWT mempertemukan saya dengan teman-teman yang tidak pernah bersikap ‘bully’ pada orang lain bagaimanapun kondisinya, sehingga saya tetap bisa enjoy dan percaya diri menikmati masa sekolah dan kuliah saya.


“ Sepatu, mungkin terasa biasa bagi sebagian orang,
tapi luar biasa bagi sebagian yang lain

127 comments: Leave Your Comments

  1. salam kenal..perdana ne..kunjungan baliknya ya??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga, I'll visit back sooner:)

      Delete
  2. kalau komen moderasi gini susah juga ya tuk mengetahui apakah pertamax atau tdk,,,btw ini kisah sepatu yg pernah di ceritakan itu ta,,ternyata benar2 di publis,,,demi GA,,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat Mas Amri belum commentator pertamax ney? Udah ta lepas moderasinya sekarang mAs.
      Iyap, ini cerita yang ta ceitain itu. Ya bukan semata demi GA juga...jika menurutku cerita tak layak untuk di publish tentu ta keep in silent kok.

      Delete
    2. Ciyeh, mas Kahfi udah tau duluan ni yeee... aku aja baru tau waktu mb ri mo nulis,,, uhuk uhuk,
      #kabuuuur

      btw, ceritanya really inspiring bu, jadi harus banyak bersyukur, ditunggu soon kickersnya dipake...

      Delete
  3. Meskipun sepatu yang di pake berbeda..
    Semoga tetep nyaman dengan yang lain..
    Perumpamaan kisah sepatuku sayang yang sangat indah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya neh Mbak, pakai sepatu beda gak nyadar kalau gak sepsang. Tapi kalau nyadar dari awal, jadi harus ngeluarin budget lagi dunk utk beli sepatu...hehehehe

      Delete
  4. dan saya rasakan keluarbiasaan itu mbak.... sepatunya masih ada ya mbbaaakkk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dijamin sepatunya sudah tidak berbekas, sepatu tsb ta tinggal saat 'check out' dari tempat kost.
      kalau masih ada sepatunya tentu ta jadiin figure postingan ini. Dulu jg gak pny camera untuk aksi jepret-jepret usil.

      Delete
  5. kalau aku dulu sempat merasakan hal tsb,tp itu adalah hal kecil yang tidak akan menjadikan kita manusia yang mempunyai mimpi & harapan yg kecil

    ReplyDelete
    Replies
    1. actually, saya tak pernah merasa minder. Saya merasa enjoy saat menjalaninya kala itu dan merasakan hikmatnya kini ketika mengenangnya.

      Delete
  6. Xixixi,,, sekolah saat sd lucu juga ya mbak, gak pake sepatu juga gak papa hehe,...

    Waktu beli sepatu yg gak sama mbak ririe gak perhatiin bener2 ya mbak hehe,,. Tapi lucu juga bisa menemani sampai lulus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Xixixiii..iya seru dan asyik, pulang sekolah suka meribet lewat pekarangan orang terus pas kalau pas musim mangga sambil nyari mangga yg jatuh.

      Pas belinya malam, jai tersamar oleh nyala sinar lampu yang ada..

      Delete
  7. sekecil apapun barang milik kita memang harus kita jaga...

    mengesol sepatu sering saya lakukan juga mba, sepatu jadi awet dan kuat, yah sambil ngirit gitu hehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai sekaran kalau sol sepatu masih hanya yg nge'sol orang lain, jadi sepatu baru di-lembiru jika sudah gak bisa di sol lagi...#hematpangkalkaya

      Delete
  8. waahaha, kok bisa lain sebelah tuh sepatunya mba :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. whehehehe, ilustrasi saja sob. Kalau yg asli sepatunya [yang saya ceritakan] sudah gak ada lagi sepatunya, tinggal kisahnya.

      Delete
  9. Kok hampir sama dengan saya mbak . sekali beli
    harus bisa buat beberapa tahun kedepan. Waktu sekolah sma dulu saya malah hanya memakai sepatu bekas tetangga saya yg sudah tidak terpakai lagi. Hehe . . ga modal bgt ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehee....iya,saya yakin banyak yang punya kisah tentang septunya yang luar biasa, termasuk menggunakan sepatu dari pemberian orang lain. Kalau versi keluarga saya ada sistem 'warisan', jadi sepatu kakak yg msh bisa dipakai akan digunakan oleh adiknya. Demikian juga baju daln lainnya..

