Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Pantai [Perawan] Sadranan

Beberapa tahun belakangan ini, wisata di daerah Gunung Kidul mulai banyak jadi perbincangan, khususnya bagi para pecinta wisata alam. Nama Gua pindul, pantai Baron, Pantai Indrayanti, Pantai Krakal, Kukup, sudah nangkring manis dalam list destinasi wisata yang menggoda iman. Bismillahirrahmaanirrahiim pantai Sadranan pun tak kalah mempesonanya. Pantai ini berada satu sederet dengan pantai krakal, kukup, drini, sundak, indrayanti.  Tepatnya adalah di sebelah Pantai Krakal, sehingga jalan yang kami lewati juga searah dengan jalan masuk ke Pantai Krakal. 

Dan saya yang sudah sejak lama saya mendengar kemolekan pantai Baron CS tapi belum juga kesampaian untuk menikmatinya secara langsung. Pucuk di cinta ulam tiba, ada acara gathering dengan teman-teman kantor yang memilih tujuan ke Pantai Sadranan dengan pertimbangan pantai ini belum banyak dikenal wisatawan sehingga masih asri, nyaman dan bisa puas menikmati keelokan pantai. 

My Fave angle:  Harmoni antara langit biru, awan, karang dan hamparan pasir pantai
Penasaran pengen bisa sampai ke karang 

Butuh waktu hampir 2,5 jam untuk sampai di Sadranan, maklum rute mulai piyungan – wonosari dihiasi spot-spot kemacetan. Jadi ya meskipun sudah start berangkat mruput dari Sleman, tiba di Sadranan sudah menjelang tengah hari. Pantai yang terletak di Dusun Pulegundes II, Desa Sidoarjo, Kec. Tepus, Gunung Kidul ini konon kata teman-teman tak kalah sexy dengan pantai Baron dan teman-temannya yang sudah lebih dulu go public. Sambutan pemandangan di pantai Sadranan membuat rasa penat duduk di bis seketika menguap. Garis pantainya yang indah dengan hiasan karang-karang, hamparan pasir putih yang bersih dan alunan suara ombak yang mendesah mesra silih berganti mencium bibir pantai, bukankah itu surga pantai yang banyak kita impikan saat hendak berwisata pantai? Apalagi suasana yang relatif sepi karena belum banyak pengunjung yang mengenalnya, maka saya menyebutnya PANTAI [PERAWAN] SADRANAN


Tak jauh dari bibir pantai, tersedia gubuk-gubuk [kayak pos siskamling di desa saya tempo dulu] model bangungan panggung yang disewakan bagi para pengunjung. Dengan harga sewa Rp. 20.000,- ukurannya cukup besar sehingga bisa digunakan untuk santai menikmati laut sambil ngobrol ngalor-ngidul. Apalagi di sisi barat terdapat karang-karang yang sebagian dindingnya menggantung, asyik jika main air di situ kayaknya. Jika mau maksimal beraktifitas di airnya, ada agen penyewaan peralatan snorkling lengkap. Secara, pemandangan di bawah air di Pantai Sadranan ini juga sangat ciamik loh #katanya. Kan saya dengan cerdas berhasil melarikan diri dari “pemaksaan” teman-teman untuk nyemplung ke laut. Caranya, saya sigap menangkap kesempatan untuk suka rela bawain kamera DSLR, si empunya kamera semangat mandi di laut soale. 

Ini namanya ketiban rejeki nomplok, bisa membebaskan diri nyemplung ke laut sekaligus bisa leluasa mengambil gambar pemandangan pantai. Lebih puas dan maksimal motret pakai kamera DSLR Nikon 7000D yang sudah sejak lama saya idam-idamkan. Kamera merk Nikon 7000D memang sepadan dengan harganya. Ketika kemarin saya search di Blanja.com, dan menemukan Kamera DSLR Nikon D7000 Kit 18-55 VR harganya Rp. 10.800.000,-. Waaahhhh harga yang ditawarkan sih memang kompetitif, tapiiii…sepertinya saya masih harus mencukupkan menggunakan hak pinjam kamera punya teman deh. Ambil enaknya, yang penting bisa asyik puas mengambil angle-angle Pantai [Perawan] Sadranan dengan kamera keren

Kamera [pinjaman]: Nikon 7000D yang bikin puas motret bertubi-tubi
Oia, perlu berjalan kaki sekitar 200 meter dari tepat parkir untuk sampai di bibir pantai, hanya perlu bayar tarif parkir saja. Belum ada regulasi yang mewajibkan pengunjung pantai untuk bayar HTM. Konon, dinamakan Sadranan karena pantai ini kerap digunakan untuk nyadran. Makanya dari awal dengar nama pantai ini kok namanya mirip dengan tradisi yang ada di desa saya: Nyadran yang dimaksudkan sebagai peringatan hari jadi desa. Mungkin praktek ritual nyadrannya mirip dengan acara petik laut di Muncar. Kan umumnya, di daerah pesisir [Indonesia] ada tradisi petik laut tho?

Salah satu spot yang recomended untuk pre-wedding
Empunya Kamera  "levitasi" paling sukses



Pondok untuk bersantai
Perlengkapan snorkling yang siap dipakai [sewa]


Fasum yang tersedia
Main gebyur-gebyuran di air dengan leluasa? Menyelam menikmati pesona bawah air yang menawan? bermain pasir yang putih bersih. Yaakkk, tak salah lagi......Pantai Sadranan salah satu pilihan yang tepat. Bagi yang tertarik lebih pol-polan wisatanya, tersedia Penginapan tak jauh dari kawasan pantai. Atau para pecinta petualangan alam terbuka, terdapat camping area yang strategis juga. Fasilitas umum juga sudah tersedia, warung-warung, tempat mandi, juga ada mushola. Ternyata, Pantai sadranan ini mulai dilirik pasangan calon-calon pengantin untuk mengambil pre-wedding di situ. Sedikit saran buat yang tertarik untuk berkunjung ke Pantai [Perawan] Sadranan ini, Kalau mau memuaskan diri menikmati panorama pantai yang tenang, asri, nyaman dan tenang, usahakan datang sebelum jam 10. Karena begitu matahari semakin meninggi, pengunjung sudah mulai ramai dan mayoritas kaum muda-mudi.  

Sebelum beranjak pulang, tertanam sebait harapan semoga keindahan, kenyamanan, kebersihan dan ketenangan Pantai Sadranan ini bisa lestari. Sangat menyedihkan jika sekian tahun ke depan, ketika pantai ini sudah semakin populer dan HARUS bernasib tragis seperti pantai Parangtritis, Kuta dan pantai - pantai terkenal lainnya yang saat ini kondisinya memprihatinkan. 

Semoga, tata kelola wisata nantinya tetap memprioritaskan kelestarian alam dan para pengunjung pada aware untuk menjadi wisatawan yang cerdas dan cinta lingkungan sehingga status Pantai Sadranan ini bisa tetap menjadi salah satu pantai perawan yang selalu dikangeni.

