Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

:::Buat Seorang Lelaki:::

Entah angin apa yang membuai hari ini membuatku begitu berani untuk mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah ku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diri ku kepada siapa. Apalagi meluapkan sesuatu yang hanya ku khususkan buat mu sebelum tiba masanya.

Kehadiran seorang lelaki yang menuntut sesuatu yang ku jaga rapi selama ini semata-mata buat mu, itulah hati & cinta ku, membuatkan aku tersadar dari mimpi yang panjang. Aku telah dididik ibu sejak kecil agar menjaga kehormatan dan mahkota diri ku karena Allah telah menetapkannya untukku suatu hari nanti seorang pasangan hidup. Kata ibu, “Tanggungjawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil alih tanggungjawab itu dari kami.” Jadi kau telah wujud di dalam diri ku sejak dulu.

Sepanjang umur ku ini, aku menutup pintu hati ku dari lelaki manapun karena aku tidak mau membelakangi mu. Aku menghalangi diriku untuk mengenali lelaki manapun karena aku tidak mau mengenali lelaki lain selain mu, apalagi memahami mereka. Karena itulah aku sekuat upaya dengan kodrat yang lemah ini membatasi pergaulan ku dengan bukan mahram ku. Aku lebih bersifat ‘perumahan’ karena Rumah itu tempat yang terbaik buat seorang wanita.

Aku sering merasa tidak selamat diperhatikan lelaki. Bukanlah aku bersangka buruk terhadap mereka, tetapi lebih baik aku berjaga-jaga karena contoh banyak di depan mata. Apabila terpaksa berurusan dengan mereka, akan ku palingkan wajah ku dari lelaki yang asyik memandangiku atau coba menegur ku. Aku sebisa mungkin mengalihkan pandangan ku daripada ajnabi kerana pesan Saidatina Aisyah r.a. “Sebaik-baik wanita itu ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang.

Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di mata mu. Apa guna aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya boleh menjadi milik mu seorang. Aku tidak berasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan, merasa terhina diperlakukan sebegitu, seolah-olah aku ini barang yang boleh dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi puncak kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran ku terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat ku berikan. Bagaimana akan ku jawab di hadapan Allah kelak. Adakah itu sumbangan ku kepada manusia selama hidup di muka bumi?

Kalau aku tidak ingin kau memandang wanita lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandangan ku. Aku harus memperbaiki kelemahan dan menghias pribadi ku kerana itulah yang dituntut Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suami ku, aku juga perlu menjadi wanita yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan yang baik untuk lelaki yang baik?

Tidak ku nafikan sebagai remaja aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diri ku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untuk mu. Allah telah memuliakan seseorang lelaki yang bakal menjadi suami ku untuk menerima hati dan perasaan ku yang suci. Lelaki itu berhak mendapat kasih saying yang tulen, bukan yang telah dibahagi-bahagikan.

Diri ku yang memang lemah ini diuji Allah apabila seorang lelaki secara tidak sengaja mau berkenalan dengan ku. Aku secara keras menolak, berbagai- dalil ku kemukakan, tetapi dia tidak mau mengalah. Lelaki itu tidak hanya berhenti disitu, dia sentiasa menghubungi dan mengganggu ku. Aku berasa amat tidak tenteram, seolah-olah seluruh kehidupan ku yang ceria selama ini dirampas dari ku.

Aku tertanya-tanya, adakah aku berada di tebing kebinasaan? Aku beristighfar memohon ampunanNya. Aku juga berdoa’, agar Dia melindungi ku daripada sebarang kejahatan. Kehadirannya membuatkan aku sentiasa memikirkan mu. Kau ku rasakan seolah-olah wujud bersama ku. Di mana saja ku berada, akal sadar ku membuat perhitungan dengan mu.

