WHAT'S NEW?
Loading...

Pengalaman Pertama : Petualangan (Bonek) ke Bromo

Blogwalking, mampir sana-sini….kemudian pada sebuah shoutmix (lupa kala itu dari shoutmix blog sapa ya….hayoo ngaku punya sapa..* LHOH?*) klik pada ID tamu Una….landing sukses pada posting My first GiveAway:Pengalaman pertama, pengalaman pertama apa saja boleh. yang terlintas pertama kali: follower saja dulu (habis ide spontanitasnya belum muncul mau ikut Giveaway cerita tentang apaan ya…) Setelah beberapa hari mengobrak-abrik isi memory otak….tarrraa…terpilihlah Pengalaman pertama: berpetualang ke Bromo One night stand. Tapi firstly, sebelum menimbulkan definisi sayap kiri (negative) tentang frasa “One night stand” maka kuperjelas dulu batasan dan definisinya ( cieee…sok nulis karya ilmiah deh, xixixixiiii….). Maksud frase tersebut adalah aku dan teman-teman begadang semalaman. So, yukk kembali pada my first story……

Sebenarnya peristiwanya sudah luuuaamaa (saking lamanya neh) banget, saat masih kuliah. Kupilih kisah tersebut karena banyak pengalaman yang serba pertama dalam petualangan Bonek ke Bromo, jadi menurutku ceritanya lebih menarik ketimbang cerita cinta pertama(ku)….hehehe *kumat lebay-nya*. Ceritanya berawal dari idenya Susan, waktu hari teakhir UAS. Begitu keluar dari ruangan, karena shock ternyata soal Perencanaan Alat menyimpang jauh dari prediksi “ biar gak stress, main ke Bromo yukk…”  ucap Susan dengan spontan. Yang langsung di sepakati oleh Lilik, Faida, Surya dan Muji. Sedangkan aku mikir MODE ON karena sadar diri sedang krisis total. Tapi tak berapa lama aku juga tunjuk jari untuk ikut setelah Lilik bersedia memberikan dana talangan (lunak= baru aku bayar jika honor aku ngajar privat cair….sstt, rahasia neh)
3rd visit capture from Penanjakan
khirnya di sepakati (singkat cerita neh untuk proses preambule’nya…), kami berangkat ber-8, ada teman cowok yang bersedia untuk jadi bodyguard ( namanya Rifai tapi akrab di panggil Pa’I, kagak tega dia melihat kami berlima cewek semua ke Bromo). Tak lupa Pa’i juga mengajak 2 teman cowok lagi dari teman kuliahnya di kampus satunya (Pa’I ambil double degree ~ 2jurusan berbeda dari 2kampus yg berbeda juga). Skenarionya: Rental mobil dan drivernya gantian biar ongkos sewanya lebih murah. Pokoknya paket hemat sehemat-hematnya deh, itu isi perjanjian kami. Bondo nekad tapi slamet….
Kami berangkat jam sekitar jam 9 malam dari Surabaya, sampai di Gempol Susan nylethuk “ perlengkapan mobilnya sudah di check waktu ambil dari rental tadi?”. Hemmm, baru kali ini aku tahu kalau bawa mobil harus dipersiapkan detail perlengkapannya gitu…(hehehe…ndeso ya aku?). Langsung deh menepi dari jalur Tol untuk melihat perlengkapan emergency mobil: dongkrak, ban cadangan dll. Hasilnya NIHIL…. !  “ Lanjut apa balik Surabaya nih?”. Tanpa ada keraguan kami pun sepakat : Bismillah lanjuuttt….
Sepanjang perjalanan kami tetap berusaha riang gembira, nyanyi-nyanyi sekenanya atau cerita-cerita yang lucu-lucu. Nyanyian akan berubah jadi rangkaian dzikir tiap kali menempuh rute yang kanan – kirinya jurang atau jalan yang sempit dan harus berpapasan dengan mobil dari arah depan.
Tampang Bonek di Bromo
Sampai di tempat tujuan sekitar tengah malam, udara dingin bukan kepalang. Kami semua begadang di parkir bersama para rombongan lain yang juga begadang. Syukurlah ternyata banyak juga yang style backpacker …Jadi tetap seru meski harus menahan kantuk dan dingin menunggu waktu untuk naik ke Bromo. Tapi lumayanlah ada yang menyalakan api unggun, jadi masih bisa menghangatkan diri sambil ngobrol dengan style sok kenal dan sok akrab dengan orang-orang di sekitaran api unggun…Sepanjang malam tidak tidur, berada di alam terbuka bersama orang-orang yang tidak di kenal: First moment neh, bathinku
