WHAT'S NEW?
Loading...

Histamin dan Alergi [pada] Ikan

Mungkin kita pernah mendengar peristiwa keracunan setelah makan olahan ikan ataupun tentang orang yang alergi terhadap ikan? Dan bagi siapa saja yang gemar makan ikan: pindang, ikan asin, produk olahan ikan tuna atau pun jenis produk olahan ikan lainnya, sangat mungkin pernah mengalami/merasakan adanya rasa gatal terhadap suatu jenis [olahan] ikan yang sedang disantap. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim sedikit share tentang penyebab terjadinya alergi atau adanya rasa gatal/pahit pada ikan yang lebih dikenal dengan nama Histamin  yaitu senyawa yang terdapat pada daging ikan [umumnya dari family scombroid] yang di dalam dagingnya terdapat kadar histidin yang tinggi.  Histamin di dalam daging ikan diproduksi oleh hasil karya enzim yang menyebabkan dan meningkatkan pemecahan histidin dengan melalui proses decarboksilasi (pemotongan gugus karboksil). Meskipun kadar histamin dalam daging ikan sangat bervariasi, namun secara rata-rata untuk ikan dalam family scombroid yang mulai mengalami decompose biasanya mengandung histamin sekitar 10-50 mg/100 gr dan yang tingkat pembusukannya sudah parah sekali maka kadar histaminnya bisa mencapai 1.000 mg/100 gr. 

Gejala keracunan akan muncul apabila kita mengkonsumsi ikan dengan kandungan histamin yang berlebih, yaitu dalam jumlah diatas 70-1000 mg. Adanya kandungan histamin yang tinggi akan mengakibatkan muntah-muntah, rasa terbakar pada tenggorokan, bibir bengkak, sakit kepala, kejang, mual, muka dan leher kemerah-merahan, gatal-gatal dan badan lemas. Sekilas gejala keracunan histamin mirip dengan gejala alergi [yang diindikasikan dengan timbulnya rasa mual, pusing, bentol-bentol yang disertain gatal biduren/skin rash], dimana hal tersebut merupakan reaksi penolakan tubuh terhadap zat asing dalam aliran darah] yang dialami oleh orang yang sensitif terhadap ikan atau bahan makanan asal laut. Oleh karena itu biasanya orang sering keliru membedakan gejala keracunan histamin dengan alergi. Sampai saat ini belum pernah dilaporkan adanya kematian akibat keracunan histamin. Meskipun begitu kita harus tetap waspada, karena efek yang ditimbulkannya juga tidak bisa dianggap sepele. Terjadinya gejala keracunan histamin maupun adanya rasa gatal/pahit dari ikan hanya terjadi jika makanan hasil olahan ikan yang dikonsumsi tersebut sudah kadaluarsa atau kualitasnya tidak baik karena komposisi kimiawi [ikan] sudah berubah oleh aktivitas enzim-enzim/mikroorganisme pembusuk dan hal ini hanya akan terjadi ikan yang sudah mulai rusak atau membusuk. 
Ciri-Ciri Ikan Segar
Berdasarkan penelitian, semua daging ikan yang berwarna gelap mengandung histidin bebas tinggi.  Sebaliknya ikan-ikan berdaging putih, rendah kandungan histidin bebasnya sehngga waktu busuk tidak menghasilkan histamin.  Sedang ikan yang berdaging berwarna medium dapat menghasilkan histamin sampai 10 mg% setelah dibiarkan 48 jam pada suhu 25OC.  Tetapi terdapat anomali pada jenis ikan tuna yang memiliki 2 jenis daging yaitu putih dan yang gelap, justru daging-daging yang putih yang tinggi histaminnya.  Daging yang merah jauh lebih sedikit.  Untuk konsumsi manusia daging merah lebih aman dari daging putihnya itu bila dipandang dari segi histamin.  

Mengapa daging merah justru kecil kandungan histaminnya ? 
Hal itu disebabkan daging merahnya tinggi kandungan TMAO (Trimethyl Amine Oksida) yang berfungsi menghambat proses terbentuknya histamin. Meskipun enzim pemecah karboksil dapat berasal dari daging tubuh ikan sendiri, sebagian besar enzim pemecah tersebut dapat dihasilkan oleh mikroba yang terdapat dalam saluran pencernaan ikan serta mikroba lain yang mengkontaminasi ikan dari luar, terutama melalui sentuhan tangan yang kotor. Karena itu kadar histamin dalam ikan tuna dapat digunakan sebagai tolok ukur tingkat kontaminasi mikroba [sebelum diolah lebih lanjut]. Dari ratusan jenis bakteri yang telah diteliti ada 3 jenis bakteri yang mampu memproduksi histamin dalam jumlah tinggi dari histidin yaitu :
a.    Proteus morganii
b.    Enterobacteri aerogenes
c.     Clostridium perfringens

