WHAT'S NEW?
Loading...

Ekspresi Demokrasi: Memilih karena Ingin Memilih

Pemilu untuk memilih para anggota DPR, DPD dan DPRD telah sukses dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014 dan Bismillahirrahmaanirrahiim sekarang 9 Juli 2014 adalah agenda penting untuk mendaulatkan siapa yang layak untuk menyandang RI-1 dan RI-2. Pilpres yang dilakukan secara langsung tahun ini merupakan periode yang ketiga, dimana dua periode sebelumnya terpilih RI-1 adalah orang yang sama. Ah…..jadi wondering alias KEPO, andai dan seandainya masa jabatan presiden belum di amandemen, mungkinkah di pilpres secara langsung yang ketiga ini Beliau akan mencalonkan dan memenangkan  pemilu lagi?  
Masa kampanye Pilpres sudah lewat, ada model kampanye off air, on air, on mass media, on stadion dan on TV media. Dan Alhamdulillah, semua jenis kampanye di atas gak ada yang saya ikuti secara all out. Sebagian yang saya simak adalah versi On Line [lha banyak tuh yang nyetatus di SocMed]  dan ON TV media. Yang cukup menyita perhatian publik sepertinya kampanye versi DEBAT capres dan cawapres yang tayang langsung di stasiun televisi. Enam kali penjadwalan debat di TV telah usai, ya iyalah kan H-3 harus ada masa tenang agar calon pemilih bisa berpikir, merenung, mempertimbangkan dan memantapkan pilihan hatinya jatuh pada nomer berapa.

Then, isi dan paparan dalam debat tersebut, tentu sudah bisa jadi tambahan bekal untuk menentukan hendak pilih yang mana kan? Wong setiap kali usai tayangan debat, SosMed demikian heboh dengan up date yang merespon isi dari materi yang telah dikupas [belum] tuntas dalam acara debat tersebut. Setidaknya ada tiga [golongan besar]  jenis reaksi yang muncul:
  1. Apapun dan bagaimana pun perform calon yang di dukung, tak mengubah loyalitas pilihannya [baik pendukung nomer urut 1 maupun nomer 2] 
  2. Terjadi transformasi sikap yaitu berubah dukungan dari mendukung A ke B, atau sebaliknya. 
  3. Mengkritisi secara proporsional alias tidak memihak. Jadi isi pemaparan kedua belah pihak dianalisa dan dicermati dari sisi referensi, logika dan kemungkinan aplikasinya akan seperti apa.
Pada tipe yang pertama, mungkin ini yang di sebut The TRUE BELIEVER….right or wrong ….no matter what happen… keukeuh milih si Anu itu. Hebohnya lagi, sampai banyak yang perang komentar di SocMed kan? Demikian solid sikapnya dalam memberi dukungan, maka apapun sanggahan dan opini lain…yang pilihannya kokoh bagai karang. Yang bikin miris, tak jarang sampai terbawa emosi dan timbul konflik serta perseteruan. Saling adu pendapat dan perdebatan yang tak jelas ujungnya dengan disetai emosi jiwa, bahkan juga saling menjelek-jelekkan yang melewati batas kenormalan.
Ini saya kutip dari FB, status seorang teman [Amelia] yang menurut saya harusnya menjadi dasar dalam memberikan dukungan pada Capres- Cawapres, baik PRABOWO – HATTA maupun JOKOWI-JK
“Kampanye presiden. Masih pentingkah kampanye "tanpa isi" yang menjelek-jelekkan atau terlalu mengagung-agungkan salah satu calon? Apakah Anda lupa bahwa semuanya tidak selesai saat kampanye berakhir? Indonesia tetap harus bersatu setelah kampanye selesai. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, salah satu calon yang sudah Anda jelek-jelekkan itu akan memimpin bangsa ini. Jadi, ayo dong...STOP share link atau tulisan yang saya yakin sebenarnya Anda-anda pun belum tentu yakin betul sumbernya benar atau tidak. Berhentilah memfitnah/mempermalukan calon pemimpin bangsa sendiri.”

Beberapa teman yang tanya langsung ke saya, mungkin penasaran atau memang dalam rangka menambahi materi/info agar lebih proporsional dalam membuat pilihan calon Capres-Cawapresnya,
Sebenarnya, saya itu pengennya ada Capres-Cawapre nomer urut tiga…..” ngeles pertama saat menjawab.
Jadinya kan Cuma ada dua tuh Mbak. Terus prefer yang mana dong?”
Ehmmm……yang jelas, saya mendukung yang terpilih jadi Presiden dan wakilnya nanti kok”.