Sekitar jam 2 dini hari semua orang yang ada di parkir mobil sudah heboh untuk berangkat. Hampir semuanya jalan kaki karena kondisi mobilnya tidak memungkinkan untuk menempuh medan yang off road. Tapi bagi yang memang niat berwisata tentu akan pakai jip hardtop atau naik kuda. Tapi bagi para backpacker dan yang sengaja ingin berpetualang di alam akan memilih jalan kaki. Begitu pula dengan rombonganku yang modal nekad full. Gimana tidak nekad, wong ternyata di antara kami gak ada yg bawa senter untuk penerangan dalam menempuh rute ke Bromo (sehingga kami jadi follower rombongan yang di depan).  Rute yang harus dilewati adalah lautan pasir yang luasnya mencapai 10 km², area gersang yang dipenuhi pasir dan hanya ditumbuhi sedikit rumput-rumputan yang mengering dengan tiupan angin yang membuat pasir berterbangan dan dapat menyulitkan kita bernafas. !
Sesuatu yang baru juga bagi kami menempuh medan yang terjal dan curam serta lumayan jauh jaraknya dengan berjalan kaki pakai sandal jepit lagi, sudah bisa di duga yang cewek selalu ada yang (gantian) minta berhenti karena kelelahan. “Eh, kalau kelamaan berhenti nanti kita bisa salah arah lho..tuh yang bawa lampu udah mau hilang cahayanya…..” kalimat ini yang jadi andalan Pa’i dan 2 temannya untuk membuat kami yang cewek ini bergegas bangkit untuk meneruskan perjalanan. “ Masih kurang berapa lama neh…?” tanyaku pada salah satu teman Pa'i (sebelum berangkat pa'i meyakinkan jika salah satu temannya sudah pernah ke Bromo). Jawaban yang sangat meyakinkan pun kudapatkan “ Lihat nyala lampu di sana kan...”. kemudian baru ku tahu jika jawaban tersebut itu hanya penenang saja karena begitu nyala lampu yang dia maksud terdekati ternyata lampu ternyata tempatnya penjual makanan atau minuman hangat dan perjalanan pun masih berlanjut dengan melewati lampu penjual-penjual berikutnya. magic juga jawabannya karena serasa punya tenaga baru, hehehe.. Setelah perjuangan panjang dan melelahkan serta entah berapa kali berhenti untuk ambil nafas…Alhamdulillah kami sampai juga di Bromo. 
3rd visit Bromo: capture dari atas Bromo
Tapi tunggu dulu, kami masih harus menaiki tangga yang jumlahnya mencapai 250 anak tangga untuk sampai ke puncak Gunung Bromo. Ibaratnya perjalanan tinggal “selangkah” untuk bisa sampai puncak Bromo, kami pun berjuang untuk bisa sampai ke atas Sesampainya di puncak Bromo yang tingginya 2.392 m dari permukaan laut, betapa banyaknya orang yang sudah berjajar dan ramainya sudah mirip di pasar, sambil menunggu sun rise, kami gantian sholat shubuh pertama di atas gunung. Rasanya benar-benar luar biasa syahdu dan membuat diri benar-benar merasa makhluk yang kecil (jadi down to earth gitu deh). Dalam suasana masih gelap, Pa’i menyalakan korek mau melihat skala thermometer yang di bawanya. Kami semua ketawa, gak nyangka kalau Pa’i malah lebih ingat bawa thermometer ketimbang lampu penerang. Hahahahaaaa…
Pa'i nampangin Thermo'nya (backgroud gunung Batok)
Bahkan kami tetap merasa excited meskipun pada akhirnya sun rise malu-malu di balik awan karena cuaca yang tidak mendukung (langit berawan kala itu). 
Detik-detik Sun Rise: cuacanya mendung:(
Dan kami juga tetap bisa tertawa manakala temannya Pa'i bikin pengakuan kalau sebenarnya dia juga belum pernah sampai naik ke Bromo. Nah Lhoh???. Kemudian kami baru tahu juga (hasil dari perbincangan dengan sesama pengunjung yang ada di Bromo) kalau view yang bagus untuk melihat sun rise dengan keindahannya yang memiliki sensasi tersendiri adalah dari Penanjakan, dimana  Kita akan merasa berada di atas awan dengan melihat kabut di bawah menari-nari diatas Gunung Bromo serta Puncak Semeru juga kelihatan dari kejauhan membelakangi Bromo
Nyempetin mejeng sama bule kece:)
 Jadi habis turun dari Penanjakan mestinya baru menuju ke bromo untuk melihat pemandangan kawahnya. Karena sudah ada di puncak Gunung Bromo, kami pun tidak buru-buru untuk turun, melihat langsung kawah yang sedikit berbau belerang serta sepuas-puasnya menikmati  Indahnya Pemandangan di bawah berupa lautan pasir yang menghampar luas (yang kala berangkat kami arungi dalam suasana gelap gulita).  

