Pertolongan Pertama dan Penanganan Luka Bakar Yang Tepat Dengan Mebo - Mederma

Jumlah keseluruhan kasus luka bakar (prevalensi) yang terjadi di Indonesia adalah +2,2%, yang bisa berasal dari: listrik, api, radiasi, air panas, dan bahan kimia. Dan ternyata potensi (severity) kejadian luka bakar yang tertinggi adalah di rumah yaitu sekitar 82% (ANZBA, 2013). Jika dikerucutkan lagi, tempat “paling berisiko” terjadinya luka bakar ini adalah di dapur, 21,5 % luka bakar disebabkan air panas dan makanan panas. Nah lhoh?

Padahal dapur adalah salah satu medan perjuangan saya dalam rangka membangun hubungan emosional dengan keluarga, terutama dengan anak-anak melalui menu masakan. Walaupun menu yang saya siapkan sehari-hari ya masakan yang ala kadarnya seperti oseng-oseng, tumis, sayur sop, ayam goreng, ikan goreng, tahu-tempe goreng dan jenis masakan sederhana lainnya yang mudah memasaknya.

Sejujurnya, memasak adalah tantangan tersendiri ketika awal-awal menikah dan mendadak menjadi  ibu dengan 3 anak, aktif bekerja di luar rumah, ditambah lagi latar belakang saya sebelumnya amat sangat terjun ke dapur (karena saat masih single dan tinggal sendiri, saya beropini bahwa sangat tidak efektif jika setiap hari masak sendiri kan ya?.)

Bismillahirrahmaanirrahiim  dengan latar belakang yang seperti itu, saya PeDe berkomitmen ” kalau sudah menikah, untuk urusan makanan, saya akan berusaha maksimal masak sendiri ". Kalau toh beli makanan di luar kalau kepepet saja, semisal saya pulang terlambat pulang kerja atau sekedar untuk variasi (biar gak bosen dengan masakan standar ala saya ini, hehehe).
Artinya, saya berharap aktifitas memasak di dapur bisa menjadi satu golden moment untuk membangun bonding antara saya yang begitu menikah ujug-ujug jadi ibu untuk 3 anak (karena hubungan pernikahan dengan ayahnya dengan anak-anak). Hubungan yang tidak terikat dari darah, saya yakin bisa kami bangun dari hati ke hati, salah satu caranya ya melalui kebersamaan dalam menyiapkan menu makanan dengan melibatkan anak-anak, sebisa dan semaunya ( bukan semau-maunya) mereka.
Bagi saya perjuangan tersendiri untuk bisa menyajikan menu makanan sehari-hari dirumah,  walau masakannya ya begitu-begitu saja baik jenis menu maupun rasanya, tapi rasanya tuh hati serasa melambung ke langit tujuh saat suami dan anak-anak bilang : oseng kangkungnya enak banget, sayur sopnya endess, rawonnya spesial, rendangnya not so bad lah, atau sambel tempongnya lebih yahuut Bun dari pada kemarin beli  nasi temping pas main ke Banyuwangi (efek pas main ke Banyuwangi bulan lalu, mereka kuliner sego tempong tapi rasa sambalnya gak seperti kesan pertama kali mencicipi sego tempong dulu). Dan bahagianya tuh, apapun masakan yang saya sajikan tak ada yang komplain. (Sssttt, ya iyalah karena kalau komplain, saya akan ambil cuti masak selama 1 minggu).

Bisa ditebak dong drama apa saja yang saya alami saat terjun ke dapur: kebledosan minyak goreng panas ketika menggoreng ikan dan ayam,  terkena uap air panas, teriris pisau, kena parutan kelapa, tak sengaja menyenggol panci/wajan yang panas membara atau kecelakaan lainnya yang disebabkan karena saya terburu-buru. Ya maklum,  kadang masih disergap gagap dan ingin cepat selesai urusan masak-memasaknya. Dan selama ini, jika mengalami tragedi luka bakar tersebut, tindakan spontanitas yang saya lakukan adalah lari ke kamar mandi untuk ambil ODOL dan mengoleskanya pada bagian tubuh yang mengalami luka bakar tersebut. 