[Antara] Aku, Blogger dan Event Blogger

BLOGGER adalah isitilah beken bagi Orang-orang yang aktif beraktifitas di media online yang bernama BLOG. Sejujurnya, Bismillahirrahmaanirrahiim saya amat masih belum PeDe untuk menyebut diri sebagai blogger. Untuk skala diri saya, sepertinya penyebutan yang bisa diterima secara logika adalah [kebetulan] saya menulis di media online yang disebut Blog. Ritme menulis pun ala sesempatnya, kualitas tulisan juga masih alay-alay plus angin-anginan tapi BUKAN angin ribut sih. Jika ditanya apa sih pentingnya Event Blogger? Bagi saya pribadi yang masih amateur-an di dunia blogsphere menganggap EVENT BLOGGER sangat penting, baik skala nasional maupun momentum lokal/spontan yang biasa disebut kopdar. Dengan adanya event yang membawa umbul-umbul EVENT BLOGGER merupakan salah satu jembatan untuk bisa bersua langsung dengan para BLOGger. 

Event blogger adalah media pertemuan dengan berpijak bumi antara AKU dan Blogger. Ada yang bilang, bahwa era digital memudahkan kita bisa berteman dan bertemu siapa saja meski tanpa bertemu langsung face to face. Tapi JIKA Event Blogger kan kesempatan emas yang sangat sayang jika diabaikan tho? The bound of event blogger adalah FRIENDSHIP, dari media ONLINE ke OFF LINE yang memungkinkan jalinan SILATURAHIM lebih membumi. Ya minimal ketika ada event blogger, memberi saya kesempatan untuk berkenalan bilamana sama sekali belum pernah saling bersapa ria via blogwalking ataupun community social media lainnya. Dan akan lebih mengakrabkan saya dengan teman-teman yang sudah pernah “ketemu” melalui jejak BeWe dan atau kebetulan tergabung dalam community yang sama. Dan kebaikan-kebaikan simultan pun tak bisa dipungkiri menyertai dalam ajang event blogger.
  1. Meningkatkan keakaraban dari yang sebelumnya masih kenal sebatas virtual dan mengkarabkan dari yang sebelumnya belum kenal sama sekali. 
  2. Tambah kepercayaan bahwa banyak teman banyak saudara Jadi kalau sewaktu-waktu kesasar dimana gettu dan kebetulan ada teman blogger yang kita kenal, kan bisa tuh numpang nginep gratis atau minta di antarin ke kemana-mana #modusbanget.
  3. Event Blogger pun memberikan kesempatan untuk menemukan pintu-pintu rejeki baru. Kan biasanya ada lomba, door prize dan tentunya bisa memperluas networking ~ merupakan bentuk-bentuk rejeki kan ya?
  4. Memperpanjang harapan hidup. Ketemu banyak orang, bersama-sama dalam event yang menyegarkan pikiran, bisa saling berbagi pengalaman, game-game yang seru dan berbagai kegiatan lain yang menyertai event blogger, outcome-nya tentu bisa mengurangi stress kan? Bagi yang sudah bisa menghandle stress, ya bisa re-charge pikiran dan memberikan ide-ide baru, sapa tahu kan?
  5. Manfaat lainnya [Antara] Aku, Blogger dan Event Blogger? Hemmm….masihhh buanyakkk kok. So, selagi bisa ikut event blogger why we don’t take it? 
Memang sih, banyak manfaat baiknya dan IMHO rasanya nyesek jika tidak bisa ikut dalam event blogger. Tapi saya juga tak bisa menafikkan bahwa ada hal-hal lain yang perlu disertakan dalam pertimbangan manakala hendak ikut event blogger. Apalagi mengingat saya yang saat ini not single anymore yang tak mungkin lagi ejeres kesana kemari semau guweh. 

Family come first, ini pertimbangan utama saya saat ada event blogger. Yang kedua adalah adakah acara [kantor/lainnya] yang bersamaan dengan jadwal event blogger? Jika ada, tentu perlu saya lihat dulu apa masih memungkinkan untuk di switch atau skip? Pertimbangan ketiga yaitu bilamana acara diselenggarakan di luar kota yang jaraknya jauh, sementara semua cost yang timbul harus ditanggung sendiri, sepertinya saya masih perlu mempertimbangkan sekian kali bilamana ingin ikut event blogger yang butuh biaya tinggi. Hehehee…
 
Lha kalau begitu, berapa kali saya pernah ikut event blogger? Untuk skala event blogger, saya termasuk masih belum sering ikut. Blogger Nusantara 2013, sepertinya ini event blogger pertama yang saya ikuti. Secara acaranya di Yogya dan kebetulan timing-nya klik, saya sangat antusiaslah ikut BN 2013 tersebut. Beberapa event blogger lainnya yang saya ikuti adalah: NgaBLOGburit bareng Aqua ke unit Plan di Klaten, Kopdar Lazada di UGM, Nangkring bareng Kompasiana dan BI di BI Yogyakarta, Halbi 2014 bersama KEB area Yogya dan sekitarnya. Tuh kan, masih sedikit banget kepesertaan saya di event blogger?


Lantas apa harapan saya mengenai event blogger di tahun 2015 ini? Simple hope dan gak muluk-muluk, sering-sering ada event blogger di Yogya dan sekitarnya agar saya berpeluang bisa ikut. Untuk kemasan acara, harapannya ya yang bisa benar-benar membaurisasikan peserta yang hadir di event blogger. Ah iya, banyakin game on the spot [tapi bukan lomba-lomba adu intesitas mengakses gadget saat acara lho?], lomba versi blog dan pastinya jangan lupa hadiahnya yang segabrek biar pada semangat semuanya. 

Nah, bagaimana dengan harapan Anda mengenai event blogger tahun ini? Sudah pernah ikut event blogger juga kah? Dan….apa manfaat dari event blogger yang Anda pernah diikuti?


♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 
 
 

Sebuah Akhir adalah [awal] Babak Baru

Dalam rangka melanjutkan belajar nulis true story, part I: Metamorfosa cinta dari surga dan Bismillahirrahmaanirrahiim ini adalah serangkum kisah Sebuah Akhir adalah Babak baru yang   dimulai dengan berdamai pada takdir: Mengatasi rasa kehilangan dan bergegas meracik rekayasa keseharian agar bisa melanjutkan kuliah tanpa mengabaikan adik-adiknya. Serangkaian perubahan simultan lainnya memutar total ritme dan rutinitas ulil selanjutnya. 

Ulil mulai menempuh kuliahnya secara PP setiap hari. Menurutku, jarak Surabaya – Gresik terbilang jauh jika hendak ditempuh PP setiap hari. Berangkat dan pulang kuliah naik kendaraan umum dengan rute naik lyn O (Rute Osowilangun - Sukolilo) yang tak jarang butuh waktu tempuh lebih dari satu jam. Kemudian ganti naik bis mini arah Sembayat (Gresik), yang dilanjut lagi naik motor untuk sampai rumahnya. Perhitungan jarak tempuh sekilas tampak simple, tapi yang namanya naik sarana transportasi umum, nge-Lyn (nama angkutan yang nge-trend di Surabaya) tentu banyak mandeg-mandegnya. Dan tak jarang baru bisa start  pulang di sore hari, maka Ulil mensiasati rute pulang dengan naik Lyn O arah jembatan merah (JMP), kemudian oper naik Lyn Ijo (turun di Ramayana Gresik) dan naik angkutan lagi sampai Sembayat [ desanya ULil]. Alternatif ini dipilih manakala perkiraanya sampai Osowilangun lebih dari jam 7 malam  karena bis arah sembayat terakhir jam 7. Tak jarang sampai rumah jam 9 malam, bahkan pernah sekali hampir jam 12 malam baru masuk rumah. Makanya jika ada teman yang pulang ke arah gresik, baginya adalah kesempatan emas untuk numpang gratis, aman dan nyaman sampai sembayat. 

