Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Budidaya Ikan : Solusi untuk Musim Paceklik dan Over Fishing

Membaca tentang Petani Ikan di Yogyakarta Gunakan Panel Surya di VOA Indonesia pada 18-05-2012 yang berisi tentang Pemanfaatan sumber energi alternatif dengan panel surya, dilakukan sejumlah petani di Yogyakarta, untuk memanfaatkan sinar matahari menjadi sumber tenaga listrik bagi penggerak aerator. Dengan pdnemuan teknologi aerator diharapkan mampu mengurangi kematian bibit benih ikan dan dalam jangka panjang pemanfaatan panel surya akan membawa dampak positif dalam mengurangi ketergantungan atas listrik dari negara. Artinya, petani ikan pun akan bebas dari ketergantungan listrik terhadap pemerintah. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim saya tertarik untuk menggarisbawahi tentang petani ikan dan kontribusi penemuan panel surya tersebut untuk sektor perikanan.

Sebut saja kota/daerah Muncar yang mendapatkan predikat prestisius sebagai salah satu kota penghasil ikan terbesar di Indonesia. Yang paling menonjol dalam imaji saya kala SD adalah Muncar sebagai pendaratan ikan dari para nelaxan yang tangkapannya melimpah ruah. Dan saat sekira 10 tahun lalu saya berkesempatan menginjakkan kaki di bumi Blambangan tepatnya di Muncar [meski kesan pertama yang saya peroleh adalah betapa pencemarannya yang sudah di tingkat akut kala itu dan sampai sekarang], pemandangan yang terlihat memang membuat berdecak kagum. Di depan mata saya terpampang hasil tangkapan ikan yang melimpah ruah, bahkan kalau hanya untuk dimakan sendiri ikan bisa gratis. Konon katanya sampai pernah terbuang akibat daya tampung pengolahan ikan over loaded! Hal yang kontras dengan di daerah saya yang jauh dari sentra perikanan sehingga menu ikan merupakan lauk yang istmewa [jika tidak boleh dibilang exclusive] saat makan. Bisa makan dengan ikan asin saja sudah luar biasa, apalagi maka pindang atau beli ikan dalam kaleng [sarden]? 
Over fishing, Budidaya Ikan
Salah Satu Wajah Pantai yang tercemar
Saya juga terpesona oleh oleh taraf ekonomi masyarakatnya yang terlihat dengan dominasi pemandangan rumah-rumah yang dalam kaca mata saya termasuk rumah mewah. Bukan berarti golongan ekonomi lemah tidak ada, tapi populasinya tertutupi oleh banyaknya rumah-rumah penduduk yang masuk strata menengah ke atas. Sampai saya pernah bilang guyonan sama teman:  “jika tempat tinggalku dibawa ke Muncar bisa masuk dalam daftar penerima zakat neh?” Selain taraf ekonomi masyarakat Muncar yang mengagumkan, saya juga melihat betapa industri pengalengan ikan bertumbuh pesat karena pasokan bahan baku yang melimpah ruah tersebut. Juga industri skala rumah tangga seperti pemindangan, pembuatan ikan asin, pengolahan minyak ikan, petis dan berbagai produk sampingan [dari hasil pengolahan ikan] lainnya. Mengguritanya industri perikanan di Muncar tentu merupakan angin segar untuk menyerap tenaga kdrja sebanyak-banyaknya.  

Akan tetapi sepertinya saya harus mencubit diri beberapa kali, ketika mendengar berita tentang musim ‘paceklik’ yang sedang melanda masyarakat nelayan Muncar. Bukan sekedar kondisi paceklik rutin yang biasa disebut dengan istilah padangan yaitu saat bulan bersinar terang [biasanya berlangsung sekitar seminggu] yang berakibat menurunnya hasil tangkapan ikan sehingga saat padangan biasanya digunakan untuk memperbaiki alat tangkap daripada pergi ke laut malah over cost. Tapi paceklik yang saat ini terjadi adalah the worst Paceklik dalam sejarah [katanya para nelayan]. Sekarang adalah tahun ketiga Muncar menghadapi masa paceklik. Hasil tangkapan nelayan menurun drastis. Nyaris tidak membawa hasil tangkapan ikan menjadi hal pahit yang harus dihadapi hampir tiap hari oleh komunitas nelayan di Muncar.

Dan pemandangan di pelabuhan Muncar yang menyuguhkan banyaknya perahu/kapal penangkap ikan terparkir secara padat untuk jangka waktu lama merupakan hal jamak namun sekaligus ironis bagi daerah yang [pernah] menyandang predikat prestisus sebagai kota penghasil ikan terbesar di Indonesia. Secara singkatnya, nelayan dan semua yang terkait dengan aktifitas penangkapan ikan di laut menganggur total saat paceklik ini. Perahu dan  kapal yang tak terurus di bibir pantai adalah  hal ‘tragis’ apalagi kenyataan bahwa alat-alat penangkap ikan tersebut saat tidak terpakai pun membutuhkan biaya perawatan yang relatif banyak/mahal. 

Ketika saya berkesempatan bertemu langsung dengan para pelaku pengolahan ikan, fakta yang tak kalah dramatisnya, salah satu contohnya adalah pelaku pengolahan pindang: saat ini yang masih bisa beroperasi jumlahnya tak lebih dari 20 % dari 16 unit usaha pemindangan yang ada di wilayah Muncar, itu pun dengan kapasitas produksi yang juga drop drastis menjadi + 10%, yaitu sekitar 500 Kg. Bahkan meskipun kebijakan import membuka kran untuk mendatangkan bahan baku dari Luar negeri ternyata tidak memberikan pengaruh yang significant karena dari hasil yang sudah pernah di coba, nilai margin keuntungannya sangat tipis yaitu mendekati nilai Break Event point atau bahkan mungkin sama dengan BEP, itu pun dengan kondisi produk yang kualitasnya jauh lebih rendah jika dibandingkan menggunakan bahan baku lokal yang tingkat freshness-nya masih tinggi. Hal yang senada juga dialami  oleh industri pengalengan [jenis ikan pelagis kecil], selama terjadinya masa paceklik [3 tahun terakhir ini], kapasitas produksinya pun turun dengan tajam, bahkan beberapa pabrik ‘mati suri’ sampai jangka waktu tak tertentu. Untuk memproduksi permintaan pasar lokal saja mereka kesulitan bahan baku, apalagi memenuhi target ekspor seperti sebelum-sebelumya.

