WHAT'S NEW?
Loading...

Pesona Panorama Pantai Batu Hiu Pangandaran

Jika mendengar nama Pantai Batu Hiu, imajinasi spontan yang membentangkan di benak saya adalah hamparan pantai bongkahan-bongkahan batu yang bentuknya menyerupai ikan hiu.  Apakah benar demikian adanya?

Destinasi wisata pantai batu hiu merupakan salah satu tempat pariwisata favorit di Kabupaten Pengandaran, tepatnya berjarak sekitar 14 km dari pangandaran ke arah selatan yaitu terletak di Desa Ciliang, Kecamatan Parigi. Bismillahirrahmaanirrahiim, Trip wisata di awal tahun bersama rombongan dari kantor, Pantai Batu Hiu adalah salah satu destinasi yang tercantum dalam daftar Iterinary itenirary kami, ehmm…maksudnya paket wisata yang ditawarkan oleh EO ding dan di ACC oleh kantor. Terus, saya pun mengajak Azka. Memang sih acara jalan-jalanya sudah over beberapa bulan lalu, tapiii gak ada basinya kan kalau menuliskan reportase jalan-jalan meskipun #latepost.
wisata pantai; jalan-jalan; pesona indonesia; indahnya Indonesia; travelling asyik;
Ghazebo di atas tebing yang curam di Pantai Batu Hiu
Saya sudah membayangkan bakalan menemukan pemandangan pantai yang dihiasai bongkahan-bongkahan batu yang berbentuk menyerupai ikan hiu. Dugaan saya memang tidak sepenuhnya salah, juga tidak semuanya benar, karena begitu keluar dari area parkir bis/kendaraan, tampaklah di seberang jalan semacam pintu gerbang yang berbetuk ikan hiu dengan mulut yang terbuka lebar. Dan mulut ikan hiu tersebut merupakan jalan masuk ke kawasan wisata pantai batu hiu.  Jangan senang dulu saudara, karena sesuatu yang indah itu biasanya butuh perjuangan kan?

Untuk bisa menikmati indahnya pantai batu hiu, kita harus naik ke atas bukit kecil di pantai ini karena dari lokasi perbukitan baru bisa menikmati penampakan si batu karang yang menyerupai sirip ikan hiu. Jadi jangan buru-buru merasa lega saat sudah menemukan miniatur buatan ikan hiu, that’s just the beginning.  
wisata pantai; jalan-jalan; pesona indonesia; indahnya Indonesia; travelling asyik;
Inilah "pintu" masuk menuju Pantai Batu Hiu
Masih butuh jalan kaki beberapa ratus meter dari pintu masuk untuk sampai ke tepian pantai batu Hiu-nya. Tentunya jalan yang harus dilewati lumayan bisa bikin heart beating, maklumlah meskipun kecil kan  namanya juga bukit tetap bisa bikin ngos-ngosan, especially saya, karena Azka tak terlihat ngoyo untuk jabanin perjalanan menuju pantai batu hiu kala itu. Karena alasan rute tracking yang cukup melelahkan itulah sehingga  sebagian besar anggota rombongan kami tak ikut melihat batu hiu lebih dekat dan memilih berada santai tak jauh dari area parkir dan pusat oleh-oleh.

Pemandangan taman yang elok nian menghampar dengan sangat-sangat indah. Hamparan rerumputan yang hijau segar, bunga-bunga kecil (entah apa namanya) yang pendek-pendek merata, dominannya pepohonan pandan wong yang tertata rapi serta tokoh-tokoh cartoon, maksudnya orang-orang yang mengenakan kostum tokoh-tooh cartoon, asyik buat poto-potoan bareng. Suerrrr…pemandangan tamannya bagussss banget. Rasanya betah banget untuk berlama-lama berada di taman yang menghadap ke pantai batu hiu tersebut. Iyahh, jika tak berlebihan…kayaknya tamannya gak kalah elok dengan ilustrasi taman yang ada di tempat tinggalnya Rani Peri itu loh. *namanya juga saking kagumnya*.  


Sesampai di zona taman, saya masih gak mudeng dan gak tahu, yang mana sih batu hiunya?
Itu loh mbak, yang dinamakan batu hiu…” jelas seorang teman sambil menunjuk ke arah pantai sebelah selatan taman. Pada arah yang ditunjukkan tersebut, tampak  sebongkah batu karang yang menyerupai (sirip) ikan Hiu.
Oooolalala…itu toh batu hiunya? “ berhubung saya bukan tipe orang yang drama queen, atau saya yang sudah over dosis sebelumnya dengan membayangkan bakalan melihat bebongkahan batu besar yang berbetuk ikan hiu, sehingga saya mlongo dengan sukses ketika mendapati batu yang dinamakan BATU HIU tersebut. Atau bisa jadi, sebongkah batu hiu tersebut memang aslinya besar, hanya saja karena terendam air laut sehingga yang mencungul di permukaan hanya sebagian kecil yang serupa sirip hiu tersebut. 
Saya sudah membayangkan bakalan menemukan pemandangan pantai yang dihiasai bongkahan-bongkahan batu yang berbentuk menyerupai ikan hiu. Dugaan saya memang tidak sepenuhnya salah, juga tidak semuanya benar, karena begitu keluar dari area parkir bis/kendaraan, tampaklah di seberang jalan semacam pintu gerbang yang berbetuk ikan hiu dengan mulut yang terbuka lebar. Dan mulut ikan hiu tersebut merupakan jalan masuk ke kawasan wisata pantai batu hiu.  Jangan senang dulu saudara, karena sesuatu yang indah itu biasanya butuh perjuangan kan?
Mengingatkan saya pada Film Lord of The Rings


Secara keseluruhan pemandangan yang terhampar di pantai batu hiu ini sangat recommended untuk di agendakan jadi destinasi wisata jika ke Pengandaran kok. Pesona Panorama Pantai Batu Hiu cukup menghipnotis untuk menikmati:

  • zona taman nan indah bagai taman para peri dengan hembusan angin pantai yang seger dan sepoi-sepoi.
  • pemandangan birunya Samudra Indonesia dengan deburan ombaknya deburan ombak yang bergulung-gulung putih, berdebur cukup keras ketika mencium karang-karang
  • hamparan pantai sebelah timur yang terbentang dengan eloknya, konon katanya pantai tersebut terbentang sampai ke pantai Pangandaran lhoh? Kalau gak percaya, silahkan saja jelajah sabuk pantai Pengandaran, dan nanti sharing cerita hebohnya sama saya ya?
  • yang hobi mancing, bisa juga bawa PERLENGKAPAN MEMANCING dan silahkan dinikmati serunya memancing ikan di Pantai Batu Hiu.
Pangandaran; pantai di Indonesia; pesona Indonesia; jelajah wisata
Hebat euy, si Bapak bisa "mancing batu Hiu"
Pangandaran; pantai di Indonesia; pesona Indonesia; jelajah wisata
Garis Pantai yang Membentang hingga Pantai Pangandaran
Sebenarnya saya pengen banget melihat penampakan batu hiu lebih dekat, yaitu dari tempat “ghazebo” yang berada di atas batu karang. Tapi mengingat hembusan angin yang cukup menggigilkan badan dan jalan setapak ke arah ghazebo yang menurut saya ngeri karena berada persis di atas tebing yang cukup terjal. 


Akhirnya saya bersama Azka dan beberapa teman yang sepenasaran terhadap Batu Hiu, mencukupkan diri untuk Alhamdulillah menikmati Pesona Panorama Pantai Batu Hiu dari tepi pantai yang lebih aman dan nyaman. 





Noted: Lagi Hobi masang dokumentasi berlimpah ruah dan sebenarnya masih kurang banyak lagi *rakus*

[Cara Mengetahui] Apa sih Hobiku ?

Melakukan suatu aktifitas pada hal-hal atau bidang yang disukai, didukung dengan talenta yang sesuai, akan memberikan semangat dan antusiasme luar biasa. Ibarat kata, jika orang lain butuh 1000 kalori untuk berpikir/mengerjakan sesuatu tapi hanya perlu waktu relatif singkat dengan kebutuhan  energi, kalori [apapun istilahnya] yang jauh lebih kecil, bisa jadi tak ada separohnya  atau bahkan lebih sedikit lagi bagi orang yang menyukai apa yang dilakukannya. Terlebih-lebih, jika pekerjaan yang dilakukan merupakan hobi yang sudah mendarah daging, WOW… itulah indahnya bekerja dan mengerjakan pekerjaan.

Being a mommy offers many opportunities to learn everyday and endless. Every day is new day and there is new thing have to learn.
Pokoknya, Bismillahirrahmaanirrahiim melakoni peran sebagai orang tua memberikan kesempatan untuk belajar sepanjang hayat.  Setahu saya, tak ada sekolah yang secara khusus membuka kelas untuk menjadi orang tua kan? Setelah mendapat wangsit untuk mengenalkan Barang Pribadi Yang Tidak Boleh Dipakai Orang Lain dan sekuel berikutnya memposting curhatan ala-ala sok parenting. 

