Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Mengenal Megengan dan Maleman: Tradisi Puasa di Lamongan

Different pond different fish, lain ladang lain pula tanamannya dan sederet  peribahasa lainnya yang menkiaskan tentang indahnya perbedaan tradisi dan kebiasaan yang serba unik dan sama-sama bertujuan untuk menyambut hadirnya Bulan Ramadhan dengan penuh semangat dan keceriaan.

Begitu pula Bismillahirrahmaanirrahiim di kampung halaman saya nun jauh di Lamongan sana, di desa yang bernama Tlanak, juga terdapat tradisi yang masih terjaga sampai sekarang yaitu Megengan dan Maleman. Sebenarnya 2 tradisi untuk menyambut datangnya Bulan Ramadhan tersebut tak hanya eksis di desa saya, tapi juga jamak dilakukan di sebagian besar wilayah Jawa Timur. 

Kok tetiba nulis tentang tradisi puasa? Berasa ikutan iklan yang lagi neghits di televisi nasional saat ini. Tapi tulisan ini dalam rangka  tawaran ehh…tantangan tema LBI untuk pekan yang ke-21. Ciyeeee…dahsyatnya, LBI 2017 sudah berlangsung hampir 6 bulan ya. Meski agak terseok-seok karena drama diklat 5 bulan plus konsekuensi adanya ujian kompetensi pasca diklat, sebisa mungkin tetap berusaha hadir setor postingan di setiap pekannya . Walau, walau, walau pasif blogwalking dan 2 kali absen ngeposting tema (setelah bertahan agar bisa tutup setor 2 postingan di setiap pekannya, akhirnya keputusan untuk absen pun tak terelakkan).

Lha ini mau nulis tentang tradisi puasa atau mau curcol ya? Maapkeun, postingannya terkontaminasi dengan curhatan. Baiklah, saya akan kembali ke tema yaitu tentang tradisi puasa di desa saya, Megengan dan Maleman: Tradisi Puasa di Lamongan. Dilihat dari ritmenya bersifat setahun sekali, sama juga tradisi nyadran atau bersih desa yang biasanya digelar setahun sekali di desa saya.
Cerita tradisi puasa di LA tapi pakai image tradisi Gunungan
dalam acara Nyadran jelang puasa di Sleman
 
Kok Lamongan sih? Kan sudah tinggal di Sleman? Ya bolehlah, kan saya juga lahir dan besar di LA, make sense jika saya nulis tentang tradisi puasa yang sudah saya kenal sejak lahir hingga dewasa ini. Seain itu, untuk Sleman sudah ada perwakilan dari perserta LBI yang aseli Sleman yang menceritakan tradisi puasa di Sleman juga kok. Makanya saya ngalah saja nulis tradisi Megengan dan Maleman di Lamongan, hehehe.....

Antara megengan dan maleman, sebenarnya memiliki ritual yang serupa yaitu kondangan dan membawa pulang berkatan, hanya beda momentnya saja. Kalau megengan dilakukan sebagai ungkapan dan reminder akan datangnya Bulan Ramadhan dimana di dalamnya terdapat ibadah puasa selama sebulan penuh (selain ibadah wajib dan sunah lainnya). Sedangkan maleman dilaksanakan ketika bulan puasa sudah memasuki 10 hari terakhir, yaitu malam 21, 23, 25, 27 dan 29, selain sebagai perwujudan syukur memasuki malam 10 hari terakhir juga merupakan pengingat akan datangnya kesempatan Lailatul Qodar.

