WHAT'S NEW?
Loading...

Kisah Kasih Sepatu ku Sayang

Mengurai salah satu kisah kasih semasa sekolah untuk ikutan berbagi cerita tentang sepatu. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim, inilah Kisah Kasih Sepatu ku Sayang  Setelah mengingat-ingat dan memvalidasi hasil ingatan  dengan bertanya pada salah satu kakak, alhasil memang kelas 3 SD saya baru bisa memiliki sepatu untuk sekolah. Maka jangan heran jika masa sekolah saya masih belum kenal model Fashionable Daily Shoes semacam BE·BOB Shoes yang keren dan trendy. Saat belum memiliki sepatu untuk sekolah tentu bisa ditebak jika saya ke sekolah dengan ‘nyeker’ dan jika toh ada yang pakai Sandal jepit merupakan style yang middle class ke atas bagi lingkungan di sekolah saya kala itu.

Kisah Kasih Sepatu ku Sayang ini berawal dari sepatu pertama yang pastinya BUKAN model Wedges ataupun High Heels deh. Yups, sepasang Flat Shoes berwarna putih berbahan plastik yang ada strip warna merah dan biru berdekatan dengan tali sepatunya. Aturan tidak tertulis di rumah untuk sepatu dan baju seragam sekolah, yaitu: sekali beli harus bisa sampai lulus sekolah. Syukur-syukur jika bisa bertahan untuk masuk sekolah berikutnya. Jadi kalau soal ukuran sepatu bisa dipastikan akan kebesaran bagi ukuran kaki saya. Cara menyiasatinya agar ‘pas’ dengan besarnya kaki yaitu menambahkan gumpalan kertas di bagian ujung sepatu. Agar bisa awet sampai lulus SD, maka kalau pulang sekolah sepatu tersebut biasanya saya tenteng [kalau berangkat ke sekolah sepatu terpakai dengan manis]. Dan jika sedang musim hujan, akan memberi alasan yang kuat untuk tidak bersepatu ke sekolah dan itu merupakan pemandangan yang sudah biasa bagi guru terhadap saya.

Saat masuk SMP dan SMA berlaku peraturan kalau sekolah harus menggunakan sepatu berwarna hitam setiap hari sehingga tidak bisa mencari-cari alasan untuk menenteng sepatu lagi [seperti sewaktu masih SD] demi tujuan mulia memperpanjang masa pakai sepatu. Sebenarnya kalau hari Jumat-sabtu aturan menggunakan sepatu agak longgar [jarang ada inspeksi dari guru] sehingga bagi teman-teman yang tak ada masalah untuk membeli sepatu bisa trial pakai sepatu warna lain [tidak hitam]. Cara terbaik yang bisa saya lakukan kala itu agar sepatu kebesaran bisa bertahan sampai lulus sekolah [selain pertimbangan waktu beli dengan kriteria sepatu yang: lentur, tahan lama dan harganya terbeli/murah] adalah dengan menjahitnya jika sudah muncul ‘mulut’nya [baca:berlubang].

Maka ketika kondisi sepatu saya berada di injury time, artinya harus siaga mengeluarkan jurus pamungkas: menjahit sepatu tapi tidak dibawa ke tukang sol sepatu. Saya harus menjahitnya sendiri dan Alhamdulillah kebetulan untuk urusan menjahit [pakai tangan] saya bisa melakukannya. Untuk awalnya saya sering melihat dari kakak saya yang nyambi menerima order sol sepatu. Secara prinsip, menjahit sepatu memang hampir sama dengan menjahit baju, hanya berbeda pada alatnya [jarumnya lebih besar dan benangnya menggunakan senar]. Dengan jurus pamungkas ini akhirnya bisa mencukupkan satu pasang sepatu untuk satu masa sekolah.

Kisah Kasih Sepatuku
Kisah Kasih Sepatu ku Sayang masih berlanjut ketika kuliah dan ini yang sampai sekarang masih membuat saya terheran-heran [plus bonus tertawa] jika mengenangnya. Karena situasi [finansial] yang kurang mendukung, sehingga sisa uang yang saya miliki saat akan mulai masa perkuliahan ternyata memberikan satu pilihan untuk mampu membeli sepatu second. Saya masih ingat betul kala itu, diantar oleh kakak ipar untuk membeli di PKL yang ramai berjualan di sekitar Stadion Tambaksari setiap malam. Setelah beberapa kali memilih, saya pun mantap memilih sepasang sepatu warna hitam berbahan [seperti] kulit yang harganya delapan ribu Rupiah. Alasan saya tentu saja pilih sepatu yang kuat [baca: awet] dan bisa digunakan untuk all moment: kuliah dan acara kampus lainnya [non akademis]. Istilah 'merk' merupakan bahasa dari planet luar angkasa yang tak ada dalam kamus saya tentang kriteria sepatu yang baik.