Ku tahu, lelaki yang melamar ku bukan diri mu. Malah aku yakin pada gerak hati, ‘woman intuition’ ku yang mengatakan lelaki itu bukan dirimu. Aku bukanlah gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapakah diri ku ini untuk memilih berlian sedangkan aku hanya sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Namun, aku juga punyai keinginan seperti gadis lain dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli Syurga,memimpin ku ke arah tuju yang satu. Tidak perlu kau Mempunyai wajah seindah Nabi Yusuf a.s. yang mampu mendebarkan jutaan gadis untuk membuat ku terpikat. Andainya kaulah jodoh ku yang telah tertulis di Luh Mahfuz, Allah pasti mencampakkan rasa kasih di dalam hati ku, jua hati mu kali pertama, kita berpandangan. Itulah janji Allah.

Akan tetapi selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu janganlah kau zahirkan perasaan itu kepada ku, kerana kau masih belum berhak untuk berbuat begitu. Juga jangan kau lampaui batasan yang telah ditetapkan syariah.

Aku takut perlakuan itu akan memberi dampak yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak. Permintaan ku tidak banyak, cukuplah diri mu yang diinfaqkan seluruhnya pada mencari keridhaan Ilahi. Aku akan merasa amat bersyukur andai dapat menjadi tiang sekunder atau sandaran perjuangan mu.

Bahkan aku amat bersyukur pada Ilahi, kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juang mu, mengulurkan tangan ku untuk mu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu.

Akan ku seka darah dari luka mu dengan tangan ku sendiri. Itu impian ku. Aku pasti berendam air mata darah andainya engkau menyerahkan seluruh cinta mu kepada ku. Bukan itu yang kuimpikan. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hati mu. Karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintai ku karenaNya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta insan biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di Syurga.

Aku juga tidak ingin dilimpahi kemewahan dunia. Cukuplah dengan kesenangan yang telah diberikan ibu bapak ku dulu. Apa guna menimbun harta untuk kemudahan ku sekiranya harta itu akan membuat kau dan aku lupa tanggungjawab mu. Aku tidak akan sekali-kali bahagia melihat mu begitu. Biarlah kita hidup di bawah jaminan Allah sepenuhnya. Itu lebih bermakna bagi ku.



By: Renungan N kisah Inspiratif



Selalu ada pilihan lain dalam pilihan

Mencintai,beresiko patah hati...memiliki,beresiko kehilangan...tertawa,beresiko dianggap gila.
Bermain api,beresiko terbakar...berharap,beresiko kecewa... hidup,beresiko mati...tetapi resiko sebesar apapun harus tetap kita ambil..karena orang yg tidak berani mengambil resiko maka dia tdk akan pernh dapat merasakan jatuh cinta, tdk akan bisa berkembang, tidak bisa maju n tidak akan pernah dapat memahami makna hidup ini dgn sebaik-baiknya...

Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterimakasih atas karunia itu. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.
Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kita bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kita harus melepaskannya.


Yes.. life is about making the "right" choice..
As long as u give ur best effort, winning or loosing doesn't matter anymore... 
cos You can be proud for your self...

So, Just hope for the best but prepare for the worst absolutely necessary...

Notes:  Resume dari banyak bacaan/buku

Dilema Penggadaian Jiwa dan Jati Diri

Ketidaktenangan selalu menjadi atribut manusia. Tuhan maha Tahu kemana manusia bergerak. Menanam benih menuai hama. Menanam kebaikan dan berharap yang seharusnya baik juga sebagai hasil jerih payah dan ikhtiar namun malah di rajam kegagalan. Untuk bisa bertahan, hati memang harus menjadi batu. Tanah di pijak suatu ketika pasti akan di rampas. Hak di tegakkan, suatu saat akan di robohkan. Pasrah memang bukan jalan terbaik.