Numpang istirahat di gerbang pura:)
Dan Pura Hindu berdiri dengan anggun di kejauhan kaki gunung. Kuda-kuda yang parkir menunggu penyewanya juga menambah keindahan pemandangan. Di sebelah Gunung Bromo juga bisa dilihat Gunung Batok yang terlihat seperti bentuk batok berlapis raksasa karena bentuk gunungnya seperti berlapis-lapis.

Namanya pengalaman pertama ke Bromo bersama orang-orang yang baru pertama kali juga ke Bromo. Kalau di ceritakan lebih detail (semua kejadian-kejadian lucu plus konyolnya) bisa lebih panjang lagi tulisan ini. Yang penting kami tetap bisa menikmati secara maksimal perjalanan ke Bromo ini dengan hati riang gembira meski modal Bonek. Tidak hanya cerita lucu dan hal-hal di luar dugaan yang (luar biasa) menambah lembar kenangan dan mengkayakan integritas diri, tapi juga pembelajaran langsung pada praktek bagaimana kita bertoleransi, saling perduli dan mendukung pada teman juga pada orang lain (meskipun kita belum mengenalnya) yang ada di sekitar kita.  
 "hujan sepanjang tahun" sebelum Madakaripura
Dan masih ada bonus dari perjalanan  ini yaitu ketika pulangnya masih sempat mampir dulu ke air terjun Madakaripura (mengingat waktu rentalnya masih tersisa banyak jadi di optimalkan deh pemakaian mobilnya). Sayangnya foto-foto yang kami ambil banyak yang tidak bisa di cetak (blank hasilnya). Awalnya kami mengira karena kamera yang eror/rusak terkena area “hujan sepanjang tahun” yang baru kami lewati. Belakangan baru aku tahu dari hasil saling berbagi cerita, ternyata di lokasi air terjun Madakaripura memang susah untuk di ambil Fotonya. Percaya atau tidak, silahkan di buktikan ya guys….


" Entry ini diikutkan pada GiveAway corat.coret.una oleh Sitti Rasuna Wibawa "

Note:
  • Foto-foto yang tampil merupakan hasil scan karena hasil jepretan ke Bromo kali pertama masih  menggunakan camera non digital (pinjam lagi, hehehee...)
  • Foto-foto hasil capture ke Bromo dari kunjungan ketiga sengaja aku tambahkan untuk melengkapi ilustrasi agar lebih ‘hidup’ deskripsi Bromonya. 
  • MOhon maaf jika ada salah ketik atau salah penyusunan kalimat…DEngan senang hati menerima saran dan kritik Kok

64 comments: Leave Your Comments

  1. Hihi udah liat duluan sebelum didaftarkan :p

    ReplyDelete
  2. Mbak aku nanya dong, emang itu tahun berapa pertama ke Bromonya? kok fotonya kayak dah jadul gitu~ wkwkwk...