Bagi pengolah ikan [pabrik] yang modalnya dibawah rata-rata atau pas-pasan, maka dalam sebulan belum tentu ada kegiatan proses produksi. Sedangkan Pabrik yang tingkat capitalnya rata-rata, mereka masih mampu beroperasi secara random yaitu ketika sudah terkumpul hasil tangkapan nelayan yang memenuhi kuota untuk dilakukan proses produksi. Untuk kapasitas produksi 10 ton [yang menghasilkan produk jadi + 5,5 ton] sehari, dibutuhkan waktu sekitar 2 minggu untuk mendapatkan jumlah bahan baku yang memenuhi kapasitas produksinya. Bagi pabrik pengalengan yang memiliki dukungan finansial seattle, masih bisa berproses relatif lancar dengan mengandalkan bahan baku import. Dari 10 pabrik yang bergerak pada proses pengalengan ikan, saat ini yang masih berproduksi rutin tinggal satu pabrik yaitu dengan mengandalkan bahan baku import. Hal ini tentu merupakan fakta yang sangat ironis, dari wilayah penghasil Ikan terbesar berubah wajah jadi konsumen importir bahan baku ikan!


Dilema paceklik yang sangat mencekik bagi masyarakat nelayan di wilayah Muncar: pemasukan yang nihil sedangkan pengeluaran biaya perawatan kapal/alat tangkap ikan dan kebutuhan hidup sehari-hari harus dipenuhi secara rutin.  Sedangkan untuk menjual perahu atau kapal adalah hal yang tidak mungkin karena paceklik kali ini terjadi secara merata. Dampak yang lebih kronis adalah bagi nelayan yang berposisi sebagai buruh pada pemilik kapal atau perahu. Ibarat satu tepukan di permukaan air yang menimbulkan gelombang transversal dan longitudinal yang merambat luas, maka demikian juga paceklik yang terjadi di Muncar. Musim paceklik ikan yang berkepanjangan hingga menginjak tahun ketiga, maka satu demi satu isi rumah pun berpindah tempat, perhiasan anak-istri, perabot rumah tangga bahkan alat dapur pun bisa pindah tangan dengan sukses. Tak jarang, rumah yang tampak bagus pun tinggal bangunannya yang terlihat mentereng, sedangkan isinya sudah ganti kepemilikan. Maka jangan berburuk sangka dulu kalau ada orang yang menawari barang-barang komplementer dengan harga yang super sale karena bisa jadi barang-barang tersebut berasal dari warga Muncar. 

Lantas kemanakah para tenaga kerja produktifnya mengais nafkah demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari? Jumlah tenaga kerja yang terkena dampak musim paceklik ikan ini pun tentu tidak sedikit mengingat penyerapan tenaga kerja dari setiap pabrik secara rata-rata adalah 300-500 orang. Maka pergi Ke Bali atau bekerja ke kota besar lainnya sebagai buruh kasar atau bahkan berbondong-bondong menjadi TKI adalah pilihan yang terpaksa mereka lakukan. Grafik jumlah TKI yang berangkat ke luar negeri pun melonjak tinggi, demi sesuap nasi dan kesejahteraan hidup, harus dilakoni kehidupan tinggal jauh dari keluarga dan orang-orang yang di sayangi dengan menghadapi segala resiko bilateral yang mengancam dari berbagai aspek kehidupan. 

Kondisi Paceklik yang terjadi di Muncar merupakan sebuah pelajaran sekaligus tantangan jangka panjang bagi dunia perikanan untuk lebih intens mengembangkan sektor budidaya. Karena walaupun wilayah Indonesia 2/3-nya terdiri dari perairan yang luas dengan sumber kekayaan [ikan] alam yang berkategori renewable resources, tapi banyak aspek lain yang juga memberikan pengaruh simultan terhadap fluktuasi hasil penangkapan ikan akan mengarah pada fase ‘langka’ ikan. Tingkat sustainable ikan ada batas optimumnya, pada suatu saat sangat mungkin bisa terjadi jumlah ikan yang ada di perariran lepas akan mengalami penurunan akibat jumlah penangkapan yang melebihi daya kembang biak ikan itu sendiri. Fenomena yang terjadi di Muncar adalah akibat over fishing yang sudah berlangsung sangat lama dan menjadi lebih parah lagi oleh pencemaran lingkungan yang seperti saya bilang di atas bahwa tingkat pencemaran yang terjadi di Muncar sudah berada di atas batas akut, karena hampir semua unit pengolah ikan [skala kecil maupun industri] sebelumnya tidak ada yang dilengkapi dengan instalasi pengolahan limbah [IPAL]. Kondisi ini pastinya menjadi faktor yang berkontribusi besar terjadinya paceklik yang berkepanjangan saat ini.

Untuk memulihkan kondisi lingkungan [perairan] yang tercemar tentu dibutuhkan upaya sinergis dari semua lini/stakeholder dan membutuhkan jangka waktu yang tidak singkat. Tindakan recovery yang ditempuh dengan mewajibkan untuk membuat instalasi pengolah limbah bagi semua jenis industri/usaha yang menghasilkan limbah potensial sebagai pencemar lingkungan, tentu tidak serta merta bisa mengeliminasi masa paceklik ikan di Muncar, sedangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan dan perikanan harus secepatnya dipulihkan. 

