Perduli SADARI Kanker Payudara Sejak Dini, Sadari Penyitas Kanker Payudara Bisa survive

Awal saya mendengar jenis penyakit kanker saat saya masih kecil (sekitar kelas 4 SD). Saya belum paham jenis penyakit tersebut dan saat itu hampir semua orang-orang di desa masih asing dengan penyakit tersebut. Satu kesamaan yang kami pahami (saat itu), bahwa penayakit kanker itu tidak bisa disembuhkan.

Asumsi “sadis” tersebut sepertinya lebih didasarkan oleh kasus yang di alami salah satu warga desa ( usia sekitar 60an tahun) yang dinyatakan terkena kanker payudara dan menjalani operasi payudara (mastektomi) dan tak lama berselang beliau meninggal. Kemungkinan besar kanker yang di deritanya baru diketahui sudah  stadium 4, ditambah lagi keterbatasan ekonomi untuk bisa mengakses pengobatan kanker yang sangat mahal. 

Bisa jadi (saat itu) asumsi yang berkembang mengenai kanker payudara sebagai penyakit ganas yang tidak bisa disembuhkan (tak ada obatnya) juga disebabkan oleh akses informasi kesehatan yang belum secanggih sekarang. Serta kenyataan dimana orang yang menderita sakit kanker dan sudah menjalani pengangkatan payudara tapi kondisinya justru semakin memburuk kemudian meninggal.

Bismillahirrahmaanirrahiim, bertahun-tahun kemudian saya melihat kasus pasien dengan sakit kanker payudara menagalami peningkatan secara significant. Dari data Kemenkes tahun 2013, prevalensi kanker payudara adalah sebesar 61.682 yang menduduki peringkat pertama sebagai jenis kanker yang paling banyak dialami perempuan yaitu 43,3%, dengan tingkat kematian mencapai 12,9%.

Definisi kanker payudara
Sedangkan menurut WHO kanker payudara (breast cancer)  berdampak terhadap perempuan sebanyak 2,1 juta setiap tahun, dan juga menyebabkan jumlah terbesar kematian terkait kanker. Pada tahun 2018, diperkirakan 627.000 perempuan meninggal karena kanker payudara yaitu sekitar 15% dari semua kematian akibat kanker di kalangan perempuan
Fenomena yang mengundang kekhawatiran tentunya, tapi tidak berarti harus membuat takut atau pesimis karena resiko kematian yang diakibatkan oleh kanker payudara sangat mungkin untuk diturunkan dengan SADARI Kanker Payudara Sejak Dini, Sadari Penyitas Kanker Payudara Bisa survive.
Kalimat yang mungkin dianggap sebagai janji manis tapi pahit kenyataannya atau to good to be true bagi sebagian orang. Akan tetapi, pandangan tersebut sangat mungkin bisa berubah jika mengetahui dan kenal secara langsung orang yang dinyatakan positif terkena kanker payudara masih menjalani hidup dengan lebih lama (survive) dengan bahagia. 

Memang tingkat harapan hidup pasien kanker payudara berdasarkan stadium, semangat dan kemauan yang kuat untuk hidup berdamai dengan kanker di tubuhnya dengan berkomitmen menjalani serangkaian perawatan serta pengobatan secara tuntas. Seperti Ibuknya teman kuliah saya (sebut saja Ibu XY) yang Alhamdulillah masih sehat hingga saat ini, pasca operasi payudara yang dijalaninya lebih dari 15 tahun lalu.

Ibu XY, Ibu Rima Melati, adalah sosok survivor Kanker Payudara yang saya kenal dan masih ada beberapa lainnya. Saya yakin, survivor breast cancer di luar sana sangat banyak dan sangat mungkin bisa lebih banyak lagi jika deteksi kanker yang dialaminya diketahui sejak stadium dini dan memiliki motivasi kuat untuk hidup bahagia, berdamai dengan kanker payudara yang dialaminya, memiliki support system yang comprehensive serta menjalani semua proses perawatan medis dengan disiplin.

