WHAT'S NEW?
Loading...

Mengapa Belum Menikah

Beberapa kali membaca kolom For Her di harian Jawa Pos, dan membaca ketentuannya untuk mengirimkan naskah yang ‘sepertinya’ tema yang boleh dikirimkan mengenai kisah-kisah sehari-hari yang tidak njlimet-njlimet banget. Akhirnya saya pun coba-coba ikutan kirim naskah, tentang sebuah pertanyaan yang secara berulang ditujukan pada saya, meski tuh orang yang bertanya sudah bertanya tetap saja suka untuk mengulang pertanyaan tersebut tiap kali bertemu.  Bismillahirrahmaanirrahiim sebenarnya saya sudah pesimis tulisan tersebut bisa lolos dari filter-nya redaksi karena sudah hampir sebulan tak kunjung ada penampakan di halaman For Her Jawa Pos. Hingga kemudian setelah libur lebaran usai dan saya sudah berada kembali di Bumi Balambangan, sebuah sms dari teman mengabarkan jika tulisan saya muncul di edisi hari itu, Kamis 23 Agustus 2012. Penulis amatiran seperti saya gini tentu sangat surprised manakala tulisannya bisa numpang nampang di harian Nasional, meskipun hanya tulisan curcol duang sih.


Saat saya mengirimkan naskah tersebut+ jika lolos atau pun tidak lolos dari meja redaksi memang akan saya publish di Blog. Dan kebetulan, saat saya capture tulisan saya di Jawa Pos, ada teman yang terlewatkan membaca dan rikues untuk dipublish di Blog, jadi dengan senang hati saya publish versi asli dari naskah yang saya beri judul “Menghalau Pertanyaan galau seputar status masih single”. Tanpa mengubah arti, memang pada naskah yang terbit terdapat beberapa part yang mengalami editing dan  berikut ini versi asli narasi tulisan saya:
=========================================================================
                Bergender perempuan dan hidup lekat dengan budaya ketimuran: lingkungan keluarga, komunitas teman-teman sekolah/kuliah serta society dimana kita bekerja dan berdomisili, maka salah satu yang tak akan bisa dihindari manakala usia sudah melewati angka seperempat abad dan belum menikah adalah: pertanyaan setipe dan senada yang dihujankan mengenai status quo atau single yang masih kita sandang. Pertanyaan ini pula yang mulai rajin menghiasi hidupku saat usia menginjak 27 tahun dan sampai detik ini.
Pertanyaan dan bahasan  soal menikah masih jadi sapaan akrab untukku, mulai dari teman sekolah, rekan kerja, tetangga, sanak saudara bahkan orang yg baru aku kenal pun dengan demikian santainya mempertanyakan kenapa aku belum menikah, kapan aku menikah..bla..bla.. . Pertanyaan yang menyesak di dadaku sepanjang musim kemarau dan hujan.  Telebih jika ada moment khusus, seperti ada acara reuni, gathering karena saudara/teman menikah, apalagi saat lebaran. Sepertinya semua orang mendadak jadi sosok yang ‘sok concern’ dengan intonasi inoccent melontarkan pertanyaan kenapa belum menikah dan kapan menikah?
Status belum menikah untuk wanita di usiaku, apalagi di desa membiaskan friksi  antara sebutan, istilah, atau bahkan sindiran.
Adakah mereka tahu, bahwa pertanyaan-pertanyaan mereka itu justru menambah beban psikologis semakin kompleks. Toh tanpa mereka tanya pun aku juga ingin menikah seperti orang-orang yang lain? Adakah mereka tahu bahwa resiko kesehatan karena terlambat menikah yang kuhadapi juga sudah membuatku terbebani? Teman-teman seusiaku, bahkan yang jauh lebih muda dariku sudah menapaki bahtera rumah tangga dengan anak dua, tiga bahkan ada yang 4 anaknya. Dan aku yakin, naturally tak ada wanita yang ingin ‘telat’ menikah. Harapan idealnya tentu mata rantai kehidupan berjalan lancar dan normal: lulus sekolah, mendapatkan pekerjaan dan menikah menikmati hidup berkeluarga yang happy ending.

