WHAT'S NEW?
Loading...

IndiHome: Teknologi Fiber Optik untuk Internet yang Home Sweet Home

Saat mendengar kegencaran sounding tentang IndiHome, saya pikir Telkom melaunching layanan jenis baru selain Speedy. Dan  Bismillahirrahmaanirrahiim, kerancuan persepsi tersebut kemudian terjawab dengan gamblang saat acara Meet Up Telkom #WeLoveIndiHome bersama Blogger Yogyakarta dan sekitarnya pada tanggal 18 Mei di Tickles Café & Resto, Jalan Kenari No. 4 Sleman, DIY. Dengan diantar suami plus Azka, sempat mengalami sedikit ketersesatan karena muter-muter di Gejayan dan tak kunjung menemukan si Olifant yang jadi ancer-ancer menuju Tickles.  Tapi Alhamdulillah banget akhirnya  sampai juga di tempat sebelum acara dimulai. 

Acara Meet Up berlangsung gayeng, santai dan akrab dengan performance pertama diisi  ulasan singkat mengenai kehadiran IndiHome fiber yang disampaikan oleh Pak Edi Kurniawan, Senior managernya Telkom. Layanan IndiHome  memang di set up untuk menggantikan  si Speedy. Secara jangka panjang diharapkan para pelanggan  Speedy akan dialihkan ke layanan baru IndiHome yang 100% menggunakan serat optik (Fiber) yang siap memanjakan pelanggannya dengan kecepatan hingga 100 Mbps dan PERTAMA Di INDONESIA!
layanan internet dan telekomunikasi dari Telkom
IndiHome: Teknologi Fiber untuk Internet yang Home Sweet Home
Apalagi IndiHome ini menyediakan tiga layanan telekomunikasi yang dikenal dengan Triple Play, yaitu: telepon rumah, Internet on Fiber (High Speed Internet) dan televisi berlangganan berbasis Internet Protocol Television (IPTV). Dan sejak dilaunching pada Bulan Januari 2015 ini, pelanggan IndiHome sudah berjumlah 350.000 lho brother and sister?  Telkomsel menargetkan jumlah pelanggan IndiHome menjadi 3 juta pada akhir 2015 ini dan seluruh sistem kabel telah memakai serat optik semua.  

Langkah REVOLUSI besar-besaran yang dilakukan oleh Telkom adalah memberikan layanan internet berkecepatan tinggi menggunakan FIBER optik yang memiliki LEBIH banyak keunggulan bila dibandingkan dengan cooper atau coax (tembaga):
  • LEBIH CEPAT ( High Speed). Fiber optik mampu mentransfer data (bandwith) hingga 100 Mbps (jauh lebih cepat dibandingkan kabel coax atau cooper)
  • LEBIH STABIL. Kecepatan fiber optik jauh lebih stabil dibandingkan coax atau cooper pada saat dilakukan sharing (akses internet secara bersamaan).
  • LEBIH HANDAL. Fiber optik lebih tahan dalam kondisi cuaca apapun seperti serangan petir dan gangguan elektromagnetik dibandingkan kabel coax atau cooper, sehingga komputer akan jadi lebih aman.
  • LEBIH CANGGIHFiber optik merupakan teknologi penghantar data tercanggih dan terbaru yang digunakan dalam layanan fixed broadbandinternet secara sehat
Jika sekitar satu dasa warsa lalu, (mungkin) sektor non pemerintah yang dominan memanfaatkan layanan internet untuk mendukung kinerja. Tapi saat ini, semua aktifitas penyelenggaraan pemerintahan sudah bertransformasi dan berbasis internet sampai ke tingkat pemerintahan desa. On line system yang di desain pun mengacu pada pola yang terintegrasi. Artinya, penggunaan jaringan internet semakin meningkat FANTASTIS baik dari segi jumlah maupun tuntutan kualitas layanannya yang paripurna.  

Penggunaan internet pada sebagian besar orang merupakan sarana utama untuk bekerja dan atau menghasilkan uang tanpa harus meninggalkan rumah. Tidak hanya kaum perempuan yang jumlahnya meningkat drastis dalam mengakses internet untuk bereksistensi dan dalam rangka “Bekerja dari rumah”, trend ngantor tidak harus di kantor pun saat ini semakin banyak diminati oleh kaum Pria lho? Kalau bisa bekerja dengan serius tapi santai dan menikmati  suasana nyaman Home Sweet Home: dimanapun dan kapanpun, BISA bekerja secara On line system, WHY NOT kan?