Selain akibat over fishing dan pencemaran lingkungan di atas, jika ditelaah lebih jauh maka secara makro/nasional, perikanan di Indonesia tidak bisa [selamanya] hanya bertumpu pada hasil penangkapan. Sudah saatnya meng-adjust sektor budidaya untuk memperkuat [sekaligus meningkatkan] kapasitas produksi hasil perikanan. Maka hadirnya Inovasi aerator untuk budidaya ikan bisa menjadi alternatif yang comprehensive, tepat guna dan tepat waktu untuk menggiatkan sektor budidaya para nelayan. Pemanfaatan panel surya tentunya sangat menghemat pembiayaan karena tidak ada pengeluaran untuk listrik atau pun genset, sehingga selain  mengurangi kematian benih/bibit ikan yang dibudidayakan juga bisa menekan biaya produksi yang sangat significant. Jumlah benih yang mati bisa diminimalkan dan cukup mengandalkan tenaga surya merupakan faktor yang berkorelasi untuk memenuhi ketersediaan bahan baku di sektor industri perikanan karena peluang produksi perikanan dari sektor budidaya adalah:
  1. Spesies ikan yang lazim diolah adalah Udang, Nila, Bandeng, Patin, Lele, gurami dengan asumsi rendemen 60%
  2. Rumput Laut diolah (kering) dengan rendemen 12,5%
Dengan demikian kisah pilu dan tragis fenomena paceklik seperti yang melanda di Muncar semoga tidak perlu terulang lagi di masa-masa mendatang, juga tidak sampai terjadi di wilayah lain. Maka sangat masuk akal dan memenuhi kriteria kalkulasi akuntabilitas jika teknologi aerator panel surya sangat mendukung terhadap perkembangan sektor budidaya sehingga bisa mewujudkan industri perikanan yang berbasis pada:
1.      Berpihak pada masyarakat miskin (Pro poor)
2.      Pertumbuhan ekonomi (Pro growth)
3.      Penyerapan tenaga kerja (Pro Job)
4.      Pengembangan agroindustri/agrobisnis (Pro Bussines)
5.      Penanganan perubahan lingkungan (Pro sustainable)
6.   Pro Kesetaraan Gender karena industri Perikanan mampu menyerap tenaga kerja perempuan sebanyak 60-70% dalam proses produksinya.

Dengan output, out come dan impact tersebut diharapkan bisa mempengaruhi pembangunan ekonomi yang pro-rakyat dengan tujuan pembangunan yang diharapkan bisa meningkatkan produksi dan produktifitas perikanan dan kelautan yang berkelanjutan sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat nelayan dan pembudidaya ikan serta masyarakat pesisir lainnya karena potensi budidaya bisa meliputi: Tambak, Kolam, Karamba, Mina Padi, Sawah Tambak, Budidaya Laut. Dan sejatinya semua yang berperan dalam proses produksi hasil perikanan untuk menghasilkan komoditas ekspor yang kompetitif dalam free trade market yang berkembang saat ini merupakan Pahlawan Devisa tanpa harus menjadi TKI ke luar negeri. Dengan demikian membudayakan sektor budidaya ikan akan menjadikan nilai tambah produksi perikanan yang mampu menyerap tenaga kerja dan membuka kesempatan berusaha yang lebih luas.


Menuliskan tentang laut dan perikanan, membangkitkan kenangan akan sebuah semasa saya masih kanak-kanak yang berjudul: Nenek Moyangku yang mengisahkan tentang betapa hebatnya seorang Pelaut:
Nenek moyangku orang pelaut
Gemar mengarung luas samudera
Menerjang ombak tiada takut
Menempuh badai sudah biasa                

Angin bertiup layar terkembang
Ombak berdebur di tepi pantai
Pemuda b’rani bangkit sekarang
Ke laut kita beramai-ramai

Meresapi tiap bait lagu karya Ibu Sud tersebut memberikan romansa yang luar biasa tentang keberanian dan ketangguhan para nenek moyang kita yang menjelajah samudera sebagai pelaut dan membukukan sejarah bahwa Indonesia adalah negara Maritim yang besar. Dan semoga berabad-abad tahun ke depan Indonesia tetap bisa berkibar sebagai negara Maritim yang tangguh, bukan sebatas memorabilia dalam b`it-bait lagu ataupun catatan tinta sejarah belaka.




Notes: Alhamdulillah juara kedua di  http://www.voaindonesia.com/section/voa_blogging_contest/2173.html





Spektrum Ramadhan

Membaca sebuah kolom dari media cetak nasional yang mengulas pokok bahasan: Pertobatan  Kolektif berjudul Ramadhan, softly but deeply membuat saya ‘tersindir’. Awalnya saya tak begitu aware dengan kolom yang disajikan secara terjadwal itu, tapi setelah beberapa kali seorang teman bercerita kalau ulasanya menarik dan membumi dengan bahasanya yang ringan, saya pun jadi tergoda untuk mengikuti hadirnya kolom tersebut. Bagi yang setiap hari rajin mengawali hari-harinya dengan membolak-balik halaman koran Jawa Pos, tentu sudah tak asing lagi dengan nama Kika Dhersy Putri. Dan untuk tema yang diberi judul: Pertobatan  Kolektif berjudul Ramadhan, saya tertarik untuk mendokumentasikannya dalam versi resume di blog sebagai pengingat untuk diri saya sendiri. Alhamdulillah jika bisa jadi wacana bagi yang belum membaca ulasan pada rubrik tersebut dan Bismillahirrahmaanirrahiim inilah versi singkatnya dan semoga tidak mengurangi keutuhan makna dari ulasan versi lengkapnya:
------------------------------------------------------------------

Terlepas bagaimana kesehariannya, pada Ramadhan semua orang punya alasan yang tepat untuk bertobat dan berusaha jadi lebih baik: untuk menjaga ibadahnya, lidahnya, matanya, hatinya serta berusaha lebih baik dari pada hari-hari lainnya atau bulan-bulan sebelumnya. Karena dikerjakan secara kolektif, semuanya jadi lebih mudah dengan konsepnya: sama rata sama rasa. Lapar sama lapar, sabar sama sabar, baik sama baik dilakukan secara ‘berjamaah’, baiknya adalah semua orang jadi saling menjaga atau minimal saling merasa sungkan untuk tidak melanggar aturan.

Tapi sayangnya, hal tersebut [seringnya] temporer, kadang [tanpa disadari atau sengaja] menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan pencitraan sekaligus bulan pamer. Bercitra paling beriman, bertaqwa, paling beramal. Berbagai usaha berbuat baik tersebut, muncul satu pertanyaan: Apakah saya ingin jadi baik karena memang ingin atau karena tergoda oleh iming-iming hadiah dari Allah SWT? Ibarat game, Ramadhan adalah game [berlomba berbuat baik] dengan peserta terbanyak untuk mengumpulkan poin yang paling banyak. Sebagai bulan penuh keutamaan, pada Ramadhan memang ditawarkan promo pahala, poin-poinya dilipatgandakan beratus kali.