Kalimat tersebut saya tulis berdasarkan kisah yang dituturkan oleh salah satu survivor penyitas kanker payudara, yang saya kenal langsung, teman kerja yang akrab saya panggil Mbak Rin.

Saya kenal beliau tahun 2014, pada sebuah acara kantor (saat itu kami belum satu instansi). Awal mengenalnya, saya tidak tahu jika Mbak Rin adalah survival breast cancer. She look really just fine, terlihat aktif layaknya orang sehat pada umumnya, gesit, ceria dengan senyum ramah yang selalu menghias bibir tiap kali bertegur sapa dengan orang yang ditemuinya. Pokoknya, I have no imagine at all that she is breast cancer survival.

Hingga beberapa waktu kemudian, saya baru tahu jika Mbak Rin belum genap setahun menjalani mastektomi. Kaget karena tak menyangka, yang terlihat sehat-sehat saja ternyata memiliki kisah yang luar biasa. Saya bilang luar biasa karena hari-hari selanjutnya, tiap kali bertemu Mbak Rin, saya tidak melihat beliau terlihat tidak optimis. Hingga sekarang, saya akui kalau saya salut dan bangga mengenalnya, bagaimana beliau menjalani ritme hidupnya dengan selalu energik, bersemangat dan always on fire pokoknya.

“Berusaha berdamai dengan kanker payudara dan tetap bahagia as I can be. Selebihnya jalani treatment dan ikhtiar menjaga kesehatan dan stamina”
Mbak RIN (Tengah), Per 2017 kami jadi teman se-instansi :)
Seperti yang dituturkan pada saya, Mbak Rin kali pertama menemukan benjolan di payudara sebelah kanan (2013), di usianya yang belum kepala empat, saat putra ketiganya masih berumur 5 bulan dan masih ASI ekslusive.  Mbak Rin sangat ingin menganggap benjolan itu hanya pengaruh hormonal, hal yang lumrah-lumrah saja mengingat masih memberikan ASI untuk si bungsu yang baru dilahirkannya 5 bulan lalu. 
Antara ingin cuek dan kecamuk pikiran: jangan-jangan ini jenis benjolan yang mirip dialami saudara sepupunya? Sekitar 2 minggu kemudian Mbak Rin akhirnya memberanikan diri untuk konsultasi ke dokter bedah onkologi yang direkomendasikan oleh temannya. “ Lebih baik tahu kebenarannya sekarang daripada berpura-pura nothing happen…”, mungkin seperti itu pertimbangan Mbak Rin ketika akhirnya berani melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. 

Berbagai pemeriksaan dilakukan, dari USG mammae, mammography, dan pemeriksaan sitologi dari Biopsi jarum/AJH (Aspirasi jarum halus). Hasil yang diperoleh pada Juni 2013 adalah terdapat sel ganas positif, dengan simpulan Karsinoma duktal. Dokter merekomendasikan (tepatnya ‘memaksa’) untuk dilakukan mastektomi (pengangkatan payudara) dan hanya selang satu minggu waktu yang diberikan untuk menyapih dekbay dan bersiap untuk operasi (Juni 2013).

Sebulan setelah operasi itu dilanjutkan dengan prosedur kemoterapi. Setiap 3 minggu sekali Mbak Rin harus dikemoterapi sebanyak 6 kali. Sederet efek kemoterapi berupa mual, hilang indera perasa, rambut rontok, bahkan pernah Lekosit drop menjadi 0,7 (dari batas normal 4.0 -11.0) sehingga harus disuntik leukosit. 