Kalau pertanyaan tersebut datangnya dari teman sebaya, relatif lebih mudah menjawabnya: kembalikan saja dengan pertanyaan yang sama. Jika ada yg nge-judge dengan stigma irrasional semisal “ terlalu pilih-pilih”, aku lempar lagi dengan cepat: Lha memangnya kamu beli baju gak pernah milih? Gak pernah ngukur pas di badan apa gak? Ya intinya memang jangan sampai terbawa emosi saat menerima pertanyaan demikian. Kalau menanggapi pertanyaan dari orang yang lebih senior juga perlu strategi agar tidak dikira ‘kurang ajar’. Aku sering menjawab dengan kalimat diplomatis: Ya tolong dikenalin dong biar ikhtiarnya lebih cepat. Biasanya mereka akan menjawab: takut tidak cocok... jawaban yang super ajaib kan? Lha mengenalkan saja belum kok sudah membuat kesimpulan tidak cocok?!
Aku memang masih bisa re-design sikap dan pembantahan dengan argument yang ‘manis’ manakala menghadapi penilaian, sindiran dan judgement dari orang lain [sekitar]. Tapi jika hal ini yang memunculkan adalah orang tuaku [terutama ibuku yang lebih sering], maka setiap kali pembicaraan pada tema tentang menikah, selalu kulihat mata ibuku ada lapisan bening yang mulai mengembang, dan aku pun terdiam dalam kelu sambil menata gejolak hati. Jika air mataku sampai menitik, tak ayal Ibuku juga akan menangis. Melihat ibuku menangis, terlebih akulah yang menyebabkan air mata kesedihan itu keluar…sungguh sembilu yg teramat meyayat hati. Hati seorang anak mana yang tak akan berkeping jika dirinya jadi penyebab keresahan, kesedihan dan kegalauan bagi ibunya? Maka jika konteksnya menghadapi ortu, aku lebih memilih no comment dulu dan menunggu suasana kondusif untuk perlahan-lahan memberikan penjelasan yang andhap asor. Dan scene itu kuhadapi secara berulang setiap kali mudik, bisa kumaklumi karena usia ortuku yang semakin sepuh, kisaran 80 tahun!
 Yang pasti, seberapa pun aku berkeras harap, b’usaha serta b’doa agar cepat menikah tapi aku tidak bisa memaksakan itu padaNYA kan? Aku hanya punya hak untuk b’usaha dan b’doa dari rencana dan harapan yang aku punyai, keputusan terbaik tetap Allah SWT yang menentukan. Jika sampai detik ini belahan jiwa yang dijanjikanNYA belum dipertemukan denganku, tiap kali ada yang menyodorkan pertanyaan tentang kapan aku menikah, terlebih saat suasana lebaran seperti Idhul Fitri nanti sudah aku persiapkan jawaban sakti mandraguna yang ampuh untuk menghalau pertanyaan yang bikin galau dengan jawaban terbaik yang menegarkan hati serta penuh keyakinan “ Hidup sudah ada yang Maha Mengatur, jatahku hanya menjalani sebaik yang aku bisa…”
========================================================================


Adakah yang tertarik untuk ikutan mencoba nitipin tulisan curhat di Jawa Pos juga? Nothing to lose to try, we’ll get new experience.....at least, seneng deh bisa sesekali numpang narsis di koran nasional #teuteup Narsis every where dwehhhhh semoga kelak bisa nampilin tulisan yang lebih baik [http://www.jawapos.com/teks/read/2012/08/23/26/265719/mengapa-belum-menikah]





145 comments: Leave Your Comments

  1. Subhanallah, mbak..
    merinding An membacanyaaa...
    Mbak Ririe yang semangattt, yaa...
    Saling mendoakan, semoga kita bisa menuju bahtera bahagiaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hemm...nah ini semangat menuliskan dengan mencoba ngirim ke media cetak, itung-itung uji coba kemampuan menulis meski baru sebatas tulisan uneg-uneg

      Delete
  2. hehehe ... been there, jadi tau rasanya
    pas banget sih mbak, postingan terjadualku buat besok itu ya ada kaitannya sama tulisanmu itu,
    kaitan juga sama film CSZ hehehe

    semangat selalu mbak, dan bersangka baik terus sama Allah ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. CSZ...saya membaca novel itu Mbak, inspiratif dan konon kabarnya based on true story. How great life story...no matter what happen, kita harus bisa semangat selalu dan husnudzon.

      Delete
  3. kadang kebahagiaan berkumpul dihari raya bisa membuat rusak mood karena banyak sekali pertanyaan kapan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehe...sebuah pertanyaan simple, sederhana, kadang mungkin tanpa maksud tapi bisa merusak mood jika beruang-ulang. Atau jika diberikan bak gaya detektif melakukan investigasi

      Delete
  4. pada akhirnya kita hanya akan punya 2 pilihan dalam menikah mbak.
    pertama, menikah pada usia yang tepat atau kedua menikahi seseorang yang tepat :)

    sabar mbak, setiap manusia diciptakan berpasang-pasangan dan bila tiba timenya kebahagiaan itu akan dtg menyambut hati kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan pada nyatanya betapa kita berharap menikah di usia yang tepat dengan orang yang tepat juga...#mauuunya.

      Saat yang tepat tentunya bukan dari ukuran kita, keterbatasan kitalah yang seringkali keliru mendefinisikan saat yang tepat tersebut:)

      Delete
  5. Alhamdulillah...dimuat euy..hebat

    Hahaha mereka memang tidak tahu, pertanyaan2 itu yg membuat rambut tambah kusut dan hati jadi carut marut

    Memang itu yang harus dihadapi mbak Rie..pernah ngalami juga..begitu juga tentang ortu..untungnya saya hidup terpisah setelah bekerja..jadi melarikan diri dari ortu lebih gampang

    Gusti mboten sare mbak...tetap bersabar dan berusaha ya
    InsyaAllah yang terbaik untuk mbak Rie :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nyoba-nyoba Mbak, sebelumnya sdh nyoba kirim resensi tapi sukses masuk "tidak layak muat".