Megengan sebagai alarm, sesuai dengan arti asalnya: megeng atau ngempet, yakni menahan (diri) sebagai penanda bahwa sebentar lagi akan puasa selama sebulan penuh. Adapun pelaksanaan megengan ini biasanya pada minggu terakhir Bulan Sya’ban, dilakukan dengan cara kondangan di setiap rumah dengan mengundang tetangga. Demi ketertiban dan keguyuban, jumlah tetangga yang di undang biasanya sudah dibagi-bagi per kelompok, berjumlah antara 10 -15 rumah tangga. Jadi masing-masing rumah akan menggelar acara kondangan dengan menyediakan berkatan (nasi lengkap dengan lauk pauknya). Dalam prosesi kondangan megengan ini dipanjatan doa untuk para leluhur yang sudah meninggal, ya semacam mengirimkan doa untuk para ahli kubur (sanak saudara yang sudah meninggal). 
1 porsi spektakuler berkatan (kondangan)
Kalau masa saya kecil imut-imut dahulu, megengan dilaksanakan serentak, dimana masing-masing rumah membuat berkatan sejumlah grup kondangannya. Terbayang kan, dalam satu malam di setiap rumah akan berlimpah ruah makanan? Bagi keluarga besar, mungkin tidak terasa efek mubadzirnya. Tapi bagi yang jumlah penghuni di rumahnya sedikit, apalagi kalau kurang dari 5 orang? Ckckckck, tahulah kemana akan diberikan nasi berkatan yang bejibun? Sebagian dijemur dan sebagian dikasihkan ke ayam.

Begitu pula dengan maleman, hanya kalau maleman kuota berkatannya lebih sedikit karena yang menggelar kondangan dilakukan secara bergantian. Semisal grup kondangan ada 15 orang, maka di setiap malam ganjilnya akan ada 3 orang saja yang kondangan.

Dalam perkembangannya, tradisi megengan dan maleman ini mengalami penyesuaian demi meminimalkan kemubadziran. Seingat saya, sudah 15 tahun terakhir ini sistematika kondangannya di buat lebih efisien tanpa mengurang esensi dan tujuan pelaksanaan megengan dan maleman.
Model lainnya dari Gunungan di Sleman 
Jadi begini ilustrasinya, untuk megengan disepakati masing-masing rumah membuat satu paket berkatan saja. Secara bersama-sama akan dikumpulkan di salah rumah yang disepakati untuk dilakukan doa bersama. Nah setelah doa bersama, berkat yang di bawa kemudian ditukar, ya semacam tukar berkatan gettu deh. Sedangkan untuk maleman disepakati setipe sebenarnya, tapi beda sedikit. Kalau maleman, semisal di setiap malamnya terdapat 3 orang yang mendapat giliran untuk menggelar kondangan. Nah tiga rumah tangga tersebut membuat sejumlah kelompok kondangannya. Semidal di grup kondangannya ada 15 rumah tangga, berarti 15 berkatan di sediakan oleh 3 rumah tangga. Kemudian dikumpulkan di salah satu rumah dan mengundang sejumlah kuota grup kondangannya. Jadi masing-masing orang pulang membawa satu posrsi berkatan saja. Seru kan? Ada musyawarah dan mufaat dalam pelaksanaan maleman dan megengan.

Dan kalau mau diubek-ubek lebih banyak, sebenarnya tradisi di bulan puasa yang masih akrab dilakukan di desa saya masih banyak. Sebut saja “klothekan” yaitu anak-anak dan remaja laki-laki keliling membawa kentongan atau benda-benda lainnya untuk membangunkan sahur dengan bunyi tetabuhannya yang unik-unik. Ada pula tradisi menyalakan obor-obor kecil (sebesar lilin) di malam 29 Ramadhan, pas bedhug magrib dikumadangkan. Minimal obor kecil yang dinayakan (seingat saya) berjumlah 9, sesuai malam ganjilnya malam 29 atau malam 9. 

Sesi menyalakan obor-obor kecil ini merupakan moment yang palings aya sukai. Bahkan sehari sebelumnya kami dulu sudah heboh bikin obornya, bisa menggunakan batang lidi atau bambu yang di potong seukuran tusuk sate kemudian di bebat dengan kain. Sebelum dinyalakan obor-obor tersebut di celupkan dalam minyak tanah. Peletakan obor-obor tersebut biasanya di pintu-pintu rumah. Makin banyak obor yag dibuat otomatis makin banyak spot di rumah dan sekitarnya yang dikasih obor mini.menyala.

