WHAT'S NEW?
Loading...

Perlunya Syarat dan Ketentuan [Berlaku Sejak Awal]

“Syarat dan ketentuan berlaku” atau kalimat lain yang semakna dengan “ TERM & Condition” SUDAH menjadi “ADAT dan ADAB” standar yang menyertai dalam banyak hal, antara lain pendaftaran awal pada: event (lomba, audisi, gathering, seminar, workshop), recruitment karyawan, pendaftaran siswa/mahasiswa baru, beli rumah, bikin shop online, dll.  

Point-point yang diharapkan menjadi first filter sangat penting untuk dituangkan secara jelas dan transparan dalam “Syarat dan ketentuan”, yang Bismillahirrahmaanirrahiim tak hanya sangat berguna bagi pihak penyelenggara/panitia/tim pelaksana kegiatan/stake holder atau apalah penyebutannya. Bagi calon kandidat pun sangat-sangat penting sebagai pertimbangan/first consideration: apakah sang calon peserta memiliki kualifikasi yang sesuai/cocok seperti yang telah ditetapkan?

Bisa saya simpulkan, Perlunya Syarat dan Ketentuan [Berlaku Sejak Awal] sebenarnya memiliki manfaat dua arah, yaitu bagi stake holder/pihak penyelenggara  dan calon peserta.
  • Bagi panitia/tim/EO, merupakan efisiensi waktu, tenaga, biaya, pikiran/emosi. At least, dari sekian banyak pendaftar yang sudah masuk, mayoritas sudah memiliki kualifikasi dasar yang dibutuhkan. Kalau ada yang masih nekad mendaftar meskipun sudah jelas-jelas out of the criteria…itu sih ujian kesabaran buat panitia/tim seleksi. Hehehe..
  • Bagi peserta, adanya syarat dan ketentuan untuk pendaftaran merupakan pedoman untuk menilai secara mandiri dan sportif mengakui apakah eligible or not untuk mendaftar. Kalimat singkatnya: Adanya syarat dan ketentuan wajib saat pendaftaran secara otomatis akan membuat calon peserta TAHU DIRI, apakah dirinya memenuhi kriteria seperti yang dipersyaratkan atau tidak. Pastinya juga, pada dasarnya tak ada calon peserta yang ingin wasting time mendaftar ke event/acara/audisi yang jelas-jelas ada kriteria yang tidak ada pada dirinya dan atau tidak bisa dipenuhi. Kecuali, ada unsur kesengajaan dalam rangka iseng atau sekedar menyemarakan pendaftaran saja. *contohnya: saya pernah ikut GA dan ada point persyaratan yang gak bisa saya penuhi tapi nekad tetap mendaftar. Hehehee
  • Pastinya, pencantuman syarat dan ketentuan yang diberlakukan sejak awal, membuat calon peserta dan tim panitia sama-sama enak, sportif dan meminimalkan kemungkinan bias atau terjadinya konflik di kemudian hari
Mari sejenak terbang ke antah berantah dan ngayal:
“Seandainya tidak ada syarat - ketentuan apapun untuk mendaftar atau 
mengikuti suatu event/lomba?”

Tentu siapa saja yang tertarik akan MERASA dirinya memiliki kesempatan yang sama untuk bisa mendaftar. Tak bisa dihindari lagi kalau jumlah pesertanya akan over limit dan membludak pol-polan. Jika hal ini terjadi, siapa yang paling direpotkan? Siapa yang akan menghadapi benturan emosi dan kelelahan fisik paling kompleks? Kalau peserta, karena sudah niat ikut mendaftar, mereka akan memiliki doping yang berupa euforia: Rapopo capek dan antri, namanya juga usaha kok.
lomba; kompetisi; Audisi; Event; Acara
Sedikit ada kesamaan dengan cuplikan ngayal di antah berantah tersebut, ketika beberapa waktu lalu saya mendaftar sebuah event dan mendapatkan jawaban yang dengan jelas menyebutkan kalimat seperti ini:
--------------------
Email ini hanya berlaku penerima pertama (bukan hasil forward) dari email resmi kami.
Yth. Pelamar XXXXXX Gathering bla bla bla… dari Yogyakarta,

Nama anda terpilih dari sejumlah pelamar dalam acara Netizen Informal Gathering yang akan dilaksanakan pada : ~ no need detail here ~

Berdasarkan hal di atas kami meminta konfirmasi dari anda apakah tetap bersedia mengikuti acara ini? Jika bersedia, kirimkan data diri anda kembali yaitu : ~ no need detail here ~

Harap membalas email ini paling lambat 11 November 2015 pukul 13.00 WIB. Apabila tidak merespons kami anggap anda mengundurkan diri.
--------------------

Karena sudah dinyatakan TERPILIH dan diminta mendaftar ulang sebelum batas waktu yang telah disebutkan, saya pun bersegera diri membalas email sesuai permintaan data yang telah disebutkan. 
Sebenarnya saya sudah mulai curiga, kok H-3 belum ada email konfirmasi run down acara dan kepastian tempat pelaksanaan acara. Dikuatkan lagi, info dari teman yang sudah menerima email berisikan detail acara bergengsi tersebut. 

Demi memastikan status kepesertaan, saya pun KEPO dan langsung kirim email ke pihak panitia yang sebelumnya mengcontact via email juga. Hari berikutnya, menerima balasan secara massal. Maksudnya email tersebut dikirim oleh panitia secara CC pada sekian pendaftar yang intinya menyampaikan: 
“……Dikarenakan banyaknya jumlah peserta yang terpilih, maka kami melakukan seleksi Tahap 2 dan Anda dinyatakan "Belum Lolos" untuk mengikuti acara ini….”

