Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Re-Engineering [saat] Stress

Prolog: Beberapa waktu lalu sempat melihat tayangan berita di salah satu stasiun TV [lebih dari sekali] yang menampilkan tentang orang di pasung [oleh keluarganya] karena kondisi stress yang dialaminya sehingga kehilangan akal sehatnya. Juga beberapa kali saya pernah berpapasan di jalan dengan orang yang kondisi kejiwaannya tidak stabil [belum lama ini], hingga sempat terjadi percakapan dengan teman kerja: apakah RSJ sudah over load sehingga banyak pasiennya yang lepas [atau dilepas]?. Dan flash back sekilas ketika saya masih kuliah, saat tidak jadwal di kampus dan ‘bebas’ dari freelance job, sesekali saya ‘nongkrong’ di RSJ Menur bersama teman. Berada di sana dan melihat dari dekat keadaan di dalam RS tersebut. Ada rasa miris, prihatin, sedih dan entah apalagi yang mengaduk hati dan pikiran kami saat melihat bagaimana kondisi mereka yang mayoritas masih usia produktif! Dan sempat terlintas bayangan betapa hari-hari mereka yang hampa, serta bagaimana keluarganya yang tentunya juga berada pada situasi yang complicated. Saat di RS tersebut kami juga sempat ngobrol-ngobrol dengan mahasiswa yang sedang praktek [kebetulan saat itu yang sedang magang dari AKPER]. Dari hasil obrolan dengan para Mahasiswa tersebut, kami diberitahu bahwa sebagian besar penyebabnya adalah stress akibat suatu kegagalan [karir,cita-cita, cinta, dll] dan kehilangan orang yang dikasihi [karena kecelakaan, bencana alam, pengkhianatan, dll].    

Dalam postingan Bersimbiosis dengan stress saya mencoba menampilkan tentang stress yang [bisa] membawa energi positive dimana aliran adrenalin dalam diri  justru akan melahirkan the power of kepepet alias menimbulkan kreatifitas untuk menjawab dan menyelesaikan permasalahan dengan optimal dan maksimal. Secara umum, kondisi yang justru [sangat mungkin] membuat kita bergairah untuk mengatasi stress tersebut bilamana the main cause’nya terkait dengan proses [pencapaian]: prestasi, kinerja, cita, cinta, dll. Maka Bismillahirrahmaanirrahiim dalam postingan ini, saya mencoba melihat’ stress dari sisi yang berbeda, yaitu ketika suatu hasil/kenyataan memaparkan hal yang tidak terduga [kegagalan dan kehilangan] dengan intensitas pressure yang sedemikian hebatnya [menurut batas kemampuan seseorang] sehingga menyebabkan ketidakstabilan psikis kemudian bermuara pada kondisi yang saya uraikan dalam prolog di atas [menyebabkan seseorang mengalami depresi berat, emosinya labil atau akal sehatnya jadi terganggu].

Tidak  ada yang bisa lepas dari rasa sakit/sedih ketika mengalami kegagalan ataupun kehilangan. Sehebat apapun orang tersebut, ketika hal dan peristiwa terjadi di luar dugaan kita dan sifatnya tidak menyenangkan, maka reaksi kita adalah sedih, kecewa atau shock! Tapi bagaimana menghadapi serta menerima kala rasa (tidak enak) tersebut menghampiri kita? Dalam hal rasa sakit secara emosi, kita bisa lari . . . tapi tidak bisa menghindar. How far we run, how deep we hide…we’ll never can reject it. Sebelum kita bisa “sembuh” kembali, kita harus menghadapi rasa sakit tersebut (suka atau tidak, tidak bisa di tolak !). Ingin sembuh dengan cepat? Siapkan toleransi yang besar terhadap rasa sakit: jalani proses untuk ikhlas. Kalau kita belajar untuk menghadapi, merasakan, dan menerima rasa sakit, maka rasa tersebut akan menjadi semakin kecil, sampai akhirnya menghilang [netral kembali deep impactnya].

Merasakan rasa sakit sama dengan menghadapinya dan artinya kita sedang dalam proses penyembuhan. Semakin kita acuhkan, justru semakin menumpuk. Then suddenly, seperti tsunami yang  akan menghempaskan gelombang rasa sakit yang sangat besar. Kalau sedang menghadapi hal berat, penting sekali untuk tahu ada pilihan duduk dan menghadapi rasa sakit dengan segera. Berusaha menghindari malah akan merasakan sakit yang lebih besar lagi nantinya dan justru menunda tahap penyembuhan. Dengan menerima rasa sakit, kecewa, dan sedih, maka intensitasnya akan berkurang. Penolakan akan rasa sakit malah membuat kita lebih gelisah dan bisa berakibat pada rasa takut. Kalau kita menghindari rasa sakit dan sedih, ingatkan diri kalau takut akan rasa sakit lebih buruk dibanding rasa sakit itu sendiri. Percayalah pengalihan rasa sakit hanya akan memperparah rasa sakit itu sendiri. Jika kita berada pada situasi yang sulit, mengalami kondisi yang biasa kita sebut “kegagalan atau kehilangan” sebenarnya adalah jalan bagi pendewasaan diri kita, tempaan yang akan membuat kita lebih kuat. 