Hampir semua mikroba pembentuk histamin bersifat gram negative dan berbentuk batang, banyak yang berasal dari kontak dengan tangan manusia dan kotoran tinja dan isi usus ikan.  Mikroba dan enzim protease isi perut ikan dapat merembes dari dinding perut ke daging.  Bagian depan tubuh ikan biasanya memiliki kadar histamin paling tinggi, dan terendah di bagian ekor. Ikan-ikan yang telah dibuang jeroannya, rendah kadar histaminnya karena, mikroba usus dan enzim proteolitis yang terdapat dalam rongga perut dapat menembus ke daging.  Pembuangan jeroan pada ikan kecil dianggap kurang praktis.  Untuk menghindari  terjadinya histamin yang tinggi, maka beberapa hal yang perlu diperhatikan [semoga bisa diaplikasikan dalam sehari-hari] antara lain:

PENGARUH SUHU [ Meningkatnya suhu]
Jumlah histamin yang diproduksi dari histidin, sangat tergantung pada jumlah enzim yang berada di sekitarnya, dan jumlah enzim sangat tergantung pada jumlah bakteri yang hidup dan berkembang biak.  Suhu yang paling baik untuk pertumbuhan mikroba disebut suhu optimum pertumbuhan, sedang suhu terbaik untuk kecepatan reaksi enzim disebut suhu aktivitas optimum. Untuk Proteus morganii suhu optimum aktivitas enzimnya adalah 37OC, sedang suhu optimum pertumbuhan adalah semakin tinggi suhu biasanya semakin cepat reaksi enzimnya, tetapi juga cepat koagulasi dan enzim menjadi inaktif.
Enzim dekarboksilase yang dihasilkan oleh mikroba biasanya sangat peka terhadap suhu yang lebih tinggi dari suhu kamar.  Enzim karboksilase dari Clostridium perfringens kehilangan 25% keaktifannya dalam waktu 10 menit pada suhu 38OC.  Sebagian kegiatan enzim banyak terjadi sebelum tahap precook, selama precook meningkat.
Cold Chain System
PENGARUH PENANGANAN [Handling tidak tepat]
Ikan-ikan tuna yang tidak segera di-es-kan setlah ditangkap ternyata mempunyai kandungan histamin lebih tinggi dari pada yang dieskan. Yang tidak segera di-es-kan memiliki kadar histamin 2X lipat, Ikan-ikan yang di-es-kan terlambat, sudah tidak memenuhi mutu untuk dikalengkan setelah berumur 5 hari. Karena itu peng-es-an pada ikan [tuna] mutlak sangat perlu, terutama untuk menekan terbentuknya histamin. 
Ikan tuna yang tidak dibekukan dan disimpan pada 0OC akan sudah busuk paling lambat 11 hari.  Sedang ikan yang dibekukan –20OC baru membusuk dalam 15 hari, ikan-ikan beku yang dithawing disimpan pada 0OC akan busuk dalam waktu 12 hari sedang yang dibekukan (sampai) –20OC selama 67 hari akan membusuk dalam waktu 13 hari pada suhu 0OC (thawing). 
Tujuan thawing ialah meningkatkan suhu pusat ikan sehingga mencapai 0OC.  Yang harus diperhatikan saat thawing ikan adalah Waktu yang diperlukan tentu saja tergantung faktor-faktor tersebut diatas serta ukuran ikan.  Semakin lama waktu thawing, semakin tinggi pembentukan kadar histamin. Thawing ikan beku dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu : dengan air yang mengalir, diam (direndam) dan dengan udara (dibiarkan meleleh sendiri) pada suhu kamar. Kadar histamin akan meningkat tergantung cara thawing, waktu thawing, suhu air dan kecepatan aliran air.
Seperti telah diketahui, tuna segar tidak mengandung histamin segar. Histamin terjadi setelah ikan mati dan dibiarkan pada suhu yang cukup tinggi dimana beberapa bakteri dapat tumbuh dan berkembang biak.