Jeda waktu di rumah digunakan untuk mengurusi rumah, menyiapkan segala keperluan adik-adiknya, terutama si bungsu dan kakaknya yang kala itu masih umur 10 tahun dan tipikal anak yang belum variatif menu makannya. “ Ada sih Embah yang bantuin, tapi kan gak bisa full. Wong Adik-adikku maunya tetap tinggal di rumah ini “ demikian penjelasan Ulil. “ Saudara-saudara Bapak dan Ibuk juga bantu, tapi kan mereka juga punya keluarga sendiri tho?” Untuk rentang waktu setahun, ada Buleknya yang menyediakan keperluan makan dengan mengirimkan menu makan setiap hari. 

Alasan utama adalah mendampingi tumbuh kembang adik-adiknya. Tak hanya soal bagaimana memenuhi kebutuhan fisik dan materi, makan, bisa bayar sekolah, beli buku, tapi lebih krusial dari itu bagaimana menyeimbangkan perkembangan psikologis adik-adiknya dalam melalui fase-fase perkembangan dalam kehidupan tanpa sosok nyata Ayah dan Ibuknya. Terlebih era digital dan intrusi pergaulan yang sedemikian dahsyat, maka segala pernik dan rerupa yang terkait dengan perkuliahannya pun harus diharmonisasikan dengan kepentingan adik-adiknya tersebut.

Melihat, mendengar dan meresapkan perubahan drastis ritme dan daily activity Ulil, Then I prefer to call it complicated. Pastinya, banyak shock demi shock bermunculan yang menyertai kompleksitas mengelola kehidupan “semi” rumah tangga tersebut. 

IMHO, sangat bisa jadi apa yang mendadak dihadapi dan dijalani oleh Ulil, levelnya  beberapa tingkat lebih tinggi daripada tantangan yang mesti dihadapi oleh pasangan yang just get married. At least, kebanyakan pasangan suami-istri baru kan membuka babak baru kehidupannya by planning, niat dan merupakan pilihan dari: you and me (perkecualian jika pernikahannya buy one get four). Sementara Ulil harus memanage sebuah keluarga by herself dengan tiga anak [adik-adiknya]. Itu pun masih disempurnakan lagi dengan kenyataan income pasif untuk biaya hidup sehari-hari. Ulil tak punya pilihan lebih baik selain menyewakan toko di pasar yang sebelumnya tempat usaha jual beli beras yang dijalani ibuknya. Juga petak tambak Ayahnya pun ikut disewakan untuk mencukupi cash flow yang super active.
Menghadapi kondisi-kondisi sulit, sejatinya adalah “perguruan” yang akan menambah luas ilmu dan cakrawala berpikir seseorang, maka ia akan lebih sedikit menyalahkan sesuatu. Bersama waktu, pengalaman yang terlahir adalah ribuan buku yang siap dibaca, hingga sudut pandang menjadi lebih lebar dan mendapati alternatif berbagai point of view untuk lebih bijak menyikapi tantangan pada setiap tapak jalan kehidupan.

Bahwa kita tak akan pernah tahu akan seperti apa jalan kehidupan, apakah akan landai, terjal berbatu, menurun dengan curam? Juga tak akan pernah tahu kapan dan dimana jalan kehidupan yang kita tapaki akan berakhir. Dan untuk segala kemungkinan jalan kehidupan yang dibentangkan untuk ditapaki, kita tak punya hak untuk protes. Hak kita adalah menerima dan menjalaninya dengan sebaik mungkin secara lebih baik dari waktu ke waktu dan berproses untuk ikhlas bersama doa-doa yang kita panjatkan.

Sepertinya hanya Ulil dan Allah SWT yang paling tahu seperti apa rima hidup yang dia rasakan, bagaimana fluktuasi fisik dan psikis yang harus bisa dikelola agar everthing will just running so well as she can do. Dinamika mendadak “single parent” bukan sekedar drama yang akan usai ketika durasi pentas tercapai. Tapi New Chapter for New Beginning, This is my Life NOW and then mungkin ini judul drama kehidupan yang dilakoni oleh ulil dengan ketiga adiknya. 

Walau dalam nada yang berbeda dan senandung yang tak akan pernah sama dengan cara-cara yang dilakukan oleh Ibuk Bapaknya, tapi secara equal NILAI cintanya tak kalah murni dan luar biasa.

Untuk kurun waktu satu tahunan, nyaris setiap hari Ulil mengkondisikan dirinya untuk bolak-balik Gresik – Surabaya, naik turun angkutan, berlari-lari mencari tempat berteduh ketika hujan tetiba turun saat belum dapat angkutan, mengejar Lyn agar cepat sampai rumah/tidak molor sampai kost, mensiasati agar tidak kemaleman pulang ke gresik, bergegas meninggalkan kampus di saat teman-temannya masih santai ngobrol seusai jam kuliah, menyetel rasa tidak tertarik nonton bareng ketika ada film bagus sedang tayang, dan sederet perubahan dramatis lainnya. Dan untuk bisa itu semua pastinya butuh hati yang lebih luas dari samudera karena aku yakin, tentu ada perdebatan rasa, konflik emosi dan dilema yang tidak serta merta bisa diendapkan. 
Bagi kebanyakan orang lain baru melarutkan “aku”nya ketika menikah. Tapi ulil sudah melepaskan ‘aku’nya bahkan ketika dirinya belum tahu kapan akan menikah.
In every single day, bahkan mungkin di setiap detik Ulil berjuang menata logika agar dominan dalam membuat pilihan dan keputusan demi kepentingan adik-adiknya dan menomorsekiankan kepentingan dirinya sendiri. Bahwa setiap kesulitan akan diikuti kemudahan, Ulil sangat percaya itu. Buktinya, 365 hari kemudian Ulil berada dalam deretan mahasiswa yang mengenakan toga dan siap untuk wisuda. Walau secara fisik tak ada peluk hangat Bapak -Ibuknya di hari istimewa tersebut tapi ulil yakin kedua orang tuanya pun ikut menyaksikan prosesi wisudanya, just like they dream since years ago. 

Dan menurutku, Prosesi wisuda Ulil tak hanya menyatakan dirinya lulus kuliah, tapi juga sebuah pengakuan tanpa proklamasi jika Ulil sudah lulus Cumlaude dalam mengharmonisasikan kepentingan adik-adiknya. 


NOTED: Edisi Belajar menulis true story. InsyaAllah, will be continue with Life is about how to make [right] choice.

