Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Obat Untuk Usir Sakit Kepala

Sakit kepala memang bukan hal baru dan merupakan salah satu jenis penyakit yang tergolong universal: tak kenal usia, gak perduli jenis kelamin, asal-usul, golongan darah, serta atribut-atribut sosial lainya. Dimana Bismillahirrahmaanirrahiim jenis penyakit ini pun datangnya sering tak terduga, tanpa tanda-tanda serta tanpa kabar-kabari sebelumnya. Tak kenal kompromi juga manakala saya sedang suka citanya menjalankan ibadah puasa di Ramadhan ini. Seperti yang saya alami pada minggu pertama bulan Ramadhan ini. 

Saat itu usai Sholat Dhuhur dan ketika menapaki anak tangga menuju ke ruangan Laboratorium yang berada di lantai dua, tiba-tiba saja rasa pusing dan pening menyergap. Diagnosa spontan langsung muncul: Sakit kepala!
Kenapa Mbak? Kayak letoy gitu ?” tanya Tita, teman kerja yang melihat ekspresi wajah saya yang mringis-mringis menahan rasa sakit kepala.
Tau nih, tiba-tiba sakit kepala
Waktu sahur tadi gak minum kopi kan?” Tita memang paham jika saya suka minum meski gak sampai coffeeholic.
Ya enggak, kan sudah paham kalau sahur WAJIB menghindari minuman yang berkafein”
“ Kalau gitu, pasti gak sahur ya..?”
“ Hehehee...” saya hanya tertawa, lha memang tebakan Tita tidak meleset jauh.  Saat sahur, memang kurang selera makan. Seringnya minum air putih dan segelas susu. 
Itu salah satu akibatnya jika asal-asalan saat sahur..” sindir Tita. “ Lha makan buka saja, mana cukup untuk coverage kebutuhan energy full day berikutnya Mbakyu…”

Teman saya itu memang berbackground kuliah Jurusan Biologi plus bersuami orang yang berprofesi sebagai paramedis, siiplah ada first opinion gratis bagi saya dan teman-teman saat mengalami gangguan kesehatan. Seperti siang itu, saat tiba-tiba saya di serang sakit kepala. 
Ya udah, buka puasa lebih dulu saja terus minum obat..” saran Tita lebih lanjut.
Sekilas saya melihat jam, rasanya kok sayang jika mbatalin puasa sementara bedug maghrib kurang +3 jam lagi. Kenikmatan tinggal di Ujung Timur Pulau Jawa sehingga waktu berbuka puasa lebih cepat dari wilayah Jawa lainnya.
InsyaAllah…masih bisa bertahan kok. Nanti begitu buka puasa langsung minum Bodrex”.
“ Wah iya, kan ada bodrex ya…hehehe..jadi ingat semasa kecil dulu aku suka bersandiwara sakit kepala biar dibelikan bodrexin sama ibuk”.
Senada seirama dengan pernyataan teman saya tersebut, di keluarga saya pun sudah mengenal Bodrex sebagai obat sakit kepala sejak masih kecil. Maka jika ditanya sejak kapan kenal dengan Bodrex? Ya tentunya sejak saya masih kanak-kanak karena itu jika orang tua atau kakak-kakak saya [orang dewasa] yang sakit kepala, minumnya juga si tablet warna merah putih itu. Alhasil record Bodrex pun sudah menorehkan sejarahnya  sebagai  obat sakit kepala yang Tepat dan Cepat Redakan Sakit Kepala. 