      Delete
  10. suatu pengalaman yang memiliki sejarah tersendiri, kenangan itu indah, jika kita teringat sepertinya memang lucu, bagaimana masa kecil dulu, apalagi dengan sepatu yang antik sungguh bikin ketawa kick..kick..kick.....
    postingan bagus kawan,...terima kasih dan sukses buat anda..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semua kenangan akan indah dan penuh makna saat kita mengenangnya. Ma kasihh:)

      Delete
  11. Saya di SD selama 6 tahun 100% nyeker...
    Bukan karena tak ada sepatu tapi karena semua muridnya pada gak pakai.
    Saya pernah pakai saat kelas 1 tapi malah diledekin temen2...
    Mereka sengaja menginjak sepatu saya....

    ReplyDelete
    Replies
    1. aduh mas kasian bangt , jd ter haru ...

      Delete
    2. Whahahaha...itu mah saya banget pak, dulu kalau ada teman yang pakai sepatu ta injek lho? Dan kebawa hingga sekarang, jk ada teman yg sepatunya baru iseng-iseng di injek ta nganyari..

      Delete
    3. @ amethe: hehehe...seru lho?

      Delete
  12. Kok ini gak diikutkan buat ngeramein promo buku Sepatu Dahlan-nya bung Krisna sih Mbaaaak? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahahaha...postingan ini dalam rangaka launching kisah sepatu Dahlan ISkan mbak. Sudah terdaftar via email:)

      Delete
  13. mbak, ini gk d ikutin giveaway y?

    ReplyDelete
    Replies
    1. fufufufufu...ikut GA kok Mbak. di TOCnya memang gak harus dipasang tulisan kayak biasae jika ikutan GA

      Delete
  14. kalau udah suka dan nyaman emang pengen terus dipake ya walaupun terkadang udah ada sepatu yg lain...
    aq pun kyk gitu kalau suka ama 1 barang mau baju ato sepatu seriiiing banget aq pake...

    ReplyDelete
    Replies
    1. whehehehe, mbak ini bukan karena saya suka pada satu sepatu. Tapi karena hanya punya satu sepatu yang harus tahan pakai sampai lulus sekolah.

      Delete
  15. Kisah sepatu kamu tu, mengingati zaman sekolah Menengah aku dulu..
    hampir sama, aku juga pernah memakai kasut pemberian orang, sepatu itu agak besar lalu aku menyumbat kertas supaya tidak longgar dan lama ku perhatikan rupanya kasut tersebut juga berlainan saiz....

    mengingati kisah lampau dapat memberi rasa syukurnya kita sekarang ^_^

    salam kenal Ririe :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya neh, banyak orang yang punya kisah unik dan menarik dengan sepatunya..

      Mengingatnya kini, membuat kita merasa amazing dan bersyukur banget pernah berada pada masa-masa sperti itu

      Delete
  16. masa sih masih ngalamin sekolah nyeker..?
    kirain aku doang
    haha

    ReplyDelete
    Replies
    1. TOS...you're not the one. Nanti kita bikin persatuan alumni 'nyeker' saat sekolah piye mas?

      Delete
  17. gw perna mm udh ga ada lagi sih ... hihih

    ReplyDelete
  18. halo mbak :)
    kunjungan perdana nih..
    mbaknya curhat ya lewat artikel diatas.. hhihii :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haloo juga:0
      Terima kasih atas kunjungannya, sob:)
      Iya neh, curhat untuk ikutan GA...Curhat dengan maksud dan tujuan:)

      Delete
  19. Saya malah salut sama mbak, Tetap bersyukur :)
    Saya waktu SD-SMA wajib pakai sepatu hitam, dan mereknya dulu TITANIA, pokoknya nggak boleh ada warna lain walaupun hanya sedikit.
    Biasanya pada saat apel pagi ada pemeriksaan sepatu dan rok :)
    Kadang2 suka bandel juga hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru bener2 straght sepatu harus seragam warna hitam ya SMP-SMA, selalu ada yang pengen coba-coba warna lain dan biasanya terjadi hari jumat-sabtu. Pemerikasaan memang sering dilakukan secara random, bahkan sampai panjang kuku tangan. Serunya jika sampai ada sepatu yang di sita oleh guru sehingga harus pulang gak pakai sepatu.