Apakah manusia sejatinya memang pamrih dalam bertindak dan berbuat? Jika dan seandainya sebulan penuh diwajibkan puasa tanpa iming-iming pahala apakah masih tekun dan menjalaninya dengan sepenuh hati?  Bagaimana jika surga dan neraka ternyata tidak ada, apakah masih akan tetap beribadah dengan ikhlas dan tanpa pamrih? Jika Ramadhan berlangsung 12 bulan, akankah manusia-manusia menjadi lebih baik? Akankah kita berperilaku seistimewa pada Ramadhan? Mungkin karena Ramadhan hanya berlangsung 30 hari, kita berusaha menguat-nguatkan diri untuk mencapai tingkat tertinggi. Paling tidak, bisa saja terbersit sekilas dalam hati, “ udahlah, nggak papa kan Cuma 30 hari, masakh nggak bisa jaga perilaku ?” Jadi, seolah-olah selepas bulan ini, kita siap dengen serentetan balas dendam.

Kalau benar manusia berbuat baik karena bulannya, Tidak karena hatinya, saya sendiri harus mulai mengasihani diri sendiri. Semestinya sih, Ramadhan bisa jadi bulan  training intensif, bulan latihan. Semua kebaikan dan kemudahannya seharusnya diaplikasikan pada bulan-bulan lainnya di luar Ramadhan. Tetapi kenapa kita masih sering “hangat-hangat tahi ayam?” Kita hanya baik pada Ramadhan dan mungkin beberapa hari sesudahnya. Selanjutnya, sama saja seperti sebelumnya [yang kurang baik], mengentengkan dosa dan memenangkan nafsu. Kenapa oh kenapa? Maka senyampang dalam Ramadhan, mari bertekad sepenuh hati jadi orang lebih baik, berusaha memudahkan diri sendiri dan memfasilitasi agar orang-orang yang kita sayangi bisa jadi pribadi yang lebih baik. Semoga masih diizinkan jadi lebih baik tanpa menghakimi dan tanpa menjadi hipokrit.....[Jawa Pos, Rubrik Halau Galau] 
------------------------------------------------------------------------------------


Keep on fire in Ramadhan...semoga suksesnya pencapaian ibadah di bulan Ramadhan akan menjadi spektrum yang membias dalam keseharian kita selanjutnya...







My Topsy Kretts

Semoga belum terlalu terlambat jika PR Topsy Krettss yang dimandatkan oleh Puteri Cahaya Nurmayanti Zain baru saya kerjakan sekarang. Memilih dan memilah 5 hal/barang pribadi yang bisa dikategorikan Top Secret dan yang namanya topsykrit harusnya tersimpan rapi dalam brankas dan tidak dipublikasikan. Tapi demi amanah dan mandat dari Puteri Cahaya maka saya relakan untuk membongkar brankas yang di gembok rangkap tujuh dan kuncinya disimpan dalam kotak deposit dititipkan ke FBI dan CIA. Hedeww aseli super lebay eksponensial neh. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim agar tidak semakin ngglambyar nulisnya, inilah My Topsy Kretts: barang komplementer yang mempunyai fungsi dan peranan yang significant karena jika ketinggalan bisa bikin saya pusing keliling lapangan deh. Dan inilah My Topsy kretts [urutan TIDAK menandakan tingkat urgensinya karena semuanya penting buat saya]
1.       Kantong ajaib
Kenapa saya bilang ajaib? Karena di dalam kantong inilah saya menaruh aneka rupa gadget supporter yang saya butuhkan jika sedang bepergian. Agar tidak tercecer dan tentu saja biar mudah, maka Charger netbook, Mouse, Modem stick, kaca mata minus dan Charger HP saya masukkan jadi satu dalam antong ajaib yang berwarna pink [orange?]. Dan ajaibnya lagi, kantong ini memuat juga Dompet keramat kecil berwarna pink yang lumayan juga daya tampungnya, bisa saya isi 5 USB dan 1 card reader.
2.       Netbook
Teman-teman saya bilang kalau saya kedonyan karena kemana-mana saya bawa netbook, bahkan taraweh pun saya bawa lho? Tapi ada behind story kenapa saya jadi sedemikian paranoid. Beberapa tahun lalu, ketika laptop tidak saya bawa kerja [rasanya ribet kalau tiap hari bawa laptop karena di kantor sudah tersedia PC lebih dari cukup], ternyata ada yang ‘tamu tak diundang’ yang sukses masuk ke rumah dan ‘memindahkan’ barang-barang yang ada dirumah, dimana salah satunya dan yang paling membuat saya shock adalah Laptop ‘pindah’ tempat dengan sukses. Akhirnya ketika tabungan sudah mencukupi lagi, saya memutuskan untuk membeli netbook agar compatible untuk dibawa kemana-mana terutama jika sedang bepergian/mudik maka netbook dijamin akan menempati daftar urutan pertama.
Very-very limited edition !
3.       Pocket camera
Camdig warna pink ini gadget yang mendukung banget dan menyemangati buat rajin ngeblog. 

Ketemu apa saja dan dimana saja yang sekiranya menarik ya di jepret-jepret dan suatu saat dibuat feature postingan jika temanya senada dengan salah satu koleksi foto.
4.       Obat Maag
Sebagai orang yang sedikit bermasalah dengan maag [Alhamdulillah bukan maag kronis karena meskipun puasa maag saya tetap bisa diajak kompromi dengan excellent], maka saya harus siap sedia dengan obat yang satu ini. 

Karena maag saya bisa saja bergejolak manakala di bis baunya gak ramah atau apalagi jika aroma parfum  bercampur dengan sisa pembakaran bensin/solar.
5.       Botol Air mineral
    Botol ukuran jumbo ini, hampir setiap hari akan setia di meja kerja saya [kecuali saat saya puasa]. Maksud dan tujuannya adalah agar saya disiplin minum air putih sesuai kebutuhan. Ini tip dan trik yang cukup jitu sehingga saya terbiasa untuk minum air mineral sekira + 2 Liter selama di kantor.
   
Nah, itulah My Topsy Kretts. Apakah anda punya topsy kretts juga kan? Boleh dunk di share biar gak berdebu dalam brankas baja di rumah.