Prosedur kemoterapi pun selesai di Desember 2013 dan diteruskan dengan masih harus menjalani terapi hormon. Setiap hari selama 5 tahun harus minum obat penekan hormon. Selain itu harus menjalani radioterapi sebanyak 35 kali setiap hari (kecuali hari libur RS). Serangkaian terapi hormon dan radioterapi  Alhamdulillah selesai pada April 2014
Peluang Survive Penyitas Kanker Payudara
Peluang Survive Penyitas Kanker Payudara 
Dalam rangka mengurangi probabilitas kekambuhan, tahun 2018  Mbak Rin  memutuskan untuk BERANI melakukan operasi pengangkatan indung telur. Dan dikarenakan hasil riset menunjukkan terapi hormon lebih efektif bila dilakukan selama 10 tahun, maka Mbak Rin pun tidak mempermasalahkan untuk melakukan terapi hormon hingga genap 10 tahun.

Dari penuturan kisah nyata Mbak Rin sebagai survival breast cancer, ada beberapa TIPS yang bisa dijadikan rujukan bagi yang sedang menjalani kemoterapi pasca operasi antara lain:

  • Tetap makan yaaaa, belum perlu pantang apapun, karena tubuh sedang butuh stamina yang berlebih. Maksudnya, berupaya dan mengkondisikan diri agar bisa melahap makanan meski rasanya tidak enak, muncul rasa mual dan berbagai efek kemoterapi yang biasanya membuat selera makan menurun. Please keep it mind, selama proses kemoterapi dibutuhkan stamina fisik yang prima seprima-primanya, karena itulah HARUS bisa memaksa diri untuk cukup asupan gizi dari makanan dan minuman.
  • Kemoterapi yang membuat wajah terlihat pucat tentunya sangat tidak disukai dan bisa menambah deraan merasa  benar-benar ‘sakit’. Untuk mengeliminasi hal tersebut, Mbak Rin turn over menjadi suka berdandan sambil menatap kaca dan bicara sendiri, “ nah kaaannn... aku seger kok. Aku sehat kok” dan pernayatan optimis lainnya demi membangkitkan hormon bahagia yang secara automatically akan membuat tubuh ‘terprogram’ untuk sehat. What you believe, your body achieves! 
  • Tiap kali menjalani jadwal check medis, anggap sebagai piknik tipis atau silaturahim karena akan bertemu beragam dokter spesialis serta penyitas kanker lainnya. Hal ini bisa menjadi energi yang luar biasa karena proses pengobatan kanker itu dilakukan melalui penanganan medis yang multidisiplin, selain dokter bedah onkologi, dokter spesialis penyakit darah dan konsultan hematologi onkologi medis, dokter spesialis radiasi, pasien juga dipantau secara periodik oleh dokter laboratorium. Sehingga secara periodik harus foto thorax, USG mammae dan USG abdomen, serta cek penanda tumor Ca 15-3. Agar kalau ada pergerakan si caca ke bagian tubuh yang lain bisa segera terdeteksi.