Perkiraan [secara sederhana] kadar histamin dapat diperoleh dengan menggunakan skala monograph, yaitu dengan membuat garis yang menghubungkan skala A waktu (jam) dengan skala B suhu (OF). garis tersebut akan memotong skala C kadar histamin (mg/100 gram). Sebagai contoh: bila ikan tuna telah dibiarkan pada suhu 70 OF (42 OC) selama 29 jam maka kadar histaminnya akan mencapai 10 mg/100 gram. Bila dibiarkan 14 jam pada suhu90 OF (54 OC) atau selama 10 jam 100 OF (60 OC) kadar histaminnya juga akan mencapai 10 mg/100 gram. Meskipun kadar histamin tidak selalu sama pada setiap bagian badan , namun produksi kadar histamin tersebut menggambarkan indikasi umum. Biasanya bagian depan ikan lebih tinggi kandungan histaminnya dibanding bagian belakang. Bila ikan tuna sudah mulai membusuk, kandungan histamin rata-rata masih kurang dari 3 mg/100 gram, tetapi kadar histamin bagian depan (belakang kepala ikan) sudah mencapai 1,14 kali lebih besar dari nilai rata-ratanya. Sedang ikan dengan tingkat kebusukan sedang biasanya rata-rata histaminnya telah lebih dari 10 mg/100 gram, sedang bagian depan telah mencapai 1,98 kali lebih besar. Cara prediksi tersebut diperoleh berdasarkan berbagai asumsi yang dianggap mewakili, jadi ada kelemahan-kelemahan yaitu monograph tersebut dibuat dari data-data ikan kecil (4 – 5 pounds) dari satu jenis ikan, dan tiap ikan diinkubasi pada suhu yang tetap. Dari monograph tersebut jelas hubungannya antara suhu dan kebusukan (histamin), semakin tinggi suhu semakin cepat produksi histamin.  Semakin rendah suhu semakin awet dan semakin rendah histamin.
Good Handling: Cold Chain
Selain dengan menggunakan monograph, maka bagi konsumen masyarakat pada umumnya juga bisa melakukan deteksi histamin dengan menggunakan uji indera [sensory test] yaitu penglihatan dan perasa untuk mengetahui kadar histamin.  Uji indera ini masih banyak digunakan untuk mendeteksi ikan yang sudah terlalu tinggi kadar histaminnya, yaitu ketika ikan sudah mengalami proses decompose [kemunduran mutu] yang biasa kita kenal dengan istilah ikan [sudah] tidak segar yang bisa dilihat dari ciri-ciri visualnya antara lain: tekstur dagingnya lembek, berbau busuk [bau khas ikan mulai rusak], warna permukaan kulitnya kusam, mata ikan keruh [tidak cemerlang], daging melesek jika ditekan dengan jari, perutnya pecah.

Secara uji indera rasa yaitu dilakukan dengan mencicipi daging ikan, jika terasa pahit atau gatal [yang harusnya tidak ada dalam taste ikan berkualitas baik], maka bisa dikatakan mengandung histamin. Akan tetapi dalam batas kadar histamin yang rendah, penggunaan deteksi uji indera tidak mungkin menjelaskan secara obyektif sehingga sering menimbulkan debat kusir” karena tingkat kepekaan indra masing-masing orang berbeda. Bisa jadi bagi si A sudah merasakan adanya rasa gatal, namun bagi si B [yang sensitivitas kurang peka] tidak merasakan gatal saat menikmati ikan secara bersamaan. Sehingga untuk hasil yang akurat [umumnya] untuk quality assurance skala produksi harus dilakukan uji histamin secara laboratoris sehingga diperoleh hasil kadar histamin secara kuantitatif [yang lebih obyektif].  Masalah kadar histamin dalam ikan kaleng [tuna] adalah merupakan masalah serius dalam perdagangan international.  

Berbagai negara menetapkan batas maximum (MRL = Maximum Residu Limits) di dalam regulasi perdagangannyaDan Indonesia mempersyaratkan MRL histamin sebesar 100 mg/100 g [ppm].           


120 comments: Leave Your Comments

  1. Pernah temanku sampai wajahnya memerah dan gatal - gatal setelah makan ikan tongkol. berarti itu histamin ya ?? kirain karena bahan pengawetnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kejadiannya rarely, sangat mungkin itu karena histamin, apalgi jika yang dimakan ikan tongkol [termasuk yang secara alami berpotensi mengandung histamin]. Kalau bahan pengawet itu sifatnya residual, jd akibatnya akan terlihat dalam jangka waktu relatif lama [salah satunya penyakit kanker]

      Delete
  2. pertamax di amankan!!

    hahaha


    itu rumus2 kimia bikin pusing aku ajah mbak :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rumus kimianya gak usah di apalin Mbak, nanti kalau pusing kasian dedeknya ikutan pusing lho? hehehehe

      Delete
  3. walaahh nggak jadi pertamax .. hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahahaha...selamat Mbak, masih runner up kok:)

      Delete
  4. kalo aku alhamdulillah nggak pernah gatel2 atau alergi gitu mbak :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah bisa makan ikan dengan suka-suka deh...