Oia, dengan ini saya juga menyampaikan permohonan maaf untuk semua sahabat yang [barangkali] pernah menyapa akun FB saya tapi ‘no respon’. Sebagai sekilas informasi, saya menggunakan FB dengan setting invisible karena durasi Online saya tidak banyak di FB, yaitu ketika di kantor sesekali saya login ke FB untuk melhat ada up date informasi apa dan memang menyempatkan sesekali comment jika ada up date status yang bisa saya nimbrungi. Dan bisa dibilang saya lebih banyak menjadi silent reader karena manakala online menggunakan modem di rumah pun sering mengalami loading yang super lemot untuk masuk ke FB.


Jadi diluar saya sendiri yang ON line, saya tidak tahu apakah ada the invisible person [hacker] yang menggunakan akun FB saya. Karena beberapa kali saya melihat ‘keanehan’ denganFB, antara lain: ada new friend yang jelas-jelas saya tidak confirm atas requestnya, join grup yang saya tidak pernah men-ACC untuk bergabung, dan beberapa On line shop yang juga saya tidak LIKE sebelumnya.

Singkatnya, jika ada pesan yang masuk di Inbox insyaAllah saya balas dan kalau ada yang mention biasanya saya buka mention yang masuk di notifikasi. Jadi saya pribadi sebagai user akun Quinza Kinanthi  tidak sedikit pun terbersit niat untuk mengabaikan sapaan teman-teman di FB. Bagi saya, banyak teman artinya tambah saudara yang membuat hidup lebih hidup dan semoga saya bisa menjadi teman yang baik [meskipun saya sangat sadar bukanlah teman terbaik].




Kaca Mata Firmoo

Aktifitas Blogwalking selain untuk menambah dan mengakrabkan persahabatan di blogsphere, juga merupakan fasilitas membaca diperpustakaan yang beroperasi 24jam tanpa terkendala oleh ruang dan waktu. Bismillahirrahmaanirrahiim benefit efect lainnya, mendapatkan informasi untuk mengikuti event-event yang diselenggarakan secara on line dan salah satunya adalah event dari Firmoo.com sebagai toko kacamata online yang sedang mengadakan promosi besar - besaran diperuntukkan para blogger. Setiap blog memiliki kesempatan mendapatkan 1pasang kacamata gratis dari http://www.firmoo.com melalui beberapa usaha dan perjuangan bersimbah peluh dan cucuran keringat.  Berikut ini kurang lebih isi sayembara yang digelar oleh Firmoo:

Are you a blogger? We send you FREE glasses or sunglasses, You write a one-sentence review for us.
Contact me at
 liwenjie@yahoo.com

If you are a blogger, and we will send you a pair of sunglasses (both regular or prescription) or eyeglasses (also both plano or prescription) , we will pay all the expenses including the shipping.
As an exchange, we are sincerely asking for your favor to write review of our FREE glasses. The review can be in one simple sentence, no need to be fantastic article.
If you need some kind of vision correction, i.e. you are near-sighted or far-sighted, please obtain your prescription from your eye doctor and then scan the copy to us. If you do not need any vision correction, then you can choose plano glasses or regular sunglasses.
Please you may choose your plano glasses or prescription eyeglasses at
http://www.firmoo.com/

And you can also choose your regular sunglasses or prescription (RX) sunglasses at :
http://www.firmoo.com/wrap-around-rx-sunglasses.html
Thanks ahead for spreading the mouth for us!
If you have further questions, please send me email at: liwenjie@yahoo.com

Gaya dengan Kaca Mata Firmoo di Dieng
Setelah membaca postingan dari http://kakve-santi.blogspot.com/, kemudian saya mengirimkan email singkat [tentunya saya mencantumkan referensi dari postingan kavke-santi karena memang dari postingan dia saya tahu tentang informasi tersebut] yang berisi proposal untuk bisa mendapatkan paket kaca mata dari promo yang sedang diselenggarakan oleh Firmoo. Email yang saya kirimkan hanya berisi + 150 kata dan dalam 12 jam sudah mendapat tanggapan yang isinya menyatakan blog Kidung Kinanthi memenuhi kriteria untuk mendapatkan 1pasang sunglasses dengan syarat:
  1. Memasang alamat firmoo.com pada pada side bar blogg dengan anchor text “ RX Eyeglasses” yang diberi link ke http://www.firmoo.com
  2. Silahkan pilih jenis kaca mata yang diinginkan dari koleksi yang ada firmoo, sertakan juga surat keterangan dari dokter jika yang dipilih adalah kaca mata minus yang menginformasikan tentang detail kondisi mata kita.
  3. Dan jangan lupa cantumkan alamat yang lengkap untuk proses pengirimannya.
Dalam isi email sebutkan nilai lebih blog yang hendak diajukan ke firmoo untuk di review: Page Rank, Alexa, Page views dan lampirkan file data statistiknya juga untuk memperkuat narasi yang kita sampaikan. Jika firmoo menyatakan blog kita layak untuk mendapatkan kaca mata, perkiraan waktu pengiriman yang dijanjikan adalah 15-25 hari. Tapi kenyataannya kaca mata saya datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Tanggal 9 Juli 2012 saya mengirimkan email yang berisi pilihan jenis kaca mata beserta alamat dan tanggal 18 Juli 2012 sebuah paket manis berisi 1 pasang regular sunglasses sudah diterima oleh front office. 

“ Paket apa lagi Mbak?” tanya salah satu teman.
“ Dilihat dari kemasannya sey kaca mata...”
“ Dapat hadiah lagi? Emang ikutan lomba apa kok hadiahnya kaca mata..?”
“ Gak ikut lomba kok, hanya ngirim blog untuk di review oleh empunya kaca mata ini”
“ Wah, kalau blogku bisa juga dunk dapat kaca mata keren gini?”
“ Yang mau disampaikan ke sana apa tentang blogmu? Lha isinya belum ada gitu lho?”
“ Masih bingung mau diisi postingan apa soale...”
“ YA isi saja kue, kolak, juz, kurma...laris tuh sekarang....”

Perlu dicermati, dalam email balasan dari firmoo memang hanya mereferensikan pilihan pada jenis sunglasses dengan memberikan link http://www.firmoo.com/wrap-around-rx-sunglasses.html. Tapi kita bisa memilih salah satu dari semua jenis kaca mata yang ada di Firmoo.com. Jadi  kalau memang lebih menginginkan kaca mata baca, tidak masalah jika kita tidak memilih regular sunglasses yang ditawarkan dan silahkan lampirkan hasil medical check up yang berisi data detail ukuran kacamata yang pas untuk memudahkan pihak Firmoo menyediakan kacamata yang anda butuhkan [minus, plus, atau silinder]. Dan karena waktu itu saya tidak tahu akan hal tersebut, maka saya pun dengan lugunya memilih dari jenis regular sunglasses. 

