Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Kenapa Suami (masih) enggan menggunakan Alat Kontrasepsi

Pengguna alat kontrasepsi adalah orang-orang yang menikah karena seperti kita tahu bahwa alasan penggunaan alat kontrasepsi adalah untuk merencanakan (jarak) kehamilan. 

Membaca judulnya sudah memunculkan sinyal-sinyal: ini nada-nadanya postingan berkonten dewasa deh. Tapi tidak sepenuhnya demikian, tulisan ini hanya karena terpancing oleh tulisan yang saya temui saat ke institusi yang main core-nya  terkait KB, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak. 

Setelah beberapa waktu berlalu dan iseng-iseng saya tanyai teman-teman dan saudara (lingakaran keluarga) yang sudah menikah, kok tagline ini ada benar juga sih. 
sex edication, relationship
Hampir semua teman-teman yang menggunakan alat kontrasepsi (baru) memutuskan mulai mengikuti program Keluarga Berencana (KB) adalah setelah memiliki anak. 
At least, Bismillahirrahmaanirrahiim di antara sekian pasangan menikah yang saya kenal tak ada yang menggunakan alat kontrasepsi untuk menunda kehamilan ketika masih menjadi pengantin baru. Rata-rata mereka baru mempertimbangkan untuk menggunakan alat kontrasepsi setelah memiliki anak. Macam-macam alasannya, ada yang untuk menjaga jarak kelahiran untuk memulihkan alat-alat reproduksinya. Dengan jeda waktu antara 2 sampai 4 tahun, diharapkan kondisi rahim siap untuk proses kehamilan berikutnya. 

Meski hamil dan melahirkan merupakan sesuatu yang kodrati, tapi juga merupakan kebutuhan agar organ reproduksi yang berhubungan dengan kehamilan dan persalinan butuh masa recovery pasca melahirkan. Alasan lainnya yang tak kalah urgentnya adalah agar perhatian dan pendampingan terhadap sang buah hati cukup, ASI bisa full minimal 2 tahun, sang buah hati sudah siap untuk memiliki adik, dan sekian alasan lainnya terkait penggunaan alat kontrasepsi ini.  

Dari hasil investigasi dengan ruang lingkup terbatas dan korespanden kurang dari 25 pasutri, semuanya mengatakan bahwa baik secara spontan maupun hasil kesepakatan bersama, yang “maju” untuk menjadi subyek/pelaku/pengguna alat kontrasepsi adalah istri. Semacam ada kesan bahwa yang “wajib” menggunakan alat kontrasepsi adalah perempuan (istri). 

NOTED: penggunaan alat kontrasepsi adalah bagi orang-orang yang sudah menikah. 
Sengaja saya meng-underline tokoh pengguna alat kontrasepsi ini suami atau istri karena saya lebih setuju jika target pengguna alat-alat kontrasepsi adalah orang/pasangan yang (sudah) menikah. Kalau alat kontrasepsi dikampanyekan sebagai salah satu cara mencegah penularan/penyebaran HIV/AIDS, sangat mungkin akan ditafsirkan sebagai "lampau kuning" (atau bahkan lampu hijau?) terhadap hubungan suami istri yang tanpa atau diluar pernikahan.

Saya tidak akan membahas jenis-jenis alat kontrasepsi ataupun efek samping yang menguntungkan maupun yang  kurang sinergis dengan kesehatan bagi akseptornya. Saat ini juga sudah banyak tersedia pilihan kontrasepsi, mulai dari kondom, diafragma, IUD, Spermisida, hormonal, pil, tablet, suntikan, susuk, dll. Dari sekian banyak alat kontrasepsi yang di desain agar bisa menjadi pilihan untuk suami atau istri akan tetapi pada prakteknya yang masih menjadi aktor akseptor masih di dominasi oleh pihak istri. Padahal, rata-rata alat kontrasepsi yang tersedia bagi perempuan bersifat hormonal yang tidak sedikit fakta terjadinya efek terhadap kesehatan bagi si akseptor. Bahkan alat kontrasepsi yang jenisnya mekanik yaitu IUD pun kerap ditemukan efek samping keputihan atau bahkan bleeding. 
Jadi kenapa bukan pihak suami yang sukarela menggunakan alat kontrasepsi ya? Kenapa para suami itu baru mau (mau tak mau harus mau) karena tak ada alat kontrasepsi yang cocok untuk sang istri. Seharusnya, menjadi menggunakan alat kontrasepsi tak harus identik sebagai ranahnya perempaun kan? Boleh dong berharap, suatu saat ini para suami pun dengan sadar diri dan tanpa perlu menunggu hasil percobaan yang gagal saat menggunakan alat kontrasepsi pada sang istri.  