Apalagi Telkom terus berinovasi dengan melakukan lompatan teknologi dari layanan TRIPLE PLAY menjadi Quadraple Play (layanan Triple Play ditambah layanan nirkabel/WiFi. Dan saat ini Telkom bersiap untuk mengembangkan layanan IndiHomenya menjadi Octuple Play, yaitu delapan layanan dalam satu paket untuk mendukung perkembangan gaya hidup dan kebutuhan pelanggan. Jadi setelah dikembangkan menjadi generasi Octuple Play, maka dalam satu paket IndiHome akan meliputi 8 (delapan) jenis layanan yaitu:
  1. Pertama: Akses Internet Kecepatan tinggi. Dengan adanya dukungan jaringan fiber optik yang mampu menghadirkan layanan akses internet yang High Speed dalam mentransfer data/informasi mulai dari 10 Mbps s/d 100 Mbps. Maka apapun aktifitas kita saat berinternetan, dengan menggunakan IndoHome dijamin bebas kemacetan loading lambat alias lancar jaya wuz….wuz..wuuuzzzz…
  2. Usee TV Kabel. Dengan IndiHome ini sekaligus menobatkan Telkom sebagai penyedia layanan TV interaktif pertama yang menggunakan teknologi IPTV sehingga memberikan kenyamanan bagi pelanggannya dalam menikmati berbagai fitur canggih yang interaktif. Tersedia 99 channel favorit yang terdiri dari: Channel local sekitar 18 siaran televisi di Indonesia, 6 Channel  siaran bermuatan ilmu pengentahuan (National Geographic, History, fyi, Nat Geo Wild, English Club, Crime & Investigation Network), 8 Channel Lifestyle, 4 channel music, 9 channel hiburan umum (General Entertainment), TV Series terdiri dari 8 channel, 15 Channel film yang siap menemani saat-saat bersantai, 9 channel olah raga (Sport), dan 13 channel Berita (News)  serta yang tidak kalah penting adalah ketersediaan channel untuk anak-anak sebanyak 9 channel. Channel yang super dahsyat tersebut, masih dilengkapi pula dengan Fitur-fitur Useetv cable seperti fitur TV On Demand, Video On Demand, Video Recorder,  Karaoke, Pause & Rewind, dan Music. Betapa IndiHome membuat suasana menjadi Home Sweet Home kan ?
  3. Telepon Rumah.  Dengan menjadi pelanggan IndiHome, benefit yang tak kalah serunya adalah kita bisa lebih meminimalkan pengeluaran untuk telepon karena dalam paket IndiHome juga memberikan bonus berupa kuota 1000 menit per bulan yang bisa digunakan  untuk telepon lokal, interlokal maupun internasional. So Sweet…..bebas bertelepon ria tanpa gangguan roaming secara gratis tis tis.
  4. Nirkabel Seluler. Berlangganan IndiHome melalui 147/ Plasa Telkom/ website Telkom, otomatis pula mendapatkan Benefit dari IndiHOme Telkomsel Mania (pada masa promo) yaitu bisa menelepon secara unlimited dari nomor rumah ke nomor Telkomsel sepuasnya dengan harga paket hanya Rp. 68.000,- per bulan. Cakupannya juga terluas, dapat digunakan dari seluruh kota/kabupaten di Seluruh Indonesia yang telah di layani IndiHome. 
  5. Digital Music
    Semua pelanggan IndiHome berhak mendapatkan layanan bebas streaming musik selama 12 bulan yang disediakan melon.co.id. Bagi pelanggan yang berminat,  tersedia pilihan bebas download koleksi lebih dari 10 juta lagu secara add on.  Dan tersedia juga fasilitas gratis antivirus Trend Micro selama tiga bulan sehingga komputer/device kita akan terlindung dari serangan virus, malware, spyware, spam, phising dan konten yang tidak layak lainnya dari internet sehingga data dan sistem aplikasi terlindungi dari gangguan-gangguan tersebut.
  6. Global Call
    Paket layanan Global Call yang disediakan dalam IndiHome ini merupakan value tambahan bagi pelanggan lama (eksisting) maupun pelanggan baru yang ingin melakukan panggilan internasional melalui TelkomGlobal TG01017 dengan tarif yang bersahabat dan hemat. Untuk melakukan panggilan internasional, pelanggan bisa dial : 01017+kode negara+kode kota+nomor telepon tujuan. Dengan layanan Global Call ini memungkinkan pelanggan IndiHome melakukan telepon internasional secara praktis karena telepon melalui  cukup sekali registrasi melalui 147/plasa Telkom/web, ekonomis dan lebih irit,  mudah dan memiliki cakupan terluas dari seluruh Indonesia. 
  7. Home Automation adalah layanan yang dikembangkan untuk memberikan sistem otomatisasi rumah yang membuat rumah kita jadi lebih nyaman dan hemat dalam penggunaan energi listrik.  Salah satu bentuk layanan ini adalah surveilance camera yang berbasis koneksi internet sehingga bisa dimonitoring dari manapun dengan menggunakan aplikasi mobile.
  8. Akses Internet Wifi secara otomatis (seamless). Dengan menjadi pelanggan IndiHome, kita juga akan mendapatkan layanan wifi.id Seamless yang memungkinkan untuk selalu bisa terkoneksi dengan mudah dan murah melalui akses internet wifi ke jaringan @wifi.id di seluruh Indonesia secara otomatis cukup dengan Rp. 10.000 per bulan (non pelanggan IndiHome dikenakan biaya Rp. 50.000,-/bulan).  Kan saat ini Telkom sudah mempunyai lebih dari 100.000 access point yang tersebar di seantero Indonesia, jadinya tidak terlalu sulit untuk menemukan zona yang terjangkau jaringan @wifi.id ini.  Keuntungannya jaringan @wifi.id seamless adalah: 
  • Seamless atau autoconnect yaitu koneksi yang memudahkan pengguna terhubung secara otomatis di area yang terdapat fasilitas @wifi.id dan cukup sekali entry username dan password selama berlangganan.
  • Gratis pemakaian selama 1 bulan pertama berlangganan,  untuk selanjutnya cukup bayar Rp.10.000,-/ bulan per device untuk akses internet broadband hingga 10 Mbps via @wifi.id. 
  • Kuota pemakaiannya  tidak terbatas (unlimited)
  • Cara pembayaran praktis, yaitu tagihan sudah termasuk dalam rekening tagihan bulanan IndiHome. 
  • Multi Device, dimana satu username dan password bisa digunakan untuk 4 device yang berbeda: Android, Iphone, Ipad, Notebook, dan lain-lain.
INOVASI yang dilakukan PT. Telkom tersebut tentu merupakan angin surga bagi pengguna jasa layanan internet sekaligus menjawab  KEBUTUHAN AKAN INTERNET saat ini dan masa-masa selanjutnya. Internet sudah menjadi Kebutuhan PRIMER dan bukan sekedar life style.  Internet sudah menjadi “barang non fisik” yang dibutuhkan oleh (hampir) semua lapisan masayarakat di permukaan bumi ini,  mulai dari rumah, pasar, kantor, lembaga pendidikan (sekolah), ormas, parpol, semua instansi pemerintah, organisasi nirlaba dan bahkan sebelum  masuk sekolah pun anak-anak kecil saat ini sudah mulai akrab menggunakan internet, at least untuk game di gadget. 

sounding indihome yang homy
Meet UP #WeLoveIndiHome @Tickle Cafe&Resto
Dari Meet Up Blogger Yogya bersama Telkom, saya bisa menyebut kalau Indihome: Teknologi Fiber Optik untuk Internet yang Home Sweet Home. IndiHome menwarkan paket Triple Play yang kemudian dikembangkan menjadi Octuple Play. Maka IndiHome merupakan SOLUSI HEBAT satu langkah karena dengan paket Octuple, kebutuhan Non Fisik secara simultan terpenuhi. Sebagai contoh terdekat adalah diri saya sekeluarga. Ifa sebentar lagi masuk SMA, Aida duduk kelas 2 SMP, Azka yang kelas 5 SD, dan kami (orang tuanya), sama-sama memiliki kebutuhan NON FISIK: Internet, TV, Telepon dan hiburan (Berita) TAPI dengan tingkat yang berbeda-beda.