Pernah kan mendapati pertanyaan dari sang buah hati atau anak-anak yang ada di sekitar kita tentang: hobby:  bagaimana caranya mengetahui dan menemukan hobi yang pas, maksudnya tidak sekedar ikut-ikutan teman atau trend aktifitas “hobi” yang lagi booming di sekitar kita. Meski kita tak bisa memungkiri jika hobi memang dipengaruhi oleh lingkungan dimana anak-anak (kita) tinggal dan bersosialisasi sehari-hari. Maka penting untuk diketahui juga bahwa tidak semua hobi yang booming dan ngetrend akan menjadi hobi yang sesuai dengan anak-anak (kita).

Hobiku itu apa ya Bund ?” atau pertanyaan lain “ Bagaimana caranya agar aku tahu hobiku?”. Terus terang, menghadapi pertanyaan tersebut, membuat saya freeze beberapa saat ,mendadak gagap untuk memberikan penjelasan secara spontan. Take deep breath, “Okay, I gonna try to explain it as well”, beginilah kalau jadi orang yang tidak begitu cakap dalam menggunakan bahasa verbal yang komunikatif. Some how, saya juga tak mungkin untuk menjawab pertanyaan anak-anak dengan berkata “cari di mbah gugel saja”. 

Ada pertanyaan-pertanyaan tertentu yang diajukan oleh anak-anak yang menurut saya TIDAK PATUT bila dijawab “ browsing di google saja ”. 

Walaupun kemampuan saya untuk memberikan penjelasan masih kacau alurnya, crowded tata kalimatnya, amburadul diksinya dan lain sebagainya, tapi saya berusaha menjelaskannya sebaik saya bisanya gimana.
“ Disebut hobi adalah manakala kita bisa enjoy, suka dan tidak mudah bosan untuk melakukan suatu jenis kegiatan. Dan biasanya, aktifitas yang di sebut hobi tersebut dilakukan di waktu senggang atau di sela-sela rutinitas dan jenisnya hobinya tetap. Kalau toh hobi itu berubah, setidaknya tidak dalam jangka waktu yang singkat ”. Demikian prolog penjelasan saya ke Aida yang sedang galau karena merasa “belum tahu” hobinya apa.
Eng ing enggg…tuh kan narasi penjelasan saya tentang hobi masih kental pollll alias belum luwes alias masih text book kan?.  
Berarti bunda suka menulis di blog adalah salah satu contoh hobi ya?” sahut Azka yang hampir tiap hari melihat saya duduk santai sambil menemani dia belajar atau nonton Ipin Upin.
Terus gimana caranya agar tahu hobi yang pas buatku? “ lanjut Aida masih galau
Suatu aktifitas akan bisa menjadi hobi manakala ada minat yang kuat. Jika Bunda boleh tahu, kamu tertarik atau menyukai kegiatan apa? Membaca, menulis, memasak, melukis, jalan-jalan…atau apa?” 
“ Ah itu, jalan-jalan saja. Keren tuh kalau nanti bisa jalan-jalan gratis sampai ke luar negeri dan dibayari pula? “ keseringan nonton program traveling di TV neh Azka.
Nggak tahu. Lha kadang aku tuh sukanya masih berubah-ubah. Hari ini suka apa gettu, minggu depan sudah berubah lagi deh..”
“ Itu artinya kamu masih belum menemukan jenis aktifitas yang bisa klik dengan hatimu. Mungkin kamu masih cenderung untuk pengen punya hobi yang sama dengan teman-teman di dekatmu ya?”
“ Bisa jadi iya kali ya Bund?”
“Idealnya hobi itu membawa pengaruh positif , bisa jadi pelampiasan saat kita stress, sedih atau kondisi tak nyaman lainnya. Dengan melakukan kegiatan yang menjadi hobi, kita akan merasa enjoy and feel getting much better-lah”.
Mengenalkan Hobi; Perlunya anak tahu tentang Hobi; cara mengenalkan Hobi
Taken: Aida [masih] Kelas 6 SD
Kalau dalam pengamatan saya kalau lagi di rumah, Aida suka baca buku dan suka beli-beli buku meskipun tak semaunya dibaca “Aku tuh pengen beli-beli BUKU MOTIVASI, ben rada keren dikit, masak baca cerita remaja mulu…”  Dia juga suka semacam telling story, karena tiap kali saya mintai tolong untuk mengajari Azka, dia menggunakan metode “bercerita” dengan ekspresi wajah yang ekspresif. Ketika saya sebutkan kemungkinan kalau dia hobi membaca atau bercerita, Aida bilang kurang masih suka diserang rasa bosan kalau membaca buku. 

Sebenarnya ada banyak cara untuk menggali hobi yang bisa diminati. Kalau diuraikan secara detail, maka Aida bisa ketiduran karena mendengarkan penjelasan yang  monoton dan membosankan. Jadi saya sesuaikan dengan kesehariannya yang tinggal di asrama sekolah dan peluang yang kegiatan yang memungkinkan dia menemukan hobi yang dicari-carinya selama ini. Saran yang bisa saya sampaikan adalah:
“ Cobalah semua kegiatan ekstrakurikuler ataupun kegiatan lainnya yang ada di sekolah. Dan jangan takut untuk mencoba hal-hal baru, selama itu baik dan benar, jadwalnya bisa selaras, kondisi fisikmu juga mendukung.  Jadi jangan terburu-buru memutuskan tidak suka atau tidak bisa pada suatu jenis kegiatan yang ada di sekitarmu loh?”
Sebulan kemudian,
Dengan antusias, Aida cerita kalau sudah ikut Tapak suci, ikut mading, ikut-ikutan si ibu-ibu yang biasanya masakin untuk anak-anak di asrama dan beberapa kegiatan lainnya. 

Salah satu sifatnya hobi memang  lebih dipengaruhi lingkungan, sehiangga sangat mungkin seseorang bisa memiliki hobi yang berganti-ganti. Saya sendiri sewaktu masih SD suka banget menanam tetumbuhan, tak hanya bunga, lombok, tomat, kacang tanah, suka banget nyoba-nyoba bercocok tanam. Asal ketemu biji apa saja yang bisa dikeringkan, saya tanamlah biji tersebut. No matter what happen, meskipun akhirnya banyak yang dipatuk ayam saat bertunas. Saya melihat adik saya juga memiliki trend hobi yang berbeda saat masih SD, kemudian menginjak remaja dan sekarang hobinya sekolah teruss. *piss, nglantur*  

Alhamdulillah ya, interaktif dengan anak-anak menjadi ladang ilmu yang selalu menumbuhkan tunas pengetahuan yang baru. Tentang hobi, yang sebenarnya bukan hal baru. Tapi menjadi hal baru, terutama bagi saya karena menerima pertanyaan “Hobiku itu apa sih?”, mau tidak mau saya pun belajar untuk  menjelaskan tentang hobi dengan bahasa yang mudah dicerna bagi anak-anak. Kita semua sepakat kan, jika Hobi adalah isu umum yang memiliki daya tarik untuk diketahui dan bisa ditemukan melalui berbagai uji coba kegiatan yang siapa tahu salah satu aktifitas tersebut merupakan si HOBI yang kita cari-cari mulai dari musim kemarau hingga musim hujan, sejak musim durian sampai musim buah kelengkeng tiba. 

Bagaimana (akhirnya) Anda bisa mengenali hobi yang dijalanin hingga sekarang?
Dan, bilakah hobi anda akan berubah haluan?




[Mengenali] Barang Pribadi Yang Tidak Boleh Dipakai Orang Lain

Meminjam atau meminjamkan barang merupakan salah satu bentuk sikap perduli untuk berbagi, dalam  konteks:  sebatas hak menggunakan manfaat/fungsi yang dimiliki oleh barang/benda barang yang jadi obyek dalam  transaksi pinjam-meminjam dan zat [fasa] tersebut tidak rusak/berkurang jumlahnya saat dikembalikan.

Aksi pinjam meminjam barang yang terjadi Bismillahirrahmaanirrahiim bisa karena banyak sebab, semisal karena:
  1. Tidak punya dan tidak mungkin jika seketika itu juga untuk membeli, seperti pompa ban sepeda, tangga lipat, dan lainnya yang sejenis. 
  2. Bisa juga karena jenis barang  yang  penggunaannya hanya sesekali [faktor kebetulan] seperti tangga lipat untuk membetulkan genteng bocor, daripada beli tapi pemakaiannya super jarang dan tidak punya tempat untuk menyimpan, kan lebih effisien pinjam tetangga yang sudah punya saja kan?. 
  3. Atau sebenarnya sudah memiliki barang yang dimaksud tapi ndilalah pas rusak atau masih proses perbaikan [service] pas akan digunakan, alternatifnya pinjam juga bisa kan untuk sementara waktu. 
Alasan-alasan di atas dan beberapa alasan lainnya yang setipe dan biasanya jadi alasan  terjadinya aksi pinjam-meminjam barang dengan orang lain. Dan kini, saya mendapati  tipe alasan untuk meminjam barang/benda dan mulai dianggap wajar yaitu meminjam barang demi apalah-apalah, yang mengarah pada life style atau fashionable agar bisa tampil selalu beda di berbagai kesempatan. 
Jadi, dasar untuk meminjam bukan karena tidak punya barang, kondisi barang yang dimilikinya sedang rusak atau kebutuhan yang tidak terduga lainnya.  Contohnya, pinjam baju, tas, sepatu, jaket atau barang-barang fashion lainnya.