Sepertinya langkah spontan mengolesi luka bakar dengan pasta gigi sudah terinstal sejak saya masih kecil. Ternyata penggunaan odol untuk mengobati luka bakar ini adalah salah satu mitos sejak jaman nenek moyang yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tak hanya pasta gigi, masih ada mitos-mitos lainnya untuk mengobati luka bakar seperti menggunakan tepung terigu, bubuk kopi, es batu,  kecap (seperti mau bikin sate deh, hehehe), putih telur mentah, dan irisan kentang.
Mitos-mitos obat untuk luka bakar
Padahal, pertolongan dan penanganan pertama terhadap luka bakar yang tidak tepat, akan berdampak serius dan bisa meninggalkan bekas yang sulit untuk dihilangkan. Artinya, manakala terkena luka bakar dan kita masih menggunakan cara pengobatan yang berdasarkan mitos, maka proses pembentukan jaringan baru akan terganggu, sehingga akan menghambat atau memperlambat penyembuhan luka bakar. 

LANTAS, BAGAIMANA PERTOLONGAN PERTAMA DAN PENANGANAN LUKA BAKAR YANG TEPAT ?

Setelah sekian tahun saya “hanya” mengenal cara mengobati luka bakar berdasarkan ilmu warisan dan ternyata banyak yang bersifat mitos dan justru membahayakan, Alhamdulillah saya mendapatkan pencerahan yang luar biasa ketika ikutan acara  Mebo Mederma Women’s Community Talk Show, dengan tema: “Regret Comes Later” Bebas Beraktivitas di Rumah dengan Meminimalkan Resiko Luka Bakar Ringan di The Rich Hotel Yogyakarta pada tanggal 28 September 2019 lalu. 
Acara talk show yang diselenggarakan oleh Mebo Mederma tersebut sangat menarik dan bermanfaat terutama bagi saya sebagai ibu dan istri  yang notabene masih perlu banyak belajar, terutama  urusan terkait bagaimana agar bisa SANTUY di dapur dengan lebih perduli terhadap keamanan dan kewaspadaan terhadap hal-hal yang bisa menimbulkan kecelakaan saat beraktivitas di dapur. Lebih dari itu, karena saya juga menyadari perlu ilmu-ilmu kewanitaan seperti agar bisa saya transfer ke anak-anak yang mulai menginjak remaja. 
Paparan materi pertama yang disampaikan oleh  dokter Spesialis Ilmu Bedah Plastik Rekonstruksi dan Estetik, dr. Bayu Suhartadi, SpBP-RE yang membahas tuntas tentang luka bakar, mulai dari sumber-sumber luka bakar, jenis luka bakar, pertolongan pertama yang tepat jika terjadi luka bakar, hingga bagaimana penanganan luka bakar agar tidak terjadi  “Regret Comes Later” alias meninggalkan bekas luka seumur hidup.
Ngomongin luka bakar yang meninggalkan bekas seumur hidup, saya punya satu bekas luka bakar yang saya dapatkan saat masih kecil, saat bermain-main di dekat tungku yang sedang digunakan memasak, entah bagaimana kronologi hingga terkena percikan arang kecil yang merah membara. Sampai sekarang, tiap kali melihat bekas luka bakar tersebut, meski sudah berlalu puluhan tahun tapi saya masih ingat dengan baik detail bagaimana rasa panas, sakit dan perih saat terkena percikan bara api kala itu.
Ketika kulit mengalami luka bakar biasanya akan memerah, selanjutnya akan melepuh yang  berisi cairan (bening). Apabila pertolongan pertama dan penanganan selanjutnya tidak benar akan menyebabkan terjadinya infeksi serius,  bernanah dan bisa melebar ke area kulit sekitarnya. Jika terjadi kasus seperti ini, akan meninggalkan bekas luka yang jelas, bahkan bisa timbul keloid DNA serta rusaknya jaringan kulit yang menyebabkan cacat permanen, jika sudah demikian ya  menyesal kemudian deh.

