Sepucuk Surat dari Sahabat

Prolog: Berawal dari selembar surat usang, ku tulis uraian blog entry ini…(part ONE)


Setelah selesai dengan aktifitas (sepulang tarawih), jam di dinding masih menunjukkan 22.00 (kurang beberapa menit sey), seperti biasa aku ambil posisi nyaman untuk “jalan-jalan” menjelajah dunia (baca: On line ya…). Tapi setelah pesawat siap take off, muncul pesan manis dari server  “ Maaf, kami mengalami gangguan system. Silahkan mengulang kembali. Informasi selanjutnya dapat menghubungi Customer Care 24 jam di nomor 021-304xxxxx, atau xxx (khusus dari nomor selular …………), dengan tarif Rp. 400,- per menit. Silahkan hubungi  IT support kami dengan mengirimkan pesan dibawah ini.
Waktu Server : Fri Aug 19 22:29:55  GMT+07:00  2011 Nomor Referensi : VGrDTTBS4Fq0K1zlf1FTwTSGny6WCzvNpflc1hkDjYJyJF69PQLr!2014510126!1313767794898


Think..think…: mau ngapain neh? Mata juga belum ngantuk? Beberapa menit berlalu, kemudian aku mendekati  tumpukan buku-buku untuk merapikannya. (ssstt, kebiasaan  ‘kurang baik’ suka naruh-naruh buku di samping tempat tidur, setiap ambil dari tempatnya tidak langsung dikembalikan lagi).  Bukannya jadi merapikan tumpukan buku yang acak-acakan tapi mengambil jepitan/bendelan kertas-kertas yang aku kumpulin dalam beberapa Map plastic.
            Satu per satu aku baca tulisannya, kebanyakan coretan/ tulisan tanganku tentang macam-macam  hal mulai resep masakan, kalimat motivasi untuk diri sendiri, puisi sepenggal, cerpen beberapa paragraph..…dan ku temukan sebuah kertas folio berisi tulisan tangan seorang sahabat yang tertanggal 14 Juli, tulisannya panjang banget karena dua lembar kertas folio penuh berisi tulisan tangannya, maklum representasi tulisannya memang model diary yaitu surat tersebut di tulis day by day sampai tertanggal 30 Juli “…oh ya perlu di koreksi bahwa tulisanku ini tempatnya amburadul jadi waktu kamu  baca tolong ya dipas’kan saja per tanggalnya, maklum sewaktu nulisnya di manapun dan bagaimanapun kondisi perasaanku. Jadi bisa sewaktu di rumah, lagi ngajar les privat, di masjid….dimanapunlah…..” Demikianlah salah satu model (kami) berkorespondensi kala itu sebelum jalur seluler dan internet friendly seperti sekarang.


Dalam surat itu dia bercerita banyak hal, tentang saudara-saudaranya, teman-teman dan orang-orang yang di temuinya,  aktifitasnya dan juga tentang masa transisi ketika kebersamaan diantara kami harus terentang ruang dan jarak “ …kebersamaan yang telah sama-sama kita lalui memang tak begitu saja bisa langsung set up zero position. Pas malam ini pukul 00.20 WIB ultahku serasa sepi sekali, tak ada yang bikin surprise seperti biasanya. Walau banyak teman yang sudah mengingatkan sebelumnya seperti dirimu, dan lainnya.....tapi suatu saat nanti pasti kan memudar ketika kita masing-masing sibuk dengan kehidupan dan aktifitas baru yang kita jalani. BUkan maksudku tidak menganggap special akan ucapan dan ungkapan untuk ultahku yang sudah ku terima sebelum hari H ini. Pada akhirnya kita akan menjalani rute hidup ini dengan sendiri-sendiri… we’ll be a part”  
She’s right, teman/sahabat (bahkan saudara sekandung) pada akhirnya kala kita menapak pada masa kedewasaan kita akan membangun lagi bentuk komunitas baru……kebersamaan pada akhirnya akan mengalami redesign dari waktu ke waktu, kanvasnya adalah ruang dan waktu…tidak ada yang abadi di dunia ini selain perubahan. Tapi setiap bentuk hubungan punya frame yang spesifik, seperti hubungan keluarga yang mempunyai karakteristik ikatan batin/emosi yang tentu tak akan sama dengan hubungan  teman. Maka demikian juga tali persahabatan tentu (seharusnya) punya poin lebih dari sekedar hubungan ekonomis ( baca: azaz manfaat) meski ada ruang dan jarak yang pada akhirnya membentang dalam jalinan kebersamaan,  secara sederhana bisa di katakan  teman itu bukan tukang tambal ban yang hanya kita ingat dan di cari kala ban bocor/kempes.
A Friend Is………………
One of the Best Things in Life
( By Unkwon)

Though we don't see each other very much
nor do we write to each other very much
nor do we phone each other very much
I always know that, at any time
I could call, write or see you

Our friendship does not depend
on being together
It is deeper than that
Our closeness is something inside of us
that is always there
ready to be shared with each other
whenever the need arises

It is such a comfortable and warm
feeling
to know that
we have such a lifetime
friendship

So, Hope we will always treasure the friendship we have…. Life is too short, always tell your friends, family and your special one that you love need them, because sometimes you just never know we’ll see tomorrow comes or not….

-----To be continued on chapter  TWO------

6 comments:

  1. hmm, ceritanya sedikit menggugah :) teringet lagu "sahabat untuk selamanya" by padi

    ReplyDelete
  2. @al kahfi: Wah 'sedikit' menggugah ya..biar banyak menggugah gimana neh?

    ReplyDelete
  3. jadi kangeng sama sahabat2 sma-ku....:((

    ReplyDelete
  4. @sendiri : Yukk biki reuni..biasanya di moment lebarn kan pada bikin reuni tuh..

    ReplyDelete
  5. aku kok baru nemu postingan ini ya? seperti biasanya, keren artikelnya rie...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Postingan lama Mbak Al, kala kita belum sering saling BW. Kala saya jg belum banyak punya teman blogger..

      Delete

Be silent reader or write comment, tetap terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi. Tapi harap maklum jika SPAM bisa masuk 'karantina' lho...So, be wise and friendly...