      Sejak kuliah dan bekerja, saya juga tinggal terpisah dengan ortu. Kalau mudik hal itu tak terhindarkan, ya tinggal dihadapi dengan siasat terbaik..sampai rumah sdh malam dan balik juga malam jd jarang ketemu tetangga. Kalau lebaran, baru deh ketemu buanyaaakk orang dan sngaja menemui banyak orang jugak.

      Iyap, GUSTI Ingkang Murbeng Dumadi mboten sare...tansah ngurusi umatNYA tanpa jeda

      Delete
  6. yakin...Allah tengah mempersiapkan yg terbaik dr yg terbaik utk Riry....senyum dong ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. #smile...

      Yakiiinn bangets Mbak...time will come true

      Delete
  7. hai mba..salam kenal yaaa...

    hehe bagus koq tulisan & bahasanya...ngga amatiran juga...
    InsyaAllah melalui tulisan ini jadi byk orang yg pengen kenalan dan akhirnya ketemu deh jodohnya. Amiiiiiin ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehehee...amiin, 1001 jalan terbentang untuk 1 jodoh dunia akherat ya Mbak, semoga.

      Delete
    2. See ... benerkan ...

      Saya setuju dengan pendapat bunda Alyn

      Delete
    3. Saya juga setuju lho OM...#eh

      Delete
  8. Sematang apapun rencana kita, masih jauh lebih indah skenario-Nya saja, tetep berhusnudzon dan semangat selalu ya :)

    Nach untuk tulisan yang di publish ini, selamat ya, salut dechhh, semoga dimasa depan makin banyak lagi ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. yyupss Mbak, lebih indah untuk tetep berhusnudzon dan semangat selalu :)

      Delete
  9. padahal tu ya Mbak, yang nanya juga langsung lupa lho. makanya jangan jadi beban. biar sama-sama nggak beban. nyantai aja...

    btw, meski demikian, justru saya terkesan sama kalimat yang ngomongin itu di tulisan Mbak. di para 3 itu. masuk banget.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak ajdi beban kok, tapi jadi friksi yang sesekali mengusik kalbu...jiaahh, sok pujangga kesiangan neh ngomongnya.

      Paragraf 3? yang ini ya: "Status belum menikah untuk wanita di usiaku, apalagi di desa membiaskan friksi antara sebutan, istilah, atau bahkan sindiran".

      Delete
  10. barangkali memang itu benar-benar concern orang-orang disekeliling yang menyayangi mbak, mereka ingin melihat mbak merasakan kebahagiaan yang sama seperti mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan tersebut, maaf jika ini salah ya mbak (selamat idul fitri & mohon maaf lahir batin ya mbak)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yayayyaaa..kadang orang bertanya sekedar ntuk membuka percakapan, tapi kok ya pertanyaan pertama tiap ketemu ya itu mulu yaa..

      Delete
  11. jadi tenar nih mbak ririe nampang dikoran

    ReplyDelete
    Replies
    1. HAHAHHAA....gak tenar Mbak, lha kemarin saya ke Mall gak ada yg nyapa saya lho. Eh, disapa pak Satpam karena saya bawa tas masuk ke mall [gak dititipin]

      Delete
  12. pertama, alhamdulillah..selamat ya..tulisannya sudah dimuat di salah satu koran nasional.
    kedua, mengapa belum menikah...pertanyaan yang bagi saya, maaf, seakan terkesan angkuh dan memandang remeh kepada yang belum menikah... mereka lupa bahwa manusia itu hanya berikhtiar dan berdoa dengan segala kemampuannya...namun semua itu keputusan akhirnya berada pada kehendak SANG KHALIQ, des..pertanyaan mengapa belum menikah itu seolah-olah menggugat kekuasaan ALLAH SWT SANG PEMILIK KEHIDUPAN INI....
    tetap semangat,,,keep happy blogging :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertama: terima kasih dan memang seneng tulisan yg dikirim bisa dimuat...secara kalau diblog sendiri kan suka-suka nulisnya.

      Kedua: di sisi lain..bagi orang-orang awam, mereka mgk tak paham ttg dampak psikologis pertanyaan tersebut. Jadi saya meyayangkan jika orang yg welcome educated dengan santainya 'hobi' mmeberikan pertanyaan spt itu, apalagi sampai memberikan aneka justifikasi seakan dia tau banget variabel kehidupan orang di luar dirinya..

      # semangattt....keep happy blogging :)

      Delete
  13. waww..... @@ keren banget mbak tulisannya...

    iya, apalagi sekarang lagi ngetrend nikah muda, huft... pertanyaan2 seperti itu menambah beban psikologis buat yang belum nikah.

    asikk.. aku jadi ada ide nih, "tolong dikenalin dong biar ikhtiarnya lebih cepat" hehe... @@

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jaman ortuku jugak tuh nikah muda lho...