    Terimakasih ya mbakkk segera kucatat :)

    ReplyDelete
  3. fotonya pada saat itu masih belum ada digital ya,, thn 98an itu kan, hehe

    ReplyDelete
  4. Wow,,,,,, ternyata jalannya juga sudah bagus ya mbak. Kapan ya bisa kesana hehe

    ReplyDelete
  5. Ternyata komen mbak masuk spam tadi, hihihi~

    ReplyDelete
  6. @Sitti Rasuna Wibawa: Wah? Masuk SPAM? Lola di sini, proses posting hingga selesai Up load hampir sejam td Mbak. hiks:(.. btw, perlu daftar lagi ta?

    ReplyDelete
  7. @Sitti Rasuna Wibawa: pas (mBonek) pertama ke Bromo taon 97 tuh..makanya keliatan udah jadull, mana hasil scan lagi...xixixi.

    ReplyDelete
  8. wah, enak ya. aku jadi pengen juga nih ke sana. :D

    ReplyDelete
  9. @al kahfi: hehehe...tau aja neh Mas. 98 ke Bromo utk kali kedua tapi gak ada dokumentasi sama sekali, serba mendadak, gak mbonek karena ada yg jd sponsor (janjinya kalau wisuda mau ngajakin ke BRomo). 2nd visit langsung ke Penanjakan...(gak pake ke Bromonya )

    ReplyDelete
  10. wah, pasti ssru banget itu ya mba petualangannya, kapan ya bisa kesana? masih sanggup ga ya?
    anyway, semoga menang ya mba Ririe...?

    ReplyDelete
  11. @Tarry KittyHolic: Iay Mbak seru lho ke Bromo, sekali ke sana bakal pengen balik lagi. Sekarang seperti apa saya kurang tahu, kali ketiga saya ke Bromo 2004. Ini pengen ke kawah Ijen belum kesampean neh...

    ReplyDelete
  12. @panduan belajar blog: yang backpacker ke Bromo banyak kok, apalagi cowok kan lebih simple urusannya kalau berkelana ke alam tuh SOb:)

    ReplyDelete
  13. @alaika abdullah: InsyaAllah kuat Mbak, bisa naik hardtop atau kuda sampai di kaki Bromo/penanjakan. JAdi gak perlu menempuh medan berat kayak para backpacker atau anak-anak PA...Hotel di sana juga tinggal pilih tuh mau hotel yg seperti apa..

    ReplyDelete
  14. Waw, gila...keren banget pemandangannya!!!!!!!

    ReplyDelete
  15. @Claude C Kenni: BIsa dapetin view yang jauh lebih exotic jika waktu ke Bromo cuacanya cerah karena bisa melihat proses sun rise yang amazing mulai dari bulatan matahari yang pertama kecil perlahan-lahan membesar dan akhirnya membentuk bulatan utuh bersinar menerangi segenap permukaan bumi sehingga kita dapat melihat pemandangan Gunung Bromo, Gunung Batok, atau Gunung Semeru yang merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa

    ReplyDelete
  16. @covalimawati: Sama Mbak, aku juga pengen ke Bromo lagi karena belum pernah bisa lihat sun rise'nya disana meski sudah 3x datang ke Bromo...

    ReplyDelete
  17. sampai detik ini Bromo cuma baru sampai angan2 belaka hiks ... padahal udah sejak kapan tau tuh mupeng ke sono :( makin mupeng aja ngeliat foto pertama di pananjakan itu huaaaaaaa

    ReplyDelete
  18. @niQue: Yukkk Mbak, nanti kalau mau ke Bromo ajak-ajak saya ya..LHOH? Btw, ma kasih udah singgah di kinanthi ya..

    ReplyDelete
  19. pingin ke bromo.
    tapi kapan ya..? hehe

    ReplyDelete
  20. gue kapan yaaa bisa ke bromo ?? :3

    ReplyDelete
  21. foto pertama mantap punya mbak , keren... nekad bener petualangannya :)

    sering liat juga liat liputan di TV2 tentang bromo.

    ReplyDelete
  22. @bazokawap: Bisa tuh segera di jadwalkan, secara dari gresik kan dekat tuh..Yakin deh, bahkan gak backpacker pun bisa kok sampe Bromo. Ini beneran waktu aku ke Bromo tidak punya uang, modal utk patungan rental mobil sj pinjam dulu...hehehe...