Tuh kan, seru dan sangat menarik kan Tradisi puasa di kampung halaman saya? Bagaimana dengan tradisi puasa di daerah Anda?


Tradisi ke Pasar Tradisional

Tantangan bagi Pasar tradisional tak hanya menghadapi kemunculan pasar-pasar modern yang lebih mencorong dari sudut pandang sarana-prasarana, management, sistem penjualan dan beberapa aspek lainnya. Tapi juga menghadapi ancaman “kepunahan” di masa mendatang bila generasi yang lahir saat ini tidak dikenalkan dengan tradisi belanja ke pasar tradisonal. Mereka Bismilllahirrahmaanirrahiim, akan lebih nyaman dan bangga kalau belanja di pasar-pasar yang modern dan merasa tidak enjoy (atau lebih parah “merasa” malu kalau harus ke pasar tradisional).

Andai sikap dan pola asuh para orang tua lebih merasa bangga bisa mengajak putra-putrinya ke supermarket, mall, dan model-model pasar modern lainnya, ketimbang membiasakan untuk berbelanja di pasar tradisional, bukankah hal ini bisa menjadi penyebab serius (kelak) pasar tradisional hanya akan tinggal dalam catatan dalam buku sejarah. 

Bukan hal yang tidak mungkin kalau generasi di peradaban mendatang hanya akan mengenali pasar tradisional secara definitif sebagai tempat terjadinya transaksi jual beli yang dilakukan secara sederhana dengan menerapkan metode transaksi tawar menawar secara langsung. Bahwa di pasar tradisional merupakan terdapat perwujudan keramah-tamahan yang efektif, dimana pembeli biasanya akan saling bersikap seramah mungkin untuk menawar dan pedagang pun melayani dengan sikap yang tak kalah ramah, walaupun mereka tidak saling kenal. Dan segala pesona indahnya pasar tradisonal akan menjadi legenda dalam cerita dalam buku.
Credit: https://www.radarjogja.co.id/
Untuk menghindari dampak tereliminasinya eksistensi  Pasar tradisional di masa-masa mendatang, memang dibutuhkan  upaya-upaya konkrit untuk melakukan pembenahan dan perbaikan infrastruktur, sarana dan prasarana sebuah pasar tradisonal tampak kinclong, rapi, bersih, dan nyaman untuk penjual dan pembeli. Dan bisa membuat para orang tua merasa PeDe, nyaman, dan semangat untuk mengenalkan dan membiasakan anak-anaknya belanja ke pasar tradisonal.

Adalah Pasar Sleman yang belum lama ini dilakukan pembenahan dengan dibangunnya unit baru yaitu lokasi pasar yang lebih baik Pasar Sleman Unit II. Pembangungan unit II ini juga dilatarbelakangi oleh kondisi Pasar Sleman Unit I yang sudah bejubel oleh banyaknya jumlah pedagang yang mencapai kisaran 1.200, sementara kapasitas hanya 800an lapak. Belum lagi area parkir yang menggunakan bahu jalan raya sehingga sepanjang haru terjadi penumpukan arus lalu lintas, terutama pagi hingga siang hari. Mengingat di sekitar pasar Sleman terletak beberapa sekolah dasar dan juga Puskesmas.

Pembangunan pasar Sleman Unit II yang sudah dinyatakan selesai di tahun anggaran 2016, di akhir Bulan Maret lalu sudah mulai dioperasionalkan. Pasar yang terdiri dari dua blok ini memiliki kapasitas hingga 741 lapak dan ratusan pedagang Pasar Sleman unit I sudah boyongan ke Pasar Sleman Unit II.