      Heheheee..itu jawaban sakti mandra guna, klo dah di jawab kayak begitu trs diam deh orangnya

      Delete
  14. Selamat ya mbak, tulisannya bisa masuk dan dimuat di media sekelas Jawa Pos, tentu saja tulisan yang dianggap terbaik, menarik dan bermanfaat yang akan di muat disana :)

    Saya yakin apa yang mbak tulis juga mewakili banyak wanita yang mungkin saat ini belum menemukan pasangan hidupnya. Namun percayalah, dengan tetap berdoa dan berusaha insyaallah Allah akan memudahkan dan menjadikan semuanya akan indah pada waktunya. Amin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya deh, semoga lain waktu bisa nembus lagi tulisanku di blog ya Mas. Tentunya dengan tulisan yg lebih baik lagi

      Salah satu maksudku juga hendak menyampaikan isi hati dan uneg2 yg saat ini termasuk dalam populasi 'telat' menikah, bahwa telat menikah itu bukan aib, juga bukan hal yg mudah untuk dihadapi..

      Amiin, semoga semuanya akan indah pada waktunya:)

      Delete
  15. Gaya rek masuk jawa pos niyee :D

    Ntar coba cari aah tangga 23agustus 2012 kan mbak rie :D

    Semoga dapet jodoh yang cocok segera yaa mbak rie :D #amien

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ciee..cieee, diberikan kesempatan untuk narsis di koran nasional neh..

      Delete
  16. Xixixi... banyak temennya mbak hehee..

    Tulisan mbak riri memang sangat terarah, pantas lah kalo dimuat di media cetak. Selamat ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wouuww, tengkyu apresiasinya ya sob:)

      Delete
  17. salah satu dampak dari budaya patriarki ya begitu deh
    antara laki laki dan perempuan pada posisi sama terkesan berbeda. sayangnya cenderung negatif saat jatuh ke cewek. contohnya saat ada yang bilang duda, orang ga berpikir jauh. sebaliknya saat dengar kata janda. pikirannya kemana-mana. termasuk dari gender itu sendiri juga ikut ikutan mikir negatif. itulah kenapa aku bilang ini tentang budaya manusia kita, bukan tentang laki-laki atau perempuan.
    jadi ketika ada pandangan miring tentang perawan tua, ya dimaklumi aja lah. hidup hidup kita, ngapain orang lain ribut dipikirin..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. BUdaya patriarki...hemmm, pola pikir dan pendidikan serta pembaiasaan masih lekat dengan patriarki, di akui atau tidak. Karena itu kalimat pembuka saya pun menyorot pada 'budaya'..

      Dari dulu saya pun heran dengan ke-identik-kan pada hal yg kurang baik yang 'spontan' dilekatkan pada kaum wanita mana kala 'telat' menikah bahkan yang terpaksa menjalani hidup sebagai janda. Orang-orang lebih permisif dan menganggapnya wajar jika laki-laki yang jadi duda atau telat menikah..

      Delete
  18. aku ga mau menambah beban psikologis mba, yang aku mau soroti tentang niat nothing to lose nya itu loh. ternyata si mbanya sudah merambah ke dunia nyata segala tulisannya, mantap bener dah :D aku bisa juga ga ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaa..njajal kemampuan saja dan sekaligus tantangan utk mmebuat tulis yg di nilai oleh pihak lain. Kalau di blog sendiri kan suka-suka kita pasti publish..

      Delete
  19. wah mantap banget ya

    keren keren

    ReplyDelete
  20. selamat ya mb sdh dimuat tulisannya..
    Semangat ya mb Rie..Allah menciptakan makhluknya berpasangan..kapan waktunya bertemu hanya Allah yg tahu..tk usah terlalu dipusingkan omongan orang..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gk pusing kok Mbak, hanya kadang upset saja..heheheee

      Delete
    2. yang berarti jangan di 'up set-in' omongan orang mba.

      Delete
    3. Iyaa deh gak upset, tapi gak janji jika mood lagi blue lho

      Delete
  21. Tulisannya bagus, mba.
    argumennya juga patut plus bagus. :)

    Hyaah, kalau menuruti dan mendengar kata orang atau tetangga si gak ada habisnya ya mba.
    Nanti setelah nikahpun masih ada pertanyaan2 yang secuil tapi menyisip dihari. "kapan punya momongan?".
    Ehem2, padahal itu semua sudah ada yang mengatur. Semua itu rejeki dari tuhan ya, Mba.
    Tetap semangat dan tetap berdoa.
    Salam Senyuum. . .^_*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya..memang tak akan ada habisnya pertanyaan 'perduli' tersebut. Dan belajar dari hal tersebut...saya harus lebih peka sebelum membuat pertanyaan. Try first to be "if I were them..." sebelum saya mengajukan sebuah pertanyaan..