Saya masih ingat banget, pokoknya kalau sakit kepala dan atau pilek, Ibu saya langsung beli Bodrexin tablet. Jika cacingan, Ibu saya harus pakai ajian bidadari lemah lembut hingga jurus dewa mabuk untuk membuat anak-anaknya mau minum obat cacing. Tapi untuk minum Bodrexin, tanpa disuruh dua kali, kami pun dengan suka cita mengunyah tablet Bodrexin dan esoknya sudah kembali masuk sekolah dengan ceria lagi. Di jaman itu akses dan sarana kesehatan sangat belum “ramah” seperti sekarang. Hadirnya PT. Tempo Scan Pacific yang menawarkan Bodrex dengan harga yang merakyat dan berkhasiat mujarab, tentu membuat Bodrexin dan bodrex dengan sangat mudah diterima oleh masyarakat. 

Apalagi sistem penjualannya yang secara eceran, yaitu bisa dibeli sesuai kebutuhan dimana konsumen tidak perlu membeli obat dalam jumlah banyak sekaligus. Kalau dengan minum sebutir Bodrex sudah bisa meredakan sakit kepala,  sehingga biaya yang harus dikeluarkan untuk mendapatkan obat tersebut dapat dikurangi. Saat ini pun harga Bodrex terbilang cukup murah, harga 1 blister yang terdiri dari 10 tablet sekitar 2.900,- Rupiah. Dengan demikian kesempatan Bodrex untuk bersaing dengan produk lain yang sejenis cukup besar.

Perbincangan mengenang masa kanak-kanak bersama Bodrexin di sela-sela kerja pun berlanjut, lumayan cukup mengalihkan rasa sakit kepala saya hingga pekerjaan selesai.  Kok ya kebetulan pas hari itu ada acara buka puasa bersama, jadi pulang dari kantor pun tidak bisa tepat waktu. Rasanya belum lama istirahat sepulang kerja sudah terdengar Adzan Maghrib berkumandang, jadi segera saya minum segelas air putih dan minum sebutir Bodrex. Lima menit...sepuluh menit...saya seperti anak kecil yang menghitung detik-detik menunggu buka puasa, hanya bedanya saya menunggu sakit kepala segera reda. Meski saya sudah menyampaikan untuk absen dari acara bukber jika kondisi belum membaik, tapi sejujurnya saya masih tetap bertekad ingin bisa ikut bukber. Bukan apa-apa, karena bukber bareng teman kerja di Banyuwangi tahun ini InsyaAllah akan jadi moment buka bersama yang terakhir karena kemungkinan besar Ramadhan tahun depan saya sudah pindah domisili di Yogyakarta. 

Dan Alhamdulillah, doa dan harapan saya dikabulkan. Sekira lima belas menit berlalu setelah minum bodrex, sakit kepala saya pun mereda. Saya segera bergegas untuk sholat Maghrib dan meluncur ke tempat bukber. 
Lhoh Mbak, sakit kepalanya sudah sembuh ta?” kali ini si Dian yang kali pertama menyambut saya dengan pertanyaan bernada keheranan.
Alhamdulillah, ini buktinya aku sampai disini dengan sumringah kan?”
“ Kok cepet, minum obat apa?”
“ Ya biasa, minum Bodrex tadi pas buka puasa..”
Syukurlah, soale bukber gak lengkap kalau dirimu gak datang Jeng...hehehehee..” 