Jadi, menjawab pertanyaan LBI “ berapa kali ke pasar tradisional tahun 2017 ini?”, kebetulan kok ya baru 3 kali. Maklum kebutuhan untuk belanja ke pasar memang biasanya di rapel (tidak tiap hari ke pasar), selain itu juga sejak awal Januari sampai pertengahan Juni tahun ini saya lebih banyak di Bandung. Nah tiga kali ke pasar tradisionla itu pun saya ingat banget lho ke pasar mana saja.

Yang jelas ke  Pasar Sleman Unit II  Pertengahan Bulan April lalu, ikut ngreyen Pasar lah karena kebetulan pas long week end dan pulang ke Yogya. Tapi sebenarnya untuk ke Pasar Tradisional yang pertama di tahun ini adalah ke Pasar Baru Bandung, sekitar Bulan Pebruari lalu. Dan yang ketiga ke pasar tradisional di PPS Gresik sewaktu menengok ortu yang belum lama berselang harus dirawat di RS (Gresik).

Kalau Anda, seberapa sering ke pasar tradisional juga? Apakah suka mengajak putra – putrinya untuk ikut serta ke pasar tradisional?

Cobalah 5 Cara Mudah Ini Agar Gemar Menabung

Hidup secara irit tapi bukan pelit adalah salah satu kunci sukses agar hobi menabung dan berinvestasi untuk dunia dan akherat.

“ Bing beng bang yok kita ke bank bang bing bung yok kita nabung tang ting tung hey jangan di hitung tau tau nanti kita dapat untung, dst”Lirik lagu anak-anak yang tidak hanya enak dan renyah, tapi juga sangat bagus karena mengandung nilai nilai edukasi dan motivasi untuk gemar menabung dengan cara hidup bersahaja, secukupnya dan tidak boros. 

Menabung Bismillahirrahmaanirrahiim merupakan salah satu pesan paling utama yang disampaikan orang tua pada anaknya. Sejak kecil, kita sudah di-doktrin dengan kalimat: kalau mau kaya, jangan lupa nabung. Atau brain washing di sekolah dengan slogan “ Hemat pangkal kaya, rajin belajar pangkal pandai! “. 

Doktrin dan slogan yang sangat positif, baik dan bermanfaat, apalagi jika hal ini ditanamkan sejak kecil. Usia pun bertambah, dan manakala sudah mendapatkan penghasilan sendiri, punya gaji tetap/tidak tetap, kebutuhan pun meningkat dan semakin kompleks. Iya sih bisa dinalar kalau karena kebutuhan primer dan sekunder yang menjadi alasan belum bisa menyisakan sebagian pendapatn untuk ditabung.

Tapi, tak jarang kan karena godaan life style sehingga kategori kebutuhan yang dianggap primer dan sekunder pun mengalami pergeseran yang significant? Misalnya, gonta-ganti gadget meskipun kondisinya masih mulus baik fisik dan fungsinya. Merasa gak keren kalau pikniknya belum melancong ke luar negeri, padahal di sekitar tempat tinggal sekampiun destinasi wisata yang ciamik habis buk. Atau merasa tidak percaya diri saat outfitnya itu-itu saja sehingga merasa penting untuk belanja fashion tiap bulan. Nah lho, gimana itu? Apa iya, hal-hal semacam itu bisa jadi pembenaran kalau masih belum bisa menyisakan penghasilan bulanan untuk saving?
Sepintas menabung terlihat gampang dilakukan, padahal faktanya tidak! Menabung merupakan aktivitas yang paling sulit selain bangun pagi tentunya. Nah bagi yang sudah lama ingin menabung, namun selalu gagal karena faktor-faktor tertentu, berikut ini beberapa tips untuk mempermudah untuk menabung: 5 Langkah Mudah Membangun Kebiasaan Baik Untuk Gemar Menabung dan Berinvestasi: 

Langkah Pertama: Pancangkan Niat
Pasti sering kan mendengar kalimat: apapun tergantung niatnya atau innama a’malu bin niat. Pastinya ikrar NIAT ini juga wajib jadi pondasi dalam rangka membangun kebiasaan untuk gemar menabung dan atau berinvestasi. Karena bangunan yang kuat, salah satunya ditentukan oleh bagaimana kita membuat pondasinya maka sudah seharusnya dikokohkan dan semakin diperkuat sehungga pondasi kebiasaan menabung tak goyah meski oleh terpaan gengsi dan pengaruh gaya hidup dari arah manapun. Langkah utama dan pertama ini harus ditanamkan sedalam-dalamnya untuk menabung.