Bagi penyitas kanker payudara, sangat penting untuk memiliki spirit, semangat, kemauan untuk memotivasi dari diri sendiri. Juga tidak kalah pentingnya bagi penyitas kanker payudara (dan jenis penyakit apapun lainnya), yaitu support system yang solid dari keluarga terdekat (pasangan, orang tua, anak-anak, saudara), sanak family dan lingkungan sosial ( tetangga, tempat kerja, komunitas, dll), salah satu bentuknya dengan tidak mengangapnya sebagai orang sakit dan tetap bersikap wajar tapi tetap berempati (BUKAN MENGASIHANI).  Semua hal tersebut sangat berpengaruh terhadap kualitas emosional agar kondusif (senang, nyaman, tenang, merasa sebagai orang sehat) yang bermuara terciptanya RASA BAHAGIA. 
Manakala kita menghadapi penyakit atau kondisi yang tidak diharapkan, dengan cara berpikir dan bersikap POSITIF: belajar nrimo, sabar, optimis dengan ikhtiarnya dalam menghadapi tahap hidup yang tersulit, maka hormon kebahagiaan yang akan mengalir. Karena di dalam otak manusia dilepaskan senyawa endorphin (hormon yang paling berkhasiat di antara hormon kebahagiaan adalah beta-endorphin) yang memiliki efek farmaseutikal luar biasa, antara lain memperkuat penyembuhan diri sendiri (termasuk memerangi sel-sel kanker), mengaktivasi otak sel-sel otak,  dan meningkatkan resistensi terhadap penyakit. 
Sebaliknya, saat seseorang mengalami sesuatu yang menyakitkan dan tidak mengenakkan, kemudian disikapi dengan penolakan, rasa sedih, stress atau bahkan marah-marah, maka otak justru akan menghasilkan hormon noradreanalin (bersifat racun bagi tubuh). Semakin sering pikiran negatif tersebut maka semakin banyak produksi hormon noradrenalin, yang akan mempengaruhi sistem kekebalan tubuh. 
Allah Ta’ala menganugerahi kita dengan hormon kebahagiaan dengan pesan agar menjalani hidup dengan bahagia, sehat, awet muda, panjang umur dan terbebas dari penyakit.
Selaras dengan cara Mbak Rin menyikapi kanker payudara yang dialaminya dengan sikap keberterimaan (sadari) bahwa Penyitas Kanker Payudara Bisa survive, menjadi injeksi beta-endorphin yang luar biasa selama menjalani serangkaian proses perawatan. 

" Yakini bahwa bukan penyakit yang menyebabkan kematian, tapi karena 'kuota' waktu hidup kita sudah habis masa berlakunya "

Selain itu, Mbak Rin juga melakukan revolusi besar-besaran terkait asupan makanan dan minuman. Sikap hijrah pola makan dan pola hidup yang dijalani oleh Mbak Rin ini juga sangat dia sarankan agar bisa dijalankan oleh semua orang yang sehat yaitu: 
  • Jaga asupan makanan yang masuk ke tubuh, banyak sayur dan buah serta minum air putih yang cukup.
  • HINDARI makanan dan minuman yang berpengawet, pewarna buatan, perasa buatan, pemanis buatan. LeBIH baik dan recommended jika bisa raw food lhoh…
  • Penting juga untuk menghindari paparan asap rokok, dan istirahat yang cukup. 
  • Rutin untuk gerak fisik (olah raga) dan berjemur di pagi hari untuk mendapatkan vitamin D alami dari sinar matahari.
  • Jalani semua aktifitas yang biasa dilakukan dengan penuh kegembiraan dan rileks, agar segala bentuk stress menjauh. Jika kita beraktitifitas dalam kondisi tegang, maka stress menumpuk dan menyebabkan munculnya berbagai penyakit. 
Tidak ada orang yang mau terkena kanker, meski sudah menerapkan serangkaian pencegahan, menerapkan pola hidup sehat (pola makan sehat, pola pikir positif, pola pergaulan sehat dll), tapi adalah fakta yang tak bisa diingkari kalau setiap orang (termasuk laki-laki pun memiliki resiko terkena kanker payudara) memiliki “sel kanker” yang bisa terpicu oleh berbagai hal. Apalagi, belum ada hasil penelitian yang bisa memastikan apa penyebab kanker yang sebenarnya. 

Maka, perduli SADARI “pemerikSAan payuDAra sendiRI” sejak dini memiliki peran strategis untuk mengenali dan mengetahui BILAMANA terdapat sel kanker payudara. Kesadaran untuk melakukan SADARI ini bisa membantu untuk memudahkan penanganan beberapa jenis kanker di fase awal.
Perubahan payudara yang ditemukan dari SADARI bisa disebabkan oleh banyak hal, sekitar 10% dari ‘kelainan’ tersebut bersifat kanker. Karena itulah SADARI merupakan salah satu kunci untuk mengantisipasi sejak dini kanker payudara sehingga bisa dilakukan tindakan medis secepatnya.