Kamus Legendaris

Sedikit flash back ke masa lalu, bernostalgia dengan kamus Bahasa Inggris. Masih ingatkah anda, kamus pertama Bahasa Inggris yang dimiliki? Kalau saya Bismillahirrahmaanirrahiim hanya ingat kamus Bahasa Inggris pertama saya dulu yang berisi kosa kata berapa juta gettu. Kamusnya sampai letjek dan prothol-prothol halamannya karena dipakai gantian sama adik. Apalagi kalau sekolah sering gak bawa tas pula. Lengkaplah sudah nasib kamus tersebut jadi kucel. Hingga memasuki masa kuliah, bertemulah saya dengan kamus yang membuat saya jatuh cinta dengan sungguh-sungguh, sayangnya kala itu tidak serta merta sanggup membeli. Tapi Alhamdulillah, teman kost yang memiliki buku pendukung kuliah sengkap, tak keberatan jika saya pinjam kamusnya sewaktu-waktu.

Yah, Kamus itu bernama Kamus Bahasa Inggris – Indonesia karya Mr. John Echols dan Bapak Hassan Shadily, yang bagi saya  memiliki peran ganda sebagai buku pembelajaran berbahasa Inggris. Setiap kata dilengkapi dengan keterangan begitu detailnya: penggunaan dan bagaimana perubahan makna/artinya ketika mendapat peposisi. Juga dilengkapi dengan contoh-contoh kalimat yang relevan sehingga memperjelas arti kata yang dimaksud. Hemmm….saya yakin, bagi siapa saja yang sudah familiar dengan kamus tersebut tentu lebih paham kalau kamus yang dicetak dalam dua versi [Indonesia – Inggris dan Inggris – Indonesia] tersebut merupakan salah satu kamus yang recommended.

Nah, karena saya merasa sreg dan klik, makanya saat itu saya bertekad HARUS BISA membelinya. Skala prioritaslah, lebih priorotas daripada bayar kost. Lha kalau nunggak bayar kost, kebetulan Ibu Kostnya bisa memaklumi kok. Makanya saya nekad, membeli Kamus tersebut dengan semangat 45 begitu, dengan cara menyisihkan sedikit demi sedikit uang hasil ngamen dari pintu ke pintu sebagai guru les.  Usaha yang sepadan untuk bisa membeli kamus idaman tersebut saat itu untuk skala cah kuliahan strata saya.

Ketika dua tahun kemudian, adik saya cerita butuh kamus yang representatif untuk kuliahnya, Saya pun “meminjamkan” kamus tersebut selamanya dan  bertekad untuk membeli lagi kamus yang sama. Bahkan saking suka bingits dengan Kamus Mr. John Echols dan Bapak Hassan Shadily, saya sengaja menghadiahkan kepada 3 keponakan yang baru masuk kuliah [di rentang waktu yang berbeda lhoh?], pastinya saat itu saya sudah kerja dunk. 


Sedangkan untuk diri saya sendiri, akhirnya saya membeli dua versi kamus tersebut. ANDAI ada versi Inggris – Inggris, mungkin saya pun akan membeli kamus karya duet maestro tersebut. Maklum, meskipun saya sudah mulai berkenalan dengan pelajaran Bahasa Inggris sejak puluhan tahun lalu [sejak SMP], toh Bahasa Inggris saya masih acak kadut tingkat dewa. Makanya saat tahu ada komunitas BEC = Blogger English Community saya pun bersegera join, walaupun masih pasif juga di forumnya. Challenge-nya juga belum ada yang saya kerjakan.

Jadi apa hubungannya antara ngomongin kamus kemudian sampai ke BEC? Karena kemampuan menulis Bahasa Inggris yang masih berantakan tapi saya ingin menjawab challenge dari BEC, maka saya butuh tool yaitu kamus. Jadi koneksitas antara BEC dan kamus ini adalah saya baru ingat kalau kamus Mr. John Echols dan Bapak Hassan Shadily tersebut sekarang sudah berganti user yakni dibawa Aida ke asrama sekolahnya. Artinya, sekali lagi saya berkesempatan untuk memiliki KAMUS LEGENDARIS tersebut anyar gres hewes hewes  lagi [hemmm, pengennya sih beli di Surabaya, hehehe…#modus]

Kenapa saya menyebutnya legendaris? Setidaknya menurut saya kamus tersebut termasuk salah satu buku yang layak jadi legendaris, yang tak akan usang dari masa ke masa dan akan tetap dicari orang karena NILAI MANFAATnya yang ever green. Ketika variable daya beli dan minat baca buku masih menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi jumlah penjualan, tapi hal itu tidak berlaku bagi kamus tersebut.  Mayoritas pembeli kamus karangan Mr. John Echols dan Bapak Hassan Shadily mengabaikan faktor harga dalam mengambil keputusan untuk membelinya. Contoh terdekat adalah diri saya sendiri, ketika kali pertama tertarik untuk memiliki kamus tersebut [saat kuliah], menurut kemampuan dalam membeli [buku] kala itu ya terbilang mahal, tapi toh saya berusaha agar bisa menjangkau harga tersebut.  Kamus yang cetakan pertamanya tahun 1976 dan hampir setiap tahun dicetak ulang hingga ribuan eksemplar, kali terakhir saya sempat mengintip harganya  pada beberapa tahun lalu  mencapai level harga 75 ribu – 90 ribu [dua edisi harga].

Then,
Kamus Mr. John Echols dan Bapak Hassan Shadily membuktikan dalam jangka panjang kamus ini memiliki peluang besar untuk long lasting (memiliki grafik penjualan yang stabil pada titik yang cukup tinggi), dibandingkan buku-buku yang sifatnya sensasional seperti Jakarta Under cover, misalnya.  Selain karena memenuhi akan tuntutan dan kebutuhan belajar, penyebab yang lebih fundamental adalah CONTENTnya yang memiliki VALUE lebih sehingga  akan masih dicetak ulang sampai sekian rentang waktu di masa mendatang seperti juga buku-bukunya Pak Philip Kotler, John Perry, atau Kamus karyanya AS Hornby with AP Cowie dan AC Gimson [ first publisheh 1948].

Ah iya ya, sekalig lagi menginformasikan jika ada yang tertarik atau masih penasaran apa sih BEC, just klik this: www.englishfriday.wordpress.com, 
Let’s learn together. #share komunitas baik sangat boleh dunk?



Anda dapat melawan serbuan bala tentara, 
tetapi anda tak dapat menahan gagasan yang tiba pada waktunya ~ Victor Hugo

Ada apa dengan Copywriter untuk Blog?

Siapa saja pelaku aktif maupun semi-semi aktif atau bahkan yang masih timbul tenggelam seperti saya dalam ngeBLOG, sebenarnya Bismillahirrahmaanirrahiim memiliki peluang dan potensi untuk menjadi Copywriter. Saya bisa bilang demikian setelah mengikuti sebuah workshop yang mengangkat tema mengenai Copywriter. Kalau sebelumnya, pemahaman saya tentang copywriter adalah sebuah profesi yang dilakoni orang-orang yang berjibaku di dunia media massa resmi. Tidak terpikir jika tulisan-tulisan di blog yang kebanyakan bergaya personal sesuai pemilik cita rasa pemilik blog memiliki celah untuk di eksplore ke arah copywriter. Karena yang disebut Profesi sebagai penulis itu kan bisa meliputi: Jurnalis, Novelis/cerpenis, Blogger dan Profesi terkait lainnya (dengan dunia literasi).