Saat jadwal kepulangan dari Asrama, beberapa waktu lalu, Aida minta dibelikan jilbab karena beberapa jilbabnya hilang saat dipinjam oleh temannya. 
“ Apa jilbab temanmu sedang di cuci semua sehingga pinjam punyamu?”, tanya saya penasaran kan? Wong salah satu peraturan keseharian yang harus ditaati di asrama sekolah Aida adalah wajib mengenakan BAJU MUSLIMAH plus jilbab ukuran L ke atas. Jilbab ukuran S atau M hanya bisa digunakan bila panjang jilbabnya minimal menutup sampai siku tangan. 

"Biar bisa pakai jilbab secara bervariasi model dan warnanya, kan biasa saling pinjam-meminjam. Aku juga kadang-kadang pinjam jilbab punya’e temanku lho ?” jawaban yang setipe dengan cerita si sulung Ifa, yang juga beberapa kali mengalami kasus kehilangan jilbab atau baju ketika dipinjam oleh temannya.
Life style; parenting; nasehat; barang pribadi; private only
[Contoh] Barang Pribadi yang Seharusnya Private Only
Saya tahu Aida dan Ifa sudah paham apa hak dan kewajiban dalam transaksi pinjam – meminjam barang. Suami dan saya pun tak hendak melarang atau membatasi mereka dalam soal kesiapan dan  kerelaan meminjamkan barang pada teman-temannya. 
Tindakan pinjam meminjamkan barang bisa diasumsikan sebagai bentuk berbagi dan membantu orang lain, yang niscaya Allah akan [memberikan balasan] membantu urusan di dunia dan di akherat. Dengan pemahaman sederhana, hakekat membantu orang lain kan sejatinya bentuk investasi jangka pendek, menengah dan panjang bagi diri kita sendiri akan datangnya pertolongan/rahmat Allah melalui cara yang bisa saja berbeda dan waktu yang tidak terduga, tak hanya di dunia tapi juga di akherat kelak. 
Akan tetapi, perlu diperkenalkan pada anak-anak bahwa tidak semua barang-barang yang kita miliki bisa dipinjamkan atau dipakai orang lain. Kami ingin agar anak-anak tahu, paham dan bisa menerapkan barang-barang apa saja yang Do or Don’t Pinjam-Meminjam dengan Orang Lain. Terlebih anak-anak kami, Ifa, Aida dan Azka [insyaAllah nanti akan sekolah di asrama juga], dimana sehari-harinya akan bersosialisasi dengan banyak teman-temannya dan saling pinjam barang adalah salah satu kebiasaan khas yang jamak terjadi dalam kebersamaan mereka. Karena itu, sangat penting bagi anak-anak mengetahui jenis-jenis barang yang harus dipertimbangkan dengan seksama untuk dipakai secara saling pinjam-meminjam. 


Perlu untuk mengenalkan pada anak-anak sejak dini bahwa tidak semua barang bisa  dipakai secara bergantian atau saling pinjam-meminjam. Ada beberapa jenis barang yang SEHARUSNya diperkenalkan sejak dini sebagai jenis barang yang TIDAK BOLEH (jangan) dipakai oleh orang lain yaitu barang/benda yang pemakaiannya:
  1. bersinggungan langsung dengan rambut dan kulit kepala, seperti sisir, topi, jilbab, jepit-karet rambut, shower cap dan rerupa benda lainnya yang bisa menjadi perantara penularan ketombe dan kutu rambut
  2. menempel pada kulit seperti: sabun mandi batang [oleh karenanya, kami lebih merekomendasikan anak-anak untuk menggunakan sabun mandi cair], handuk, shower puff, deodorant [roll maupun stick], puff bedak (karena memungkinkan menularkan jerawat/penyakit kulit lainnya bila pemakai sebelumnya berjerawat ataupun karena sakit sebab bakteri-kuman lainnya]
  3. memiliki kemungkinan untuk kontak dengan cairan tubuh, antara lain: sikat gigi, pisau cukur, potongan kuku, ear phone, anting-anting, pisau cukur,  kaos kaki, pakaian dalam [LARANGAN KERAS pinjam-meminjam under wear ].
Dan masih ada barang lainnya yang sebaiknya tidak digunakan secara bergantian dengan orang lain karena memiliki resiko [tidak baik] yang mungkin bangkit melalui barang tersebut di kemudian hari. Secara garis besar, jenis barang apapun yang memiliki potensi untuk menjadi media penularan dan penyebaran jenis penyakit SEHARUSNYA tidak digunakan secara saling pinjam meminjam dengan orang lain
PInjam meminjam barang yang tidak diperbolehkan

Untuk barang-barang yang memiliki fungsi seperti nomenr 1 dan 2, ada kemungkinan terdapat atau bahkan berkembang biaknya  bakteri, jamur, kadas, kurap, kuman, ketombe, kutu rambut, penyakit kepala lainnya yang bisa menular kepada orang lain. 

Sedangkan untuk kategori ketiga (ke-3), resiko yang mungkin terjadi adalah terinfeksi atau mennularkan jenis-jenis penyakit akibat kuman, bakteri, atau virus yang penularannya melalui darah/cairan tubuh seperti virus hepatitis B,C atau HIV/AIDS yang bisa menyebar melalui pisau cukur yang siletnya dipakai secara berulang-ulang, atau jenis penyakit lainnya yang baru akan muncul di kemudian hari.

“ Berarti, boleh atau tidak kalau pinjam jilbab?” “ Jika sekiranya barang yang dipinjam-meminjam tersebut sudah jelas bisa menjadi mak comblang penularan penyakit atau gangguan kesehatan lainnya, kamu siap menanggung akibat tersebut atau tidak lho?”“ Jika semisal ketombean, gak fatal kan Bund? Jadi pinjam jilbab masih bisa ditoleransi dunk?” “ Bagaimana jika, suatu kejadian tak terdeteksi kepala temanmu terluka dan berdarah, kena garuk atau apalah. Dan kamu tidak tahu jika temanmu adalah carier suatu penyakit yang bisa menular lewat darah? Sedangkan jilbab yang kamu pakai ternyata pernah dipakai saat kepalanya berdarah?”“ Kalau temanku itu pakai daleman jilbab, ciput atau lainnya, apakah tetap berbahaya Bund?
Begini ini kalau mewacanakan sesuatu hal pada anak-anak era digital, pertanyaan bangkitan pun muncul sambung-menyambung seperti sumbu mercon deh. Kalau dilanjutkan bakalan jadi naskah sinetron, mendingan langsung closing ke intinya:

" Walaupun meminjamkan barang itu perbuatan baik tapi tetap perlu diwaspadai, dipikirkan dengan seksama dan bijaksana apakah transaksi pinjam-meminjam tersebut memiliki resiko akan jadi Mak Comblang: menularkan penyakit dan gangguan kesehatan lainnya atau tidak ?"


Nah, barang-barang pribadi anda apa saja yang masuk kategori totally forbiden untuk dipinjam atau dipakai orang lain?


Candu Uang Koin Recehan dan SPAM

Content is king, demikian salah satu variable/faktor strategis untuk sebuah blog menjadi SEO Friendly.  Hampir semua blogger/Netizen setuju jika tulisan yang berkualitas adalah salah satu trik jitu dan anti usang untuk “menghidupkan” traffic blog. Kalimat sederhana yang saya pahami, postingan berkualitas bisa menjadi investasi blog untuk jangka panjang  dalam search engine

Ngomongin postingan yang masih belum ajeg beserta blogwalking yang kacau balau, tapi ada loh aktifitas blogging yang [saya akui] lebih ajeg saya lakukan dibandingkan publish postingan yaitu seleksi terhadap SPAM gaya baru yaitu komentar  yang di susun normally seperti komentar tapi [menurut saya] masih termasuk jenis SPAM. 

Contoh komentar yang saya golongkan dalam SPAM gaya baru ini banyak muncul sejak saya membuat postingan Nilai Uang Recehan, hampir tiap hari ada saja komentar yang gak nyambung dan hampir semuanya menawarkan pinjaman. Sebagian ada yang menggunakan nama orang Indonesia, juga ada nama orang asing. Saya menganggapanya sebagai komentar SPAM, dan mohon maaf karenanya saya ceklis dan masuk inbox sebagai SPAM.

