WHAT'S NEW?
Loading...

[Masih Belajar] Mengelola Penggunaan Gadget Pada Anak-Anak

Di era modern atau digital atau apalah sebutan yang lebih gagah lainnya, fenomena umum dan semakin diminati dimana anak-anak lebih suka menonton TV dan bermain dengan gadget ketimbang bermain out door/fisik. Dan dengan alasanya masing-masing,  semakin banyak orang tua yang cenderung memilih gadget sebagai sarana bermain bagi anak-anaknya.

Ikut-ikutan film yang box office kan biasanya (sengaja) dibuat sekuel lanjutan. Curcolania ini Bismillahirrahmaanirrahiim merupakan babak lanjutan Ayo [Tetap] Happy Di Musim Liburan Sekolah, bahwa sebenarnya galau yang lebih serius dihadapi oleh para orang tua di musim liburan sekolah tidak hanya karena tak bisa senada dan seirama libur aktifitas dengan anak-anak sekolah. Terlebih jika sang buah hati masih kategori anak-anak (untuk hal ini saya ambil batasan anak-anak dalam interval usia 12 tahun ke bawah) dengan variabel-variabel pelengkap antara lain:
  1. Belum ada kegiatan organisasi atau kegiatan sejenisnya yang sifatnya non formal (diluar kegiatan berrganisasi di sekolah)
  2. Tak ada tugas sekolah selama liburan berlangsung. Tugas atau PR yang diberikan untuk mengisi rentang liburan memang sifatnya tidak wajib dan tidak semua sekolah/guru memberikan tugas untuk dikerjakan saat liburan.
  3. Jadwal les libur. Setidaknya, ada beberapa jenis les yang menyesuaikan jadwal les dengan liburan sekolah.
  4. Apalagi kegiatan ekstra kurikuler juga off , bahlan ada yang  sudah vacuum ekskul mulai 2 – 3 minggu sebelum pelaksanaan ujian sekolah. Maksud dan tujuannya memang mulia kok: agar tersedia waktu yang cukup dan fisik yang bugar untuk mempersiapkan diri belajar dalam rangka menghadapi ujian sekolah/UAS. Kenyataannya, tidak semua siswa selaras dengan tujuan tersebut dan bukannya belajar tapi malah asyik bermain dengan ritme yang lebih lama.
Ke-4 point yang saya sebutkan di atas, tidak bermaksud menggeneralisir lhoh? Fenomena di atas hanya sebagian potret yang kebetulan saya lihat pada musim-musim liburan sekolah anak-anak di sekitar tempat tinggal kami. 

Hal yang dominan dan merupakan domain dalam dunia anak-anak adalah bermain dan tiada hari tanpa mainan. Dan dunia industri dengan cermat telah lama menempatkan anak sebagai target pasar berbagai barang-barang/ produk manufactur, salah satunya adalah industri mainan. Komunitas anak merupakan pangsa pasar yang cukup besar dan potensial karena memang anak sangat dekat dengan mainan. 

Dalam rangka mengikuti perkembangan tekonologi, setiap hari [bahkan bisa jadi dalam hitungan jam?], aneka jenis mainan pun beradaptasi ke dunia digital yang lebih atraktif, lebih memikat, lebih berwarna dan lebih  mempesona dengan unsur “challenge” yang membuat anak-anak semakin penasaran untuk bermain dan bermain lagi. Berbagai aplikasi game digital baik online maupun offine di desain sedemikian rupa agar kekinian. Game yang sudah existing pun secara kontinyu di up grade atau di modifikasi dengan model yang lebih baru dan terlihat exactly different. Apapun bentuknya, kehadiran setiap mainan selalu digandrungi oleh anak-anak. 

Variabel-variabel di atas (dan masih banyak variable lainnya yang tidak bisa saya sebutkan semuanya) seakan menjadi atom-atom yang memiliki koefisien reaksi kimia yang seimbang sehingga membentuk reaksi fusi yang memperkuat landasan let’s play all the day

Yes, it’s not big wrong karena bermain identik dengan dunia anak. mainan seolah memiliki daya magic tersendiri dimata anak-anak. Sepanjang hari anak bisa melupakan hal lain saat bermain dengan mainannya, apalagi di saat musim liburan sekolah dengan critical point di atas, maka musim liburan menghadirkan kekuatiran yang tak kalah bikin galaunya bagi para orang tua semacam kami yang di rumah tak ada ART. Dan kebetulan pula musim liburannya Ifa dan Aida lebih lambat seminggu dari libur sekolahnya Azka. Wajar dong jika kami wondering saat kami tak ada di rumah Azka akan asyik dengan aplikasi produk-produk digital.


