WHAT'S NEW?
Loading...

[Ketemu] Sandal Awet

Pernahkah memperhatikan berapa lama usia SANDAL yang setia jadi alas kaki kita? Berapa lama bisa bertahan dipakainya? Dalam hal ini Bismillahirrahmaanirrahiim, saya sebut Sandal Awet bilamana sandal tersebut tiap hari dipakai dan bertahan minimal satu tahun.

Ya semacam sandal jepit yang kebanyakan kita….ehhm saya pakai untuk sehari-hari ketika keluar rumah, ke pasar, ke warung, ke mesjid….pokoknya sering digunakan kala keluar rumah. Tentunya, sandal yang dipakai tidak semuanya menggunakan sandal jepit berbahan karet yang sudah tenar sejak jaman masih unyu-unyu. Yang masih lekat saya ingat, dulu saya hanya akan menggunakan sandal jelang berangkat ke surau untuk mengaji. Selain itu, saat SD s/d SMA saya terbiasa memakai sandal hanya ketika akan sholat yakni ketika berwudhlu dan selesai sholat ya back to the nature: nyeker alias bertelanjang kaki. Mau ke warung, ke sawah, ke lapangan angon wedhus (sambil main layang-layang), sepeda-an, asal tidak dalam konteks bepergian, memakai sandal jepit merupakan hukumnya Mubah karena sandal jepitnya diharapkan berusia panjang (awet) sehingga seperlunya saja dipakai alas kaki. Jika jepitannya putus ya dikasih paku di bagian bawah pada batang yang buat jepitan jari kaki dan dipaku lagi hingga batang sandal jepit itu sudah super pendek sehingga tak bisa dipaku lagi.

Sandal Jepit dan Klompen/Bakiak
Sandal jepit yang sudah terbukti kehandalannya dan mendunia, bukti otentiknya tahun lalu si Sandal Jepit Swallow yang biasanya beredar di kisaran harga 10-an ribu mendadak melejit hingga 200an ribu Rupiah gegara sandal berbahan karet ini dikenakan oleh Sehun, salah satu personel boyband EXO asal Korea ketika berkunjung ke Indonesia. Sebenarnya saya tidak begitu mengikuti trending topik Sendal Jepit tersebut, hanya kebetulan Ifa pas pulang (kala itu) berkomentar ketika melihat sandalnya Azka rusak. “ Ya udah kamu pakai sandal swallow itu saja, keren lho Ka, Sehun yang anggotanya band EXO saja pakai sandal itu kemana-mana kok”
Maklum, si Ifa memang penggemar K-Drama sekaligus sukak dengan boy band Korea juga. Kalau saya mah hanya paham K-Drama Full House dan Winter Sonata itu. Eh…termasuk K-Drama bukan ya? *EmakKudet*

Jika sandal jepit meraih popularitas hingga internasional, ada lagi sandal awet yang melejit lagi keberadaannya ketika si sandal tersebut menjadi bagian alur cerita salam Film Kiamat Sudah Dekat.  nasional masih cukup sering kita lihat saat ke Mesjid: Sandal Klompen atau gapyak atau bakiak. Bahkan sandal klompen ini menjadi trending story dalam film KIAMAT SUDAH DEKAT kan? Di scene si Fandy yang kehilangan sepatu lars saat membersihkan diri di sebuah Musholla akibat tertimpuk es krim, akhirnya bertemu dan jatuh cinta dengan Sarah, seorang gadis cantik berjilbab anaknya Haji Romli (seorang tokoh agama di kampung tersebut). Dan Sarah memberikan sandal klompen pada Fandy. Terbukti kan kalau Klompen pun memiliki popularitas tak kalah dengan sandal jepit swallow kan?. Tak hanya terkenal awet tapi juga bisa buat sendiri, ada kayu potongan dibentuk memanjang seukuran telapak kaki, diovalkan kedua ujungnya kemudian ditempelkan irisan ban sisa secukupnya untuk selop kaki, jadi deh klompen ori kreatifitas sendiri.


Sebenarnya sandal awet banyak jenisnya, tak hanya sandal jepit dan klompen. Seperti sandal yang tersimpan dalam koleksi foto yang saya ambil sekitar tahun 2013. Sebuah foto sandal hasil jepretan ketika singgah di Masjid (lupa nama dan lokasi persisnya) yang terletak antara Rogojampi – Banyuwangi. Sandal yang terbilang awet dan sudah sangat lama tidak saya lihat penampakannya, berbahan plastik yang dulu menjadi sandal kehormatan bagi Pak Khayan (Pak’e saya). Sandal Lily yang terparkir anteng di depan pintu masjid untuk jama’ah pria, sukses menarik perhatian saya dan mengingatkan betapa sandal tersebut (dulu) merupakan sandal istimewa karena bisa membeli sandal tersebut artinya memiliki gengsi tersendiri karen strata sandal lily lebih tinggi daripada sandal jepit karet. 
Sandal Awet Lily
Dan seingat saya, sandal Lily tersebut juga tersedia untuk ibu-ibu. Kalau Pak’e suka pilih warna coklat, maka sandal Lily Mbok’e adalah warna hijau. Sebagaimana asas manfaat semaksimal mungkin, sandal Lily tersebut hanya akan pensiun abadi saat selopnya putus. Biasanya, sandal tersebut baru akan habis masa ekonomisnya ketika bagian alas kakinya sudah tipis maksimal, artinya sandal lily tersebut bisa berumur hingga 4-5 tahun, bahkan bisa lebih lama jika pemakaiannya hanya momentum tertentu (tidak setiap hari).  Dan amazingnya lagi, ternyata sandal Lily masih eksis di kancah percaturan sandal hingga saat ini. Lha bahkan dijual online pula kok. 

Ngomongi soal SANDAL AWET, saya juga punya sandal jepit awet dan kena air juga tetap thokcer. Sandal Jepit yang setia setiap hari menjadi alas kaki tiga tahun belakangan ini, saya beli dengan harga diskon 50% hampir setiap hari saya pakai saat keluar rumah, termasuk juga untuk mudik, juga saya pakai pas ke Jakarta juga awal tahun lalu.
Sandal Awetku
Nah, apakah anda juga memiliki sandal awet seperti saya? And or at least kenal jenis sandal awet lainnya?

9 comments: Leave Your Comments

  1. itu sandal lily...jadi kagen jaman dulu,bertebaran di mushola hehehe. saya sukanya sandal jepit,lebih asik aja...^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, skrg sdh jarang yg pakai sandal LIly inih ya

      Delete
  2. Sandalku paling awet satu atau dua tahun. Rusak bukan karena sering dipake. Tapi jarang dipake. Tahu2 udah lapuk :D

    ReplyDelete
  3. Aku jarang pake sendal kalo jalan krn tumit jadi pecah2..lebih nyaman pake sepatu teplek kalo kemana-mana atau ya sepatu biasa

    ReplyDelete
  4. hehe...mana mungkin mau kalau harus nyopet sandal warna warni ngga jelas gituh, coba...orang gelo juga ngga bakalan mau, apalagi saya...iih...ogah

    ReplyDelete
  5. waktu keci aku juga punya sandal lili mbak

    ReplyDelete
  6. Waaah, sandal lily, jadi ingat sandalnya bapak.

    ReplyDelete
  7. Mbak seriusan sandal swallow jadi 200rb? mahal amat, pantesan mamah saya gak jualan sandal merk itu lagi

    ReplyDelete
  8. Sandalku juga awet, mbak. Biasaya ganti setahun sekali atau malah kadang lebih. :D

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.