WHAT'S NEW?
Loading...

Metamorfosa Cinta dari Surga

Prolog: awalnya kisah [nyata] ini akan saya ikutsertakan pada  GA yang diselenggarakan oleh Komandan BlogCamp Group  yang bertemakan: hati ibu seluas samudera, yang dikhususkan untuk memperingati Hari Ibu 2014. Tapppiii, karena missed mengenai DL, al nasib deh telat beberapa jam. Ya sudah set back to draft menunggu timing Hari Ibu dan kebetulan juga grup KEB mendeklarasikan event postingan serentak pada moment Hari Ibu tersebut. Wish full, tentulah pengen ikutan, eeee…karena sesuatu hal jadi missed lagi. 

Makaaaa........ Bismillahirrahmaanirrahiim inilah serangkum kisah dari perjalanan hidup seorang karib yang InsyaAllah bisa dikategorikan dalam kriteria Hati Ibu Seluas Samudera sekaligus cucok dengan tema postingan serentak KEB yakni mengenai kisah sosok Ibu yang BUKAN Ibu kandung [di moment Hari Ibu 22 Desember 2014 lalu]. Sosok ibu yang saya jadikan tokoh sentral ini adalah seorang anak sulung yang menjalani peran menjadi single parent bagi ketiga adiknya. Khususon untuk kisah ini, saya mengambil cara penulisan versi AKU agar lebih membumi keakrabannya karena tokohnya adalah salah satu karib semasa kuliah di Surabaya tempoe doeloe  #deuh, berasa tuwa bangets.

Ini tentang kisah dari seorang anak yang sebelumnya hidup dengan kondisi serba beres dan tercukupi. Orangnya periang, lucu dan suka membantu, bahkan saking baiknya tak jarang justru dia yang sungkan untuk menagih jika ada teman yang jadi debitur ‘lupa’ untuk mengembalikan pinjamannya. Dia juga ikhlas kamar kostnya dijadikan base camp penghuni kost jika ingin ngerumpi, yang otomatis akan mengkandaskan stock sembako di kamarnya.
Saat Semunaya masih just fine , Ulil di sisi kananku [Coban Talun, Kuliah semester 3]
Another trip @Madakaripura
Intinya, dia termasuk salah satu temanku yang memiliki wewarna hidup yang berkecukupan, dalam artian dia tercukupi baik biaya kuliah maupun operasional sehari-harinya mulai pangan, sandang, biaya kuliah, uang saku, stock sembako (cemilan) dan  termasuk penyuplai beras untuk dimasak barengan di kost ketika dampak krismon menghebat sampai ke langit daya beli nasi bungkus kala itu. Untuk kelancaran suplai beras gratis ini, bagi teman-temanya dirasakan sangat membantu  karena bagi teman-teman kost yang living costnya dari hasil ngamen jadi guru les termasuk yang kena imbas level akut, meski sekedar makan sehari sekali nasi setereo saja. Padahal Nasi Setereo itu ya SEGO (lauk) tempe separo *istilah keren nasi nasi bungkus selain Sego sadukan*

Takdir kematian yang datang tanpa pertanda
Ketika menginjak dua semester terakhir, sabda KUN FAYA KUN mengubah cerita hidup Ulil secara drastis, bahkan sampai pada perputaran 180 derajat !.
Ibuknya Ulil meninggal “ berita singkat yang sangat mengejutkan bagiku dan semua teman-teman Ulil. Ibunya yang beberapa tahun belakangan menjadi tulang punggung utama bagi keluarganya dengan berdagang beras. Kulakan beras bahkan sampai keluar wilayah Gresik pun dilakoni dengan penuh semangat empat lima karena kondisi kesehatan suaminya mengidap diabetes akut.
Jika aku berada di posisi Ibuk, belum tentu sesanggup itu lho?” ujar Ulil di sela-sela obrolan ringan kami di kost saat menceritakan tentang Ibuknya. Tapi sosok membanggakan tersebut telah dipanggil secara mendadak akibat serangan jantung. Dalam sekejap, Ulil HARUS membuka chapter hidup baru bersama ketiga adiknya dan sang ayah yang kesehatannya semakin drop oleh sakit diabetes. 
Aku tak bisa membayangkan sedahsyat apa menghadapi kenyataan tiba-tiba ditinggalkan oleh pilar surga dunia itu, tak tertebak seberapa besar riak gelombang mengaduk segenap jiwanya. 
Yang aku lihat dan tahu, dia dengan begitu tegar menyusut air matanya, menata kembali kelabilan hatinya dan sekuat tenaga tidak berlarut-larut dalam ratap kehilangan. Dia berusaha sesegera mungkin berdamai dengan kenyataan jika sang ibu tak mungkin lagi kembali bersamanya.
Bahwa tak akan ada lagi sosok wanita humble yang sumringah menyambutnya setiap kali pulang, menghantarinya dengan pertanyaan “Sabtu depan kamu pulang tho Nduk” yang senantiasa diucapkannya manakala dirinya berangkat ke Surabaya di hari senin pagi. Dan semua ekspresi kasih sayangnya yang diwujudkan dalam sikap, perkataan, perhatian dan doa dari wanita yang dipanggilnya Ibuk tersebut. Ia menyadari jika tak boleh terlalu lama tertatih untuk bangkit mengingat kondisi kesehatan sang Ayah.