    ReplyDelete
  23. wow pengalaman yg menyenangkan ke Bromo, dingin...:)

    ReplyDelete
  24. @Ervina Lutfi: Ayo ayoo...ke Bromo *tunjukdirijadidutawisatabromo*...hahahahaa

    ReplyDelete
  25. @Yan Muhtadi Arba: Iya,kalau sekarang aku ingat-ingat lagi memang waktu itu nekad banget. Tapi seru banget, ada juga scene lucu dimana salah satu dari kami dikira penjaga warung (waktu nunggu beli mie kuah..)heheheee

    ReplyDelete
  26. @r.a.c. cutting sticker: Pengalaman yang 'sesuatu' banget Lho. waktu itu suhunya 14 derajat, sempat melihat ada butir-butir salju di daun-daun pohon yang ada di rute Penanjakan-Bromo...

    ReplyDelete
  27. wah jadi kangen ke bromo ni photo profilku ini juga diambil di lautan pasir bromo, pas latihan inseminasi di nongko jajar lho.. hari itu naik kuda juga sampe tangga bawah.. uggghhh gak dibolehin bawa sendiri sama yang pemilik kuda, jadi dia jalan aja sambil mandu kudanya, padahal aku kasian kali liat dia jalan kayak gitu.. dia gak percaya klo di beras tagi sini juga banyak kuda, jadi klo naik kuda biasalah :D

    ReplyDelete
  28. wahh asik nih pengalamannya mbak >.<

    ReplyDelete
  29. Dan kami juga tetap bisa tertawa manakala temannya Pa'i bikin pengakuan kalau sebenarnya dia juga belum pernah sampai naik ke Bromo --->> ngakak deh pas baca kalimat itu, sukses dia ngibulin teman2nya. Tapi ada untungnya juga dia dikira sudah benar2 ke Bromo, shg apa yg dikatakannya dipercaya... hahaha

    BTW, cerita pengalaman pertamanya sungguh menarik. Aku gak akan kaget kalau tulisan ini menang :)

    ReplyDelete
  30. wah mbak, saya belum pernah ke Bromo lho >.<

    ReplyDelete
  31. WEw.. dulu ane pernah ksitu waktu SMA

    ReplyDelete
  32. @pri crimbun: Wah iya, pernah juga nyobain sebentar naik kuda karena untuk sampai tangga tinggal sedikit sudah sampai (3rd visit)...serasa kayak pendekar waktu naik kuda. hehehe...

    ReplyDelete
  33. @k[A]z: Iya, asyiik dan seru banget mbonek ke Bromo

    ReplyDelete
  34. @catatan kecilku: Iya tuh sukses, meyakinkan banget gayanya. Tiap kali ditanya kurang berapa lama lagi sampai Bromo, Dia nunjuk cahaya kecil di depan namun ketika sudah sampai dia bilang bukan cahaya tersebut tapi depannya lagi...wkwkwkwkkk...

    ReplyDelete
  35. @ninda~: Iya semoga suatu saat ini bisa datang ke Bromo ...Btw, salam kenal dan ma kasih udah mampir ke sini

    ReplyDelete
  36. @Pamulang Berniaga: Wah, waktu SMA saya tidak pernah main jauh-jauh dari RUmah kayak gitu...hehehee

    ReplyDelete
  37. Jadi kepengen kembali kepetualangan dimasa muda dulu lagi.

    Sukses selalu
    Salam
    Ejawantah's Blog

    ReplyDelete
  38. @Sang Cerpenis bercerita: Terima kasih untuk kunjungan baliknya Mbak Fanny, sesuatu banget Lho buat saya :)

    ReplyDelete
  39. @Cinta Indonesia Blog: Hawanya masih sama seperti di gunung-gunung lainnya, duiinngiinn makanya perlu pakai sarung tangan, penutup kepala, kaos kaki, syal, jaket tebal...

    ReplyDelete
  40. @Ejawantah's Blog: MOnggo di ulangi lagi petualangannya di Bromo, usia bukan soal yang penting semangatttt....

    ReplyDelete
  41. Saya kalo ke gunung Merbabu dan lereng merapi pernah, tapi kalo ke gunung Bromo belum nih. Semoga kapan-kapan bisa ke sana.