Saya akui kecewa, tapi gak kecewa akut. Karena pada prinsipnya, ketika saya ready to the battle…eh, maksudnya ikut suatu event/acara, selain karena merasa tertarik dengan tematiknya juga semata  berasaskan pada UU: selagi waktunya memungkinkan, why Not I take the chance? 

Dan terkait dengan “crowded”nya acara tersebut, yang berseliweran di benak saya bukan lagi soal kecewa atau BAPER, tapi lebih pada rasa penasaran: 
  1. Kenapa jadi ada excusing SELEKSI KEDUA? Jika toh ada seleksi lanjutan yang lebih selektif, kenapa tidak disampaikan sejak broadcast awal-awal masa pendaftaran? 
  2. Bagaimana dan apa saja Kriteria/kualifikasi yang kemudian dijadikan alat filter (yang mendadak ada seleksi tahap kedua)  bagi peserta terpilih dan tidak terpilih? 
  3. Apakah tim/panitia/EO yang menghandle acara tersebut belum cukup kompeten untuk menyelenggarakan suatu event/acara?
  4. Untuk sekelas suatu institusi prestisius, apakah tidak melakukan fit and proper test terhadap tim/panitia yang akan bertanggung jawab dalam penyelenggaraan  acara tersebut?
  5. Dan ada lagi yang aneh, calon peserta yang TIDAK mengirimkan konfirmasi apakah tetap bersedia mengikuti acara, juga dinyatakan “Belum Lolos” tahap kedua?!
Oia, secara pribadi saya ikut bersimpati bagi yang sudah reservasi tiket pesawat PP (Makasar - Solo, katanya) tapi termasuk "Belum Lolos" seleksi tahap kedua juga. Sepertinya, karena antusiasme yang tinggi sehingga tak mempermasalahkan meskipun harus membiayai perjalanan secara mandiri karena sudah dijelaskan kalau tiket/transportasi yang ditanggung maksimal Rp. 300.000,-. Kalau saya memang belum beli tiket karena rencana semula hendak berangkat bareng Kang Suami (Hari Jum’at juga ke Solo). Lumayan kan menikmati perjalanan ala-ala princess, cukup duduk cantik di sebelah kiri sambil mendengarkan alunan lagu-lagu  dari channel gelombang RADIO sepanjang perjalanan. 

Kalau Om-Om Michael Learn To Rock bilang: Nothing To Lose….dan saya  tambahi: ambil baiknya saja jika ikut suatu acara. Jadi saya tak hendak menyalahkan siapa-siapa, lagian siapa saya kok sombong nian menyalahkan orang lain ya?. Toh, saya belum tentu mampu juga kok jika berada di posisi tim panitia tersebut. 
Yang jelas, peristiwa ini merupakan pembelajaran buat saya bahwa menyelenggarakan suatu acara itu tak hanya harus competent dalam membuat perencanaan di atas kertas, tapi pelaksanaan hingga akhir acara kudu di desain agar seminimal mungkin bila terjadi keributan. 


Nah, siapa neh yang sudah pengalaman jadi panitia suatu acara? 
Atau, jadi Tim seleksi lomba? 
Boleh dong bagi-bagi pengalamannya yaaaa….? 

22 comments: Leave Your Comments

  1. kalo panitia acara belum pernah, kalau lomba iya. memang harus detail kasih keterangan biar ga rancu ya, mba Rie. kalau syarat dan ketentuan berlaku orang biasanya malas buka yang syarat-syarat itu, akhirnya lepas kesempatan baiknya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sCARA Umum, sebenarnya kita selalu berhadapan dengan TC kan Mbak. Hanya saja, kebanyakan tdk tertuang secara explisit.

      Delete
  2. Ya, boleh juga itu untuk menghindari berbagi hal yang tidak kita inginkan di kemudian hari atau di kemudian waktu,,, untukkeamanan kita juga.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bagi saya, penting utk menjelaskan TC ini sjk awal broadcast demi transparasi dan sportifitas, selain efisiensi dan hemat waktu, tenaga, biaya, dll

      Delete
  3. term and condition biasanya utk kepentingan kedua belah pihak ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya banget Mbak, biar sama-sama enak dan gak muncul pihak yg merasa dirugikan

      Delete
  4. Kalau ada kata : syarat dan ketentuan berlaku, saya pasti tidak pernah kesangkut..hehe..

    ** sabar ya mbak Rie..masih banyak kesempatan... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum tentu loh mbak? krn TC itu kan berlaku scr umum. Semisal kita bank, bikin rekening baru..nah itu kan ada kelengkapan dokumen yg harus ditunjukkan, itu bagian dr perwujudan TC juga

      Delete
  5. izin bookmark ya mbak, sangat membantu ini :)

    ReplyDelete
  6. saya kadang males banget kalau ada syarat dan ketentuan berlaku... he he

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau TC pakai usia, nah itu saya srg terlewatkan krn usia saya kan masih di bawah 17 tahun *ssstt*

      Delete
  7. Wah menarik banget, kebetulan aku memang lagi intens ikut lomba jd kudu teliti aturan mainnya y mb

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, kita kudu teliti mencermati TC sebelum ikut lomba/event

      Delete
  8. Aku sering ketolak klo ikut acara, syarat gak terpenuhi hehe

    ReplyDelete
  9. Kadang kalau kebanyakan term and kondition jadi males mbak ikutan saya mah..

    Wah kalau panitia belum pernah atuh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya males kalau TC nya banyak dan banyak yg gak masuk kategori deh. hehehe

      Delete
  10. Endingnya yg udah jauh2 mau datang dari Makassar itu gimana? Sungguh terlalu. I feel you too mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga, tiketnya bisa di refund mbak

      Delete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.