WHAT'S NEW?
Loading...

Porsi (pada) Pola Makan untuk Anak-Anak

Tak hanya pola makan untuk anak-anak yang perlu diperhatikan, melainkan porsinya juga penting untuk dicermati. Karena tubuh manusia memiliki batas maksimal “keberterimaan” terhadap zat aditive pada makanan yang dikonsumsinya. 

Salah satu oleh-oleh dari talk show parenting beberapa waktu lalu adalah sesi konsultasi dengan ahli gizi.  Saat itu, sengaja saya mengajak Azka untuk memanfaatkan sesi “bincang-bincang” di area konsultasi dengan harapan Azka bisa ikut mendengarkan secara langsung dari Nutritionist mengenai pentingnya gizi seimbang  dalam pola makan sehari-hari. Saya bilang ke nutritionistnya tentang susah makan sayur dan ikan/daging. Bismillahirrahmaanirrahiim, selama ini Azka masih selektif untuk mengkonsumsi sayur-sayuran dan belum welcome terhadap aneka menu daging dan ikan. Azka baru mau makan sumber protein hewani dari telur dan OLAHAN DAGING/ikan yang tidak terasa taste daging/ikan aslinya, seperti sosis, nuget, dan sejenisnya. 
pola makan; hidup sehat; life style
Saran Pola Makan
Dari perbincangan tersebut, Embak nutritionist menyarankan untuk memberikan menu sayuran hingga 12 kali. “ Kalau belum 12 kali mencoba, belum dianggap maksimal usahanya membelajari anak untuk suka makan sayur-sayuran”. Tuing-tuing…*menghela nafas dalam-dalam*.

Selain itu, saya yang masih sosok ibu apalah-apalah ini mendapatkan pencerahan dan ilmu tentang Porsi (pada) Pola Makan untuk Anak-Anak. Bahwa piring untuk tempat makan bagi orang dewasa dan anak-anak ternyata ukurannya berbeda. Untuk orang dewasa diameter piring adalah 9 inch dan untuk anak adalah 7 inch dengan ratio: 50 % adalah buah dan sayur, 25% merupakan protein dan 25% sumber karbohidrat.  

Lantas, Berapa porsi sehari kebutuhan anak-anak?
Seperti diketahui jika kategori anak-anak di sini adalah usia 1 s/d 12 tahun.  Porsi makan antara anak perempuan dan laki-laki masih sama hingga usia 9 tahun. Porsi (pada) Pola Makan untuk anak-anak mulai berbeda ketika menginjak usia 10 s/d 12 tahun. 

Tabulasi yang ada di bawah bisa dianggap sebagai rambu-rambu atau acuan untuk membelajari anak-anak memiliki kebiasaan pola makan yang sehat dan seimbang porsinya. Yang jadi PR cukup kompleks, at least bagi saya adalah jumlah gula total (yang terkandung dalam makanan dan minuman) yang seharinya idealnya cukup 2 sendok makan? Wowowooo…Terus jumlah minyak goreng juga jumah keseluruhannya dicukupkan 5 sendok makan?. 

Rincian porsi baik kebutuhan zat gizi maupun anjuran bahan makanan sehari bisa dilihat pada capture tabel di bawah ini: 
hidup sehat; menu makan seimbang
Porsi (pada) Pola Makan untuk Anak-Anak
Let’s do our best deh, penting untuk usaha maksimal dulu. Yang jelas makan untuk hidup sehat bukan hidup untuk makan obat kan? 
Mungkin ada yang pernah dengar atau mendapati sikap atau pemikiran yang menganggap semisal: kan masih anak-anak, masa pertumbuhan yang butuh banyak energi dan kalor yang banyak. Gak apalah kalau masih suka dan banyak minum yang manis-manis ? Makan dengan jumlah nasi yang lebih banyak….dan sederet anggapan berbau mitos bukan fakta lainnya yang justru membahayakan bagi kesehatan anak, baik jangka pendek maupun kelak ketika mereka sudah dewasa.

Mengutip kalimat dari Bapak Samuel Smiles (penulis buku yang Self-Help) : Menabur pikiran akan menuai tindakan; Menabur tindakan akan menuai kebiasaan; Menabur kebiasaan amak menuai karakter; Menabur karakter, maka menuai nasib.

