WHAT'S NEW?
Loading...

[Saya Belajar] Pentingnya Mengajari Anak Menghargai Perbedaan

[Saya Belajar] Mengajari Anak Menghargai arti tentang pentingnya Perbedaan sejak anak sejak usia dini.  Karena renik-renik perbedaan melekat erat dalam setiap gerak dan aktifitas sehari-hari, mulai dari lingkup terkecil lingkungan keluarga sendiri. Apalagi jika sang buah hati sudah mulai bisa bermain di luar rumah, kemudian masuk sekolah dan serangkaian proses kehidupannya yang akhirnya membawa diri sang anak untuk berinteraksi dengan keaneka ragaman budaya dan suku bangsa se Indonesia Raya.  

Oleh sebab itu maka Bismillahirrahmaanirrahiim  tak heran jika dalam suatu masyarakat ada banyak sekali suku yang tinggal di wilayah yang sama, seperti suku jawa, suku batak, suku betawi dan masih banyak suku-suku bangsa yang lainnya., Sebagai orang tua, yang notabene harus belajar setiap hari dan learning by doing,  mengajari  anak untuk bisa menghargai dan menghormati perbedaan sangatlah fundamnetal mengingat mereka nantinya akan bersosialisasi dimana mereka berada dan tentunya menjadi bagian dari populasi masyarakat majemuk.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan oleh orang tua dalam mengajari mereka untuk menghargai perbedaan, baik itu dengan cara bergaul dengan orang lain yang berbeda suku ataupun dengan memberikan pemahaman mengenai pentingnya menghargai orang lain yang berbeda bahasa dan juga berbeda dalam gaya hidup. Berikut ini beberapa kutipan tips  yang dilansir oleh lifehack lewat website resminya, yang bisa diterapkan dalam rangka cara mengajari anak usia sejak dini untuk menghargai perbedaan:

1. Memberikan Contoh kepada Anak
Cara yang pertama dalam mengajari anak dalam menghargai perbedaan ialah dengan memberikan contoh. Seperti kita pahami bahwa salah satu sifat anak-anak adalah meniru apa-apa yang mereka lihat dan dengar dari orang dewasa di dekatnya, yakni orang tua mereka. Attitude orang tua merupakan cermin yang dilihat dan akan dipraktekkan oleh anak-anak dalam perilakunya. Maka memberikan pemahaman mengenai norma-norma sosial dalam keanekaragaman dalam berinteraksi sosial, akan lebih efektif bilamana  kita bisa memberikan contoh kepada anak tentang bagaimana cara menghargai orang lain. 

Ada banyak kebiasaan baik dalam bertetangga yang bisa kita “pamerkan”  misalnya dengan menyapa tetangga setiap pagi ataupun setiap kali berpapasan di jalan,  sesekali waktu menyempatkan bermain ke rumah tetangga meski sesibuk apapun, ikut kerja bakti, bertakziah bila ada tetangga yang meninggal tanpa meskipun berbeda agama/suku, juga berbagi makanan. Nah, asyiknya dalam soal berbagi MAKANAN ATAU KUE, biasanya suka dapat kiriman balik makanan juga di waktu yang berbeda dengan jenis makanan yang dijamin tidak sama. The more you gift, the more you get.

2. Mengkondisikan Anak Untuk Memiliki Banyak Teman
Secara umum sebuah perbedaan dapat menjadi salah satu akar dari terciptanya permusuhan, hal ini disebabkan karena mereka belum mengerti akan hakikat dari perbedaan.  Jika kita ingin memiliki anak yang dapat berperan aktif dalam menghargai perbedaan maka ada baiknya jika kita mengkondisikan  anak untuk memiliki banyak teman yang berbeda-beda: usia, sekolah, suku, agama, bahasa, baik disekolah ataupun di lingkungan rumah. Motivasi anak-anak agar semangat ikut berbagai acara perlombaan versi anak-anak yang mungkin bisa diikuti semisal saat acara tujuh belasan, kan banyak tuh lomba untuk anak-anak dan biasanya range umurnya juga lumayan bervariasi dengan latar belakang sekolah yang berbeda-beda pula. Dari sepengamatan saya, event lomba tujuh belasan cukup efektif untuk membuat anak-anak bersosialisasi dan bertemu/kenal banyak anak lainnya dengan berbagai keunikannya masing-masing.

3. Memberikan Pemahaman Tentang Manfaat Menghargai Perbedaan 
Memberikan pemahaman tentang manfaat menghargai perbedaan melalui penjelasan lisan juga diperlukan karena tak jarang anak-anak suka bertanya kenapa sih berteman juga dengan orang beda suku, beda agama atau hal-hal beda lainnya. Beberapa hal yang pernah saya temui, sifat fanatisme yang mulai muncul pada anak-anak kadang dilatarbelakangi oleh pemahaman yang subyektif, entah itu hasil dari menerima penjelasan di sekolah atau melihat televisi.  Salah satu contohnya, Azka beberapa kali mengajukan pertanyaan: agamanya orang itu apa?  Gimana Cobak saya gak galau untuk ngasih penjelasan dan pemahaman agar Azka tidak mempermasalahkan agama seseorang? Bahwa pilihan agama itu merupakan hak asasi dan kita harus bisa memedomani: Agamamu adalah agamamu, Agamaku adalah agamaku, yang penting kita sesama manusia saling bersikap baik dan tidak menggangu urusan orang lain selama tidak melanggar norma-norma sosial yang berlaku. 

