WHAT'S NEW?
Loading...

Ini [Bukan] Review Film Beauty and The Beast

Film Beauty and the Beast ini bisa dibilang bagus dari cara pembuatannya. Mulai awal hingga akhir film, penonton dimanjakan dengan dekorasi  dan kostum yang menawan ala jaman kejayaan Kerajaan di Perancis, tatanan koreografi musikalnya  ciamik.  Latarnya cerita pun sangat glamour, menunjukkan kelas  produksi dengan dana yang tidak tanggung-tanggung. Terutama pada desain arsitektur  untuk Kastilnya si The Beast yang memeiliki interior sangat detail (membuat saya terbawa merasa “berada” di masa  yang sama). Selama film ini ditayangkan pun rasanya tak ada yang biasa-biasa saja, romansa di masa kerajaan (tempo dulu) berhasil dihidupkan dalam film yang diproduksi oleh Disney ini.

Tapi kenapa ada nada hambar dalam prolog yang saya buat ya? Bismillahirrahmaanirrahiim Ini [Bukan] Review Film Beauty and The Beast, sekedar curhat saja kok. Setelah ke sekian kalinya nonton film, kenapa baru kali ini saya tertarik untuk menuliskannya di blog? Kalau mau saya jawab “efek” expectation yang jauh dari  kenyataan ? Ya kurang pas juga, lha ini bukan film pertama yang bikin saya berkomentar: jalan ceritanya cenderung datar dan mudah ditebak.

Abaikan keheranan tersebut, karena saya juga heran. Lanjut pada sekuel cerita si Beauty and The Beast saja ya?

Film ini mengambil latar cerita di Perancis kala masih berbentuk kerajaan (pertengahan abad 18), ketika di tengah badai salju, datang seorang pengemis (yang sebenarnya penyihir) ke Istana untuk menghangatkan diri dengan menawarkan setangkai bunga mawar merah agar bisa berteduh dari salju dan menghangatkan diri. Berhubung sang Pangeran menolak dan bersikap arogan, penyihir yang bernama Agathe (diperankan oleh Hattie Morahan) murka dan memantrai sang pangeran sehinggaberubah jadi sosok buruk rupa dan menyeramkan (tapi tidak seram banget kok). Beserta semua staf istana juga dikutuk (kasihan ya?) jadi berbagai jenis benda seperti teko, cangkir, lemari, piano, lampu, cantholan jas, sapu, lampu, dan lain sebagainya. Pun eksistensi kerajaan itu dihapus oleh sang penyihir dari ingatan penduduk di wilayah tersebut.
Rview Film terbaru
Credit lupa moto posternya, hiks:(
Tapi sepertinya sang penyihir ini bukan tipe penyihir jahat seperti di Film Snow White kok. Lha buktinya, si Pangeran yang sudah jadi the beast itu diberi cermin ajaib sebagai alat untuk melihat kejadian yang sifatnya futuristik (ramalan). Selain itu, dia juga menyerahkan sekuntum mawar  dan memberitahukan kalau mantra kutukannya bisa dipatahkan jika sang pangeran sudah menemukan cinta sejatinya. Syaratnya hampir selalu mirip dengan cerita-cerita fairy tail lainnya: efek mantra sihir bisa dinetralkan jika menemukan cinta sejati  (sesuai usia tokoh alam cerita). Bahkan cerita Fozen juga harus menemukan cinta sejati  kan? Hanya aktualisasinya (ending) cinta sejati yang dimaksudkan adalah cinta antara kakak-adik.

Sekuel selanjutnya adalah sosok si Beauty-nya, Belle yang diperankan oleh Emma Watson.  Belle kan ditokohkan sebagai gadis yang cantik tapi kurang disukai warga karena kegemarannya  membaca buku  (kutu buku). But, but…..meski demikian tetap ada yang tergila-gila sama Belle ini yaitu Gaston (diperankan oleh Luke Evans),  pria idaman para wanita, tapi sama sekali tidak membuat Belle kepincut tuh.  

Lha iyalah, ceritanya kan Belle berpsangan sama si the beast-nya. Pertanyaannya, bagaimana the beauty and the beast bisa ketemu?

Yups, adalah Pak Maurice (ayahnya Belle) yang tersesat karena dikejar-kejar serigala kelaparan hingga sampai di kastilnya the beast. Karena badai salju, Maurice pun berniat numpang berteduh di kastil yang ditemuinya. Begitu masuk ke kastil, dia menjumpai banyak hal-hal aneh yang membuatnya  ketakutan lari meninggalkan kastil. Setelah merasa aman dari keganjilan isi kastil, ujug-ujug Pak Maurice ini melihat tanaman mawar dan teringatlah akan janjinya untuk membawakan Belle  bunga Mawar. Maka tanpa pikir-pikir 1000 kali, Pak Maurice memetik setangkai mawar putih. Pas banget di saat itu muncullah si the beast menggagalkannya dan kemudian mengurung ayahnya Belle di kastil sebagai hukuman karena (akan) mencuri bunga mawar.

Nah, tentunya Belle tidak tinggal diam ketika tahu Phillipe, kuda tunggangan ayahnya pulang ke rumah sendirian. Secepat kilat, Belle pun memacu Phillipe untuk mencari ayahnya. Sebagai anak yang penuh bakti pada orang tua dan karena rasa sayangnya pada sang ayah, Belle pun menggantikan posisi Pak Maurice jadi tawanan si the beast.

Demikianlah, chemistry saling tertarik dan hukum low of attraction pun mulai berlangsung semenjak Belle jadi tawanan di kastil tersebut. Terlebih para staf the beast yang sangat yakin dan gigih meyakinkannya kalau Belle-lah the one yang dimaksudkan oleh sang penyihir. Keakaraban antara beauty and the beast ini semakin intens manakala si the beast menyelamatkan Belle dari sergapan Serigala (ketika Belle berencana kabur dari kastil). The beast yang terluka pun dirawat dengan penuh perhatian oleh Belle. Mereka pun berteman dan semakin akrab.