Langkah Yang Kedua: Setting Tujuan
Setelah niat sudah dilapangkan, maka langkah selanjutnya adalah menentukan dan memantapkan tujuan. Banyak orang yang gagal menabung karena tidak memiliki tujuan untuk apa menabung atau mau dialokasikan untuk apa hasil savingnya tersebut. Tanpa tujuan yang jelas, kita bisa mudah terpeleset mencari-cari alasan untuk mengambil dana yang ada di rekening tabungan. Agar kegiatan menabung bisa dilakoni dengan konsisten dan penuh komitmen, sebaiknya tentukan tujuan menabung. Kita bisa menyetel tujuan menabung untuk target berangkat ibadah haji/umrah, untuk alokasi biaya pendidikan anak-anak, pernikahan, merenovasi rumah, beli mobil untuk kelaurga dan hal-hal lainnya yang bersifat not just for consumption (hedonis). 
Kalau NIAT adalah pondasi, maka tujuan merupakan ‘grand plan’ atau peta yang akan membawa kita meniti arah yang benar dalam menabung untuk hidup yang lebih bermanfaat.
Langkah Ketiga: Redesign Definisi “Menabung” 
Perlu dipahami, konteks menabung secara konvensional dimana kita menyetor sebagian penghasilan ke rekening tabungan reguler secara actual (saat ini) bisa dibilang sama saja dengan menaruh uang di celengan, bahkan bisa-bisa defisit karena biaya operasional bulanan. Maka, untuk konteks menabung yang sifat akan dipergunakan untuk tujuan tertentu, akan lebih optimal tingkat keberhasilannya (baik hasil nominal maupun tingkat konsistensi mengalokasikan penghasilan  untuk saving) jika dipilih produk investasi seperti reksadana atau asuransi yang sifatnya linkage (asuransi plus investasi atau investasi saja). Manakala hasil investasi sudah mencapai nominal tertentu akan digunakan untuk merealisasikan belanja tujuan. Galau dengan hal-hal yang berbau riba? Saat ini sudah banyak produk investasi yangberbasis syariah, tinggal pilah dan pilih saja mana yang cocok dengan tujuan/target menabung dan yang sesuai dengan kemampuan menyetor penghasilan yang akan di saving

Langkah Keempat: Memilih Sistem (Penjadwalan) Setor Tabungan 
Banyak cara yang bisa digunakan agar kita bisa ajeg menyisakan pendapatan bulanan untuk disetor ke rekening tabungan (investasi). Salah satunya adalah dengan mengadopsi sistem tanggalan. Apa itu sistem tanggalan? Sistem ini pada dasarnya mengharuskan kita untuk menabung sesuai dengan tanggal. Misal nih, pada tanggal 1 harus menabung sebesar seribu rupiah, tanggal 2 dua ribu rupiah, tanggal 3 tiga ribu rupiah, dan seterusnya hingga tanggal 30. Cara ini tidak hanya membuamu untuk lebih mudah menghitung uang tabunganmu namun juga melatih kedisiplinanmu. Nah setelah tanggal 30, pastikan uangnya di setor ke rekening tabungan yang diperuntukkan sebagai investasi. 

