WHAT'S NEW?
Loading...

Ternyata Bersyukur itu Tidak Sulit

Tulisan ini pada awalnya berjudul “Mudahnya Bersyukur dan Mensyukuri” yang Bismillahirrahmaanirrahiim sebenarnya saya buat dalam rangka azaz pendampingan untuk Aida. Iyah, waktu itu Aida mendapat tugas membuat tulisan untuk mading di sekolahnya. Aida bilang pengen menuliskan salah satu kisah yang terdapat dalam buku  yang berjudul berjudul Syukur yang di tulis oleh Ustadz Nauval atau akrab dipanggil Habib Novel (Solo). 

Dan Bulan Agustus lalu, saya memantaskan (baca: memberanikan) diri mengirimkan tulisan tersebut ke Nurul Hayat. Lha iyah, secara sadar saya kan memang masih super minder kalau ngirim tulisan ke redaksi media massa. Karena ingat chit-chat sekian bulan lalu dengan Mbak Nurul Rahmawati sang empunya blog Bukan Bocah Biasa bahwa donatur dipersilahkan untuk mengisi rubrik di majalah NH. Ya sudahlah, saya mention beliau jika saya pengen mengirim tulisan tapi secara tata naskah masih amburadul dan temanya juga sederhana. Dan mendapatkan angin segar jika saya boleh kok mengirimkan naskah walaupun susunannya masih kacau-balau. Alhamdulillah, sungguh kesempatan  yang sangat berarti untuk belajar mengasah pena bagi saya.

Oh iya, langsung saja pada point maksud dan tujuan untuk memposting versi asli tulisan saya.   Bisa diperbandingkan tampilan tulisan saya bergaya nglantur dan yang sudah mendapatkan make over. Maka, terima kasih sekaliii atas kesempatan yang diberikan untuk menerima tulisan sederhana saya di majalah NH. Dan berikut ini tampilan tulisan saya cantik banget hasil sentuhan tangan editor NH ( Mbak Nurul Rahmawati) dan versi aslinya yang masih berantakan berikut ini:

Ternyata Bersyukur itu Tidak Sulit ~ NH edisi 129
Ketika aku mengeluh banyak PR, Ulangan, makan tidak selera, protes televisi yang gambarnya hilang-hilang karena tidak berlangganan TV kabel, dengan sabar Ayah selalu bilang “ Aida, kamu harus belajar untuk selalu bersyukur. Nikmatilah apa yang ada saat ini, itu akan membuatmu lebih nyaman daripada memikirkan hal-hal yang saat ini belum atau tidak bisa dimiliki”. 

Sebetulnya aku bingung dan gak habis pikir, bagaimana bisa kita merama nyaman dan enek-enak saja manakala sesuatu yang aku inginkan belum aku ada? Masak iya bisa menikmati tayangan televisi yang sebentar-sebentar gambarnya hilang gara-gara antena tidak maksimal merelay gambarnya? Apalagi jika ada Haikal CJR sedang tampil di acara TV, atau Morgan mantan personilnya SMASH itu sedang main sinetron? Hughh…rasanya gemes plus pengen uring-uringan tapi kan tidak mungkin aku uring-uringan sama Ayah atau Bunda? Apalagi sama Azka, adikku yang yang suka rebutan lihat acara sepak bola itu, bisa terjadi perang dunia ketiga karena Azka bisa punya alasan untuk memilih tayangan TV dengan acara sepak bola terus-terusan deh.

Dan beberapa hari lalu, sepulang Ayah dari Solo membawa oleh-oleh beberapa buku yang salah satunya berjudul Syukur.  “ Ini ada buku yang bagus, coba deh Aida baca…” demikian kata ayah sambil menyerahkan buku yang di tulis oleh Ustadz Nauval atau yang akrab dipanggil Habib Novel oleh Ayah.

“ Daripada tak ada kerjaan, boleh juga neh baca-baca buku ini” demikian pikirku, itung-itung sambil belajar untuk suka membaca. Seperti kata Bunda “ Dengan membaca kamu bisa melihat dunia meski kamu belum bisa keliling dunia, Da”.

