Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Gelar Pasar Lebaran

Gelar pasar Lebaran sepertinya Bismillahirrahmaanirrahiim sudah menjadi event rutin di banyak kota dan daerah di Indonesia. Boleh kan jika kita endapkan dulu kontroversi diadakannya pasar lebaran VS tujuan Puasa? Mari kita melihat sisi lain yang semoga sepadan kebaikannya dengan “godaan konsumtif” yang menyertai gemebyar pasar lebaran.

Agenda pasar lebaran yang didakan di Kabupaten Sleman, tepatnya di halaman kantor Disperindagkop Sleman merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan saat momentum Bulan Ramadhan. Senada dengan tema yang diangkat dalam penyelenggaraan pasar lebaran tahun ini adalah “ Bangga Berlebaran dengan produk Sleman “ karena tujuan utama Gelar Pasar lebaran adalah dalam rangka mempertemukan 80 UMKM dan koperasi binaan Disperindagkop dengan masyarakat. Dengan kata lain, adanya event ini merupakan sarana bagi para pelaku usaha mikro, kecil dan menengah yang berada di wilayah Sleman untuk memperkenalkan produknya. Istilah kerennya TEST MARKET, terutama bagi pelaku usaha yang baru merintis usahanya seperti para kelompok yang terbentuk dari hasil-hasil pelatihan industri yang diberikan oleh Disperindagkop selama ini.


Tak heran jika 80an stand yang mengikuti pasar lebaran ini menawarkan aneka barang dagangan yang diklasifikasikan dalam tiga kelompok besar yaitu: Aneka Produk makanan dan kue-kue, Fashion dan AKSESORIS, serta produk kerajinan. Harga-harga yang ditawarkan tentunya belum mengalami pertambahan nilai karena langsung dijual oleh sang produsennya kok.   


Selain itu, melalui kegiatan Pasar Lebaran juga merupakan sarana untuk melakukan kegiatan sosial yaitu penjualan paket sembako murah dengan sasaran pembeli warga/masyarakat kurang mampu. Cara pembeliannya dengan menunjukkan voucher yang sudah di distribusikan sebelum hari H pelaksanaan kegiatan. Harga satu paket sembako adalah Rp. 20.000,- yang akan mendapatkan barang senilai Rp. 50.000,- yang terdiri dari: Beras 2 kilogram, Gula pasir 1 kilogram, minyak goreng satu pouch (kemasan 1 Liter), kecap 1 botol dan produk makanan UMKM Sleman.

Gelar Pasar lebaran ini juga diharapkan bisa menjadi penetrasi terhadap trend melonjaknya harga kebutuhan makanan pokok: beras, minyak dan gula yang dijual dengan harga diskon. Tiga jenis komoditas ini dijual dengan harga subsidi sehingga terdapat selisih harga lebih rendah daripada harga di pasaran. Kalau paket sembako hanya berlaku dan bisa di akses oleh warga yang termasuk KK miskin, maka untuk item Beras, gula dan minyak yang penjualannya per jenis ini bisa dibeli oleh siapa saja, dengan cara membeli kupon dulu dan jumlah kupon yang dibeli di batasi untuk menghindari aksi borong oleh sekelompok orang saja.

Panggunng Fashion show dan menyanyi
Untuk memeriahkan suasana pasar lebaran dan menarik pengunjung, ada penampilan Nasyid dari UII, Juara lomba menyanyi Pasar Lebaran tahun lalu, aksi panggung band Guthos, penampilan akustik dari peserta pasar lebaran dan ada juga penampilan organ tunggal dari Disperindagkop ( yang jelas bukan saya yang pentas). Oiaa, ada juga lomba fashion show dan menyanyi seperti tahun lalu tuh. Ah…jadi pengen ikut menyanyi tapi takutnya malah bikin keRIBUTan Pasar Lebaran kan jika saya ikut pentas pula?

TIDAK Antri Sembako
 Akhirnya, tulisan ala-ala reportase ini saya cukup kan sampai di sini saja ya? Bagi yang berada di wilayah Sleman dan sekitarnya, silahkan kunjungi Pasar Lebaran yang akan berlangsung selama 6 Hari yaitu mulai tanggal 29 Juni sampai dengan 4 Juli 2015 mulai jam 09.00 s/d 15.00. Alamatnya di Jalan Parasamya No. 8, Beran, Tridadi, Sleman. Tidak jauh dari gedung DPRD Sleman dan Kantor Bupati.




# NOTED: Foto-fotonya yg lebih lengkap masih belum dipindahin dari Camdig karena kameranya ketinggalan di kantor. Hehehee…

Mengenalkan ISU GENDER pada anak

Mengenalkan ISU GENDER pada anak? Ehmmm….sebenarnya complicated topic dan butuh waktu yang tidak sebentar meski hanya sekedar mengenalkan [dulu] pada anak-anak. Mengenalkan ISU Gender sama artinya saya mengenalkan sesuatu yang abstrak untuk Azka ~ Anak usia 10 tahun. Tapi Kami Bismillahirrahmaanirrahiim harus mulai melakukannya secara learning by doing karena saya juga hanya seorang Emak yang belajar dari anak-anak bagaimana sebaiknya menjadi Emak yang lebih baik dari hari ke hari. 

ISU gender adalah fenomena sosial yang dihasilkan oleh konstruksi dari lingkungan, adat istiadat, budaya, politik, ekonomi, interaksi/pengaruh sosial, opini publik, politik, media,  pendidikan, juga harapan-harapan orang dewasa (ortu)  yang diopinikan sejak masih dalam kandungan. Semisal: 
  1. kalau calon DeBay cowok nanti bajunya gak boleh warna pink ( memangnya ada hukum yang mengatur warna pakaian tertentu hanya bisa dipakai oleh anak cowok/cewek?)
  2. Jika DekBay cewek, nanti mainnya boneka-bonekaan saja, gak usah mainan bola atau mobil-mobilan ya? (padahal cewek juga bisa kan jadi pembalap, kenapa didoktrinkan gak boleh main mobil-mobilan cobak?)
  3. Atau, bagi yang pernah mengikuti/melihat acara turun tanah ketika anak usia 7 bulan. Ada kan yang membuat list kalau anak cewek dikasih pilihan harus A,B,C, dst. Dan kalau anaknya cowok pilihan mainannya i,u,e,o dst.
Isu gender pada umumnya masih banyak dipahami sebagai tuntutan kesetaraan hak dari kaum perempuan/wanita agar setara (equal) dengan laki-laki. Padahal isu gender adalah problematika sosial (ISU GLOBAL) yang dihadapi oleh semua negara yang ada di muka bumi ini (dan jika ada peradaban luar angkasa, bisa jadi memilki problematika yang serupa tapi istilahnya berbeda kali ya?). 