Setidaknya  kan ada dua jenis alat kontrasepsi yang cukup eligible untuk digunakan suami yaitu vasektomi dan kondom. Namun, dua jenis Alat Kontrasepsi bagi Pria ini masih lekat dengan persepsi-persepsi yang tidak seharusnya menjadi hal yang ditakutkan. 

Pertama, Vasektomi merupakan tindakan pengikatan atau pemutusan saluran sperma kanan dan kiri. Terkait dengan vasektomi ini, beberapa persepsi yang perlu dikoreksi adalah:
  • Vasektomi bukan tindakan kebiri atau kastrasi karena hanya vas deferens yang diikat, BUKAN testisnya.
  • Vasektomi tidak mengurangi libido.
  • Vasektomi tidak mengganggu fungsi seksual atau disfungsi ereksi.
  • Vasektomi tidak membuat akseptor menjadi lemah fungsi
Kedua, Kondom: efektif bila dipakai dengan baik dan benar, tidak mengganggu produksi ASI, Tidak mengganggu kesehatan akseptor, bisa mencegah ejakulasi dini, tidak mahal dan bisa di beli dengan mudah. Iya mirip dengan mudah serta murahnya saat moment harbolnas 2016 ini lho? 

Some how, terima kasih sudah berkenan membaca postingan yang sudah dua bulan mengusik ketenangan hidup saya *dramabanget*. 

Jadi, Kenapa Suami (masih) enggan menggunakan Alat Kontrasepsi? Dan masihkah anda berasumsi bahwa menggunakan alat kontrasepsi merupakan kewajiban istri atau hanya bisa dilakukan oleh istri?

Bahkan ketika pertanyaan tersebut saya kemukakan pada suami, responnya masih diplomatis dan berbau politis,” kan kita menikah belum punya anak. Dipikir nanti saja kalau sudah punya anak ya…”. 
Nah, bagaimana kalau menurut Anda?

13 comments: Leave Your Comments

  1. Masih belum mikirin KB karena masih pengen nambah anak. Mungkin nanti baru mikirin KB.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yoii Mbak, aku juga belum kepikiran menggunakan alat kontrasepsi. FOkus utk promil dulu

      Delete
  2. aku pakai KB suntik dan sempat ngeluh kenapa sih aku yang musti 'berkorban'. Kenapa sih ga suami aja yang disuntik? Hahahahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau ngomongi alat-alat KB, sekarang mmg belum berencana. Tp jika one day mau pakai, kayaknya suamiku deh yg kuminta maju duluan. hahahaha

      Delete
  3. ihik ... pria musti emansipasi juga ya masalah ini?

    ReplyDelete
  4. Hihi lucu juga ya mb klo dibalik gitu
    Klo di pihak kita wanita bisa bikin gemuk emang, coba klo di pihak cowok ada yg bikin gemuk ga ya hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak hanya bkin gemuk Mbak, tapi efek lainnya juga ada. Secara kalau KB yg diminum/konsumsi kan hormon. Temanku yg menyadari bahwa dia carier kanker krn ibunya meninggal karena sakit kanker, tegas menyatakan tak akan menggunakan KB yg sifatnya mengandung hormon. Hormon yg digunakan tentunya kan senyawa kimia (buatan), jika melarut dalam darah (tubuh), bukan tak mungkin bisa muncul efek samping yang bisa mengungkit sel kanker. Demikian (kurang lebih) analisa logika dari temanku tersebut

      Delete
  5. boleh juga gitu di balik... biar anti mainstream hehe :))

    ReplyDelete
  6. Kalo istri saya masih mau nambah anak sebanyak-banyaknya, biar rezeki ngalir..

    ReplyDelete
  7. Rasanya sebagai seorang yang belum nikah aku belum terlalu mikir ke situ, mba. Tapi makasih udah membuka wawasanku tentang per-KB-an hehe.

    Setuju banget sama statement mba Ririe soal kondom, harusnya kondom disosialisasikan sebagai alat kontrasepsi utk pria, bukan sebagai alat pencegah penularan HIV/AIDS, karena ini sangat multitafsir. (dan yang aku liat ada peran produsen kondom di kampanye yang mengarah ke sini)

    ReplyDelete
  8. Aku gak pernah sampe mikir kesitu, tapi gara2 baca ini jadi mikir, tp dikit doang..hh

    ReplyDelete
  9. Sangat lucu Mbk artikelnya,,,
    boleh ini saya share

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.