WHAT'S NEW?
Loading...

Melukis Fajar

Untuk menambah doping I LOVE Monday Bismillahirrahmaanirrahiim ngeFIKSI dulu (tulisan lama yang ada di dalam Buku MOzaik Kinanthi). Harap maklum jika masih banyak salah tanda baca dan juga alur cerita/konfliknya yang "kasar" alias ujug-ujug antiklimaks
So here is the story... MELUKIS FAJAR

 “ Ada apa lagi dia kesini? Percuma, suruh dia pergi !”
 “ Pak, pelankan suaranya...didengar Bu Laraskan tidak sopan bicara kasar begitu ?”
            Aku berusaha tetap duduk dengan tenang dan tak terpengaruh dengan percakapan yang terjadi di balik dinding bambu. Nada amarah jelas di setiap kalimat yang di ucapkan oleh Pak Karman. Aku mengedarkan pandangan pada rumah sederhana yang serba berdinding bambu dengan beberapa bagiannya ada yang berlubang.
            “Maafkan suami saya, Bu Laras...” suara Bu Karman menghentikan kesendirianku di ruang tamu tersebut. “ Sebenarnya Kang Karmanorangnya baik, nanti saya akan coba membujuknya lagi agar mau mengijinkan Dinar sekolah ”
            “ Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat, Bu. Saya akan datang lagi dan semoga Pak Karman berkenan sedikit ngobrol dengan saya.Semoga tidak lama lagi Dinar bisa sekolah seperti anak-anak yang lainya ” pamitku sambil mengurai seulas senyuman.
            “ Sejujurnya saya juga sangat ingin Dinar bisa sekolah, agar tidak jadi perempuan bodoh seperti Emaknya ini ” ujar Bu Karman seolah meratapi keadaan dirinya.
            “ Saya akan berusaha maksimal agar Dinar bisa sekolah, semoga Pak Karman bisa membuka hatinya bahwa anak perempuan juga perlu untuk sekolah dan menjadi pandai ”
            Aku melangkah lesu meninggalkan rumah Pak Karman, salah satu rumah dari calon murid yang  aku perjuangkan agar diijinkan untuk sekolah. Dinar bukan satu-satunya yang tidak diijinkan sekolah oleh orang tuanya. Pergi sekolah merupakan hal baru dan asing di desa terpencil ini. Aku harus mendatangi satu persatu rumah warga yang memiliki anak usia wajib sekolah, berusaha meyakinkan para orang tua betapa pentingnya sekolah bagi anak-anak mereka.
                               
                                 *****
            Sejak beberapa menit lalukudekap pigura yang membingkai wajahku bersama mama, papa,Mas Arga dan Mas Ardo. Di kamar berukuran kecil dengan perlengkapan yang serba sederhana . Rasa rindu yang tiba-tiba menyeruak membuat air mataku mengalir perlahan.
            “ Kamu yakin akan mengabdikan diri di daerah terpencil itu ?” sekali lagi mama mencoba meyakinkanku untuk mengurungkan niat. “ Apa kamu bisa bertahan hidup disana tanpa fasilitas dan aktifitas yang kamu miliki seperti di sini ?”
            Aku kembali teringat dengan kalimat-kalimat mama dan papa juga kedua kakakkuyang senada meragukan pilihanku untuk terjun sebagai Guru di Sukamade. Semua meragukanpilihanku untuk mengabdikan diri di daerah terpencil itu.
            “ Di sana kamu gak bisa safari mall lagi lhoh? ” ucap Mas Arga.
           “ Iya Nduk, jadi guru di Surabaya saja kan mengabdi juga namanya..” kali ini papa ikutan membujukku anak perempuan semata wayangnya. “Papa mengerti niat tulusmu untuk mengabdi, tapi pertimbangkan juga perasaan orang tua dan kakak-kakakmu ya?”
Perbincangan panjang malam itu di tutup dengan pelukan hangat dan keikhlasan menerima keputusanku yang tidak bisa lagi di belokkan.
            Aku menghela nafas panjang, seandainya mereka tahu alasan utama di balik keputusan nekad yang kuambil, kembaliteringatlembaran kenangandengan Ramon yang kandas tragis. Ramon yang backstreet lagi dengan mantan kekasihnya adalah kenyataan pahit yang tidak bisa aku toleransi.  Aku pilihan untuk memutuskan hubungan dengan Ramon meskibukan hal yang mudah tapi akan lebih tidak mudah lagi jika tidak segera mengambil tindakan tegas dengan mengakhiri hubungan secepatnya. Dan memutuskan untuk menerima tawaran dari sebuah LSMuntuk mengajar di daerah terpencil, berharap bisa menjadi pemercepatanmelupakan Ramon.  
            Melalui daun jendela kamar, taburan bintang di langit seolah tersenyum menatap dirinya. Angin malam berhembus semilir menyapa semesta kehidupan dengan belaian penuh kasih. Harmoni suara alam mengalunkan musik yang demikian merdu dalam keheningan malam yang tenang. Kembali terlintas wajah lugu Dinar, gadis berusia 8 tahun dengan manik-manik matanya yang bersinar saat ditawari untuk sekolah seperti beberapa teman seumurannya yang sudah lebih dulu mendapatkan ijin dari orang tuanya. Beberapa anak memang masuk sekolah tanpa rintangan, tapi sebagian besar butuh usaha diplomasi yang cukup alot.Apalagi untuk anak perempuan karena pola pikir rata-rata masyarakat di desa terpencil ini masih menganggap bahwa kodrat perempuan ya di rumah dan bekerja membantu suami ke sawah atau ladang.  
*****