Dijamin jika jawaban saya makin bikin gemes yang tanya tho? Lha iya, saya sebenarnya pengen menjawab gini: Saya akan memilih karena saya memang mau memilih dan tentunya dengan niat semoga yang saya pilih ini bisa amanah dan membuktikan janji/target visi-misinya dengan optimal. Saya sadari yang namanya janji, target, visi dan misi itu kan acuan, tercapi 100% itu sebuah keajaiban. Jadi, kalau toh hanya terrealisasi di kisaran 75% itu kan masih logis kan? Jika memperdebatkan siapa tim dan para pendukungnya para capres-cawapres, perdebatan tak ada habisnya. Wong yang namanya politik, dari sekelumit yang saya tahu….orang-orangnya bisa dengan cepat berubah dukungan kok. Pada putaran pilkada di daerah A beberapa parpol berkoalisi, tapi pada Pilkada di lain daerah lagi sudah beda lagi koalisinya. Tidak jauh berbeda pula dengan pilpres ini kan? Pada periode pilpres yang lalu yang berjalan mesra sebagai partner koalisi, dan di edisi pilpres sekarang berganti koalisi lagi. 
Kalau dipikir-pikir, kan ada miripnya pula dengan tim sepak bola tho? Pada kompetisi Liga, mereka satu tim dan ketika ajang piala dunia sudah berbeda tim lagi menjadi saling berlawanan. Toh ketika pertandingan selesai, mereka langsung salingberpelukan, bersalaman dan ada yang tukeran kaos ya kan? Semoga para pendukung tim-nya juga bisa seperti tim yang di dukungnya, usai kompetisi [pemilu], bisa berjabatan dan bersimbiosis lagi dengan guyub. Tukeran cinderamata juga boleh banget....
Jadi, siapa pun Capres- Cawapres yang didukung, ya marilah dukung seperlunya saja dengan tetap menghargai pilihan teman/saudara/tetangga yang punya hak untuk memilih pula. Dan jika hendak memilih ya pilihlah karena ingin memilih demi kebaikan dan kedaulatan bangsa Indonesia. Jika mengambil keputusan untuk memilih, meskipun tidak dimengerti benar akan capability, skill dan eligibilitasnya karena terbatasnya informasi tentang calon yang hendak dipilih tersebut, lebih baik bila mulai berangkat dari rumah hingga saat akan mencoblos dalam bilik — melafal (berbisik-bisik atau dalam hati) “BISMILLAH…….Niat memilih demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik”.  

Man-yahdillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.  
Selamat berEkspresi Demokrasi: Memilih karena Ingin Memilih





NOTED: Postingan delay publish gegara gagal koneksi--->Teuteup saja ditayangkan tho? #efekkampanye: ngeyel

19 comments: Leave Your Comments

  1. Memang kebanyakan pendukungnya gitu. Calon jagoannya dibela mati-matian. Kalo salah, dianggap manusiawi, kalo benar, langsung diberitakan seheboh-hebohnya. Pendukung dua-duanya lebay.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mbak, para pendukung capres-cawapres yg true believer bikin gemes ya.

      Delete
  2. Tadi aku ke TPS karena memang pengen milih. Biasanya, sebelum-sebelumnya, ke TPS karena dipaksa-paksa ibuku hahahaha...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semiripan, pilpres kali ini aku berangkat karena ingin memilih. Jk sebelum2nya karena daripada golput alasannya ikut milih

      Delete
  3. Kalau mengekspresikan demokarasi itu harus dengan menusuk kertas pilihan ya Mba ? Biar tidak di manfaatkan yang salah. Itu sih menurut saya. he,, he,, he,,

    Salam

    ReplyDelete
  4. Seharusnya bangsa ini sudah bisa bersama-sama penuh dedikasi memajukan aspirasi demokrasi termasuk dalam pesta besar rakyat seperti pilpres kemarin. Bener kan,mak ?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyap mbak, tapi rada ilfil ketika kemudian kedua kubu kok ya jadi rebutan nge-claim menang. Kok sepertinya jadi kurang gimana gettu..

      Delete
  5. Replies
    1. Ada deh...hehehe. Yg penting niat milih dengan harapan jd presiden yg lebih baik utk negeri ini

      Delete
  6. HoOh, sikap menghargai tuh membuat damai ya, Mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ihh, pinternya Bu guru IT ini ya

      Delete
  7. Semoga yang jadi pemenang adalah yang terbaik.......

    Bukan yang hanya sekedar jujur, sederhana dan suka blusukan....

    Kalau cuma mencari 3 kriteria itu banyak kok orangyang seperti itu di Indonesia, mungkin saya salah satu nya heheheheh

    #ini gak bermaksud memojok kan salah satu capres lo, jangan salah paham ya.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. brarti para pembolang itu juga memiliki kriteria suka blusukan ya mas?
      *akuhjugadunk*

      Delete
  8. Saya sudah memilih tentu saja dn melihat, menimbang, mencari tahu dan sesuai hati nurani. Dan ketika akhirnya menentukan pilihan, kalah atau menang tidak lg menjadi persoalan. Karena selalu ada konsekuensi untuk menang atau kalah, setidaknya kita sudah jujur saat menentukan pilihan...sesuai dgn hati nurani kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mbak, saya juga melihat kira-kira ke depannya akan bagaimana memimpin negeri ini. saya berusaha tdk terbawa opini di socmed. Siapaun yg sayapilih semata karena saya dengan pengetahuan saya terbatas meyakini dan niat memilih utk kebaikan Indonesia dan kita semua. Apapun hasilnya, semoga itulah yg memang capable utk jd pemimpin yg bertanggung jawab

      Delete
  9. semoga saja nanti tgl 22 Juli..indonesia aman dan damai...dan indonesia bisa mempunyai presiden yang baru......
    keep happy blogging always,,,salam dari makassar :-)

    ReplyDelete
  10. WOW Keren nie artikernya
    Sambil baca artikel ini, Aku numpang promosi deh !
    Agen Bola, Bandar Bola Online, Situs Taruhan Bola, 7meter

    ReplyDelete
  11. pemberitaan lewat sosmed terutama pesbuk memang syahdu ya mbak :-)
    mereka si A dan si B pada kekeuh bahwa pilihannya yang terbaik (kocak dch pokokna)

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.