Sepenggal cerita pengalaman sakit kepala di Bulan Ramadhan ini penyebabnya memang karena kesembronoan saya juga. Sahur memang tidak diwajibkan tapi sunnah dilakukan karena di dalamnya terdapat berkah dan pahala yang memperkuat puasa. Sebenarnya untuk memenuhi standar menu makanan sahur ya tidak sulit agar stamina tubuh terjaga sepanjang hari saat berpuasa. Sebenarnya kegiatan sahur pada dini hari kan bisa saya nikmati karena bukan makanan yang susah didapatkan tapi saya saja yang  ‘merasa kepagian’ karena waktu sahur yang dini hari sehingga tak jarang makan sahur dengan waktu yang mepet, hasilnya ya sekedar mendapatkan sunnah bersahur. Padahal kan harusnya saya tetap berpedoman pada nasehat ahli gizi yaitu untuk menyantap menu makanan yang memiliki kriteria antara lain:
  1. Berkarbohidrat kompleks yang tak mudah membuat lapar, karena karbohidrat adalah sumber energi untuk tubuh dan otak melakukan aktivitas fisik maupun mental. Sehingga tidak heran jika kekurangan karbohidrat akan menyebabkan tubuh mudah lelah, tidak bersemangat, lesu dan akibatnya mengundang sakit kepala [seperti yang saya alami itu].
  2. Makanan yang berkuah, karena cairan sangat dibutuhkan oleh tubuh dan itu tidak bisa didapatkan selama menjalankan puasa. Oleh karena itu kebutuhan tersebut harus dipenuhi saat bersantap sahur: sayur berkuah, air mineral dan buah-buahan sebagai sumber cairan bagi tubuh. Tidak lupa untuk minum air putih minimal: 1 gelas penuh saat bangun tidur, 1 gelas setelah sahur dan 1 gelas menjelang imsak.
  3. Makan Kurma juga pilihan jitu bagi pencernaan dan stamina saat puasa karena kurma mengandung banyak manfaat dan zat gulanya bisa mengembalikan tubuh yang tidak mendapat asupan makanan apapun saat berpuasa kembali bugar. Makan Kurma kurma saat sahur juga dianjurkan juga [seperti halnya ketika buka puasa] karena kandungan buah kurma yang berserat tinggi berperan penting untuk menjaga kesehatan pencernaan serta gerakan lambung dan usus. 
Saya mengalami sakit kepala tidak hanya di Bulan Ramadhan ini, dalam keseharian pun penyakit satu ini tak jarang tiba-tiba menyapa tanpa permisi dulu. Terlebih jika pekerjaan sedang menumpuk yang harus segera diselesaikan, seperti saat menghadapi proses assesment untuk Akreditasi Laboratorium pada Desember tahun lalu. Atau ketika jelang acara pernikahan yang ternyata cukup menyita waktu, pikiran dan tenaga untuk mempersiapkannya. Tidak bisa saya bayangkan akan seperti apa kacau balaunya pelaksanaan assesment akreditasi atau prosesi pernikahan saya jika sakit kepala saya [saat itu] tidak segera teratasi kan? Stress yang berasal dari luar sistem metabolisme ini pun acap kali memicu berlebihnya produksi asam lambung sehingga berdampak pada gangguan maag saya. Efek selanjutnya jika maag saya terganggu ya serangan sakit kepala tanpa kompromi. Kalau pilihan saya masih loyal pada Bodrex meskipun punya gangguan pada maag, pertimbangan saya adalah:
  1. Secara historical Bodrex sudah memberikan unjuk kerja comprehensive dalam meredakan sakit kepala yang sudah saya ketahui sejak masih anak-anak [sebagai konsumen bodrexin kemudian berganti pada tablet Bodrex saat memasuki usia remaja/dewasa].
  2. Bodrex yang tiap tablet lapis dua mengandung Parasetamol dan Kofein yang bekerja sebagai analgesik dan antipiretik yang berdaya guna dalam meredakan sakit kepala secara cepat, yaitu bisa langsung diminum secara dan tidak menimbulkan kantuk sehingga tidak mengganggu aktifitas.
  3. Bodrex sebagai suatu produk obat sakit kepala yang berkualitas yang bisa berkolabarasi dengan kondisi maag saya, dapat dengan mudah dijumpai baik di supermarket maupun warung-warung kecil dengan harga yang sesuai mulai dari masyarakat kelas atas hingga kelas bawah. 
Maka tak dapat dipungkiri jika Bodrex telah berhasil membangun brand awareness di antara bermacam-macam obat sakit kepala yang beredar di pasaran. Promosi gencar dan proaktif juga tetap dilakukan oleh PT. Tempo Scan Pacific [salah satunya dengan lomba blog ini] sehingga sangat wajar jika Bodrex masih bisa berada pada grafik pertumbuhan yang progesif di usia maturasinya saat ini.  