      Delete
  20. good luck mbak, kisahsepatu mulai berseliweran nih :) ikutan ga ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak yang ikutan ya Mbak? Saya baru ketemu postingannya Mbak Mugniar dan Una. Yang penting happy GA.

      Delete
  21. wah.. keren tuh sepatunya. satu kuning satu ijo. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahahah...itu bukan kuning tapi akibat kena back light cahaya lampu [motretnya pas malam], warna aslinya putih kok.

      Delete
  22. mba'e...:D sy kalau beli sepatu juga sering sy jahit lagi untuk memperkuat....dan rata-rata awet....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhuuyyy, sol sepatu adalah style warisan yang patut untuk diturunkan sebagai ungkapan rasa sayang sepatu...whahahahaha

      Delete
  23. mbak rie.....coba ada berapa sepatu yang mbk punya sejak lahir sampai sekrang...?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahahaha, kalau sepatu yang ada di rumah sekarang bisa mbak ngitungnya. Atau sepatu mulai kelas 3 SD - kuliah, masih ingat saya ngitungnya. Lha setelah bisa beli sepatu sendiri [kerja] s/d sekarang, sudah lupa deh berapa sepatunya,tapi saya yakin belum sampai 30 pasang sepatu kok.

      Delete
  24. walau nggak sepasang, tapi sepatunya cantik mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya MBak, sepatunya yang gak berpasangan di ilustrasi postingan memang cantik., feminin dan asli yang warna biru tosca itu idenya keponakan saya [Ika]. Kalau saya lebih sering pilih sepatu yang cenderung ke model casual soale

      Delete
  25. bwahahahaha aku dulu juga sukanya gitu. pake anting yg ga pasangannya. itu keren,,, :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Weiii, kalau anting dari kecil [saya ingat pakai anting] sampai sekarang tetap yang sekarang masih terpasang cantik di telinga saya. Ini anting temurun dari anaknya sepupu ibu saya [ si babapknya saudara sepupu ibu saya]. Ingat saya sebelum masuk SD saya mengenakan anting ini dan bertahan sampai sekarang neh...#setia MODE ON

      Delete
  26. kisah yang cukup unik mbak, sukses kontesnya ya mbak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepintas kelihatannya hanya curhatan, tapi bagi saya adalah part of miracle in my life..

      Delete
  27. Mbak... aku punya kalimat untukmu.
    "Semoga kita menang ya!"
    Hahahaha... xD

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mantap Na, mantranya. TApi apapun hasilnya kita kan tetap menang, kan bisa masuk buku daftar pesertanya admin tuh..hehehehe

      Delete
  28. Nah terus sepatunya masih ada gak mba sampai sekarang ??? keren juga ya, bisa gak sadar gitu, hihihihiy, wah kl saya mah, gak punya sepatu waktu STM tapi tiap hari pake sepatu terus kl sekolah, #gak pinjem, alias leng bet, hahaha :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, sayangnya tuh sepatu dah gak ada MAs. Waktu 'check out' dari kost ta tinggal..dan mengingat waktunya jg gak mungkin bertahan sampai sekarang tud si sepatu ajaibnya...

      Btw, leng bet tuh apaan ya?

      Delete
  29. Coba tahu gitu, pas ketemu kemaren di cek yg sekarang bener2 sepasang atau tidak, jangan2 salah lagi... hehehehe...

    antara sedih dan ngakak baca postingan ini...
    hebaat... salut sama adikku.., tdk smua orang bisa melakukan itu
    angkat topi...,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahahaha..jadi inget ledekan teman-teman kuliah deh. Setelah lulus dan kemudian kerja, tiap ke Surabaya dan ketemuan sama teman-teman kuliah pasti di ledekin "check and re-check dulu bajumu, Rie". Maklum kala kuliah bajunya sak duwene, gak mikir ttg keserasian warna/motif, jadi ya semacam tabrak lari fashion getu deh. Dan sampai sekarang teman-teman kadang masih suka ngingetin style saya yg kacau balau dulu. Dengan PeDe ya ta jawab:"kan sekarang jutru jd trend setter'nya para hijabers tuh..."#alesan elegan!