Maka, jadilah aku mulai membuka-buka buku yang di kasih oleh Ayah tersebut. Buku yang berisi 29 judul dengan kisah-kisah menarik tentang sikap-sikap bersyukur dan salah ceritanya yang sangat menarik adalah kisah tentang seorang pemuda dan Rajanya. Kurang lebih seperti ini ceritanya:

Di suatu tempat, hidup seorang pemuda yang bijaksana dan gemar berburu. Kebaikan dan kebijakan pemuda tersebut didengar oleh seorang raja yang juga gemar berburu. Singkat cerita, pemuda tersebut diangkat menjadi penasehat sekaligus teman berburu.
Pada suatu hari raja dalam perjalanan berburu. Sayangnya dalam perburuan kali itu raja kurang beruntung. Secara tak sengaja, pedang sang raja mengenai dirinya sendiri sehingga salah satu jari tangannya terputus. Raja pun mengakhiri perburuannya. Setelah berhari-hari luka sang raja sembuh, akan tetapi beliau sedih karena kehilangan salah satu jarinya. 
Melihat sang raja yang murung, pemuda merasa iba, lalu pemuda menasehati sang rajanya, “sabar paduka, walaupun kehilangn satu jari, pasti itu yang terbaik untuk paduka” 
“Yang terbaik? apa buktinya?” Ujar sang raja dengan geram dan merasa dihina sehingga pemuda itu dimasukkan ke penjara bawah tanah.
Selang beberapa hari kemudian sang raja menghampiri si pemuda dan berkata,”bagaimana keadaanmu disana?apakah itu yang terbaik untukmu?”
Pemuda pun menjawab dengan tenang, ”tentu saja ini adalah yang terbaik untuk saya.” Dengan kesal raja pun meninggalkan pemuda tersebut dan pergi berburu lagi.
Dalam perburuan kali ini raja mengalami musibah. Raja masuk perangkap suku pedalaman dan akan dijadikan tumbal untuk dipersembahkan pada gunung berapi.
Detik-detik terakhir saat raja akan dilemparkan ke kawah gunung tersebut, tiba-tiba kepala suku melihat jari jemari sang raja. Mengetahui bahwa jari raja tidak sempurna, maka sang kepala suku memberhentikan upacara ritual tersebut dan langsung melepaskan raja tersebut.
Dengan nafas terengah-engah raja pun kembali ke istana dan langsung menuju ke ruang bawah tanah untuk menemui pemuda tersebut. “kamu benar segala yang kita dapatkan adalah yang terbaik, meski terkadang tidak sesuai keinginan kita. Hilangnya satu jariku merupakan yang terbaik untukku. Karena tidak memiliki satu jari ini maka aku selamat dari kematian. Maafkan aku, aku telah memasukkan kamu ke penjara” ucap sang raja pada pemuda itu dengan tulus.
“Paduka tidak perlu meminta maaf, seperti yang sudah saya sampaikan, dijebloskan dipenjara adalah yang terbaik buat saya. Jika saya tidak dimasukkan ke penjara pasti saya akan menemani paduka berburu dan sayalah yang akan menggantikan paduka menjadi tumbal. Berkat di penjara justru saya selamat” demikian jawab sang pemuda tetap dengan sabar dan rasa bersyukur atas semua yang dialaminya.     SELESAI

Sebuah cerita yang menggambarkan bahwa apapun yang sedang kita alami atau bagaimana pun kondisi kita saat ini merupakan hal terbaik dan tepat yang diberikan oleh Allah SWT untuk kita. Betapa sebenarnya kunci bersyukur itu hanya dengan kesediaan kita untuk menerima kenyataan yang sedang kita alami.

Dan dari cerita tersebut, aku memetik beberapa pelajaran antara lain: Bahwa Allah SWT senantiasa memberikan apa-apa yang kita butuhkan, BUKAN apa yang kita inginkan karena seringkali keinginan kita lebih banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu [bisikan setan]. Allah juga tidak tidak pernah terlambat dalam memberikan nikmat kepada kita. Bahkan dalam setiap detik kita adalah nikmat yang besar, tapi kebanyakan dari kita belum bisa merasakan bahwa setiap detik adalah nikmat dari Allah. Kita baru merasa mendapatkan nikmat jika kita telah memperoleh apa yang kita inginkan. Padahal allah telah memberikan nikmat yang banyak pada diri kita. Allah berfirman dalam QS. Ibrahim ayat 34 yang artinya “Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, maka tidaklah kalian akan mampu menghitungnya”.