Makanya, setelah mengenal lebih dekat apa itu IndiHome, dalam perjalanan pulang saya langsung melakukan pra-persuasi pada suami.
“ Bii, kita itu sudah waktunya pasang jaringan internet di rumah lho?” 
Di rumah kami memang belum terpasang jaringan internet dan masih sebatas menggunakan koneksi mobile. Kalau perlu browsing atau download, ya ke warnet atau nebeng di jaringan internet kantor suami kalau tidak terkait dengan urusan kerjaan saya. Betapa tidak efektif dan tidak efisien kan ya?
“ Kok ujug-ujug pengen pasang internet di rumah sih Nda?. Bukankah sebelum ini, Dinda yang keukeuh tidak ingin pasang internet dulu dengan alasan agar anak-anak tidak tersesat dalam dunia digital karena browsing semau-maunya?” 
“ Ya iya sih, tapi itu kan dulu. Sekarang sudah ada paket IndiHome yang memiliki Octuple Play, dan menurut analisa kebutuhan, kenyamanan, keamanan dan asas hematisasi, suitable deh buat keluarga kita”, ceilaaa….kalimat-kalimat saya kok bernada marketing banget ya?
Octuple? kok mirip nama ilmiahnya Gurita: Octopus kan ya….lucu banget, hehehe…” walah kenapa si Abii malah nglantur ke Gurita ya? 
“ Ya memang ada kemiripannya kok Bii “, respon saya dengan cepat. “ Gurita kan kakinya banyak, mungkin karena itu diberi nama Octopus. Nah Paket Internet IndiHome ini juga memiliki banyak layanan dalam satu paket. Cukup bayar satu paket Internet Indihome, kita bisa mendapatkan 8 layanan super special lho Bii?”
“ Delapan jenis layanan apa saja itu? Wong biasanya provider-provider itu kan hanya nawarin jasa internet atau TV kabel saja”
“ Pastinya IndiHome memiliki akses Internet Kecepatan tinggi mulai dari 10 Mbps sampai dengan 100 Mbps karena sudah menggunakan fiber optik, Usee TV, Telepon Rumah, Nirkabel Seluler, Akses Internet Wifi secara otomatis (seamless). Dengan menjadi pelanggan IndiHome, kita juga akan mendapatkan layanan wifi.id Seamless yang memungkinkan untuk selalu bisa terkoneksi dengan mudah dan murah melalui akses internet wifi ke jaringan @wifi.id di seluruh Indonesia secara otomatis cukup dengan Rp. 10.000 per bulan. Terus ada layanan Digital Music dari melon.co.id yang memiliki koleksi lagi lebih dari 10 juta dan kita bebas streaming musik selama 12 bulan. Kemudia layanan Global Call yaitu paket layanan telepon ke luar negeri dengan biaya yang super irit dan Home Automation “ papar saya mencuplik seringkas mungkin  dari materi yang diberikan oleh panitian Meet Up Blogger – Telkom. 
Dan sesampai di rumah, saya langsung memberikan Leaflet IndiHome ke Abi, biar lebih jelas mengetahui seperti detail dan seberapa dahsyatnya paket Octuple Play yang ditawarkan IndiHome itu. Soalnya kalau dijelaskan semuanya, takutnya bibir saya berubah sexy seperti bibir Angelina Jolie tuh. Heheheehe..
internet untuk keluarga
memilih paket internet hemat
“Paket termurah Indihome Fiber yang berkecepatan 10 Mbps hanya mengenakan tarif Rp 290.000,- per bulan. Untuk paket 20 Mbps hanya membayar Rp. 540.000,- per bulan dan sudah include semua bonus-bonusnya ini ?!”
“ Tuh kan, menarik hati dan bikin langsung jatuh cinta ya Bii?”
“ Jika dibandingkan dengan tarif telepon dan internet kantor Abii, so pasti tarif yang ditawarkan IndiHome ini cethar membahana. Lha wong, tiap bulan bayar internet dan telepon 500 ribu – 750 ribu tidak ada layanan TV kabelnya, tidak ada kuota gratis telpon juga…”
“ Jadiiii….Abi setuju dong jika kita berlangganan IndiHome?  Mumpung masih ada promo gratis IndiHome Movie Card (IMC) bagi pelanggan baru senilai Rp.150.000. IMCnya bisa untuk nonton film secara gratis di Cinema 21, Cinema XXI dan The Premiere tanpa perlu mengantri lagi karena sudah disediakan jalur khusus, . Kartu IMC juga bisa diisi ulang dan dapat cek saldo, serta bisa digunakan untuk membeli makanan dan minuman di XXI café dan 21 café.  Masih ada bonus tambahan lagi jika kita mendaftarnya via Blanja.com, dapat voucher belanja Rp.50.000,- untuk seluruh produk di Blanja.com “.
“ Haiiisshhhh, meyakinkan nian neh diplomasinya agar Abii menyetujui daftar IndiHome…” Ampyuuuun….kenapa Abii jadi niru logatnya Dang Rajo Langit sih? Bikin gemes saja…
“ Ya iyalah Abii, secara kalkulasi Emak-emak …sudah jelas kalau IndiHome itu iriiiitttt pakai rem cakram depan – belakang kok. Semisal kalau kita ambil paket yang 10 Mbps saja, setiap bulan hanya bayar langganan 290 ribu ditambah sewa Set Top Box dan Optical Network Terminal) 30 ribu saja.  Sudah kelihatan kan berapa besar penghematan yang bisa kita lakukan kalau pasang telepon rumah, internet dan TV kabel secara terpisah-pisah, dan tidak ada jaminan akan ketahanannya dari gangguan gelombang elektromagnetik dan serangan petir”
Once more question, bagaimana kontrol pemakaian bagi anak-anak? Akses internet yang bebas hambatan dan adanya TV kabel di rumah, bagaimana kalau anak-anak kesasar ke content yang tidak sehat?”
“ Kalau soal situs-situs yang gak jelas akuntabilitasnya, kan kita bisa minta Home Router seperti Mikrotik HaP atau lainnya, yang compatible  untuk membuat filter dalam mengakses internet, mengatur bandwidth yang digunakan dan pengaturan lainnya agar menu yang abu-abu hingga ke dark content di blokir. Kalau soal TV kabelnya, kan UseeTV dilengkapi fitur-fitur unggulan seperti TV & Video On Demand yang memberikan kita kekuasaan untuk memilih tontonan yang layak dilihat sesuai dengan kebutuhan anak-anak. Terutama Azka yang setiap pulang sekolah di rumah sendirian, sedangkan acara TV yang ada kebanyakan sinetron dan iklan yang secara logika jelas-jelas tidak masuk logika. Pause & Rewind juga ada, serta video recorder yang memungkinkan kita membuat stockist film-film untuk di tonton bareng-bareng sebagai sarana Family Time at Home Sweet Home.“
paket internet all in one
#WeLoveIndiHome: My Internet, My Phone, My TV
 “Bener banget, Azka butuh channel yang spesifik untuk usianya yang masih 10 tahun. Apalagi sekarang PSSI kena sanksi FIFA, tidak ada lagi acara sepak bola yang sangat digandrunginya. Ini kan bisa jadi ancaman BOM waktu buat Azka yang biasanya mantengin acara sepak bola tapi sekarang tidak ada sama sekali. “
“ So….kapan Abi mendaftarkan diri berlangganan IndiHome neh?”
“ Sabar sak untoro (sebentar) Nda, Abii urus migrasi speedy di kantor ke IndiHome dulu ya? “  
Astagfirullah, jadiiii…internet di kantor Abi juga masih speedy?”
“ Lha kan baru tahu kalau Speedy akan digantikan secara total oleh layanan IndiHome yank..? Setelah itu, baru deh daftarin IndiHome buat di rumah, taapiii…sepertinya sekalian nanti jika sudah pindah rumah deh “ speechless saya *be good wife: nurut*
 WeLoveIndiHome