Dibandingkan postingan lain, Nilai Uang Recehan ternyata memiliki candu yang mampu mengundang SPAMER? Dalam postingan itu, saya sekedar berbagi sepotong cerita tentang anggapan/sikap Azka  dalam memperlakukan uang recehan (koin) adalah: 
  • untuk  dibagikan seperti yang biasa dilakukannya saat diperjalanan. 
  • tapi mikir-mikir untuk memasukkan ke dalam CELENGAN “nanti celenganku penuh koin tapi jumlah uangnya tidak banyak Bund?”, demikian alibi Azka. It’s make sense.  
  • dan menggunakan uang koin untuk belanja itu bikin gak PeDe. Ini saya ketahui ketika mengajaknya belanja ke sebuah minimarket.
Sebagian comment ala Spam gaya baru
Nah, nyaris semua komentar SPAM di postingan tersebut ‘isi’nya sama yaitu menawarkan pinjaman tanpa agunan. Kalau komentarnya nyambung dengan isi postingan atau paling tidak ada relevansinya (pada postingan appaun), walaupun sedikit banget nyambungnya dan jelas untuk iklan/mengenalkan produk yang dia jual, selama jenis jualannya wajar dan link yang dipasang “sehat” biasanya saya biarkan tayang. Itung-itung menghargai usaha orang lain dalam memperkenalkan produknya. 

Mungkin ada yang penasaran, kalau memang mau filter-filteran komentar, kenapa juga gak pakai metode MODERASI atau CAPTCHA? 

Kedua metode tersebut sudah pernah saya terapkan di blog tapi kemudian saya berhentikan dengan alasan yang sangat-sangat saya sadari kalau saya tidak menggunakan kedua sistem filter komentar tersebut sebagai pilihan yang saya anggap lebih baik, sampai dengan saat ini dan entah sampai kapan. Bisa saja, suatu saat nanti saya mempertimbangkan untuk memasang alat filter komentar tersebut. Atau bisa juga, tetap seperti sekarang yaitu tanpa moderasi dan tidak menggunakan CAPTCHA dan mencukupkan dengan cara manual untuk memilah-pilih komentar yang bernada SPAM atau tidak.
Jika kemudian saya memilih tidak menggunakan sistem Moderasi maupun CAPTCHA semata based on pengalaman sendiri ketika blogwalking.
  1. Jika menggunakan CAPTCHA, speed internet masing-masing orang kan tidak sama. Seperti saya misalnya, kalau di rumah sparing koneksi dengan hotspot portable dari Hape, kadang modem stick. Nah, jika kualitas jaringan lagi buruk, bisa jadi kode CAPTCHA tidak cukup sekali dan comment saya langsung tayang kan? Biasanya memang saya ulangi lagi, tapi jika kali ketiga masih gagal publish komentar, yaaa dengan berat hati akhirnya [biasanya] saya permisi melanjutkan blogwalking ke blog lainnya. Nah, saya pun kondisi tersebut di alami oleh pengunjung di blog saya. 
  2. Setelah melepaskan CAPTCHA, saya pilih menggunakan moderasi. Jadi, tiap komentar yang masuk akan berada dalam status moderasi dan akan isued jika saya buka palang pintu moderasinya. Masalahnya, iya kalau saya bisa setiap saat atau setiap hari buka internet dan mengakses blog? Lha kalau lama-lama di kotak moderasi, kok ya rasanya gimana gettu. Sudah dikunjungi, disempatin ninggalin jejak, kenapa malah saya-nya yang kurang tanggap untuk segera membebaskan komentar-komentar yang masuk dari kotak moderasi? 
Itulah alasannya kenapa saya pilih tidak menggunakan MODERASI dan tidak memasang kode CAPTCHA lagi.  

Apakah tidak mengalami kebanjiran koementar SPAM? 
Alahmdulillah, saya pernah mengalami serbuan SPAM juga. Dalam hitungan beberapa jam, komentar yang sangat-sangat jelas berkelas SPAM: satu kalimat yang sama, ID sama, wuusss… muncul sedemikian cepatnya di postingan yang sama. Sempat excited, pas lihat icon email kok banyak banget notifikasi koementar blog yang masuk. Eaaaalah, pas dibuka, ekspresi saya serentak berubah jadi kaget karena ternyata SPAM banyak banget, hingga mendekati angka ratusan dalam satu postingan.

Akhirnya, secepat kilat saya SMS Mas Stupid Monkey, dia adalah my blog doctor, termasuk yang bongkar pasang template blog ini untuk yang kesekian kalinya. Kala itu beliau segera memasangkan script code untuk membentengi serbuan SPAM. Alhamdulillah, kode scriptnya mujarab dan virus SPAM pun terpental, maksud saya komentar yang jelas-jelas typically SPAM tidak ada lagi yang menyerbu blog saya.

Iya sih, memang tidak 100% bisa mensortir SPAM. Komentar SPAM yang di susun normally seperti komentar, tentu bisa menembus kode script anti SPAM tersebut tapi intensitasnya masih bisa saya atasi secara manual dengan kontrol ke dashboard comment dan centang ke SPAM jika ada komentar yang bernada SPAM.  

EPILOGnya, Saya tetap menghargai adanya Moderasi dan CAPTCHA, tetap dengan senang hati berkomentar saat bersilaturahim ke blog yang menggunakan salah satu metode filter komentar tersebut dan tetap kembali blogwalking ke siapa walau masih dengan pola random . Karena, menggunakan filter komentar atau tidak, tentunya masing-masing orang punya alasan dan tujuan demi kebaikan bersama agar Happy Blogging forever. Ciaaatttt….

Perlunya Syarat dan Ketentuan [Berlaku Sejak Awal]

“Syarat dan ketentuan berlaku” atau kalimat lain yang semakna dengan “ TERM & Condition” SUDAH menjadi “ADAT dan ADAB” standar yang menyertai dalam banyak hal, antara lain pendaftaran awal pada: event (lomba, audisi, gathering, seminar, workshop), recruitment karyawan, pendaftaran siswa/mahasiswa baru, beli rumah, bikin shop online, dll.  

Point-point yang diharapkan menjadi first filter sangat penting untuk dituangkan secara jelas dan transparan dalam “Syarat dan ketentuan”, yang Bismillahirrahmaanirrahiim tak hanya sangat berguna bagi pihak penyelenggara/panitia/tim pelaksana kegiatan/stake holder atau apalah penyebutannya. Bagi calon kandidat pun sangat-sangat penting sebagai pertimbangan/first consideration: apakah sang calon peserta memiliki kualifikasi yang sesuai/cocok seperti yang telah ditetapkan?

Bisa saya simpulkan, Perlunya Syarat dan Ketentuan [Berlaku Sejak Awal] sebenarnya memiliki manfaat dua arah, yaitu bagi stake holder/pihak penyelenggara  dan calon peserta.
  • Bagi panitia/tim/EO, merupakan efisiensi waktu, tenaga, biaya, pikiran/emosi. At least, dari sekian banyak pendaftar yang sudah masuk, mayoritas sudah memiliki kualifikasi dasar yang dibutuhkan. Kalau ada yang masih nekad mendaftar meskipun sudah jelas-jelas out of the criteria…itu sih ujian kesabaran buat panitia/tim seleksi. Hehehe..
  • Bagi peserta, adanya syarat dan ketentuan untuk pendaftaran merupakan pedoman untuk menilai secara mandiri dan sportif mengakui apakah eligible or not untuk mendaftar. Kalimat singkatnya: Adanya syarat dan ketentuan wajib saat pendaftaran secara otomatis akan membuat calon peserta TAHU DIRI, apakah dirinya memenuhi kriteria seperti yang dipersyaratkan atau tidak. Pastinya juga, pada dasarnya tak ada calon peserta yang ingin wasting time mendaftar ke event/acara/audisi yang jelas-jelas ada kriteria yang tidak ada pada dirinya dan atau tidak bisa dipenuhi. Kecuali, ada unsur kesengajaan dalam rangka iseng atau sekedar menyemarakan pendaftaran saja. *contohnya: saya pernah ikut GA dan ada point persyaratan yang gak bisa saya penuhi tapi nekad tetap mendaftar. Hehehee
  • Pastinya, pencantuman syarat dan ketentuan yang diberlakukan sejak awal, membuat calon peserta dan tim panitia sama-sama enak, sportif dan meminimalkan kemungkinan bias atau terjadinya konflik di kemudian hari
Mari sejenak terbang ke antah berantah dan ngayal:
“Seandainya tidak ada syarat - ketentuan apapun untuk mendaftar atau 
mengikuti suatu event/lomba?”