Oleh karena itu, pertolongan pertama saat terkena luka bakar yang disarankan oleh dokter Bayu adalah berusaha TETAP TENANG jangan panik dan SEGERA jauhi sumber api dan mematikan api yang ada di badan (dengan menutup bagian yang terbakar dengan kain/bahan yang bisa memadamkan api). Langkah  selanjutkan adalah lakukan hal-hal sebagai berikut:
  1. Segera singkirkan baju/kain, termasuk perhiasan dan benda-benda lain yang melekat.
  2. Rendam bagian luka bakar dengan air bersih suhu normal, lebih disarankan disiram dengan air dingin yang mengalir kira-kira selama 15 - 30 menit. 
  3. Dengan bahan (kain) yang lembut, keringkan bagian tubuh mengalami luka bakar. 
  4. Olesi bagian yang terkena luka bakar dengan salep luka bakar yang tepat, contohnya dengan salep Mebo Mederma.
  5. Dan jika area luka bakar cukup besar, muncul tanda-tanda kemerahan atau melepuh, segera dibawa ke rumah sakit atau dokter terdekat. 

Pertolongan pertama saat terjadi luka bakar memilliki peran yang sangat vital karena kurun waktu 4 jam pertama pasca terjadi luka bakar merupakan waktu kritis untuk memeberikan penanganan luka bakar yang tepat agar bisa meminimalkan risiko kerusakan kulit yang mungkin terjadi. Itulah kenapa sangat disarankan agar memberikan pertolongan terhadap luka bakar secepatnya karena jika terlambat akan mengakibatkan luka yang makin parah dan menyebabkan infeksi. Kecepatan dan ketepatan pertolongan pertama pada luka bakar juga memegan kunci keberhasilan untuk penyembuhan akan luka bakar yang dialami.

#mebocombiphar #medermacombiphar #mebomedermawomenscommunity #combiphar #yogyakarta
Untuk itu, pertolongan yang benar harus ditindaklanjuti dengan penanganan luka bakar yang tepat yaitu dengan penggunaan dan pemilihan salep luka bakar yang tepat seperti Mebo dan Mederma.

KENAPA MENGGUNAKAN SALEP LUKA BAKAR  MEBO MEDERMA ?

Secara detail, Ibu Hernita Astriani, S.Farm., Apt selaku Brand Manager Mebo dan Mederma Combiphar memberikan penjelasan kenapa dianjurkan menggunakan salep luka bakar Mebo Mederma ini.

M E B O
Salep Mebo ini memiliki kandungan bahan-bahan yang aman, alami dan tanpa antibiotik, diformulasikan untuk mengobati luka bakar ringan, luka jatuh dan juga luka lecet. Salep MEBO mengandung zat aktif: Coptidis rhizoma, Phellodendri Chinensis, Scutellariae radix, Sesame oil (minyak wijen), Beeswax. 
#mebocombiphar #medermacombiphar #mebomedermawomenscommunity #combiphar #yogyakarta
Dengan formulasi tersebut, salep Mebo ini efektif untuk mengobati luka bakar ringan, dengan kelebihannya antara lain meminimalkan bekas luka dan  rasa sakit. Dengan mengoleskan saleb Mebo ini akan bisa mempercepat penyembuhan luka bakar sekitar 4 -7 hari, meredakan rasa nyeri, menghilangkan hawa panas yang asih tersisa, dan membuat bagian yang terluka menjadi lembab karena kondisi ini dibutuhkan untuk pemulihan jaringan sehingga akan mempercepat penyembuhan dengan meminimalkan kemungkinan meninggalkan bekas luka bakar.