      Delete
  30. waduhhh.. cantik tapi beda hihihihi...! beda sepatunya gkgkgkgk! hebat juga tuh sepatu ya. manusia itu punya indera, tapi sepatu itu mampu menghalau indera perasa, penglihat dan peraba! gue yakin sepatu ririe kalo dilelang pasti mahal gkgkgkgk!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahahha, kalau lelang yang jelas mahal tempat sewanya buat lelang deh.

      Delete
  31. enak punya teman kyak gitu.. di sini salah dikit di bicarain di belakang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah saya dipertemukan teman-teman yang asyik-asyik orangnya, gak lihat orang dari atribut sosial dan fisiknya.

      Delete
  32. menarik nih cerita sepatu yang kanan kirinya berbeda... yang penting itu percaya diri ya... jadi sepatu apapun bentuknya tertutup semua dengan rasa itu.. nice post...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika percaya diri, bagaimanapun kondisi kita InsyaAllah bisa survive kan sob:)

      Delete
  33. wah.. masih ngerasaain jaman nya nyeker juga ya mba, ehm. heheh, jadi terharu saya. heheh. tapi mantap mba, emang jadi kenangan. apalagi tu yang sampe salah make, heheh. bikin kenangan banget dah sampe di tulis di sini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. BUkan salah pakai, tapi kurang teliti waktu membelinya sehingga antara kanan-kiri bukan padu padannya. Dan memang akhirnya jadi kisah yang menarik bagi saya tentunya..

      Delete
    2. hahah, salah membeli? ehm, kaya paman saya dong. tapi unik juga dia, beli sepatu eh pas di coba di rumah ternyata kanan semua. hebat, heheheh. pas kembali lagi si penjual ga mau ngaku lagi, jadinya ga bisa di tuker. kasian dah. heheh. tapi jadi pengalaman berarti tu.

      Delete
    3. ya gettu deh, kurang sabaran/teliti waktu memilih tuh sepatu. Sepintas dah keliatan sama...langsung deh dibungkus.

      Delete
    4. ga papa mba, jadi unik. hehehe. berani make ga? heheh.

      Delete
    5. hohohohoho...lha sepatu tersebut kan ta pakai sampai lulus kuliah Mas? Aku baru nyadar sewaktu tinggal beberapa waktu sebelum wisuda.

      Delete
  34. wah mbak hebat ... bisa tahan make sepatu yang berlainan untuk waktu yang cukup lama... :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah tahunya sudah mau usai kuliah, kalau dari awal tentu harus di betah-betahi tuh pakainya...hehehhe

      Delete
  35. jadi ingat kisah di sd juga sekolah masih nyeker. pingin dibelikan sepatu tapi si mbokku gak mampu beli. jadi ngumpet di kamar mandi nagis agar gak ketahuan si mbok

    ReplyDelete
    Replies
    1. Klau yg sampai nangis tuh waktu SMP naik kelas dua, harus beli buku dari sekolah. Karena gak ada uang, disuruh pinjam saja. Eh, malah jadi sakit demam tuh...hehehehe. Giliran di cariin uang utk beli buku, saya jadi sembuh. Yg bikin saya menyesal, ternyata tuh buku akhirnya gak terpakai karena tak berselang lama dari saat saya nrima bukunya ganti lagi GBPPnya.

      Delete
  36. teman teman yang istimewa :D

    kalau saya sekarang malah masih menggunakan dompet yang di kasih sama keponakan saat saya masih SD dulu. sudah belasan tahun tu dompet masih awet aja. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau dompet juga punya cerita yang agak mirip neh, salah satu keponakan punya dompet gambar mikey mouse warna biru. Karena tertarik akhirnya saya 'rayu' lah sang keponakan agar mau ngasihkan dompetnya ke saya. Cukup lama juga saya gunain dompet tersebut.