Tentu siapa saja yang tertarik akan MERASA dirinya memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mendaftar. Tak bisa dihindari lagi kalau jumlah pesertanya akan over limit dan membludak pol-polan. Jika hal ini terjadi, siapa yang paling direpotkan? Siapa yang akan menghadapi benturan emosi dan kelelahan fisik paling kompleks? Kalau peserta, karena sudah niat ikut mendaftar, mereka akan memiliki doping yang berupa euforia: Rapopo capek dan antri, namanya juga usaha kok.
lomba; kompetisi; Audisi; Event; Acara
Sedikit ada kesamaan dengan cuplikan ngayal di antah berantah tersebut, ketika beberapa waktu lalu saya mendaftar sebuah event dan mendapatkan jawaban yang dengan jelas menyebutkan kalimat seperti ini:
--------------------
Email ini hanya berlaku penerima pertama (bukan hasil forward) dari email resmi kami.
Yth. Pelamar XXXXXX Gathering bla bla bla… dari Yogyakarta,

Nama anda terpilih dari sejumlah pelamar dalam acara Netizen Informal Gathering yang akan dilaksanakan pada : ~ no need detail here ~

Berdasarkan hal di atas kami meminta konfirmasi dari anda apakah tetap bersedia mengikuti acara ini? Jika bersedia, kirimkan data diri anda kembali yaitu : ~ no need detail here ~

Harap membalas email ini paling lambat 11 November 2015 pukul 13.00 WIB. Apabila tidak merespons kami anggap anda mengundurkan diri.
--------------------

Karena sudah dinyatakan TERPILIH dan diminta mendaftar ulang sebelum batas waktu yang telah disebutkan, saya pun bersegera diri membalas email sesuai permintaan data yang telah disebutkan. 
Sebenarnya saya sudah mulai curiga, kok H-3 belum ada email konfirmasi run down acara dan kepastian tempat pelaksanaan acara. Dikuatkan lagi, info dari teman yang sudah menerima email berisikan detail acara bergengsi tersebut. 

Demi memastikan status kepesertaan, saya pun KEPO dan langsung kirim email ke pihak panitia yang sebelumnya mengcontact via email juga. Hari berikutnya, menerima balasan secara massal. Maksudnya email tersebut dikirim oleh panitia secara CC pada sekian pendaftar yang intinya menyampaikan: 
“……Dikarenakan banyaknya jumlah peserta yang terpilih, maka kami melakukan seleksi Tahap 2 dan Anda dinyatakan "Belum Lolos" untuk mengikuti acara ini….”

Saya akui kecewa, tapi gak kecewa akut. Karena pada prinsipnya, ketika saya ready to the battle…eh, maksudnya ikut suatu event/acara, selain karena merasa tertarik dengan tematiknya juga semata  berasaskan pada UU: selagi waktunya memungkinkan, why Not I take the chance? 

Dan terkait dengan “crowded”nya acara tersebut, yang berseliweran di benak saya bukan lagi soal kecewa atau BAPER, tapi lebih pada rasa penasaran: 
  1. Kenapa jadi ada excusing SELEKSI KEDUA? Jika toh ada seleksi lanjutan yang lebih selektif, kenapa tidak disampaikan sejak broadcast awal-awal masa pendaftaran? 
  2. Bagaimana dan apa saja Kriteria/kualifikasi yang kemudian dijadikan alat filter (yang mendadak ada seleksi tahap kedua)  bagi peserta terpilih dan tidak terpilih? 
  3. Apakah tim/panitia/EO yang menghandle acara tersebut belum cukup kompeten untuk menyelenggarakan suatu event/acara?
  4. Untuk sekelas suatu institusi prestisius, apakah tidak melakukan fit and proper test terhadap tim/panitia yang akan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan  acara tersebut?
  5. Dan ada lagi yang aneh, calon peserta yang TIDAK mengirimkan konfirmasi apakah tetap bersedia mengikuti acara, juga dinyatakan “Belum Lolos” tahap kedua?!
Oia, secara pribadi saya ikut bersimpati bagi yang sudah reservasi tiket pesawat PP (Makasar - Solo, katanya) tapi termasuk "Belum Lolos" seleksi tahap kedua juga. Sepertinya, karena antusiasme yang tinggi sehingga tak mempermasalahkan meskipun harus membiayai perjalanan secara mandiri karena sudah dijelaskan kalau tiket/transportasi yang ditanggung maksimal Rp. 300.000,-. Kalau saya memang belum beli tiket karena rencana semula hendak berangkat bareng Kang Suami (Hari Jum’at juga ke Solo). Lumayan kan menikmati perjalanan ala-ala princess, cukup duduk cantik di sebelah kiri sambil mendengarkan alunan lagu-lagu  dari channel gelombang RADIO sepanjang perjalanan. 

Kalau Om-Om Michael Learn To Rock bilang: Nothing To Lose….dan saya  tambahi: ambil baiknya saja jika ikut suatu acara. Jadi saya tak hendak menyalahkan siapa-siapa, lagian siapa saya kok sombong nian menyalahkan orang lain ya?. Toh, saya belum tentu mampu juga kok jika berada di posisi tim panitia tersebut. 
Yang jelas, peristiwa ini merupakan pembelajaran buat saya bahwa menyelenggarakan suatu acara itu tak hanya harus competent dalam membuat perencanaan di atas kertas, tapi pelaksanaan hingga akhir acara kudu di desain agar seminimal mungkin bila terjadi keributan. 


Nah, siapa neh yang sudah pengalaman jadi panitia suatu acara? 
Atau, jadi Tim seleksi lomba? 
Boleh dong bagi-bagi pengalamannya yaaaa….? 

Nostalgia [dengan] Rujak Cingur

Salah satu kuliner khas Jawa Timur, khususnya Surabaya  adalah rujak cingur. Yang ngaku Arek Suroboyo tentu kenal keunikan cita rasa Rujak cingur. Kuliner jenis rujak yang menggunakan primadona: CINGUR ~ BIBIR sapi yang dicampuradukkan dengan bahan rujak lainnya: aneka sayur dan bebuahan. 

Pengennya makan rujak cingur sih karena ngidam *ngarep banget* tapi untuk kali ini penyebabnya masih belum karena ngidam. Bismillahirrahmaanirrahiim, sudah sejak lama tumbuh benih-benih kerinduan untuk menikmati sensasi makan rujak cingur nan pedas dan menguras keringat. Kali terakhir melahap rujak cingur, sekitar 4-5 tahun lalu, pas lagi di Surabaya. Pas laper, pas ada teman yang ngiming-iming rujak cingur yang konon katanya super cethar membahana. Yang saya ingat sih gak jauh-jauh dari daerah Pagesangan, lupa alias gak inget persisnya dimana.   

Sebenarnya sejak pindah ke Jogya, sudah dicritani oleh Kangmas Abi tentang keberadaan salah satu warung yang jualan rujak cingur di Jogya yaitu Jalan Magelang KM. 5 - Sleman. Sebenarnya ya gak jauh-jauh dari rumah tapi belum kesampaian. Lha beberapa kali menyiapkan diri untuk menyantap rujak cingur Jawa Timur versi Yogyakarta, ndilalah pas tutup.  

Alhamdulillah, dalam perjalanan dari Solo - Jogya menemukan obat kangen terhadap rujak cingur. Tepatnya, saat singgah untuk makan siang di food court sebuah mall di Solo (sekalian Aida belanja bulanan untuk di asrama), terdapat sebuah stand yang menyediakan menu rujak cingur. Tanpa pikar-pikir lagi, saya langsung memutuskan pilih rujak cingur. 

Tidak lebih dari sepuluh menit, seporsi rujak cingur pedas (harganya  Rp. 21.000 include sebotol teh isi 330 ml), sudah terhidang di depan saya. Racikan kuliner yang terdiri dari irisan bengkuang, mentimun, kedongdong, mangga, tahu goreng, tempe goreng, lontong, kangkung+kacang panjang rebus, KRUPUK dan pastinya slice cingur yang memantapkan kesedapan rasa menu ala campur-campur aduk tersebut. Oia…..bumbu rujaknya yang semerbak oleh aroma petis, hhemmmm……bikin ngiler deh pokoknya. 
Rujak Cingur Versi Solo (Karena belinya di Solo)
Sajian seporsi rujak cingur pedas pun dengan cepat kandas. Suami hanya kebagian incip-incip seseondok doang deh. Karena kepedasan, nasi goreng suami tuh yang jadi korban untuk meredakan lidah yang huwah-huwah kepedasan. 

Saya pribadi, mengingat bisanya bikin makanan demi sebatas asal-asalan: Asal tidak meracuni, Asal jadi dan asal bisa dimakan. Untuk membuat Rujak cingur harusnya sih bisa, walaupun kemungkinan besar rasanya [awal-awal trial –eror] bakal kacau balau. Intinya orang masak itu kan HANYA karen mau mencoba [imajinasi] untuk mix and macth bahan-bahan untuk masak. 

Makanya, makanan yang terkenal dengan nama seleb RUJAK Cingur ini termasuk model makanan yang memberikan kelonggaran untuk mengeluarkan segenap daya imajinasi, inovasi dan kreatifitas. 

At least, sewaktu masih tinggal di Muncar – Banyuwangi dulu cukup makan rujak cingur rame-rame. Penjual rujak cingur yang terkenal di Muncar adalah di Jalan Bayangkara [ tapi lupa namanya dan saat belum kepikiran untuk moto-moto jugak]. Yang jelas, kalau sudah merasa ‘waleh’ dengan menu dapur kantor, salah satu variasi makanan yang jadi favorit adalah rujak cingur yang kala itu harganya masih Rp. 8000,- sudah paket lengkap dengan Krupuk Udang dan sebutir telur asin.