MEDERMA

Salah satu komplikasi dari luka bakar adalah terbentuknya scar yaitu proses alami untuk penutupan luka (baik luka bakar, kecekalaan maupun operasi). Asrtinya Salep Mederma ini efektif digunakan untuk menghilangkan bekas luka, yakni digunakan saat luka sudah mulai menutup. Artinya, penggunaan MEDERMA ini merupakan langkah lanjutan setelah pemakaian MEBO.
#mebocombiphar #medermacombiphar #mebomedermawomenscommunity #combiphar #yogyakarta
Mederma dirancang khusus untuk dapat membantu menyamarkan bekas luka bakar yang bekerja dengan 3 efek yaitu melembutkan, menghaluskan dan menyamarkan bekas luka. Mederma dibuat dengan kombinasi tiga bahan aktif: cepalin, allantoin dan aloe vera, salep ini berbentuk gel ini secara proaktif membantu proses penyembuhan kulit, mengurangi warna kemerahan dan membuat bekas luka tampak lebih halus, rata dan tersamarkan. Fakta lainnya, salep Mederma ini telah terbukti secara klinis memiliki manfaat bisa memudarkan aneka bekas luka (kecuali luka hati), tak hanya luka bakar tapi juga bekas jahitan operasi lhoh.
Tata cara penggunaan MEDERMA untuk pengobatan luka yang sudah menutup
Tata cara penggunaan MEDERMA untuk pengobatan luka yang sudah menutup
Tuh kan, ciamiiik salep MEBO dan MEDERMA ini. Secara yang namanya mengalami luka bakar itu kan sudah panas dan menyakitkan, jika sampai meninggalkan bekas luka bakar akan sering mengingatkan kembali rasa sakitnya. Jadi, tak hanya bekas pacar saja yang wajib dihilangkan dari ingatan tapi juga bekas luka bakar, harus dihilangkan selamanya.

Selain membahas tentang luka bakar, bagaimana pertolongan pertama dan penangannya yang tepat, dalam acara  Mebo Mederma Women’s Community Talk Show  juga ada sesi demo masak oleh chef Rahmat dari The Rich Hotel. Mas Chef ini membagikan  beberapa  tips bagaimana meminimalkan resiko luka bakar saat beraktifitas di dapur.
Tata cara dan tips meminimalkan resiko luka bakar saat beraktifitas di dapur agar aman dan tetap Santuy
Overall, Ilmu tentang luka bakar yang dipaparkan dalam acara  Mebo Mederma Women’s Community Talk Show tentunya sangat bermanfaat banget bagi karena  saya berkomitmen apapun yang terjadi, sebisa mungkin berusaha menyediakan menu makanan dengan memasak sendiri di rumah. Maka, sangat-sangat penting sekali bagi saya untuk tahu bagaimana pertolongan pertama dan penanganan luka bakar yang tepat, agar tidak berkepanjangan terjebak mitos dalam mengobati luka bakar yang justru akan memperparah luka bakar.
Once again, bagi saya moment memasak di dapur adalah salah satu quality time yang mudah, sederhana tapi sangat luar biasa untuk membangun bonding  antara saya sebagai ibu (sambung) dengan anak-anak. Hubungan yang tidak terikat dari darah, saya yakin bisa dibangun dari hati ke hati, salah satunya dengan intensitas kebersamaan saat menyiapkan menu makanan. 
Biasanya, acara menyiapkan menu masakan bareng ini menjadi ritual sore hari. Sepulang anak-anak sekolah dan saya juga pulang kerja. Setiap kali kebersamaan tersebut berlangsung, mengalir komunikasi dua arah yang renyah, yang membuat saya bisa lebih dekat dengan mereka, bisa diskusi, bercanda dan saling curhat tentang pelajaran di sekolah, bagaimana gurunya, juga hal-hal lain yang dilakukan dengan teman-temannya.