Catet ya, untuk kondisi umumnya anak-anak dimana seAndai-nya memang benar sistem metabolisme dan organ tubuh pada anak-anak masih prima sehingga bisa mengolah, mencerna dan menyerap semua jenis makanan dengan optimal, bukankah tetap ada peluang terjadinya dampak bangkitan ketika mereka besar/dewasa yaitu KEBIASAAN pola makan yang tidak sehat sehingga berpeluang timbulnya berbagai penyakit degeneratif?

Padahal faktanya, bahkan samudera yang sangat luas pun ketika setiap hari ada sampah yang dibuang ke sana, tak mungkin samudera tersebut bisa menguraikan semua jenis sampah yang datang kan? lama-kelamaan akan terjadi pencemaran yang akut karena samudera pun memiliki batas ambang maksimal untuk mentoleransi jumlah sampah yang bisa diterimanya. 
Apalagi tubuh manusia? 
Apalagi trend kemajuan teknologi juga telah meningkat variasi jenis pangan olahan? 
Apalagi rata-rata yang namanya pangan olahan (makanan dan minuman), tentu mengandung zat additive antara lain: pemanis buatan, pewarna, pengawet, perasa (MSG atau jenis lainnya), penambah aroma, pengemulsi, dan lain-lain.

Walaupun penggunaan bahan-bahan tambahan tersebut telah tergolong food grade, tetap saja memiliki efek samping dan atau potensi poisonic bagi tubuh di kemudian hari. Apalagi jika di konsumsi melebihi batas Acceptable Daily Intake kan? 

Karena se-prima dan excellent apapun kondisi anak-anak, kita tetap tak bisa abai faktor-faktor yang bisa mempercepat “aus”nya organ tubuh. Bukankah sudah banyak kasus anak-anak mengalami gagal ginjal, penyakit jantung, tumor, dan jenis-jenis penyakit degeneratif lainnya?

Alhamdulillah, dengan mengajak Azka untuk mendengarkan dan melibatkan langsung pada sesi ngobrol bareng Nutritionist kala itu mulai ada efeknya.
Kalau sebelumnya tiap ditawari makan ikan, jawabannya straight to the point : gak mau!.
Kalau sebelumnya tiap diceritani mengenai manfaat makan bayam, wortel, kankung, dsb bermanfaat begini dan begitu, tapi di respon dengan mencontohkan temannya yang sesama gak suka makan sayur tapi baik-baik saja? 

Sekarang sudah mulai cooperative dengan tidak menunjukkan sikap anti pati, mulai ingin tahu apa saja kandungan suatu jenis sayur. Kalau makan lothek, sebagian besar sayurannya dimakan. Juga mulai ada niatan (good will) "mau makan ikan besok kalau sudah siap~ demikian bahasanya Azka" dan aware bahwa mengonsumsi aneka sayuran dan daging/ikan merupakan kebutuhan dirinya dalam proses tumbuh kembang.

Peran orangtua sangat besar dalam membentuk pola makan anak yang sehat sejak dini dengan porsi yang seimbang. Dengan kebiasaan yang dibentuk sejak dini di rumah, anak akan terbiasa dengan Porsi Pola Makan yang sehat dan seimbang sehingga menunjang ketahanan tubuh, fisik dan mental. Tak hanya dibutuhkan kesabaran, tapi juga kecerdikan, kreatifitas dan doa pastinya. 


10 comments: Leave Your Comments

  1. jadi harus coba lagi coba lagi sampai suka ya dengan makanan tertentu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Katanya, kalau belum 12 kali sdh bilang anaknya gak mau itu dianggap blm maksimal tuh. Hiks

      Delete
  2. si ken dlu jg gt mak, pertamanya ndak mau, trs aku coba coba dan coba, akhirnya skrg doyan, alhmdulillah..
    tengkiu infonya ya mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya Ken sudah welcome makan sayur

      Delete
  3. Betul mbak Rie, Vani juga sukanya "cari teman senasib" untuk meng KO nasehat ibunya...
    dan saking nggak sukanya sama sayur dia berprinsip lebih baik nggak makan daripada dihidangkan sayuran... *capek deehh...
    tapi tetap berusaha sambil berdoa... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Mbak, kalau sudah aksi mogok gettu, emaknya yg ngalah deh

      Delete
  4. pola makan anak memang harus diperhatikan ya mbak, makan sayuran memang harus bagi anak, soalnya kalo anak jarang dikasih sayuran nanti sudah dewasanya jadi ga suka sayuran mbak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Membuat anak mau makan sayur, butuh usaha yg kreatif plus sabaaarrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr

      Delete
  5. informasi yang bermanfaat nich mbak. mo di coba buat anak sy

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.