      Delete
  37. wow.... banyak sekali pembelajaran yang dapat dipetik dari kisah hidupmu sist, thanks for share...
    proud to know and be one of your lovely friends...
    see? roda kehidupan memang terus berputar, kegigihan dan keuletan serta tekad bulat meraih keberhasilan, tentu kini membawamu meraih kehidupan yang jauuuh lebih cemerlang kan say? dan pasti udah punya banyak sepatu ini... hehe.

    btw, masak ga merhatiin sih waktu belinya itu? apa kakak ipar ga ikut memperhatikan? hehe.

    sukses untuk giveawaynya ya Rie..... wishing u a luck! be the winner. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banyak sepatu? Klau lebih dari satu pasang kan termasuk banyak ya Mbak? Selain untuk kerja,kan ada sepatu olah raga..

      Pas beli udah merhatiin Mbak, tapi dasar diriku emang kadang gak sabaran kalau suruh neliti pas beli barang. Waktu beli juga malam sehigga agak samar juga oleh sinar lampunya para penjual.

      Yang penting bisa sharing and I'm glad having this story

      Delete
  38. Sepertinya aturan dalam keluarga kita sama mbak, 1 sepatu + 1 seragam berlaku sampai lulus sekolah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenarnya bukan aturan sey tapi lebih enak kalau saya menyebutnya bagian dari bentuk penyesuaian diri terhadap keadaan..

      Delete
  39. jait sepatu sendiri?? hebaatt :)

    terus sepatu yang berlainan itu koq ga ada potonya? biar kita bisa liat juga dimana perbedaannya hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduuh Mbak maaf banget, tuh sepatu saya pakai selama kuliah [sampai lulus] dan saya lulus kuliah sudah lama banget. Andaikan kala itu saya bawa dari kost pun, dijamin kondisinya gak bertahan setahun sudah rusak parah.

      Delete
  40. halo gan,
    tetap semangat tinggi ya untuk jalani hari ini ! ditunggu kunjungannya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. halo juga sob, amiin semoga tetap semangat every day!

      Delete
  41. sepatu nya yang ijo bagus tuh mbak, baru yaa...

    kisahnya bagus deh, sekarang bisa beli sepatu yang halma sampek muter2 TP ndak nemu2 selera mbak rie :D *ups...*

    ReplyDelete
    Replies
    1. :D* Eh hlho?*

      hohohoho...yang sampai capek di ajak sensus di TP neh?

      Delete
  42. itu tahun berapa ya mbak kok masih nyeker karena sayapun dulu SD nyeker kalau tidak boleh pakai sandal jepit tasnya tas kresek (awal-awal ada tas kresek), baru SMP pakai sepatu karena sekolah dikota kecamatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. ya masih jaman OrBa Pak..lha sekarang saja masih kita jumpai murid-murid SD sekolah tanpa pakai sepatu lho?

      Delete
  43. hmm..ada sebahagian orang yang menghabiskan duit untuk meng-koleksi sepatu mahal..dan ada juga yang memburu ke tukang loak..demi mencari sepatu dengan harga murah..apapun itu..sepatu tetaplah sesuatu yang berharga bagi orang yang menghargai sepasang kaki-nya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemmm...saking banyaknya uang jadi kalau beli sepatu based'nya bukan sebatas fungsi utk alas kaki, namun sudah bergeser pada fashion dan prestis kali ya mas?

      Delete
  44. Kutipannya menginspirasi kakak.. suka =)

    ReplyDelete
  45. Jujur, saya nda betah berlama-lama pakai sepatu. Kalau dikantor, begitu datang diam-diam ganti sendal jepit dan baru pakai sepatu lagi kalau ada perlu keluar kantor. Sepertinya si boss sudah pada maklum dg kebiasaan anak kampung yang satu ini. heheheh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan sejujurnya juga, demikian pula saya sehari-hari di kantor. Hanya berangkat/pulang dan kalau ada urusan formal keluar kantor baru memakai sepatu. Selebihnya ya sandal jepit MODE ON, semua orang di kantor saya seperti itu. Sepatu hanya untuk berangkat-pulang kerja ataau ada acara di luar kantor..

