WHAT'S NEW?
Loading...

Penerimaan terhadap ODHA untuk hidup sehat and bisa terus berkarya

Realitas bahwa HIV/AIDS penyakit yang fatal dimana penderita biasanya ‘merasa’ sehat dan dari performance juga looking so healthy namun merupakan carrier virus yang asimtomatik dan bisa menularkan HIV pada orang lain, dimana sampai sekarang belum ada obatnya, sehingga menyebabkan keresahan psikososial yang complicated dimana dampaknya menjadi lebih complicated pada ODHA ( Orang dengan HIV/AIDS) oleh karena stigma dan justifikasi serta diskriminasi oleh lingkungan social.

Meningkatnya penderita HIV/AIDS tentu merupakan keprihatinan tersendiri dan membutuhkan langkah simultan secara riil untuk menekan angka pertumbuhannya. Perhatian dan berbagai langkah yang ditempuh untuk menekan angka penderita HIV/AIDS (termasuk langkah-langkah preventive), seyogyanya juga equal dengan  perhatian terhadap penderita HIV/AIDS karena tidak hanya jumlah mereka yang relative banyak (saat ini), akan tetapi range usia mereka dominan masih productive. Tidak hanya mereka merupakan bagian dari kita, tapi mereka juga tetap seperti manusia lainnya yang ingin dan punya hak serta kebutuhan untuk bersosialisasi dan diterima eksistensi karya,kreatifitas dan kinerjanya sebagai bagian dari social masyarakat. Being ODHA is not ending of life yet !
Terlepas dari perdebatan dan justifikasi sebab dan asal-asul terinfeksinya virus mematikan tersebut, setiap ODHA tetap punya hak untuk melanjutkan hidupnya dengan optimal sesuai capability dan skillnya masing-masing. Untuk menciptakan kondisi kondusive tersebut, maka yang perlu di re-engineering, antara lain:

Pertama: Mereduksi dan meredesign stigma dan phobia masyarakat terhadap ODHA sehingga tidak menganggap mereka sebagai alien yaitu dengan distribusi informasi yang representative serta komunikatif mengenai cara-cara penularan HIV/AIDS sehingga masyarakat lebih terbuka pemahamannya agar bisa welcome terhadap ODHA. Masih minimnya informasi tentang cara penularan HIV/AIDS membuat lingkungan di sekitar penderita HIV/AIDS menganggap mereka enemies. Padahal reaksi penolakan dari lingkungan sekitar (terdekat) akan menjadi sumber stress, seperti yang kita tahu stress merupakan respon terhadap stressor (sumber stress) yang mengandung 2 komponen yaitu: psikologis (perilaku, pola pikir, emosi dan perasaan tertekan) dan fisiologis (rangsangan fisik yang meningkat untuk melakukan tindakan apatis/desperate action). Komunitas di sekitar ODHA yang bersikap ‘alergi’ jelas akan membuat ODHA resah, tidak nyaman dan depresi yang pada akhirnya akan menjadikan ODHA ‘mati’ semangat hidupnya padahal sebenarnya dia masih punya potensi untuk berkarya secara maksimal. 
Gambar dari sini
Kedua: Integritas di kalangan internal ODHA sendiri perlu di fasilitasi sehingga menjadi lingkungan yang comprehensive/kondusif dalam meningkatkan semangat hidup ODHA. Jadi keberadaan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) punya peran yang sangat penting untuk memberikan dukungan emosional karena adanya suasana yang nyaman dan terjaganya kerahasiaan anggota agar mereka bisa mendapatkan kesempatan untuk bersosialisai, mengemukakan pendapat secara terbuka untuk didengarkan dan mendapatkan dukungan. Dengan demikian keberadaan KDS bisa mengakomodasi anggotanya:
1.      Agar tidak merasa di asingkan dan sendiri dalam menghadapi setiap masalahnya.
2.      Bisa bertemu orang-orang lain sehingga mendapatkan teman
3.      Mempunyai rasa percaya diri dalam rangka proses aktualisasi diri
4.    Mendapatkan akses informasi dan distribusi material yang diperlukan oleh para        penderita HIS/AIDS.