Nah bagi yang tertarik untuk mendapatkan kaca mata dari Firmoo, semoga berkenan mencantumkan URL postingan ini di email, setidaknya agar bisa jadi pemberitahuan riil kalau saya sudah membuat postingan publikasi setelah menerima kaca matanya.  

Pemenang Kata dalam Puisi

Prolog: Mohon maaf atas ‘kemunduran’ pengumuman pemenang event Giveaway Kidung Kinanthi Kata dalam Puisi. Membuat event GA merupakan hal yang baru bagi saya, jadi mohon maaf jika masih banyak terdapat prosedur yang membingungkan. Juga mohon maaf karena pengumuman pemenangnya molor dari jadwal.

Membaca, menyimak dan meresapi semua entry dari peserta kata dalam puisi yang memiliki pesona sungguh memikat hati sehingga membuat saya bingung untuk memilih 3 peserta yang berhak mendapatkan cinderamata. Bismillahirrahmaanirrahiim inginnya semua saya berikan cinderamata karena masing-masing memiliki daya magis dalam setiap rangkaian kalimatnya. Namun karena cinderamatanya terbatas dan untuk menjamin obyektifitas siapa peserta yang terpilih untuk mendapatkan cinderamata maka saya pun nekad mengundang dua juri Indonesian Idol yang sudah tidak asing lagi di blogsphere untuk memilih 3 peserta secara independent. Alhamdulillah dua juri tersebut akhirnya berkenan menerima job gratis tersebut, padahal jadwal dan appointment mereka sudah full booking sampai Hari Raya nanti. Dua juri yang recomended tersebut adalah Miss Una yang cantik sang duta kopdar tingkat nasional dan Mas Stupid Monkey yang punya 'istana' di rimba dan gunung [dilarang protes lho yaaaaa...?!]

Setelah kedua juri tersebut begadang berhari-hari, tidak sempat makan air dan kurang minum nasi serta melalui perdebatan sengit #hehehehe...asli bo’ong, akhirnya dicapailah kesepakatan final siapa saja peserta terpilih dari 26 pendaftar yang sudah mendapatkan pengesahan TERDAFTAR. Meskipun banyak peserta yang menulis sangat antusias sehingga melebihi 200 kata, namun demikian para juri tersebut lebih melihat dan mempertimbangkan dari content-nya sehingga ketika ada peserta yang terpilih ternyata jumlah katanya melebihi batas maksimal yang ditentukan tetap diberikan toleransi [selama masih dalam range batas atas dan bawah, maka kelebihan kata tersebut bisa diabaikan]. Dan inilah urutan peserta terpilih tersebut:
  1. Mbak Evi Indrawanto dengan judul postingan: Perlukah Cinta dijelaskan
  2. Mbak Chika Rei dengan judul postingan: Untuk rindu yang tak terdengarkan
  3. Mbak Ila Rizky dengan judul postingan:Review puisi ririe khayan
  4. Mbak Keke dengan judul Postingan: Bahagia akan bertunas
  5. Mbak Dewanti dengan judul postingan: Review puisi ririe khayan giveaway
Alhamdulillah jumlah penerima cinderamata jadi bertambah dari rencana awal, ini hasil keputusan combine berdasarkan asas demokratis. Untuk 3 nama pertama, aturannya tetap berlaku seperti sebelumnya, yaitu: 
  1. Mbak Evi silahkan memilih terlebih dahulu dari tiga jenis merchandise [buku Narsis Unlimited dan Dalam Genggaman Tangan Tuhan serta 1 buah CD Film dengan judul A House Devided ]
  2. Kemudian Mbak Chika berhak memilih dari dua merchandise
  3. Mbak Ila cukup mengirimkan alamat pengirimannya ya?
  4. Untuk Mbak Keke mendapatkan doorprize: 8 Hari di negeri Paman Ho
  5. Mbak Dewanti berhak untuk door prize: Mengejar Anggun.
Demikian  hasil Pemenang kata dalam puisi, from the bottom of my heart Honestly, I do appreciate for all...sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan rilis pengumuman ini. Untuk nama-nama yag tertera di atas, Silahkan kirim alamatnya ke ririekinanthi8p@gmail.com



Selamat menyambut & menunaikan Ibadah dibulan Ramadhan,
mohon maaf lahir dan bathin.
Semoga kita bisa meraih derajat Ahsani Taqwim, Amiinn.





Note: Gambar pinjam dari materi traning motivasi diri

Perpustakaan Keliling

Apa dan bagaimana perpustakaan keliling, tentu bagi para lalu lintas di blogsphere sudah pada tahu dan sangat paham.  Dan Bismilllahirrahmaanirrahiim  saya sendiri baru sekali mengunjungi perpustakaan keliling tersebut, itupun terjadi [ bisa dibilang ] secara kebetulan. Seperti biasa kalau day off dan tidak punya acara tertentu [tidak mudik], artinya seharian saya akan ‘libur’ juga dari aktifitas di luar rumah...keluar kalau ada keperluan dan secukupnya, apalagi kalau sang mentari bersinar dengan cerah ceria maka artinya bakal makin betah saya diam di rumah. Biasanya selepas Ashar saya akan keluar untuk beli something to eat...beli makan pokoknya. Dan minggu lalu saya sengaja gak langsung menuju lokasi makanan, sengaja mengambil jalur memutar untuk melihat-lihat keramaian suasana jelang malam minggu.

Saat melintas di taman bermain yang berlokasi di depan Mesjid Baiturahman dan gak jauh dari lokasi pasar besar-nya Banyuwangi serta sebuah mall yang sudah ganti nama lagi jadi Borobudur, saya tertarik dengan adanya dua unit mobil bertuliskan Perpustakaan Keliling parkir di pinggir taman bermain yang sudah mulai ramai oleh beragam usia pengunjung, mulai anak-anak, remaja dan para orang tua. Maka saya pun menepikan motor dan menghampiri unit mobil yang memajangkan rak-rak buku dan ikut menuliskan nama pada buku pengunjung sambil SKSD ~ sok kenal sok dekat dengan Bapak petugas perpustakaan.