Saya akui, metode learning by doing merupakan salah satu cara edukasi yang cukup efektif dan bisa meresapkan kesan yang akan berkembang pada penalaran bahwa Isu Gender tidak melulu terkait soal kesetaraan hak dan kewajiban antara laki-laki dan perempuan, TAPI LEBIH LUAS DAN KOMPLEKS karena sebenarnya Isu gender merupakan persoalan kesenjangan dan ketidaksetaraan pada semua aspek kehidupan. 
Kaya VS miskin
Minoritas VS mayoritas
Superioritas Vs Inferior
Senior Vs Junior
Maju VS terbelakang
Sekolah Unggulan VS Sekolah Inpres; de-el-el
Dan berbagai isu yang terjadi akibat kesenjangan antara satu golongan/kelompok masyarakat terhadap kelompok.golongan lainnya.

ISU Gender akan (masih) menjadi masalah jika kaya meremehkan yang miskin, mayoritas menekan minoritas, anak sekolah unggulan meremehkan anak yang sekolah biasa, laki-laki lebih dominan dari perempuan, pihak penguasa yang otoriter terhadap rakyat, yang kuat menindas yang lemah, dsb. Jadi Isu Gender akan ada sepanjang masih ada kehidupan 


Singkat cerita, saya hanya ingin menyatakan opini jika melakukan pekerjaan rumah tak hanya harus dikenalkan pada anak-anak perempuan. Anak cowok pun wajib bisa dan MAU mengerjakan pekerjaan rumah. Sebagai Emak acak kadut, mengkonstruksi skenario agar anak laki-laki mau turun tangan membantu mengerjakan pekerjaan rumah, at least mengerjakan keperluan untuk dirinya sendiri tentu merupakan tantangan yang unik dan menarik. Awalnya Azka memang mengajukan semacam komplain “merasa” sebagai anak laki-laki kenapa mengerjakan pekerjaan rumah? Mencuci piring, beberes kamar dan sejenisnya adalah dunianya anak perempuan. Sedikit dengan sedikit saya memberikan penjelasan sambil praktek langsung saat momentnya pas. Agar tidak merasa disuruh-suruh banget, saya siasati dengan memulai pekerjaan rumah yang paling dekat dengan dirinya yaitu mencuci botol minum yang setiap hari dibawa ke sekolah. Pulang sekolah botol minum diisi dulu dengan SABUN CUCI PIRING dan sorenya dicuci/bilas hingga bau sisa minuman hilang deh.

So far, meski belum ajeg dilakukan tapi setidaknya saya mendapati jika Azka kini memiliki pemhaman jika melakukan pekerjaan rumah: mencuci piring dan menyapu itu bukan pekrjaan yang identik dengan “kodrat” wanita, melainkan pekerjaan yang bisa dilakukan oleh semua jenis kelamin. 

Jadi, siapa yang masih menganggap kalau Isu gender semata hanya menyoal tentang permasalahan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan?

BUKAN Kopi Biji Salak

Minuman Serbuk biji salak kian mendapatkan apresiasi sebagai salah satu minuman yang unik, khas, dan memiliki khasiat kesehatan. Minuman serbuk biji salak memang memiliki rupa hitam layaknya serbuk kopi pada umumnya. Tapi Bismillahirrahmaanirrahiim secara kaidah penamaan TIDAK BISA disebut sebagai kopi biji salak karena kopi secara definitif dan actual sudah jelas merupakan suatu jenis bebijian yang dihasilkan oleh tanaman kopi. Sedangkan biji salak dari tanaman salak. 

Maka Ini Bukan KOPI Biji Salak, tapi yang benar adalah Minuman Serbuk Biji Salak. Demikian salah satu saran vital yang diberikan untuk Kelompok UPPKS Bina Asih yang berada di Dono Asih, Donokerto, Kecamatan Turi, Sleman. Saran tersebut diberikan setelah kami menyimak penjelasan mengenai komposisi bahan baku dan cara pembuatannya yaitu:

  1. Biji yang sudah dipisahkan dari daging buah salak tua dicuci sampai bersih, kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian untuk mempercepat proses pengeringan (dijemur).
  2. Setelah biji buah salak tersebut kering kemudian digoreng tanpa minyak  (disangrai) sampai gosong seperti halnya saat menggoreng biji kopi yaitu berwarna hitam (mirip arang).
  3. Biji salak yang telah disangrai kemudian ditumbuk sampai halus menggunakan lumpang (belum memiliki alat/mesin penggiling).
  4. Hasil tumbukan kemudian di saring untuk dipisahkan serbuknya yang sudah halus dan ditumbuk lagi bagian biji salak yang masih berukuran kasar hingga diperoleh serbuk biji salak yang halus. Tentu saja pada tahap ini digunakan saringan (ayakan) dengan ukuran yang sangat halus atau sesuai kebutuhan.
  5. Nah serbuk (bubuk) biji salak itulah yang digunakan untuk membuat minuman dengan cara: Larutkan 1 sendok teh serbuk biji buah salak ( +2 gram) ke dalam 150 ml air mendidih dan tambahkan gula secukupnya. Sangat nikmat jika diminum saat masih panas mengebul-kebul. 
Kemasan baru Minuman Serbuk Biji Salak
Awalnya, pihak dari Dono Asih yang menyampaikan ke kantor jika di desanya ada kelompok binaan yang memproduksi Kopi Biji Salak dan ingin mendapatkan semacam bimbingan, saran dan arahan agar bisa berproduksi dengan baik dan benar. “ Selain itu, kami juga perlu masukan untuk pendaftaran nomer PIRT”, kurang lebih demikian informasi yang sampai pada kami. Karena salah satu program kerja ada mata mata kegiatan terkait pengawasan pangan, maka secara Tim gabungan kami: Perindustrian, Dinas Kesehatan dan BPPOM mendatangi lokasi produksi (saat itu) Kopi Biji Salak.   

Dari hasil check lokasi, selain saran perbaikan untuk alur proses, tata letak (lay out) yang tidak menimbulkan Cross Contamination, area produksi, sanitasi peralatan dan pelaku produksi (pekerja/karyawan), program pencegahan serangga dan tikus, gudang, cara penyimpanan bahan baku dan produksi. Maka saran tentang penamaan produk merupakan hal vital yang harus diterima dan tak ada toleransi kalau menamai produknya dengan KOPI BIJI SALAK dijamin gak bakal lulus PIRTnya. 
Biji Salak Kering - Setelah disangrai - alat penumbuk - Serbuk Biji Salak sudah di kemas
“ Kalau penyebutan nama produk KOPI BIJI SALAK seharusnya memiliki komposisi  mixed antara serbuk kopi + serbuk biji salak. “
Tapi yang latah terjadi dan saya juga pernah pas kebetulan melihat salah satu televisi swasta menayangkan hasil liputannya mengenai minuman serbuk salak ini dengan sebutan KOPI BIJI SALAK. Dan saya juga sempat beberapa kali menemui kasus kerancuan persepsi akibat salah kaprah publikasi nama minuman serbuk biji salak tersebut.

Lha berarti, kalau pengen minum kopi yang rendah kafein bisa menggunakan kopi biji salak dong” ujar seorang bapak yang masih terbawa persepsi penamaan KOPI Biji Salak.
Setalah saya ceritani kronologis pembuatan minuman serbuk biji salak *bangga sudah pernah melihat langsung lokasi pembuatannya*, beliau bilang “ Kalau begitu namanya ya bukan Kopi Biji salak. Wong gak ada kopinya sama sekali ya kan Mbak?”

Oh iya, dalam kesempatan kunjungan tersebut, Ibu Suratini selaku penanggung jawab Bina Asih menceritakan kalau banyak testimoni dari para pembelinya tentang khasiat kesehatan minuman serbuk biji salak katanya bisa untuk mengobati Hipertensi atau darah tinggi dan asam urat. 
Bu Suratini menjelaskan proses pembuatan serbuk biji salak
“ Apa boleh di kemasannya saya mencantumkan khasiat minuman ini”, pertanyaan Bu Suratini di akhir sesi ceritanya yang panjang lebar.
Tidak boleh mencantumkan claim khasiat selama masih terdaftar dan menggunakan ijin edar  menggunakan P-IRT “, jelas teman saya dari Dinas Kesehatan. “ Jika mau mencantumkan khasiat produk, silahkan menggunakan ijin edar yang dikleuarkan oleh BBPOM yang tentunya harus memenuhi kualifikasi dan kelayakan yang lebih kompleks daripada persyaratan untuk mendapatkan PIRT. “ 

Secara sekilas, juga diinformasikan oleh Pak Dinkes bahwa produk Pangan yang BISA didaftarkan PIRT (selain memang capability masih dalam skala Industri Rumah tangga), maka pangan yang bisa didaftarkan P-IRT, TIDAK BOLEH berupa :
  • Susu dan hasil Olahannya
  • Daging, Ikan unggas dan hasil olahannya yang memerlukan proses/penyimpanan beku
  • Pangan kaleng berasam rendah
  • Pangan bayi
  • Minuman beralkhohol
  • Air minum dalam kemasan
  • Pangan lain yang wajib memenuhi syarat SNI
  • Pangan lain yang di tetapkan oleh BPOM

Jadi kalau menemukan anek produk yang termasuk dalam golongan di atas dan tertera ijin edar dengan nomer PIRT, konsumen/calon pembeli SANGAT DISARANKAN untuk melakukan kehati-hatian/ cross check ke instansi terkait mengenai status PIRT pada produk tersebut. Atau bisa di secara online pada web site dinkes  (rata-rata sudah mempublish nomer PIRT yang dikeluarkan). 

Kalau medio tahun lalu Bina Asih (akhirnya) sudah berhasil mendapatkan nomer PIRT, maka untuk meningkatkan kualitas produk dan penjualannya (daya tarik konsumen), baru-baru ini instansi terkait (Disperindagkop) memberikan pelatihan packaging dan bantuan peralatan yang mendukung agar bisa memotivasi inovasi produksi Minuman Serbuk Biji Salak ini bisa berkembang pesat. Mengingat, Kecamatan Turi merupakan salah satu sentra penghasil buah salak pondoh di Kabupaten Sleman.

Munculnya ide membuat minuman berbahan serbuk salak ini juga diillhami oleh melimpahnya (sampah) biji salak yang terbuang begitu saja salak ketika bagian daging salak sudah diambil dan dioleh dalam berbagai jenis olahan pangan berbahan baku buha salak antara lain: minuman sari buah, dodol, geplak, kripik, Bakpia dll. Asas ZERO waste sangat mungkin bisa diterapkan pada buah salak. 

Rasanya demikian menggoda untuk dicobain
Minuman Serbuk Biji salak KINI sudah memiliki popularaitas dalam kancah pemasaran olahan pangan yang bercita rasa khas, unik dan menyehatkan. Untuk harga yang menarik, jika gak terbawa kurs dollar atau efek perubahan harga menjelang lebaran, saat itu saya tanya harganya 5 ribu per 100 gram. 

Maka hal yang sangat possible jika dalam beberapa waktu ke depan olahan kulit salak akan hadir menjadi produk minuman serbuk kulit buah salak kan? Ya bisa jadi  mungkin akan seperti warna teh gettu kali ya? Kan kulit buah salak warnanya kecoklatan, jadi kalau diolah jadi serbuk kemungkinan bisa menghasilkan larutan yang berwarna menyerupai minuman Teh. 

Saran saya, sebaiknya saat meminum cepat dihabiskan atau di aduk ulang karena (sepertinya) density serbuk biji kopi ini lebih berat daripada serbuk kopi. Kalau dibiarkan terlalu lama, serbuknya banyak yang mengendap (KLETHEK) di dasar gelas dan bagian larutannya akan tampak gradasi menuju bening gettu deh. 

Ah iya, jika penasaran seperti apa sih rasanya minuman Serbuk Biji salak Ini…sepertinya Anda perlu mencobanya langsung deh. Karena aroma, rasa dan sensasinya demikian khasnya Minuman Serbuk Biji Salak tidak bisa dituliskan *alesan kebingungan menarasikan rasa dan bau*

Package versi baru (atas) ~ Suitable kan untuk oleh-oleh Wisata. 
Bawah: kemasan versi lama
Don’t worry be honest, kemasan serbuk biji salak sekarang sudah tampil lebih elegan sehingga representatif untuk oleh-oleh maupun melengkapi parcel lebaran kok. Anda tertarik untuk membuat minuman biji kopi sendiri di rumah? Silahkan diborong buah salak beberapa kilogram dan pisahkan bijinya untuk disangrai dan dihaluskan dengan coffee maker atau ditumbuk manual menggunakan lumpang kecil seperti kebiasaan Simbok saya kalau menumbuk kopi. Hehehee....Selamat mencoba.



[Melihat] Sisi Lain Tembakau

Saat menikmati Bismillahirrahmaanirrahiim menu buka puasa: teh hangat dan singkong rebus sambil melihat TV, ada frase running text yang langsung menarik perhatian saya: 70% perokok aktif di Indonesia adalah REMAJA! Bukan Berita yang mengejutkan TAPI memprihatinkan karena prosentase tersebut sangat mungkin akan mengalami peningkatan dramatis dalam waktu singkat karena:
  1. Banyaknya tauladan ~ orang tua dan orang-orang dewasa di sekitar anak-anak secara demonstratif melakukan adegan merokok yang memberikan kesan betapa “nikmatnya” merokok. Bagimana mau melarang anaknya ikut merokok jika orang yang dewasa mempertunjukkan aksi hisap setiap hari. Seperti kata Simbok saya yang sangat saya hafal tiap kali anak-anaknya mudik semua “ Piye anake ora ngrokok, lha wong Pak’ne mbendino ngrokok kok”.
  2. Sistem penjualan yang longgar karena anak-anak bisa dengan mudah mendapatkan rokok dengan harga yang terjangkau uang saku mereka. Apalagi tidak ada sistem legal yang mengatur apa, siapa dan harusnya bagaimana pembeli rokok yang bisa dilayani.
  3. Harga rokok yang termasuk murah walaupun sudah include dengan pita cukai. Padahal dari penjelasan salah satu produsen rokok yang pernah saya kunjungi di Kabupaten Malang, konon area pemasaran produk rokoknya adalah di kawasan bebas cukai. Dengan dimahalkan melalui pita cukai saja masih "dianggap murah", maka silahkan dikira-kira, berapa jadinya itu harga rokoknya jika dijual tanpa pita cukai yaaaa?
  4. Penetrasi IKLAN rokok yang magic. Peran Label peringatan dengan gambar menyeramkan hanya berfungsi memenuhi aturan untuk melengkapi pembungkus rokok. Peringatan merokok bisa membunuh sepertinya tidak memiliki efek apa-apa karena kalah pamor dengan iklan rokok yang mempertunjukkan betapa gagah, hebat, macho, pemberani, sehat dan berprestasi orang-orang yang diperankan dalam iklan rokok. 
  5. Dan masih banyak lagi permodelan yang memiliki daya tarik bagi bertumbuhnya perokok-perokok baru di masa-masa mendatang (jika kondisinya tidak banyak ada perbaikan dari saat ini)
Wajar kan jika daya pikat untuk menjajal rokok di kalangan remaja lebih menggairahkan ketimbang kesadaran akan bahaya laten merokok yang ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia yang terkandung dalam rokok, beberapa diantaranya adalah:
  1. Nikotin, kandungan yang menyebabkan perokok merasa rileks. Sensasi rasa rilek inilah yang kemudian menjadi candu (alasan) untuk merokok lagi dan lagi.
  2. Tar, yang terdiri dari lebih dari 4000 bahan kimia yang mana 60 bahan kimia di antaranya bersifat karsinogenik.
  3. Sianida, senyawa kimia yang mengandung kelompok cyano.
  4. Benzene, juga dikenal sebagai bensol, senyawa kimia organik yang mudah terbakar dan tidak berwarna.
  5. Cadmium, sebuah logam yang sangat beracun dan radioaktif.
  6. Metanol (alkohol kayu), alkohol yang paling sederhana yang juga dikenal sebagai metil alkohol.
  7. Asetilena, merupakan senyawa kimia tak jenuh yang juga merupakan hidrokarbon alkuna yang paling sederhana.
  8. Amonia, dapat ditemukan di mana-mana, tetapi sangat beracun dalam kombinasi dengan unsur-unsur tertentu.
  9. Formaldehida, cairan yang sangat beracun yang digunakan untuk mengawetkan mayat.
  10. Hidrogen sianida, racun yang digunakan sebagai fumigan untuk membunuh semut. Zat ini juga digunakan sebagai zat pembuat plastik dan pestisida.
  11. Arsenik, bahan yang terdapat dalam racun tikus.
  12. Karbon monoksida, bahan kimia beracun yang ditemukan dalam asap buangan mobil. 

Zat/senyawa kimia di atas baru sebagian kecil dari keseluruhan zat kimia yang terkandung dalam sebatang rokok. Sinkron kan jika kebiasaan merokok itu bisa menimbulkan bahaya laten karena tak hanya beresiko pada si perokok aktif, tapi juga orang-orang di sekitarnya beserta keturunannya. Nikotin dalam rokok yang sudah bersenyawa dalam darah dan kromosom. Artinya bayi yang lahir dari orang tua yang merokok aktif ataupun yang kesambetan asap rokok, di dalam darahnya mengandung nikotin jugak. Dengan resiko penyakit yang tak jauh berbeda seperti yang tercantum dalam label peringatan bungkus rokok itu: kanker, jantung, paru-paru dan serombongan penyakit degenaratif lainnya, termasuk penurunan kecerdasan. Kalau sekedar paparan bau atau asap rokok di baju bisa di cuci, di kulit bisa hilang dengan mandi dan bau khas rokok di rongga mulut bisa dibilas dengan OBAT KUMUR. Ah iya ya, peluang bisnis yang mentarget konsumen dari perokok sehingga kehadiran Obat Kumur yang bisa mennetralisir aroma rokok ini menjadi angin segar bagi perokok untuk menambahkan excusing-nya “ Ah kan ada obat kumur yang bisa ngilangin bau rokok”. So, what’s the problem?

Di satu sisi Industri rokok, dari hulu – hilir –  muara yang memiliki mata rantai dengan dampak sistemik (multi kompleks) pada aspek sosial dan ekonomi. Dan di sisi lain, kampanye tidak merokok yang gencar dilakukan untuk menumbuhkan kesadaran akan bahaya merokok bagi kesehatan. Saya melihatnya sebagai dua gerakan yang saling menetralisir. Makanya ketika saya nyasar di Blognya Mas Dani rachmat dot kom (tahun lalu), saya ikut memberikan tantangan postingan mengenai dilematis Petani Tembakau VS Kampanye Anti merokok. Many thank buat Mas Dani yang telah memilih komentar saya menjadi salah satu topik yang dijadikan tema saat men-challenge dirinya untuk ODOP = ONE DAY ONE POST. Tak hanya itu, saya juga apreciate sekali atas  kupas tuntasnya yang makjleb, menyoroti Industri Rokok mulai dari petani tembakau hingga ke konsumen dan regulasi yang memayungi tata niaga tuhan sembilan centi tersebut.

Bahwa selama ini konsentrasi dan mind set produk (olahan) pasca panen tembakau adalah (masih) dominan ROKOK. Panen tembakau di-monoton-kan hanya untuk menghasilkan lintingan rokok, cerutu,  Ultra Lights, Mild Cigarettes, Menthol Cigarettes dll. Oh iya, ada lagi cara konsumsi tembakau versi nenek moyang kita: Menyirih, di desa saya di sebut NGINANG, Nyusur (mengunyah daun sirih yang digulung berisikan gambir, kapur dan entah apa lagi, kemudian diakhiri dengan memasukkan tembakau dalam mulut). Aktifitas Menyirih ini masih bisa dijumpai di desa-desa dan umunynya dilakukan oleh simbah-simbah. Simbah saya juga termasuk yang gemar menyirih semasa hidupnya dulu. Tak hanya alasan sosial ekonomi, tapi ada juga yang konon (katanya) demi melestarikan warisan budaya leluhur. Entahlah, siapa yang mencetuskan ide tidak cerdas berbau heritage tersebut.

Yang jelas, dari dulu hingga sekarang dan entah sampai kapan tembakau dibuat seattled dengan teknologi pasca panen sebagai bahan baku rokok semata. Seolah, orientasi diversifikasi olahan hasil panen “TIDAK BERLAKU” untuk tembakau. Padahal, dari hasil-hasil riset sudah diketahui mengenai SISI LAIN TEMBAKAU yang memiliki value/kesehatan karena:
  1. Bisa menghasilkan Protein Anti Kanker yaitu bisa digunakan untuk Mencegah kanker mulut rahim :Tembakau mengandung sumber protein yang dapat menstimulasi antibody terhadap human papilloma virus (HPV), yang menjadi penyebab kanker mulut rahim.
  2. Getah tembakau dapat melepaskan gigitan lintah dan dapat digunakan sebagai insektisida karena nikotin yang terkandung merupakan neurotoxin yang sangat ampuh untuk serangga. 
  3. Obat Diabetes & Antibodi. Para ilmuwan berhasil menggunakan tembakau yang dimodifikasi secara genetik untuk memproduksi obat diabetes dan kekebalan tubuh. Hasil penelitian itu dipublikasikan dalam jurnal BMC Biotechnology, yang menghasilkan protein, melainkan virus tembakaunya.
  4. Anti Radang. Mereka membuat tembakau transgenik yang memproduksi interleukin-10 (IL-10), yang merupakan cytokine anti-radang yang ampuh. Cytokine adalah protein yang merangsang sel-sel kekebalan tubuh agar aktif. 
  5. Obat HIV/AIDS. Tembakau juga bisa menghasilkan protein obat human immunodeficiency virus (HIV) penyebab AIDS, yang disebut griffithsin. HIV adalah virus yang menginfeksi sel sistem kekebalan tubuh manusia. Bedanya, bukan tembakaunya.
  6. Pemelihara Kesehatan Ternak. Ekstrak tembakau (nikotin 1,68%) mempunyai ptensi untuk membasmi cacing H. contortus. Bermanfaat untuk kesehatan ternak agar makin baik. 
Dari beberapa manfaat kesehatan yang dimiliki tembakau di atas, seharusnya daun tembakau sangat eligible untuk di olah dan diproduksi menjadi aneka produk lain yang aman bagi kesehatan dan mendukungi derajat kesehatan. Yang diperlukan adalah kemauan untuk menseriusi inovasi produk dengan kadar rendah nikotin dan Ramah Lingkungan. Bagan proses penyulingan/pemurnian nikotin di bawah ini merupakan sebagian hasil riset yang memungkinkan untuk mengembangkan teknologi olahan pasca panen tembakau.
Bagaimana kampanye anti merokok bisa berhasil jika produksi massal rokok masih menjadi salah satu pilar ekonomi? Order and demand terhadap rokok masih sangat harmonis, apalagi dengan progress kaum remaja yang tertulari kebiasaan merokok yang saat ini jumlahnya sudah mencapi 70%, industri rokok tentu dianggap ladang bisnis yang menggiurkan.
Untuk mereduksi jumlah perokok (unjuk kerja kampanye anti rokok berhasil) tanpa mengorbankan di sektor hulu-hilir-muara, kuncinya adalah kelapangan hati para pihak yang terkait untuk sesegera mungkin mengalokasikan investasi terhadap inovasi olahan tembakau yang lebih menyehatkan dan ramah lingkungan.
Akhirnya, saya bingung mau nulis apa lagi ini. Intinya, saya tidak bermaksud menambah bahasan pro-kontra tentang merokok, sekedar Hanya ingin titip pesan ( saya sebagai anak, adik, adik ipar bagian masyarakat  yang saat ini masih termasuk perokok aktif):
  1. jika merokok di anggap sebagai HAK individu, tolong diingat/diperdulikan hak orang lain yang memilih tidak merokok dan butuh udara bebas asap rokok. 
  2. Kalau sedang merokok, bisa kan ya di usahakan tidak di depan anak-anak, termasuk jika anak tersebut anak orang lain lho? Bukankah pencopet saja tak ada yang ingin anaknya jadi pencopet? Tak ada orang yang jahat yang memiliki cita-cita untuk membuat anaknya jadi penjahat juga.
  3. Kalau memang masih belum bisa berhenti rokok, paling tidak jangan biarkan diri anda menjadi ‘inspirasi’ bagi orang lain ikut merokok.


Apa anda juga punya pesan cinta lainnya untuk saudara-saudara kita yang masih merokok? 





Sumber Tulisan: Materi workshop Bapak Purnama Darmadji (Ahli tembakau, Program Studi Teknologi Hasil Perkebunan, FTP, UGM)

Mengantisipasi Bau Mulut (Halitosis)

HALITOSIS atau Bau Mulut yang tak sedap, Bismillahirrahmaanirrahiim seringkali kita jumpai atau alami manakala sedang puasa karena produksi saliva berkurang sehingga bakteri di dalam mulut berkembang biak lebih cepat. Sedikit flash back mengenai salah satu fungsi Saliva yaitu membersihkan rongga mulut dari sisa-sisa makanan dan bakteri. Berkurangnya produksi saliva karena ketika puasa (siang hari) tidak ada aktifitas memamah biak sehingga semakin banyak populasi bakteri yang mengolah sisa makanan dan menghasilkan bau mulut, apalagi jika menyikat giginya tidak menyeluruh ( gigi, lidah, langit-langit mulut) sehingga banyaklah suplay makanan bakteri-bakteri tersebut. Oleh karena itu, untuk meminimalkan “gas” yang dihasilkan bakteri di mulut ketika berpuasa, sangat di anjurkan: 
  1. Minum air putih yang cukup saat kurun waktu berbuka sampai hingga sahur (imsyak).
  2. Ketika scene gosok gigi, lakukan dengan sempurna tidak hanya gigi, tapi juga lidah dan seluruh rongga mulut untuk membersihkan lebih bersih rongga mulut dari sisa makanan yang merupakan santapan lezat bakteri di dalam mulut.
  3. Menghindari makanan yang bisa menghasilkan bau tak sedap seperti petai, jengkol, bawang, durian dan teman-temannya (termasuk kopi yang sepengalaman saya ketika sisa kafein bercampur dengan sisa makanan akan menghasilkan aroma yang lebih spektakuler).
  4. Bagi yang perokok, sebaiknya mengatur jadwal merokok karena bau rokok itu susah sekali hilang, seolah-olah bersenyawa dengan kompleksnya. Lha bahkan orang yang hanya kecipratan asap rokok saja meninggalkan bekas bau rokot menyengat pada out fit yang dikenakannya ketika  kebetulan berada berdekatan dengan penghisap lintingan 5 centi itu. 
  5. Mengurangi minuman yang berkarbonasi (tidak berlebihan) dan mengatur pola konsumsi makanan yang lengket dan manis seperti es krim, coklat, gulali, arum manis, dll karena bisa meninggalkan sisa di sela-sela gigi. Atau bisa juga di atur waktu makannya yaitu berdekatan ( before or after) menyantap menu makanan utama. 
  6. Perbanyak konsumsi sayur-mayur dan buah tak hanya mendukung daya stamina saat berpuasa tapi juga mujarab mengurangi bau mulut. Bahkan beberapa jenis buah memiliki fungsi “seperti” pasta gigi yang ber manfaat menghilangkan bau mulut. Sangat masuk akal karena makanan alamiah seperti buah dan sayuran kan tidak banyak mengandung zat kimia ( flavor, pewarna dan pengawet) yang ketika digigit/kunyah dapat merangsang produksi air ludah yang melimpah. Kondisi yang sebaliknya terjadi, produksi saliva sedikit manakala makanan yang santap termasuk jenis makanan yang lunak/tidak berserat karena gigi tidak perlu menggigit kuat sehingga air ludah juga tidak banyak yang keluar. For example: seperti yang biasa saya lakukan saat habis minum kopi adalah makan buah apel. Cukup satu butir apel sangat efektif sisa aroma kafein lho?
  7. At least but not the last, untuk finishing pembersihan sela-sela gigi dari sisa makanan bisa digunakan dental wash dan diakhiri dengan mouth wash untuk flushing seluruh rongga mulut.  Deuhhh, berasa kayak closet saja ya pakai di flushing? *PISS*
Nah.....mohon ijin dan permisiiiii
Tak ada maksud untuk sarkasme atau sejenisnya jika kali ini saya kok ya kurang ide banget nulis tentang bau mulut. Saya yakin, rerata kita pernah menemui fenomena bau mulut dengan aroma ‘khas’ (baca: tidak sedap) dari orang-orang yang pernah ditemui/dikenal. Apalagi di Bulan Puasa seperti sekarang, bau mulut yang khas tersebut  merupakan hal jamak terjadi dan sudah menjadi kesepakatan tak tertulis untuk mentoleransinya. Sebagian ada yang menyikapi dengan slow motion: no verbal comment dan bersikap seperti biasanya. Tapi ada juga yang menunjukkan sikap antisipasi aktif : secara lisan dan atau bentuk sikap/action.  
Mbak, mundurin dikit ya? “ ujar seseorang ketika kami sedang membahas suatu hal (tidak ngrumpi loh?). Sontak deh saya heran plus kaget, “ Hah?” Jangan-jangan tangan saya  menyenggol barang atau mengacaukan tatanan properti di mejanya? Hanya itu yang terlintas dibenak saya.
Kan lagi puasa, bau mulutnya biar tidak mengganggu…” lanjutnya memangkas keterkejutan saya.
Tanpa berkata-kata saking shocknya saya pun menggeser kursi sedikit ke belakang dan melanjutkan percakapan hingga lima menitan kemudian. Sepotong percakapan yang menginterupsi tersebut membuat Saya menginstropeksi diri: Apakah sedemikian tidak merasanya saya kalau telah mencemari udara di sekitar dengan aroma khas yang keluar dari mulut? 

Tapppi…..saya pernah melakukan survey singkat dan terbatas ke beberapa teman menyoal bau mulut, terlebih ketika sedang puasa. Maksud dan tujuannya agar saya bisa melakukan management diri ketika sedang berbincang dengan orang lain, especially when I’m fasting. Toh memang kita sama-sama sudah tahu ketika orang sedang berpuasa memang berpotensi menebarkan bau yang khas karena Bakteri di dalam mulut mengubah sisa makanan menjadi gas sulfur yang menyebabkan bau mulut. 

Lantas, kenapa ketika sudah melakukan langkah preventif dan antisipatif aktif namun masih menebarkan pesona aroma mulut yang “khas” bahkan saat tidak sedang puasa? 
Aku sakjane sungkan lan ora pede nek pas ngomong-ngomong koyo ngene. Lha embuh iki, aku sampe kemeng sikatan tapi tetep wae bau mulut (baca: Aku sebenarnya pakewuh dan minder kalau ngobrol-ngobrol dengan siapa saja seperti ini. Entahlah, aku sampai capek gosok gigi tapi tetap bau mulut tak sedap)“ curhat seorang teman, so long years ago

Dia sampai gonta-ganti merk PASTA GIGI untuk menemukan jenis odol apa yang ampuh mewangikan hembusan udara dari rongga mulutnya. Bahkan ketika sudah dilengkapi dengan mouth wash tapi bau “khas” mulut tak juga pergi. Dia juga tipikal orang yang lebih suka makan makanan hasil masakan sendiri, jarang banget minum soft drink, tidak suka yang manis dan sebangsanya. Juga tidak biasa menyantap makanan yang berpotensi menimbulkan bau mulut, sesekali makan pete ya pernah sih. 
Sebaiknya ke dokter saja Mbak. Agar tahu apa penyebab utamanya dan mendapatkan tindakan yang tepat untuk mengatasi bau mulutnya “, hanya itu yang bisa saya sarankan pada teman saya *saran standart banget*. 
Apa penyebab bau mulut, bisa berbeda-beda dari masing-masing orang. Ada banyak penyebab bau mulut selain akibat sikat gigi yang tidak paripurna, seperti karies, gigi berlubang, sisa akar gigi, radang pada gusi, pemakaian gigi palsu yang tidak benar. 

Dan beberapa sumber gangguan bau mulut juga bisa berasal dari dalam tubuh akibat gangguan pernapasan, diabetes, kelainan pada telinga& hidung, tenggorokan, infeksi paru akut/kronik, maag atau gangguan pada saluran pencernaan (radang tenggorokan, tukak pada lambung, radang lambung lainnya) dan masih banyak jenis penyakit lainnya yang memiliki kontribusi nyata pada terjadinya bau mulut yang tidak sedap.
Maka menurut saya, sebenarnya bau mulut yang khas saat berpuasa bukan karena kegiatan puasanya, tapi kita sendiri yang mungkin saja ‘khilaf’ menerapkan pola maintenance yang comprehensive sehingga membuat para bakteri berpesta pora di dalam rongga mulut dan menghasilkan aroma yang menghipnotis sekitar kita. 
Then, back to the survey….maksudnya hasil survey saya. 
Survey terbatas dan singkat yang saya lakukan, InsyaAllah para responden saya menyampaikan opini yang wajar tanpa rekayasa rasa sungkan *soale gak ada yang sungkan-sungkan sama saya* yakni aroma yang terhembuskan dari mulut saya tidak significant menjadi polutan udara di sekitar saya. Kecuali jika responden saya itu my husband, di jamin hasilnya tendesius pangkat 100%

Menyimak sampel reaksi seseorang yang saya ceritakan di atas, 
Kalau saya, jujur neh yaaaa mbatin sih…..tapi demi agar menjaga hati saya dan hati orang lain saya melanjutkan dengan berusaha mensetting sikap sebisa mungkin tetap wajar. Saya belajar ANDAI di posisi dia, tentu dia sendiri juga merasa gak nyaman dan sangat tidak ingin berada/mengalami kondisi tersebut. 

Toh…bertemu aroma khas kan bukan sesuatu yang baru, sudah seharus saya bisa menghadapinya dengan wajar tanpa opini dan sikap yang over dosis. Agar tidak terganggu sangat ketika bernafas, bisa kan saya atur ritme menghirup udara dan dari arah mana yang sekiranya bisa menghirup udara segar, sehingga saya tetap nyaman berinteraksi dan orang yang mengalami gangguan mulut pun tidak bertambah stress.   

Lantas bagaimana sikap Anda ketika Membaui Bau Mulut saat bertemu atau ada orang di dekat Anda yang memiliki bau mulut yang khas (tidak sedap) ? 

Akankah spontan menutup hidung, bergegas pakai masker, atau mengambil jarak tertentu? Or just stay cool, calm and humble like ussually?




Noted: 
Selamat menunaikan Ibadah puasa di Bulan Ramadhan bagi yang menjalankannya. 
Semoga  senantiasa mendapatkan limpahan Maghfirah, Fadhlilat dan Ridhlo ILAHI. Aamiin. Mohon mohon lahir dan bathin untuk kata-kata, tulisan, postingan dan komentar yang tidak berkenan. Serta blogwalking yang makin jarang. 

Siapa Rela Tak Kenal Sarparella

Siapa rela tak kenal Sarparella, terutama jika Anda sudah pernah blusukan mencicipi Kuliner Khas Yogyakarta? Bismillahirrahmaanirrahiim, awal mengetahui minuman berjenis limun atau soda ringan ini sekira 6 bulan setelah bermutasi ke Yogya. Saat itu siang hari nan cerah ceria, mentari memandikan segenap permukaan bumi  dengan paparan cahayanya yang membangkitkan khayalan akan kesegaran minuman.
Panas-panas gini, kayaknya enak banget jika disempurnakan dengan segelas Sarparella yang dikasih Es……slurppppp…maknyesss” ujar teman kerja yang meja kerjanya bersebelahan sama Ririe (baca: saya).
Spontan saya menoleh, karena mengalami roaming saat mendengar kata SARPARELLA. “ Siapa yang rela Mas? Rela minum es gettu ta?”
Lhoh, belum kenal dengan minuman Sarparella tho Mbak?” jawabnya dengan ekspresi dibuat-buat terheran. “ Sudah menetap di Jogya belum tahu Sarparella itu TERLALUUUU…..?!
Minuman opo kuwi ? Namanya unik juga ya?”
Sarparella merupakan salah satu minuman kuliner khas di sini Mbak. Bentuk botolnya unik, recommended untuk dibuat merchandise. Pinter tuh orangnya pilih desain botolnya, sepertinya yang bikin desain itu anak apa menantunya gettu. Kalau gak salah, produsennya adalah  DEA & JES TIRTA SEGAR, di Jl. Magelang KM 6,1, dekat kok dari kantor kita ini “. Tutur tinular teman saya secara lebih detail dan sukses membuat saya PENASARAN
Dan beruntungnya saya ketika dua bulan berikutnya, kegiatan monitoring keamanan pangan memilih tempat pembuatan limun tersebut untuk dikunjungi. Lokasi pabriknya sebenarnya berada di 0 meter dari Jalan Magelang KM 6,1 tersebut, hanya saja penampakan depannya nyamar sehingga kami sempat maju - mundur dan final choice: call the contact person of Dea & Jes dong. Tarraaa…..kami kebablas beberapa meter dari target lokasi.  

Setibanya di lokasi bertepatan dengan jam istirahat dan kami disambut oleh Pak Jonywati dan Pak Hendra (sang menantu) mempersilahkan kami untuk melihat-lihat area pembuatan minuman limun yang diberi brand Sarparella tersebut. Tapi dengan satu pesan khusus “ silahkan moto-moto untuk kepentingan terkait pekerjaan” dengan kalimat lain: bukan untuk publikasi sesuka-suka hati pribadi (saya). Baiklah, saya pun jepret-jepret secukupnya saja. Generally, area produksi, proses produksi, karyawan, sanitasi dan hygiene sudah mengacu pada GMP. Jaminan food safety dan nya sudah walaupun secara skala produksi Dea & Jes ini masih status edarnya menggunakan PIRT. 