Kebersamaan mereka akan menjadi media untuk mendapatkan kenyamanan, rasa aman dan saling tukar informasi secara lebih open mind.
Walaupun mereka berasal dari background yang berbeda-beda, namun persamaan nasib yaitu mengidap HIV/AIDS membuat mereka bisa solid dan lebih bersemangat. Selain itu, kebersamaan mereka dalam KDS bisa meningkatkan pemberdayaan kompetensi mereka secara lebih terarah, mengingat nilai lebih KDS adalah berangggotakan para ODHA itu sendiri sehingga bisa menumbuhkan rasa saling percaya, saling memberikan dukungan/motivasi, mampu  berinteraksi secara lebih komunikatif karena memiliki tingkat empati yang lebih tinggi (memahami secara langsung kondisi masing-masing karena sama-sama mengidap HIV/AIDS), bersikap lebih sabar serta rasa solidaritas yang idak diragukan lagi. Dengan adanya Kelompok Dukungan Sebaya yang solid maka kenisbian bahwa ODHA bisa mandiri dan berdaya guna bisa di minimalisir.


Kesimpulan: Penerimaan (acceptance) dari lingkungan terdekat (keluarga dan sekitarnya) adalah stimulator sekaligus katalisator bagi ODHA untuk mempunyai keyakinan dan semangat/motivasi melanjutkan hidupnya secara maksimal dalam mengekspresikan segenap kemampuan dan potensi dirinya sebagai orang yang produktif.


Postingan ini diikutsertakan dalam  Lomba Blog tentang Remaja dan HIV/AIDS




Bukti diposting di Twitter:














Bukti memfollow @AusAID @VIVAnews @VIVAvlog :
















* Lamongan - Jawa Timur *

37 comments: Leave Your Comments

  1. memang dbutuhkan ketelatenan dan rasa empati tinggi buat mereka...

    ReplyDelete
  2. @choirunnangim: Iya, perlu pemahaman yang lebih luas agar ODHA bisa melanjutkan hidup seperti orang-orang lainnya

    ReplyDelete
  3. kalo penderita hiv merasa di kucilkan. Gak kebayang deh.
    Oh ia mbak singkatan dari Odha itu apa? :)

    ReplyDelete
  4. Oalah ini lomba ta. Sukses mb lombanya ^^

    ReplyDelete
  5. @k[A]z: Di akui atau tidak, bahkan kebanyakan kita tak tahu jika ada orang yang tak jauh dari tempat tinggal kita ada yang kena kena HIV.

    Btw, ODHA: Orang dengan HIV/AIDS.

    ReplyDelete
  6. @Sitti Rasuna Wibawa: Serba pas atau sengaja di pas2in ya? menjelang hari AIDS sedunia dan ada Lombanya, jadi sekalian bikin new entry di ikutkan lomba deh...

    ReplyDelete
  7. artikel yang menarik mbak kinan,sukses buat lombanya:)

    ReplyDelete
  8. @Atma muthmainna: yang jelas pertamanya: sukses untuk namabah postingan Mbak...

    ReplyDelete
  9. ODHA itu juga manusia, salah satu hamba-NYA,
    apa yang dialami mereka adalah pembelajaran bagi kita dan bisa jadi juga merupakan ujian mata dan nurani bagi kita, apakah kita akan bersikap berbagi kebaikan dengan mereka, dengan jalan tidak mengucilkan mereka, ataukah sikap kita berubah menjadi antipati, seakan kitalah manusia paling suci di dunia fana ini.
    BTW- selamat berlomba, salam sukses selalu :)

    ReplyDelete
  10. ketidak sanggupan dari lingkungan sekitar untuk menerima ODHA menurutku juga disebabkan oleh faktor kekurang tahuan masyarakat tentang cara penularan HIV ini. sehingga ada yang, bahasa kerennya 'parno' sendiri, khawatir akan tertular virus serupa jika berinteraksi dengan ODHA. menurutku ini juga salah satu hal yang harus diluruskan. bahwa bergaul *dalam artian yang sebenarnya* dan berinteraksi, atau bahkan sentuhan fisik tidak akan semudah itu membuat seseorang tertular HIV.

    good luck buat kontes nya Mbak. salam kenal :)

    dari Gresik juga kah?

    ReplyDelete
  11. mas perhatikan belakangan sering update yo,, punya byk waktu luang soo pastinya ini,,

    ReplyDelete
  12. @BlogS of Hariyanto: Setiap orang pernah khilaf dan melakukan kesalahan, dengan tidak berkutat pada justifikasi 'kenapa' mereka terinveksi HIV/AIDS, tapi concern untuk mendukung mereka spend their life maka akan menjadi sebuah bentuk dukungan moral yang membangkitkan semanagt hidup. Mereka tetap manusia yang ingin dan berhak diterima serta di hargai seperti yang lainnya

    ReplyDelete
  13. @armae: Bener sekali Mbak, makanya point pertama saya menyoroti tentang kurang adanya distribusi informasi tentang "cara-cara penularan HIV/AIDS".Masih minimnya informasi tentang cara penularan HIV/AIDS membuat lingkungan di sekitar penderita HIV/AIDS menganggap mereka enemies.