Dan semenjak berlabel jadi anak rantau [walaupun tidak sampai keluar dari Pulau Jawa], untuk menjaga kesehatan, saya berpedoman “sedia payung sebelum hujan”, yaitu siap sedia dompet P3GK ~ Pertolongan Pertama Pada Gangguan Kesehatan ~ yang isinya multivitamin dan obat-obatan untuk: maag, diare, dan sakit kepala. Kata Ibu saya "tidak ada orang yang berharap untuk sakit, namun juga tak ada orang yang bisa menghindar jika tiba-tiba terserang sakit". Maka dalam kondisi apapun saya harus siap sedia obatan kan? Ya minimal obat untuk sakit kepala, diare dan maag. Lha daripada mendadak sakit dan tidak persediaan obat sama sekali? Kan jauh lebih baik jika sesegera mungkin mendapatkan pertolongan pertama sehingga sakitnya tidak menjadi lebih parah.  

Berdasarkan pengalaman saya dalam mengkonsumsi Bodrex saat sedang sakit kepala, minum 1-2 tablet bodrex sudah bisa mengatasi sakit kepala. Kecuali jika sakit kepala yang terjadi sebagai indikasi penyakit yang lain, misalnya: penyakit thypus, Demam Berdarah, dll. Oleh karena itu, sangat perlu untuk memperhatikan dosis minum bodrex [obat lainnya] sesuai yang dianjurkan, yaitu:
  1. Dewasa dan anak diatas usia 12 tahun = 1 tablet, 3-4 kali sehari
  2. Anak-anak usia 6 – 12 tahun = ½ s/d 1 tablet, 3-4 kali sehari.
  3. Atau ikuti petunjuk dokter
Bila setelah dua hari demam tidak turun atau setelah 5 hari rasa sakit tidak berkurang, segera bersilaturahim ke dokter/unit pelayanan kesehatan terdekat karena sangat mungkin sakit kepala tersebut BUKAN sakit kepala biasa [indikator penyakit lainnya yang butuh pemerikasaan dan perawatan medis lebih lanjut]. 

Nah, jika sakit kepalanya karena kenaikan harga sembako akibat perubahan harga BBM dan jelang Hari Raya Idhul Fitri, saya dengan mantap hanya bisa menyarankan: Belanjalah sesuai kebutuhan, tetap sisakan THR yang diterima karena setelah Hari Raya masih banyak keperluan penting lainnya lho?




References:
1. Brosur Bodrex
2. Vemale.com





Ramadhan Pertamaku [after NOT Single]

Ramadhan tahun ini merupakan Bulan Puasa pertama saya sebagai mualaf dengan status NOT single anymore. Bismillahirrahmaanirrahiim walau secara de jure [hukum agama, sipil dan sosial] saia sudah tidak bisa lagi berlatah ria: I’m Still single and happy TAPI dalam konteks de Facto, sehariannya memang mostly masih menjalani ritme ala single, dengan IMPORTANT NOTE: gak bisa mbolang lagi semau guweh. Setiap pilihan include dengan konsekuensi yang mesti dijalani dengan konsisten dan legowo, termasuk hubungan pernikahan di awal-awal yang juga masih harus LDR MODE ON: Saya masih tinggal di Banyuwangi dan suami berada di Sleman, Ngayogyokarto.

Maka, jadilah Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan Pertamaku [after NOT Single] tapi njalani hari-hari ya masih gak jauh beda dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya: Buka puasa sendiri [kecuali ada acara bukber sama teman-teman kantor] dan juga sahur sendiri. Kalau males makan saat sahur ya minimal minum susu/cereal just like ussually. Pola hubungan yang masih LDR ketika menikah ini pun sudah masuk dalam pembahasan sebelumnya sebagai resiko yang tak terhindarkan karena proses mutasi pekerjaan yang perlu waktu. Jadi InsyaAllah masa-masa masih harus LDR ini gak ada masalah bagi kami. Banyak pasangan suami – istri yang menjalani pernikahan dengan gaya LDR dan bahkan frekuensi gathering as family dengan interval yang lebih jarang and so far still happy family. 