4. Komitment untuk  Menerapkan Sikap Hormat/menghargai perbedaan
Bilamana tiga point di atas sudah diimplementasikan, dan suatu ketika mendapati anak yang bersikap kurang menghargai temannya karena perbedaan tertentu, sebaiknya juga tidak langsung memarahinya, apalagi jika masih ada teman-temanya. Kita memang  tidak boleh mentolelir sikap anak yang tidak menghargai perbedaan pada orang lain dan tidak hormat kepada orang tua, tapi akan lebih bijak jika dilakukan dengan skenario  yang  lebih friendly. Semisal, ajak anak untuk pulang dulu, biar mandi atau makan dulu, baru deh di ajak ngomong atau ditanyain apa dan kenapa dia tadi bersikap yang “out of the range”. Intinya, cari tahu dulu alasannya dan dengarkan penjelasannya. Dan jika memang some thing yang dia lakukan tersebut karena  perwujudan sikap tidak suka semata atau sejenisnya, ada pentingnya untuk memberikan sanksi yang relevan dan soft tapi berkesan sehingga anak akan mengingatnya dengan baik dan mulai belajar untuk berkomitmnet untuk Komitment untuk  Menerapkan Sikap Hormat/menghargai perbedaan.

5. Mengajari  Anak Meminta Maaf

Orang bilang, memaafkan adalah tindakan yang mulia.
Tapi juga perlu dipahami bila meminta maaf juga merupakan sikap gentlemen yang butuh keberanian luar biasa lhoh? Apalagi jika orang tua yang minta maaf pada anak-anaknya? 

Maka mengajarkan anak untuk meminta maaf setiap mereka melakukan kesalahan, akan lebih efektif bila orang tua juga tak enggan-enggan untuk meminta maaf sekiranya melakukan kekhilafan. Hal ini dapat membuat mereka belajar bahwa orang tua yang sudah kenyang dengan asam garam kehidupan lebih dulu dan lebih banyak tapi masih suka rela minta maaf, apalagi bagi anak yang masih lebih muda, masih sering labil dan galau terbawa emosi? Some how, anak akan belajar untuk selalu introspeksi diri dan berusaha minta maaf any time kepada siapa saja bila enyadari akan kekhilafannya.

[ Saya Belajar] Mengajari Anak Menghargai Perbedaan  aslinya sekedar berbagi  tentang bagian dari prosesi yang saya jalani menjadi orang tua, memang sih point-point di atas masih lebih kental pada pemahaman teori tapi by time semoga saya bisa menerapkannya dengan lebih baik dan membumi. Dan pastinya, yang  sudah experienced menjadi orang tua  lebih punya  banyak tips, trik dan metode yang lebih jitu dalam mengajari sang buah hati lebih aware dan awake untuk Menghargai Perbedaan.   

12 comments: Leave Your Comments

  1. tipsnya sangat bagus mbak Rie, untuk point 2, anak saya susah bersosialisasi dengan teman seumuran disekitar rumah, begitupun dengan anak-anak tetangga yang sebaya. Mereka lebih suka berkomunikasi dengan hp daripada bertemu langsung. Mungkin ini tantangan buat orang tua untuk bisa menemukan metode yang bisa sekali-kali mengumpulkan mereka ya mbak... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Awalnya Azka juga demikian Mbak. Bahkan hampir setahun di tempat tinggal yg baru iini, sepulang sekolah hanya di rumah saja. Alhamdulillah, sekarang sdh banyak temannya dan mau berteman dengan siapa saja

      Delete
  2. anak sukanya mencontoh ya mbak jadi mengajarkan pun harus ada contohnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Memberikan contoh baik pd anak lebih efektif diikuti drpd diceramahi ya mbak

      Delete
  3. Noted banget soal menghargai perbedaan :) TFS mbak!

    ReplyDelete
  4. Betul, memberikan edukasi tentang pengertian perbedaan terhadap segala sesuatu adalah sangat penting, karena itu adalah langkah awal dan kesempatan awal bagi anak anak untuk memperluas wawasannya, agar kelak nanti mereka lebih siap dalam menghadapi masa depannya. Saya sangat setuju dengan tulisan Anda dan perlu untuk di aplikasikan di lapangan. Terima kasih sudah berbagi ilmu yang berguna.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebagian besar masih pemahaman teori bagi orang tua new comer seperti saya, tapi step by step kami berusaha menerapkannya sebaik mungkin. Every day is new lesson bagi kami

      Delete
  5. Anak-anak lebih mudah meminta maaf dari pada orang dewasa Mak Ririe,

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ho Oh mbak, kayak yg tua-tua. susyah banget kalau minta maaf duluan

      Delete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.