Untuk  sampai di tempatku sekarang harus menempuh perjalanan darat yang sangat jauh ditambah medan yang sangat sulit untuk di lalui kendaraan biasa.Aku sempat tidak percaya bahwa di Pulau Jawa ini ternyata ada juga daerah terpencil begini,penerangan yang masih belum merata, pembangunan sarana dan prasarana umum yang masih sederhana, jarak sekolah yang luar biasa jauhnya dengan rute harus beberapa kali menyeberangi sungai!. Benar-benar kondisi yang tak pernah terlintas dalam pikiranku sebelumnya.
            “ Beginilah Bu Laras keadaan di desa ini..” sambut Pak Kepala dusun saat 3 bulan lalu untuk pertama kalinya aku tiba tiba di daerah ini. “ Semoga Bu Laras betah dan sanggup bertahan menghadapi para warga yang rata-rata masih kolot”
            Awal-awalnya memang cukup tersiksa menjalani kehidupan yang kontras dari keseharianku di Surabaya yang serba ada. Tapi tekadku sudah bulat untuk bisa berbuat sesuatu bagi warga di daerah terpencil ini. Bukan lagi karena alasan untuk melupakan pengkhianatan Ramon, tapi dari lubuk hati terdalam aku ingin melihat Dinar-Dinar di desa ini bersinar dengan memiliki kesempatan belajar dan menjadi perempuan yang melek pendidikan.

*****
            Dengan memasang senyum ramah, aku mengetuk pintu dari bahan kayu pohon karet yang ada di depanku “Assalamu’alaikum
            Pandangan tidak ramah Pak Karman langsungmembuatku sedikit jengah dan canggung “ Ada apalagi Ibu datang ke sini ? Dinar tidak butuh sekolah !”
            “Wa’alaikumsalam, Bu Laras “wanita parobaya itu langsung menyalami Laras berusaha menetralkan sambutan suaminya yang tidak ramah. “ Mari silahkan duduk Bu..”
“ Maaf jika kedatangan saya tidak diharapkan oleh Pak Karman...” sebisa mungkin aku tetap tenang menghadapi sikap kasar Pak Karman. Toh itu bukan pertama kalinya aku menerima perlakuan tidak ramah dari warga di sini. Dengan kegigihan dan kesabaran, satu demi satu aku bisa melunakkan hati mereka agar mengijinkan anaknya bersekolah.
            “ Apa masih belum jelas kalimat saya, Dinar tdak butuh sekolah. Wong wedhok kuwi kodrate nang pawon, ora usah sekolah..!”
            “Anak-anak perlu belajar untuk mengurus dirinya sendiri dan menerapkan apa yang dipelajari hingga dewasa sehingga bermanfaat pada diri sendiri dan keluarganya. Jadi perempuan pun butuh untuk sekolah Pak..”
            ” Percuma Bu Laras bolak-balik ke sini untuk membujuk saya. Samin, Kang Tarno dan yang lainnya bisa Ibu bujuk tapi tidak untuk saya !”
            “ Lihatlah Dinar Pak..” aku mengarahkan pandangannya ke halaman rumah pada sosok mungil Dinar yang sedang memberi makan kambing dengan rumput yang dibawanya.“Apakah bapak tidak ingin melihat Dinar menjadi perempuan yang pandai? Jika anak bapak memiliki taraf hidup yang lebih baik, apa bapak tidak tidak ikut bahagia?”
            “ Dan apakah Bu Laras tidak melihat kami ini orang susah ? Mau bayar pakai apa sekolahnya Dinar? Jaman sekarang mana ada yang tidak butuh uang, hah?!”
            “ Saya jaminannya kalau Dinar tak perlu bayar apa-apa, Pak”
            “ Maaf Bu, maksud suami saya itu bukan hanya tidak punya uang untuk bayar sekolah tapi Dinar juga harus membantu kami bekerja di sawah ...” kali ini Bu Karman ikut bicara. “ Saya sebagai ibu juga ingin sekali mempunyai anak yang pinter seperti Bu Laras, tapi...”
            “ Beri saya waktu untuk memikirkannya Pak “ janjiku sebelum melangkah meninggalkan kediaman Pak Karmandengan kecamuk tanya di sudut hati. Namun aku tak akan menyerah begitu saja. Akubukanlah tipe orang yang suka untuk mundur atau menyerah pada keadaan.
                                  