      Delete
  46. Wuih jadi ingat masa2 SD dulu, setengah malu-malu'in ketika klas 2&3 hanya pake sepatu yg itu2 aja sampe bagian depan jebol tapi tetep lengket di kakiku, maklum tinggal di udik kondisi ekonomi pas2an, maksudnya pas sepatu jebol ortu nggak juga mampu beli'in ... wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tapi tetap seru dan bisa nejoy kan menjalaninya....life still cheerfull anyway

      Delete
  47. waah seru ceritanya mbak, klo saya pernah ga sadar pakai kaos kaki yg berbeda kanan dan kiri, ... salam kenal yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha...Alhamdulillah saya selalu sadar kalau pakai kaos kaki..

      Delete
  48. mau nimbrung cerita soal sepatu boleh ya... saya punya 2 pasang sepatu bulutangkis. satu di kantor, satu di rumah. tapi saya tukar masing-masing pasangannya. saya jadi punya 2 pasang sepatu yang berbeda ka-ki-nya. orang-orang mungkin menganggap saya gila. tapi saya cuek aja.

    btw, postingannya asyik Mbak. cuek aja lagi. ngapain mikirin orang-orang juga. tetep pake aja yang "selen". Indah pastinya koq.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahahaha..kalau case demikian namanya senagaj memilih untuk tampil unik dunk Pak. keren tuh, tampil beda jadinya..

      Delete
  49. Waaahhh :-O
    Cerita yg bikin mulut kebuka, cekikikan + senyum terharu :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. weiiiihhh, ati2 loh nanti kalau ada lalat lewat...hehehhe

      Delete
  50. Ada sedikit kesamaan cerita nih mbak, hihi... saya pun baru bisa punya sepatu sendiri pas kelas 3sd. sebelumnya punya kakak yg dah sobek sana sini. satu sepatu untuk satu jenjang pendidilan. alhasil Sampe skr sy pun gak suka ganti2 sepatu, paling punya satu yg dipake terus sampe koyak baru deh diganti lagi.

    sukses GAnya mbak Rie :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. TOS!
      Klau punya kakak gak bisa diwariskan, lha sudah jebol juga. Kan gak akan ada sepatu baru sebelum sepatu jebol [gak bisa dipakai lagi]. Selain itu, kakak perempuan dengan saya gap usianya jauh, yang tumbuh besar bersama saya ya soudata yg cowok. Jd sebenarnya yg banyak saya tiru ya style kakak cowok ...

      Alhasil sampai sekarang pun, saya baru mem'pensiunkan sepatu jika sudah rusak parah juga. RAsanya 'sungkan' jika sepatu masih bisa di pakai kok di istirahatkan..

      Delete
  51. wah keren
    sangat kreatif sekali mba :)
    salam kenal :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang keren saya apa postingannya neh? # huuuuu

      Salam kenal juga sob:)

      Delete
  52. Waktu SD saya belum pakai sepatu sama sekali..:D
    Kalau aku dulu suka pinjam sepatu jika ada kegiatan pramuka,karena aku pakai sepatu model olah raga,.. ya waktu dulu sepatu masih tergolong mewah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sejak saya punya sepatu kelas 3 SD - kuliah, model sepatunya ya casual gitu. Waktu SMA mupeng pengen sepatu Kasogi dan keturutannya yang mirip-2 deh sama tuh sepatu impian..

      Delete
  53. heeee jadi sepatunya beda sebelah ya :o
    MasyaAllah,,, untungnya nggak ada genk yang nge-bully yaa mbak rie ^^ mana temen-temen juga nggak ada yang perhatiin. emm :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, teman-teman yang ada di sekitarku gak ada yang suka nge'bully orang lain...they always welcome.

      Delete
  54. Kenangan yang manis mbak. Saya salut mbak Ririe tak ada rasa malu waktu itu. Masya Allah. Senang mengenalmu mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, mengenangnya kini kadang saya sendiri merasa ajaibnya kala itu saya bisa sedemikian PeDe dan ttp enjoy, hehehe..

      Ma kasih Mbak, Saya juga senang mengenal Mbak Niar:)

      Delete
  55. Jadi teringat waktu kuliah dulu, sepatunya yah itu-itu saja hehehehe

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.