Dengan Teknologi Fiber Optik untuk  Internet yang Home Sweet Home, IndiHome juga EKONOMIS dan ERGONOMIS bagi semua anggota keluarga.

All in One, istilah ini juga saya pikir tepat untuk disematkan pada IndiHome karena semua kebutuhan NON FISIK berupa internet, TV, Telepon dan derivatnya, ada dalam 1 ( satu) paket Octuple play Indihome. Semua keunggulan IndiHome yang one for all dan all in one package ini juga sinergis untuk keperluan kerja (semua sektor/jenis pekerjaan). Saat ini, jenis pekerjaan apa yang tidak menggunakan aplikasi berbasis Online?  berbagai jenis aktifitas sudah di On Line System, baik di sektor pemerintah, swasta, swasta, wirausaha, freelance, ormas, parpol, LSM, entrepreneurship dan sebagainya.

Kalau dengan SATU paket IndiHome sekaligus bisa mendapatkan layanan Telepon, TV, Hiburan dan Berita dengan performance yang handal, canggih, cerdas, qualified…kenapa harus ribet menggunakan langganan paket ini dan itu kan?

Sebagai sample (tidak random) nyata pengguna internet untuk kepentingan kerja, adalah diri saya sendiri. Bekerja di salah satu instansi pemerintahan di Sleman dimana sistem penyelenggaraan pemerintahannya sudah E-Government dan beberapa waktu lalu Sleman dinobatkan sebagai pemenang (The Champion) kategori E-Government dalam Indonesia Digital Society Award (IDSA).
Indonesia Digital Society Award atau IDSA merupakan penghargaan tahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dan didukung PT. Telkom dalam rangka pemercepatan digitalisasi di Indonesia dan peningkatan daya saing Kota dan Kabupaten sebagai Daerah Tingkat II Otonom di Indonesia di era globalisasi.  
Selain meraih E-Govermonet untuk skala Kabupaten, 3 kategori lainnya juga diperoleh Pemkab Sleman yaitu: The Champions Of E-Tourism, The Champions Of E-Education dan The Champions Of E-Health. Adapun kriteria penilaian dalam ajang bergensi IDSA ini didasarkan pada aspek: initiative, leadership, usership, dan benefit.

Lantas apa korelasi timbal balik antara paket Internet IndiHome  dengan ajang IDSA dan Internet untuk Aplikasi System Online perkantoran yang Home Sweet Home?

Kabupaten Sleman bisa terpilih sebagai the Champion dalam ajang penghargaan IDSA karena berbagai penyelenggaran aktifitas pekerjaan menggunakan aplikasi system on line yang terintegrasi secara lintas sektoral. Aplikasi System Online yang diterapkan diberbagai lini pemerintahan, pastinya membutuhkan akses internet yang bisa di handalkan dan IndiHome dengan Fiber Optiknya memberikan solusi tersebut.  Bisa dibayangkan jika akses internet nyendat-nyendat, tidak hanya memperlambat penyelesaian pekerjaan tapi juga merusak konsentrasi dan bikin stress. Apalagi jika suatu jenis pekerjaan harus real on time, akses internet kecepatan tinggi adalah harga mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
smart regency
Dari sisi pegawai, Tak hanya compatible untuk kelancaran proses pekerjaan, tapi juga membuat user (pegawai) merasa nyaman SERASA berada di rumah. Bisa menyelesaikan pekerjaan dengan beres, hiburan terpenuhi, informasi juga lancar dan komunikasi tanpa kendala. Karena ketika bekerja, kita juga membutuhkan adanya hiburan dan up grade informasi terkini. Saya sendiri, biasanya saat bekerja memang sambil mendengarkan musik atau film atau berita.

Merasa aneh ya, kok film dan berita di dengarkan sey?
Iya, saya memang lebih bisa fokus bekerja ketika ada yang bisa saya dengarkan. Dan biasanya, selain mendengarkan lagu/musik, saya juga suka mendengarkan film atau berita. Untuk mendengarkan lagu, saya perlu memiliki koleksi lagu yang variatif dan banyak agar tidak bosan karena koleksi lagu yang stagnan. Sementara itu, untuk mendengarkan film atau berita…pastinya via streaming deh. Dan sepengamatan saya, kebiasaan serupa yang saya lakukan, juga dilakukan oleh beberapa teman kerja, sambil bekerja mendengarkan “sesuatu” dari device/PC/notebook yang ada di depannya.

Nah, Bukankah dengan hadirnya IndiHome bisa memenuhi diversifikasi kebutuhan tersebut dalam satu pilihan: All In One package IndiHome dengan Teknologi Fiber Optik untuk Internet yang Home Sweet Home bagi semua keluarga, kebutuhan perkantoran/pekerjaan dan berbagai aktifitas lainnya.
Dalam hidup ini diperlukan kesimbangan: sesudah sibuk bekerja, perlu kegiatan yang berbeda sebagai penyeimbang. Di sekolah, waktu istirahat digunakan bermain, melepas ketegangan dan di rumah selain belajar, juga perlu relaksasi/hiburan yang edukatif. Bagi yang bekerja, selepas juga membutuhkan semacam selingan atau intermezzo untuk keluar dari kejenuhan rutinitas. Maka, IndiHome dengan Teknologi Fiber Optik untuk Internet yang Home Sweet Home merupakan salah satu sarana yang tepat untuk penyeimbang kehidupan
Masih kuatir dengan sistem service yang acak kadut? Respon customer yang kurang tanggap? Tanggapan komplain masalah jaringan yang ngaret? Atau kekuatiran lainnya karena layanan yang tidak tanggap ing sasmita?