Kalau pinjam bukunya gak bisa dibawa pulang ya pak?”
Iya Mbak, hanya untuk dibaca-baca di sini. Kalau tertarik mau pinjam dibawa pulang, Mbak-nya silahkan daftar saja ke kantor perpustkaan daerah. Jadi nanti akan diberikan kartu untuk pinjam buku dalam jangka waktu tertentu..” jawab si bapak sambil menyebutkan alamat kantor perpustakaan daerah tersebut dan Alhamdulillah saya pernah lewat di depannya. #Plakkkk..
Kalau IDnya bukan orang sini apa bisa Pak?
Kalau Mbak kerja di sini, bisa menggunakan surat keterangan dari kantornya kok untuk mendapatkan kartu keanggotaan perpusda....”
Kayaknya perpustakaan keliling ini masih baru ya Pak?”
Enggak kok Mbak, sudah mulai sekitar triwulan terakhir 2011.....” dan menurut penjelasan si Bapak petugas ternyata setiap hari perpustakan keliling stand by di taman bermain mulai jam 3 sore sampai jam 9 malam. Kalau hari minggu pagi [sejak adanya program car freeday] perpustakaan keliling juga disediakan di depan kantor PemKab. 

Hemmm....sepertinya memang saya yang jarang berkeliling menjelajah ‘peradaban’ di kota Banyuwangi ini deh. Sambil berbincang-bincang, saya pun sesekali mengambil buku dari tempatnya, membuka-bukanya sekilas dan mengembalikannnya lagi. Beberapa anak kecil dengan antusias mengambil buku-buku bacaan yang bergambar, gak ada lima menit sudah dikembalikan dan ditukar dengan buku lainnya.

Dari pengamatan sebentar tersebut, rasanya kok ada yang kurang pas antara tujuan diadakannya perpustakaan keliling tersebut dengan komunitas yang diharapkan akan berminat meminjam dan membaca-baca buku yang disediakan dalam 2 unit mobil perpustakaan keliling tersebut. Hemm yang kurang pas adalah, koleksi buku yang di sediakan [yang menurut saya] didominasi buku-buku yang ‘berat/serius’ semacam buku referensi ilmiah. Ada juga hand book yang biasanya di tersedia di perpustakaan kampus, ada juga novel fiksinya yang berbahasa Inggris. Padahal kalau dilihat dari lokasi dan keberagaman pengunjung di taman bermain tersebut, tentunya mereka sedang spending time dan enjoy menikmati kebersamaan dengan keluarganya [ada yang sama pacarnya]. Jadi besar kemungkinan jenis bacaan yang akan diminati tentu yang ringan, menghibur dan gak bikin mikir.

 Toh, salah satu maksud/tujuan perpustakaan keliling adalah untuk menarik minat baca, jadi akan lebih tepat sasaran JIKA disediakan buku-buku yang membuat peminjamnya interest membaca secara berkelanjutan sehingga akhirnya bisa terbentuk good habbit membaca buku dari jenis lainnya.


Apalagi yang namanya taman bermain, tentu banyak fasilitas permainan yang menggoda untuk dinikmati, bersaing dengan keberadaan perpustakaan keliling tersebut. Belum lagi wisata kulinernya yang beragam dengan harga yang bersahabat. Setelah durasi sekitar 30 menit, kumandang tarhim pun nyaring terdengar dari speaker mesjid di seberang, artinya saya harus segera check out dari situ dan segera menuju target: beli makan dan langsung pulang menikmati malam minggu ditemani radio dan netbook kesayangan....oia, ada oleh-oleh yang saya dapatkan yaitu brosur dimana tertera kalimat yang sangat impressif dan provokatif tentunya [menurut saya]:

Siapa gemar membaca, dia akan mendapat INFORMASI
Siapa yang punya INFORMASI, dia akan memiliki PENGETAHUAN
Siapa yany punya INFORMASI, dia akan menguasai TEKNOLOGI
Dan...
Siapa yang menguasai INFORMASI, PENGETAHUAN dan TEKNOLOGI, bersiaplah untuk menjadi RAJA DUNIA

Nah, sudah berapa kali-kah Anda mengunjungi perpustakaan keliling ? Ataukah lebih memilih berlama-lama di toko buku saja?

Off Line to On Line System

Adanya kegiatan di kehidupan nyata yang volumenya butuh waktu dan perhatian yang ekstra dari biasanya merupakan salah satu alasan ketika sobat blogger memilih hiatus atau Off line untuk jangka waktu tertentu. Dan beberapa waktu lalu, saya juga sempat memasang status tentang kegiatan Off line yang membuat saya tidak bisa leluasa berselancar di blogsphere sehingga tidak bisa langsung meng-up date peserta Giveaway Kata dalam Puisi. Dan Bismilllahirrahmaanirrahiim  kegiatan Off Line yang berlangsung beberapa waktu lalu adalah dalam rangka implementasi formula pelayanan jasa [out put di tempat kerja saya] dari bentuk Off line to ON Line System. Acara sosialisasi yang dijadwalkan berlangsung full day selama dua hari [sebelum launching program on line] untuk para customer menggunakan ruang staf untuk para analis yang disulap menjadi ruang meeting. Dan kuota undangan yang hanya satu operator, rata-rata pihak perusahaan minta tambahan kuota dengan alasan agar penguasaan materi lebih maksimal.


Dalam rangka peningkatan pelayanan prima, sebenarnya memang by the time didesain alur yang efesien dan efektif. Sekira empat tahun lalu, dimulai dengan One day service yaitu pemberian pelayanan jasa yang berbasis In process Inspection dimana setiap customer harus reliable dalam menjaga komitment penerapan sistem mutu mulai awal hingga end process di unitnya masing-masing jika ingin dalam sehari document legalnya bisa di release. Seiring berjalannya waktu dan kerjasama yang sinergis, maka One day service pun mengalami pengembangan menuju basis “As fast as yours speed and you need for “  dan untuk aplikasinya di unit tempat kerja saya, secara bertahap dijadwalkan sejak pertengahan Juni lalu.