    ReplyDelete
  42. met kenal juga, senengnya ke Bromo, ijin follow ya

    ReplyDelete
  43. @Puji : Tentu seru banget tuh, satu-satunya gunung yang pernah saya datangi ya Bromo itu..kalau Merbabu dan Merapi tentu lebih luar biasa tantangannya karena memang para PA yang rata-rata kesana. Kalau Bromo sudah bergeser untuk obyek wisata jd akses kesana sudah lebih mudah..

    ReplyDelete
  44. @Ami: Hehehe...iya Mbak, serunya ke Bromo bareng orang-orang yang belum pernah ke sana juga, jadi heboh deh. Ma kasih foolow'nya. Nanti saya folback:)

    ReplyDelete
  45. Wuiiihh...seru banget tuuh mba pengalaman pertamanya, dari dulu pengen ke bromo belum kesampean :(

    lam ukhuwah ya :)

    ReplyDelete
  46. @Naya Elbetawi: Semoga suatu saat bisa kesampean ke Bromo...Salam ukhuwah juga:)

    ReplyDelete
  47. wah asyik ni bromo....
    pengen kesana gak jadi2...
    :P

    oya,,mau kasih tau..cara joinnya ada box di atas box komentar saya....
    :)

    ReplyDelete
  48. @zone: Silahkan di 'jadiin' ke Bromonya sebelum meletus...*LHO*...Btw, sudah ta folback :)

    ReplyDelete
  49. mantabs...bromo...!
    waktu msh kul di bandung sya juga ska nnjak ke gunung mb....
    semoga sukses ya ngontesnya :-)
    mmpir2 ya http://bensdoing.wordpress.com

    ReplyDelete
  50. wow :O keren ya, mau deh kalau ada yang ngajak ke Bromo, tapi capek pasti ya ? <= pertanyaan bodoh :P

    ReplyDelete
  51. perjalanan yang tentunya banyak meninggalkan kesan.. luar biasa!!!

    ReplyDelete
  52. @bensdoing: Wah anak PA ya? dulu juga pengen banget masuk PA, tapi malah gak jadi...Ma kasih dukungannya, At least ikutan GA buat m'asah pena itu sudah sebuah keberhasilan (karena bisa nambah posting, hehehe..).

    ReplyDelete
  53. @Fiction's World: Sana Mbak, saya juga mau banget ke Bromo lagi kok..*mupeng.com*. Capek tapi seru deh...

    ReplyDelete
  54. @Majalah Masjid Kita: Amiiin, kesan yang tak terlupakan, pengalaman 'mbonek' di alam bebas kali pertama dan sepertinya satu-satunya tuh..*salam Ukhuwah*

    ReplyDelete
  55. liat artikel ini jadi pingin ke Bromo deh, kayaknya seru.

    salam kenal mbak, dan izin follow :)
    nama mbak emang Kinanthi ya? aku suka bgt loh ama nama Kinanthi, sejak aku baca novel "Galaksi Kinanthi" dari <a href="http://just-fatamorgana.blogspot.com>Mbak Fanny</a>

    ReplyDelete
  56. jadi pengen banget ke Bromo.. belum kesampean sampe sekarang, mungkin klo nanti udah nyampe bromo pasti saya ceritain jadi pengalaman pertama jg. hehe..
    foto2nya msh bagus meski jadul :)

    ReplyDelete
  57. @nurlailazahra: Salam kenal juga dan ma kasih sudah berkenal follow ya...Nama Kinanthi adalah ID yg dulu awalnya saya gunakan di jalur dunia cyber karena ngrasa "pas"...kemudian keterusan saya gunakan juga untuk nama "pena" = Ririe kinanthi

    ReplyDelete
  58. @Irma Devi Santika: tentu seru nanti kalau beneran bisa ke Bromo...fto jadul yg di scan tuh Mbak..

    ReplyDelete
  59. Amazing Mnak fotonya, Saya masih belum pernah ke Bromo nih.

    ReplyDelete
  60. @Bisnis Online Blog: Bromo memang amazing, wisata ke alam adalah hal yg selalu amazing..semoga suatu saat bisa ke Bromo juga ya..

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.