WHAT'S NEW?
Loading...

Sinergi Menuju Eksportir KOPI Terbesar di Dunia

Trend pertumbuhan konsumsi kopi secara global menunjukkan peningkatan yang cukup tajam. Dimana Bismillahirrahmaanirrahiim moment minum kopi sudah menjadi salah satu dari perkembangan life style dalam interaktif sosial. Minum kopi di era sekarang ini sudah berkembang dalam pola: Coffee for all at any moment, yaitu tidak lagi menjadi dominasi bagi para orang tua dan atau kaum hanya para lelaki. Baik dalam acara resmi maupun santai, kopi sudah menjadi paket yang wajib ada dalam melengkapi menu konsumsi. Kecenderungan ini bisa jadi karena beberapa alasan berikut ini:
  1. Kopi merupakan minuman halal, dimana kecenderungan masyarakat global yang mulai lebih suka memilih produk makan dan minumannya berlabel halal karena identitas ini memberikan jaminan kualitas mulai dari awal proses produksi hingga siap konsumsi.
  2. Efek kesehatan yang terdapat dalam kopi, antara lain: Peminum kopi beresikodepresi 25% lebih rendah daripada yang tidak meminum kopi.
  3. Minum kopi memiliki timing dan tempat yang fleksible, dan cenderung meningkat di musim dingin.
  4. Harga minuman kopi yang relatif terjangkau semua kalangan sosial
  5. Minum kopi efektif  membantu kita untuk fresh seharian di tengah segala aktivitas. 
  6. Ternyata ampas kopi pun bisa digunakan untuk pupuk karena bubuk kopi memiliki pH netral dan mengandung nitrogen sehingga sangat cocok untuk pupuk tanaman di rumah. Tanah dan tanaman juga dapat langsung menyerap nutrisi yang ada di bubuk kopi. 
Bisa jadi dan sangat mungkin bila beberapa alasan diatas menjadi dasar pemikiran masyarakat dunia untuk berkecenderungan minum kopi. Maka merupakan kondisi yang kondusi jika konsumen kopi di berbagai belahan dunia mengalami peningkatan yang significant, antara lain: 
  1. Rata-rata tiap orang di Uni Eropa mengkonsumsi 5 Kg per tahun, artinya masyarakat  Eropa merupakan konsumen terbesar kopi di dunia
  2. Orang Amerika dan Kanada mengkonsumsi sekitar 4,5 Kg kopi tiap tahun, dan bagi mereka yang biasa mengkonsumsi teh - orang Irlandia dan Inggris - masih mengkonsumsi sekitar 1,5 dan 2,5 kilo per orang tiap tahun [Amerika Utara menduduki peringkat ke lima sebagai konsumen kopi]
  3. Jepang memegang rekor tertinggi sebagai konsumen kopi untuk kawasan asia.
Dengan semua fakta tersebut, Bilakah Indonesia dan Vietnam mampu merebut pangsa pasar kopi di dunia, tidak  hanya bersaing tetapi bisa juga menjadi partner bersama untuk Bersinergi Menuju Eksportir KOPI terbesar di Dunia?
Jika Secara internasional, Brazil merupakan negara penghasil kopi terbesar di dunia, yang diikuti oleh Vietnam kemudian Indonesia sebagai negara produsen kopi ke-3 di dunia. Maka setelah Brazil, Vietnam dan Indonesia sebagai sesama anggota ASEAN memiliki peluang untuk memainkan peranan yang cukup penting dalam perdagangan Kopi di pasar global dengan bersinergi Menuju Ekpsortir Kopi Terbesar Di Dunia. Langkah Sinergis jelas sangat diperlukan dengan pertimbangan perbedaan dan keunikan varian kopi hasil produksi Perkebunan di Indonesia dan Vietnam.

Sekilas Tentang Kopi Indonesia dan Kopi Vietnam.
1. Kopi Indonesia dengan Diversifikasinya.
Indonesia memiliki cukup banyak varian biji kopi dari jenis Arabika & Robusta, setidaknya tercatat 60an jenis kopi yang berasal dari seantero nusantara. Beberapa sentra penghasil kopi yang cukup besar antara lain: provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa, Bali, Sulawesi, Flores, termasuk Kopi Arabika Spesilty Indonesia yang sudah mendunia seperti Gayo Mountain, Mandheling, Mangkuraja, Java, Toraja, Kalosi, Bali & Flores, dimana masing-masing jenis kopi tersebut memiliki kekhasan sendiri-sendiri.
Untuk cara penyajian kopi, selain metode kopi tubruk yaitu kopi yang diseduh dengan air mendidih, atau kopi jos yang penyajiannya dicelup dengan arang, Komunitas penikmat kopi di Indonesia juga sangat welcome untuk menguji coba berbagai cara penyajian kopi secara modern yang diadopsi dari manca negara, seperti: Espresso, Machiato, Caffe Latte,Cappuccino, Marachino.