Selain itu, ada juga metode yang lebih “disiplin” yaitu cara autodebet. Tak masalah kalau semua income masuk ke dalam rekening tabungan, yang penting sudah memiliki rekening untuk investasi yang dananya disetor secara reguler dengan sistem autodebet dari rekening utama yang dimiliki. Cara autodebet ini bisa lebih efektif mencegah kita tergoda oleh rayuan belanja-belanja karena sisa uang cair (saldo) di rekening tabungan nilai nominalnya ya kira-kira untuk kebutuhan operasional harian dan kebutuhan mendadak yang tidak terlalu besar jumlah pengeluaran yang diperlukan.  

Langkah Kelima: Irit Dengan Diskon
Masih merasa garing karena tidak bisa obral sana-sini berbelanja? Santai saja, ada cara lainnya agar bisa keukeuh memegang kebiasaan untuk menabung yaitu memanfaatkan diskon. Diskon ini memang terdengar sepele, namun efeknya sangat besar untuk niat menabung dan investasi. Misal nih, biasanya membeli pakaian tanpa diskon, agar bisa beli baju baru tanpa baper karena gaji/penghasilan sudah dipotong oleh si rekening tabungan secara autodebet misalnya,  sebaiknya mulai deh jangan gengsi untuk membeli pakaian dengan diskon. Kalau kesulitan mendapatkan produk-produk dengan diskon di mall, kenapa tak dicoba mencari lewat online. Taraaaa…..salah satu diskon yang bisa dimanfaatkan adalah diskon Blibli. Apalagi di tahun 2017 ini, Bibli semakin genjor-genjoran dengan diskon Blibli 2017 yang bisa dilihat baik di situs Bibli maupun pada sumber-sumber lainnya.

So, gimana? Tidak sulit untuk menabung dan berinvestasi kan? Kalau sudah biasa rajin menabung dan berinvestasi untuk tujuan duniawi, maka bukan hal yang berat dan memberatkan jika sekaligus diiringi dengan berinvestasi untuk hidup sesudah kehidupan yang sekarang kan ya? 

Semangattt dan selamat menabung dan investasi untuk dunia dan akherat yaaaa..…



Note: Sponsored Post

Sekilas kisah saya dengan koneksi internet

Siapa yang tak butuh atau tak ingin koneksi internet yang prima tapi harga yang bersahabat nan ramah? Terlebih, semakin kesini dan kekinian menghadirkan pernak-pernik yang terhubung oleh media digital tersebut. Menggunakan internet bukan lagi sekedar untuk kirim email dan atau browsing literatur. Lantas, bermunculan sebuah pertanyaan klasik dan asyik, provider apa yang bisa mensupport kebutuhan akan layanan internet yang bisa diajak bermultitasking ? 

Kebutuhan saya mengakses internet sehari-hari menurut  ukuran  saya ya “hanya” biasa-biasa saja. Saya tidak suka game online. Saya jarang streaming secara online. Aktifitas mengakses internet yaitu Bismillahirrahmaanirrahiim untuk chatting ( paling intens via WA, sesekali nimbrung di Telegram), bersocial media ( Instagram, FB, Twitter, Linkedin), buka (jarang-jarang) Youtube (sekedar upload kalau punya content yang sekiranya menarik untuk ditayang di Youtube), blogging (untuk blogwalking, edit postingan jika diperlukan revisi), browsing (artikel, berita, PR sekolah).

Gambaran singkat yang saya paparkan di atas sebagai  bagian pola hidup yang saya jalani menjak kenal dan menjadi akrab dengan internet. Sepintas terasa “hanya” sedikit frekuensi mengkases jalur internet, tapi ternyata kalau di akumulasi, bisa berjam-jam juga totalnya dalam sehari. Lantas, Operator favorit yang saya gunakan apa ? 
Sejujurnya, tidak ada operator (provider) internet yang sedemikian rupa high perform and low budget. Dari sederet penyedia jasa layanan internet yang semuanya memiliki keunggulannya masing-masing dan saya pun cukup memilih operator yang sekiranya jaringannya lancar dengan harga yang terbaik.