Dengan kebersamaan beraktifitas di dapur, sangat efektif untuk memperkuat hubungan emosional dengan anak-anak, terutama dengan dua anak perempuan (yang konon kan biasanya tidak semudah anak laki-laki untuk menerima sosok ibu sambung seperti saya). Bagi sebagian besar ibu-ibu, dapur adalah tempat untuk beraktualisasi, bereksperimen dan menggunakan segenap ketrampilan sebagai master chef keluarga untuk menyiapkan makanan terbaik dan istimewa untuk keluarga. Sedangkan bagi saya, dapur adalah salah satu tempat dimana saya berjuang untuk memperkuat, mempererat dan mengakrabkan hati dan perasaan dalam  hubungan sebagai ibu dan anak.

Dan yang namanya anak-anak ABG,  saat beraksi di dapur sering bikin saya ketawa-ketiwi tapi sekaligus kerap bikin jantung jumpalitan tak keruan. Misalnya, mau menggoreng lele atau ayam,  pakai pasang kuda-kuda, katanya demi menghindari cipratan minyak. Atau pakai tameng wajan teflon yang besar untuk melindungi diri dari percikan minyak. Pokoknya banyak banget adegan dagelan saat anak-anak ikut beraksi di dapur. 

At mean while, kecelakaan adalah peristiwa yang tak terduga dan tidak diharapkan, yang bisa terjadi kapan saja dan di mana saja, termasuk di dapur. Makanya, peristiwa terkena luka bakar ini adalah salah satu hal yang patut diwaspadai, karena hampir setiap hari saya melibatkan anak-anak  saat beraktiftas di dapur, padahal kan ternyata dapur juga merupakan salah satu tempat “paling berbahaya” menjadi sumber terjadinya luka bakar. 

Oleh karena itu, saat acara talk show kemarin saya gercep beli salep Mederma untuk menjadi bagian dari isi kotak P3K di rumah. Jadi, paham kan kenapa begitu tahu mengenai informasi Mebo Mederma ini, saya pun ikut gercep membawanya pulang untuk melengkapi isi P3K di rumah untuk pertolongan pertama jika sewaktu-waktu ada yang mengalami luka bakar.
Bagaimana dengan Anda, sudahkah menyediakan Mebo Mederma  di rumah untuk berjaga-jaga jika terjadi luka bakar. Gak sulit kok untuk mendapatkan salep Mebo dan Mederma ini, sudah bisa dibeli di Apotik, Watsons, Century, Guardian, dan toko farmasi terdekat lainnya.
Juga jangan lupa kunjungi dan ikuti akun FB dan IG MEBO MEDERMA di @mebocombiphar dan @medermacombiphar, ada weekly quiz dengan hadiah-hadiah yang super kece pokoknya. Dan pastinya bisa mendapatkan banyak ilmu-ilmu yang bermanfaat juga. Untuk websitenya bisa dikunjungi di:  www.mederma.combiphar.com dan www.mebo.combiphar.com

Jadi, adakah yang punya pengalaman tak terlupakan seputar luka bakar? Atau punya jurus  heboh saat beraktifitas di dapur dalam rangka menghindari terkena luka bakar? 
Di tunggu cerita serunya yaa…



#mebocombiphar #mebomedermawomenscommunity #combiphar  #medermacombiphar  #yogyakarta





Ririe Khayan

Assalamulaikum. Hi I am Ririe Khayan (Blogger, Buzzer, Coffee Lover) and live in Jogya. I’m the Author Of Kidung Kinanthi, a Personal Blog about my random thought, parenting, traveling, lifestyle, & other activity as well as Personal & Working Mom Story. Thanks for visiting my blog and hopefully will visit again with pleasure.

No comments:

Post a Comment

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, atas ketidaknyamanan MODERASI Komentar.

Maaf ya, komentar yang terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan.

So, be wise and stay friendly.