WHAT'S NEW?
Loading...

Mengantisipasi Bau Mulut (Halitosis)

HALITOSIS atau Bau Mulut yang tak sedap, Bismillahirrahmaanirrahiim seringkali kita jumpai atau alami manakala sedang puasa karena produksi saliva berkurang sehingga bakteri di dalam mulut berkembang biak lebih cepat. Sedikit flash back mengenai salah satu fungsi Saliva yaitu membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan bakteri. Berkurangnya produksi saliva karena ketika puasa (siang hari) tidak ada aktifitas memamah biak sehingga semakin banyak populasi bakteri yang mengolah sisa makanan dan menghasilkan bau mulut, apalagi jika menyikat giginya tidak menyeluruh ( gigi, lidah, langit-langit mulut) sehingga banyaklah suplay makanan bakteri-bakteri tersebut. Oleh karena itu, untuk meminimalkan “gas” yang dihasilkan bakteri di mulut ketika berpuasa, sangat di anjurkan: 
  1. Minum air putih yang cukup saat kurun waktu berbuka sampai hingga sahur (imsyak).
  2. Ketika scene gosok gigi, lakukan dengan sempurna tidak hanya gigi, tapi juga lidah dan seluruh rongga mulut untuk membersihkan lebih bersih rongga mulut dari sisa makanan yang merupakan santapan lezat bakteri di dalam mulut.
  3. Menghindari makanan yang bisa menghasilkan bau tak sedap seperti petai, jengkol, bawang, durian dan teman-temannya (termasuk kopi yang sepengalaman saya ketika sisa kafein bercampur dengan sisa makanan akan menghasilkan aroma yang lebih spektakuler).
  4. Bagi yang perokok, sebaiknya mengatur jadwal merokok karena bau rokok itu susah sekali hilang, seolah-olah bersenyawa dengan kompleksnya. Lha bahkan orang yang hanya kecipratan asap rokok saja meninggalkan bekas bau rokot menyengat pada out fit yang dikenakannya ketika  kebetulan berada berdekatan dengan penghisap lintingan 5 centi itu. 
  5. Mengurangi minuman yang berkarbonasi (tidak berlebihan) dan mengatur pola konsumsi makanan yang lengket dan manis seperti es krim, coklat, gulali, arum manis, dll karena bisa meninggalkan sisa di sela-sela gigi. Atau bisa juga di atur waktu makannya yaitu berdekatan ( before or after) menyantap menu makanan utama. 
  6. Perbanyak konsumsi sayur-mayur dan buah tak hanya mendukung daya stamina saat berpuasa tapi juga mujarab mengurangi bau mulut. Bahkan beberapa jenis buah memiliki fungsi “seperti” pasta gigi yang ber manfaat menghilangkan bau mulut. Sangat masuk akal karena makanan alamiah seperti buah dan sayuran kan tidak banyak mengandung zat kimia ( flavor, pewarna dan pengawet) yang ketika digigit/kunyah dapat merangsang produksi air ludah yang melimpah. Kondisi yang sebaliknya terjadi, produksi saliva sedikit manakala makanan yang santap termasuk jenis makanan yang lunak/tidak berserat karena gigi tidak perlu menggigit kuat sehingga air ludah juga tidak banyak yang keluar. For example: seperti yang biasa saya lakukan saat habis minum kopi adalah makan buah apel. Cukup satu butir apel sangat efektif sisa aroma kafein lho?
  7. At least but not the last, untuk finishing pembersihan sela-sela gigi dari sisa makanan bisa digunakan dental wash dan diakhiri dengan mouth wash untuk flushing seluruh rongga mulut.  Deuhhh, berasa kayak closet saja ya pakai di flushing? *PISS*
Nah.....mohon ijin dan permisiiiii
Tak ada maksud untuk sarkasme atau sejenisnya jika kali ini saya kok ya kurang ide banget nulis tentang bau mulut. Saya yakin, rerata kita pernah menemui fenomena bau mulut dengan aroma ‘khas’ (baca: tidak sedap) dari orang-orang yang pernah ditemui/dikenal. Apalagi di Bulan Puasa seperti sekarang, bau mulut yang khas tersebut  merupakan hal jamak terjadi dan sudah menjadi kesepakatan tak tertulis untuk mentoleransinya. Sebagian ada yang menyikapi dengan slow motion: no verbal comment dan bersikap seperti biasanya. Tapi ada juga yang menunjukkan sikap antisipasi aktif : secara lisan dan atau bentuk sikap/action.  
Mbak, mundurin dikit ya? “ ujar seseorang ketika kami sedang membahas suatu hal (tidak ngrumpi loh?). Sontak deh saya heran plus kaget, “ Hah?” Jangan-jangan tangan saya  menyenggol barang atau mengacaukan tatanan properti di mejanya? Hanya itu yang terlintas dibenak saya.
Kan lagi puasa, bau mulutnya biar tidak mengganggu…” lanjutnya memangkas keterkejutan saya.
Tanpa berkata-kata saking shocknya saya pun menggeser kursi sedikit ke belakang dan melanjutkan percakapan hingga lima menitan kemudian. Sepotong percakapan yang menginterupsi tersebut membuat Saya menginstropeksi diri: Apakah sedemikian tidak merasanya saya kalau telah mencemari udara di sekitar dengan aroma khas yang keluar dari mulut? 