      Delete
  22. saya juga belum mbak... piye ya...
    lain kali nulis lagi aja mbak.. pasti dimuat.. biasanya akan ada kesempatan lagi alias diperhitungkan bagi penulis yang tulisannya pernah dimuat.... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau utk Jawa Pos, baru kali ini saya bisa nembus..eh, media lainnya jugak belum bisa embus sih..hehhehe

      Delete
  23. prtanyaan yg paling sering dilontarkan saat usai Ramadhan..,kapan nikahnya..??? sebel..! *smile

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahha..kayaknya pengalaman neh?

      #sabar yaaaa

      Delete
  24. mbak ntu kalo cowok nggak bisa? yang jawa pos tu?

    eh, jodoh udah ada yang ngatur.
    tapi inget mbak,
    jodoh nggak dateng sendiri.
    jadi musti berger
    sekarang juga.
    bikin pamflet dan brosur.
    sebarkan di tempat umum, ato bikin GA, biar rame.
    ato bikin sticker tempelin di angkot..

    yang penting berger dulu mbak, masalah jodoh udah ada yang ngatur.
    toh kita juga diciptain berpasang2an.

    #padahal mpe sekarang aq yo rung oleh jodo, wkwkwkwkwk


    ReplyDelete
    Replies
    1. jiah belum dijawab.

      ayo mbak dulen

      Delete
    2. #BUsyet dah, masak sampai bikin banner..stiker di tempel di angkot? ini mau kampanye apa cari jdoh ya...

      #ukeeee, ta tunggu kehadiranmu di kaki merbabu lhoo

      Delete
  25. selamat tulisannya sudah dimuat di koran....

    belum menikah... siapa takut..... itu masalah urusan Tuhan. Pokoknya kita cuma bisa menikmati prosesnya saja lah.... Tulisannya luar biasa Mba... salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sependapat, just try and do pray with the best..hasilnya bukan hak kita lagi.

      Delete
  26. Nyantai aja mbak. Syahrini aja udah tua belum juga nikah. *lho. . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaha..Syarini mah tinggal pick one of ..dan dia still younger than me tentunya:)

      Delete
  27. mba riri, keren euy tulisannya. ah.. senengnya bisa narsis di koran nasional :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahhaa...iya, seru juga bs ikutan narsis di koran nasional.

      Delete
  28. Waw keren mba.. tulisannya disusun dg apik, kita sbg pembaca jadi mudah memahaminya meskipun umurku masih dibilang blm waktunya untuk memikirkan ttg jodoh :D
    Last, Selamat ya mba tulisannya dimuat di Jawa pos..

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip deh, buat wacana saja it's oke kan...

      Delete
  29. Huihi potongan koran bagian Jawapos yang tulisanmu ini bakal dikliping sama anaknya DI, hihihi...
    Asik mbak bisa narsis di koran, mau juga dong...tapi nulis opoh yoh...
    Selagi menunggu tiba, nikmati masa singlemu mbak...
    kapan kita jalan lagi??? Hihihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. yoaaa...enjoy every moment as the best. Sipp, camping di Merbabu is awaiting us euy...

      Delete
  30. Mohon maaf lahir batin mumpung masih dibulan syawal. Hidup adalah misteri, kita tidak tahu dengan siapa dan kapan jodohnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. IYa, kalau kita tahu tentu bisa langsung di datangi yaa

      Delete
  31. tema tulisannya simple dan mudah ketika ditanyakan langsung, tetapi melalui kata2 seperti ini, wow....gue angkat tangan deh ama mbak Ririe. hehehhe..!
    btw, soal menikah, sebenarnya itu adalah hal gampang koq, tapi yg perlu dipikirkan adalah masa menjalani kehidupan pernikahan itu.
    itulah yg kadang membuat orang sedikit merasa takut untuk menikah. takut ini itu lah (kira2 juga sih) hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Angkat tangannya sdh pakai deodorant kan? #plakkk

      bener kalau hanya demi status menikah..it's easy. Tapi menikah tak hanya sebuah status..di dalamnya ada komitment dan konsistensi diri yang perlu integritas diri secara total..

      Actually, alhamdulillah saya bukan termasuk orang yang takut menikah kok

      Delete
  32. Pertanyaan senada juga rajin dialamatkan beberapa rekan kepada saya, Mbak. Kemana saya harus mengirimkan naskah saya ya? Hehehe....
    Selamat, Mbak Ririe, bisa publish di media masa. Yang seperti ini adalah salah satu impian saya yang sampai saat ini belum menjadi nyata ( selalu ragu untuk mencoba ).

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksud saya, kalau Mbak Ririe bisa menjadikan pertanyaan tersebut sebagai bahan tulisan dan menemukan media yang bisa menampungnya, haruskah saya menulis hal serupa dan media mana yang mau menampung curhatan saya? Hehehe..Sepertinya saya bersepakat dan sependapat dengan Mas Rawins saja.

      Delete
    2. # Waaaa...kalau MAs Abi mah sudah banyak tuh bukunya, single writter lagi, labih move on itu MAs::)

      # Kalau MAs Abi mungkin bias di kirim ke kosmopolitan atau kolom artikel yang umum kali MAs...just try it, You'll do better than me kok

      Delete
  33. Mantap Prestasinya Mbak Rie, and cepat dapat pasangan aja deh! Amin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinnn, semoga ASAP ya...#ngarep deh!