Telkomsel, Indosat (M2 dan M3), XL, dan Tri, adalah nama-nama brand penyedia layanan internet yang pernah saya gunakan. Standar acuan dalam memilih dan menggunakan ya yang koneksinya lancar untuk digunakan dirumah dan harganya murah maksimal. Kalau untuk opsi  jaringan internet 4G, 3G atau 2G, semenjak ada 4G,  kebetulan HP juga bisa 4G plus di area tempat tinggal pun tersedia jaringan 4G, ya tentulah kalau beli paket data yang kuota 4G lebih banyak dibandingkan yang 3G dan 2G. 

Artinya, penggunaan kuota internetnya memiliki jangka waktu aktif yang lebih lama. Bukan yang masa aktifnya habis tapi kuotanya masih ada dan hangus. Makanya, kenal adanya si Tri dan hingga sekarang saya masih merasa cukuplah menggunakan pakaet data internetnya, lebih sreg dari segi harga, masa aktif paket data dan performa jaringannya di tempat tinggal saya. 

Selain Tri, saya pernah lama menggunakan M2. Saat M3 meluncurkan paket data, saya pun  beralih pilih paket data internet M3 saja karena memiliki durasi masa aktif yang sama. Untuk paket data internet dari Telkomsel dan XL pernah juga memakainya tapi hanya untuk sekali pakai saja (tidak sampai berlangganan). Just in case seperti waktu heboh PUPNS itu, kan mengalami susah login karena mungkin web yang dituju kebanjiran visitor. Jadinya ya saya beli paket data dari Telkomsel khusus untuk kejar tayang agar bisa sukses login ke web PUPNS dan melakukan registrasi.

Kalau ditanya mengenai tantangan koneksi internet, selama ini yang masih jadi tantangan dalam menggunakan internet ketika long trip seperti mudik. Rute mudik saya sekeluarga adalah Yogyakarta - Jawa Timur ( tepatnya Bojonegoro dan Lamongan). Selama perjalanan yang sekira 8 - 9 jam itu, terdapat beberapa zona yang kualitas jaringan internetnya bisa bikin baper. Kalau dalam situasi normal dan tidak ada hal yang urgent, oke sajalah lost connection internet. Anggap saja "libur" sejenak mengakses aplikasi online. Tapiiiii, kalau situasinya lagi butuh banget terhubung dengan internet, contoh sederhananya butuh GPS karena tetiba harus menyempatkan ke suatu destinasi yang masih baru. Kebayang kan kalau lost connection saat kita berada di antah berantah, hanya tahu arah barat,timur, selatan dan utara? Mau tak mau ya kudu tanya secara manual pada orang yang ditemui selama perjalanan tersebut.

Demikian sekilas kisah saya dengan koneksi internet, tentang Operator favorit, Operator yang digunakan, Internet, pilihan jaringan internet tertinggi (4G,3G atau 2G), Harga operator dan Pilih murah atau mahal, serta tantangan koneksi internet. Nah, bagaimana dengan cerita anda bersama pilihan koneksi internet yang digunakan?


5 Manfaat Penting Coworking Space Bagi Blogger

Secara definitif, Co-working space saya artikan sebagai sebuah tempat yang difungsikan sebagai ruang kerja dimana sekumpulan orang berada ditempat tersebut untuk melakukan aktifitas profesi (pekerjaan).

Orang-orang yang menggunakan working space ini bisa individual maupun komunitas. Adapun tempat yang difungsikan sebagai coworking space ini secara kasat mata ya tampak seperti suasana cafe dengan para pengunjungnya memiliki orientasi "menghasilkan sesuatu" bukan sekedar spending time  untuk menikmati kulineran atau fun time. Pada umumnya mereka adalah orang-orang yang berkarya dan bekerja dengan ritme kerja dan jadwal yang dinamis, tidak seperti pegawai kantoran yang terikat dengan jadwal dan durasi waktu bekerja.