Beberapa point yang bisa di jadikan review renungan dan motivasi antara lain:
1.  Saat rasa sakit mulai memasuki pikiran, let it flowing. Jangan lawan airmata untuk menetes, jangan takut disebut cengeng jika kita menangis untuk sesuatu hal yang memang normal kalau menangis. Menangis karena sebuah peristiwa yang menyesakkan dada sangat jauh berbeda dengan tangisan yang cengeng. Kalau perlu, berikan waktu pada diri untuk bersedih.
2.   Sugesti diri bahwa Hidup belum berakhir, seperti berbagai tantangan hidup, mengalami dan mengatasi rasa sakit bisa menghadiahkan kedalaman emosi dan perspektif yang tanpa kita sadari sudah tersimpan selama ini dalam diri. Menerima rasa sakit memang menakutkan. Kemungkinan untuk tergoda dengan pengalihan lewat alkohol, pil tidur, atau bahan adiksi lainnya sangat besar. Think it deeply, Selalu ada satu alasan terbaik mengapa peristiwa kehilangan/kegagalan itu harus terjadi. Merenung juga akan menghindarkan kita dari mengulangi kesalahan yang sama. Jangan membawa angan terbang pada setumpuk “andai/seumpama’ karena akan memekatkan rasa dihati semakin kusut masai karena yang dibutuhkan adalah menerima situasi dan berusaha untuk melangkah ke arah masa depan.
3.    Menulis perasaan sejujur mungkin bisa  membantu melalui semuanya dan tak perlu mencoba mengedit tulisan tersebut ( kan bukan mau di posting di blog tho…). Apapun yang ditulis adalah perasaan kita yang sebenarnya. Kita akan belajar menghadapi kesedihan dan menemukan pelajaran hidup. Ingatlah bahwa situasi yang tidak kita harapkan juga bagian penting yang harus dilalui dalam hidup dan akan menentukan siapa diri kita selanjutnya.
4.   Temukan kesenangan pada hal lain dalam hidup, spending time bersama orang-orang yang kita sayangi, baca buku yang bagus dan teruslah ingat bahwa peristiwa kegagalan/kehilangan hanyalah satu bagian dari hidup. Olahraga dapat meningkatkan mood dan mengalihkan depresi, juga merupakan cara yang hebat untuk menyibukkan diri dan berhenti memikirkan rasa gundah gulana: jogging, nge-gym atau bersepeda bersama teman-teman dan bayangkan setiap langkah adalah selangkah maju dalam menghilangkan kesedihan dan kemarahan.
5.   Relakan semuanya, let it belong to the past. Tak ada gunanya bertahan dalam kemarahan, sakit hati atau penyesalan. Di lain hal, kita dapat memberi selamat pada diri sendiri telah mengambil resiko untuk gagal, sakit, terluka ataupun sedih dan bahwa selalu akan ada lain kali (yang lebih baik tentunya).

So, keep in optimistic, apa yang saya tulis sebatas wacana [rangkaian kata-kata]. Seberapa powerfullnya Re-Engineering Stress membawa diri pada kebangkitan dari stress atas kegagalan dan atau peristiwa kehilangan yang terjadi, kembali pada pilihan pribadi masing-masing untuk mengejawantahkannya dalam mind set dan action sehari-hari sehingga ketika kenyataan mempertemukan pada kegagalan/kehilangan kita tak perlu berlama-lama berada dalam pandora stressJust remember this shock will pass, nothing last forever, even pain. And happiness is around the corner!


Sometimes GOD doesn't change your current situation,
because GOD is trying to change your heart and mind.



Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan

Jelajah Alas Purwo – Pantai Pancur

Melanjutkan edisi reportase [naratif] saat mbolang beberapa waktu lalu, dimana tulisan sebelumnya sudah terposting dalam ReportaseTrip on Rajegwesi–Teluk Hijau dan One Night Stand @Sukamade. Maka Bismillahirrahmaanirrahiim, setelah mengalami kehabisan BBM dan terlantar di tepi sungai [di kawasan Sukamade], sekira jam 10 akhirnya bisa melanjutkan perjalanan. Mengingat waktu sudah beranjak siang, maka destinasi pun harus disesuaikan dan dengan berat hati serta sempat terjadi perdebatan kecil, akhirnya dicapai kesepakatan untuk skip rute: Pulau Merah, Trianggulasri, Pantai plengkung dan Kawasan konservasi hutan mangrove Bedul, sehingga target yang paling memungkinkan dengan sisa waktu tersebut adalah TN Alas Purwo dan Pantai Pancur. 
View sepanjang rute Siliragung-Tegaldlimo [menuju alas Purwo]
Cukup banyak yang harus kami skip karena peristiwa kehabisan BBM saat meninggalkan Sukamade, dan tidak ada niat untuk nggrundhel berkepanjangan [just wasting time], tapi kami memang sangat menyayangkan sikap owner Land Rover yang tidak [profesional] memperhitungkan kondisi medan dan jaraknya [padahal dia sudah berpengalaman menghandle order trip off road]. Menurut curcol dari dua drivernya bahwa apa yang kami alami tersebut bukan hal baru lagi [sikap owner Land Rover memberikan jatah BBM selalu pas-pasan]. “ seringnya kalau membawa turis ke Ijen ya kehabisan BBM gini, tapi untungnya kan jalur ke sana ramai sehingga mudah mndapatkan bantuan untuk narik mobilnya ". Demikian tutur kisah salah satu drivernya yang diamini oleh temannya.

Back to the story, meninggalkan kawasan Sukamade tanpa sarapan [sempat di isi dengan makan mie instant mentah saat menunggu BBM datang] prediksinya begitu memasuki wilayah pedesaaan kami bisa dengan mudah mudah menemukan warung/rumah makan. Ternyata kami salah besar, di sepanjang jalur menuju Alas purwo sangat jarang ada warung. Beberapa warung yang kami temui pun sudah sold out jualannya. Baru sekitar jam dua siang Alhamdulillah menemukan warung yang menjawab rasa kelaparan kami meskipun harus menunggu nasinya yang belum masak!. Kesempatan emas buat Miss Hygiene “Zha” untuk men’sanitasi tangannya dan sidak dapur warung tersebut. Untuk menghemat waktu, sekali lagi kami menyantap makan di dalam mobil yang sedang melaju ke arah Alas purwo[seperti saat berangkat mbolang] .

Mendekati kawasan Alas Purwo, kami sempat ragu akan meneruskan perjalanan atau alih haluan ke Bedul mengingat sudah jam setengah empat. Tapi kepalang basah, tanggung banget kalau berbalik arah [kawasan alas Purwo terkenal angker]. Di pos pintu masuk kami diwanti-wanti harus keluar sebelum jam 6 sore atau resikonya harus menginap di area pantai Pancur! Karena waktu yang sudah sedemikian sore, sudah tidak mungkin jika masuk ke dalam rimbun dan angkernya alas Purwo.