Memberontaklah demi uang ! Karena uang adalah jalan. Uang adalah ruh itu sendiri. Uang menjadi pegangan di mana keputusan akan terlahirkan. Buang jauh idealism yang mengantar pada kemiskinan. Ubahlah diri menjadi bunglon. Warnailah hati seperti sekeliling, maka jalan amanpun membentang lapang di hadapan. Dosa besar siap menanti. Derita dan pedih perih setia menghampiri. Apakah itu namanya hidup, yang menghargai tapi tidak selalu di hargai?

Kecerdikan memang kadang harus lahir dari kebohongan. Kesetiaan harus muncul dari pengkhianatan. Kehidupan akal harus lahir dari kematian berpikir. Sebuah proses yang tidak selamanya tidak bisa dimengerti akal sehat manusia. Waras ruh belum tentu waras yang terlahir buat kawan dan lawan.

Drama konyol kehidupan selalu menawarkan alternative-alternatif yang tidak selamanya bisa dinalar. Di panggung drama kehidupan ini selalu saja kita menjadi elemen yang tidak merdeka. Tidak independent, tetapi tidak selamanya harus interdependent. Hidup kita telah terkontaminasi, kadang menjadi diri kita sendiri, kadang harus menangisi jati diri. Drama, ya drama menuntut manusia laiknya bunglon. Muafik dalam rupa, namun juga kerap tidak mampu bertahan. Drama, kata Aristoteles, memang demikian adanya, proses imitasi. Sehingga selalu saja ada sosok-sosok panutan, sosok idola yang dinilai selalu benar dalam segala tindakan dan keputusan. Berpegang pada idola itu, niscaya kau akan menjadi mereka. Mengambil keputusan seperti mereka dan sama menyakitkan seperti mereka, berbicarapun laiknya mereka.

Kebenaran dan keadilan telah tergadaikan, karena memang kebenaran dan keadilan tdk ada tolok ukur universalnya. Mereka Cuma benda-benda abstrak, imaginary, yang lebih menunjuk pada persepspi, bukan evaluasi yang sebenarnya juga bisa di manipulasi. Betapa sulitnya memahami pola pikir manusia, betapa susahnya menarik simpati manusia. Karena pada hakekatnya manusia memang suka mengimitasi idola-idola. Lahir dari keremangan jiwa yang sudah lepas dari jati diri otentiknya. Maka, melihat yang lain pun bukan lagi dengan mata hati jernih, melainkan rasa dengki buat kepentingan diri sendiri.

Politikilah dirimu sendiri untuk mempolitisir yang lain. Bermainlah yang cemerlang agar bisa menang dalam kompetensi survival of fittest. Hidup hanya sekali, nista kalau jadi pecundang. Bagi setan tidak pernah ada nilainya, bebas nikmati kebebasan tanpa batas. Terbelenggu uangpun jangan mau mati bersama. Harus ada yang dibunuh. Yang membunuhlah yang menang, yang tak mau dibunuh harus dicarikan jalan ampuh agar tidak sekali-kali menjadi pemenang. Kalau sudah, mungkin akan terasalah mereka. Bahwa, hidup sebenarnya tiada makna tanpa pesaing. Kepuasan memusnahkan pesaing-apalagi yang dinilai mitra rendahan – untuk sementara memang bisa di persepsi sebagai kemenangan, upaya mempertahankan kemenangan. Padahal, sebenarnya ada lagi kehidupan di masa mendatang untuk rh yang diperjuangkan. Ruh semangat yang kendur akibat himpitan sesaat. Ruh yang tergencet dan membuat yang selama ini takut mati.

Ekonomi, sosial, politik dan proses melacurkan diri, semua sektor itu seolah sudah menjadi ruh dalam keadaan yang serba terhimpit. Mematikan rasa manusia, karea ruh penyelamatan hanya ada pada keyakinan absurd. Nilai-nilai dan penilaian cenderung tidak rasional, sehingga memaksa manusia malahirkan rasionalisasi yang di amanatkan para setan. Kemanusiaan bukan lagi membiarkan yang lain berkembang dan mengembangkan diri sesuai ciri kemanusiaanya sendiri. Manusia sudah bisa menilai manusia dengan patokan-patokan yang sebenarnya masih bisa di pertanyakan manusia lainnya.