Dengan semboyan WE HEAR YOU, IndiHome hadir dengan desain yang benar-benar all in one karena memberikan layanan yang paripurna mulai pendaftaran hingga penanganan komplain dan atau pengaduan pelanggan. Jika ada yang perlu disampaikan (saran/kritik/pertanyaan), keluhan, komplain, gangguan jaringan dsb, cukup tekan nomor 147 atau langsung datang ke Telkom Plasa terdekat. Untuk layanan interaktif di media sosial juga tersedia 24 jam di  Facebook Telkom Care dan @TelkomCare.  Dan untuk memudahkan pendaftaran berlangganan IndiHome, kita juga bisa menghubungi Telkom melalui 147, atau datang langsung ke Telkom Plasa, melalui akun medsos di Facebook Telkom Promo, @TelkomPromo atau website di www.indihome.co.id.

Jadi makin pengen IndiHome cepat hadir di rumah neh…
Bagi yang belum ber-IndiHome di rumah seperti saya, juga pengen kan segera berlangganan IndiHome?



Reference (Tulisan dan Foto):
1. Materi dari Meet Up Blogger Yogya dan Telkom, 18 Mei 2015 @ Tickle Cafe & Resto
2. Leaflet IndiHome 
3. Web indihome.co.id
4. www.idsa.co.id




 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 



Ada apa dengan Splash After Class?

Ada apa dengan Splash After Class? Pertanyaan yang spontan menyeruak dibenak saya ketika mendengar pemberitaan yang gencar mengenai perayaan kelulusan SMA yang bertajuk Splash after class dengan dress code bikini bagi siswi. Iya Bismillahirrahmaanirrahiim, memang sudah bukan hot news lagi saat saya memposting uneg-uneg karena pesta perayaan kelulusan yang semestinya digelar pada tanggal 25 April lalu gagal terselenggara karena menuai banyak protes dan tentangan. Padahal pesta serupa ternyata sudah pernah terselenggara dengan sukses di tahun sebelumnya? Mencuatnya model perayaan yang bergaya ala  Holywood (atau Melrose Place?) menjadi tamparan yang sangat keras bagi semua elemen dunia pendidikan: orang tua (lingkungan keluarga), lembaga pendidikan (sekolah), pemerintah dan masyarakat luas pada umumnya. 
Splash After Class lebih DAHSYAT hentakannya bagi saya, menyadari jika aktualitas dan implementasi diri menjadi orang tua (ibu) masih cethek ~ dangkal/abal-abal dan bisa dibilang I’m still learning to be A Mommy [and not better yet]
Fenomena perayaan kelulusan sekolah secara over dan dosisnya FAKTAnya semakin meningkat ke level yang memprihatinkan dari tahun ke tahun. Kalau di masa saya sekolah, aksi perayaan kelulusan diekspresikan dengan mencorat-coret seragam sekolah dan seiring berjalannya waktu model perayaan kelulusan pun semakin mengheboh (kalau tidak bisa disebut menggila). Splash after class bisa jadi hanya salah satu model perayaan kelulusan yang extrem dan menjauh dari koridor budaya, kesopanan, susila dan moral. 

Sebagai orang tua (juga pernah berada di usia anak-anak kita sekarang), sebenarnya saya juga gemas. Bagaimana bisa mereka begitu berani menandai kelulusan dengan cara-cara yang tidak masuk akal sehat seperti itu? Lha kan baru lulus SMA, perjalanan berikutnya masih panjang dan membutuhkan banyak energi dan persiapan. Tapi kok ya bisa tercetus pemikiran merayakan kelulusan secara all out, seolah inilah moment puncak ujian hidup yang baru saja bisa dilaluinya dan patut dirayakan dengan pesta yang naudzubillah: berpakaian bikini ditemani hingar bingar musik dan minuman keras? 

Relevansi yang bisa saya tarik dari fenomena tersebut adalah Sistem pendidikan masih menjadi momok dan masa menjalani pendidikan di bangku sekolah di anggap sebagai penjara.  Sehingga begitu UN dilalui, seperti mendapatkan moment yang tepat untuk merayakan kesuksesan keluar dari tembok “penjara” bangku sekolah. Fakta bahwa dunia pendidikan di negara kita masih fokus memborbardir murid-muridnya dengan bejibun ujian:  ulangan harian, ulangan dadakan (short quiz), UTS, ulangan umum, ujian kenaikan kelas, dan ujian nasional menjadi sumber antipati yang menggunung bagi siswa. Belum lagi setumpuk PR yang dibebankan ke siswa setiap harinya yang konon katanya demi mendidik anak agar rajin belajar dan disiplin. Rutinitas yang demikian berlangsung sepanjang 220 hari efektif bersekolah setiap tahunnya. Siswa dicekoki dengan  PR pelajaran ini, itu dan serangkaian ritual tes/ujian dengan labeling yang berbeda-beda. 


Bayangkan, betapa  kompleksnya stress yang harus dikelola oleh siswa in every single day they have? Belum lagi metode yang digunakan dalam membuat proses belajar-mengajar yang menyenangkan (learning is fun) juga masih jauh dari impian. Masih banyak guru mengajar secara satu arah dengan metode ceramah yang amat dominan dan mendoktrin. Alih-alih anak terbentuk menjadi pribadi yang tangguh paripurna, yang terjadi adalah akumulasi antipati terhadap sekolah dan membentuk opini betapa bersekolah menjadi belenggu kemerdekaan. Sehingga saat kelulusan tiba, mereka amat sangat merasa layak untuk merayakan dengan acara yang spektakuler. 

Dan jika kemudian mereka memilih cara merayakan “kemerdekaan” dari belenggu rutinitas bersekolah secara extrem,  kalau dicermati secara rasional tentunya tidak serta merta ide “liar” tersebut tercetus begitu saja di benak anak-anak. 

Setiap anak dilahirkan atas dasar fitrah “Bening” atau murni seperti sifat air yang netral. Seandainya seorang anak dibiarkan di atas fitrahnya, tentulah dia akan mendapat hidayah menuju kebaikan dan kebenaran. Akan tetapi ketika datang erosi dari sekitarnya maka berubahlah anak tersebut. Bahwa anak itu dilahirkan dalam keadaan lebih bening dari pada air, lebih putih dari susu, tetapi kemudian kita dapati dari anak – anak tersebut muncul kedustaan yang tadinya dia tidak pernah berdusta, muncul sifat egoisme yang tadinya juga tidak demikian dan berperilaku menyimpang lainnya. Dan tidaklah semua ini terjadi kecuali muncul dari sebab – sebab yang datang dari luar. Keluarga, Sekolah dan lingkungan sosial ( media massa, media on air/on line, media sosial, pergaulan) merupakan variable external yang memiliki kontribusi significant terhadap tumbuh kembang anak-anak.