Rute jalan di alas Purwo
Kalau kami bisa masuk wilayah Alas Purwo sebelum jam 12, tentu akan punya space waktu yang cukup untuk melihat secara langsung peta flora dan fauna yang ada di hutan tersebut. Biasanya banyak mahasiswa [seringnya jurusan biologi] yang melakukan studi lapangan di kawasan Alas Purwo. Rasa penasaran kami harus puas hanya dengan menikmati pesona ‘mistis’ hutan tersebut dalam rute jalan di jalur hutan tersebut. Dan memang rasanya berbeda banget [atau kami yang terbawa perasaan?] saat kami berada di jalur alas purwo tersebut, suasananya seperti sedang mendung dan terasa hawa yang beda banget. Kami benar-benar tak berani sembarangan bercanda, hanya ngobrol yang ringan-ringan saja [takut kalau salah ngomong dan di anggap ‘menyinggung’ di kawasan tersebut]. 
Mendekati ujung keluar dari jalur Alas Purwo [lebih terang]
Begitu keluar dari jalur alas purwo, betapa terpesonanya karena suasana masih terang benderang dengan matahari yang bersinar cerah ceria. Teman baru yang kami temui di Pantai Sukamade [Tim Motor CB] sudah beberapa kali mengabarkan jika sudah mendekati Alas Purwo dan menanyakan posisi kami sampai mana. 
Yang terlantar karena ban motor bocor

Dan betapa terkejutnya kami ketika beberapa saat sebelum memasuki area pantai Pancur, kami berpapasan dengan mereka yang duduk di pinggir jalan bersama motor kesayangan mereka. Ternyata salah satu motor mereka ada yang bannya yang bocor! Dengan penuh perjuangan 2 orang diantara mereka harus keluar lagi menempuh jalur alas purwo untuk menambal ban. Ketika akhirnya kami sempat ngobrol-ngobrol lagi [sebentar] dengan Tim Motor CB tersebut di Pancur, maka ledekan pun berbalik arah pada mereka. Akibat mengalami ban bocor, mereka memutuskan menginap di Pancur dan kembali ke Surabaya keesokannya. 
View saat Sore di Pantai Pancur

Di Pancur ada fasilitas yang cukup memadai untuk menginap, ada semacam hall [seperti balai desa] dan cafe hutan [kami menyebutnya demikian biar sedikit keren] yang menyediakan menu makanan murah meriah, dengan Rp. 6000,- sudah bisa makan kenyang menyantap 1 porsi nasi campur dengan lauk telur ceplok plus 1 gelas teh. Saat kami di sana, pengunjungnya ramai, rata-rata datang dengan rombongan dan banyak juga yang membawa keluarga [wisata keluarga]. Katanya sih para ‘pertapa’ di alas purwo kalau ‘break’ dari acara ritualnya ya nongkrong di cafe hutan tersebut. Letaknya yang tak jauh dari pantai dan suasananya yang nyaman, sebenarnya sangat mendukung buat berlama-lama disana atau bahkan menginap, tersedia fasilitas genset untuk penerangan kala malam tiba. 

Oia, salah satu satwa yang paling pemberani menampakkan diri di sepanjang perjalanan jalur alas Purwo dan Pantai pancur adalah seekor monyet dan kawan-kawannya yang banyak, berlompatan dari satu dahan pohon ke dahan lainnya.
Akan tetapi, alokasi waktu yang kami memiliki tidak memungkinkan untuk berada di Pancur lama-lama. Kami menuntaskan sun set di Pantai yang sangat menawan dan meninggalkan kawasan Alas purwo jam 6 sore [suasana sepanjang jalur alas Purwo sudah gelap gulita]. 

Sunset dalam genggaman
Alhamdulillah dalam perjalanan pulang ini pun kami mengalami kehabisan BBM lagi sehingga terpaksa di tarik oleh mobil satunya [yang dikendarai sang owner Land Rover] sampai tali penariknya putus mungkin karena sudah over limit regangan logamnya. Perjalanan mbolang yang diwarnai kisah kehabisan BBM ini pun usai sekira jam 9 malam dan teman-teman yang dari luar kota Banyuwnagi langsung menuju arahnya masing-masing. Rombongan Jember (Irma, Uci, Zha dan Nink) langsung menumpang Bus dari Srono dan Rombongan Surabaya (Bang dEd dan Melz) langsung diantar ke stasiun Rogojampi untuk mengejar kereta. 

Dan, saya, tidur dengan sukses menuju Banyuwangi bersama Roel dan driver beserta navigatornya. Lelah? Hyyaaaa, tentu saja, tapi apa yang saya dapat dari mbolang kali ini benar - benar worthed. Ya capeknya, ya mahalnya, ya ramenya, ya ngedumelnya. Kumplit plit plitttt.... finally, masih ada 1 postingan lagi untuk edisi mbolang ini, yaitu untuk oleh-olehnya...let’s wait it yaa..