Maka, tidak ada lagi yang bisa di percaya, karea kepercayaan sudah tidak mendapatkan tempat lagi sebagaimana layaknya. Krisispun tercipta. Soal warna kulit, kepandaian, kesenangan menilai, soal uang, jabatan, kecemburuan, imitasi dan soal membohongi diri lewat imitasi.

Di sini ada drama, di sini pula ada krisis tercipta.
Pembuat kebijakan di tengah krisis, masihkah ada jalan terbaik bagi kehidupan? Sebuah inovasi kreatif yang tetap menghargai manusia pada kodrat kehidupannya. Bukan mengintimidasi kedzaliman bahwa harus ada perenggutan kehidupan agar sisanya bisa bertahan hidup. Menggadaikan diri kepada manusia lebih baik di banding berserah diri pada setan.
Mana manusia, mana setan, itulah masalahnya......




Notes: Di rangkum dr berbagai sumber...

Puisi Cinta Habibie..

Sebenarnya ini bukan tentang kematianmu, bukan itu.

Karena, aku tahu bahwa semua yang ADA pasti menjadi TIADA pada akhirnya,
Dan kematian adalah sesuatu yang PASTI,
Dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi,
Aku sangat tahu itu.

Tapi yang membuatku TERSENTAK sedemikian HEBAT,
Adalah kenyataan bahwa KEMATIAN …
Benar-benar dapat MEMUTUSKAN KEBAHAGIAAN dalam diri seseorang,
SEKEJAP saja…
Lalu rasanya mampu membuatku menjadi nelangsa setengah mati,
Hatiku seperti tak di tempatnya,
Dan tubuhku serasa kosong melompong, hilang isi.

Kau tahu sayang,
Rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang.

Pada air mata yang jatuh kali ini,
Aku selipkan salam perpisahan panjang,
Pada kesetiaan yang telah kau ukir,
Pada kenangan pahit manis selama kau ada,
Aku bukan hendak megeluh,
Tapi rasanya TERLALU SEBENTAR kau disini.

Mereka mengira aku lah kekasih yang baik bagimu sayang,
Tanpa mereka sadari,
Bahwa KAULAH yang MENJADIKAN aku KEKASIH yang BAIK
Mana mungkin aku setia padahal memang kecenderunganku adalah mendua,
Tapi kau AJARKAN aku KESETIAAN, sehingga aku SETIA,
Kau AJARKAN aku ARTI CINTA, sehingga aku mampu MENCINTAIMU seperti ini.

Selamat jalan,
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
Kau dulu tiada untukku, dan sekarang kembali tiada.

Selamat jalan sayang,
Cahaya mataku, penyejuk jiwaku,
Selamat jalan,
CALON BIDADRI Surgaku ….


 


Notes: Puisi yang penuh HIKMAH yang dibuat oleh Bapak Prof BJ Habibie, untuk isteri yang sangat dicintainya, almarhumah Ibu Hasri Ainun Habibie

Ibuku Cermin Kartiniku...