Bila Anak diumpamakan seperti air yang murni, maka zat yang memiliki sifat dasar murni ini akan berasa pahit, manis, asam; bagaimana air akan berbentuk sesuai model wadah seperti mangkok, gelas piala atau melebar tanpa bentuk; serta akan kemana arah aliran air, maka ketiga main stream di atas [ keluarga, sekolah dan lingkungan sosial] yang pastinya saling terkait dan saling melengkapi dalam proporsinya masing-masing berkontribusi secara linkage dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak. 

Sebuah pertanyaan sederhana bagi orang tua [amatir] seperti saya, sudahkan kita memberikan iklim pendidikan di rumah yang konstruktif bagi anak untuk melalui proses demi proses perkembangan hidup menuju bahagia dengan tidak menjadi sosok yang individualis serta eling marang ingkang Maha Dumadi?. Tiap generasi dibangun di atas generasi sebelumnya. Idealnya generasi sebelumnya (orang tua) harusnya berusaha memperbaiki hal-hal vital yang terkait dengan pendidikan agar lebih konstruktif bagi anak sebagai agent perubahan selanjutnya. Bapak dan ibuk, tentu punya peran penting yang proporsional dalam kapasitas dan posisinya masing-masing. Bahwa Kontribusi terbesar pembentukan karakter anak dari lingkungan keluarga yaitu orang tua-lah yang memegang peran strategis dalam mempersiapkan pondasi dasar karakter anak.

Gaya party yang hedonis, tak hanya output dari gerusan trend life style western yang di anggap sebagai mega trend dan recommended untuk diikuti, juga tak bisa dipungkiri diakibatkan oleh kebiasaan orang-orang terdekat mereka yang sering dilihat sehari-hari. Satu contoh sederhana: berapa banyak orang tua yang menganggap ‘lumrah’ keluar dari kamar mandi hanya dengan memakai handuk? Alibinya: kan di dalam rumah yang isinya adalah anggota keluarga sendiri. Padahal setiap anak memiliki keinginan untuk meniru, menduplikat dan memodifikasi segala apa yang dilihat dan di dengarnya. Jangan heran jika anak-anak memberikan unjuk modifikasi di level yang lebih tinggi. Mereka menganggap, sesama populasi teman SMA, jadi wajar kan jika sama-sama berbikini, toh di ruang tertutup dan terbatas pada para undangan. Konteks peribahasa Bapak kencing berdiri, maka anak akan kencing dengan berlari, adalah salah satu yang patut membuat kita untuk mawas diri. 

Mencuatnya ceremonial Splash After Class, selain menjadi CERMIN INTROSPEKSI bagi para orang tua (lingkungan keluarga), juga merupakan cambukan telak bagi dunia pendidikan dan semua yang terkait dengan penyelenggaraan proses belajar mengajar. Sudah tidak dapat ditunda-tunda untuk membuat pembaharuan yang holistic. Re-engineering terhadap ruh pendidikan dimana metode pembelajaran yang mampu memberikan rasa nyaman dan menyenangkan karena sejatinya learning is fun dan agama semakin diperlukan untuk menghadapi perubahan-perubahan paradigma, pola pikir dan pola pergaulan yang kian lebar daya permisifnya. 
Apapun rumus yang digunakan untuk menganalisis perubahan zaman dari indikator kemajuan teknologi, yang pasti adalah dewasa ini sedang berlangsung perubahan-perubahan besar yang serius dalam peradaban manusia. 
Pergeseran-pergeseran yang seolah terjadi secara magic. Banyak perubahan gaya dan perilaku hidup yang tak bisa diukur dengan segala kaidah rasional yang dipengaruhi oleh konten-konten tontonan yang semakin menjauh dari role model budaya kita yang mengutamakan susila, beradab dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan. Yang jelas informasi agama semakin diperlukan untuk menghadapi perubahan-perubahan paradigma, pola pikir dan pola pergaulan yang kian lebar daya permisifnya. Karena agama adalah urusan sosial, urusan kebudayaan, urusan peradaban. 

Agama memberi tuntutan bagaimana bergaul dengan alam, dengan orang lain, dengna jin, malaikat dan Tuhan. Agama memberi pedoman bagaimana mengonsep sejarah dan kehidupan. Peristiwa splash after class sepenuhnya masalah moral, perilaku menyimpang, urusan sosial dan dengan tegas agama apapun melarang perbuatan merayakan sesautu dengan cara-cara yang diluar tatanan etika. Perayaan dan moment apapun yang memiliki Stereotipe seperti Splash after class, bukan lagi urusan pribadi, bukan lagi hak asasi.  Tapi lebih dari sekadar dimensi hak asasi dan kebebasan. Itu adalah persoalan konsep, batas dan strategi kebudayaan manusia.

Ikut menghirup nafas Hari Kebangitan Nasional, saya kutip wejangan Bapak Pendidikan  Ki Hajar Dewantara: 
Pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya.
"Pinjem" Tempelan Stick NOTE di kamar Aida
Maka melalui tulisan sederhana ini, saya selipkan harapan, peran aktif media massa, media syiaran ( televisi dan radio) dan media-media massa lainnya dalam menyajikan menu-menu yang edukatif dan sehat. Khususnya untuk media televisi, penting untuk dipertimbangkan jika tidak cukup hanya membuat blur gambar-gambar yang menampilkan obyek dengan busana minimalis, adegan merokok, scene kekerasan dan part lainnya yang setipe. Karena sesungguhnya menge-blur-kan gambar/konten yang “minim” nilai susila tersebut justru memantik rasa penasaran dan perhatian yang lebih intens bagi anak-anak. Mengingat, saat ini screening terhadap content media semakin longgar, padahal efek melihat yang walaupun secara sadar mereka tahu tidak baik, tapi perlu dipahami bahwa apa yang kita lihat dan dengar secara berulang dan intens, maka secara perlahan akan memiliki sifat penetrasi pada pola pikir dan perilaku.

Ah, rasanya tulisan saya ini masih selapis tuuuiiiipiiiisss kulit ari mencuatnya Ada apa dengan Splash After Class?