Note: tulisan sebelumnya sudah terposting dalam Reportase Trip on Rajegwesi–Teluk Hijau dan One Night Stand @Sukamade



Bapak adalah Ayahku


Prolog: Niat awal postingan ini dalam rangka menyemarakkan perhelatan GiveAway Cah Kesesi AyuTea. Tapi setelah menyimak dengan lebih seksama dalam tempo yang secukupnya tentang isi T&Cnya, ternyata ada point yang menyebutkan: diutamakan kisah sendiri. Meski demikian, karena niat sudah diikrarkan maka tidak bisa saya tarik lagi sehingga tetap saya posting [Alhamdulillah jika ditoleransi untuk masuk kriteria GA #Mauuunya!] . Dan Bismillahirrahmaanirrahiim  here is my story [based on true story] yang saya narasikan dalam bentuk cerpen. Hope you’ll enjoy this entry.
♠♥♠♥♠♥

Pesawat telpon di meja kerjaku berdering kembali padahal baru satu menit aku meletakkan   gagang telpon tersebut,  “Iya Lia, ada apa lagi ?” tanyaku tanpa basa-basi pada sekretarisku. 
“ Maaf Pak, ada yang ingin bertemu dengan Pak Damar. Bisa saya persilahkan masuk sekarang atau…”
“ Siapa lagi? Bukannya sudah tidak ada appointment?”
“ Seorang bapak, tapi tidak mau menyebutkan namanya..” kudengar nada agak ragu di seberang telpon yang aku pegang.
Sok misterius banget, mau bertemu denganku tapi tidak mau menyebutkan identitasnya. Tapi demi mengingat didikan etika kedua orang tuaku, maka aku bilang pada Lia untuk mempersilahkan tamu itu masuk ke ruang kerjaku.
“ Assalamu’alaikum…” seorang lelaki seumuran bapak tapi sedikit lebih tinggi memasuki ruanganku. Kulitnya sawo matang, rambut agak bergelombang. Garis wajahnya mengingatkanku pada seseorang tapi aku tidak ingat sama sekali kapan dan di mana pernah melihatnya.
“ Wa’alaikum salam,” kuterima uluran tangannya,”silahkan duduk Pak..”
“ Maaf jika kedatangan saya mengganggu Nak Damar..”
Kalau boleh saya tahu bapak ini siapa dan ada keperluan apa ingin ketemu saya?” tanyaku to the point.
Lelaki itu tidak langsung menjawab, kulihat seberkas gundah menghiasi wajahnya yang mulai terpahati keriput di beberapa bagian.
“ Sangat wajar jika Nak Damar tidak mengenaliku, sama halnya aku juga tidak akan tahu bagaimana rupa Damar kecil yang telah kutinggalkan 24 tahun silam…”
“ Maksud Bapak…?” perasaan aneh, gugup dan bingung serta merta membadai di dadaku. Apakah dia….?
“ Iya aku ayahmu…” satu kalimat yang cukup membuat bumi terasa berhenti berputar. Aku terdiam dalam keterpanaan tiada terkira, terkejut dan ingin tidak mempercayai ucapannya. Tapi ingatanku yang langsung mendarat pada selembar foto yang pernah ditunjukkan Embah saat aku SMA adalah pembenaran yang tak bisa ku tolak.
Bippp...bippp...suara handphone menghentikan lamunanku tentang pertemuan kemarin sore dengan lelaki yang menyebut dirinya ayahku. Kulihat layar dan tampak nama Prastama muncul dilayar. Aku tak berminat mengangkatnya karena adikku itu pasti akan mencerca dengan banyak pertanyaan kenapa dan untuk apa aku tiba-tiba mau pulang ke Surabaya lagi padahal belum ada seminggu berada di Jakarta. Sebagai gantinya kukirimkan pesan singkat agar besok menjemputku di Juanda.
♠♥♠♥♠♥
 “ Bapak mana, Buk?” tanyaku begitu masuk rumah dan mencium tangan ibu.
“ Kamu ini ada apa? Tiba-tiba pulang lagi dan langsung nanyain bapakmu “ protes ibu sambil mengacak rambutku, kebiasaan ibu jika gemas padaku. “ cuci kaki dan minum teh dulu. Jam segini bapakmu ya bersama taxinya, apa lupa kalau pekerjaan bapakmu itu sopir taxi?”
“ Lha bapak sih ngeyel, suruh berhenti jadi sopir tidak mau. Sekarang aku sudah kerja dan Andi sudah lulus kuliah. Hanya tinggal Prastama yang harus dibiayai, aku sanggup bayari kuliahnya”.
“ Kamu ini datang-datang bicara ngalor-ngidul gak jelas begitu? Ada apa sih, Mar? Apa kamu malu punya bapak jadi sopir taxi? ”
Astagfirullah, kok jadi salah paham begini ? Ibuk tahu jika Damar sangat menghargai dan kagum dengan bapak kan ?” aku berusaha meredamkan perasaan ibu, merangkul pundaknya dan mencium keningnya dengan lembut. “ Bagi Damar, bapak adalah ayah terhebat di dunia, jadi tidak ada alasan buat Damar untuk malu dengan pekerjaannya sebagai sopir “.
“ Iya ibuk heran tiba-tiba kamu pulang lagi dan baru satu menit masuk rumah sudah bicara yang membingungkan seperti orang kesambet gitu “.
Ya Allah, aku tak sanggup mengatakan pada ibuk kenapa aku mendadak pulang lagi. Menceritakan pertemuanku dengan lelaki yang sudah menelantarkannya tanpa jejak demi menikah dengan wanita selingkuhannya, bahkan untuk memperjelas status pernikahannya ibuk harus bersusah payah sendiri mengurus surat cerai tanpa kehadiran lelaki itu. Jiwa besarnya mungkin sudah memaafkan lelaki tersebut, tapi aku yang tidak tega untuk melihat Ibu harus berperang kembali dengan desir luka karena aku membangkitkan lagi gores kelamluka masa lalunya.