                                 *****  
Menikmati hembusan angin pagi yang menyapu segenap pori-pori dengan gemirisik dedaunan dari pohon-pohon yang ada di sekitar pantai. Duduk di sebongkah batu di tepi pantai Sukamade dengan memejamkan mata, merasakan keajaiban nuansa pagi nan tenang, sangat tenang, tanpa bising dan kesibukan yang menyesakkan. Sungguh suasana romantis menyambut matahri terbit yang tiada bosan kunikmati setiap pagi. Dan ketika memandangi langit yang mulai merekah merah di ufuk timur, sungguh panorama eksotis yang tak pernah cukup untuk diuraikan dalam bait-bait syair. Kabut tipis melayang ringan dan menyelimutisekitarku terasa sejuk sampai ke tulang rusuk.
            “ Pagi Bu Laras...” sebuah sapaan menghentikan keasyikanku menikmati keelokan lukisan fajar di Pantai Sukamade 
“ Aku tidak menyangka justru kita akan bertemu kembali di sini. Hidup memang memberikan banyak hal yang tak tertebak, tapi aku suka dengan ketidak-keterbakan ini “ ujarnya lebih lanjut dengan intonasi yang membuatku berdesir, sangat indah mendengarnya.
“ Kamu...Syamara kan? “ tidak perlu waktu lama untuk mengenali sosok yang mengejutakanku barusan “kok kamu bisa ada di sini ? ”
           “ Saat Pak Dukuh bilang ada guru baru bernama Laras, sama sekali aku tidak mengira jika itu kamu lho?”Laki-laki itu tersenyum, menampakkan sederet gigi putih yang rapi. “ Setelah beberapa kali aku gagal untuk menemui sang guru baru tersebut dan akhirnya aku mendapatkan jawaban yang luar biasa pagi ini. Kamu di sini, di daerah terpencil ini? Meninggalkan gemerlap kehidupan kota? Rasanya tak bisa dipercaya deh...”
“ Hahaha...bisa saja kamu,” Pertemuan yang tidak terduga juga merupakan kejutan yang indah buatku. Setelah sepuluh tahun berpisah sejak lulus SMA, kini bertemu kembali dengan sosok laki-laki yang merupakan cinta pertama dan sekaligus cinta dalam hati karena tak berani menunjukkan pada Syam jika aku jatuh hati padanya. Setelah saling bercerita beberapa saat, akhirnya aku tahu jika Syam berada bertugas disini sudah setahun sebagai dokter.
“ Ku dengar kamu bisa meyakinkan warga untuk menyekolahkan anak-anaknya. Luar biasa sekali gebrakannmu, Ras” puji Syam bersungguh-sungguh. “ Beberapa guru yang datang ke sini tidak bertahan lama, tapi kamu dalam waktu 3 bulan bisa membuat perkembangan yang menakjubkan “
“ Belum sehebat itu Syam. Aku belum menemukan jalan untuk Dinar dan masih banyak yang lainnya “jawabku agak galau.
“ Aku akan membantumu, boleh kan?”
             “ Serius?” sahutku antusias dengan menatap lurus bola mata Syam yang ternyata masih membuat hatiku bergetar seperti 10 tahun yang lalu.
            Syam meraih tanganku, menggenggamnya dengan erat “ kita akan lalui bersama-sama, Ras..”
            Sejurus aku terpana, tak tahu kalimat apa yang tepat untuk mengungkapkan kejutan yang membuncah indah di sanubari.      Aku hanya berharap merekabisa mendapatkan pendidikan yang memadai untuk bekal menjalani kehidupannya. Sehingga untuk ke depan, pilihan apapun yang diambil oleh seorang anak setelah menyelesaikan studinya bukan lagi suatu paksaan dari ‘harapan’ masyarakat semata “ dan Allah memberiku yang luar untuk melukis fajar buat anak-anak di desa ini bersama seseorang yang istimewa. 

                             *The End*


                                 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


5 comments: Leave Your Comments

  1. kemampuan menulis narasi kamu makin keren saja, riri :)

    ReplyDelete
  2. wah keren, kalo saya bikin cerita pasti ngaco

    ReplyDelete
  3. Sedih Mbak. Kenyataannya memang masih ada yang seperti mereka. Tidak bersekolah karena keadaan.

    ReplyDelete
  4. Cieeeh, CLBK. :D
    Seneng melihat semangat pemuda utk kemajuan pendidikan. :)

    ReplyDelete
  5. hebattttt,, syukut dehh masih banyak orang yang peduli untuk kemajuan pendidika,,,

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.