Kekuatiran harus di follow up dengan strategi pragmatis yang efektif, efisien dan tidak menimbulkan impresi yang otoriter pada anak-anak. Berangkat dari teori tersebut, kami belajar mempraktekkannya sebaik yang kami bisa lakukan, tidak hanya sebagai jurus menghadapi musim liburan sekolah tapi sebenarnya untuk langkah preventif Agar Tidak Addict Pada dunia digital TV, Gadget dan PS antara lain:
  1. Mengajak Anak Berinteraksi dengan beraktivitas fisik di luar ruangan.  Dengan mengajak anak-anak beraktivitas di luar ruangan seperti bermain badminton, mancing ikan, olah raga bersepeda, mencuci sepeda favorit  bersama, mengenalkan aneka permainan non digital seperti layang-layang, kelereng, petak umpet dan aktifitas out door lainnya secara praktis akan membiasakan anak-anak untuk tidak sepanjang waktu membawa dan atau intim dengan gadget. Anak-anak juga akan memiliki pemahaman dan ketertarikan bahwa bermain yang asyik juga bisa dilakukan diluar gadget. Hasilnya, tiap pulang kerja kami tanya ngapain saja seharian, akan meluncurlah sederet cerita aktifitas apa saja yang dia lakukan dan dominasinya adalah: badminton, sepedaan rame-rame, main air, main COC, nonton Bhalveer (Azka sudah tidak begitu tertarik main PS, hanya sesekali main PS ada lawan main yang dianggapnya punya skill main Psnya setara). *Noted: Azka tipe anak yang suka bercerita, jadi satu pertanyaan akan memberikan semua informasi yang kami butuhkan*
  2. Menjalin hubungan baik dengan tetangga, terlebih tetangga yang punya anak-anak berusia sebaya. Alhamdulillah, kebetulan kami tinggal tidak di komplek perumahan dan tetangga pun memiliki beberapa tipe profesi. Ada tetangga depan rumah (suami istri) yang berprofesi sebagai guru dan bukan urban. Jadi, musim liburan sekolah sudah tersedia volunter yang “ngaruh-ngaruhi” Azka untuk bermain secara variatif (tidak melulu hanya aplikasi digital) selama kami berada di luar rumah (bekerja). Ada juga yang berprofesi kerja di sawah, saat tak ada kegiatan di lahan pertanian sesekali suka mengajak azka dan teman-temannya untuk bermain bareng dengan cucu beliau. 
  3. Secara berkala (saat anak lagi good mood) perlu disampaikan mengenai bahaya terhadap kesehatan bila terlalu lama menggunakan gadget. Juga perlu disampaikan (memang harus berulang-ulang) bagaimana sebaiknya agar tetap aman saat menggunakan gadget, yakni setiap 15 – 20 menit memindahkan pandangan mata dari screen gadget atau mainan digital lainnya. Jika momentnya pas, kami juga mengajaknya bicara mengenai size sebuah aplikasi, bahwa semakin besar aplikasi akan membutuhkan kuota data yang besar pula untuk download dan artinya paket internet akan cepat habis. Dalam hal ini, kami memang menggunakan paket data pra bayar dengan kuota tertentu. So far, ada efek pemahaman untuk berhemat paket data tersebut. #trikiritkuotainternet
  4. Status gadget secara de jure bukan atas nama anak. Trik ini sengaja saya uji coba lakukan saat Azka minta tablet. Awalnya dia bersikeras mau beli dengan menggunakan tabungannya sendiri. Saya hanya bilang “ ya boleh saja, malah bunda bersyukur bisa pakai tablet secara gratis. Kan Azka baru pakai tab saat pulang sekolah, artinya tab mulai pagi sampai sore hari dipakai bunda kan?”. Hasilnya, tanpa perlu berdebat panjang lebar, Azka lebih memilih sparing tab sama saya, tepatnya Kang Suami yang beli tab dan diatas namakan saya serta secara di jure Azka yang menggunakan untuk ngegame. Dengan cara ini, secara otomatis durasi azka mengakses gadget bisa di manage kan? 
  5. Control aplikasi/file  yang di download secara berkala dan rutin. Mungkin bagi sebagian orang tua memberlakukan password pada gadgetnya sebagai langkah preventif untuk memanage anak dalam menggunakan gadget. Tapi kami memilih no password untuk gadget yang kami gunakan. Artinya saya dan kang suami harus lebih rajin mendelete atau tidak mendownload bila ada yang share file di grup yang sekiranya tidak tepat untuk usia anak-anak.  Dengan tanpa password, otomatis memberikan contoh bahwa tak perlu ada yang dirahasiakan dari isi gadget kami.  Hasilnya, tiap tiap azka akan download aplikasi baru, dia selalu minta ijin dulu dan siap mengirim aplikasi yang lainnya ke recycle bin. Sedangkan Ifa dan Aida, keduanya juga hanya mengakses gadget saat libur sekolah (jadwal perpulangan dari asrama), artinya gadget yang biasa mereka gunakan berada di rumah pun tanpa password.
Selain lima hal di atas, sebelum pamit untuk berangkat kerja, biasanya kami tak lupa meninggalkan sederet pesan sponsor: tidak boleh lupa sholat, nge-gamenya gak boleh lama-lama, harus tidur siang, dan beberapa pesan sponsor lainnya. Dan siapa yang kerjaan lagi selow, saya atau kang suami, menyempatkan pulang tanpa aba-aba terlebih dahulu untuk cross check (insidental). Alhamdulillah, meski belum 100% tapi ada hasilnya ketika anak-anak bilang “iya”, mereka akan menepati ucapan IYA tersebut. Sekaligus mereka juga bilang alasannya dan niatan untuk memperbaiki di kesempatan berikutnya jika ada "janji" yang belum dikerjakan atau yang dilakukan tidak sesuai dengan pesan sponsor dari kami. 