Ibuku sosok wanita desa yang sederhana namun mempunyai visi dan misi yang cukup moderat dan demokrasi. Ibuku tidak pernah mengenyam pendidikan formal karena keterbatasan ekonomi di masa nenekku serta akses/fasilitas pendidikan yang tidak terjangkau. Sehingga Ibuku bersikukuh agar anak-anaknya bisa mengenyam pendidikan formal. Bukan hal yang mudah karena untuk membesarkan dan membiayai sembilan (9) orang anak sedangkan notabene ayahku adalah seorang petani gurem, bahkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari harus siap kesana kemari jadi jadi buruh tani. Justru menyadari susahnya hidup menjadi orang bodoh, ibuku meyakinkan ayahku serta dan anak-anaknya agar bisa bersekolah meski harus modal dengkul (demikian istilah kami kala itu, karena memang modalnya kemauan dan keinginan untuk sekolah) yang penting bisa sekolah, makan seadanya, baju saling diwariskan ke adiknya dan baru beli jika keadaan sudah tidak mungkin digunakan lagi dan jangan harap ada uang jajan/saku, untuk bayar SPP saja sering nunggak. Ibuku juga mendidik kami agar tidak malas bekerja, jika di luar jam sekolah ibuku mengajak anak-anaknya bekerja di sawah baik di sawah snediri maupun bekerja di sawah orang lain.

Setiap hari ibuku bangun lebih awal dari seisi rumah guna menyiapkan makanan dan menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum berangkat ke sawah membantu ayahku. Malam hari beliau tidur setelah semua isi rumah tertidur, bahkan makan pun menunggu suami dan anak-anaknya makan, kalau tidak ada makanan maka ibuku pun tidak jadi makan. Beliau benar-benar mengatur agar bisa berhemat sehingga kami bisa tetap bersekolah. Aku masih ingat ketika ada tetangga yang menyindir ibuku kenapa ngoyo nyekolahin anak sampai di belain gali lubang tutup lubang (hutang sana sini) wong dasar orang miskin saja, apalagi anak yang perempuan yang kodratnya paling-paling ya di dapur? Aku tau hati ibuku pasti sakit dan sedih banget kala itu, tapi padaku dan semua sodara-sodaraku Ibu selalu bilang: ”justru karena miskin maka aku ingin anak-anakku sekolah karena pendidikanlah yang bisa jadi warisan tak ada habisnya” Dari situ Aku melihat ibuku demikian menjiwai semangat kartini, dalam kapasitas dan keadaannya, ibuku memiliki visi yang jauh ke depan. Kalau dulu banyak tetangga yang mencemooh pilihan sikap ibuku, tapi sekarang semua tetangga menyatakan salut dan kagum pada orangtuaku karena ke-9 anaknya bisa jadi orang.

Ibuku memang tidak mengerti apa teori dan arti demokrasi tapi sikap dan perkataan beliau adalah perwujudan nilai-nilai demokratis. Beliau tidak pernah membatasi atau menginginkan anak-anaknya berkarir dalam bidang tertentu, yang penting halal dan mencukupi. Tentang jodoh, Ibuku hanya bilang yang penting seiman, beda suku, beda jenjang pendidikan, beda status sosial....tidak masalah yang penting serius untuk berkeluarga. Bahkan ketika kakak perempuanku di tinggal selingkuh suaminya, Ibuku dengan tegas dan tegar bilang: ”suatu hari dia (kakak iparku) akan melihat bahwa kamu bisa hidup dengan bahagia bersama anakmu, biarkan dia pergi kalau memang sudah tidak mungkin di pertahankan lagi”.

Aku belajar banyak hal dari ibuku, tidak ada yang bisa kita dapatkan tanpa kerja keras dan usaha, bahwa sesulit apapun kita tidak boleh menyerah pada keadaan. Satu lagi wejangan yang tak mungkin aku lupakan dari ibuku yaitu tentang kemampuan dan kebutuhan, jika kita membutuhkan sesuatu tapi belum mampu maka tetaplah berusaha. Dan jika kita mampu untuk mendapatkan sesuatu tapi belum membutuhkan sebaiknya jangan diikuti karena akan ada kebutuhan lain esok hari yang lebih penting.

Sungkem bakti dan sayang buat ibuku, maafkan ananda jika sampai sekarang di usia senja Ibu dan Bapak, ananda masih membuat risau dan resah.



Submitted on NOVA: For Competition that behalf of Kartini’s days, 2011
Dedicated For my wonderfull Mommy, I adore You, ever after:)