2. Vietnam dengan Keunikan Kopinya.
Produksi di vietnam berkembang sangat pesat sejak permulaan abad dua puluh, dan sekarang komoditas kopi merupakan pilar  kekuatan ekonomi utama di negara bagi Vietnamyang  menempati posisi kedua untuk produk ekspor pertanian di Vietnam setelah beras. Jenis KoPi yang dikembangkan di Vietnam adalah Kopi Arabika, Liberika dan Catimor.  Kekhasan kopi Vietnam terletak pada cara penyajiannya yang dicirikan oleh tingkat pemanggangan sedang dan tidak mengandung chicory. Trung Nguyen dan produsen-produsen lain di negeri ini me-mixing kopi arabika, robusta, chari dan catimor.

Sinergi Menuju Eksportir Terbesar di Dunia
Dengan ragam jenis biji kopi dan keunikannya, ini bisa jadi modal yang kuat bagi  Indonesia dan Vietnam untuk mengambil langkah sinergi menuju  posisi sebagai Eksportir Terbesar. Semakin hari tantangan ekspor kopi semakin kompleks karena tuntutan konsumen terhadap quality assurance dan food safety yang kian meningkat. Jepang sebagai konsumen kopi terbesar di Asia telah memberlakukan Maximum Residu Level [MRL] untuk pestisida CARBARYL sebesar  0,01 ppb. Pemberlakuan  “Ambang Batas Residu” pada komoditas kopi ini bisa jadi hambatan ekspor karena suatu negara importir sudah concern  terhadap suatu jenis issue kemanan pangan, maka bisa jadi pemicu issue global yang berakibat fatal yaitu embargo untuk rentang waktu yang lama.

Dengan mengambil langkah sinergi, Indonesia dan Vietnam akan memiliki bargain position yang kuat dalam menghadapi berbagai issue global terhadap ekspor kopi. Selain kompak untuk mengambil policy trekait berbagai issue global tentang keamanan pangan, pada dasarnya, industri pangan baik minuman dan makanan sangat perlu untuk menerapkan program “Hazard Analysis Critical Control Point [HACCP]” yaitu Analisis Bahaya dan Pengendalian Titik Kritis mulai dari awal hingga akhir rantai produksi makanan/minuman. Disamping itu, Codex Alimentarius Commission (CAC) telah mengadopsi HACCP dan merekomendasikanuntuk diterapkan ke seluruh dunia dalam rangka harmonisasi sistem perdagangan, ekuivalensi (kesamaan/kesetaraan) sistem pemeriksaan, dan pengurangan hambatan teknis. HACCP sebagai Alat Manajemen yang digunakan untuk memproteksi bahan pangan / makanan dari bahaya (hazard) yang bersifat biologis, kimiawi maupun fisik, secara pokok meliputi 7 prinsip yaitu:

  1. Analisis bahaya [Hazard] dan identifikasi tindakan pencegahan.
  2. Identifikasi titik-titik pengendalian kritis [critical control point/CCP].
  3. Penetapan batas kritis [Critical limit].
  4. Penetapan prosedur pemantauan terhadap setiap CCP.
  5. Penetapan tindakan koreksi [corrective action] yang harus dilakukan apabila terjadi penyimpangan terhadap batas kritis.
  6. Penetapan sistem pencatatan [record keeping]
  7. Penetapan prosedur verifikasi

Penerapan dan Pengembangan 7 Prinsip HACCP tersebut sebenarnya merupakan pendekatan secara: Preventive Measure, In process Inspection, Laboratory Analysis, Traceability [From Farm to Table]. Dengan penerapan Program Manajemen Mutu HACCP yang diterapkan pada seluruh tahapan penanganan dan pengolahan produk makanan yang berbasis pada “On Going System” akan selalu mengalami perubahan seiring berkembangnya tuntutan konsumen, sehingga akan menciptakan suatu sistem mutu yang harmonis dengan sistem terbaru yang berlaku secara internasional.



Reference: http://gaeki.or.id/

6 comments: Leave Your Comments

  1. loh emang jepang suka kopi juga ya, terbesar konsumen kopi untuk kawasan asia bahkan, kirain hanya terkenal dg tradisi teh nya aja ^_^

    ReplyDelete
  2. Wah kok kita kalah sama Vietnam ya..

    ReplyDelete
  3. kopiiii, aahh ndak begitu suka tapi suka deh dikit2 kalau pas lagi pengen ajah :D

    ReplyDelete
  4. Saya penggemar berat kopi mbak, ternyata kopi juga baik untuk kesehatan ya??

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.