Pemahaman sederhana yang saya tangkap mengenai copywriter adalah membuat tulisan yang peruntukannya memasarkan/menjual suatu produk, sehingga konten tulisannya bersifat marketing. Sehingga copywriter adalah:
Penulis copy (naskah/materi  iklan)
Biro iklan ----> (biasanya)  berpasangan dengan art director 
Produk iklan bernilai tambah 
Memberi layanan lebih dan mengoptimalkan space (iklan)

Nah, apa pentingnya blogger untuk mengerti dan menguasai copywriter ini? Bagi yang sudah saklek menggunakan blognya no content postingan berbayar, mungkin akan bilang it’s big NO need. Tapi jika masih ikut lomba-lomba blog? Nah, perlu kan membuat postingan yang memiliki nilai – nilai tertentu terkait marketing produk (barang/jasa). Yang namanya lomba blog, tentu ada something yang hendak di publikasikan ( bahasa lain dari Iklan kan?). 

Jika di sanggah “ Gue kan gak mau ikut-ikut lomba apa pun?”. Okelah jika demikian, tapi sebagai penulis blog pribadi…..apa ya iya kita tidak ingin tulisan kita dinikmati oleh orang lain? Apa ya iya, we living alone karena merasa kan jejaring internet itu semu/maya/virtual. Ehemmm…I don’t think so. Saya yakin, saat kita menulis tentu tersertakan harapan semoga ada secercah kebaikan yang bisa dinikmati oleh orang lain kan? That’s why, copywriter ini perlu untuk dipahami dan dipraktekkan, baik sebagian maupun secara keseluruhan (ketika dapat job review pastinya).

Untuk penerapan teknik copywriter dalam tulisan blog (non berbayar), saya percaya mayoritas blogger sudah pada penerapan, yakni membuat tulisan yang memiliki gaya sendiri dengan tetap mengedepankan prinsip menulis yang menghargai orang lain. Lantas apa saja point of view tentang copywriter yang patut digunakan sebagai rambu-rambu dalam menulis. Ada beragam Produk Iklan Khusus yang belakangan ini semakin mencorong di ranah dunia perbloggeran. Iyap, media massa cetak off line maupun on line tak bisa mengelak dari fantastisnya daya tarik tulisan di blog sehingga saat ini semakin sering kita lihat blog-blog yang bermuatan:
Advertorial, Korporatorial, Seremonia, Citarasa, Rekam jejak Perjalanan, Pernikahan dan masih banyak lagi jenis lainnya yang memiliki muatan ‘Ragam Produk Iklan Khusus’

Adapun Proses Kerja dalam pembuatan sebuah copywriter meliputi:
  1. Cari Bahan bisa dilakukan dengan cara Peliputan, Pengamatan, Wawancara, Literatur/surfing di Internet
  2. Menulis dapat segera dilakukan manakala pegumpulan bahan dirasa sudah cukup. Pada taha penulisan sangat perlu untuk Fokus pada tujuan ===> angle yang dituangkan dalam tatanan bahasa/kalimat yang selaras dan pastinya proses menulis ini ada DEADLINE yang harus dipatuhi dan point-point Boleh vs Tidak Boleh yang perlu untuk terapkan
  3. Yang diperbolehkan adalah:  Keunggulan produk ===>> tidak menipu Penonjolan ===>> posisioning Kreativitas ===>> desain; Tidak Boleh: Overclaim, Perbandingan langsung, Testimonial 
  4. Follow-up hasil tulisan memang berasaskan Klien yang demanding tapi kita tetap wajib  Mempertahankan ide secara relevan ===>> jika di Approval ===>> Tayang deh tulisan “copywriter” kita.

Dalam membuat sebuah copywriter, untuk menjadi seorang copywriter yang lebih skilled and better than before, maka kita sangat diharuskan untuk mengenali Khalayak, terlebih ketika copywriter tersebut di tayang di blog yakni Blog for someone Not about something. Oleh sebab itu:
  • Rencanakan Content : Kenali kebutuhan khalayak, Pilah-pilah dan bikin profil, Evaluasi segmen yang menarik, Tentukan target, Tentukan formula yang tepat. Please remember this: It’s not what you do to the product; it's what you do to the mind 
  • Customer centric: BERPIKIR seperti mereka, RELEVAN dengan mereka, Gunakan KISAH, Sentuh EMOSI, Jangan ragu tampilkan DIRI 


Beberapa Tips & Trik dalam membuat copywriter adalah:
  1. SEO: fokus pada keyword search 
  2. Banyak melihat, banyak mendengar, banyak membaca BUM-BUTA: Buka Mata dan telinga lebar-lebar.
  3. Jangan sok tahu dan jangan gengsi untuk aktif bertanya, tanya dan tanya... 
  4. Jangan terpaku pada satu gaya 
  5. Baca lagi dan lagi... karena dengan re-read over and over again, maka kita akan melihat dan bisa memperbaiki bagian-bagian yang kurang pas. Dan ini hanya bisa kita lakukan jika kita meluangkan waktu untuk membaca dan baca lagi hasil tulisan kita sebelum fixed menyatakan DONE.

Nah Biar klise, tetap laku tapi  gratis (ketika copywriter sudah publish),
  • Saatnya bertindak: kunjungi, hubungi - Aktif donk ketika ada yang [sepertinya] tertarik/penasaran terkait isi tulisan/iklan kita
  • Gugah perasaan: sempurna, indah 
  • Penggunaan Alliteration yang tepat, misalnya : Meski telah diet ketat, berat badan ideal belum didapat 
  • Jika perlu menyelipkan Repetisi, maka gunakan seperlunya dan secukupnya. 

Demikian sedikit yang saya ketahui dan pahami, sekaligus sebagai postingan berbagi oleh-oleh dari workhop yang disampaikan oleh Mahansa EGS (Spv Copywriter Iklan Kompas, Jurnalistik Fikom Unpad 1991). Semoga bermanfaat. 

Milad 3 Tahun KEB, The Agent of Change

KEB 3 Tahun Sauyunan? Hemmmm…..artinya hampir 3 tahun pula saya bergabung dengan KEB dan Bismillahirrahmaanirrahiim masih belum se-aktif emak-emak blogger lainnya di komunitas ini. Tapi di bandingkan dengan komunitas sejenis, maka di KEB inilah interaksi saya yang paling  tinggi intensitasnya. Hehehe…sebenarnya sih ya pengen aktif secara rata-rata di berbagi komunitas yang saya ikuti. Tapi seiring berjalannya waktu, teori evolusi pun terjadi terhadap sekian bejibun komunitas dimana saya dengan suka rela bergabung. 

Walaupun, saya jarang-jarang mencungul tapi as silent reader….saya melihat dan merekam jejak tumbuh kembang komunitas yang menaungi perempuan-perempuan blogger yang saat ini membernya tersebar di seantero Indonesia dan luar negeri. Di usia yang terbilang lagi imut-imut mode ON ini,  KEB menunjukkan pencapaian yang cukup spectakuler. Tak hanya bentuk kopdaran yang dikemas dalam arisan ilmu yang saat ini sudah bisa diikuti para emak-emak membernya di berbagai wilayah (tak hanya Jakarta). Hal ini menunjukkan keseriusan KEB untuk mengakomodasi keakaraban dan tali silaturahim yang kian mengeratkan jalinan kekeluargaan sesama member secara personal. 