Tapppi…..saya pernah melakukan survey singkat dan terbatas ke beberapa teman menyoal bau mulut, terlebih ketika sedang puasa. Maksud dan tujuannya agar saya bisa melakukan management diri ketika sedang berbincang dengan orang lain, especially when I’m fasting. Toh memang kita sama-sama sudah tahu ketika orang sedang berpuasa memang berpotensi menebarkan bau yang khas karena Bakteri di dalam mulut mengubah sisa makanan menjadi gas sulfur yang menyebabkan bau mulut. 

Lantas, kenapa ketika sudah melakukan langkah preventif dan antisipatif aktif namun masih menebarkan pesona aroma mulut yang “khas” bahkan saat tidak sedang puasa? 
Aku sakjane sungkan lan ora pede nek pas ngomong-ngomong koyo ngene. Lha embuh iki, aku sampe kemeng sikatan tapi tetep wae bau mulut (baca: Aku sebenarnya pakewuh dan minder kalau ngobrol-ngobrol dengan siapa saja seperti ini. Entahlah, aku sampai capek gosok gigi tapi tetap bau mulut tak sedap)“ curhat seorang teman, so long years ago

Dia sampai gonta-ganti merk PASTA GIGI untuk menemukan jenis odol apa yang ampuh mewangikan hembusan udara dari rongga mulutnya. Bahkan ketika sudah dilengkapi dengan mouth wash tapi bau “khas” mulut tak juga pergi. Dia juga tipikal orang yang lebih suka makan makanan hasil masakan sendiri, jarang banget minum soft drink, tidak suka yang manis dan sebangsanya. Juga tidak biasa menyantap makanan yang berpotensi menimbulkan bau mulut, sesekali makan pete ya pernah sih. 
Sebaiknya ke dokter saja Mbak. Agar tahu apa penyebab utamanya dan mendapatkan tindakan yang tepat untuk mengatasi bau mulutnya “, hanya itu yang bisa saya sarankan pada teman saya *saran standart banget*. 
Apa penyebab bau mulut, bisa berbeda-beda dari masing-masing orang. Ada banyak penyebab bau mulut selain akibat sikat gigi yang tidak paripurna, seperti karies, gigi berlubang, sisa akar gigi, radang pada gusi, pemakaian gigi palsu yang tidak benar. 

Dan beberapa sumber gangguan bau mulut juga bisa berasal dari dalam tubuh akibat gangguan pernapasan, diabetes, kelainan pada telinga& hidung, tenggorokan, infeksi paru akut/kronik, maag atau gangguan pada saluran pencernaan (radang tenggorokan, tukak pada lambung, radang lambung lainnya) dan masih banyak jenis penyakit lainnya yang memiliki kontribusi nyata pada terjadinya bau mulut yang tidak sedap.
Maka menurut saya, sebenarnya bau mulut yang khas saat berpuasa bukan karena kegiatan puasanya, tapi kita sendiri yang mungkin saja ‘khilaf’ menerapkan pola maintenance yang comprehensive sehingga membuat para bakteri berpesta pora di dalam rongga mulut dan menghasilkan aroma yang menghipnotis sekitar kita. 
Then, back to the survey….maksudnya hasil survey saya. 
Survey terbatas dan singkat yang saya lakukan, InsyaAllah para responden saya menyampaikan opini yang wajar tanpa rekayasa rasa sungkan *soale gak ada yang sungkan-sungkan sama saya* yakni aroma yang terhembuskan dari mulut saya tidak significant menjadi polutan udara di sekitar saya. Kecuali jika responden saya itu my husband, di jamin hasilnya tendesius pangkat 100%