Past, present, future time ~  Laut dan langit yang bertemu  digaris cakrawala
Aku memandang pigura yang menggantung di tembok, foto kami sekeluarga saat acara wisudaku beberapa tahun lalu. Ada bapak, ibu dan kedua adikku, sungguh potret keluarga utuh yang harmonis. Dan kenyataanya keharmonisan itu tak hanya tampak di foto. Dengan bekerja sebagai sopir taxi dan dibantu ibu yang melayani pesanan kue, mereka membesarkan kami bertiga dalam kesederhanaan di tengah kerasnya kehidupan kota Surabaya dan mampu mengantarkan kami sampai jenjang kuliah. Bapak menikah dengan Ibu yang janda beranak satu yaitu diriku. Sebenarnya saat itu bapak kerja di sebuah perusahaan tapi karena mengalami kebangkrutan akhirnya bapak kena PHK sehingga harus mencari pekerjaan lain dan jadi sopir taxi sampai sekarang. Aku hanya mengenal Bapak sebagai ayahku, karena yang aku tahu dari cerita sekilas, ayah kandungku sudah meninggalkan ibu sejak aku belum genap berumur setahun. Dan kenyataan itu tidak pernah menggangu karena sikap serta kasih sayang yang dicurahkan bapak tidak ada yang berbeda kepada kami bertiga. Lingkungan sekitarpun bukan tipical tokoh-tokoh dalam cerita sinetron yang usil terhadap bentuk hubungan anak dan ayah/ibu yang tidak sedarah.
“ Kamu kenapa? Kok dari tadi mandangi foto itu? “.
Aku menoleh dan tersenyum pada ibu “ Coba lihat di foto itu, bapak kelihatan kelihatan keren kan Buk? Hehehe…”
“ Dari tadi bapakmu terus yang kamu omongin, Mar “ selidik ibu dengan instink ingin tahunya.
“ Ibuk bisa saja “, elakku sekenanya “ Damar mau istirahat dulu Buk..
♠♥♠♥♠♥

Semilir angin sore yang meniup perlahan, menawarkan kesegaran tersendiri dengan aroma basah sisa hujan beberapa jam lalu. Duduk pada salah satu sudut tribun di Stadion Tambaksari, melayangkan pandangan ke tengah lapangan. Tampak beberapa anak sedang asyik main bola dengan keriangannya yang tanpa beban. Pemandangan yang menerbangkan ingatan pada masa kanak-kanakku.
Tak terasa sudah delapan belas tahun berlalu saat bapak setiap hari minggu mengajakku main bola di lapangan ini. Bersama kedua anak kandungnya dan aku yang lahir dari benih laki-laki lain tapi bapak menyayangiku dengan demikian tulusnya sehingga aku tak pernah merasakan jika dia bukan ayah kandungku.
Bapak yang mengajariku naik sepeda, menemaniku main bola dan membuatkan aku layang-layang. Bapak yang panik saat aku diserempet sepeda motor, bapak yang meredamkan amarah Ibu waktu tahu aku coba-coba merokok. Terlalu banyak kenangan dan tak bisa aku sebutkan satu persatu betapa bapak sudah menempatkan dirinya sebagai sosok ayah yang luar biasa bagiku. Dan yang membuatku aku lebih bangga lagi, semarah apapun bapak tidak pernah sampai menurunkan tangan pada kami.
“ Menangis itu normal Mar, tapi jadi laki-laki cengeng itu yang salah besar..” nasehatnya ketika aku jatuh saat belajar naik sepeda.
“ Kenapa cengeng itu salah, Pak?” tanyaku kala itu.
“ Karena cengeng itu artinya kamu lemah, kamu tidak hebat…” dengan bahasanya bapak mencoba memberi penjelasan yang bisa diterima oleh nalar kanak-kanakku.
Dedauanan hijau yang masih basah oleh sisa air hujan, beberapa butirnya jatuh di tubuhku saat angin bertiup perlahan. Kupejamkan mata, merasakan romantisme suasana di stadion ini sambil mengenang kembali setiap kenangan masa-masa aku sering bermain di lapangan ini.
“ Damar…” sapaan suara yang teramat aku kenal, menghentikan laju lamunanku. Perlahan kubuka kelopak mataku, menoleh ke samping dan kudapati sosok lelaki yang akrab aku panggil bapak sudah duduk dengan santai. Senyumnya mengembang di antara kumis tipisnya yang kelihatan habis dicukur.
Kucium tangannya dengan takzim “ Kok Bapak tahu Damar di sini?”
“ Di sini kamu dulu suka menghabiskan waktu untuk bermain, dan di sini pula kamu biasa menyendiri jika ada masalah kan?”
Yah, tentu saja bapak dengan mudah bisa menemukan aku di sini karena dia sedemikian paham dan hafal akan semua kebiasaanku.
“ Apa dia sudah menemuimu, Mar? Dan karena itu kamu tiba-tiba pulang dan mau minta penjelasan sama Bapak, kenapa memberitahu dia tentang alamatmu di Jakarta?” tanya bapak langsung pada pokok dilema hati yang aku alami.
“ Damar bingung, Pak. Antara kecewa, sedih dan ingin marah…andai bisa di hapus, Damar akan lebih mudah untuk memilih menghapus jejaknya dalam hidup Damar “.
“ Hushh, jangan ngawur gitu kalau ngomong..”
“ Dan Bapak, kenapa memberitahukan alamat Damar ?”
Bapak menatapku dalam-dalam, seolah hendak menyelami isi hatiku dan sesaat kemudian melemparkan pandangannya lurus ke tengah lapangan.
“ Karena Bapak tahu bagaimana hati seorang ayah untuk anaknya..”
“ Hanya karena dia kebetulan yang menyebabkan aku lahir? Kemudian pergi tanpa rasa tanggung jawab sedikitpun, tidak perduli istri dan anaknya masih hidup atau tidak? Itu yang di sebut hati seorang ayah?”
“ Bapak mengerti perasaanmu, Mar. Tapi dia tetap ayah kandungmu yang harus kau hormati “
“ Dan kalau aku tidak bisa menghormatinya maka aku di sebut anak durhaka ya kan Pak? Kenapa dia tidak di sebut ayah durhaka ?”
“ Damar..!” pintas bapak dengan intonasi agak tinggi.
“ Maaf, Damar tidak bermaksud kasar..”
Bapak menghela nafas  panjang dan merangkul pundakku dengan kasih.
“ Bapak tahu tidak mudah bagimu untuk menerima kenyataan bahwa kau harus menghormati dia. Dan asal kau tahu inipun salah satu resiko tidak mudah yang harus Bapak hadapi ketika memutuskan menikah dengan ibukmu “
“ Maksud Bapak?”
“ Aku yang membesarkan dan selalu ada buatmu..bagiku kau sudah menjadi anak kandungku. Tapi kenyataannya ada laki-laki lain yang jelas-jelas adalah ayah kandungmu ? Dan bapak tidak mungkin meniadakan fakta itu. Sangat tidak mudah buat bapak, Mar. Dengan menekan rasa cemburu dan ego, bapak meyakinkan ibukmu agar mau memperkenalkan kamu dengan keluarga ayahmu demi hubungan silaturahim tidak terputus..”
“ Iya, Damar sama-samar masih ingat. Dulu ibuk sesekali mengajak Damar ke rumah orang yang menyebutkan dirinya sebagai Eyang. Tapi laki-laki itu tak pernah muncul menemui Damar di sana Pak...” jawabku dengan nada suara serak. Ada rasa nelangsa saat mengingat betapa ibu sudah berlapang hati menapak tilas keluarga 'mantan' suaminya agar aku mengenal siapa saja keluarga besar ayah kandungku. Dan kenyataannya lelaki tersebut tak pernah menampakkan batang hidungnya  meski hanya sesaat. Dan ibu pun akhirnya harus mengikhlaskan jika lelaki itu tak ingin bertemu anak kandungnya. Menginjak SMP, ibu berhenti mengajakku mengunjungi keluarga besar itu karena orang yang membahasakan dirinya dengan sebutan Eyang sudah meninggal.   
“ Dan tidak mudah bagi  Bapak saat harus berbesar hati memberikan alamatmu ketika dia datang menemui bapak, Mar. Tapi bapak harus realistis, walau bagaimana tidak ada istilah mantan orang tua bagi anaknya kan?”
Aku terdiam menyimak kalimat demi kalimat yang di ucapkan bapak, berusaha meresapi dan mengendapkannya dalam hati serta meredam emosiku.
“ Sisi manusiawi bapak tidak rela, tiba-tiba dia muncul dan ingin di anggap sebagai ayah kandungmu. Tapi bapak akan jadi sosok ayah yang gagal mendidikmu jika bapak sendiri tidak mampu bersikap gentlemen dengan memberikan apa yang menjadi hak bagi kalian sebagai anak dan ayah..”