@Terminal Tawang Alun: oper Bis karena Ban bocor
Begitu pula, “cuti” bertemu selama Bulan Ramadhan ini. Bukannya kok segitunya Jogya-Jatim saja kok pakai acara “keberatan” untuk ketemu, tapi berusaha realistis saja. Sekarang ini rute Banyuwangi-Yogyakarta tidak bisa di prediksi, hampir selalu ada kemacetan untuk jalur Jombang – Ngawi sehingga waktu tempuh sering molor hingga kisaran 18 jam. Meskipun berusaha start berangkat secara ASAP= as soon as possible: berangkat jam 14.30 [pulang kerja hari Jumat] dan baru tiba di Jogya kisaran jam 9an pagi. Nah, ketemu bulan Ramadhan kan hanya setahun sekali. Sedangkan untuk bertemu suami masih banyak hari-hari lainnya, toh gak sampai fully sebulan kok gak ketemunya. Awal puasa kemarin mudik bareng ke ortu dan jelang akhir Ramadhan kan sudah cuti bersama. 

Maka LDR ini saya maknai sebagai masa “pacaran” untuk proses adaptasi secara intensif. Orang bijak bilang, maknai segala kejadian secara positif atau ujaran Pak Ustadz saat Kultum: everything happen for right reasons. Saya dan suami menikah dengan proses instant: Ramadhan 2012 dia mengajukan ta’aruf, dan baru saya jawab setelah Idhul Adha. Planning kami bulan depannya khitbah kemudian Walimatul Ursy pada Desember, tapi demi pertimbangan kelegaan hati semua pihak keluarga [mayoritas wong Jowo] sehingga hari H pernikahan disepakati bulan Maret kemarin. Dalam kurun waktu sebelum ada ikrar Akad yang sah, hubungan kami berlangsung dalam konteks komunikasi by phone yang seperlunya sajah. Jadi apa-apa tentang siapa dan bagaimana kedirian kami, ya miriplah seperti tukar Curiculum vitae. Jadi Long Distance Relationship yang saat ini kami jalani tetap meaningfull-lah, sebagai masa transisi sebelum totally saya menjalani peran sebagai istri dan ibu.

Lantas apa cerita dalam Ramadhan Pertamaku [after NOT Single] ini? Intinya ya Ramadhan tahun ini I’m not single anymore but still live like single. Lha belum ada rutinitas untuk nyiapin menu buka puasa dan sahur buat keluarga kok. Kalau lagi pengen males Makan, asyik-asyik saja lah jadinya. #Ups. Udah gettu ajah....lha sudah pada pengalaman gimana menjalani Ramadhan sebagai single yang jauh dari keluarga kan?

 “Selamat menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan, semoga segala perbuatan baik dan ibadah yang kita kerjakan menjadi amalan yang bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta semakin mendekatkan kita pada Ilahi Rabb. Aamiin.....Have A great Ramadhan for all”


Apel Malang VS Apel Washington?

Ini Bukan Apel Malang VS Apel Washington tapi secuil percakapan saya dengan [penjual] buah Apel Malang beneran lho? Iya sih, Bismillahirrahmaanirrahiim ada sedikiiittt nyrempetnya ke Apel Washington. Muasalnya adalah dalam rangka membiasakan diri berpola makan yang sehat, sejak beberapa tahun belakangan ini Alhamdulillah sebisa mungkin saya berusaha memenuhi rumus 4 sehat 5 sempurna, walaupun belum bisa ajeg dan konsiten untuk yang kriteria 5 sempurna. Ya minimal bisa menu 4 sehat kan wes good progress kan? 