Pada bagian mulai terjalin keakraban ini, the beast mensupport Belle untuk mencari tahu masa lalu tentang ibu kandungnya yang selama ini dirahasikan oleh Maurice.

“ Pikirkan salah satu hal yang selalu kau inginkan. 
Lihatlah di Mata hatimu dan rasakan di dalam hatimu.” 

Kurang lebih demikian kalimat motivasi the beast untuk Belle, dan tibalah secara magic mereka berdua di Paris, rumah Belle kala masih bayi. Disana Belle akhirnya tahu jika ibunya terpaksa mengakhiri hidupnya akibat suatu terkena suatu penyakit (kayaknya tidak bisa disembuhkan) dan berpotensi  menular. Demi melindungi anaknya, sang ibu meminta suaminya membawa Belle pergi jauh dan dirinya mengakhiri hidup dengan minum racun.

Then sotry goes on, the beast pun mulai fall in love sama Belle tapi tidak mendapatkan respon seimbang. Belle lebih merasa jadi tawanan dengan berada di kastil tersebut. Hingga akhirnya the beast meminjamkan cermin ajaibnya agar Belle bisa mengetahui keadaan ayahnya.

Dari cermin tersebut, Belle melihat ayahnya digiring oleh genk-nya Gaston hendak di bawa RS Jiwa karena di fitnah oleh si Gaston kalau apa yang  diceritakan Maurice tentang sosok buruk rupa yang tinggal di kastil hutan dan telah menawan Belle hanyalah halusinasi Maurice saja. Di saat yang genting itu, Belle pun sampai di desanya. Dengan cermin ajaib yang yang dibawanya, Belle meyakinkan penduduk bahwa apa yang diceritakan oleh ayahnya bukan cerita bohong.

Ya sudah deh, Gaston pun merebut cermin yang di bawa Belle dan memprovokasi penduduk desa untuk meyerang kastil. Dalam duel pertarungan dengan Gaston, dengan tipu muslihat Gaston berhasil mencederai the beast sangat parah hingga (sepertinya) mati.

Cerita selanjutnya bisa ditebak kan, the beast gak jadi mati karena Belle menyatakan cintanya. Agathe, sang penyihir pun mencabut mantra sihirnya sehingga si the beast berubah wujud menjadi pangeran tampan. Begitu pula para staf istana, semua kembali pada wujud manusianya. Keadaan kastil pun pulih dong jadi istana yang sangat indah dan penduduk desa yang aslinya rakyat dari kerajaan tersebut mendapatkan ingatannya kembali akan keberadaan istana (kerajaan) dimana mereka tinggal.

As ussually, happy ending ever after like others fairy tale.
Dilihat dari dominannya scene tari dan musik yang mirip-mirip film India itu, makanya Film Beauty and the Beast in digolongkan dalam film fantasi musikal. Secara alur cerita, bisa dibilang tidak berbeda jauh dengan versi animasinya ( 1991) yang sedemikian fenomenal  dan  dinobatkan sebagai nominee Best Picture Oscar. Para pemainnya juga bintang-bintang ternama, seperti  Dan Stevens, Emma Watson, Luke Evans, Emma Thompson, Kevin Kline, Josh Gad, Ewan McGregor, Audra McDonald, Ian McKellen dan sederat nama yang sudah cukup tenar lainnya di Holywood.
Selain karena faktor “sejarah” kesuksesan pada versi animasi dan sederet bintang terkenal tersebut, tentu saja publikasi dan pemberitaan yang gencar sejak rencana hingga proses produksi film ini yang membuat saya tergoda oleh penasaran  dan kebetulan pas ada kesempatan buat reramean nobar sama teman- teman diklat kemarin.

Hanya saja, jika memang Anda berniat menonton film ini sebaiknya jangan terlalu berharap akan menemukan “letupan-letupan”  cerita seperti  Prince Kaspian, The Huntsman, dll. Secara  visual, oke sih tapi kurang diimbangi dengan kedalaman cerita sehingga berasa kita melihat pentas drama dan tari. Dair aspek menghibur, cukup kok menghibur karena ceritanya yang tipe flat sehingga kita tidak terdampak untuk berpikir akan gimana-gimana cerita selanjutnya. Penonton juga tidak perlu kuatir akan di “hantui” sampai berhari-hari selanjutnya kayak lihat LOTR, The Doctor Strange, The Mummy  *ngalntur pwoll, lha jenis filmnya kan memang beda buangetttss*

After all,
Meskipun film ini dilabeli layak untuk anak-anak remaja (13 tahun ke atas) tapi menurut saya lebih layak kalau 17 tahun ke atas saja karena di ending cerita ada adegan yang harusnya di sensor untuk anak-anak. Tapi galau banget pas kemarin nonton, lha bahkan ada beberapa penonton yang membawa anak-anaknya usia di balita lho? Bahkan ada yang  kisaran usia 1 tahun. Heran kan, kok pihat stuido mengijinkan penonton yang membawa masuk anak-anak usia balita/batia. Lebih heran lagi sama ortunya deh,  ya masak iya demi image ortu kekinian sampai  abai memperhatikan kelayakan usia anak-anaknya untuk diajak nonton film (di bioskop).

Sudah, segitu saja tulisan [Bukan] Review Film Beauty and The Beast ini.

1 comment: Leave Your Comments

  1. Iya sama. Waktu saya nonton juga banyak balita. Sebelum film dimulai ada trailer film Danur ada yang nangis dan minta pulang :D

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.