Aku terhenyak, trenyuh dalam palung haru yang terdalam. Sedemikian luar biasanya jiwa besar bapak. Dia yang sudah bersusah payah berselimut suka dan duka untuk membesarkan aku yang jelas-jelas bukan darah dagingnya, melimpahiku dengan perhatian dan kasih sayang. Dan dia berbesar hati meyakinkaku agar bisa menerima laki-laki yang mengaku sebagai ayah karena sebagian darahnya mengalir dalam tubuhku.
“ Terima kasih, bapak adalah ayahku yang terhebat” kupeluk bapak dengan sangat erat. Jika tidak ingat ini di lapangan, mungkin air mataku sudah menetes perlahan.
“ Jadi bagaimana..?”
“ Damar tidak akan mengecewakan bapak “ jawabku dengan suara serak “ Damar akan berusaha bersikap sportif terhadap ayah kandung Damar tapi Damar tidak bisa janji kalau hubungan kami akan cepat akrab “
“ Maksudmu, Mar?”
“ Hampir dua puluh lima tahun sejak kepergiannya meninggalkan Damar, tidak bisa di tebus dengan hitungan hari atau bulan untuk melahirkan hubungan emosional antara ayah dan anak..”
“ Iya Bapak mengerti, yang penting kamu bisa memaafkan dia saja dulu..”
“ Bapak sendiri yang suka bilang pada Damar bahwa tidak ada yang instant di dunia ini. Semua butuh proses dan waktu kan ?”
“ Ya sudah, sekarang ayo kita pulang. Ibukmu sudah masak nasi goreng kesukaanmu lho?”
Dan kenyataannya hubungan nasab antara orang tua dan anak memang tak akan terputus mulai masa lalu, sekarang dan nanti, apalagi ada adik perempuan hasil pernikahan ayahku dengan wanita itu....hubungan bertali darah ini akan terus merentang selamanya, demikian serangkum bisikan hati yang memberikan energi proaktif dan kucoba tanamkan dalam mindsetku selain pattern yang tak akan tergeser lagi bahwa Bapak adalah ayahku.
Kami pun beranjak dari stadion dengan diiringi sayup-sayup suara adzan Maghrib, menggema memecahkan langit Surabaya. Warna jingga mulai semburat di sisi barat dan angin senja pun seolah  berhenti sejenak untuk menjawab seruan suara muadzzin yang merdu mengumandangkan panggilan untuk menyeru pada Allah Azza wa Jalla dalam sujud demi sujud yang khusyu.

♠♥♠♥♠♥ End ♠♥♠♥♠♥



Tidak ada yang bisa mengubah dan menghindari masa lalu,
tapi selalu ada pilihan untuk memperbaiki reaksi serta sikap kita sekarang terhadap segala yang telah terjadi demi hari esok yang lebih baik.



" Ngaturaken sugeng ambal warsa kagem mbak Noorma FItriana M. Zain
Amugi tansah pinaringan Ridhlo Ilahi Rabb. 
Wish You’re very happy ever after "


"Tulisan ini diikutsertakan dalam GiveAway Cah Kesesi AyuTea 
yang diselenggarakan oleh Noorma Fitriana M. Zain".