Gerakan solidaritas untuk mensupport member yang sedang berada pada situasi sulit, penggalangan dana ketika ada bencana alam, event-event yang membangkitkan adrenalin: Pemilihan SriKandi blogger. Cihuuuyyy…event prestisus yang tentunya bikin semangat dan feel so special jika bisa berkompetisi di dalamnya. Meskipun saya masih belum pernah lolos dalam babak penyisihan sey, hehehe. Juga keperdulian KEB terhadap generasi bangsa ini dengan mengambil peran secara aktif dalam program KEB agent of change yang baru-baru ini di launching yaitu mengenai penyebaran secara viral akan perlunya pendidikan dan pengetahuan sex sejak dini. Tentunya cara dan mekanisme penyampaiannya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan masing-masing anak. 

Jika di tahun awal saya hanya mengenal para admin KEB lewat aktifitas blogwalking duang, tapi tahun 2014 ini merupakan titik balik yang so sweet. Lha Mak Lusi dan Mak Indah sekarang sedomisili sama saya di Yogyakarta kok. Sebenarnya pas acara kopdar Blogger Nusantara tahun 2013 lalu, sudah ketemu tapi saya yang masih malu-malu kucing untuk ber-say hello sama mereka. 

So, di usia KEB yang ke-3 ini, saya turut menyampaikan doa dan harapan semoga sayap cinta KEB semakin mengepakkan ke seulurh penjuru dunia, memotivasi para emak-emak untuk BERANI mengambil peran dalam rangka mengaktualisasikan diri di era digital yang memiliki kelebihan tingkat kecepatan dan flexiblitasnya untuk achievement diri sebagai diri sendiri, istri, ibu dan anggota masyarakat.  
Karena menjadi perempuan yang cantik di era digital adalah manakala kediriannya sebagai seorang perempuan tetap memberikan performance prima sebagai seorang ibu rumah tangga yang bisa membawa suami ke tempat terbaiknya, bisa membawa anak-anak meraih prestasi terbaik yang bisa diraihnya, dan bisa terus mengayomi keluarganya di posisi terbaik dalam kondisi yang ada tanpa kehilangan jati diri dan eksistensinya.
Daaaannn, semoga pula saran-saran yang disampaikan para member di milad KEB ke tiga ini bisa di follow up sehingga kiprah KEB lebih cetar membahana dalam mendukung, memotivasi dan memfasilitasi emak-emak dalam berjejaring di era digital ini. 

Metamorfosa Cinta dari Surga

Prolog: awalnya kisah [nyata] ini akan saya ikutsertakan pada  GA yang diselenggarakan oleh Komandan BlogCamp Group  yang bertemakan: hati ibu seluas samudera, yang dikhususkan untuk memperingati Hari Ibu 2014. Tapppiii, karena missed mengenai DL, al nasib deh telat beberapa jam. Ya sudah set back to draft menunggu timing Hari Ibu dan kebetulan juga grup KEB mendeklarasikan event postingan serentak pada moment Hari Ibu tersebut. Wish full, tentulah pengen ikutan, eeee…karena sesuatu hal jadi missed lagi. 

Makaaaa........ Bismillahirrahmaanirrahiim inilah serangkum kisah dari perjalanan hidup seorang karib yang InsyaAllah bisa dikategorikan dalam kriteria Hati Ibu Seluas Samudera sekaligus cucok dengan tema postingan serentak KEB yakni mengenai kisah sosok Ibu yang BUKAN Ibu kandung [di moment Hari Ibu 22 Desember 2014 lalu]. Sosok ibu yang saya jadikan tokoh sentral ini adalah seorang anak sulung yang menjalani peran menjadi single parent bagi ketiga adiknya. Khususon untuk kisah ini, saya mengambil cara penulisan versi AKU agar lebih membumi keakrabannya karena tokohnya adalah salah satu karib semasa kuliah di Surabaya tempoe doeloe  #deuh, berasa tuwa bangets.

Ini tentang kisah dari seorang anak yang sebelumnya hidup dengan kondisi serba beres dan tercukupi. Orangnya periang, lucu dan suka membantu, bahkan saking baiknya tak jarang justru dia yang sungkan untuk menagih jika ada teman yang jadi debitur ‘lupa’ untuk mengembalikan pinjamannya. Dia juga ikhlas kamar kostnya dijadikan base camp penghuni kost jika ingin ngerumpi, yang otomatis akan mengkandaskan stock sembako di kamarnya.
Saat Semunaya masih just fine , Ulil di sisi kananku [Coban Talun, Kuliah semester 3]
Another trip @Madakaripura
Intinya, dia termasuk salah satu temanku yang memiliki wewarna hidup yang berkecukupan, dalam artian dia tercukupi baik biaya kuliah maupun operasional sehari-harinya mulai pangan, sandang, biaya kuliah, uang saku, stock sembako (cemilan) dan  termasuk penyuplai beras untuk dimasak barengan di kost ketika dampak krismon menghebat sampai ke langit daya beli nasi bungkus kala itu. Untuk kelancaran suplai beras gratis ini, bagi teman-temanya dirasakan sangat membantu  karena bagi teman-teman kost yang living costnya dari hasil ngamen jadi guru les termasuk yang kena imbas level akut, meski sekedar makan sehari sekali nasi setereo saja. Padahal Nasi Setereo itu ya SEGO (lauk) tempe separo *istilah keren nasi nasi bungkus selain Sego sadukan*

Takdir kematian yang datang tanpa pertanda
Ketika menginjak dua semester terakhir, sabda KUN FAYA KUN mengubah cerita hidup Ulil secara drastis, bahkan sampai pada perputaran 180 derajat !.
Ibuknya Ulil meninggal “ berita singkat yang sangat mengejutkan bagiku dan semua teman-teman Ulil. Ibunya yang beberapa tahun belakangan menjadi tulang punggung utama bagi keluarganya dengan berdagang beras. Kulakan beras bahkan sampai keluar wilayah Gresik pun dilakoni dengan penuh semangat empat lima karena kondisi kesehatan suaminya mengidap diabetes akut.
Jika aku berada di posisi Ibuk, belum tentu sesanggup itu lho?” ujar Ulil di sela-sela obrolan ringan kami di kost saat menceritakan tentang Ibuknya. Tapi sosok membanggakan tersebut telah dipanggil secara mendadak akibat serangan jantung. Dalam sekejap, Ulil HARUS membuka chapter hidup baru bersama ketiga adiknya dan sang ayah yang kesehatannya semakin drop oleh sakit diabetes. 
Aku tak bisa membayangkan sedahsyat apa menghadapi kenyataan tiba-tiba ditinggalkan oleh pilar surga dunia itu, tak tertebak seberapa besar riak gelombang mengaduk segenap jiwanya. 
Yang aku lihat dan tahu, dia dengan begitu tegar menyusut air matanya, menata kembali kelabilan hatinya dan sekuat tenaga tidak berlarut-larut dalam ratap kehilangan. Dia berusaha sesegera mungkin berdamai dengan kenyataan jika sang ibu tak mungkin lagi kembali bersamanya.
Bahwa tak akan ada lagi sosok wanita humble yang sumringah menyambutnya setiap kali pulang, menghantarinya dengan pertanyaan “Sabtu depan kamu pulang tho Nduk” yang senantiasa diucapkannya manakala dirinya berangkat ke Surabaya di hari senin pagi. Dan semua ekspresi kasih sayangnya yang diwujudkan dalam sikap, perkataan, perhatian dan doa dari wanita yang dipanggilnya Ibuk tersebut. Ia menyadari jika tak boleh terlalu lama tertatih untuk bangkit mengingat kondisi kesehatan sang Ayah.