Tulisan saya kali ini buakn dalam rangka cerita wisata kuliner atau pun karena saya sukses coba-mencoba bikin rujak cingur lho? Sekedar pengen cerita betapa excitednya saya karena bisa menikmati rujak cingur lagi, setalah berabad-abad rasanya saat terakhir menyantap rujak cingur di Surabaya. Kalau boleh jujur sih, rasanya memang gak sama banget seperti rujak cingur yang dulu biasa saya makan di Muncar atau pun saat di Surabaya. Atau mungkin karena kelamaan tidak makan rujak cingur, sehingga indera perasa saya mengalami sedikit bias akan keaslian rujak cingur ya?

Next time, pengen deh nyobain bikin rujak cingur sendiri. Kan pas dulu di Muncar, saya suka merhatiin racikan bahan-bahan yang di uleg oleh si Ibu penjual Rujak cingur di Jalan Bayangkara. Seperti yang saya pedomani dalam membuat makanan jenis apapun, bahwa pada dasarnya meracik bumbu dan bahan untuk suatu jenis makanan itu sifatnya relatif dan  bukan absolut. Dalam proses memasak, kita bisa bereksperimen dan berimprovisasi layaknya saat merangkai huruf-huruf demi hingga tersusun kata, kalimat, paragraf dan postingan.

Untuk meracik bumbu untuk membuat “sauce” rujak cingur, saya masih ingat bahan dasar/utamanya yaitu: petis udang,  cabe rawit (sesuai selera), kacang tanah goreng, air asam jawa (Ibu saya menyebut asam jawa = asam kawak), pisang klutuk, garam secukupnya, gula merah/jawa/aren/bathok secukupnya, air secukupnya. Ada juga yang pakai terasi untuk melengkapi bumbu rujak ini. Tapi kalau saya, prefer pilih salah satu: petis atau trasi saja, agar rasanya lebih jelas dan tegas. Semua bahan tersebut di uleg hingga halus, kemudian dicampurkan dengan bahan yang akan dijadikan rujaknya.

Pada umumnya, bahan/makanan yang dibuat rujak sifatnya variable. Sah-sah saja mau mencampur-adukkan bahan yang akan di rujak. 
Selain lontong, tahu goreng, tempe goreng, maka aneka sayuran rebus (kankung, bayem, kacang panjang, daun ketela, sayuran lainnya) dan jenis bebuahan yang umumnya dibuat rujak antara lain: nanas, bengkoang, mentimun (krai), kedondong, belimbing, mangga, dan buah lainnya juga bisa, selama buah tersebut menurut anda maknyus kalau disajikan untuk rujak cingur ataupun jenis rujak uleg lainnya.
Ini BUKAN Rujak Cingur, Tapi RUJAK SOTO (kuliner khas Banyuwangi)
Yang pasti, rujak Cingur merupakan salah satu jenis kuliner yang memungkinkan kita mengeksplorasi kreatifitas dan imajinasi. 
Mau pakai imajinai yang wild, semisal menambahkan pare untuk mendampingi cingur juga bisa kok *saran orang yang gak lulus jadi chef*. Tak hanya jenis sayuran dan buah yang bisa di kombinasikan sesuai selera, tapi jenis lauknya juga bisa bervariable kok. Selain cingur, tempe dan tahu goreng, seperti saya ceritakan di atas kalau telur asin dan jenis protein hewani lainnya juga suitable untuk pelengkap rujak cingur. 

Nah, sebelum saya makin ngaco ngasih saran soal bikin rujak cingur yang asal apalah-apalah yang penting jadi rujak, yang ada saya malah dapat protes para food blogger dan komunitas kuliner kalinnya neh. 
Barangkali, ada yang tertarik untuk uji coba membuat rujak cingur ala your own recipe? Atau jenis makanan rujak lainnya mungkin?
Atau, dakah yang suka makan rujak cingur atau rujak jenis lainnya?
Kalau saya sih, jadi jalan-jalan ke Surabaya dan makan rujak cingur asli Suroboyo versi Suroboyo.   

Kontemplasi SaDaRi dan Kanker Payudara

SaDaRi merupakan tindakan Deteksi Dini Kanker karena pada beberapa jenis kanker bisa dideteksi sebelum gejalanya terasa. Cara deteksi dini terhadap kanker payudara inilah yang lebih dikenal dengan SaDaRi=pemerikSAan payuDAra sendiRI atau memeriksa payudara sendiri, dimana kesadaran untuk melakukan SaDaRi bisa membantu mengenali dan memudahkan penanganan beberapa jenis kanker di fase awal.

Alhamdulillah, akhirnya draft ini jadi postingan juga [akhirnya]. Awalnya, memang  akan saya ikutsertakan GA-nya Mbak Indah Nuria:  #Kampanye #finishthefight #gopink #breastcancerawareness.  Yaitu kampanye tentang sadari [tanda-tanda] kanker Payudara tapi karena alesan ini, itu dan apalah-apalah lainnya sehingga finishingnya gak nutut  untuk diikutsertakan dalam lomba tersebut.Tapi teuteup Bismillahirrahmaanirrahiim penasaran untuk menyelesaikannya demi mengambil kesempatan dalam sounding gerakan SaDari Kanker Payudara. 

Seperti kita tahu bahwa Salah satu kunci untuk mengantisipasi [dini] kanker payudara adalah dengan mendeteksi dini indikasi-indikasi penyakit kanker payudara antara lain:  dapat berupa (adanya)benjolan di area payudara, timbulnya rasa nyeri pada payudara atau juga timbulnya benjolan pada bagian tubuh lain seperti di ketiak. Indikasi lain yang perlu diwasapadai adalah bila ada perubahan warna atau tekstur payudara, dan puting tertarik ke dalam. Tapi ada juga beberapa beberapa kasus, kanker payudara terdeteksi dari keluarnya cairan yang berwarna kekuningan, kehijauan, dan nanah dari puting susu.

Mengulik tentang SaDaRi Kanker Payudara, sekaligus sebagai kontemplasi bahwa SaDaRi Kanker Payudara ini lebih dari sekedar tindakan rutin untuk melakukan Pemeriksaan Payudara Sendiri guna mendeteksi secepat mungkin terhadap kemunculan tanda-tanda kanker payudara. Ada beberapa point strategis yang saya temukan dari Kontemplasi SaDaRi dan Kanker Payudara.

SADARI jika setiap orang memliki probablitas untuk terkena kanker payudara. Seperti prediksi yang telah dirilis oleh WHO bahwa jika habit/life style/pola hidup yang tidak berubah (baik), sekitar 20% pria akan terkena kanker (termasuk kanker payudara) sebelum umur 75 tahun di tahun 2030. 
Pola hidup sehat; cegah kanker
Bahan tambahan pangan yang berpotensi memicu kanker
Pertama kali saya tahu tentang penyakit kanker payudara saat masih SD. Seorang tetangga yang usianya antara 60-70 tahun menjalani mastektomi (pengangkatan payudara) karena ada benjolan di area payudaranya. Tapi tak sampai dua tahun beliau meninggal karena pasca operasi beberapa bulan kemudian muncul benjolan-benjolan baru dan bernanah. Iya sih, kala itu pengetahuan tentang kanker payudara masih minim sekali. Demikian juga yang dialami oleh ibu mertua kakak sulung saya, beliau juga meninggal setelah beberapa tahun menjalani mastektomi. 

Lepas dari soal ajal, toh maut memang PASTI terjadi, kemungkinan kanker payudara yang dialami dua orang tersebut sudah sangat terlambat untuk dilakukan tindakan pengobatan. Karena, saya juga mengenal orang-orang yang survive meskipun divonis kanker payudara. Ibu kandung teman kuliah saya yang berdomisili di Balikpapan dan salah satu mbakyu ipar saya adalah survivor kanker payudara. Dan kesamaan keduanya adalah deteksi dini kanker payudara dan tindakan cepat dan tepat untuk melakukan mastektomi begitu dinyatakan positif kanker payudara, Alhamdulillah hingga saat mereka survive dengan disiplin memperbaiki pola makan dan menjalani treatment secara berkala (sesuai jadwal yang diberikan oleh tim medis), semoga sehat selalu selamanya. Aamiin.

