WHAT'S NEW?
Loading...

(Sebuah) Pertanyaan Favorit Saat Berkunjung ke Rumah Kerabat

Bismillahirrahmaanirrahiim, Saling sinambang atau silaturahim ke rumah saudara, sanak kerabat dan ahandai taulan tetap menjadi hal penting. Era digital dan semaraknya fasilitas sosial media, menjadi penghubung jarak yang berjauhan sehingga bisa mendekatkan untuk interaktif lebih intensif. Tapi, yang namanya berkunjung dan bertemu langsung tentu menjadi salah satu kebiasaan baik yang seyogyanya lestari sepanjang masa. 

Masing-masing media dan komunikasi memiliki keunikannya sendiri. Demikian pula dengan beranjang sana. Chemistry dan euforianya tentu tak akan sama dengan say hello via Whatsapp, Telegram, Line, BBM, FB, Twitter atau media-media sosial lainnya berbentuk digital. 

Terlebih bila sanak saudara masih termasuk dalam layer yang tidak atau belum berinteraksi dengan teknologi komunikasi. At least, untuk generasi orang tua saya ke atas (angkatan simbah dan sedulur-dulurnya) mayoritas berdomisili tak berjauhan, maksimal ya beda desa saja. Jadi saling berkunjung ke family  bisa dibilang merupakan bagian dari aktifitas sehari-hari. Apalagi kalau masa musim tanam padi, saat panen atau pekerjaan musiman lainnya di sawah bisa dibilang saling bergantian, lumayan banget bisa ngirit pengeluaran untuk ongkos tenaga kerja di sawah. 
Happy Family
Beginilah penampakan saudara laki-laki saya,
wajar kan jika kerabat Simbah wondering; siapa yang mana?
Ini tentang (Sebuah) Pertanyaan Favorit Saat Berkunjung ke Rumah Kerabat. Saat kami (saya bersaudara) sudah beranjak besar dan meniti garis hidup di luar daerah, moment beranjang sana ke kerabat secara berduyun-duyun biasanya pas lebaran atau ketika ada hajatan mantu. Pada kesempatan berkunjung barengan ke desa kelahiran simbok saya, ada adegan yang sama dan hampir selalu berulang. 

Sebut saja Desa Piyak, asal leluhur dari garis Simbok saya. Bila kami bersilaturahim berbondong-bondong, dengan penampakan kami yang tidak lagi anak-anak, para kerabat simbah yang kami datangi selalu mengabsen kami satu per satu. Yang namanya A, B, C....yang mana, sekarang tinggal dimana, sudah punya anak berapa, bla..bla..bla. Pertanyaan yang kami anggap lumrah, mengingat beliau-beliau kan seumuran orang tua saya dan ada yang lebih tua lagi. Sedangkan kami sudah sangat berubah banget, terlebih kerabat frekuensi kebertemuan dengan kerabat simbah juga trebilang jarang.

Selain pertanyaan terkait identitas tersebut,  ada satu pertanyaan yang menjadi pertanyaan favorit sekaligus sukses bikin wajah Cak No (kakak yang nomer 6) jadi merona merah.
“ Eh…endi sing disik disusui Bulek XY…?”. Pertanyaan satu ini seolah menjadi pertanyaan favorit. 

Iyahh, saat usia Cak No belum genap setahun dan masih minum ASI, Simbok saya sakit cukup serius sehingga harus menjalani rawat inap di Surabaya selama sebulan lebih. Di era 60an akhir, Sufor mungkin sudah ada. Hanya saja ketersediaannya masih langka di pedesaan dan dari segi harga juga gak mungkin kebeli oleh ortu saya. Sementara Simbok saya juga butuh biaya untuk perawatan intensif. 

Jadi, dicarilah strategi agar asupan ASI untuk Cak No tetap stabil. Selain di kasih tajin, Embah saya berinisiatif membawa cucunya ke rumah. Mau tau kenapa? Karena ada bulek dan seorang family yang tinggalnya tak jauh dari rumah simbah, punya anak batita juga. Kalau istilah sekarang donor ASI, itulah yang didapatkan oleh Cak No kala itu. 

Demikianlah asal-muasal pertanyaan favorit terkait aksi donor ASI di masa batita-nya Cak No. Saat ini, simbah saya sudah almarhum semua. Jadi kerabat-kerabat Simbah di Desa Piyak tersebut yang hingga saat ini masih terkesan dengan peristiwa donor Aksi yang dialami oleh Cak No.

Karena sudah akrab dengan pertanyaan “ Endi sing disik disusui oleh si XY..?”, al hasil sesekali saya atau adik saya suka becandain Cak No saat bersilaturahim. Sebelum pertanyaan favorit diucapkan, salah satu dari kami yang ngasih teka-teki ke kerabatnya Simbah. 

“ Mbah, kira-kira siapa hayo yang dulu dapat asupan ASI dari XY…?”. Dan pecahlah tawa khas Embah sambil ngelus-ngelus kepala Cak No.

Nah, pertanyaan tentang donor ASI adalah salah satu hal seru yang saya temui tiap kali berkunjung ke kerabatnya simbah. Anda juga punya cerita  seru saat berkunjung ke rumah saudara juga kan? Boleh dong di ceritain juga yaa.....


11 comments: Leave Your Comments

  1. kalau "pertanyaan favorit" saya saat bertandang ke keluarga besar adalah: kapan menikah? :-D

    ReplyDelete
  2. pertanyaan horor kalau jumpa sahabat lama, udah berapa banyak anak? hahaha

    ReplyDelete
  3. nah bener mas jarwadi.. pertanyaan favorit tuh.. :D

    ReplyDelete
  4. Kalau saya berkunjung ke keluarga saya, saya jarang bertanya apa apa malahan keluarga saya yang sering bertanya kepada saya.
    Ahi hi hi.

    ReplyDelete
  5. ahahah iya mba Ririe, resiko kalo punya keluarga besar dan sudah banyak yang sepuh ya begitu.., tapi seru dan menyenangkan. Damai rasanya kalau ada di sekeliling mereka yaa...

    ReplyDelete
  6. kapan nikah,kapan punya anak???/

    ReplyDelete
  7. alangkah senang nya klo sdh kumpul semua pasti banyak cerita tak berujung

    ReplyDelete
  8. haha, setuju banget deh sama yang ini mah

    ReplyDelete
  9. yang males kalau aku pas ketemu keluarga besar atau kerabat tuh mereka semua pada ngomongnya pakai bahasa jawa semua, padahal aku gak ngerti sama sekali :(

    ReplyDelete
  10. momen paling horor kalo ke undangan pernikahan apalgi pernikahan keluarga, pasti semua sodara pada nanya kapan nikah :(
    ga bisa jawab langsung diam seribu bahasa, rasanya pengen pinjem pintu kemana saja punya doraemon

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.