Dengan bermodalkan flexisibilitas daya adaptasi, dia segera mengubah ritme hidupnya. Jika sebelumnya dia pulang tidak tentu waktunya, tergantung pada jadwal kuliah dan praktikum. Maka, kemudian dia menyiapkan diri untuk lebih sering pulang ke Gresik, minimal 2 kali dalam seminggu dan mengambil peran ‘manager’ di rumah yang biasanya dihandle oleh ibuknya.

Sekitar tiga bulan Lilik mencoba, berusaha, belajar dan beradaptasi terhadap kenyataan akan ketiadaan sang ibu, tapi ternyata skenario KUN Faya KUN kembali disabdakan. Sang Ayah pun meninggal setelah jeda 102 hari  wafatnya sang belahan jiwanya.

“ Bapak dan Ibukku mungkin contoh konkrit kisah cinta yang di sebut sehidup semati ya “ demikian ucapnya bernada tegar ketika aku dan teman-teman datang untuk takziah.

Ah, andai bisa digambarkan…… mungkin hati dan perasaan sahabatku itu sudah berkeping-keping.. Pilar surganya di dunia yang dipanggil belum lama berselang, kini dilengkapi dengan kepergian sang nahkoda di rumahnya. Tapi dia tak mungkin menggugat keputusan sang Khaliq. Dia juga tak mungkin memohon agar waktu diputar ulang agar dia bisa lebih bersiap diri menghadapi gelombang kehidupan yang tak kalah dahsyatnya dengan terjangan tsunami tersebut. Diantara serpihan-serpihan duka yang membebat labirin hatinya, Ulil berusaha menjaga pijakan logika agar tidak terjerembab dalam palung duka.  Bahwa dia tidak boleh membiarkan keping-keping hatinya tercabik oleh kedukaan  menjadi berantakan tak terkendali.

Melankoli duka harus dicukupkan Sesingkatnya
“ Dibandingkan adik-adikku, aku lebih beruntung kan?” ucap Ulil suatu ketika, seakan mengumpulkan motivasi untuk memantaskan diri berada di posisi kedua orang tuanya.  
”Hingga menjelang usai kuliah, aku ditunggui orang tuaku dengan segenap curahan kasih sayang. Lha adik-adikku? Apalagi si Noval (bungsu), dia bahkan belum genap 3 tahun. Dengan melipat segenap tangis dan kesedihan, aku akan mendapati ganti yang jauh memorable, melihat tawa ceria kembali adik-adikku, walau aku sadar aku tak akan pernah benar-benar bisa menggantikan sosok Bapak, terlebih figur Ibuk”. Kalimat yang terucap datar tanpa nada, tapi sanggup meluruhkan butiran-butiran kristal bening dari sudut kelopak mataku.
[Bromo, semester 5] Ritual Anytime mbolang  yang kemudian harus diLIPAT pula
Titisan kasih sayang dalam nadi membuatnya tidak tega membiarkan adik-adiknya akan semakin terpuruk jika dia tak segera bangkit. Iya, dengan segenap kesadarannya dia harus mendampingi adik-adiknya untuk move on. 
Ia harus bisa meng-adjust dirinya menjadi Sosok wanita yang bisa menghangatkan kehidupan lagi, rela melupakan segenap lelah dan penatnya demi senyum riang adik-adiknya. Dia harus bisa berkompromi dengan emosi jiwanya sendiri, menstabilkan secepatnya jika galau melanda, mengentahkan segala bentuk fluktuasi rasa yang bisa meredupkan cahaya di langit asanya.
Dia dan dirinya sendiri harus mengatasi kabut duka, dan diluar dirinya ada tiga manusia yang membutuhkannya. Setelah sosok wanita tangguh berpulang tanpa ada suatu pertanda, kemudian disusul Ayahnya. Dia hanya punya pilihan: tak hanya DILARANG berlarut – larut dalam duka yang datang bertubi menghempasnya. Fitrah rasa kasih sayang sebagai seorang kakak seakan mendapatkan energi cinta dari surga, “ aku harus bisa bermetamorfosa” kira-kira demikian bentuk sikap ulil jika saya verbalkan.





NOTED: Edisi Belajar menulis true story.
InsyaAllah, will be continue New Chapter for New Beginning: This is my Life NOW and then

Trend Blogger Indonesia Tahun 2015?

Jika tahun 2014 terdapat perhelatan nasional Pemilu yang membawa pengaruh significant terhadap rerona ranah perbloggeran, sehingga tak sedikit tema terkait pemilu menjadi bahasan yang menarik untuk diperbincangkan. Tend blogger tahun lalu  Bismillahirrahmaanirrahiim juga diramaikan dengan bahasan mengenai traveling yang memiliki daya magis tersendiri untuk menjadi trending topic di berbagai media online, tak terkecuali bagi para blogger.

Nah bagaimanakah trending blogger tahun 2015? Inilah tematik LBI di pekan pertama dan honestly, saya yang super jarang BeWe sekaligus tidak mahir dalam membuat forecast soal trend-trend’an, mencoba menuliskan tebakan dan perkiraan dengan metodologi ilmu kirologi deh.
Seni menulis melalui media blog yang semakin menarik minat banyak orang, juga tingkat pemahaman mengenai nge-Blog yang kian tockcer, membuat para pelaku blog berinisiatif untuk membuat postingan blognya memiliki tematik khusus. Dan sepertinya, trend blogger tahun ini akan dilengkapi dengan bertambahnya spesifikasi blog dalam trend:
  1. Traveling alias jalan-jalan, semakin membuminya promosi wisata dan paket murah backpacker-an untuk jalan-jalan, merupakan kesempatan emas untuk menjelajah kawasan di luar sana, baik dalam maupun luar negeri. Mereka yang pada awalnya membuat tulisan sebagai rekam jejak ketika berpetualang, semakin lama menjadi mercusuar yang diikuti oleh para pelaku jalan-jalan lainnya. So, menurut saya tematik traveling akan semakin naik daun di 2015 ini.
  2. Kuliner sudah menjadi satu bagian yang tak terpisahkan bagi para traveler. Makanya, menuliskan tentang kuliner dalam media blog akan menjadi passion yang luar biasa. Apalagi, kategori kuliner sudah semakin melebar, yakni tak harus identik yang classy ataupun menu-menu mahal bingit kelasnya resto dan hotel berbintang. Bhakan kuliner tenda pun memiliki otentifikasi yang unik untuk dibuat postingan yang spesifik. Tak hanya kuliner yang berbasis bayar atau beli untuk makan-makan lho? Hasil olahan sendiri untuk dihidangkan bagi keluarga di rumah, sepertinya semakin menunjukkan gelagatnya bakal menjadi trending blogger di masa kini dan selanjutnya.
  3. Parenting. Why ? Ya iyalah, secara blogger bergenre perempuan kan semakin banyak dan pada exist abis. Makanya, saya masukkan dalam estimasi tahun 2015 bahwa trend blogger yang mengangkat tema mengenai parenting akan semakin diminati dan ditekuni oleh para blogger. So, pastinya by the time. Sangat mungkin jika populasi Emak-emak menerjuni kancah perblogger masih dalam kriteria gado-gado alias apa saja yang menarik untuk diposting ya di posting. Then…..it's just the beginning. Bersama intesitas ngblognya, akan berproses bersama waktu untuk membuat tema parenting ini secara khusus dalam tag line blog.
Itulah tiga genre tulisan yang menurut saya akan meramaikan trend ngeBLOG di tahun 2015 ini.
Lantas, bagaimana halnya dengan saya? Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih setia pada tema blog yang Gado-gado. Apa saja masuk list dalam blog ini. Ya ada sey, hasrat dan keinginan untuk menyediakan blog dengan tema khusus, Parenting atau kuliner, tapi sampai saat ini kok ya belum kunjung terealisasi. #tampak melow