      Delete
  5. Pantesan kalo habis makan ikan suka gatal dikit ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jika penanganan sebelum di olah kuran diperhatikan suhunya [tidak di simpan dalam suhu rendah/beku] maka hadirnya histamin tak bisa dielakkan sehingga lidah kita akan merasakan taste gatal saat menyantap ikan.

      Delete
  6. kakakku juga mbak kalo makan ikan pasti gatal2 trs badannya pda memerah semua..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, kalau setiap kali makan ikan [jenis apapun] mengalami kayak gitu, kemungkinan itu karena alergi...#sok jadi dokter!

      Delete
  7. pengen banget makan ikan, tapi gak pernah bisa..baca artikel ini jadi malas coba makan ikan, ntar alergi lagi^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduuh, alergi makan ikan ya? Saya pernah baca artikel bahwa alergi sebenarnya bisa di perangi dengan terapi makan jenis makanan yg bikin alergi tersebut dimulai dari konsentrasi yang rendah {banyak campuran bahan lainnya], kemudian ditingkatkan komposisinya...

      Delete
  8. Emang sering kalo ada yang habis makan ikan terus gatal2 ya mbak, aku kira alergi. Ternyata karena kadar histamin yang bisa menyebabkan keracunan ya mbak hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam kadar [hisatamin] yang diatas MRL, histamin akan menyebabkan keracunan. "taste" histamin memang gatal pada indera perasa dan jika kena kulit juga gatal seperti biduran begitu

      #at least saya pernah membuktikan langsung kalau soal rasa histamin [senyawa aslinya]

      Delete
  9. lengkap deh mbak penjelasannya.adikku pernah gatel2 makan tuna itu karena apa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. karena adanya histamin Mbak. Tuna merupakan salah satu jenis ikan yang secara alami mengandung histidin, sehingga jika handling terhadap tuna sebelum di masak tidak tepat [terlalu lama dibiarkan tanpa es/pendinginan] maka akan berpotensi terbentuknya senyawa histamin yang rasanya gatal tersebut.

      Delete
  10. Ririe sayang... sorry belum sempat komen panjang lebar, singgah sejenak dan langsung pergi lagi nih... nanti balik lagi yaaa..... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Okeyy Mbak, sesempatnya Mbak AL ada waktu. Semoga semua urusannya berjalan lancar ya Mbak:)

      Delete
  11. Trus bgmana dunk cara mengatasinya jika sudah terlanjur terjadi keracunan histamin....? -irfan balai-

    ReplyDelete
    Replies
    1. es degan kayaknya seger pak kalo habis makan ikan bakar... loh... gak nyambung yah... xixixix

      Delete
    2. @ Pak Irfan:
      Wah, surprise neh ada PAk Irfan mampir ke sini? Terima kasih sudah diingatkan kalau dalam postingan saya belum mencantumkan P3K jika sudah terlanjur terjadi keracunan histamin....?

      Pertolongan pertama pada kasus keracunan yang masih paling mudah dan familiar ya seperti yang disebutin oleh Mbak Nurul itu kan Pak? MInum air kelapa [gak usah pakai es], opsi selanjutnya minum obat antihistamin dan jika masih belum netral keracunannya silahkan di bawa ke balai pengobatan/dokter terdekat.. Ada tambahan kah dari Pak Irfan?

      Delete
    3. @ Nurul: hahahaha..kalau minum air kelapa setelah makan ikan bakar, bisa jadi ampas dunk ikannya? Sesuai sifat alaminya yang bisa menetralkan, maka air kelapa tentunya tidak hanya akan menetralkan keracunan tapi jga bisa mengacaukan nilai gizi ikan yang barusan kita makan tho? #iyyyaa, udah tauuu!

      Delete
    4. hahahah, tau banget kalo aku mo jawab begitu, haha

      tapi beneran loh, es kelapa muda itu yahud banget apalagi kalo panas2 gini....

      Delete
  12. ikan tuna dan tongkol memang sering kejadian tuh... mungkin memang karena kurang seger ya...
    informatif banget nih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Ikan tuna dan tongkol sudah mengandung histamin, handling sebelum di olah yang tidak tepat akan meningkatkan kandungan histaminnya..