Dari empat orang yang saya kenal tersebut, tidak ada yang memiliki garis keturunan pernah mengidap kanker. Jadi saya SADARI bahwa habit/life style/pola hidup memiliki pengaruh significant sebagai pemicu munculnya sel-sel kanker payudara atau pun jenis kanker lainnya dan tak lagi menunggu usia 50an tahun baru muncul penyakit tersebut. Kakak ipar saya adalah salah satu perempuan yang melakukan SaDari kanker payudara dan menemukan tanda-tanda abnormal pada payudaranya di usia kepala tiga. 
“ Aku yakin, penyebabnya karena micin (MSG) karena saat kecil dulu aku terbilang sembrono, diam-diam “nyicipi” micin “. 
 “ kemungkinan besar karena pola makanku yang menyebabkan aku terkena kanker payudara,” demikian tutur [almarhumah] teman sekolah saya yang  juga di vonis kanker payudara.
life style; hidup sehat; rajin olah raga

SADARI bahwa anak yang lahir dari orang tua penderita kanker memang memiliki resiko menderita kanker lebih besar dibandingkan dengan mereka yang tidak carrier gen kanker. Mengutip sharing yang dipaparkan oleh aktris Holywood ANGELINA JOLIE: My Medical Choice.  Mbak Angelina memutuskan untuk melakukan mastektomi ganda karena dirinya adalah pembawa gen mutasi [ibunda Angelina Jolie meninggal karena kanker rahim] yang bisa meningkatkan resiko terkena kanker rahim dan kanker payudara. 
Mencuplik penjelasan Nyonya Brad Pitt : 
Tiap sel dalam tubuh manusia memiliki dua gen BRCA1 atau BRCA2, masing-masing berasal dari orangtua. Seorang anak yang telah membawa satu gen BRCA1 atau BRCA2 rusak dari salah satu orangtua dan gen satunya  sehat dari orangtua lainnya disebut pembawa gen BRCA rusak. Meskipun hanya satu gen BRCA1/BRCA2 yang sehat diperlukan untuk membantu mencegah pertumbuhan sel yang bersifat kanker, akan tetapi jika satu gen BRCA sehat yang tersisa tersebut mudah terkena kerusakan karena faktor-faktor lingkungan seperti polusi, radiasi, dan zat kimia lain (include dalam makanan-minuman). Makanya perempuan yang membawa gen BRCA1 atau BRCA2 yang rusak tersebut kemungkinan besar bisa menjadi penderita kanker dengan tingkat kemungkinan hingga 65%.

Saya tidak paham soal gen dan genetika, tapi dalam konteks sederhana dalam pemahaman saya, dengan pola hidup sehat dan seimbang yang dijalankan secara disiplin akan berkontribusi positif terhadap gen yang sehat agar terjaga kualitasnya [imunitas] agar mampu melawan efek tidak sehat dari Gen Mutasi. Dan Gen yang mengalami mutasi sebisa ditingkatkan kualitasnya sehingga seminimal mungkin untuk muncul menjadi resesif. 

SADARI meskipun menjadi carrier gen mutasi kanker BRCA1 atau BRCA2 yang meningkatkan resikonya terkena, tapi TIDAK 100%. Menjadi pewaris mutasi gen TIDAK berarti life is ended. Positif thinking merupakan start up untuk melihat dari sisi lain bahwa dengan mengetahui JIKA menjadi carrier gen mutasi merupakan motivasi yang kuat untuk melakukan preventive action dalam menjalani kehidupan secara lebih cermat, cerdas, dan  bijaksana:
  1. Pola makan seimbang, sehat dan meminimalkan konsumsi makanan yang mengandung MSG, pengawet, pewarna, berlemak dan zat additive (kimia) lainnya.
  2. Rajin dan rutin berolahraga, NO DrUG, No Smoking dan hindari jadi perokok pasin f (jaga jarak dari perokok aktif),  tidak minum-minuman yang beralkohol, dan habit tidak sehat lainnya harus dihindari totally.
  3. Sadari untuk Pemerikasaan Payudara Sendiri dan rutin medical checkup minimal setahun. Lha mobil/sepeda motor saja di bawa ke bengkel + 6 bulan sekali kan? Nah, apalagi tubuh kita kan? WAJIB lebih concern untuk melakukan medical check up tho? #HARUS SETUJU 
SADARI bilamana hasil pemerikasaan payudara sendiri ditemukan kelainan atau perubahan tertentu, harus sesegera mungkin dikonsultasikan dengan dokter. No matter what we found, sangat penting untuk berusaha tetap tenang dan berpikir positif.  Perubahan payudara yang ditemukan dari SADARI bisa disebabkan oleh banyak hal. Sekitar 10% dari ‘kelainan’ pada payudara bersifat kanker.  Dan masih banyak hal yang semakin saya sadari dari Kontemplasi SaDaRi dan Kanker Payudara ini.  

Dari sekian banyak hal yang saya SADARI dari Kontemplasi SaDaRi dan Kanker Payudara ini adalah saya sadar – sesadarnya akan “PR” untuk memberikan pengertian dan pemahaman pada anak-anak untuk selalu perduli melakukan preventive action dalam menjalani kehidupan dengan POLA HIDUP / life style yang lebih cermat, cerdas, dan  bijaksana. Selain karena kanker payudara bisa dialami oleh siapa saja  bilamana mereka abai terhadap pola hidup, tapi juga karena kemungkinan kalau tiga anak kami merupakan carrier gen mutasi dari almarhumah ibu kandungnya yang mengidap kanker payudara. Oleh sebab itu, saya perlu mencari moment yang tepat dan cara yang smooth agar mereka bisa menerima dengan baik dan logis. Lha kan jadi serba salah atau justru menimbulkan friksi jika maksud saya dalam rangka memberikan pemahaman tapi dianggap  menakut-nakuti.


Semoga mereka bisa memandang dari sisi yang obyektif bahwa mewarisi mutasi gen tidak berarti hidup jadi kelabu. 
Dengan mengetahui dan memahami fakta tersebut,  semoga dipersepsikan sebagai motivasi diri untuk bisa mengantisipasi dan memetakan life style yang sehat,  berkualitas secara lebih cermat dalam menjaga KESEHATAN dan menjalani kehidupan. 
Karena penyakit Kanker secara umum memiliki peluang BISA disembuhkan yang cukup besar selama terdeteksi sedini mungkin.





References:
http://www.cancer.org/cancer/cancercauses/geneticsandcancer/heredity-and-cancer
http://www.cancer.org/cancer/breastcancer/detailedguide/breast-cancer-detailed-guide-toc

[Sistem] Keuangan Stabil Berawal Dari Rumah

Banyak peristiwa yang berpotensi menyebabkan labilnya sistem keuangan, antara lain: laju inflasi dari waktu ke waktu, peristiwa-peristiwa yang terkait dunia politik, isu-isu global ( misalnya nilai mata uang asing terhadap rupiah, pasar bebas ASEAN/Asia-pasifik, dll), kebijakan pemerintah seperti kenaikan Pajak, TDL, dan kenaikan harga BBM yang membuat melambungnya harga barang-barang ekonomis. Bahkan pun ketika harga BBM “diturunkan”, harga barang kebutuhan pokok jelas-jelas sangat sulit untuk HLBK = HARGA LAMA BERLAKU KEMBALI.

Isu kenaikan BBM memang sudah berlalu, segenap masyarakat dengan segala daya upaya dan kreatifitas juga (sepertinya) berusaha nrimo untuk beradaptasi terhadap dampak yang terjadi akibat naiknya harga BBM yang sudah 3 kali kenaikan BBM di tahun 2015 ini. Sepertinya, hampir setiap tahun ada saja hal yang memicu kelabilan ekonomi kan?.  Bismillahirrahmaanirrahiim, yang namanya BERUSAHA BERADAPTASI tentunya pencapaian hasil tidak bisa sama, tidak semuanya sukses dalam usaha penyesuaian tersebut.  Yang jelas, selama kehidupan di dunia ini masih berlangsung maka kondisi LABIL EKONOMI tidak mungkin akan berada pada level ZERO.

Dan menemukan draft tulisan ini di dalam lapi, mengingatkan saya pada kondisi Labil Ekonomi ketika Peristiwa yang berlatar belakang gejolak politik di era 97/98. Ah, jadi ketahuan betapa ternyata saya termasuk generasi yang sudah lama meninggalkan masa puber deh.  Kondisi labilnya sistem ekonomi yang mengiringi lahirnya era reformasi di tahun 1998, tentu bukan peristiwa krismon pertama yang terjadi sejak saat saya dilahirkan. Tapi, situasi krismon saat penutupan era Orde Baru merupakan pertama yang saya rasakan dampaknya secara langsung. Tak hanya membaca berita atau sekedar mendengar cerita, karena saat itu saya adalah salah satu anak kost yang ikut galau dalam beradaptasi menghadapi krismon. Kalau toh kebetulan bisa beli makan di warung ya yang tipe SETEREO = sego tempe separoh,  selebihnya masak ala-ala bisa dimakan secara rame-rame dengan teman kost yang sederajat kegalauannya.

Masih sangat jelas terpeta dalam ingatan saya, kondisi politik yang membuat ‘pudarnya’ KEPERCAYAAN rakyat pada pemerintahan telah memporakporandakan sistem stabilitas keuangan. Semua harga barang berganti harga dengan dramatis, selain harganya menjadi sangat mahal, ketersediaan barang kebutuhan pokok: beras, gula, minyak, telur, terigu CS juga menjadi menjadi langka. Rentetan ledakan lainnya, aksi penjarahan massal, mogok kerja dan demonstrasi besar-besaran secara nasional.