Dengan bermodalkan flexisibilitas daya adaptasi, dia segera mengubah ritme hidupnya. Jika sebelumnya dia pulang tidak tentu waktunya, tergantung pada jadwal kuliah dan praktikum. Maka, kemudian dia menyiapkan diri untuk lebih sering pulang ke Gresik, minimal 2 kali dalam seminggu dan mengambil peran ‘manager’ di rumah yang biasanya dihandle oleh ibuknya.

Sekitar tiga bulan Lilik mencoba, berusaha, belajar dan beradaptasi terhadap kenyataan akan ketiadaan sang ibu, tapi ternyata skenario KUN Faya KUN kembali disabdakan. Sang Ayah pun meninggal setelah jeda 102 hari  wafatnya sang belahan jiwanya.

“ Bapak dan Ibukku mungkin contoh konkrit kisah cinta yang di sebut sehidup semati ya “ demikian ucapnya bernada tegar ketika aku dan teman-teman datang untuk takziah.

Ah, andai bisa digambarkan…… mungkin hati dan perasaan sahabatku itu sudah berkeping-keping.. Pilar surganya di dunia yang dipanggil belum lama berselang, kini dilengkapi dengan kepergian sang nahkoda di rumahnya. Tapi dia tak mungkin menggugat keputusan sang Khaliq. Dia juga tak mungkin memohon agar waktu diputar ulang agar dia bisa lebih bersiap diri menghadapi gelombang kehidupan yang tak kalah dahsyatnya dengan terjangan tsunami tersebut. Diantara serpihan-serpihan duka yang membebat labirin hatinya, Ulil berusaha menjaga pijakan logika agar tidak terjerembab dalam palung duka.  Bahwa dia tidak boleh membiarkan keping-keping hatinya tercabik oleh kedukaan  menjadi berantakan tak terkendali.

Melankoli duka harus dicukupkan Sesingkatnya
“ Dibandingkan adik-adikku, aku lebih beruntung kan?” ucap Ulil suatu ketika, seakan mengumpulkan motivasi untuk memantaskan diri berada di posisi kedua orang tuanya.  
”Hingga menjelang usai kuliah, aku ditunggui orang tuaku dengan segenap curahan kasih sayang. Lha adik-adikku? Apalagi si Noval (bungsu), dia bahkan belum genap 3 tahun. Dengan melipat segenap tangis dan kesedihan, aku akan mendapati ganti yang jauh memorable, melihat tawa ceria kembali adik-adikku, walau aku sadar aku tak akan pernah benar-benar bisa menggantikan sosok Bapak, terlebih figur Ibuk”. Kalimat yang terucap datar tanpa nada, tapi sanggup meluruhkan butiran-butiran kristal bening dari sudut kelopak mataku.
[Bromo, semester 5] Ritual Anytime mbolang  yang kemudian harus diLIPAT pula
Titisan kasih sayang dalam nadi membuatnya tidak tega membiarkan adik-adiknya akan semakin terpuruk jika dia tak segera bangkit. Iya, dengan segenap kesadarannya dia harus mendampingi adik-adiknya untuk move on. 
Ia harus bisa meng-adjust dirinya menjadi Sosok wanita yang bisa menghangatkan kehidupan lagi, rela melupakan segenap lelah dan penatnya demi senyum riang adik-adiknya. Dia harus bisa berkompromi dengan emosi jiwanya sendiri, menstabilkan secepatnya jika galau melanda, mengentahkan segala bentuk fluktuasi rasa yang bisa meredupkan cahaya di langit asanya.
Dia dan dirinya sendiri harus mengatasi kabut duka, dan diluar dirinya ada tiga manusia yang membutuhkannya. Setelah sosok wanita tangguh berpulang tanpa ada suatu pertanda, kemudian disusul Ayahnya. Dia hanya punya pilihan: tak hanya DILARANG berlarut – larut dalam duka yang datang bertubi menghempasnya. Fitrah rasa kasih sayang sebagai seorang kakak seakan mendapatkan energi cinta dari surga, “ aku harus bisa bermetamorfosa” kira-kira demikian bentuk sikap ulil jika saya verbalkan.





NOTED: Edisi Belajar menulis true story.
InsyaAllah, will be continue New Chapter for New Beginning: This is my Life NOW and then

8 comments: Leave Your Comments

  1. metamorfosa dari cinta dari surga yang semula hendak diikut sertakan kontes GA ini membacanya saya sampai brebesmili, betapa cinta itu sungguh datang dari surga

    ReplyDelete
  2. Daya merinding bacanya mba Rie. Luar biasa sekali yang dihadapi Mba Ulil

    ReplyDelete
  3. apik mba kisahnya..hidup memang harus move on :)

    ReplyDelete
  4. So, hati Ibu gak cuma seluas samudera, tapi seluas bumi dan langit, bahkan seluas surga. :)

    ReplyDelete
  5. Cinta tak bertepi
    Mengharukan kisahnya
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.