      Delete
  13. Saya gak mungkin alergi.. soalnya anti sama ikan...
    apapun yg bernama ikan (^ ^
    Kecuali udah diolah dan gak keliatan ikan lagi... kayak somay, pempek atau krupuk ikan (^ ^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whaaaa....kuk gak suka ikan sey? Kapan-kapan kalau ada pesta seafood, jatahnya kirim buat saya saja ya? # huuuu..dasar!

      Delete
  14. wew, saya kurang suka ikan dan mklluk yg pernah hidup lainnya mba, jadi santai aja deh, ikannya gak bakalan balas dendam soalnya, hahhahaay :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. hohohhoo...masak sey kurang suka makan dari makhluk yang pernah hidup? berarti makannya bebatuan dunk? Atau oil and gas?..#pisss

      Delete
    2. ih, gak bisa di ajak becanda nih orang, wew :p

      Delete
    3. whahahaha...ada yg sensi neh? Yuk becanda...

      Delete
  15. Diantara 3 cara thawing, mana yang paling meningkatkan kadar histamin?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thawing dengan menggunakan suhu udara yang paling meningkatkan kadar histamin karena akan berlangsung sangat lambat dan peluang terkontaminasi mikroorganisme dari udara bebas juga besar.

      Thawing dengan air mengalir yang membrikan hasil histamin paling rendah.

      Delete
    2. Tapi nanti tagihan airnya jadi mahal Rie? :)

      Delete
    3. Kalau di Indonesia gak mahal kok Mbak...hehehehe.

      Alternatifnya ya di thawing dalam kulkas saja Mbak [di luar freezernya].

      Delete
  16. wahh, gue gak sempat nguji pahit ato terasa gatal tuh mbak! soalnya keburu laper hehehe..!
    btw, info ini bermanfaat buat jaga2 saat mengkonsumsi daging ikan!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahahaha, sekedar saran jika pengen tahu bedanya ikan yang berkualitas baik dan tidak. Contoh ikan yang mudah ditemui dengan rasa gatalnya adalah ikan asin dan pindang [yang berasal dari ikan tongkol/sejenisnya]

      Delete
  17. Detail banget penjelasannya, pakai rumus kimia segala he mantep dah.. Alhamdulillah saya belum pernah ngalami hal ini mba dan semoga aja ga pernah ngalami seterusnya, semoga bisa bermanfaat untuk semua orang, thanks for share

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip, amiin. Semoga makin gemar makan ikan ya sob:)

      Delete
  18. Alhamdulillah, saya nda mempunyai alergi terhadap jenis makanan tertentu, benar-benar omnivora, semuanya dilahap ( yang halal dan thoyib tentunya ).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, nikmatnya jadi omnivora ya ? hahahahaa

      Delete
  19. Alhamdulillah, aku belom pernah Ri..
    masih aman2 saja mengkonsumsi jenis ikan dan makanan lainnya..

    TApi temenku, pernah kena alergi makan ikan, ato udang, memerah gitu ya..

    Makasih sharenya..
    Penjelasan yang sangat komplet..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, saya juga Alhamdulillah bisa makan semua jenis ikan gak pakai alergi.

      Kalau memerah terjadi tidak setipa kali makan seafood/ikan/udang...bisa jadi itu bukan termasuk alergi tapi ada histaminnya yg tinggi

      Delete
  20. Heee...baru denger ada orang alergi sama ikan. Soalnya bahkan orang yg alergi seafood sekalipun biasanya ngga alergi sama ikan...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya selalu saja heran jika dengar/tahu ada orang alergi atau gak suka ikan, padahal Ikan kan menu yang paling men'general semua seginya.

      Delete
  21. biasanya yang bikin alergi adalah ikan yang sudah nggak segar ya mbak, aku juga pernah makan tongkol yang kurang fresh, akibatnya di kulit keluar ruam-ruam merah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mba, karena histamin yang diidentikkan dengan gejala alergi itu akan muncul ketika ikan sudah mati dan handlingnya tidak tepat [tidak di jaga rantai dingin suhunya]

      Delete
  22. Yups, tingkat ketahanan seseorang terhadap pencetus alergi memang berbeda ya :)

    Di Palembang, rupa2 olahanan pagan dari ikan sangat banyak ragamnya, tapi biasanya lebih banyak dari ikan sungai jadi lebih aman buat orang yang gampang kena alergi. Lain kalau di Bangka Belitong, ikannya dari ikan laut, jadi lebih rentan alergi ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ikan sungai, decompose'nya gak sampai menghasilkan senyawa histamin. Akibatnya pada rasa yg tidak enak dan aroma yg tidak segar.