Untuk acara beli membeli buah, saya lebih sering straight pada satu penjual buah. Selain searah dengan rute tinggal – kantor, juga enak saja karena sudah merasa cocok dengan sang penjualnya sehingga gak perlu pakai acara tawar-menawar lagi. Penjualnya sudah hapal dengan wajah kece saya sih. Sesekali kami juga sempat ngobrol-ngobrol ringan, seperti saat terjadi kenaikan harga apel Malang yang menurutnya dramatis sehingga beliau mengalami kesulitan untuk membandrol harga jual. Maklum, Ibuk penjual sudah paham kalau saya sudah terlanjur Fall in Love dengan Apel Manalagi, maka kalau saya mampir ke kios buahnya sudah bisa ditebak bakal beli Apel Malang yang jenis Manalagi.

Buah Lokal; Cinta produk Lokal

Harganya apel Malang naik lho Mbak? “ ujarnya dengan bahasa Jawa campur logat Osing saat saya milih-milih Apel Manalagi.
Padahal BBM belum naik lho Buk?” saat itu memang belum ditetapkan kenaikan BBM.
Ya itulah, wong BBM belum naik tapi harga apel malang sudah nglunjak ngalahi harga apel impor.”
Lha yang impor harganya berapa sekarang Buk?”
Yang Apel merah itu 1 Kg-nya hanya 20 ribu je. Lha Apel Malang harga kulakan saja sudah 18 ribu. Jadi susah jualnya kalau kayak gini, dijual harga kulakan saja gak laku-laku “.
Kok bisa jadi mahal ya, padahal kota Malang gak jauh dari Banyuwangi? Ketimbang impor dari Amerika kan?”
Gak paham Mbak, pokoknya kalau stock yang ada ini sudah habis, saya prei dulu kulakan apel Malang. Orang-orang lebih suka beli apel import, itungannya kan lebih murah dan barangnya lebih bagus tho?”  

Maka menggarisbawahi ngambegnya Ibu penjual buah untuk kulakan apel Malang, artinya jika saya hendak beli Apel Malang lagi kudu siap melaju cari pedangang buah yang lokasinya lebih jauh yang menyediakan dagangan buah Apel. Nah jika pembeli lebih bergairah milih apel import tentu sangat masuk akal, yang namanya hukum dasar dalam transaksi beli-membeli tentunya konsumen akan cenderung cari barang yang bagus dengan harga yang lebih rendah [baca:murah]. Lha secara harga dan penampakan, Apel Import saat ini memang lebih “friendly” dengan daya beli konsumen. 

Dan saya? So many years ago, saya pun pernah kepincut dengan Apel yang import, look so great and fresh! Tapiiiii....sisi usil saya kemudian jadi terusik, lha secara alamiah Buah [dan sayuran] kan termasuk komoditas yang bersifat perishable alias mudah rusak?. Sedangkan jangka waktu shipment barang import untuk sampai ke port entry negara tujuan tidak mungkin dalam hitungan hari [exception by plan!]. Maka secara traceability sederhana, setidaknya ada ada dua treatment yang diberlakukan untuk buah-buah import untuk memperpanjang delay ‘kerusakan’, yaitu:
  1. Masa panen dilakukan sekian hari sebelum buah benar-benar masak [siap panen], maka secara ilmiah [nalarnya saya neh] tentu kandungan gizi dan taste buah lokal HARUSnya masih jauh lebih MANTABS daripada buah import dong?
  2. Analogi sederhana berikutnya adalah tentu ada additive ‘pengawet’ agar si buah tidak lekas rusak [membusuk], mengingat waktu shipment yang sangat lama serta kebutuhan waktu penjualan saat sudah dipasarkan.
Sama seperti Ibu penjual buah, saya pun tidak habis pikir bagaimana bisa Apel yang dipanen dari Kota Malang itu bisa lebih mahal dari Apel Import? Dari hasil OOT sama teman-teman yang juga suka beli buah Apel Malang, saat ini variansi harga jual Apel lokal di Banyuwangi berada di kisaran 20 s/d 25 ribu. Harga tertinggi tersebut jika beli di supermarket dengan ukuran yang lebih kecil ketimbang yang dijual oleh pedagang buah non supermarket. Kalau di kota Apel-nya sono kisaran harga 11-18 Ribu [info dari teman yang berasal dari Malang lho?]