Oleh karena itu sebelum terlambat, marilah kita mensyukuri atas apa yang telah Allah berikan untuk kita. Walaupun awalnya terasa sulit sekali untuk menerima kenyataan yang tidak kita harapkan,  tapi Insya Allah dibalik itu semua, pasti itu yang terbaik untuk saat tersebut.

Kembali teringat sebuah peribahasa yang sangat akrab diajarkan di sekolah: Seperti padi yang semakin bertambah umur (menguning) akan semakin merunduk. Dengan mengambil sifat padi menguning yang selalu merunduk tersebut, MAKA semestinya aku bisa belajar untuk berpikir dahulu sebelum mengeluh:  
bahwa ketika sedang bersedih dan dalam situasi yang kurang baik tetap harus bisa bersyukur karena masih di beri kehidupan. Sebelum nggrundhel kehujanan waktu naik motor, mestinya aku ingat akan orang (jaman dulu) yang menempuh jarak ribuan KM dengan berjalan kaki. Saat  hendak merasa nelongso tidak bergelimang kemewahan seperti cerita-cerita di sinetron atau orang lain, aku harusnya melihat bahwasanya di luar sana banyak orang terpaksa harus jadi peminta-minta hanya untuk mendapatkan sesuap nasi. Sebelum aku protes karena televisi yang sering ngeblur layarnya, mestinya aku senang karenanya aku bisa belajar tanpa terganggu acara televisi lagi. Ketika merasa suntuk karena PR sekolah yang banyak, aku harus ingat akan wajah anak-anak seusiaku yang sering kulihat ketika perjalanan mudik ke Jawa Timur, mereka jadi pengamen di lampu-lampu merah dan tidak bisa menikmati indahnya masa-masa sekolah.
Tentunya masih banyak hal ‘menunduk’ = menerima dan menikmati apa yang ada lainnya yang bisa menjadi motivasi untuk menyalakan lentera kebersyukuran terhadap apapun yang kita miliki saat ini. Mari kita belajar dengan cara selalu melihat ke bawah, membandingkan kondisi kita dengan orang lain yang keadaannya dibawah kita dan lebih menderita dari, misalnya:

  • kita memiliki orang tua yang baik, penyabar dan penyayang, dengan segenap kemampuannya berusaha untuk mencukupi segala kebutuhan dan keinginan kita. Sementara banyak anak seusia kita yang terpaksa mengemis untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Maka dari itu hormatilah dan sayangilah orang tua kita.
  • kita dapat mengenyam pendidikan yang layak. Sementara banyak orang yang ingin sekolah tapi tidak mampu untuk menyekolahkan anaknya. Maka dari itu sebagai pelajar kita harus sekolah dengan baik dan benar.
  • kita masih bisa makan 3 Kali bahkan lebih dari 3 kali. Sementara banyak anak-anak jalanan sana yang mencari makan saja susah, belum tentu dalam sehari dia bisa makan. Maka dari itu janganlah kalian memilih-milih makanan, mencela menu makanan yang sudah disiapkan oleh ibu kita, apalagi membuang-buang makanan.
  • kita masih bisa bernafas bebas. Sementara banyak orang yang tengah terbaring sakit. Bahkan bernafas saja harus memerlukan bantuan alat atau mesin.
  • Kita masih bisa bermain dengan leluasa setelah pulang sekolah, sementara banyak teman-teman kita yang harus membantu orang tuanya mencari nafkah dengan berjualan atau bekerja di sawah setiap hari di luar jam-jam sekolah.

Singkatnya adalah, bersyukur itu tidak sulit dan mudah untuk dipraktekkan. Dengan bisa bersyukur bisa membuat kita bahagia tanpa henti dimana pun dan kapan pun. Jadi dengan bersyukur kita akan senantiasa bahagia tanpa perlu mengeluarkan biaya yang mahal.

Dan yang pasti Allah tidak segan-segan memberikan nikmat yang lebih dari apa yang kita miliki saat ini, seperti termaktub dalam Surat Ibrahim ayat 7 yang artinya “ Jika kamu bersyukur, maka AKU akan menambah nikmatKU kepadamu. Dan Jika kamu ingkar (kufur) akan nikmatKU, sungguh siksaKU amat pedih”


Tahun demi tahun berlalu, 
purnama datang dan pergi pada titian garis edar mengantar hitungan bulan. 
Hari-hari yang merangkumkan dalam bingkai minggu pergi melaju, 
sehingga jam dan detik mengesahkan tiap nadi berdetak teratur
merentakan segenap organ kehidupan.