      Dan adanya produk olahan sebenarnya bisa jadi alternatif bagi mereka yang rentan dengan alergi seafood/ikan karena komposisi bahannya sudah lebih beragam [tdk hanya ikan]

      Delete
  23. dulu waktu kecil aku alergi ikan laut, sebangsa tongkol, udang, dkk. Tiap abis makan itu pasti jd gatel2, bentol2 merah parah. Klo itu bnran alergi kan ya? ato keracunan histamin?
    Tp alhamdulillah seiring bertambahnya usia, alergiku ilang skrg

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di sebut alergi jika kasus jd gatel2, bentol2 merah parah berulang setiap kali makan ikan/sea food. Jika hanya sesekali dan pada ikan tertentu [terutama yg memang mengandung histamin seperti Tuna, tongkol] maka penyebabnya adalah karena histamin yg tinggi.

      Ada teman juga yg pernah cerita jika dulunya dia laergi ikan sangat parah, eh..giliran umur 20an tahun sampai sekarang jadi lahap makan ikan. SEmbuh tuh alerginya pada ikan/seafood

      Delete
  24. kalau aku sama ikan kagak pernah alergi mba,tp sama udang iya langsung gatel & kulit memerah :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin udangnya sudah mengandung senyawa indol kali?

      Delete
  25. yen tuna segar ndak ada histaminnya toh, wah mau aah tuna segar bar dari nelayan di tuku, di bakar wes ajib :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ta tungguin undangannya utk makan-makan ikan bakar tunanya lho? #ngarep!

      Delete
  26. saya punya teman alergi semua jenis ikan laut. kasihan sekali kalau ia nekat makan wajah dan tubuhnya memar-memar.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, bener2 kasihan kalau alergi sampai parah gitu ya Mbak.

      Delete
  27. setelah baca-baca jadi tambah pengetahuan disini
    terima kasih mbak infonya

    ReplyDelete
  28. wah trimakasih banyak ilmunya, ane baru tahu apa itu histamin disini..

    happy blogging

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiiin, semoga bermanfaat...dan makin gemar makan ikan deh:)

      Delete
  29. Alhamdulillah ga pernah gatel kalo abis makan ikan :D, etapi histamin itu cuma ada di ikan yak, kalau di udang atau cumi atau yang lainnya ga ada? terus kalau gatel2 gara2 makan udang itu bisa jadi karena alergi gitu??

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau rasa gatal pada udang atau cumi itu akibat terbentuknya senyawa indol artinya udang tersebut sudah mengalami kemunduran mutu. Munculnya indol pada udang merupakan tanda mulai terjadinya pembusukan,

      Delete
    2. ooo gitu, makasih infonya :)

      Delete
  30. wah orang kimia nie yang bahas, detail banget. btw kalau gatal atau pahit dari ikan yang menjadi dasar atau awal mulanya keracunan ini, gimana ngerasainnya ya? soalnya kan ud di masak, kalau dari kadar luarsa emang si bisa juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. habis ke derbi putra, eh ketemu si emba di sana. yaud, aku bantu ya mba. biar kaya si derbi.. heheh, sodakoh aku.. ok.

      Delete
    2. Kalau pas makan olahan ikan gak terasa gatal/pahit berarti histaminya gak ada /kadarnya kecil. Jika mau tahu ciri rasa ikan yg mengandung histmain, cobalah beli pindang tongkol yg kualitas kurang baik, maka akan terasa adanya rasa gatal tersebut. Atau yg lebih kontras lagi, cobain histamin murni? sebutir [sekuran granular MSG] itu sdh luar biasa gatalnya dan jika kena kulit bisa memrah dengan rasa panas+gatal.

      Hohoho..ma kasih ya utk bantuan kliknya...sering-sering saja ya? #nglunjak!

      Delete
  31. Alhamdulillah hingga hari ini saya gak pernah gatal atau bengkak-bengkak karena makan ikan.. dan postingan ini menambah informasi saya akan ikan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau rasa gatal pas makan ikan sih pernah Mbak, tapi gak sampai yg bikin keacunan atau alergi. Jika rasa gatalnya sudah di ambang batas lidah ya ta hentikan makannya..

      Delete
  32. artikelx lengkap banget mbk...., alhamdulillah sy gk pernah alergi makanan apa pun mulau ikan sampe dst.., semua habis di lahap *smile

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha...mantabs deh, sampai kucingnya gak di sisain ya sob?