Apakah global market sudah mewujud di semua lini perdagangan?

Dan bilamana demikian, JIKA semua komoditas barang import bisa dipasarkan dengan harga yang lebih murah, akan seperti apakah nasib produk dalam negeri di negerinya sendiri? Semoga saja performance harga Apel Malang saat ini TIDAK merepresentasikan kompetisi harga jual pada produk/komoditas lokal lainnya.





Bulan Kerinduan

Belakangan ini, dan sudah beberapa bulan aktifitas nge-blog lumayan amburadul. Selalu ada kerinduan jika lama-lama tidak nge-Blog. Maka Bismillahirrahmaanirrahiim walau jarang apdet, tapi tiap hari sebisa mungkin untuk nengokin rumah maya ini. Hingga bulan yang dirindui segenap muslim dunia kini telah hadir dengan laksa keutamaan bagi siapa saja yang MAU menikmatinya dalam jamuan tanpa jeda detik selama Ramadhan ini. 

Dan meminjam puisinya Zainal Abidin WS untuk mengawali postingan di Bulan Penuh berkah ini dengan BULAN KERINDUAN:

Ramadhan adalah bulan kerinduan kemarau panjang,
Menunggu kabar hujan, menunggu desah angin kesejukan,

Ramadhan adalah sembilan puluh sembilan langkah yang mengepung seluruh ruang dan waktu,
Berjalan, berderap, seiring gema nafas para syuhada berjihad di medan laga,

Ramadhan adalah dinding-dinding hati yang menyatu dalam satu pelukan,
Menanti sebuah kedamaian dan lahirnya Rahmatan Lil ‘alamin

Ramadhan adalah cermin jiwa, lautan berkah, samudera rahmat, telaga ampunan, benteng nafsu angkara,
Yang di dalamnya bermukim sang bidadari,
Dan berjuta permata firdaus,
Dan dari [permata] firdaus itu telah mengalir sungai madu dan kolam susu

Maka barangsiapa yang menghujat karenanya
Sungguh, ia akan merugi dalam kepedihan yang dahsyat,
Akankah kau mendustakannya?

Apapun kebaikan yang terjadi padamu, [asalnya] dari Allah. 
Dan apapun yang buruk menimpa dirimu, [asalnya] dari dirimu ~ An Nisaa’ 79

Maka teriring permohonan maaf atas segala salah dan khilaf jika dalam tulisan saya di blog maupun saat meninggalkan jejak komentar terdapat perkataan yang tidak berkenan. Selamat menjalankan Ibadah di Bulan Ramadhan, semoga segala perbuatan baik dan ibadah yang kita kerjakan menjadi amalan yang bisa meningkatkan keimanan dan ketaqwaan serta semakin mendekatkan kita pada Ilahi Rabb. Aamiin.....
Have A great Ramadhan for all.



Mbah Karyo

Kenapa tidak mau menerimanya, Mbah?”
Mbah Karyo menggeleng, seulas senyum berpadu ukiran keriput wajahnya yang berkarisma.
Aku ikut berjuang mempertahankan kemerdekaan negara ini, tidak pernah terpikir meminta imbalan
Ada gemuruh kekaguman saat mencoret nama Mbah Karyo sebagai penerima Kompensasi BBM. Rasa nasionalisme dan Semangat juangnya tidak luntur meski diusia 80 tahun ini hidup sendirian di rumah yang lebih tepat disebut gubuk.