Menyimak sampel reaksi seseorang yang saya ceritakan di atas, 
Kalau saya, jujur neh yaaaa mbatin sih…..tapi demi agar menjaga hati saya dan hati orang lain saya melanjutkan dengan berusaha mensetting sikap sebisa mungkin tetap wajar. Saya belajar ANDAI di posisi dia, tentu dia sendiri juga merasa gak nyaman dan sangat tidak ingin berada/mengalami kondisi tersebut. 

Toh…bertemu aroma khas kan bukan sesuatu yang baru, sudah seharus saya bisa menghadapinya dengan wajar tanpa opini dan sikap yang over dosis. Agar tidak terganggu sangat ketika bernafas, bisa kan saya atur ritme menghirup udara dan dari arah mana yang sekiranya bisa menghirup udara segar, sehingga saya tetap nyaman berinteraksi dan orang yang mengalami gangguan mulut pun tidak bertambah stress.   

Lantas bagaimana sikap Anda ketika Membaui Bau Mulut saat bertemu atau ada orang di dekat Anda yang memiliki bau mulut yang khas (tidak sedap) ? 

Akankah spontan menutup hidung, bergegas pakai masker, atau mengambil jarak tertentu? Or just stay cool, calm and humble like ussually?




Noted: 
Selamat menunaikan Ibadah puasa di Bulan Ramadhan bagi yang menjalankannya. 
Semoga  senantiasa mendapatkan limpahan Maghfirah, Fadhlilat dan Ridhlo ILAHI. Aamiin. Mohon mohon lahir dan bathin untuk kata-kata, tulisan, postingan dan komentar yang tidak berkenan. Serta blogwalking yang makin jarang. 

20 comments: Leave Your Comments

  1. Untung saja aku pekerja lapangan yang bergaul dengan orang orang full bau badan makanya bau mulut sudah bukan masalah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. siipp Mas, karena kita tak bisa mmeilih bertemu orang yg memiliki bau unik, sedap, tak sedap. YG penting kita bisa tetap berinteraksi dengan wajar

      Delete
  2. tipsnya cocok banget ya mbak saat ramadhan gini

    ReplyDelete
  3. Kalau ada orang yg bau mulut ya paling aku jaga jarak. Kalau spontan nutup hidung takut tersinggung

    ReplyDelete
  4. Ternyata banyak ya penyebab bau mulut, walopun tidak prnh di protes ttg BM, saya cenderung menjaga jarak saat ngobrol. Takutnya saya BM ato malah kena BM org lain. Btw tq tipsnya mbakyuu

    ReplyDelete
    Replies
    1. menjaga jarak plus mengatur nafas ya mbak? hehehe

      Delete
  5. Waaah penting ini apalagi pas puasa begini

    ReplyDelete
  6. kalo aku sih biasa tahan napas bentar ketika dia lagi ngomong, dari pada tutup hidung kan kesinggung, kalo puasa bau mulut mungkin udah ciri khas kayanya hehe,, tapi ada betulnya juga sih tipsnya mungkin karena pola makan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg penting jaga sikap, jaga jarak ya Mbak ketika bertemu orang yg memiliki bau mulu khas

      Delete
  7. saya biasanya stay cool, Mbak. Sambil secara perlahan melipir. Kalau langsung tutup hidung, nanti orangnya tersinggung :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau naik bis, slowly saya pakai jilbab utk ngusapin hidung ketika bernafas

      Delete
  8. kalau saya sih suka tahan napas sebentar, takut tersinggung kalau tutup hidung :D

    ReplyDelete
  9. Terima kasih buat informasinya, semoga kita semua selalu ada dalam keberkahan

    ReplyDelete
  10. Kadang ngerasa nggak pede sih kalau bau mulut, apalagi saya setiap saat bertemu klien dan bertatap muka hingga berbincang2....

    O iya sebenarnya berapa kali sih sikat gigi yang baik untuk menghindari baru mulut?

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.