      Delete
  33. oooo, begitu ya... saya baru tahu, hhhmmmm.... ngomong2, ikan pake sambalnya itu lho..., mantaps....

    ReplyDelete
    Replies
    1. BEner banget jadi laper liat gambar ikan sambalnya. Hemmmhz...

      Delete
    2. @ Akhmada MA: wahh, percaya deh penggemar sambal? #Eh?

      @ Ilham B: Yang bnar suka ikannya apa sambalnya neh?

      Delete
  34. yyuuhh .. kok ada simbol2 kimia to mbak... ngeri ngeliatnya, kalo aku alergi terhadapikan udang mbakk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya udah, udangnya kirimkan padaku saja ya? whahahahaha

      Delete
  35. alhamdulillaaah...
    Dija gak alergi ikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah Dija gak alergi ikan, jadi bisa makan ikan dengan semangat biar makin cerdas..

      Delete
  36. wah .. aku baru tahu ttg histamin dr postingan ini mbak, thanks ya .. soalny aaku penggemar aneka menu ikan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sipp, Mbak...saya juga penggemar menu ikan, mau diolah apa saja..menu seafood teuteup yahuuud

      Delete
  37. untung ane ga pernah kena hehe, ama ikan aja ane ga suka :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wouuuw, gak suka ikan? hal yg selalu mengejutkan jika ketemu orang yg gak suka ikan

      Delete
  38. Saya kadang alergi ikan, seperti gatal dan muncul warna kehitaman di sudut bibir :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau saya menyebutnya bukan alergi jika kejadiannya tidak setiap saat makan ikan, tapi karena adanya histamin:)

      Delete
  39. Well! Mbak Rie berubah lagi jadi ahli gizinya BPOM! Ckckck... Emang paling bisa! Hehehe, gue jarang makan ikan. Kalo tempe mah sering. ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. WEll, mas Eksak mah selalu punya sebutan yang aneh-aneh....

      Penyet tempe dengan sambal kemangi tuh mantabs punya Mas..

      Delete
  40. dari banyak pengalaman makan sih..semua ikan aman bagi perut ini ^_-^...mmmm tp dulu pernah coba makan pari ayam (jenis ikan Pari)... agak ragu...sempat siapkan penawarnya...tetapi setelah makan...yaaa gpp juga.....aman..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha..preventive action ya Pak. Kalau saya PeDe saja kalau makan ikan, pas milihnya yg kudu selektif. Atau milih tempat yg ikannya fresh dari tambak, jd ambil dari kolam.

      Delete
  41. Oh jadi kalau ikannya mati baru keluar histaminnya ngunu ta.
    Berarti makannya pas masi idup aja ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Whahahaa...aku gak mau ikutan Na kalau makan ikan masih hidup deh. WAkil dirimu saja yo..

      Delete
  42. kunjunga perdana untuk mbak irie,,,kelihatane mbak riie ini faham banget kuliner danjuga kesehatan???semoga berkenan juga untuk menjadi teman sharing q

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kuliner saya paham banget untuk menghabiskan menu yang dihidangkan lho?

      Thx kunjungannya, semoga tetap mau mampir lagi berikutnya:)

      Delete
  43. makasih buanget mba' buat saringannya ...eh kliru, sharing maksudna !
    begitu sangat berguna buat seorang pedagang ikan kayak saya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahh, bisa dikirimi satu kontainer ikan neh...whehehhe

      Delete
  44. wahhh, baru tahu saya mba, terima kasih banyak nih atas infonya mba..

    sangat bermanfaat sekali ni

    ReplyDelete
    Replies
    1. okey....terima kasih juga sudah singgah di sini sob:)

      Delete
  45. Histamin bukan sendirian menyebabkan kita keracunan atau alergi, karena penyebab histamin sehingga diserap tubuh secara utuh dan menimbulkan manifestasi semacam alergi adalah Kadaverin dari asam amino lisin, Spermin dari arginin dan putresin dari asam amino ornitin. Zat-zat inilah yang mampu menghalagi ezim HMT dan DAO, sehingga histamin terserap secara utuh dan menyebabkan mual, muntah, kulit ruam kemerahan, pusing, diare dan sebagainya..namun apapun itu tetap berhati-hati mengkonsumsi makanan laut, terutama apabila sudah tidak segar lagi..atau diawetkan terlalu lama :) moga-moga saja saya tidak salah koment....salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. erima kasih sudah memberikan penjelsan yang sangat melengkapi, bisa menjadikan postingan ini lebih informatif lagi.