    Btw, Saya dari LA, Gresik adalah tempat bermain saya (gak tiap hari tentunya).

    ReplyDelete
  14. @al kahfi: Sebenarnya sih bukan semata banyak waktu luang tapi justru karena 'something' crowded in my mind sehingga pelampiasannya dengan menulis sampai menjelang Shubuh Mas...

    ReplyDelete
  15. jauhi penyakitnya, bukan orangnya. :)

    ReplyDelete
  16. sekses mb'...
    ODHA nggak boleh dikucilkan~

    ReplyDelete
  17. salut sama tulisannya...semoga sukses y

    ReplyDelete
  18. @panduan belajar blog: Hindari cara-cara yang menyebabkan kita terinfeksi HIV/AIDS...

    ReplyDelete
  19. Kami dari Admin GoVlog, perlu meminta data diri Anda yang mengikuti GoVlog AIDS. Data diri ini kami pergunakan untuk pemberitahuan jika Anda terpilih menjadi 10 besar.

    Nama Lengkap:
    Jenis Kelamin:
    No tlp/HP (yang bisa dihubungi):
    Email:
    Yahoo Messenger:
    Alamat lengkap:
    Pekerjaan:
    Link posting Blog GoVlog AIDS:

    Mohon data diri Anda dikirim ke email tommy.adi@vivanews.com

    Terimakasih

    ReplyDelete
  20. @jiah al jafara: Semoga kita semua bisa lebih bijaksana pada ODHA:)

    ReplyDelete
  21. Semoga tulisan tentang ODHAnya ini menang ya ...

    Sekalian ngundang untuk ikut acara GA muharam kami, ditunggu sampai tanggal 2 Des ;)

    ReplyDelete
  22. @epay: amin, semoga tida hanya bisa dalam tulisan tapi juga dalam aktualitas kita semua..

    ReplyDelete
  23. @Yunda Hamasah: Terima kasih, semoga tulisan ini bisa menjadi salah satu wacana ttg ODHA. Oia, terima kasih untuk undangannya semoga saya bisa berpartisipasi ...

    ReplyDelete
  24. @tommytoxcum: Email Data Diri sudah saya kirimkan...terima kasih atas hasil moderasinya:)

    ReplyDelete
  25. mba ririe ikut lomba GoVlog juga ya ? sama donk
    mudah2an aku atau mba ya yang menang atau setidaknya bisa jalan2 ke bali,ngerep

    ReplyDelete
  26. It is true, but there are things you may forgot that jadikanlan kesenagan blogs as well as therapies that naturally makes us a highly skilled and qualified than others, especially if it is a livelihood. all up to you.

    ReplyDelete
  27. semoga menang ya mba.... dan setuju banget dengan isi artikelnya, banyak orang yang tiba2 menjadi ODHA justru bukan karena ulahnya, namun terjangkiti secara tak sengaja. Dan sudah seharusnya tidak kita diskriminasi. AIDS bisa dihindari, sosialisasi tentang hal ini perlu digalakkan untuk meminimalisir diskriminasinya...

    again, good luck ya mba Ririe...

    ReplyDelete
  28. @Andy: Ikutan @the last day, menang/gak yang penting menuliskan opini ttg ODHA semoga at least bisa membawa setitik manfaat

    ReplyDelete
  29. @1 ways: Yups,I do blog for pleasure and hobby then hope I can share something even just a little bit...Thx for coming and give me support for better blogging:)

    ReplyDelete
  30. semoga berhasil... lalalalala :D

    ReplyDelete
  31. @alaika abdullah: Iya, saat ini masih sangat minim pengetahuan masyarakat tentang cara-cara penyebaran HIV/AIDS sehingga banyak orang phobia untuk berinteraksi dengan ODHA.

    ReplyDelete
  32. Selamat hari AIDS 1 Desember...salam kenal mba'

    ReplyDelete
  33. @KAIFA: Semoga momentum hari AIDS menjadikan kita lebh aware dan bijaksana dalam bersikap...salam kenal juga Mbak

    ReplyDelete
  34. @Sang Cerpenis bercerita: Iya Mbak, postingan ODHA dalam rangka hari AIDS sedunia...

    ReplyDelete
  35. ODHA....
    mereka butuh spirit dan pengertian....
    eh btw,,,saya ada temen namanya odha sandra....
    hmm...
    apa ya maksudnya..???
    :P


    #kabuuuur

    ReplyDelete
  36. @zone: Ayooo, mau kabuur kemana-kemanaaa... *ayu ting-ting* session

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.