Melukis Fajar

Untuk menambah doping I LOVE Monday Bismillahirrahmaanirrahiim ngeFIKSI dulu (tulisan lama yang ada di dalam Buku MOzaik Kinanthi). Harap maklum jika masih banyak salah tanda baca dan juga alur cerita/konfliknya yang "kasar" alias ujug-ujug antiklimaks
So here is the story... MELUKIS FAJAR

 “ Ada apa lagi dia kesini? Percuma, suruh dia pergi !”
 “ Pak, pelankan suaranya...didengar Bu Laraskan tidak sopan bicara kasar begitu ?”
            Aku berusaha tetap duduk dengan tenang dan tak terpengaruh dengan percakapan yang terjadi di balik dinding bambu. Nada amarah jelas di setiap kalimat yang di ucapkan oleh Pak Karman. Aku mengedarkan pandangan pada rumah sederhana yang serba berdinding bambu dengan beberapa bagiannya ada yang berlubang.
            “Maafkan suami saya, Bu Laras...” suara Bu Karman menghentikan kesendirianku di ruang tamu tersebut. “ Sebenarnya Kang Karmanorangnya baik, nanti saya akan coba membujuknya lagi agar mau mengijinkan Dinar sekolah ”
            “ Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, Bu. Saya akan datang lagi dan semoga Pak Karman berkenan sedikit ngobrol dengan saya.Semoga tidak lama lagi Dinar bisa sekolah seperti anak-anak yang lainya ” pamitku sambil mengurai seulas senyuman.
            “ Sejujurnya saya juga sangat ingin Dinar bisa sekolah, agar tidak jadi perempuan bodoh seperti Emaknya ini ” ujar Bu Karman seolah meratapi keadaan dirinya.
            “ Saya akan berusaha maksimal agar Dinar bisa sekolah, semoga Pak Karman bisa membuka hatinya bahwa anak perempuan juga perlu untuk sekolah dan menjadi pandai ”
            Aku melangkah lesu meninggalkan rumah Pak Karman, salah satu rumah dari calon murid yang  aku perjuangkan agar diijinkan untuk sekolah. Dinar bukan satu-satunya yang tidak diijinkan sekolah oleh orang tuanya. Pergi sekolah merupakan hal baru dan asing di desa terpencil ini. Aku harus mendatangi satu persatu rumah warga yang memiliki anak usia wajib sekolah, berusaha meyakinkan para orang tua betapa pentingnya sekolah bagi anak-anak mereka.
                               
                                 *****
            Sejak beberapa menit lalukudekap pigura yang membingkai wajahku bersama mama, papa,Mas Arga dan Mas Ardo. Di kamar berukuran kecil dengan perlengkapan yang serba sederhana . Rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak membuat air mataku mengalir perlahan.
            “ Kamu yakin akan mengabdikan diri di daerah terpencil itu ?” sekali lagi mama mencoba meyakinkanku untuk mengurungkan niat. “ Apa kamu bisa bertahan hidup disana tanpa fasilitas dan aktifitas yang kamu miliki seperti di sini ?”
            Aku kembali teringat dengan kalimat-kalimat mama dan papa juga kedua kakakkuyang senada meragukan pilihanku untuk terjun sebagai Guru di Sukamade. Semua meragukanpilihanku untuk mengabdikan diri di daerah terpencil itu.
            “ Di sana kamu gak bisa safari mall lagi lhoh? ” ucap Mas Arga.
           “ Iya Nduk, jadi guru di Surabaya saja kan mengabdi juga namanya..” kali ini papa ikutan membujukku anak perempuan semata wayangnya. “Papa mengerti niat tulusmu untuk mengabdi, tapi pertimbangkan juga perasaan orang tua dan kakak-kakakmu ya?”
Perbincangan panjang malam itu di tutup dengan pelukan hangat dan keikhlasan menerima keputusanku yang tidak bisa lagi di belokkan.
            Aku menghela nafas panjang, seandainya mereka tahu alasan utama di balik keputusan nekad yang kuambil, kembaliteringatlembaran kenangandengan Ramon yang kandas tragis. Ramon yang backstreet lagi dengan mantan kekasihnya adalah kenyataan pahit yang tidak bisa aku toleransi.  Aku pilihan untuk memutuskan hubungan dengan Ramon meskibukan hal yang mudah tapi akan lebih tidak mudah lagi jika tidak segera mengambil tindakan tegas dengan mengakhiri hubungan secepatnya. Dan memutuskan untuk menerima tawaran dari sebuah LSMuntuk mengajar di daerah terpencil, berharap bisa menjadi pemercepatanmelupakan Ramon.  
            Melalui daun jendela kamar, taburan bintang di langit seolah tersenyum menatap dirinya. Angin malam berhembus semilir menyapa semesta kehidupan dengan belaian penuh kasih. Harmoni suara alam mengalunkan musik yang demikian merdu dalam keheningan malam yang tenang. Kembali terlintas wajah lugu Dinar, gadis berusia 8 tahun dengan manik-manik matanya yang bersinar saat ditawari untuk sekolah seperti beberapa teman seumurannya yang sudah lebih dulu mendapatkan ijin dari orang tuanya. Beberapa anak memang masuk sekolah tanpa rintangan, tapi sebagian besar butuh usaha diplomasi yang cukup alot.Apalagi untuk anak perempuan karena pola pikir rata-rata masyarakat di desa terpencil ini masih menganggap bahwa kodrat perempuan ya di rumah dan bekerja membantu suami ke sawah atau ladang.  
*****

Untuk  sampai di tempatku sekarang harus menempuh perjalanan darat yang sangat jauh ditambah medan yang sangat sulit untuk di lalui kendaraan biasa.Aku sempat tidak percaya bahwa di Pulau Jawa ini ternyata ada juga daerah terpencil begini,penerangan yang masih belum merata, pembangunan sarana dan prasarana umum yang masih sederhana, jarak sekolah yang luar biasa jauhnya dengan rute harus beberapa kali menyeberangi sungai!. Benar-benar kondisi yang tak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya.
            “ Beginilah Bu Laras keadaan di desa ini..” sambut Pak Kepala dusun saat 3 bulan lalu untuk pertama kalinya aku tiba tiba di daerah ini. “ Semoga Bu Laras betah dan sanggup bertahan menghadapi para warga yang rata-rata masih kolot”
            Awal-awalnya memang cukup tersiksa menjalani kehidupan yang kontras dari keseharianku di Surabaya yang serba ada. Tapi tekadku sudah bulat untuk bisa berbuat sesuatu bagi warga di daerah terpencil ini. Bukan lagi karena alasan untuk melupakan pengkhianatan Ramon, tapi dari lubuk hati terdalam aku ingin melihat Dinar-Dinar di desa ini bersinar dengan memiliki kesempatan belajar dan menjadi perempuan yang melek pendidikan.