Bagaimana menurut anda, 
Apa dan bagaimanakah Trend Blogger tahun ini?



[Melintasi] Suramadu, Connector Jawa - Madura


Jembatan Suramadu, sudah menjadi trending topic bahkan sejak peresmian awal pembangunannya oleh Presiden Megawati Soekarnoputri  tanggal  20 Agustus 2003. Dan saya yang aseli wong Jawa Timur ini, Bismillahirrahmaanirrahiim baru tiga kali melintas di jembatan yang akhirnya diresmikan diresmikan pembukaannya oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono [hampir 5 tahun lalu]. Pertama kali menapak Jembatan Suramadu sekitar 2010, saat masih bisa berhenti untuk berpoto ria di ruas jembatan. Alhamdulillah, dokumentasi tersebut hilang dari HP. Edisi kedua ke Suramadu, hanya sekedar sambil lewat saat menuju Pantai Kenjeran, jadi no photo at all. 


 Nah, melintas di Suramadu jilid ketiga pada  Bulan Oktober 2013 kemarin *so, this story too late posted* saat long wiken Idhul Adha. Sebenarnya tak ada rencana ke jembatan Suaramdu [lagi] yang terletak di Selat Madura tersebut.

Lha njelang Dhuhur, ujug-ujug Mbakyu Ipar yang aselinya wong Bantul nylethuk “ Mosok aku bolak-balik mudik tapi durung kesampaian nang Suramadu yo”. Pernyataan yang sangat masuk di akal, orang dari mana-mana sudah melihat dan melintasi Jembatan yang menghubungkan Pulau Jawa, tepatnya kota Surabaya dengan Madura, persisnya Bangkalan [timurnya Kamal], tapi Mbak Ipar saya yang berulang-ulang mudik ke Lamongan dan belum sekalipun menyambangi  jembatan yang pembuatannya ditujukan untuk percepatan pembangunan bidang infrastruktur dan ekonomi Pulau  Madura.

Last day sebelum balik ke Yogyakarta, hasrat Kakak Ipar yang penasaran pengen ke Suramadu itu bagai sepercik api yang jatuh di tumpahan bensin. Aida, Azka dan Kenzi pun semangat minta ke Suramadu. Apalagi PAS ada Andri [keponakan yang sehari-harinya di Kalimantan] lagi off dan di rumah pula, KLOPlah ada sukarelawan driver sekaligus penyandang dana BBM untuk mewujudkan aspirasi melintas ke Suramadu beramai-ramai: Saya dengan dua anak [ Aida dan Azka], Mbakyu Fitri bersama Kenzi [Ayahnya absen ikut karena menyiapkan diri  untuk ndriver LA-Jakarta lagi].



Perjalanan menuju Jembatan Suramadu sangat lancar, dari rumah sampai masuk Tol Gresik hanya butuh waktu sekitar 75 menit dan total waktu untuk mencapai ke pintu masuk Jembatan Suramadu sekitar 100 menit. Sepanjang perjalanan, ketiga krucil [Aida, Azka dan Kenzi] banyak bertanya banyak hal yang mereka lihat di kanan-kiri jalan. Aida yang sudah kelas 6 SD, mulai bertanya yang ada muatan pengetahuannya terkait dengan Suramadu yang memiliki panjang 5.438 meter dan lebar + 30 meter itu.  

Begitu tiang Suramadu mulai kelihatan, perhatian ketiga anak-anak pun langsung full jembatan yang menjadi salah satu icon Gerbang Kertasusila. Terdapat  empat lajur  di jembatan ini, yaitu dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Selain itu  juga tersedia lajur khusus untuk pengendara sepeda motor  pada sisi tepi. Sehingga total lajur ada 6 yang masing-masing dari arah Surabaya dan arah yang sebaliknya dari arah Madura jembatan. 

Perjalanan siang hari itu melintas di Jembatan Suramadu melaju dengan pelan-pelan agar bisa menikmati panorama sekitar Suramadu karena saat ini sudah tidak bisa berhenti barang sebentar di tepian lajur jembatan untuk ber narsis ria seperti edisi pertama kali saya melintas di Suramadu sekira 3 tahun lalu. Oleh karena itu, jika ingin mengabadikan view jembatan dan sekitarnya ya diambil sambil mobil tetap melaju.  

Begitu sampai di akhir jembatan Suramadu, di kanan-kiri jalan berjajar penjual makanan dan souvenir. Yang hobi makan-memakan, bisa menikmati kuliner khas Madura – Jawa Timuran sambil menghirup udara pulau Garam. Sedangkan bagi rombongan kami, begitu keluar dari jembatan Suramadu langsung menuju ke salah satu penjual souvenir kaos, kain batik dan sejenisnya. Beli oleh-oleh biar gak dibilang Hoax jika sudah sampai ke Madura dengan melintasi jembatan Suramadu. Tak ada sejam kami ubek-ubek toko souvenir yang kami masuki, beli kaos dan kain batik saja. 
Gak afdhol jika gak beli oleh-oleh kan ya?
Azka dan Kenzi nyobain blankon
Kita balik sekarang ya Bund?”
Kan Aida sudah membuktikan sendiri kalau cerita Bunda tentang jembatan Suramadu itu memang bener-bener roboh tho?”  Ya gimana gak roboh, wong namanya jembatan. Kalau tangga ya berdiri kan?

Biar gak HOAX, narsis ahhhh.............
Setelah itu cap cus ambil posisi putar balik karena sore itu juga Kakak saya hendak OTW menuju ke Bantul kemudian lanjut ke Jakarta. Sedangkan saya ganti etape mudik ke rumah mertua. Demikian edisi singkat sekilas melintas di Jembatan Suramadu. Semoga edisi lain kali bisa melintasi Suramadu dan lanjut eksplorasi Pulau Madura lebih jauh.