Histamin dan Alergi [pada] Ikan

Mungkin kita pernah mendengar peristiwa keracunan setelah makan olahan ikan ataupun tentang orang yang alergi terhadap ikan? Dan bagi siapa saja yang gemar makan ikan: pindang, ikan asin, produk olahan ikan tuna atau pun jenis produk olahan ikan lainnya, sangat mungkin pernah mengalami/merasakan adanya rasa gatal terhadap suatu jenis [olahan] ikan yang sedang disantap. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim sedikit share tentang penyebab terjadinya alergi atau adanya rasa gatal/pahit pada ikan yang lebih dikenal dengan nama Histamin  yaitu senyawa yang terdapat pada daging ikan [umumnya dari family scombroid] yang di dalam dagingnya terdapat kadar histidin yang tinggi.  Histamin di dalam daging ikan diproduksi oleh hasil karya enzim yang menyebabkan dan meningkatkan pemecahan histidin dengan melalui proses decarboksilasi (pemotongan gugus karboksil). Meskipun kadar histamin dalam daging ikan sangat bervariasi, namun secara rata-rata untuk ikan dalam family scombroid yang mulai mengalami decompose biasanya mengandung histamin sekitar 10-50 mg/100 gr dan yang tingkat pembusukannya sudah parah sekali maka kadar histaminnya bisa mencapai 1.000 mg/100 gr. 

Gejala keracunan akan muncul apabila kita mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin yang berlebih, yaitu dalam jumlah diatas 70-1000 mg. Adanya kandungan histamin yang tinggi akan mengakibatkan muntah-muntah, rasa terbakar pada tenggorokan, bibir bengkak, sakit kepala, kejang, mual, muka dan leher kemerah-merahan, gatal-gatal dan badan lemas. Sekilas gejala keracunan histamin mirip dengan gejala alergi [yang diindikasikan dengan timbulnya rasa mual, pusing, bentol-bentol yang disertain gatal biduren/skin rash], dimana hal tersebut merupakan reaksi penolakan tubuh terhadap zat asing dalam aliran darah] yang dialami oleh orang yang sensitif terhadap ikan atau bahan makanan asal laut. Oleh karena itu biasanya orang sering keliru membedakan gejala keracunan histamin dengan alergi. Sampai saat ini belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat keracunan histamin. Meskipun begitu kita harus tetap waspada, karena efek yang ditimbulkannya juga tidak bisa dianggap sepele. Terjadinya gejala keracunan histamin maupun adanya rasa gatal/pahit dari ikan hanya terjadi jika makanan hasil olahan ikan yang dikonsumsi tersebut sudah kadaluarsa atau kualitasnya tidak baik karena komposisi kimiawi [ikan] sudah berubah oleh aktivitas enzim-enzim/mikroorganisme pembusuk dan hal ini hanya akan terjadi ikan yang sudah mulai rusak atau membusuk. 
Ciri-Ciri Ikan Segar
Berdasarkan penelitian, semua daging ikan yang berwarna gelap mengandung histidin bebas tinggi.  Sebaliknya ikan-ikan berdaging putih, rendah kandungan histidin bebasnya sehngga waktu busuk tidak menghasilkan histamin.  Sedang ikan yang berdaging berwarna medium dapat menghasilkan histamin sampai 10 mg% setelah dibiarkan 48 jam pada suhu 25OC.  Tetapi terdapat anomali pada jenis ikan tuna yang memiliki 2 jenis daging yaitu putih dan yang gelap, justru daging-daging yang putih yang tinggi histaminnya.  Daging yang merah jauh lebih sedikit.  Untuk konsumsi manusia daging merah lebih aman dari daging putihnya itu bila dipandang dari segi histamin.  

Mengapa daging merah justru kecil kandungan histaminnya ? 
Hal itu disebabkan daging merahnya tinggi kandungan TMAO (Trimethyl Amine Oksida) yang berfungsi menghambat proses terbentuknya histamin. Meskipun enzim pemecah karboksil dapat berasal dari daging tubuh ikan sendiri, sebagian besar enzim pemecah tersebut dapat dihasilkan oleh mikroba yang terdapat dalam saluran pencernaan ikan serta mikroba lain yang mengkontaminasi ikan dari luar, terutama melalui sentuhan tangan yang kotor. Karena itu kadar histamin dalam ikan tuna dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat kontaminasi mikroba [sebelum diolah lebih lanjut]. Dari ratusan jenis bakteri yang telah diteliti ada 3 jenis bakteri yang mampu memproduksi histamin dalam jumlah tinggi dari histidin yaitu :
a.    Proteus morganii
b.    Enterobacteri aerogenes
c.     Clostridium perfringens

Hampir semua mikroba pembentuk histamin bersifat gram negative dan berbentuk batang, banyak yang berasal dari kontak dengan tangan manusia dan kotoran tinja dan isi usus ikan.  Mikroba dan enzim protease isi perut ikan dapat merembes dari dinding perut ke daging.  Bagian depan tubuh ikan biasanya memiliki kadar histamin paling tinggi, dan terendah di bagian ekor. Ikan-ikan yang telah dibuang jeroannya, rendah kadar histaminnya karena, mikroba usus dan enzim proteolitis yang terdapat dalam rongga perut dapat menembus ke daging.  Pembuangan jeroan pada ikan kecil dianggap kurang praktis.  Untuk menghindari  terjadinya histamin yang tinggi, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan [semoga bisa diaplikasikan dalam sehari-hari] antara lain:

PENGARUH SUHU [ Meningkatnya suhu]
Jumlah histamin yang diproduksi dari histidin, sangat tergantung pada jumlah enzim yang berada di sekitarnya, dan jumlah enzim sangat tergantung pada jumlah bakteri yang hidup dan berkembang biak.  Suhu yang paling baik untuk pertumbuhan mikroba disebut suhu optimum pertumbuhan, sedang suhu terbaik untuk kecepatan reaksi enzim disebut suhu aktivitas optimum. Untuk Proteus morganii suhu optimum aktivitas enzimnya adalah 37OC, sedang suhu optimum pertumbuhan adalah semakin tinggi suhu biasanya semakin cepat reaksi enzimnya, tetapi juga cepat koagulasi dan enzim menjadi inaktif.
Enzim dekarboksilase yang dihasilkan oleh mikroba biasanya sangat peka terhadap suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar.  Enzim karboksilase dari Clostridium perfringens kehilangan 25% keaktifannya dalam waktu 10 menit pada suhu 38OC.  Sebagian kegiatan enzim banyak terjadi sebelum tahap precook, selama precook meningkat.
Cold Chain System
PENGARUH PENANGANAN [Handling tidak tepat]
Ikan-ikan tuna yang tidak segera di-es-kan setlah ditangkap ternyata mempunyai kandungan histamin lebih tinggi dari pada yang dieskan. Yang tidak segera di-es-kan memiliki kadar histamin 2X lipat, Ikan-ikan yang di-es-kan terlambat, sudah tidak memenuhi mutu untuk dikalengkan setelah berumur 5 hari. Karena itu peng-es-an pada ikan [tuna] mutlak sangat perlu, terutama untuk menekan terbentuknya histamin. 
Ikan tuna yang tidak dibekukan dan disimpan pada 0OC akan sudah busuk paling lambat 11 hari.  Sedang ikan yang dibekukan –20OC baru membusuk dalam 15 hari, ikan-ikan beku yang dithawing disimpan pada 0OC akan busuk dalam waktu 12 hari sedang yang dibekukan (sampai) –20OC selama 67 hari akan membusuk dalam waktu 13 hari pada suhu 0OC (thawing). 
Tujuan thawing ialah meningkatkan suhu pusat ikan sehingga mencapai 0OC.  Yang harus diperhatikan saat thawing ikan adalah Waktu yang diperlukan tentu saja tergantung faktor-faktor tersebut diatas serta ukuran ikan.  Semakin lama waktu thawing, semakin tinggi pembentukan kadar histamin. Thawing ikan beku dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu : dengan air yang mengalir, diam (direndam) dan dengan udara (dibiarkan meleleh sendiri) pada suhu kamar. Kadar histamin akan meningkat tergantung cara thawing, waktu thawing, suhu air dan kecepatan aliran air.
Seperti telah diketahui, tuna segar tidak mengandung histamin segar. Histamin terjadi setelah ikan mati dan dibiarkan pada suhu yang cukup tinggi dimana beberapa bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak.

Perkiraan [secara sederhana] kadar histamin dapat diperoleh dengan menggunakan skala monograph, yaitu dengan membuat garis yang menghubungkan skala A waktu (jam) dengan skala B suhu (OF). garis tersebut akan memotong skala C kadar histamin (mg/100 gram). Sebagai contoh: bila ikan tuna telah dibiarkan pada suhu 70 OF (42 OC) selama 29 jam maka kadar histaminnya akan mencapai 10 mg/100 gram. Bila dibiarkan 14 jam pada suhu90 OF (54 OC) atau selama 10 jam 100 OF (60 OC) kadar histaminnya juga akan mencapai 10 mg/100 gram. Meskipun kadar histamin tidak selalu sama pada setiap bagian badan , namun produksi kadar histamin tersebut menggambarkan indikasi umum. Biasanya bagian depan ikan lebih tinggi kandungan histaminnya dibanding bagian belakang. Bila ikan tuna sudah mulai membusuk, kandungan histamin rata-rata masih kurang dari 3 mg/100 gram, tetapi kadar histamin bagian depan (belakang kepala ikan) sudah mencapai 1,14 kali lebih besar dari nilai rata-ratanya. Sedang ikan dengan tingkat kebusukan sedang biasanya rata-rata histaminnya telah lebih dari 10 mg/100 gram, sedang bagian depan telah mencapai 1,98 kali lebih besar. Cara prediksi tersebut diperoleh berdasarkan berbagai asumsi yang dianggap mewakili, jadi ada kelemahan-kelemahan yaitu monograph tersebut dibuat dari data-data ikan kecil (4 – 5 pounds) dari satu jenis ikan, dan tiap ikan diinkubasi pada suhu yang tetap. Dari monograph tersebut jelas hubungannya antara suhu dan kebusukan (histamin), semakin tinggi suhu semakin cepat produksi histamin.  Semakin rendah suhu semakin awet dan semakin rendah histamin.
Good Handling: Cold Chain
Selain dengan menggunakan monograph, maka bagi konsumen masyarakat pada umumnya juga bisa melakukan deteksi histamin dengan menggunakan uji indera [sensory test] yaitu penglihatan dan perasa untuk mengetahui kadar histamin.  Uji indera ini masih banyak digunakan untuk mendeteksi ikan yang sudah terlalu tinggi kadar histaminnya, yaitu ketika ikan sudah mengalami proses decompose [kemunduran mutu] yang biasa kita kenal dengan istilah ikan [sudah] tidak segar yang bisa dilihat dari ciri-ciri visualnya antara lain: tekstur dagingnya lembek, berbau busuk [bau khas ikan mulai rusak], warna permukaan kulitnya kusam, mata ikan keruh [tidak cemerlang], daging melesek jika ditekan dengan jari, perutnya pecah.

Secara uji indera rasa yaitu dilakukan dengan mencicipi daging ikan, jika terasa pahit atau gatal [yang harusnya tidak ada dalam taste ikan berkualitas baik], maka bisa dikatakan mengandung histamin. Akan tetapi dalam batas kadar histamin yang rendah, penggunaan deteksi uji indera tidak mungkin menjelaskan secara obyektif sehingga sering menimbulkan debat kusir” karena tingkat kepekaan indra masing-masing orang berbeda. Bisa jadi bagi si A sudah merasakan adanya rasa gatal, namun bagi si B [yang sensitivitas kurang peka] tidak merasakan gatal saat menikmati ikan secara bersamaan. Sehingga untuk hasil yang akurat [umumnya] untuk quality assurance skala produksi harus dilakukan uji histamin secara laboratoris sehingga diperoleh hasil kadar histamin secara kuantitatif [yang lebih obyektif].  Masalah kadar histamin dalam ikan kaleng [tuna] adalah merupakan masalah serius dalam perdagangan international.  

Berbagai negara menetapkan batas maximum (MRL = Maximum Residu Limits) di dalam regulasi perdagangannyaDan Indonesia mempersyaratkan MRL histamin sebesar 100 mg/100 g [ppm].