      Dan sedikit saya tambahkan lagi,
      Histamin merupakan senyawa turunan dari asam amino histidin yang banyak terdapat pada ikan. Asam amino ini merupakan salah satu dari sepuluh asam amino esensial yang dibutuhkan oleh anak-anak dan bayi tetapi bukan asam amino esensial bagi orang dewasa. Di dalam tubuh kita, histamin memiliki efek psikoaktif dan vasoaktif. Efek psikoaktif menyerang sistem saraf transmiter manusia, sedangkan efek vasoaktif-nya menyerang sistem vaskular. Pada orang-orang yang peka, histamin dapat menyebabkan migren dan meningkatkan tekanan darah.

      Delete
  46. Smoga hal demikian tidak menimpa kita2 stelah pada baca artikel ini (blognya tergolong berat nih)

    ReplyDelete
    Replies
    1. amiin,semoga makin gemar makan ya Pak?

      Delete
  47. Nay kadang2 doang lidah gatel kalo makan ikan tongkol.. Ikan yang laen aman dari kegatalan :D #curcol

    ReplyDelete
    Replies
    1. TOS...saya juga kdanag ngrasain gatal kok klo makan ikan asin/pindang

      Delete
  48. ba ririe agar tidak gatl atau alergi jangan minum yang manis manis dan jangan makan yang pedas pedas dan jangan makan ikan daging di tambah minum jus manggis pasti mantaaaap

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya gak alergi sama jenis makanan-minuman [halal] kok...

      Delete
  49. hmm,, emng gak salah berarti selama ini di perikanan,, lah wong penjelasannya komplit banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya kebetulan sering 'ngurusi' si histamin ini Mas, jd lebih mengenalnya dengan akrab deh...hehehehe

      Delete
  50. nah itu dia...
    disini tiap hari makan ikan mulu
    pantesan aku lama lama jadi langsing

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selain langsing juga bikin sehat, kan Ikan lebih mneyehatkan dari dibandingkan jenis lauk lainnya

      Delete
  51. aku mlh gak terlalu suka mkn ikan..
    :)
    blognya berat bgt mba, buka kotak komennya susah bgt...

    ReplyDelete
    Replies
    1. nanti kalau makan ikan, ajakin saya saja kalau gitu..di jamin ta habisin dengan sukses deh menu ikannya..

      Btw, terima kasih utk inputnya. Nanti saya tanyain ke teman yg lain apa yg di browser mereka juga loadingnya berat.

      Delete
  52. Terima kasih sahabat atas berbagi pengetahuan kesehatannya sahabat...
    Alhamdulillah anak saya tidak menderita alergi sahabat, bahkan senang sekali kalau dapat lauk ikan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip..dalma keluarga saya juga Alhamdulillah pada doyan ikan

      Delete
  53. Assalaamu'alaykum..
    Mbak, bisa tolong dijelasin bgaimana mekanismenya keracunan setelah mengkonsumsi ikan tongkol ngga?? (buat melengkapi tugas kuliah, tolong dibantu ya) makasih sebelumnya.

    ReplyDelete
  54. Saya bbrap waktu lalu ke pasar ikan melihat tuna besar mungkin 60 an Kg, dan saya beli dlm bntuk slice 1 Kg bagian tengah badannya. Warna daging merah muda... Lalu saya goreng medium well dng seasoning olive oil & lada hitam... Woww nyusss aromanya... Setalah matang, saya makan .. Kenapa rasa dagingnya asam/kecut ya mbak (tdk pahit/getir) namun daging yg mendekati kulit luar tdk asam/kecut.... ? #aroma tdk sedahsyat rasa hikzzz

    ReplyDelete
  55. Saya bbrap waktu lalu ke pasar ikan melihat tuna besar mungkin 60 an Kg, dan saya beli dlm bntuk slice 1 Kg bagian tengah badannya. Warna daging merah muda... Lalu saya goreng medium well dng seasoning olive oil & lada hitam... Woww nyusss aromanya... Setalah matang, saya makan .. Kenapa rasa dagingnya asam/kecut ya mbak (tdk pahit/getir) namun daging yg mendekati kulit luar tdk asam/kecut.... ? #aroma tdk sedahsyat rasa hikzzz

    ReplyDelete
  56. Mbak, ikan daging merah bila di asinkan ada pengaruhnya gk terhadap kadar histamin?
    Contohnya pada ikan kembung asin...

    ReplyDelete
  57. Saya punya prodok olahan tuna... Kadang ada pelanggan yang komplin tentang ini... Makasih inponya... Jadi bisa njawab sekarang

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.