      Delete
  34. Semua akan indah pada pada masanya seperti nama blog mbak Yunda. Anjing menggonggong, kafilah cuek deh Rie. Tos untuk pengalaman yang sama.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya MBak, saya juga percaya semua akan indah pada masanya. Segala sesuatu ada waktunya yang tepat. TAk ada yg bisa memperlambat apa-apa yang hendak DIA segerakan, demikian juga sebaliknya tak ada yg bisa mempercepat apa yg hendak DIA belakangkan datangnya

      Delete
  35. "kenapa blm nikah?", "udah 'isi' belom?", "Kok udah nikah masih tinggal sama ortu aja sih?" ==> pertanyaan2 yg selalu saya hindari utk sy tanyakan.. Krn efeknya emang psikologis bgt buat yg di tanya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, saya kadang tak percaya jika yang bertanya itu ada orang yang welcome educated. Ya apapun itu, spertinya masih banyak yg menganggap pertanyaan senada itu sebagai percakapan yg biasa sj:(

      Delete
  36. Kerreenn....
    S'moga cepet dpt jodoh yaa..

    ReplyDelete
  37. ikut seneng dan bangga dan langsung berangkat ke jawaPos, sukses terus yah.

    soal pertanyaan yang menghujani itu adalah bagian dari uji kesabaran dan ketabahan dari Gusti ALLAH, kolo menurutku sih, jadilah pendobrak pola pikir orang terutama orang desa tentang usia perkawinan, dari pada diusia 27 sudah 2x menjanda kan lebih nelongso.
    yang penting "sehat selalu" ya sob.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Frankly, sejak dulu sampai sekarang, bagi saya menikah adalah bukansoal usia atau opini society..tapi saat kita so sure already meet the one.

      Delete
  38. Rie ...
    Saya mau buka rahasia ...
    Bunda ... istri saya ... baru menikah dengan saya pada usia 30 tahun ...
    Ini bukan untuk nge rih-rih, menghibur ataupun yang semacamnya ...

    Tapi untuk membuktikan ...
    Bahwa kita wajib terus ber-Ikhtiar ... DIA yang menentukan ...
    Jika sudah sampai waktunya ... pasti yang dinanti akan datang

    Berhasil tembus media nasional itu ... sesuatu banget !
    (dan siapa tau ... ini adalah jalan untuk menemukan yang dinanti itu)

    Salam saya Rie

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ikhtiar harus selalu jalan, apapun hasilnya..let GOD take the rest ya OM. Maksud dan tujuan sharingnya ini, sebenarnya bukan pada point 'galau'nya..tapi lebih pada keep on moving juga untuk mensemangati diri untuk menulis dengan lebih baik...surprised bisa dinilai layak muat oleh media cetak nasional.

      Betewe, OM NH bakal kaget lho kalau tau berapa usia saya saat ini...hehehhe.

      (ehmmm, semoga "siapa tau ... ini adalah jalan untuk menemukan yang dinanti itu")

      Salam balik untuk OM Nh dan keluarga:)

      Delete
    2. Hidup sudah ada yang Maha Mengatur, jatahku hanya menjalani sebaik yang aku bisa "sangat setuju mbk' hidup i2 ibarat wayang smua ats khendak sang dalang.qt mnusia haqiqatnya mati... takbisa berbuat apa apa .dialah datulloh yang maha hidup.

      Delete
    3. yups...exactky right, kita hanya wayang...ALLAH lah dalangnya yg Maha sempurna:)

      Delete
  39. Ada juga beberapa teman2 saya dikantor yang belum menikah. Salah satunya termasuk saya. Semua orang menginginkan pernikahan dan semuanya pasti memiliki kriteria dari pilihannya masing2. Sesuai yang dkatakan pemuka Agama, pilihlah pasanganmu sebaik mungkin walaupun dia buruk.

    Semoga dalam waktu dekat ini kita mendapatkan izin dariNya untuk menyegerakan ikatan bersama lawan jenis kita masing2. Nice

    Salam kenal :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Senada juga, kalau di kantor [yang di sini] saya yang paling senior usianya belum menikah. Menikah lebih pada dasar; pilihlah pasanganmu sebaik mungkin walaupun dia buruk...based on the inner beauty kan..

      #Mengaminkan doanya:)

      Delete
    2. wah ada kecocokan dan kesamaan nie. mungkin bisa kopada kali :D, hehehe.