Dari segi fasilitas, co-working space ini dilengkapi dengan ruang untuk gadget (dengan fasilitas jaringan), management room, ruangan pribadi, ruang rapat, toilet, mushola, dan tentunya si cafe itu sendiri.

Kehadiran coworking space ini, bisa dibilang memiliki latar belakang yang serupa dengan perkembangan Fintech yaitu karena potensi pengguna internet di Indonesia yang meningkat secara significant dari tahun ke tahun. Maka muncullah start up yang segmentasinya menyediakan "kantor" bagi komunitas yang pola kerjanya dinamis alias mandiri dalam mengatur waktu, pola dan target (hasil) kerjanya. Alhasil, pengguna coworking space ini memiliki latar belakang profesi/aktifitas yang heterogen.
So, jika ditanya apakah Blogger Perlu Memanfaatkan Co-working Space ini?
Credit
Secara personal, saya berpendapat bahwa blogger perlu memanfaatkan co-working ini. Walaupun aktifitas ngeblog  memang bisa dilakukan dimanapun dan kapan saja, tapi bukan ide yang berlebihan kan kalau blogger melakukan aktifitas bloggingnya di co-working space ini. Toh, tidak ada keharusan untuk setiap hari duduk manis di coworking space. At least, blogger yang sistem kerjanya "free style" bisa juga melengkapi ritme bloggingnya ala orang kantoran atau pekerja yang memiliki jam kerja tertentu.

Bagi blogger yang kerap mendapat pertanyaan: tempat kerjanya dimana? Nah coworking space ini bisa jadi jawaban yang tockcer deh.

Lebih dari sekedar gegayaan untuk menjawabi pertanyaan orang - orang yang kepo denganm pekerjaan blogger, setidaknya ada 5 Manfaat Penting Coworking Space Bagi Blogger, antara lain:
  1. Bersosialisasi dan memperkuat sikap toleransi melalui kebersamaan sebagai sesama member coworking space (tersebut). Hal ini sangat niscaya karena pengguna coworking space kan terdiri dari orang-orang yang memiliki multi variabel (usia, skill, ras, suku, profesi, dll).
  2. Membangun networking, baik sesama blogger maupun lintas profesi.
  3. Menambah wawasan dan meningkatkan capability diri melalui interaksi intens yang terjadi secara mutualisme.
  4. Injeksi untuk berinovasi dalam berkarya.
  5. Sarana sharing informasi dan diskusi yang masif.
5 manfaat yang saya sebutkan di atas, sebenarnya ya manfaat yang simultan sih. Dan tentunya masih banyak manfaat positif yang bisa diperoleh dengan memanfaatkan co-working space. 

A New  (good) community will bring a new lesson, enrich experience, achieve  acknowledgement and many benefits other else.

Tentunya, manfaat luar biasa tersebut bisa menjadi sumber daya untuk melahirkan karya-karya kreatif yang lebih baik.

Untuk area Yogyakarta, coworking space yang sudah existing adalah Jogja Digital Valley (www.jogjadigitalvalley.com), yang  diresmikan 21 Agustus 2013, yang beralamat di Jalan Kartini nomer 7, Sagan, Yogyakarta. Dengan adanya Jogja Digital Valley ini diharapkan bisa meningkatkan hubungan simbiosis yang mutualisme bagi pelaku industri kreatif seperti pengembang games, edutainment, music, animation, dan content kreatif lainnya yang berada di Yogyakarta dan sekitarnya khususnya.

Siapa saja bisa menjadi anggota Jogja Digital Valley ini dan pendaftarannya gratis lho. Catet ya, Jogja Digital Valley ini memiliki 'jam kerja' juga, jam 09.00 WIB - 20.00 WIB, setiap hari Senin sampai Jum'at dan hari libur juga libur deh. Penasaran dan ingin tahu banget lebih banyak tentang Jogja Digital Valley, klik saja www.jogjadigitalvalley.com yaa.

Dan selamat mengembangkan potensi diri dan mengambil peran untuk menyuplai content creative yang positif dan edukatif.