Jadi mari berusaha menikmati segala apa yang ada dan kita miliki saat ini, memaknainya demi mengambil hikmahnya untuk pembelajaran agar hari esok menjadi lebih baik.  AMIIIN  


 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


30 comments: Leave Your Comments

  1. tahun baru ini, gabung kirab disini nyokk ... eh iyah, mari kita bersyukur ...

    ReplyDelete
  2. ntar dulu, panjang ini, ancang2 dulu buat baca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau lari berapa K neh Pak? kok pake ancang-ancang juga

      Delete
    2. emangnya masih kuat lari emang bapak itu?

      Bersyukur itu sangat mudah di ucapkan, tapi rada susah untuk di maknai dalam hati, butuh latihan yang terus menerus dengan berusaha semaksimal mungkin melaksanakan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya, baru deh bersyukur jadi mudah dan ringan, betul tidak?

      Delete
  3. wah keren tulisannya dimuat di media cetak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah ya, *pdhl tulisan saya masih perlu banyak pembenahan

      Delete
  4. Cerita tentang pemuda dan raja itu sungguh keren.
    Memang benar, bersyukur itu tidak sulit. dan.. yah... meski hidupku sulit, tetapi aku sangat bersyukur menjalaninya jika dibandingkan dengan kehidupan yg (mungkin) kutinggalkan. karena takdir pasti terjadi kan ya.... daripada mengeluh, lebih baik menikmati saja.
    sukses selalu mbak.

    ReplyDelete
  5. Wah, waaah... langsung diposting di mariii.... *senang*
    Makasiii ya mbak... Maapkeun, banyak yang kudu diedit, soalnya panjang bener tulisan mbak Ririe :))
    Btw, sedikiiit typo. Nama daku Nurul Rahmawati, Tanpa "c" hihihi.

    Twitter aku @nurulrahma :))

    ReplyDelete
  6. Kayaknya asykk nihh yang udah punnya buku sendiri hehehe.... :D kalo saya cocok gak ya jadi penuliss

    ReplyDelete
  7. wah tulisannya panjang ya kayak ikan layur hehehe...
    musti siapin kopi item warisan karuhun dulu nie :D

    ReplyDelete
  8. Keren mbak tulisannya dimuat di majalah NH, selamat ya

    ReplyDelete
  9. hiii congrat yah..bagus banget tulisannya...

    ReplyDelete
  10. Bersyukur kepada Allah Swt dan berterima kasih kepada manusia itu wajib
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
  11. Kereeeen tulisannya, layak terbit :)
    Benar banget mak Ririe, bersyukur itu tidak sulit, gampang dilakukan :)

    ReplyDelete
  12. Keren Mbak Rie .... mudah2an makin disayang suami dan anak2. Salut, Mbak Rie bisa dengan cepat belajar jadi ibu yang baik :)

    Mbak, ikut GA saya yuk :)

    ReplyDelete
  13. Dalam Islam memang harus BERSYUKUR. Jika banyak BeRsyukur Insya Allah Rezeki akan ditambah oleh Allah SWT. Aminnnnnnnnnnn

    ReplyDelete
  14. Selamat mak, hayo hajar terus, nulis lagi yang banyak. :D

    ReplyDelete
  15. Bersyukur emang tidak sulit ya mbak. Tapi kalau saya sering kelupaan bersyukur kalau lagi seneng hehehe...

    ReplyDelete
  16. Aida, minta televisi baru aja. Xixixixi
    Yuk terus bersyukur, nanti pasti ditambah nikmat dariNya. . . :)

    ReplyDelete
  17. Selamat mbak... tulisannya dimuat di majalah. Memang ya bersyukur itu sebuah keharusan karena begitu banyak hal yg bisa kita syukuri.

    ReplyDelete
  18. waah keren nih .. penasaran sama isinyaa

    ReplyDelete
  19. inspiratif mak. yg kita lihat tak sempurna ternyata mlh jd yg terbaik bg kita.

    ReplyDelete
  20. terima kasih mbak, diingatkan kalo bersyukur itu sangat sangat mudah.

    ReplyDelete
  21. bersyukur emang mudahh .. yg bilang suit siapa?
    hanya kadang kelupaan aja saking asiknya senang2 :p

    salam sukses yah :)
    http://orangbiasaji.net

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.