      Delete
    3. Hahahaha...bisssaaaaa azzzaa deh

      Delete
  40. jadi tajut kalo telat nikah ntar.. tapi semoga enggak.. :D
    namun jika begitu... udah ngga susah susah lgi nyari seribu alasan..
    cukup bilang kata katanya mbak tuh...
    "“ Hidup sudah ada yang Maha Mengatur, jatahku hanya menjalani sebaik yang aku bisa…” "

    Smangat :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu jawaban makjleb lho...semoga deh dirimu kelak tak perlu ngalamin telat nikah yaa, jd jawaban saya tersebut cukup tersimpan di hati

      Delete
  41. sudah dilaminating belum berita dikorannya mba?

    dulu pas saya secara tidak sengaja dimuat di suara merdeka juga langsung ta' laminating dan sekarang bisa buat kipasan anak saya..hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hahahaha...di alminating ya? hemmm... good idea neh, bar gak kayak tulisan saya yang tempoe doeloe..disantap rayap tuh

      Delete
  42. wiiiiiih... kereeeeeeen..... XD

    ReplyDelete
  43. hahaha saya suka jawban diplomis...
    bisa jdi bumrang bgi yang memberikan pertanyaan... :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yaaa..beusaha memberikan jawaban yg cool tapi skak mat!

      Delete
  44. bener malah jadi makin beban aja ya kalo makin ditanayakan ama orang gitu, kalo sama teman masih bisa balas dengan canda.. heheh.. kalau saya yang tanya kenapa belum nikah gmana? ckckc ehh jangan aja.. nanti makin jadi beban.. nikmati aja hidup, hukum dasar nikah juga mubah :D
    #pengaruh jahat dari jadigitu. xixix :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. It's ukeee kok. Enjoy life as the best. Klo masih belum nikah artinya msh diberi kesempatan bisa jalan-jalan kemana-mana kan? #parah

      Delete
  45. subhanlallah mba ririe keren.... jadi pengen coba juga, duh jadi bikin semangat pengen nulis :D

    yap, kalo soal mengapa belum nikah, sebenarnya tergantung keyakinan hati, jodoh nggak akan tertukar :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuukkk di cobain deh, utk kolom for her itu mmg utk penulis beginner kok. Dan tulsian Mbak chika kan keren tuh...tentu sangata berpeluang utk di muat juga

      Delete
  46. kesmipulannya memang jodoh sudah ada yang ngatur, kita cuman bisa berdo'a & berusaha. Tapi mungkin ada sedikit tips, meminjam istilah bola, "gaya permainannya menyerang dan terbuka", asal jangan tergesa gesa, atau terkesan agresif. Semoga lekas mendapatkan jodoh yang terbaik.

    ReplyDelete
  47. Duh, padahal tgl 23 Agustus kemarin aku baca Jawa Pos lho kok bisa kolom For Her terlewatkan ya?
    Selamat!! Sudah berhasil mempublikasikan tulisan di Jawa Pos.

    BTW, mumpung masih suasana Idul Fitri... mohon maaf lahir batin ya? :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heiii..Mbak Reni, finally show up again.


      Sama-sama Mbak, maapin daku jugak yaa..

      Delete
  48. wah hebat... aku aja belum pernah sampai sekarang tulisan sepanjang gitu dimuat media.... -_-

    sayang muatnya di media sana... padahal pengen lihat aslinya... hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tuh aslinya saya poto...dan naskahnya saya publish neh di blog.

      Delete
  49. Saya gak suka nanya2 teman yang belum nikah sampai segitunya mbak Rie. Menurutku keterlaluan kalo bilang orang spt mbak Rie ini "terlalu pilih2" secara ... memang utk pendamping hidup kita harus memilih yangterbaik untuk kita. Kalo yangbaik belum datang, masak mau banting harga? Lantas siapa saja yang datang disamber? Nggak kan?

    Yah, belum jodoh saja ... kalo memang ada ntar ada koq. Kalo susah juga ketemunya ya gak papa, belum nikah2 juga bukan berarti kiamat kan. Mungkin memang lebih baik gak nikah dulu daripada nikah trus hidup kacau. Kan nikah tidak menjamin hidup seseorang bahagia?

    Selamat ya sudah masuk Jawa Pos. TUlisan saya belum pernah tuh dimuat di media mbak Rie :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, jika judge-nya "pilih-pilih" itu bagi saya sangat irasional. Mana ada sih kita tdk membuat piliahn, bahkan utk hak yg sanagt simple beli sandal jepit.

      Mbak Niar mmg belum masuk oran karena memang belum ingin kirim ke koran kan? tuh buktinya sdh rilis buku lho

      Delete
  50. Kolom FOR HER memang biasanya ada di setiap koran Grup Jawa Pos. Sama seperti media koran kita yang juga masih dibawah bendera Jawa Pos News Network, dan koran kita juga ada lembaran For HER nya. Namun demikian berita FOR HER biasanya memang "kiriman" dari Jawa Pos Surabaya yang kami terima setiap berkala.

    ReplyDelete
    Replies
    1. weeeiii, kang Asep orang media cetak to? PAntes tulisannya really cool, terarah, detail dan alurnya jelas. GAk kayak tulisan saya yg suka lompat sana-sini..

      Delete
  51. Pertama kali saya baca di Jawa Pos, sempat kaget juga ternyata penulisnya Mbak Ririe Kayan :) Udah nggak asing lagi deh buat saya. Selamat n sukses selalu Mbak.