Menghadapi Labil Ekonomi Tanpa Galau? Gak mungkin dong jika situasi ekonomi lagi pailit bin sulit tapi kita tidak baper dan gak galau. Maksudnya, galau sih galau tapi jangan sampai akut, apalagi sampai berjilid-jilid. Cukupkanlah seperti flash fiction kali ya?
Stabilitas Sistem Keuangan adalah Isu sepanjang masa #menurutsaya
Setiap peristiwa mengandung nilai pembelajaran, demikian pula dengan masa-masa labil ekonomi yang cukup pelik yang pernah dilalui oleh keluarga saya. Bagi saya pribadi, point penting yang kemudian saya imani untuk menjaga Kestabilan Keuangan adalah setting pada mind set dan sikap/tindakan preventif bilamana sewaktu-waktu terjadi (lagi) gelombang krisis moneter, antara lain: 
  • Hukum Konsumsi terhadap barang/jasa berdasarkan dalil : Kebutuhan dan kemampuan. Jadi, jika memang membutuhkan sesuatu dan mampu beli ya dibeli. Tapi meskipun membutuhkan tapi daya beli belum mendukung, artinya untuk sementara waktu kebutuhan tersebut dicarikan solusi alternatif. Kecuali jika kebutuhan tersebut sifatnya kritis dan significant.
  • HARUS lebih kecil pasak daripada tiang. Dogma yang ditanamkan ibu saya agar anak-anaknya pandai mengatur keuangan sehingga tidak besar pasak dari pada tiang [ pengeluaran TIDAK LEBIH besar dari pemasukan], saya terjemahkan sebisa mungkin agar tidak menyentuh level Income = Output. 
  • Anti Main stream, keluar dari pola dan kebiasaan [pada umumnya] masyarakat yaitu menmasukkan opsi saving secara rutin sebagai kebutuhan primer yang harus mendapatkan skala prioritas, karena saya tidak ingin terjebak dalam kisah klasik “ Maklum, tanggal tua kudu hemat ini, irit itu....bla..bla...”. Lha masak kalau tanggal muda boleh dan sah-sah saja untuk tidak irit/hemat?
Sekilas memang terlihat mudah untuk dilaksanakan, so far…it seem just fine to go through. Tapi perkembangan kebutuhan dan fakta hidup berkeluarga tidaklah sesederhana saat saya masih hidup melajang, tentu ketiga mind stream di atas perlu komitmen ekstra untuk mengaplikasikannya secara berkelanjutan. Situasi tersebut masih pula dilengkapi dengan status laju inflasi dari waktu ke waktu. 

Menstabilkan ekonomi (berawal) dari Rumah mengingat  keluarga sebagai bentukan masyarakat dalam skala terkecil  memiliki kontribusi besar dalam pembentukan ssitem perekonomian yang stabil. Unit terkecil masyarakat ini merupakan power people yang  utama untuk memulai, membiasakan, dan mewujudkan kebiasaan-kebiasaan yang mendukung ke arah stabilitas sistem keuangan.  Dan kebiasaan ini perlu ditanamkan pada anak-anak yang kelak akan menjadi pelaku aktif dalam dinamika sistem keuangan. 
Sudah saatnya, memberikan wacana pada semua anggota keluarga, anak-anak khususnya [mengingat tantangan life style yang cenderung menuju pada konsep fashionable dan hedonis] bahwa HIDUP HEMAT saja tidak cukup. Tapi juga tentang sehat daya pikir dan kreatifitas dalam mengelola keuangan. 
Tantangan di masa mendatang  dengan era perekonomian global, Saya yakin akan sangat dibutuhkan generasi dan SDM yang juga punya critical thoughts dalam segala aspek kehidupan, tak terkecuali juga dalam membangun financial freedom. Bukankah bangunan sistem keuangan yang stabil akan bisa terwujud manakala setiap personal bisa memposisikan status ekonominya pada motto FINANCIAL FREEDOM

Untuk itu pola pikir kreatif dalam mengelola keuangan wajib ditunjukkan pada anak sejak dini. Berikut ini aplikasi yang bisa diterapkan dalam rangka membangun Sistem Keuangan yang [menuju] Stabil dari Rumah: 
  1. Mencari sumber income alternative untuk meingkatkan penghasilan. Terlebih jika profesi kita [seperti saya contohnya] sebagai karyawan/pegawai dengan gaji bulanan tetap.  Padahal tingkat kebutuhan terus melaju seiring derap inflasi, tentunya hal ini akan berdampak krisis akut bilamana penghasilan yang menopang perekonomian keluarga hanya berasal dari gaji rutin semata. Hobi pun bisa jadi sumber penghasilan tambahan yang tidak bisa disepelekan lho potensinya? PEKERJAAN TERINDAH ADALAH HOBI YANG DIBAYAR !
  2. Manage pengeluaran berdasarkan skala prioritas dan mengacu pada main rule: belanja berdasarkan kebutuhan [ urgent] dan sesuai dengan kemampaun finansial [tidak sampai ngoyo kredit untuk membeli suatu jenis barang/benda yang sedang dibutuhkan ]. Salah satunya bisa dilakukan dengan cara menyimpan uang “cair” kita sebatas untuk pemenuhan kebutuhan primer-primer saja. 
  3. Berinvenstasi adalah kebutuhan primer. Dengan alokasi saving pada beragam instrumen investasi untuk menghindari resiko rugi yang mungkin terjadi. Don’t put your egss at the one basket. Maka silahkan buat diversifikasi terhadap bentuk investasi anda.
  4. Mengendalikan nafsu ‘lapar mata’ dengan cara “tutup mata dan telinga” terhadap trend fashion. Di sadari atau tidak, semakin sering kita meng-up to date perkembangan dunia fashion dan gadget, perlahan dan pasti akan terbersit keinginna untuk membeli/mengganti properti fashion dan atau gadget dan dengan sendirinya kita akan mulai mencari excusing untuk “mengadakan” barang-barang yang kita inginkan tersebut [yang belum tentu manfaatnya maksimal bagi kita]. Salah satu contohnya, saya akan ganti GADGET ketika gadget lama sudah tidak berfungsi lagi.
  5. Mengembangkan rencana jangka panjang. Sangat perlu disadari bahwa perjalanan hidup kita memerlukan pemenuhan beragam kebutuhan dan keinginan. Oleh karena itu, sejak dini kita perlu menetapkan grand design of our goals yang hendak kita wujudkan di sekian masa yang akan datang. Misalnya:  membeli rumah, biaya kuliah untuk anak-anak, back up keuangan untuk case force majeur [sakit, kecelakaan, bencana], persiapan jika memasuki masa pensiun [usia tidak produktif].
  6. Berkomitment TIDAK mengambil pinjaman [hutang] atau tidak menambah kuota pinjaman. Kalau memungkinkan, tetapkan target untuk hidup bebas hutang. 
  7. Selective menggunakan credit card dan tidak tergiur untuk melakukan apply multi credit card. Atau bisa juga ditanamkan, menggunakan credit card itu TIDAK KEREN. Karena banyak kasus pengeluaran yang membengkak terjadi akibat “khilaf” dalam menggunakan credit card. 
  8. Jadi konsumen institusi keuangan yang cerdas karena banyaknya telemarketing yang menawarkan produk-produk serupa investasi plus asuransi. Karena pemasaran tipe telemarketing tak jarang yang menggunakan jaring-jaring bahasa diplomatis. Misalnya, saat kita menerima telepon yang menawarkan suatu produk asuransi, karena kurang fokus dalam menyimak isi percakapan dan kemudian menjawa IYA, hal itu sudah direcord sebagai pernyataan kesediaan yang mengikat.   
IKRAR di atas hanyalah SEBAGIAN upaya-upaya yang bisa dilakukan dalam rangka memberikan edukasi dini sekaligus praktek nyata untuk menuju sistem keuangan yang stabil. Saya yakin masih banyak langkah-langkah cerdas lainnya  yang bisa kita lakukan, Jangan tunggu besok, jangan tunggu lusa. Ingatlah Sistem perekonomian yang stabil di  negara kita juga sangat tergantung dari sikap wise dari setiap unit keluarga . 

Jangan tunggu besok, jangan tunggu lusa, jangan tunggu gaji naik, jangan tunggu BBM naik lagi pula. Bersegeralah memacu diri menjadi orang-orang yang aware dan awake dalam membangun Sistem keuangan yang stabil yang di mulai dari rumah. Saya mulai bersama keluarga saya. Saya percaya anda juga bisa melakukan aksi-aksi sederhana bersama keluarga anda untuk sistem keuangan Indonesia yang lebih stabil, SEKARANG.

Sesi Narsis Teuteup gak boleh terlewatkan dong

#Noted: Aslinya tulisan ini oleh-oleh dari acara Sistem Stabilitas Keuangan (Kompasiana dan BI) tahun 2014. Sebagai orang yang tumpul dengan istilah-istilah dan ilmu ilmiah ekonomi, yang saya pahami hanya  fenomena ekonomi tetap memliki dinamika yang dinamis selalu kan?