Narasumber: Rina EstiWulandari 



Ririe Khayan

Assalamulaikum. Hi I am Ririe Khayan (Blogger, Buzzer, Coffee Lover) and live in Jogya. I’m the Author Of Kidung Kinanthi, a Personal Blog about my random thought, parenting, traveling, lifestyle, & other activity as well as Personal & Working Mom Story. Thanks for visiting my blog and hopefully will visit again with pleasure.

9 comments:

  1. Semoga Mbak Rin senantiasa sehat selalu kedepannya dan menginspirasi banyak orang
    Makasih juga mbak Ririe udah kasih pencerahan dan informasi serta berbagi artikel ini, aku selalu melakukan kegiatan SADARI ini, smeoga kita bisa diberikan sehat selalu juga ya, Amiin
    Aku percaya dg adanya hormon positif itu, ketika mengalmi hal yg nggak enak dan disikapi dg perasaan senang, itu auranya beda mbak,

    ReplyDelete
  2. Suka kalimat ini mbak, "Yakini bahwa bukan penyakit yang menyebabkan kematian, tapi karena 'kuota' waktu hidup kita sudah habis masa berlakunya."

    Betul sekali, kematian orang sudah digariskan, cara meninggalnya pun sudah ditentukan. Hanya kita tidak tahu kapan dan bagaimana. Jika kita diberikan sakit, semoga bisa sebagai penghapus dosa & lebih mendekatkan diri kepada Allah. Jadi ingat almarhum teman yang kena leukimia, dia bilang

    "Aku bersyukur diberikan sakit, jadi tahu sisa waktuku. Jadi tahu aku harus segera bertobat. Daripada tiba-tiba mati saat maksiat karena merasa hidup masih panjang padahal sudah ditunggu malaikat."

    Dia sudah berada di titik pasrah dengan tetap melakukan segala pengobatan demi kesembuhan. Tapi takdir berkata lain.

    ReplyDelete
  3. semoga para perempuan selalu terhindar dr penyakit ini yah, aku jg pernah punya tetangga yg terkena dan krn keterbatasan ekonomi jadi tak terselamatkan, penting untuk terus memeriksa agar mengetahui lebih dini untuk antisipasi

    ReplyDelete
  4. Salut dengan semangat mba Rin, sikapnya yang pantang menyerah, dan spiritnya bisa menular ya, sangat penting ya menjaga pola makan agar tercegah dari penyakit kanker

    ReplyDelete
  5. Di kelurahan saya juga lagi giat nih sosialisasi tentang sadari dan tes HPv, bersyukur karena pemerintah sangat memperhatikan kaum wanita. Mbak rin keren ya, tangguh

    ReplyDelete
  6. Waktu saya koas di bagian bedah onkologi, paling banyak kasusnya adalah kanker payudara dan mereka kebanyakan tidak tahu dan tidak pernah sadari. Deteksi dini kanker payudara dengan sadari memang sangat penting dilakukan. Kalau ada sesuatu yang abnormal, segera periksa

    ReplyDelete
  7. Kanker payudara ini cukup membahayakan sekali ya. Apalagi jika yg tidak disadari sejak awal. Metode SADARI benar2 berguna utk para wanita dewasa. Pertama kali tahu metode ini pas SMA sih, ada sosialisasi dr dinas kesehatan.

    ReplyDelete
  8. Kalau sudah berbicara dengan kanker bawaannya takut banget.
    Aku juga selalu cek dipayudara apakah ada benjolan apa tidak.
    Memang harus dilakukan pengecekan untuk memastikan.

    ReplyDelete
  9. Saya sudah diajari Sadari sejak SMP. Kadang terlewat juga sih melakukannya. BTW, salut sangat pada para penyintas kanker. Semangat mereka melampaui segalanya.

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, atas ketidaknyamanan MODERASI Komentar.

Maaf ya, komentar yang terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan.

So, be wise and stay friendly.