Tentunya masing-masing orang tua punya cara smooth (tidak mendikte) agar anak-anak tidak addict pada game ataupun produk aplikasi digital lainnya.  
Tentunya juga Anda punya trik jitu sendiri yang lebih cespleng, boleh dong di share juga bagaimana Mengelola penggunaan gadget pada anak-anak sehingga mereka bisa tetap secure and save bermain di era digital ini?


15 comments: Leave Your Comments

  1. triknya bagus mba, boleh dicontoh nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih trial and eror Pak, so far ya hasilnya belum stabil.

      Delete
  2. Mbak Riiie, selalu kagum sama Mbak Rie, Mbak Rie pembelajar ...
    Sukses jadi ibu yang keren buat anak2 yah :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. aku juga iri kok, kenapa dulu aku tidak diundang sewaktu resepsinya.

      Delete
  3. Triknya keren mba. Boleh nih aku uji coba ke adik adikku.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga berhasil, tentunya masih perlu modifikasi ya mbak. kan beda anak akan beda pula cara mensiasatinya:)

      Delete
  4. Replies
    1. oke, monggo di share dan semoga bermanfaat

      Delete
  5. salut sma mb, semoga bisa lebih baik di masa akan dan datang dan sukses selalu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hidup adalah pilihan dan pilihan terbaik adalah berproses metamorfosa

      Delete
  6. Mengontro aplikasi ini adalah poin yang lebih penting. Sebab sekarang banyak sekali iklan-iklan yang masuk lewat game-game yang sering dimainkan anak-anak.
    Ya sesekali orang tua mengajak liburan atau tamasya ketempat pariwisata atau bermaian di sawah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak hanya iklan mas, tapi kartun-kartun (tokoh) dalam game juga banyak yg tampak tak sopan (seronok) dengan pemberian baju yg minimalis

      Delete
  7. Ada rekomendasi buku sumber yg bisa saya dpk kan tdk, mengenai hal ini..?

    ReplyDelete
    Replies
    1. di Google Play ada EBook Mbak: 17 Rumus Keren Berinternet baik.

      Disitu panduannya lengkap, tinggal diterapkan

      Delete
  8. tipsnya bagusss..
    mksh mb..
    khawatir nih, padahal anakku masih bayik

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.