*****
            Dengan memasang senyum ramah, aku mengetuk pintu dari bahan kayu pohon karet yang ada di depanku “Assalamu’alaikum
            Pandangan tidak ramah Pak Karman langsungmembuatku sedikit jengah dan canggung “ Ada apalagi Ibu datang ke sini ? Dinar tidak butuh sekolah !”
            “Wa’alaikumsalam, Bu Laras “wanita parobaya itu langsung menyalami Laras berusaha menetralkan sambutan suaminya yang tidak ramah. “ Mari silahkan duduk Bu..”
“ Maaf jika kedatangan saya tidak diharapkan oleh Pak Karman...” sebisa mungkin aku tetap tenang menghadapi sikap kasar Pak Karman. Toh itu bukan pertama kalinya aku menerima perlakuan tidak ramah dari warga di sini. Dengan kegigihan dan kesabaran, satu demi satu aku bisa melunakkan hati mereka agar mengijinkan anaknya bersekolah.
            “ Apa masih belum jelas kalimat saya, Dinar tdak butuh sekolah. Wong wedhok kuwi kodrate nang pawon, ora usah sekolah..!”
            “Anak-anak perlu belajar untuk mengurus dirinya sendiri dan menerapkan apa yang dipelajari hingga dewasa sehingga bermanfaat pada diri sendiri dan keluarganya. Jadi perempuan pun butuh untuk sekolah Pak..”
            ” Percuma Bu Laras bolak-balik ke sini untuk membujuk saya. Samin, Kang Tarno dan yang lainnya bisa Ibu bujuk tapi tidak untuk saya !”
            “ Lihatlah Dinar Pak..” aku mengarahkan pandangannya ke halaman rumah pada sosok mungil Dinar yang sedang memberi makan kambing dengan rumput yang dibawanya.“Apakah bapak tidak ingin melihat Dinar menjadi perempuan yang pandai? Jika anak bapak memiliki taraf hidup yang lebih baik, apa bapak tidak tidak ikut bahagia?”
            “ Dan apakah Bu Laras tidak melihat kami ini orang susah ? Mau bayar pakai apa sekolahnya Dinar? Jaman sekarang mana ada yang tidak butuh uang, hah?!”
            “ Saya jaminannya kalau Dinar tak perlu bayar apa-apa, Pak”
            “ Maaf Bu, maksud suami saya itu bukan hanya tidak punya uang untuk bayar sekolah tapi Dinar juga harus membantu kami bekerja di sawah ...” kali ini Bu Karman ikut bicara. “ Saya sebagai ibu juga ingin sekali mempunyai anak yang pinter seperti Bu Laras, tapi...”
            “ Beri saya waktu untuk memikirkannya Pak “ janjiku sebelum melangkah meninggalkan kediaman Pak Karmandengan kecamuk tanya di sudut hati. Namun aku tak akan menyerah begitu saja. Akubukanlah tipe orang yang suka untuk mundur atau menyerah pada keadaan.
                                  
                                 *****  
Menikmati hembusan angin pagi yang menyapu segenap pori-pori dengan gemirisik dedaunan dari pohon-pohon yang ada di sekitar pantai. Duduk di sebongkah batu di tepi pantai Sukamade dengan memejamkan mata, merasakan keajaiban nuansa pagi nan tenang, sangat tenang, tanpa bising dan kesibukan yang menyesakkan. Sungguh suasana romantis menyambut matahri terbit yang tiada bosan kunikmati setiap pagi. Dan ketika memandangi langit yang mulai merekah merah di ufuk timur, sungguh panorama eksotis yang tak pernah cukup untuk diuraikan dalam bait-bait syair. Kabut tipis melayang ringan dan menyelimutisekitarku terasa sejuk sampai ke tulang rusuk.
            “ Pagi Bu Laras...” sebuah sapaan menghentikan keasyikanku menikmati keelokan lukisan fajar di Pantai Sukamade 
“ Aku tidak menyangka justru kita akan bertemu kembali di sini. Hidup memang memberikan banyak hal yang tak tertebak, tapi aku suka dengan ketidak-keterbakan ini “ ujarnya lebih lanjut dengan intonasi yang membuatku berdesir, sangat indah mendengarnya.
“ Kamu...Syamara kan? “ tidak perlu waktu lama untuk mengenali sosok yang mengejutakanku barusan “kok kamu bisa ada di sini ? ”
           “ Saat Pak Dukuh bilang ada guru baru bernama Laras, sama sekali aku tidak mengira jika itu kamu lho?”Laki-laki itu tersenyum, menampakkan sederet gigi putih yang rapi. “ Setelah beberapa kali aku gagal untuk menemui sang guru baru tersebut dan akhirnya aku mendapatkan jawaban yang luar biasa pagi ini. Kamu di sini, di daerah terpencil ini? Meninggalkan gemerlap kehidupan kota? Rasanya tak bisa dipercaya deh...”
“ Hahaha...bisa saja kamu,” Pertemuan yang tidak terduga juga merupakan kejutan yang indah buatku. Setelah sepuluh tahun berpisah sejak lulus SMA, kini bertemu kembali dengan sosok laki-laki yang merupakan cinta pertama dan sekaligus cinta dalam hati karena tak berani menunjukkan pada Syam jika aku jatuh hati padanya. Setelah saling bercerita beberapa saat, akhirnya aku tahu jika Syam berada bertugas disini sudah setahun sebagai dokter.
“ Ku dengar kamu bisa meyakinkan warga untuk menyekolahkan anak-anaknya. Luar biasa sekali gebrakannmu, Ras” puji Syam bersungguh-sungguh. “ Beberapa guru yang datang ke sini tidak bertahan lama, tapi kamu dalam waktu 3 bulan bisa membuat perkembangan yang menakjubkan “
“ Belum sehebat itu Syam. Aku belum menemukan jalan untuk Dinar dan masih banyak yang lainnya “jawabku agak galau.
“ Aku akan membantumu, boleh kan?”
             “ Serius?” sahutku antusias dengan menatap lurus bola mata Syam yang ternyata masih membuat hatiku bergetar seperti 10 tahun yang lalu.
            Syam meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat “ kita akan lalui bersama-sama, Ras..”
            Sejurus aku terpana, tak tahu kalimat apa yang tepat untuk mengungkapkan kejutan yang membuncah indah di sanubari.      Aku hanya berharap merekabisa mendapatkan pendidikan yang memadai untuk bekal menjalani kehidupannya. Sehingga untuk ke depan, pilihan apapun yang diambil oleh seorang anak setelah menyelesaikan studinya bukan lagi suatu paksaan dari ‘harapan’ masyarakat semata “ dan Allah memberiku yang luar untuk melukis fajar buat anak-anak di desa ini bersama seseorang yang istimewa. 

                             *The End*


                                 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin