WHAT'S NEW?
Loading...

Punya Bos yang Arogan, Siapa takut?

We Can’t Choose the Boss but We Still have Chance to manage our reaction.

Kalau bekerja di instansi baik swasta mau pemerintahan, kita (staf) tidak punya hak untuk memilih siapa atau bagaimana tipikal orang yang akan menjadi bos/pimpinan. Kepala desa, Bupati, Gubernur (kecuali DIY), bahkan presiden masih ada kesempatan untuk memilih. Tapi kalau atasan/pimpinan di tempat kerja kita? Iya Bismilllahirrahmaanirrahiim, jika bos kita modelnya demokratis, sabar, open mind, ngemong, dsb yang idealnya memiliki sifat-sifat yang ideal sebagai seorang pimpinan, tentu semua karyawan oke-oke saja. Lha kalau yang mbejudul sosok pimpinan yang arogan, sok powerfull dsb, ada tiga pilihan: resign, bertahan dengan sikap cuek bebek angsa di kuali sing penting gaweanku rampung atau tetap bekerja dengan optimal dan berusaha menghadapi bos dengan perform: Siapa takut punya bos galak dan arogan…? 

Menghadapi bos pemarah, bos Otoriter aau model bos yang semaunya sendiri memang terkadang menjadi hal yang paling menjengkelkan, terlebih lagi dengan sikap otoriternya yang membuat semua pekerjaan kita dibilang tidak beres.  Meskipun kita sudah melakukan jobdes  dengan sepenuh tenaga dan pikiran,  seorang atasan apalagi seorang boss seharusnya bisa dijadikan suri tauladan bagi anak buah tapi lebih suka mencacat sana-sini, siapa orangnya (staf) yang tak akan merasa muak dan cepat-cepat ingin mencari pekerjaan baru? Tapiii...resign dan cari pekerjaan baru kan tak semudah membalik taplak meja tho?

Some how, bilamana memiliki atasan atau boss yanga arogan dan semaunya sendiri alangkah baiknya jika anda tidak buru-buru resign (mengundurkan diri), sebab perlakuan kurang menyenangkan dari boss anda yang arogan dapat dengan mudah diatasi jika anda memiliki sedikit kesabaran dan bisa mengerti dengan apa yang dia mau. Beberapa tips dan cara menghadapi bos arogan dan sesuka-suka dia seperti yang dilansir oleh Labour News di Amerika serikat, seperti berikut ini:

1. Ajak Boss Anda Berkomunikasi
Seperti yang dilansir oleh labour news today menyatakan bahwa saat anda mengalami perlakuan kurang menyenangkan di tempat kerja dan kerap kali menghadapi sikap otoriter boss anda, maka langkah terbaik dalam mengatasinya ialah dengan mengajak boss atau atasan anda dengan cara berkomunikasi dengan baik, namun ingat carilah momen yang baik saat anda ingin berkomunikasi dengan atasan anda selain itu juga mulailah komunikasi dengan obrolan yang ringan sambil minum secangkir teh manis sebelum ke inti permasalahan.

2. Belajar Memahami Kemauan Boss Anda
Agar cara kerja anda di kantor lebih efiesen serta bisa betah di tempat kerja maka cara praktis dalam mengatasinya ialah dengan memahami kemauan boss anda, mau bagaimanapun atasan adalah boss anda dan ia berhak memutuskan siapa yang baik kerjanya dan siapa yang buruk dalam bekerja, nah daripada anda selalu mengeluh atau memutuskan untuk resign yang belum tentu bisa mendapatkan pekerjaan pengganti maka ada baiknya jika anda mencari tau apa sih kemauan boss anda. selain itu juga anda harus mempelajari apa yang tidak disukai dan disukai oleh bos Anda. Cobalah untuk membuatnya terkesan kepada Anda dengan kemampuan dan bakat yang Anda miliki

3. Berikan Solusi Alternatif 
Seorang sosiolog yang tergabung dalam journal Labour in United States menyatakan,  seorang boss atau atasan yang bersikap arogan umumnya disebabkan karena dia bingung dengan keputusan perusahaan yang sifatnya relatif sulit, nah jika boss anda mengalami hal ini maka sebagai anak buah yang baik hati alangkah baiknya jika anda menyarankan untuk membantu atasan memberikan alternatif pilihan dengan cara mendiskusikannya, Berikan alasan tepat mengapa keputusan sulit harus diduskisan terlebih dahulu  itu sangat penting sehingga nasib para karyawan tidak kebingungan.

4. Miliki Sikap Leadership
Jika anda memiliki boss atau atasan yang memiliki sikap otoriter dan kurang bersinergi dengan sistem kerja anda maka ada baiknya jika anda menyikapi sikap atasan anda dengan mempelajari sifat kemimpinan dalam diri anda sendiri, lihatlah dengan kacamata kepimpinan dalam diri anda dalam melihat sikap atasan anda, nah jika anda sudah menemukan solusinya maka anda bisa mendiskusikan dengan bos anda.

5. Jangan Takut Untuk Pindah Atau Resign 
Solusi terakhir jika anda sudah sangat tidak tahan dengan sikap atasan anda yanga arogan dan semaunya sendiri maka langkah terbaik ialah dengan resign dan pindah ke tempat kerja yang baru. Atau, buka usaha sendiri dan jadi bos yang lebih baik, bijaksana, sabar, demokratis, tidak pelit serta tidak sombong. Lha iyah kan, alasan resign karena tidak bisa cooperative dengan karakter bos yang aroogan dan semaunya. Kala berwirausaha, tentu dong kudu bisa perform as the best boss. 

Punya Bos yang Arogan, Siapa takut? 
Kalau jadi boss yang elegan dan toleran, siapa berani hayoooo?

Gaya Fashion yang bisa Membuat Penampilan Terlihat Lebih Gemuk dan Tua

Pada dasarnya tujuan seseorang dalam berpakaian adalah Bismillahirrahmaanirrahiim ingin terlihat cantik dan anggun pada setiap kesempatan, formal maupun informal. Hal ini juga berlaku baik terhadap laki-laki ataupun wanita tanpa terkecuali, dalam berpakain mereka seringkali ingin terlihat sempurna dan menutupi segala kekurangan yang terdapat dalam tubuh mereka dengan pakaian yang menurut mereka layak dan baik untuk dipakai, namun apa jadinya jika pakaian yang anda pakai justru membuat anda tampak terlihat lebih tua dan gemuk.

Dalam dunia fashion ada banyak sekali jenis pakaian yang memang sengaja didesain untuk membuat seseorang tampak menawan dan elegan, namun anda juga harus tahu bahwa tidak semua desain fashion cocok untuk dipakai oleh semua orang terutama jika anda masih dalam usia muda, sebab jika anda nekat memakai gaya fashion yang dikhususkan untuk orang-orang tua dan juga orang-orang yang gemuk maka tidak salah jika anda akan ikut terlihat gemuk dan tua.
Fashion; Trend; gaya; long dress
Nah jika anda suka berpenampilan menarik ada baiknya jika anda menghindari gaya fashion berikut ini sebab anda akan terlihat tua dan gemuk ketika menggenakannya berikut ulasannya.

1. Ukuran Pakaian Yang Salah
Mungkin bukan hal yang aneh bagi seseorang yang memiliki tubuh gemuk akan memilih ukuran pakaian yang lebih besar dari ukuran tubuh mereka, padahal seharusnya, apapun bentuk tubuh anda ketika anda memilih pakaian alangkah baiknya jika anda menggunakan pakaian yang cocok dengan ukuran tubuh anda, sebab jika anda memilih ukuran pakaian yang besar untuk menutupi tubuh anda yang gemuk malah pakaian tersebut akan membuat anda lebih gemuk dan lebih terlihat seperti ibu-ibu rumah tangga loh, nah oleh sebab itu saat anda membeli pakaian maka pilihlah pakaian dengan ukuran pas.

2. Warna Pakaian Serba Hitam
Di dunia fashion, pakaian warna hitam sangat dianjurkan bagi mereka yang sedang berduka atau sering digunakan dalam acara-acara formal seperti rapa kantor misalnya, di samping itu juga warna hitam memang sangat elegan, namun saat anda menghadiri acara pesta baik itu pesta pernikahan atau pesta ulang tahun alangkah baiknya jika anda menghindari pakaian warna hitam sebab Terlalu banyak mengenakan pakaian berwarna hitam malah akan membuat Anda terlihat lebih tua, hal ini dikarenakan pakaian hitam akan membuat kulit anda terlihat contrast dan membuat kerutan pada wajah anda jadi terlihat.

3. Rok Ukuran Besar dan Terlalu panjang.
Jika anda seorang wanita yang gemar memakai rok alangkah baiknya jika anda menyesuaikan rok yang anda pakai dengan bentuk tubuh anda, sebab jika anda memilih rok dengan ukuran besar dan terlalu panjang malah akan membuat anda terlihat lebih tua dan gemuk, adapun rok yang ideal bagi seorang wanita adalah sesuai dengan tinggi dan ukuran tubuh anda.

4. Mengenakan Aksesoris  Yang Salah
Aksesoris seperti anting, bros dan gelang merupakan salah satu gaya fashion yang harus ada pada setiap wanita yang ingin terlihat modis namun anda harus pastika untuk tidak memilih ukuran aksesoris yang terlampau kecil, sebab aksesoris kecil kurang menojok jika digunakan, adapun langkah terbaik agar terlihat elegan ialah dengan memiliki aksesoris ukuran besar.

5. Model kacamata yang salah
Jika anda seseorang yang  suka menggunakan kacamata sebagai tambahan untuk bergaya maka alangkah baiknya jika anda tidak salah dalam memilih model kacamata, sebab model kacamata yang salah akan membuat anda terlihat tua, nah untuk terlihat modis pakailah kacamata dengan bingkai yang unik yang mampu mencerminkan kepribadian anda.

6. Pilih dengan bijak untuk baju dengan motif garis-garis, vertikal atau horisontal.
Untuk point ke-6 ini adalah tambahan dari Mas Adhi (komentar blog). Motif garis-garis yang horisontal bisa mmeberikan kesan terhadap bentuk badan sehingga terlihat lebih gemuk. Kalau tubuh Anda tergolong kurus dan ingin terlihat langsing, disarankan untuk menghindari motif garis yang horisontal dan gunakan yang garis vertikal saja. Demikian pula sebaliknya.

Apakah anda punya pengalaman dengan fashion dan aksesoris yang membuat penampilan terlihat gemuk dan atau tua?

Pesona Pasar Tradisional Yang Kaya Tradisi

Ada dua pasar tradisional yang ada di dekat tempat tinggal kami yaitu Pasar Sleman yang letaknya tak jauh dari SD Muhammadiyah Sleman dan pasar Denggung yang berada di dekat lapangan Denggung (Tridadi). Kalau hendak diperbandingkan, tentu Pasar Sleman lebih besar karena merupakan pasar skala Kecamatan. Tapi jika ditanya kapan saya terakhir kali pergi ke pasar tradisional? Bismilllahirrahmaanirrahiim, seingat saya di Bulan Desember tahun lalu ketika musim liburan sekolah. Kalau anak-anak lagi pada di rumah, biasanya memang jenis jajanan yang disukai adalah jajanan tradisional, terutama tiwul, klepon, putu ayu dan pukis. Saat itu, bersama Kang Suami saya pergi ke pasar Sleman karena persediaan jajanan lebih banyak dibandingkan pasar Denggung. Eh FYI, saya juga doyan jajanan tradisional, terutama tiwul yang sering bikin kangen. Hanya sayangnya, selama di Sleman ini saya belum pernah ketemu Tiwul yang original. Rata-rata aneka olahan gaplek berasa manis.

Ada yang kaget atau terkesima, kok sebegitunya saya jarang nyambangi pasar tradisional? Bukankah biasanya ibu-ibu itu hampir tiap pagi ke pasar? Terus ada gak neh yang kepikiran kalau saya lebih sering nyambangi pasar modern atau toko moder kan? Jawabannya adalah saya memang tidak setiap pagi/hari ke pasar dan bisa juga terbilang jarang ke pasar tradisional tapi juga termasuk super jarang belanja ke pasar modern kok. Lho kok bisa? Lantas kemana saya belanja? Very simpel, karena jadwal belanja memang tidak setiap hari. Kalau hanya untuk beli bahan lauk-pauk: ikan, ayam, daging, biasanya sih cukup nitip Kang Suami kala ngantarin sekolah Azka. Sedangkan untuk belanja semacam sayur-mayur, tahu, tempe, lombok, dan sejenisnya yang basah-basah ria, biasanya saya lakukan sepulang kerja.
tradisi, jual beli, off line; pasar tradisional
Pasar Tradisional di Denggung, Sleman
Ada dua tempat langganan saya belanja, satunya sebuah toko yang berjualan lengkap mulai sayur, cabe, tahu, tempe, dan seterusnya. Kalau perlu belanja banyak, hingga ke bumbu dapur, GULA, kopi, susu, deterjen, saya lebih sering belanja ke toko yang bernama  Mekar Jaya itu. Harganya sama sama kok, atau setidaknya hanya terpaut seratusan rupiah lah dengan harga di pasar Sleman. Wong, barang dagangan untuk masak sehari-hari memang berasal suplai dari pasar. Kan pasar tradisional berperasinya hanya sampai tengah hari, tentu gak semua dagangan bisa laku kan? Nah, menurut ramalan saya, sebagian penjual sudah memiliki partnership dengan Toko Mekar Jaya. Salah satu buktinya, kalau saya belanja sore hari, variasi sayurannya lebih lengkap dan ada jajanan/kue basah juga.

Yang satunya adalah di tempat jualan yang dimiliki oleh seorang ibu tua yang membuka kios sederhana (tidak permanen) di pinggir jalan. Di toko kedua ini, biasanya saya belanja yang akan langsung di masak seperti tahu, tempe, sayuran, dan beberapa kebutuhan yang mendesak lainya sekiranya si ibu punya persediaan barang yang saya butuhkan.

Jadi, secara de facto sebenarnya saya tetap belanja cukup sering, sekitar 3-4 kali dalma seminggu, di tempat yang sistemnya juga masih tradisional semacam pasar. Pada kedua “pasar mini” tersebutlah, saya dan beberapa working mommy lainnya sering berbelanja , ngiras-ngirus sekalian pulang kerja. *sayangnya, dalam rangka membuat postingan ini saya kebetulan belum belanja blas, jadi belum ada dokumentasinya*

Apakah pasar (termasuk yang saya sebut  ‘pasar mini’ )  tradisional ada yang menggunakan blog atau website dan media sosial untuk mempromosikan? Setahu saya sih belum ada, semua cara penjualannya masih sistem direct, akad jual beli dilakukan secara face to face antara pembeli dan pedagang. Oleh karena pasar merupakan tempat bertemunya semua calon pembeli dan sekian banyak pedagang yang berjualan secara bersamaan, juga adanya kesamaan barang dagangan dan diantara riuh rendah suasana transaksi yang terjadi, terlihat jelas  kalau pasar tradisional masih punya daya tarik yang magis.
Market lokal; pasar tradisional; perkembangan pasar tradisional
Keunikan Pasar Tradisional
Diluar kondisi (seperti apapun kondisi sebuah psara tradisional), saya melihat Pesona Pasar Tradisional Yang Kaya Tradisi. Ada banyak pelajaran tradisi kebaikan yang saya lihat, menggenapkan empati dengan pembelajaran yang kaya akan hikmat kehidupan.
  • Semangat dan kemauan kerja, tak hanya bagi orang-orang yang masih usia produktif tapi juga yang tergolong manula. Jika hendak di survey, bisa jadi akan diperoleh jumlah yang significant kalau pedagang di pasar tradisonal yang usianya 60 tahun ke atas. Being Old men/ women doesn’t mean impotential
  • Interaktif di pasar merupakan pembuktian salah satu pepatah Jawa: Obah Mamah. Sopo sing gelem Obah, bakal iso mamah ~ siapa saja yang mau gerak, tentu bisa mendapatkan penghasilan (nafkah). Bahkan ketika tak punya modal sepeser pun, asal mau gerak pro aktif di pasar, bantu angkut-angkut, akan dapat bayaran kan? Kalau mau jualan, gelar alas atau papan, akan ada yang menitipkan barang untuk dijual dengan sistem bagi hasil. Seperti seorang simbah yang berjualan parutan kelapa di Pasar Denggung. Menurut beliau, kelapa yang dia parut sudah ada yang ngedrop. Bawang putih, tempe, dan telur ayam…semua item barang dagangannya tidak dia bawa dari rumah lho?  Itu baru sample seorang simbah, yang untuk sampai ke pasar harus berjalan kaki cukup jauh (berdasarkan ceritanya).  Tapi belakangan ini diantar jemput oleh anaknya. Tidak ada istilah usia manula untuk tetap produktif. 
  • Tempat praktek keramah-tamahan yang efektif. Selain saling kenal di antara para pedagang layaknya hidup bertetangga di kampung, pembeli sebagai “orang belum dikenal” akan bersikap seramah mungkin untuk menawar dan pedagang pun melayani dengan sikap yang tak kalah ramahnya kan? Hayooo...siapa yang mau mencoba tawar-menawar harga di pasar, jangan lupa siapkan senyum termanis anda ya?
  • Pasar juga merupakan tempat “kopdar” yang efektif. Ini saya simpulkan dari kegemaran Bapak saya yang sampai saat ini masih sesekali ke pasar walau sekedar untuk beli “batu” untuk korek api kunonya. Dulunya, hampir tiap hari Bapak (sesekali ditemani Simbok) pergi ke pasar untuk menjual: beras, pisang, daun pisang, sapu lidi, ayam, telur, pokoknya berjualan komoditas yang dihasilkan dari rumah dan sekitarnya. Setelah dua puluh tahun tak lagi berjualan di pasar, Bapak masih suka bersepeda pancal ke pasar karena memedomani bahwa dengan mengunjungi satu tempat yang bernama PASAR TRADISIONAL, sekaligus kesempatan untuk bersilaturahim dengan banyak orang-orang yang pernah dikenalnya, saling sapa, bertukar kabar dan  ngobrol ringan sebentar. How beautiful life, isn't it?
  • Implementasi kesetaraan gender sudah menjadi bagian yang menyatu dengan ritme perdagangan di pasar tradisional. Tak ada dominasi suatu jenis komoditas hanya boleh/harusnya di jual oleh jenis gender tertentu. Lha wong bapak-bapak yang jual under wear untuk perempuan bukan hal asing lagi kan? Atau, mas-mas atau bapak-bapak belanja bumbu masak...siapa takut? Juga, tak ada istilah kalau kaum perempuan tidak kuat mengangkut sekarung barang jualannya. Mau lihat aksi super women...pergilah ke pasar tradisional, There is many women as strong as men
  • Dan pelajaran nyata yang tak kalah ajaibnya bahwa salah satu cara mensyukuri hidup adalah dengan bekerja keras. Tak perlu ada istilah gak pede meski sebagai cowok setampan Le Minh Ho tapi berjualan tempe. Iya thoh?
Menjadi manula dan tetap potential 
(Ibu Pemarut Kelapa yang saya ajak ngobrol di Pasar Denggung)
Dari pengalaman blusukan ke pasar tradisional, mulai dari pasar di Kedungpring, Surabaya kemudian di Banyuwangi dan sekarang di Yogyakarta, memang sih masih merupakan pemandangan umum kalau kesamaan pasar tradisonal (kebanyakan) masih terlihat kumuh, tidak beraturan, dengan tingkat keperdulian akan sanitasi dan hygiene masih terbilang masih dibawah garis rata-rata (yang seharusnya). 

Tapi saya yakin dan optimis bahwa Pasar tradisional ditengah kemajuan jaman di masa-masa mendatang akan lebih eligible dan nyaman sebagai tempat untuk bertransaksai jual-beli. Karena pembenahan dan perbaikan infrastruktur, sarana dan prasarana sebuah pasar tradisonal tentu tidak sederhana, butuh perencanaan dan anggaran yang tidak sedikit pula. Dan setahu saya, tidak mungkin semua pasar tradisional bisa diperbaharui secara serentak. 

One by one, step by step…..
sudah banyak kan pasar tradisional yang mulai tampak kinclong, rapi, bersih, dan nyaman untuk penjual dan pembeli. Meski pesaing akan tumbuh dan berkembang dengan inovasinya masing-masing, tapi rejeki tak akan tertukar selama kita mau bekerja dan bersungguh-sungguh. Dan pasar tradisional tentu akan tetap memiliki segmen pembeli yang loyal karena keunikan nilai-nilai tradisi kebaikannya.

Cara Mengajari Anak Agar Perduli Dengan Lingkungan

Mendidik anak untuk perduli terhadap  lingkungan dan alam sekitarnya sejak dini merupakan PR semua orang tua dan bisa dimulai dari rumah. Anak-anak adalah the actor masa depan, terlebih lagi isu pemanasan global atau global warming kian mengkhawatirkan dan mengancam  kelestarian peradaban di planet bumi.  Oleh sebab itu, Bismillahirrahmaanirrahiim salah satu cara antisipasinya untuk jangka panjang yaitu dengan membekali anak-anak untuk mulai perduli terhadap lingkungan dan alam sekitar  serta  dimana pun mereka berada sangat strategis  untuk dibiasakan sedini mungkin. 

Ada banyak sekali cara mengajarkan anak  mau dan bisa  mencintai lingkungan sejak dini, namun perlu diingat bahwa bimbingan orang tua sangat berperan besar dalam membentuk karakter seorang anak agar cinta terhadap lingkungan sekitar.  Cara praktis dalam mendidik sang anak bisa dimulai dari lingkungan rumah, baik itu dengan cara mengajarkan kepada mereka untuk buang sampah ke tempatnya, mengajak untuk menanam pohon ataupun dengan memanfaatkan barang-barang bekas untuk didaur ulang, pilah dan pilih penggunaan barang konsumsi yang berkemasan ramah lingkungan, dan hal –hal iannya. Berikut ini beberapa cara praktis yang bisa diajarkan pada Anak-anak  Agar Perduli Dengan Lingkungan seperti yang dilansir oleh parents and child, Ohio.
Mengajari Anak perduli dan cinta lingkungan
Let's Love Earth
1. Menggunakan air sesuai kebutuhan dan secukupnya . 
Masalah ketersediaan air di masa-masa selanjutnya  secara global sudah tidak cukup dipecahkan dengan pemecahan persoalan-persoalan yang sudah ada. Karena Permasalahan air di seluruh dunia ini sebenarnya berakar dari hubungan fundamental manusia dengan alam yang seiring dengan masalah-masalah ekonomi, sosial dan ekosistem yang menyertainya sehingga berdampak (salah satunya) pada kelestarian sumber air. Maka mengajari anak untuk bertanggung jawab dalam memakai air merupakan cara efektif dalam mendidik anak agar cinta terhadap lingkungan. Mengajari si kecil untuk berlaku bijak dalam menggunakan air tentu tak akan efektif bila hanya sebatas penjelasan secara verbal. Anak-anak akan lebih cepat mengerti dan mau mengikuti bila orang-orang dewasa di sekitarnya secara ajeg dan konsisten memberikan contoh melalui perbuatan sehari-hari dan disertai narasi yang bisa mereka pahami tentunya. Matikan  kran air bila tidak digunakan, mencuci sepeda dengan membawa air di ember, menyiram tanaman dengan bekas air cucuian beras, menggosok gigi dengan air segelas ataupun saat  mencuci mainan mereka yang kotor.

2. Ajak Anak Untuk Berkebun
Agar rumah anda tidak gersang saat musim kemarau tiba maka cara efektif dalam mensiasatinya ialah dengan membuat taman di samping atau rumah anda, nah sembari membuat taman atau kebun kecil di rumah mungkin tidak ada salahnya jika anda mengajak si kecil agar membantu anda dalam berkebun, dengan cara ini maka anak-anak anda akan lebih peduli dengan menjaga dan merawat tanaman yang ada di lingkungan mereka 
Penghijauan; Tanam sejuta pohon
Edukasi Berkebun dan menanam bunga di salah satu sudut sekolah Azka
3. Mendaur ulang barang atau memanfaatkan barang bekas 
Mengajarkan anak untuk mendaur ulang barang-barang bekas, misalnya dengan menggunakan botol plastik untuk keperluan lainnya, untuk pot-pot bunga, untuk hiasan (sekaligus mengajari anak untuk kreatif).  Penangangan sampah untuk dijadikan barang-barang yang berguna dengan fungsi yang berbeda, setidaknya akan memberikan manfaat ekonomis yang lebih lama  juga merupakan ide bagus dalam mengurangi  jumlah  sampah plastik yang terbuang .

4. Pilah-pilih barang konsumsi yang berkemasan ramah lingkungan. 
Saat ini sudah mulai banyak produk kemasan plastik yang terdapat tanda ramah lingkungan semacam tanda recycle, yakni ketika kemasan sudah dibuang akan bisa rusak dalam waktu yang  lebih singkat. Dengan membiasakan untuk mulai memilih barang keperluan sehari-hari yang kemasannya ramah lingkungan, sekaligus mewacanakan agar anak-anak bisa membedakan mana barang yang harus diminimalkan penggunaannya demi menjaga kelestarian alam. 

5. Meminimalkan menggunakan produk yang kemasan sachet (plastik). Biasanya anak-anak lebih mudah tertarik untuk membeli makanan/minuman yang kemasan sachet karena merak pikir itu lebih asyik, tidak perlu repot-repot menyimpan sisanya. Sepintas memang terlihat praktis dan menarik bila membei barang yang kemasa sachet. Tapi bila diakumulasikan dalam sebulan saja, bila pemakaian yang intensitasnya tinggi seperti deterjen, susu, snack, sampah bungkus (plastik) tersebut tak akan cukup diwadahi dalam satu keranjang untuk satu unit rumah tangga.  Kebayang kan jika satu RT, satu kampung, apalagi satu dunia? Yang ada, bumi ini akan tertimbun oleh tumpukan kemasan plastik sachet. Jika penggunaan skala intensif, akanlebih hemat sekaligus bisa berperan mengurangi jumlah sampah plastik yang harus ditanggung oleh planet bumi. 
Pilah samha; buang sampah pada tempatnya
Perduli sampah: Pilah-Pilah Jenis sampah
6. Membiasakan  Untuk  Buang Sampah Pada Tempatnya
Mengajarkan anak untuk buang sampah pada tempatnya juga dapat memberikan wawasan kepada si kecil agar mengerti akan bahaya sampah jika dibuang di sembarang tempat, jelaskan kepada mereka bahwa membuang sampah sembarangan tempat bisa menjadi penyebab pencemaran lingkungan dan juga banjir, nah untuk melatih mereka agar membuang sampah pada tempatnya sediakan tempat sampah yang bisa menampung sampah di tempat bermain mereka. Termasuk juga, contohkan untuk memungut sampah yang tercecer sembarangan dan membuangnya ke tempat sampah sesuai jenis sampah: kertas;  plastik dan botol/kaleng; plastik (bila di public area tersedia bak sampah berkategari)

7. Mengajarkan Anak untuk Hemat Listrik
Nyalakan listrik yang diperlukan dan matikan listrik yang tidak diperlukan merupakan salah satu cara Mengajarkan Anak Agar Cinta Lingkungan.  Mengajarkan anak-anak agar bertanggung jawab saat menggunakan listrik, saat mereka menghidupkan lampu di kamar mereka atau sesudah memakai peralatan listrik seperti komputer ataupun laptop maka tidak ada salahnya jika anda mengajarkan mereka untuk hemat listrik yaitu dengan cara mematikan listrik jika sudah selesai digunakan. 

Dan masih banyak lagi kebiasaan bijak yang bisa diajarkan dan ditanamkan pada anka-anak semenjak usia dini, sehingga terpola dan terpetakan dalam  mind set untuk berperilaku perduli dan cinta lingkungan dalam segala aspek kehidupan dan aktifitasnya sehari-hari. Let’s Save Earth 


Kisah Kasih Permainan Bola Bekel

Membahas tentang permainan masa kecil, Bismillahirrahmaanirrahiim hampir semua saya sukai tidak terbatas pada permainan yang diperuntukkan bagi anak-anak perempuan. Beberapa permainan yang umumnya dimainkan oleh anak laki-laki juga ada yang saya mainkan bersama teman-teman. Mulai dari petak umpet, gangsing, kelereng, das-dasan, engkle (permainan melompat-lompat satu kaki dimana kaki kanan bagian atas dikasih batu sekepalan tangan yang nantinya dilemparkan pada tumpukan batu punyanya lawan), Pathil lele,  lompat tali, kasti, bongkar pasang kertas, cublak-cublak suweng, masak-masakan, layang-layang, yoyo (meskipun tak terlalu piawai), egrank (meski hanya suskses satu – dua langkah), layang-layang juga (pinjam punyae adik), bekel dan masih banyak lagi jenis permainan yang saya mainkan dengan penuh suka cita. 

Oh No, kenapa saya malah ngabsen aneka dolanan jaman unyu-unyu neh???. Harus segera Back to the topic, cerita tentang Permainan Masa Kecil yang punya kisah kasih dramatis yaitu Bola Bekel. Permainan yang mengandalkan pada kecepatan gerak tangan ini termasuk permainan tradisional yang masih bertahan dari masa ke masa. Setidaknya, di era gen Z ini saya masih menjumpai anak-anak yang bermain bola bekel. Permainan yang biasanya dimainkan anak-anak putri, bisa dimainkan  sendiri, berdua atau lebih yang dimulai dengan hompipah atau suit.  
Mainan tradisional; dolanan bocah
Satu Set Mainan Bola bekel
Permainan bekel ini memainkan sebuah bola berbahan karet seukuran bola ping pong dan bisa memantul saat menyentuh lantai (permukaan lantai keras dan halus). Ada 6 – 12 bijih bekel yang dimainkan bersama sebuah bola bekel dengan aturan main yang flexible berdasarkan kesepakatan.
Pada awal permainan merupakan level yang paling mudah yaitu Mi: ‘hanya’ mengambil dan menggengam satu demi satu bijih bekel saat bola masih di udara dan menyebarkannya di lantai semua bijih bekel tersebut. Mulai satu per satu, dua-dua, tiga-tiga dan seterusnya sebanyak jumlah biji bekel yang dipergunakan. 

Jika level Mi yang asal bisa mengambil, menggenggam dan menyebarkan kemabli di lantai sudah berhasil dilewati, level berikutnya adalah menata, mengatur atau memposisikan bijih-bijih bekel tersebut agar sama semuanya. Tahapannya juga sama dimulai satu per satu dan selanjutnya hingga semua bijih bekel habis. Pola permainan lanjutan (versi saya dan teman-teman dulu), ada 4 tantangan penataan posisi (sesuai permukaan  bijih bekel yang terdiri 4 sisi) :
  1. Bagian atas (punggung yang mblendug) atau Roh,
  2. Bagian bawah (perut, yang ada cekungannyan) atau Pit,
  3. Dan dua sisi samping dimana masing-masing sisi ini memiliki tanda yang berbeda, ada semacam tanda TITIK dua dan TITIK tiga .
Bagian perut, yang ada cekungannyan atau Pit
(Dua) sisi samping
Bagian atas (punggung) yang mblendug atau Roh
Permainan akan dilakukan sampai pada level berapa, ditentukan lebih dulu. Semakin tinggi levelnya, berarti semakin banyak bijih bekel yang harus disamakan posisinya dalam sekali lemparan bola bekel. Dianggap gagal dan harus ganti giliran ke teman lainnya ketika bola bekel sudah menyentuh lantai tapi bijih-bijih yang harus disamakan posisinya belum selesai atau bola sudah jatuh duluan. Semakin cekatan dan cepat tangan menata bijih bekel tanpa kesalahan, maka akan semakin lama jatah saya memainkan bola dan bijih bekel tersebut.
Kalau dari sisi menarik, saya yakin mulai generasi awal yang mengenal permainan ini  hingga anak-anak sekarang yang masih melestarikan dolanan bola bekel, (disadari atau tidak) sekaligus belajar mengeksplorasi banyak hal. Ingat saya, SMP masih main bola bekel dan honestly, gara-gara mau ikutan lomba mengenang permainan masa kecil akhirnya membawa saya pada sisi lain dari permainan bola bekel. Beberapa aspek edukatif tersebut  antara lain:
  1. Menstimulasi untuk menerapkan konsep strategi. Untuk bisa mendapat jatah berrmain yang lama tentunya harus bisa mempertahankan diri   dengan seminimal mungkin melakukan kesalahan.
  2. Unsur pembelajaran ilmu hitung (matematika) karena setiap kali mengambil bijih bekel tentu secara spontan kita juga berhitung kan?.
  3. Latihan mengklasifikasikan benda yang bisa dipetik dari level-level memposisikan bijih bekel.
  4. Membuat estimasi atau forecasting dan mengatur strategi kecepatan gerak, seberapa lama bola bekel melambung di udara dan bagaimana caranya agar tangan bergerak cekatan mengambil bijih bekel dan  mengharmonisasikan.
  5. Mengasah percaya diri, kepekaan, ketelitian dan kejujuran, baik saat giliran diri sendiri maupun ketika mengamati lawan main. Yang namanya permainan dengan ragam anak-anak, ada kemungkinan lawan main bablas  melanjutkan permainannya, entah sadar atau sengaja saat sudah melakukan kesalahan.
  6. Ada spektrum untuk belajar berkomunikasi dan berdiskusi alias ada transfer ilmu demokrasi tanpa doktrinasi karena kan masing-masing anak harus punya giliran bermain yang sesuai aturan main yang telah disepakati bersama.  
  7. Belajar sportif, menghargai dan tidak menggangu orang (teman) lain. Saat sedang memainkan bola bekel kan harus memperhitungkan kecepatan tangan agar linear dengan waktu yang dibutuhkan bola bekel sebelum mendarat lagi dilantai.  Sedikit saja terganggu atau kena gangguan, langsung deh buyar konsentrasinya. Mau buktinya, yuk main bola  bola bekel lagi sama saya ?
  8. Dan tentunya juga efektif untuk melatih rasa percaya diri, tetap tenang (sabar) tidak mudah terbawa emosi manakala ada teman yang usil/iseng mencoba  mengacaukan konsentrasi permainan. dengan teman untuk menentukan menang dan kalah.
Point-point di atas tentu hanya sebagian, masih banyak sisi edukasi lainnya yang bisa digali dan dioptimalkan jika ingin menggunakan permainan bola bekel untuk anak-anak di era gen Z ini.
Tapi ada Kisah Kasih Bola Bekel yang terbelah yang tak bisa saya lupakan. Di masa saya masih berjaya dan wajar dengan berbagai aktifitas bermain, sebenarnya mayoritas benda/barang yang dipakai untuk mainan tersebut tidak membeli alias buatan sendiri atau dibuatin oleh saudara atau teman. Saya tidak pernah punya boneka kala itu. Main masak-masakan sudah cukup menyenangkan dengan menggunakan kaleng dan barang bekas lainnya. Eh...karet untuk lompat tali hasil pembelian sih. Intinya, tidak ada kamus untuk beli barang-barang mainan. 
Awal mula saya mulai kenal permainan bola bekel saat masuk sekolah dasar. Hampir tiap kali main nunggu ada teman yang ngajakin. Secara tidak terduga, di suatu hari Minggu ketika kelas 2 SD, sepulang berjualan di pasar (Mbok’e dan salah satu kakak perempuan) memberikan bungkusan yang isinya sebuah bola bekel dan 6 bijih bekel. Gembira, suka cita dan  rasa kejutan indah lainnya membuncah lengkap di hati saya. 
Ada kisah kasih dalam satu set bola bekel yang luar biasa. Saya yang tak pernah terpikirkan untuk minta dibelikan mainan tiba-tiba dibelikan 1 set bola bekel. Terlebih dengan jenis bola bekel yang bening, yang memiliki daya lenting lebih tinggi daripada jenis bola bekel yang penampakannya buthek.

Tak menunggu lama, saya pun segera bermain dengan tetangga sebelah rumah. Dengan mencari lantai (tanah) yang permukaannya halus, kami pun asyik bermain. Menjelang siang, ada temannya  Cak No ~ salah satu kakak saya (kebetulan saya manggilnya juga Cak No dan masih kerabat), datang ke rumah. Tujuannya tentu nyari kakak saya. Sambil nungguin, dia pun tertarik melihat bola karet kecil yang bisa memantul-mantul. Karena penasaran, dia ingin melihat dan memegang bola bekel tersebut.
“ Loh, kok iso pecah ? Ta kiro atos koyo watu dolananmu iki...” belum genap dua menit bulatan bola bekel berpindah dari tangan saya dan sudah kembali dalam keadaan hampir terbelah.
“ Kok sampean cokot to Cak....yo pecah, wong iki karet ?!”
sudah pengen nangis saja saat itu.
Ah, euforia kegembiraan saya segera berubah dengan sesak di dada. Bola bekel dengan penampakan bening berhias semburat gradasi warna mirip pelangi itu nyaris terbelah dalam waktu singkat. Saya pun tak berani minta ganti, bekas gigitannya saya jahit sebisanya disertai rasa perih di hati *dramatis*. Meskipun masih bisa digunakan untuk bermain, tapi lentingannya sudah tak sama lagi melenceng kesana-kemari ketika bekas gigitan yang dijahit tersebut berbenturan dengan lantai. 
Hingga akhirnya bola bekel tersebut benar-benar terpecah belah jadi dua. Selanjutnya saya tidak beli bola bekel lagi selain bergabung dengan teman hingga akhirnya saya lupa kapan terakhir kali memainkan permainan bola bekel. 




"Tulisan ini diikutkan dalam Giveaway Permainan Masa Kecil 
yang diselenggarakan oleh  Mama Calvin dan Bunda Salfa"

Ragam Model Kebaya dan Tata Rias Pengantin Bali

Pulau Bali sudah populer ke antero dunia, dari kutub utara hingga selatan…Bali menjadi tempat wisata impian dan most wanted. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim mari melihat sisi lain dari Bali, yaitu tentang salah satu kekayaan budayanya: Ragam Model Kebaya dan Tata Rias Pengantin Bali.

Di beberapa daerah di Indonesia, kebaya merupakan salah satu busana tradisional yang dikenakan oleh wanita. Seirama dengan perkembangan dunia fashion, kebaya juga mengalami pengkayaan baik dari segi jenis kain kebaya maupun model-model kebaya sehingga bisa dikenakan pada berbagai acara seperti kebaya modern, brokat, lengan pendek serta kebaya muslimah juga semakin banyak diminati oleh berbagai kalangan masyarakat. 

Setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing, salah satunya Bali yang merupakan daerah yang sangat kentara akan unsur budayanya. Busana kebaya begitu lekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali dan banyak dikenakan baik oleh anak-anak, remaja, hingga wanita dewasa seperti pada saat upacara adat dan juga keagamaan. Selain itu kebaya adalah busana pernikahan Bali yang banyak dipakai oleh mempelai wanita, dengan pengaruh perkembangan fashion, kebaya modern Bali pun kini menjadi pilihan kebanyakan para pengantin. 

Desain kebaya di berbagai daerah itu berbeda, untuk model kebaya Bali selalu identik menggunakan ikat pinggang berbahan kain, warna ikat pinggang kain memiliki warna yang kontras dengan warna kebayanya. Umumnya ikat pinggang kain pada kebaya Bali berbentuk pita yang biasanya terdapat semacam aksesoris bentuk bunga dengan warna yang senada dengan pitanya. Ciri kebaya Bali lainnya terletak pada bentuk atau motif bunga teratai dan bulat yang menjadi corak khas kebaya. Warna dominan yang sering dipakai seperti warna putih, merah, jingga, dan kuning.

Model Kebaya dan Tata Rias Pengantin Bali
Kebaya modern Bali mampu menarik minat para wanita khususnya calon pengantin dikarenakan sentuhan warna, pola, dan desain kebaya selalu menampilkan kecantikan dan keanggunan yang memakainya. Bagi para calon pengantin membuat busana pernikahan adalah hal yang penting dan tidak sembarangan, selain itu untuk tata rias pengantin pun tidak kalah penting, pemilihan wedding make-up artist harus yang sudah berpengalaman dan kiprahnya tidak diragukan lagi.

Yenny Gunawan - House of Beauty  adalah salah satu salon kecantikan terkenal di Bali yang sudah lebih dari 10 tahun berkecimpung  di dunia tata rias pengantin dan memiliki testimonial dari banyak pelanggan yang merasa puas dengan hasil kerjanya. Yenny Gunawan merupakan pendiri dan direktur di YG House of Beauty, selalu menghadiri kursus profesional hingga skala acara internasional tahunan untuk menjaga tren dan hal baru di industri kecantikan. Dengan berbagi pengetahuan menguntungkan ini Yenny Gunawan mampu membentuk tim make-up artist berbakat. calon pengantin banyak memilih YG House of Beauty karena selain wedding make-up, di sini juga disediakan layanan untuk tata rambut, manikur, pedikur, perawatan tubuh, dan kecantikan lainnya. Biasanya setiap pasangan calon pengantin ingin tampil maksimal dengan melakukan perawatan diri sebelum pernikahan. YG House of Beauty merupakan salah satu tempat perawatan dan tata rias rambut serta make-up artis terkemuka di Bali yang secara profesional terlatih dan berpengalaman dalam bekerjasama dengan berbagai koordinator pernikahan dan wedding organizer.

Dengan kerjasama cerdas dengan merek kosmetik internasional dan kepercayaan serta evaluasi positif oleh banyak pengantin dari berbagai negara seperti Indonesia, Australia, Jepang, Korea, Hongkong, Malaysia, India, Taiwan, Singapura, Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, dan negara lainnya membuat YG House of Beauty menjadi salon kecantikan di Bali yang diakui secara nasional dan internasional. Calon pasangan pengantin yang akan melangsungkan pernikahan di Bali banyak memilih YG House of Beauty khususnya untuk tata rias pengantin Karena YG dapat menyesuaikan permintaan pasangan baik dengan tema tradisional Bali ataupun yang mengusung gaya internasional.

Beberapa referensi untuk pemilihan kebaya dan tata rias wajah pengantin lainnya dapat dilihat di link http://www.bridestory.com/indonesia/bali/bridal. Misi dari Yenny Gunawan - House of Beauty adalah untuk membantu setiap pasangan pengantin mewujudkan impian pernikahan mereka menjadi kenyataan.

Aksesibilitas Fasilitas Publik untuk Difabel

Teknologi selalu berkembang, itu salah satu sifat bawaan yang melekat pada sel hasil-hasil budaya yang dinamakan TEKNOLOGI. Perkembangan dan penemuan teknologi terbarukan Bismillahirrahmaanirrahiim goalnya tentu untuk memfasilitasi segenap lapisan masyarakat demi kehidupan yang lebih nyaman dan mengikuti peradaban yang beradab.  Secara general, fasilitas umum maupun produk teknologi didesain dan dikembangkan dengan mengacu pada konsumen mayoritas yakni orang-orang yang terlahir dengan organ tubuh yang lengkap dan normal. Alhamdulillah, sekarang sudah semakin meningkat keperdulian untuk memprioritaskan ketersediaan fasilitas dan aneka produk teknologi  yang aman, nyaman dan sesuai dengan kebutuhan difabel. 

Bukankah, sejatinya semua barang/produk dirancang sedemikian rupa agar ergonomis saat digunakan oleh user atau konsumennya yakni orang-orang yang terlahir dengan anatomi yang lengkap dan berfungsi dengan baik. Maka sudah seharusnya yang disability juga mendapatkan prioritas untuk tersedianya peralatan, device, tools dan perlengkapan lainnya yang sesuai dengan kondisi mereka. Menjadi difabel tak hanya karena faktor bawaan lahir, tapi termasuk juga karena kecelakaan/sakit yang menyebabkan suatu ketidakmampuan organ tubuh untuk melakukan fungsinya sebagaimana orang normal pada umumnya. 

Dan jika berbicara tentang Fasilitas Publik yang ada di Indonesia, memang sih secara umum masih sekedar demi “mematuhi” peraturan yang mewajibkan fasilitas yang layak, sesuai dan ergonomis untuk memfasilitasi aktifitas difabel.  Bisa kita lihat sekarang di berbagai tempat umum seperti gedung-gedung perkantoran sudah ada tangga yang khusus, di depan pintu masuk juga tersedia desain lantai yang landai (miring), selain undag-undakan. Demikian juga di terminal, stasiun, di bandara, ruas jalan raya, jembatan penyeberangan. 
Fasilitas "rute" yang diperuntukkan untuk Difabel
Tangga yang di desain miring/landai
Iya sih, ada yang masuk dalam noted, seperti garis warna kuning yang ada di ruas kanan-kiri jalan raya, sepertinya masih banyak masyarakat yang belum memahami arti, fungsi dan peruntukannya. Ruas garis warna kuning yang sengaja dibuat untuk difabel tersebut tak jarang yang mengalami alih fungsi jadi tempat berjualan dadakan/musiman.  Selain itu, yang belum terlihat nyata adalah keberadaan fasilitas untuk disabilitas di tempat parkir. Lha iya kan, yang menggunakan atau sekedar melewati area parkir kan tidak hanya diperuntukkan bagi orang-orang normal?  

Sebagai perimbangan mengungkit-ungkit ‘kekurangan’ sarana dan prasarana yang diperuntukkan untuk difabel, perlu diapresiasi jika semakin meningkat keperdulian dari berbagai pihak (pemerintah, swasta, parpol, LSM, dan ormas lainnya) untuk memberikan fasilitas yang memiliki nilai ergonomis bagi disability. Kota yang ramah dan nyaman bagi disability, semoga bukan slogan semata. Produk-produk teknologi baru juga mulai mengeluarkan item yang diperuntukkan bagi kaum difabel. Seperti yang pernah saya baca, bahwa saat ini sudah dikembangkan alat bantu dengar bagi yang memiliki pendengaran kurang jelas. Tersedia aneka buku dengan huruf Braile, termasuk juga Al-Qur’an yang dirancang menggunakan huruf model Braile. Semoga tak lama lagi, akan ada penemuan gadget yang tepat bagi yang penglihatan dan pendengarannya tidak jelas. Juga peralatan rumah yang bisa dikontrol menggunakan suara bagi yang kondisi tangan/kakinya tidak berfungsi secara normal.   

Mendadak Epilog:  Menjadi Disabilitas/Difabel bukan pilihan. Mereka tetap memiliki hak yang sama untuk membuat pilihan melanjutkan kehidupannya dengan layak, beraktifitas dengan optimal dan mengukir prestasi semaksimal mungkin selayaknya orang-orang pada umunya. Difabel bukan orang yang Impotential. Mereka juga punya semangat, cita-cita dan cinta. Orang-orang yang difabel juga memiliki potensi yang equal untuk berkontribusi, berkarya dan berprestasi dalam lingkungan bermasyarakat.


Belajar MEMBACA Lukisan

Ada yang bilang bahwa selain seperti panggung sandiwara, hidup juga bisa diibaratkan “lukisan”. Lukisan adalah out put dari hasta karya saat tangan memainkan kuas dengan memoleskan warna-warni di atas kanvas. 

Bismillahirrahmaanirrahiim, Bagaimana hasil lukisan tergantung pada keputusan kita memilih warna dan mewarnakannya pada sketsa yang telah dibuat. Sketsa yang telah dibuat pun masih ada peluang untuk mengalami revisi dan perbaikan manakala dicermati (sebelum dimulai pewarnaan) ternyata perlu ada tambahan atau pun penyesuain bentuk.  Saat kuas yang kita pegang bergerak gemulai menggoreskan wewarnaan ke atas selembar kanvas dengan kombinasi-kombinasi tertentu, bagaimana hasilnya pun tergantung warna yang kita  pilih dan komposisi. Akan bagaimana hasilnya, tergantung siapa dan bagaimana caranya melihat dan menilai. Termasuk juga apakah melibatkan unsur subyektifitas atau pure menggunakan sudut pandang yang obyektif.. Apalagi jika yang jadi obyek adalah lukisan beneran? Artinya, ada banyak variable yang mempengaruhi sebuah opini, pendapat, penilaian dan seterusnya.

Aiiiihhhh, tulisannya lagi begaya sok ngerti dunia lukis melukis ya? Sekedar coret-coret menggambar bunga matahari, sawah dan gunung, Alhamdulillah bisa sih yang hasilnya seperti anak TeKa belajar menggambar. Tapi melihat dan menilai sebuah karya lukis?. 
karya lukis; seni lukis; hobi melukis; hobby; art; painting; lukisan; kaligrafi
(Hadiah) Lukisan Kaligrafi
“Menurutku setiap lukisan ya indah dan artistik karena merupakan karya seni…” demikian jawab saya ketika minggu lalu Kang Suami membawa pulang lukisan kaligrafi dan menanyakan pendapat saya mengenai lukisan tersebut.
 “ Emang lukisan dari siapa ?”
“ Titipan dari Habib Novel, katanya buat istrinya Abii…”
“ Emang Habib sekarang suka melukis juga ya ?”
“ Di kasih pas ngisi pengajian di sekolah apa gettu. Lukisan dari salah satu siswa di sekolah tersebut. “
“ Terus piye kalau jawaban dari sisi kuratorisme…nyrempet-nyrempet sedikit bolehlah…anggap saja 
Belajar MEMBACA Lukisan 
“ Hemmm….apa ya? Secara teknik melukis, sepertinya sudah bagus skill-nya. Goresan warnanya halus, gradasinya natural. Komposisi warnanya juga oke…Secara keseluruhan sudah oke tuh. Dan….menurut sudut pandang orang amatir dan gagap soal lukisan neh, kalau improvisasi pada back ground di mainkan lebih lepas lagi, lukisan kaligrafi ini bisa deeply impression at the first sight “, *demikian kupas singkat dari orang yang gak ngerti tentang lukisan. After all, highly appreciated untuk sang pelukisnya. He painted so well *
Ketika lukisan sudah selesai dan warna mengering, beberapa waktu berlalu dan saat kita melihatnya lagi, “rasanya” ada yang kurang pas atau bahkan “keliru” penempatan warnanya. The painting is painted. Perhaps, kita masih bisa mempermaknya lagi. But there is more important lesson than just make over it. Diluar konteks Ilahi sang Maha Pelukis, bukankah ada nasehat yang bijak: lukisan yang telah jadi tak ubahnya seperti hari kemarin yang tak bisa di otak-atik lagi. Tapi masih ada kanvas-kanvas berikutnya yang lebih penting untuk diwarnai agar menjadi lukisan yang lebih indah dari sebelumnya. Tentu saja dengan belajar mengambil pelajaran dari lukisan sebelumnya. 

Seorang pelukis tak akan berhenti dengan satu karya lukis. Lukisan yang sudah jadi tak perlu terlalu disesali, sejelek apapun itu. Merasa kecewa dan menyesal, it’s normal for being human. BUT One (fine) day, saat melihat lukisan yang dianggap lukisan “gagal” tersebut, kita tak akan tahu kalau justru akan bisa tersenyum dan deep inside mengakui bahwasanya setiap pilihan yang kita buat akan membawa pada pilihan-pilihan baru berikutnya yang harus disikapi dengan pengambilan keputusan. 

Tips Aman Saat [harus] Berlama-Lama di Depan Komputer

" Walau sibuk oleh berbagai rutinitas harian, relaxing our body and eyes (bagi yang seharian duduk manis di depan kompi), jangan sampai lupa, ya! Dan bagi yang wara wiri, hilir mudik (emang setrikaan), juga lakukan variasi gerak, atau duduk manis dulu sebentar biar ada variasinya, so that our body won't be lazy and being saturated ..” demikian sapaan manis Mbak Alaika di grup FB beberapa hari lalu.  

Ah iya….she’s completely right. Di sela-sela kontinyu mantengin laptop dalam beberapa minggu belakangan ini, saya nekat Bismillahirrahmaanirrahiim sesekali ngintip medsos. Pas baca status tersebut jadi pengen merasa “wah ini kalimatnya Mbak Al kok seperti dispecialkan buatku ya?*Ge-eR membabi-buta*. Saya bukan seorang programmer/IT atau desainer blog, juga bukan pula pegawai perbankan meskipun akhir-akhir ini intensitas untuk mantengin monitor PC/Laptop jadi meningkat significant

Berjam-jam duduk di depan lapi, sejak sign in pagi di kantor hingga lewat jam pulang masih khusyuk di laptop bersama setumpuk dokumen dan data, merupakan menu yang harus saya nikmati as well pokoknya. Lha kalau gak berusaha menikmatinya, wong itu pekerjaan yang harus saya selesaikan kok. Jadi ambil enaknya saja, Desember – Januari ini, tak hanya meja kerja yang berubah jadi kapal pecah tapi juga durasi +10 jam dalam 24 jam berhadapan dengan monitor, tak bisa saya hindari.
Iya sih, I'm not the only one, masih ada banyak orang lain yang durasi kerja berhadapan dengan komputer lebih lama lagi, lebih dari 10 jam banyak kan? Dan demi keamanan dan kesehatan, saya pun kudu concern menerapkan pola sikap yang bijaksana saat duduk di depan komputer untuk meminimalkan efek-efek negatif pada mata, leher kaku, punggung-bahu pegal dan pinggang sakit (lupa minum air putih). Walaupun pada prakteknya masih banyak yang menyimpang atau pun tidak konsisten untuk menerapkan pola-pola pengamanan diri saat duduk di depan perangkat kerja digital alias notebook kesayangan, tapi sebisa mungkin tetap berusaha. Dan hasilnya? Let’s check it below:
  1. Mengatur tingkat pencahayaan dari layar monitor dan penerangan ruangan yang cukup dengan harapan agar bola mata tetap nyaman. Faktanya, setelah beberapa hari-hari “intim” menerima pendaran cahaya monitor,  mata mulai terasa lelah dan perih (berair). Solusinya, ya saya perlu mengaktifkan penggunaan KACA MATA minus yang selama ini super duper jarang dipakai, kecuali kalau ada undangan rapat atau seminar dan perlu baca paparan materi jarak jauh (layar LCD).
  2. Melihat objek (lain) yang jauh selama  beberapa detik, 10-15 detik. Biasanya saya mengedarkan pendangan ke arah jendela untuk menyejukkan mata dengan melihat hijau dedaunan ataupun panorama langit saat cerah. Alhamdulillah, di sekitar kantor dan rumah masih banyak lahan hijau. Idealnya hal ini dilakukan tiap  10 - 15 menit, pada prakteknya saya masih sering kelupaan. Kalau sudah fokus mengerjakan atau entry apa gettu, kelupaan untuk mengalihkan pandangan ke arah lain.  
  3. Stretching atau menggerakkan badan agar segenap otot tidak mengalami kekakuan “freeze”. Hal ini bisa dilakukan dengan berdiri sejenak, berjalan-jalan atau gerakan lainnya. Intinya yang penting ada aktifitas menggerakkan anggota badan. Pada prakteknya, yang paling bisa saya lakukan baru sebatas mulet-mulet atau menggeliat itu lhoh. Sama memutar pergelangan bahu seperti ajaran yang diberikan oleh guru olah raga kala hendak mulai senam. 
  4. Hal berikutnya yang harus dijaga saat berada di depan komputer adalah mengatur posisi duduk dengan posisi punggung tegak lurus (90 derajat) dengan posisi keyboard  sekitar 100 derajat dari siku. Hafal sih teori ini, tapi setelah sekian puluh menit tak jarang posisi punggung pun mulai condong ke depan/agak membungkuk. Beberapa saat berlalu, baru deh ingat kalau posisi duduk menyimpang dari kodrat tegak lurus. Hehehehee…*kayaknya kudu menyalakan alarm neh*
  5. Menjaga jarak layar komputer sekitar 50-75 cm. Oke fixed, tapi mendekati 50 cm sih. Masih masuk batas tolerasi kan ya? *kayak nawar cabe saja neh*
  6. Jangan lupa tetap minum air putih minimal 1,5 Liter. Alhamdulillah, kalau yang point ini bisa saya ikuti dengan patuh lho? *acungin jempol ahhh* Secara, hal ini sudah saya biasakan sejak bertahun-tahun lalu, yaitu saat kerja harus ada sebotol gede air putih yang siap dikandaskan. Dengan menyandingkan sebotol air putih, cukup efektif untuk memenuhi kebutuhan konsumsi air selama berlama-lama di depan PC. Pengalaman saya sendiri, kalau masih kudu ambil air minum dari galon dulu....yang ada kelupaan atau kena virus: ntar-ntar-ntar dulu ahhh. Jadi, sediakan air putih di dekat tempat kita berlama-lama duduk menghadapi komputer dan secara berkala, diminum sedikit demi sedikit...habis deh sehari 1,5 liter air. 
Antara teori dan praktek, bagaimana memposisikan diri yang aman dan nyaman saat harus bertoleransi terhadap ritme aktifitas yang butuh berlama-lama di depan komputer, ada variasi lain yang tetap saya usahakan demi menjaga otak saya tidak saturated  ketika “disuapi” angka dan data-data yang harus dicermati.  Any one can guest apa variasi lain yang menarik tersebut? 

Yakkk, betulll….variasi yang bisa bikin enjoy full adalah: Listen the Music/Movieup date blog dan sesekali selfie. Jadi selain berusaha mematuhi pola aman saat bekerja berhadapan dengan komputer, ada Tips Sehat Ketika [harus] Berlama-Lama di Depan Komputer ala-ala saya yang bisa bikin relaksasi pikiran dengan bikin tulisan untuk blog. Tulisan ini hasilnya, sebagai salah satu variasi yang mencairkan kesuntukan mantengin layar monitor komputer. Hip….hip…keep happy blogging itu harus kan?

Kalau anda, apa yang disukai untuk memvariasi kala harus berjam-jam kerja di depan komputer?


Menelisik Trend [Postingan] Blogger Indonesia Tahun 2015

Apakah tema yang bakalan nge-trend jadi postingan blogger Indonesia tahun 2016? Tematik yang disodorkan untuk challenge perdana Liga Blogger Indonesia di musim ke empat ini, boleh kan jika saya spesifikkan lagi lebih ke POSTINGAN/entry Blog. 

Tentunya tantangan ini membuat saya terusik sampai kebawa mimpi, “kira-kira apa ya yang bakalan ngetrending di dunia perbloggeran tahun ini?”.  Kalau topic yang heboh (baca: POPULAR POST) di blog saya sih jelas terlihat yaitu Kenapa Ular masuk rumah yang memiliki nilai perolehan PV sangat melesat bagai meteor dibandingkan entry lainnyas. Tapi kalau Tren-tren yang bakalan jadi trending-nya blogger Indonesia 2016, " Apa yaaa...?" *terus lanjut ngerjain laporan lagi*

Sedangkan pengelola blog ini pun masih setia menganut paham kemana angin berhembus, maka ke arah situ akan bergerak. Maksudnya dalam membuat postingan, saya Bismillahirrahmaanirrahiim masih lebih mengikuti gregetnya hasrat hati saja. 
Saya belum sampai bikin komitmen ikutan tren tema yang sedang ngehits untuk jadi main stream postingan di blog saya. Seadanya ide dan sebaik saya bisa untuk menelorkannya jadi postingan, I’ll do it. 
Tanpa eksepsi kalau ada tawaran JR=Job Review, akan ada kata sepakat YES kan juga didukung greget hati , meski sekedar dikasih free sample, atau di undang ke acara, intinya yang penting merasa KLIK, dijabanin lah bikin review. *nah lhoh?!* 
lifestyle; fashion, Kesehatan; kuliner' wisata' traveling' parenting; family; relationship
Terlanjur nyebutin postingan yang beraroma review, nada-nadanya akan semakin merambat cepat grafik tren blogger yang berlabelkan “REVIEW” ini.  Setahu saya, dua tahun belakangan ini semakin banyak stake holder yang terhipnotis oleh daya magis ulasan-ulasan yang dibuat para blogger. Bukan hanya daya kompetitifnya sebagai media iklan melalui jejaring blogger yang memiliki nilai efektif, efisien dan lintas ruang,waktu, usia, gender, komunitas, de-el-el….pastinya kalau dikalkukasi, ngebudget buat job review untuk sekian puluh atau bahkan ratus bloggler akan masih lebih hemat ketimbang bayar artis untuk jadi model ikaln dan atau pun sekedar ngasih testimoni beberapa patah kata tuh. 

Tren Postingan Review (dalam berbagai bidang) semakin booming di tahun 2015 lalu dan bukan tak mungkin akan semakin luas jangkauannya. Buktinya, sudah mulai banyak  Undangan Acara  baik dari instansi Pemerintah, perusahaan, ormas, parpol yang merangkul komunitas blogger yang diselenggarakan tak hanya di kota-kota besar. Launching product, promosi dan aneka publikasi lainnya yang sifatnya profit maupun nirlaba, semakin meningkat agregatnya untuk melibatkan blogger hingga ke ke daerah karena tak bisa dinisbikan kalau keberadaan komunitas blogger maupun pelaku aktif netizen yang menggunakan media blog maupun akun sosmed saat ini sudah menggurita dari Sabang sampai Merauke.   

So…so… epilog cerita,
Selain geliat tema postingan tentang kuliner, wisata, parenting, FASHION, Tekno (IT) yang sudah existing sejak beberapa tahun lalu, maka postingan REVIEW, baik yang sifatnya inisiatif personal maupun inisiasi sebuah brand (job review) memiliki peluang besar untuk menjadi tren blogger di 2016 ini. 

Bagaimana menurut Anda, apa  kecenderungan Tren Blogger Indonesia Tahun 2016 ini? 

Hup….Hup…Huraiiii, Ikut LBI lagi

Liga Blogger Indonesia, kompetisi menulis di blog yang dikemas seperti liga sepak bola dengan penilaian dari perolehan poin, tahun ini menginjak musim ke-4. Tapi Bismillahirrahmaanirrahiim merupakan putaran ketiga bagi saya ikut LBI.  Hup….Hup…Huraiiii, Ikut LBI lagi….siap-siap sembako, camilan dan aneka makanan ringan ah. *byuhhhh, iki arep melu LBI opo arep lomba penggemukan yaaa?*  Yang jelas, Alhamdulillah gak perlu ikut babak seleksi/kualifikasi untuk berkecimpung di putaran LBI 2016 karena ada kuota 10 blogger yang diambil dari peserta LBI musim sebelumnya. Jadi total peserta yang disahkan dalam event LBI 2016 ini sebanyak 40 blogger, 30 blogger merupakan hasil seleksi pada babak  kualifikasi yang berlangsung bulan Nopember – Desember. 

Sesi seleksi ini merupakan salah sistem yang terbilang baru jika dibandingkan di tahun pertama dan kedua perhelatan LBI digulirkan. Iyaaaaa, kala itu kan siapa saja yang daftar di eprup lhoh? Mekanisme yang terbilang baru di tahun ke-4 penyelenggaraan LBI ini adalah jumlah postingan per minggu cukup dua saja tapi masa perlombaan dipanjangkan hingga bulan April. So sweet….tralalalaaa…trililili….
Lomba; blog; kompetisi; relationship; friendship
Pict by: Lyly Nur ( Blog LBI: www.ligabloggerindonesia.blogspot.co.id)
Pada perjalanan kompetisi LBI ini juga berlaku seleksi alam yang berlangsung secara alamiah. Pekan demi pekan, ada peserta yang akhirnya tidak bisa ajeg memenuhi kuota 3 postingan  terdiri dari 2 postingan bebas dan 1 psotingan dengan tema yang ditentukan. Artinya, selama musim kompetisi berlangsung (Januari – Maret) harus membuat 36 tulisan. 

Saya yakin *positive thinking*, teman-teman yang akhirnya tidak bisa menyelesaikan tantangan hingga akhir musim kompetisi punya alasan yang cukup mendasar. Setidaknya saya melihat ke diri sendiri, dua kali mengikuti LBI tapi ada beberapa kesempatan dimana saya tak bisa memenuhi target postingan. Tak hanya postingan yang bertema bebas, bahkan yang ditentukan temanya  sempat beberapa kali “absen”. Tentunya, keabsenan posting (apalagi yang tematik) akan mempengaruhi perolehan poin. 

POIN dan POIN…siapa yang memperoleh poin tertinggi, dialah yang akan jadi juara. Dan dua kali saya ikut LBI, Alhamdulillah juara juga lhoh? Juara karena bisa bertahan hingga musim kompetisi usai. Juara karena bisa mengungkit dan membangkitkan kembali greget saya dalam menulis. Walaupun, irama blogwalking saya masih belum prima dan masih pada pola random. Parahnya lagi, saya yang berkomitmen untuk merespon setiap comment yang masuk tapi nyatanya beberapa postingan tidak terjamah respon dari saya. Mau tahu gimana rasanya? Kalau rasa gado-gado sih enak. Nano-nano juga masih yahutt. Rasanya pedes-pedes pahit dan pahitnya lebih pahit dari jamu pahitan yang pernah saya pesan dari Embak jamu yang biasa jualan ke kentor. Ehemmmm, pahit dan pedes diaduk-aduk dengan gaya sentrifugal kayaknya tuh. *duuhh, kok malah nglantur curcol sih??*
Wajah-Wajah Sumringah Kontestan LBI 2016
(Pict By: www.ligabloggerindonesia.blogspot.co.id)
At least, it’s not about how to be winner. 
Apalagi item hadiahnya juga belum dipublikasikan (pola yang masih sama pada penyelenggaraan sebelumnya). Diluar perwujudan hadiah *halah, ngomongin hadiah maneh*, secara genarally tentu keikutsertaan ke LBI ini memiliki golden efect terkait aktifitas menulis pada umumnya. Dan khususon ikut LBI ini akan memberi manfaat tambahan lagi seperti : 
  1. Trigger untuk menulis dengan lebih baik, mengasah “pena” agar lebih luwes merangkai kata-kata yang santun tapi tetap renyah dan gurih untuk dibaca. Wishfull sih bisa bermanfaat dan memeliki spectrum kebaikan yang evergreen.
  2. Jadi “Mak comblang” yang mempertemukan dengan teman-teman baru, komunitas baru juga informasi baru lainnya. Sepintas yangs aya lihat, 30 peserta baru LBI kali ini banyak yang belum saya kenal sebelumnya di ranah perbloggeran. So, tidak menutup kemungkinan dong event LBI ini bisa menjelma jadi MAK COMBALNG beneran bagi yang masih single and available
  3. Manfaat Sekunder yang tak kalah ciamiknya….pengaruh positif terhadap statistik blog, terutama ada traffic source untuk PV blog dari para kontestan LBI lainnya. Iya sih, PV memang mmeiliki hubungan linear dengan keaktifan dalam meng-up date blog. Ada new entry, ada peluang menambah PV. Nah, apalagi ikut LBI ini yang ada duel poin yang didasarkan dari perolehan comment terhadap postingan tema. 
Sebelumnya dan dengan segala kerendahan hati saya mengakui duluan kalau (kemungkinan) adu poin terhadap postingan tematik, saya tak bisa bersaing secara maksimal. Sekaligus menyampaikan permintaan maaf bagi siapa saja yang sudah berkenan singgah di blog saya ini tapi saya belum bisa berkunjung balik. Dan tentunya, ucapan terima kasih bagi semuanya yang berkenan meluangkan waktu beranjang sana kesini. 
Everything need (serious and hard) efforts, fight, and prays!

Karena [menurut saya], tak ada yang benar-benar mengalir tanpa hambatan seperti air dari lereng pegunungan. Lha wong air  yang mengalir  dari tempat yang lebih tinggi pun butuh adanya gaya gravitasi agar bisa mengalir (turun) kan? Kalau dalam  rute perjalanannya terdapat bongkahan batu, nah si air pun berusaha membelokkan alirannya menghindari batu agar tetap lancar mengalir hingga ke muara kan? So, let’s GO TO THE BETTER LIFE….termasuk better dalam ngeblog.


Ini bukan RESOLUSI Tapi Melanjutkan Harapan (Untuk Lebih Baik)

Menjelang akhir tahun dan menyambut lembaran tahun baru, cukup banyak yang mencanangkan resolusi untuk setahun ke depan. Membaca sekian postingan yang mengusung tema tentang resolusi, membuat saya pun bertanya pada diri sendiri (seperti tahun-tahun sebelumnya): Apakah Resolusiku? lagi-lagi saya wordless, mau menyusun rangkaian resolusi apa? Bukannya anti mainstream, tapi saya pancen bisanya ya: kerjakan apa yang bisa dikerjakan (sekarang). Jika A,B,C bisa dilakukan secara multitasking atau seperti alur network planning, dimana membuat pondasi rumah bisa dikerjakan barengan dengan membuat kusen jendela dan rangka pintu, why not? Walahhh, kok nglantur ke pondasi dan kusen.

Intinya, Bismillahirrahmaanirrahiim saya pun sebenarnya punya resolusi. Dan mengawali postingan di tahun 2016, maka inilah kisah tutur tinular tentang resolusi yang akan selalu jadi trending topic antara akhir tahun dan awal tahun.  

Tarararaaaa…..
Resolusi UTAMA saya sangat-sangat simple saja, yaitu melanjutkan Resolusi (lebih tepatnya HARAPAN) tahun sebelumnya: berusaha menjadi diri yang lebih baik sebagai pribadi (anak, adik, kakak, menantu, adik ipar, kakak ipar dan hubungan lain yang terpaket dari pernikahan), seorang istri yang baru bisa masak asal-asalan (asal bisa dimakan dan tidak meracuni) dan Ibu yang full time bekerja (tanpa ART) dengan 3 anak (semoga diberikan kepercayaan untuk memiliki keturunan lagi). *sekompi atributnya*

Dalam hal ini, poros resolusi saya adalah beruasaha bermetamorfosa setiap hari karena setiap hari pula menjalani peran baru. Terlebih hubugan ibu dan anak yang saya miliki baru dimulai sekitar 3 tahun lalu. Begitu menikah, saya langsung menjadi sosok ibu sehingga banyak hal yang harus saya lakukan secara doing by learning ataupun sebaliknya. Menjadi Ibu sebulan lalu, tidak lagi sama dengan bulan berikutnya. Usia anak yang bertambah diperlukan derajat pemahaman dan penyikapan yang meningkat dengan komunikasi dua arah. Terlebih di era digital dengan keragaman tantangannya terhadap tumbuh kembang anak-anak yang menginjak remaja. Nah, salah satu skill yang harus bisa saya tingkatkan adalah KOMUNIKASI terutama dengan anak-anak. Bukan berarti komunikasi yang lancar, akrab, akur dan asyik dengan pasangan itu gak penting lhoh ya?
Better Life; love; story; truelove; life; family; parenting; adventure

Sadar-sesadarnya dan saya tak hendak mengelak  terhadap “tuduhan” teman-teman dekat kalau saya itu gaya bicaranya ceplas-ceplos, ngasal, kadang terlalu jujur sehingga membuat teman bicara speechless. Hopefully, saya berharap melalui komunikasi yang efektif dan friendly agar anak-anak bisa merasa nyaman, kami bisa saling sharing apa saja, curhat layaknya bersama teman. Dan apa yang perlu saya lakukan? Just flowing, lihat interestnya anak-anak dan angkat topik bicara dari hal-hal sederhana yang disukai tersebut. Hasilnya? Yaaaaah…masih ada sesekali moment saya jadi gagap bicara, mau dilanjut ngomongin apa lagi yachhh?” *plakkk*. 

Selain resolusi Utama di atas, tiba-tiba kok saya dapat wangsit untuk mencantumkan harapan spesifik terkait hobi menulis di blog alias ngeblogging.  Seperti sudah sekian kali saya tulis bahwa di awal saya menulis di blog masih asal-asalan menulis demi menyalurkan hobi dan tidak paham dunia blogging selain posting. 

Time goes by dan semakin ke kini, semakin banyak pembelajaran saya dapatkan sejak aktif menulis di blog: jejaring persahabatan yang konstruktif, pengkayaan wawasan, mengasah olah rasa, “menghidupkan” pikiran serta berkah ngeblog yang sama sekali tidak terbersit sebelumnya: menghasilkan penghasilan dari aktifitas blogging ini (baik  review maupun dalam bentuk materi lainnya). Bahwa menulis tidak akan pernah berhenti pada satu tulisan, akan muncul wawasan baru dengan pemahaman kekinian untuk ditulis dan dibagikan. Makanya saya ingin  lebih jauh lagi dalam ngeBLOG dengan meningkatkan dan mengembangkan kemampuan menulis, syukur Alhamdulillah jika bisa menjejak ke media lainnya dan belajar mempermak blog. Pengen banget permak sendiri blog ini biar lebih feminin seperti pemiliknya *dilarang protes karena saya merasa feminin meskipun masih sering tampak dominan style tomboy*

Untuk tahun ini dan masa-masa yang akan datang, Semoga saya bisa melakukan sesuatu yang lebih baik lagi bagi diri saya, keluarga dan orang lain. Maka, demikianlah  muara resolusi sederhana saya yaitu  GO TO THE BETTER LIFE