Hasil 'sulap'  ruangan kerja
Program On line ini lebih di kenal dengan nama SOLFEC ( “System On-line Fisheries Export Certifications”, atau untuk pengembangan skala nasiona AKAN disebut “Smart On-line Fisheries Export Certifications”) adalah sebuah model aplikasi elektronik atau sebuah model perangkat lunak operasional sertifikasi ekspor hasil perikanan (Health Certificate) secara on-line yang berbasis web/jaringan. Perangkat lunak ini digagas dan dikembangkan untuk mendukung dan mengembangkan pelayanan prima penerbitan sertifikat ekspor hasil perikanan (Health Certificate) oleh LPPMHP (Laboratorium Pengendalian dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan) yang selaras dengan tuntutan pelayanan dan perkembangan tataniaga internasional hasil perikanan saat ini, yakni era “excellent services“. SOLFEC didesain dapat dioperasionalkan oleh siapapun yang kompeten dan dimanapun, karena itu syarat WAJIBnya adalah pihak perusahaan sebagai customer yang nantinya berperan aktif HARUS menyediakan SDM yang capable dan skilled untuk mengoperasikan computer yang integrated pada jaringan internet.

Dengan memanfaatkan SOLFEC ini diharapkan pelayanan sertifikasi akan lebih profesional, Up to date, cepat, akurat, mudah dan murah. Disamping itu data yang ada akan dapat lebih digdaya dan dihasilgunakan untuk diolah, dikelola maupun di-sharing-kan secara life (on-time dan on-line). Program Solfec sudah dapat digunakan secara full option pada tanggal 1 Juli 2011, tentu saja melalu serangkaian trial-eror dan beberapa pilot project dari customer yang capable dari faktor SDM dan piranti pendukung untuk On line.

Serius, semanagt & antusias meski ada yang lapie-nya no wifi
Manfaat aplikasi Solfec terhadap ekspor hasil perikananan diharapkan akan lebih :
  1. CEPAT. Proses sertifikasi akan lebih cepat, ini dimungkinkan karena dengan solfec dapat diminimalkan pekerjaan duplikasi, pekerjaan bersyarat, pengantaran dokumen, dll. (pengurangan waktu sertifikasi ditargetkan dari rata-rata harian menjadi kurang dari 1 hari). Dari istilah “one day  services” menuju“As fast as your speed and you need for” Kemampuan sertifikasi oleh LPPMHP meningkat. UPI bisa lebih banyak ekspor persatuan waktu. Dengan kecepatan ini pula UPI bisa lebih memanfaatkan segala peluang pasar, bukankah saat ini banyak letter of contract (LC) singkat yang perlu respon pengusaha cepat. Dengan ini diharapkan volume ekspor hasil perikanan bisa meningkat secara significant demikian juga nilai devisa yang didapatkan.
  1. AKURAT. Kesalahan dalam proses penerbitan HC lebih kecil. Ini karena aplikasi akan membantu koreksi dukomen dan mengurangi pengetikan ulang sertifikat. Diharapkan tingkat kesalahan HC menjadi 0,02% dari rata-rata sebelumnya 0,2%. Tolakan ekspor karena jaminan mutu HC akan lebih kecil. Ini dimungkinkan karena solfec berbasis mekanisme sertifikasi secara IPI. Penurunan tolakan diharapkan menjadi 0,001% dari 0,01% sebelumnya.
  1. MUDAH. Pekerjaan intrance data dan ketik mengetik berkurang diganti dengan hanya clicking. Petugas sertifikasi dapat bekerja lebih tenang dan menjadi cermat. Ini sangat berguna bagi peningkatan mutu pekerjaan. Diharapkan produktifitas individu petugas meningkat. Customer lebih puas terlayani sehingga akan menciptakan iklim pelayanan sertifikasi lebih kondusif dan akan meningkatkan kepercayaan pelayanan pemerintah yang pada akhirnya dapat mendorong tumbuhnya eksportir kecil dan timbulnya eksportir baru, semoga.
  1. MURAH. Operasional pengurusan sertifikat dengan datang ke LPPMHP dari tempat customer berada, yang rata-rata jauh, akan berkurang. Ini berarti penghematan transportasi, penggunaan mobil dan konsumsi bahan bakar. Demikian pula dengan petugas pengurus HC dan sopir kendaraan.Penggunaan kertas, alat tulis lain dan dokumen persyaratan sertifikasi dari customer akan berkurang dari ±10 lembar/HC menjadi ≤ 1 lembar saja. Operasional sertifikasi di LPPMHP akan mengurangi penggunaan kertas dan alat tulis lain dari 9 lembar/HC menjadi 5 lembar.
  1. Profesional, Up to date, lebih berdaya dan berhasil guna
Kompak Narsis bareng [sebelum Tim IT check out ]
Pada akhirnya dengan peningkatan kemampuan dan mutu pelayanan sertifikasi diatas diharapkan dapat menciptakan kondisi ekspor/pemasaran hasil perikanan lebih kondusif dan menantang yang pada gilirannya akan meningkatkan volume ekspor dan nilai devisa. Meningkatnya volume ekspor akan mendinamisasi kegiatan ekonomi pengusahaan perikanan hulu; Industri pengolahan hasil perikanan, pengusahaan budidaya ikan, pengusahaan penangkapan ikan, industri sarana produksi perikanan (saprokan), industri kapal/perahu dan jaring serta sarana penangkapan ikan lain, pengusahaan kegiatan ekonomi pendukung lain. Peningkatan volume juga berdampak pada pengembangan pasar ekspor. Dengan luasnya pasar ekspor juga akan menambah harum Jawa Timur khususnya dan Indonesia pada umumnya, karena ekspor juga berarti duta promosi dan pengenalan bangsa melalui produksinya.

Peningkatan devisa akan sangat berpengaruh pada kondisi ekonomi makro nasional, yakni menjadi penyeimbang perdagangan negara (trade balance) dan memperkuat nilai tukar rupiah. Disisi lain, pengembangan solfec kerangka sertifikasi untuk meningkatkan performan dan kompetensi agar system sertifikasi ini pada saatnya bisa disambungkan dengan system nasional di otoritas kompeten pusat, atau bahkan NSW (nasional single windows), InsyaAllah. Demikian sekilas info dari kegiatan Off line to ON Line System yang masih akan berlanjut dengan step selanjutnya: launching program dan evaluasi terhadap implentasi program On line tersebut.


For more detail just visit: qsafelabsby.com/