    Setiap orang itu "Sawang Sinawang" kalau bahasa Jawanya. Melihat rumput orang lain selalu kelihatan lebih hijau daripada rumput kita sendiri. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa menghijaukan rumput kita sendiri, bukan hanya terlihat hijau tapi bener-bener hijau.

    Semua itu ujian Mbak Ririe. Saya pun juga merasakan hal yang sama dengan Mbak Ririe. Kalau masalah umur mungkin lebih tua-an saya daripada Mbak Ririe hehehe kok ikut-ikutan curhat :)

    Saya hanya bisa mendoakan semoga Allah segera mempertemukan dengan belahan jiwa pilihan Allah yang terbaik, dunia akhirat. Amin Ya Robbal'alamin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. "sawang sinawang' sering kali kita lakukan ya Mbak. Padahal harusnya kita lebih concern bagaiaman hijau itu beneran ada di halaman kita sendiri..

      Kalau soal umur, hemmm...mgk benar MBak lebih tua dari saya, tapi who knows? hehehehe

      Terima kasih utk doanya dan AMiiiinnn Ya Robbal'alamin:)

      Delete
  52. itu curahan hati beneran yah mba, wah sekalian curhat dan masuk koran yah ,
    semoga cepat ditemukan jodohnya yah mba. :)

    ReplyDelete
  53. Rencana Allah akan selalu lebih indah kan ya kak? dan kita hanya sedang berada di jalurnya saja, suatu saat akan sampai juga ;)
    Selamat udah bisa mejeng di sana ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. semua rencana ALLAH SWT itu sangat sempurna, hanya keterbatasan kita saja yg seringkali merasa 'lama' terjadinya..

      Delete
  54. semua itu akan indah pada waktunya mbak...

    terus berikhtiar, berdoa dan berserah diri pada sang pencipta

    ReplyDelete
    Replies
    1. ukee...amiiin, terima kasihhh yaaaaaaaaaaa

      Delete
  55. Tulisannya bagus banget Rie... being single so far terlihat jelas engkau sikapi dengan tegar, tangguh dan bijaksana. Terlebih dalam memberi jawaban-jawaban yang tetap santun dan tidak emosian bagi setiap penanya, yang pastinya pertanyaannya dikemas dalam packing yang berbeda namun muaranya tetap satu, kok ga nikah atau kenapa blm menikah. Sungguh pertanyaan yang nyebelin sih ya? hehe

    Kematangan jiwa seseorang memang sejatinya ditempa oleh bertambahnya usia. Ririe makin-makin dewasa dan bijaksana deh! hehe.

    Btw, congrats lho Rie atas dimuatnya tulisanmu, memang benar2 pantas untuk tayang disana kok, Keren dan aku yakin akan mampu menyemangati wanita2 lainnya.

    Keep the spirit and be strong as always yaaa!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena kita tak mungkin lari dari kenyataaan kan Mbak...no matter what happen kita harus sia meghadapi dan mensikapinya sebaik mungkin.

      Hahahaha...aku makin dewasa dan bijaksana...just wouuuwww!

      Aku yakin jika mbak Al nulis dan dikirim ke koran sesuai dengan minat Mbak AL, INsyaAllah layak muat juga lho...

      Delete
  56. Wah, gue nyampah komen ya ? Nunggu postingan baru.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya neh, postingannya jeda kelamaan yaaa

      Delete
  57. Masya Allah, it's awesome mbak rie!!! Masuk jawa pos itu sesuatu loh :) keren!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Doakan...will be the next and next yaaa

      Delete
  58. harus punya mental kuat deh untuk menulis di luar blog
    salut buat Ririe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, uji nyali dan kemamuan menulis.

      Delete
  59. Tergantung kita mendefinisikan pertanyaan mereka2 aja , lagian kebanyakan dari mereka biasayana (sih) bertanya hanya untuk brief conversation...
    jgn sampai jadi buru2 untuk nikah, hal yg baik itu selalu lebih sulit untuk di capai,.atau kalo gk sulit, yah agak lama sih.. hehe
    Let GOD do the rest, keep on moving yah.

    CHeers

    ReplyDelete
    Replies
    1. " Menikah itu sunnah, rumahtangga
      itu indah, tapi bukan berarti Allah tidak akan menguji ikatan
      pernikahan itu," - Dewi Sandra

      Delete
  60. Tulisanya bagus mBak Ririe..

    Trus itu lho..aku setuju banget sama argumen - argumen Mbak Ririe,
    Ah aku dulu juga mengalami hal sama dengan mbak Ririe, cuma aku gak punya argumen semanis Mbak Ririe..

    ReplyDelete
  61. Rie...seperti membaca curhatku sendiri..haha... Yah, saling mendoakan yg terbaik ya Rie.. semoga Allah meridhoi.. Aamiin..

    ReplyDelete
  62. Replies
    1. semoga lekas dipertemukan dengan jodoh pilihaNYA ya mbak

      Delete
  63. My mom (orang paling pengertian di dunia) said:
    "Beberapa bulan lagi usiamu 25 nduk. Tau nggak? itu usia awal untuk waspada."

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.