Dan memang sepatu tersebut bisa bertahan jadi alas kaki yang setia sampai saya lulus kuliah dengan didukung sesekali saya menggunakan sepatu pinjaman dari teman kost [yang kebetulan memiliki sepatu banyak]. Saat-saat menjelang akhir dari masa kuliah yaitu ketika tinggal menunggu yudisium dan wisuda, pada suatu siang ketika sedang ngobrol santai dengan beberapa teman, ndilalah saya iseng memperhatikan sepatu dengan lebih intens dan saat itulah baru menyadari jika sepasang sepatu yang saya gunakan selama ini bukanlah pasangan yang sepasang. Antara sepatu kanan dan kiri ternyata tidak sama, sekilas pandang kelihatan sama: warna hitam, berbahan [seperti] kulit, model bertali, ukuran sama. Tapi ternyata sepasang sepatu tersebut hanya modelnya saja yang tipically terlihat sama. Untuk memastikan apakah saya tidak salah lihat [silap], saya pun bertanya pada teman di dekat saya.

“ Coba perhatikan sepatuku deh..... “ celetuk saya
“ Emang kenapa sepatumu ?” Tanya teman masih belum aware dengan maksud permintaan saya.
“ Menurutmu sepatuku itu beneran sepasang atau hanya sekilas saja mirip sepasang sepatu yang berpasangan?”
Sejenak teman saya terdiam, untuk kemudian tertawa “ Hebat deh, jadi selama ini kamu gak nyadar jika menggunakan sepatu yang berbeda antara kanan – kira ya, Rie?”.

Sesadar-sadarnya, saya paham jika fakta Kisah Kasih Sepatu ku Sayang saat kuliah tersebut bukan kejadian yang lucu. Tapi yang terjadi saya dan teman-teman jadi tertawa lepas penuh rasa keakraban. Tak ada yang meledek dan saya pun tidak dihinggapi rasa malu atau minder dengan kenyataan sepatu tersebut? Alhamdulillah, AllAH SWT mempertemukan saya dengan teman-teman yang tidak pernah bersikap ‘bully’ pada orang lain bagaimanapun kondisinya, sehingga saya tetap bisa enjoy dan percaya diri menikmati masa-masa sekolah.



“ Sepatu, mungkin terasa biasa bagi sebagian orang,
tapi luar biasa bagi sebagian yang lain ~ Dahlan Iskan 






26 comments: Leave Your Comments

  1. He? Kanan kiri ngga sama?
    kok bisa sih mbak???
    patut dicontoh #eh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. horeeee...ada yg mau nyontoh neh, bisa jd trend setter dunk...#EH

      Delete
  2. dulu jaman sd banyak juga yang seperti mbak riri tidak bersepatu saat sekolah dan sepatu saya merk rieker yang legendaris itu, murah meriah. kisah yang asik untuk disimak mbak sampai saat masa menjelang wisuda menemukan guyonan yang tidak sengaja dan punya teman yang sejalan sepikiran. Tulisan yang enak dibaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya sepatu karet itu mas

      Delete
    2. Kalau sepatu merk 'rieker' kala itu masih tremasuk sepatu 'mahal' #ups

      Delete
  3. haha, kok bs gak ketahuan gitu sih? emang dipake gak berasa ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. nah itu dia, kok bisa sampai bertahun2 gak berasa jika sepatunya gak sepasangannya

      Delete
  4. wow mbak ririe keren :o

    bisa jait sepatu, toop d^.^b

    ReplyDelete
    Replies
    1. BISA JAIT SEPTU ITU KEREN YA...#ASYIIKK

      Delete
  5. wkwkwkwk... kok bisa sampai nggak tau gt sih mbak.. emang model ma warna nya mirip ya mbak..?

    sampai sakit perut saya ketawa mbak.. ada ada aja nih mbak rie rie..

    hayoo..? belinya cuma 1 di toko ini 1 di toko itu ya mbak. wkwkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. waaa....kuk get sih...#pura-pura nangis

      Delete
  6. kok bisa ya ngga nyadar kalau sepatu kanan dan kiri beda

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ya pak, kok bisa ya?

      #ketahuan klo gak teliti pas mbeli

      Delete
  7. ah elah...
    bilang aja itu tren sepatu 2013
    hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. wikkk, mantab neh diirku bakal jd trend setter user sepatu duniaaa

      Delete
  8. itu mungkin karena saking banyaknya mikir mbak, kan teknik itu luar biasa susahnya. sampe urusan badan jadi urusan kedua. Sama seperti orang MIPA. cerita sepatu sepasang yang tidak sama dalam tanda kutip ini mengingatkanku ke makanan loh mbak. Aku seharian sampe jam segini cuman makan sekali gara2 ngerjain laporan... hheeeuu .. yo wes tak beli makan dulu mbak

    ReplyDelete
  9. Salam sahabat
    Hehehe dengan menyiasati segumpal kertas dimasukkn ke sepatu inilah yg juga mengingatkan saya hehehe
    Salam dari saya Dhana dg web baru xixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, kayaknya trend sumbat kertas d sepatu kebesaran itu gak hanya sayah yaa

      Delete
  10. wkwkkw..jadi inget waktu mau ke kondangan pake sepatu beda, pantesan ga enak, ternyata heelsnya tinggi sebelah ,pasalnya modelnya setipe :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Untungnya Mbak Nchie segera nyadar kan? jd gk perlu ada adegan heel sepatu dipendekin tuh

      Delete
  11. ke dua kalinya neh, baca soal sepatu disini ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gpp, kan belum sampai 5 kalinya ntuh

      Delete
  12. Nice share......good luck with the contest & keep posting :)
    www.selebstyle.com

    ReplyDelete
  13. wkwk, sukses selalu mbaknya :)

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.