Kuliner unik di Yogyakarta

Seusai melihat-lihat area produksi (sayangnya gak bisa melihat pas proses produksinya berlangsung), berlanjut dengan bincang-bincang santai (terlalu serius banget kalau disebutkan diskusi hasil monitoring). Pak Jony yang penampilannya eksentrik dengan rambut di ikat dibelakang, rambutnya panjang hampir sepinggang dan hampir berwarna uban semuanya. Dengan humble, Pak Jony berkisah tentang perkembangan minuman berkarbonasi yang di produksinya. Beliau bercerita bahwa untuk bisa survive harus siap berinovasi dan tidak segan-segan melakukan studi banding dengan produk sejenis. Yang di makasud Pak Jony dengan study banding tersebut dengan mencicipi berbagai merk minuman soda, baik yang beredar di Yogyakarta, Indonesia maupun di Luar Negeri. Ini merupakan salah satu cara untuk membuat perbaikan, koreksi dan inovasi terhadap Sarparella. 
Semakin lama, persaingan minuman berkarbonasi semakin ketat. Kalau kami tidak mau tergeser dan tergusur, ya kami harus siap untuk berinovasi jika tidak ingin tergeser, kemudian tergusur secara mengenaskan
Saat ini, segmentasi market yang dibidik Sarparella adalah dunia kuliner. Tak hanya beredar lokal di wilayah Jogya dan sekitarnya, saat ini Sarparella juga memiliki banyak distributor di luar kota/pulau Jawa. Tidak sedikit wisatawan yang membawa Sarparella untuk oleh-oleh, dan banyak pula di antara mereka yang semangat me-return botol kosong sarparella ketika berkunjung ke Jogya lagi.
“ Kami amat sangat welcome jika ada yang menjual kembali botol-botol kosong sarparella, tentu saja jika kondisinya masih utuh “. Kata Pak Hendra.
Sangat bisa dimaklumi, jika sedikit saja grupil, apalagi di bagian atas botol akan menyebabkan penutupan botol tidak sempurna sehingga merusak tastenya alias bukan minuman berkarboasi lagi namanya. Dalam kesempatan tersebut, Pak Jony juga menjelaskan alasan dan sebab musabab kenapa Sarparella masih rela menggunakan ijin PIRT. *off the record alasannya*. 

Dan salah satu kesulitan yang cukup bikin senewen adalah terkait pengadaan botol kaca karena desain botol yang spesifik mulai dari bentuk bottom botol hingga bagian atas beserta cap-nya agar ergonomis ketika dibuka dengan alat pembuka botol model apa saja dan tidak mudah tercederai bibir botolnya. 

Bentuk botol Sarparella ini mengingatkan saya pada botol yang menjadi tempat tinggal Jinny Oh jinny atau juga Labu takar yang biasa digunakan di laboratorium. Desainnya jika saya verbalkan kira-kira adalah: bentuknya mblendug (bulat) di bagian bawah, kemudian ada leher yang memanjang hingga kepala botol, di beberapa permukaan ada gulir-gulir sehingga permukaan botol tidak halus polos getuu deh.  Makanya untuk produksi botol Sarparella ini tidak bisa diikutkan dalam produksi botol kaca yang modelnya basic. Selain itu pabrik pembuat botol kaca di Indonesia juga terbatas, padahal juga melayani konsumen dari luar negeri. Gak usah terlalu kaget jika masa order botol bisa membutuhkan waktu indent 6 – 10 bulan.
“ Tak jarang terjadi kasus menimpa perusahaan minuman yang dikemas dengan botol kaca mengalami stress yang hebat ketika Satu truck saja botol kaca yang akan balik ke pabrik (untuk diisi ulang) ternyata mengalami kecelakaan atau menghilang dan muncul lagi dengan semua botol sudah menjadi serpihan kaca tho?. “ tutur Pak Jony. 
Tidak bisa saya bayangkan jika ‘kecelakaan’ tersebut ada unsur sabotase dari kompetitor. Ancaman gulung tikar dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dengan cara yang tragis bukan hal yang mustahil terjadi kan?. Tidak heran jika belakangan ini beberapa jenis minuman berbotol kaca pada mulai berekspansi menggunakan botol berbahan plastik. Back up plan dan sekaligus risk management tentunya menjadi salah satu alasan utama untuk menjaga keberlangsungan produk di pasaran. 

Sarparella khas Sleman

Ahaaaa…dari tadi asyik ngebahas luaran-nya Sarparella duang ya? 
BAGAIMANA keunikan, kekhasan rasa Sarparella?
Minuman berkarbonasi yang beredar dengan merk resmi Indo Sarparella ini berwarna coklat seperti karamel dengan rasa semriwing dan maknyess di lidah, apalagi jika minumnya ditambahkan es batu. Sudah pernah kan minuman soft drink/coke ? Mirip seperti coke pada umumnya tapi ada pembeda rasa yang unik. Tau kan salep gosok Rheumason, yang serupa balsem tapi berwarna putih. Kata teman-teman dan orang-orang yang sudah pernah mencicipi Sarparella menyebutkan kalau rasanya kira-kira seperti Rheumason itu. Berarti mereka sudah pernah mencicipi Rheumason dong? Hehehee… 

Sejujurnya, saya rada tersesatkan oleh imaji awal. Ketika dicritani teman soal Sarparella yang merupakan salah satu primadona di dunia kuliner khas Jogya, saya berasumsi kalau bahan baku utamanya adalah tanaman Sarsaparilla. Suwerrr, saya kira sodanya merupakan hasil fermentasi dari air (ekstrak) tanaman  dari tanaman sarsaparilla/ smilax regelii. Makanya ketika disuguhi minuman Sarparella, saya iseng-iseng melihat label komposisinya ternyata terdiri dari: Air berkarbonasi, gula, pencita rasa sarsaparilla, asam fosfat, natrium sitrat, natrium benzoat dan pewarna makanan karamel. 
Minuman soda di Yogya
Komposisi Sarparella
Tidak sulit untuk menemukan Sarparella ini, saya sudah membuktikannya. Karena saat berkunjung ke pabriknya saya tidak leluasa memotret, makanya saat berkesempatan wisata kuliner saya niat banget sejak dari rumah akan memesan minuman Sarparella. Ehmm, kira-kira seberapa populerkah minuman berbotol mblendug ini peta wisata kuliner khas Yogyakarta. 

" Pak Agus sering dan suka banget pesanminum SArparella itu kalau kita lagi makan-makan barenag Yank",  cerita suami tentang kebiasaan salah satu temannya. 

Uniknya minuman sarparella
Ternyataaaa…Sarparella ini memang sudah menjadi salah satu minuman khas yang melengkapi menu kuliner di Jogya. Sebotol sarparella isi 330 ml dibandrol dengan harga 6 ribu (saat saya beli), memang lebih mahal dari harga minuman soda lainnya. Warung-warung yang sudah iconic kuliner seperti sate kronggahan (tempat saya motret-motret Sarparella), Sate kadipiro, spot-spot kuliner lainnya. Di house of Raminten, Bale Raos dan bahkan hotel-hotel juga sudah available menu minuman ini lho?

Nah, walaupun Indo Sarparella ini sudah beredar di berbagai penjuru Nusantara, tetap tidak afdhol dong jika Anda jelajah kuliner khas Jogya tapi belum mencicipi miniman bersoda ringan ini. 

minuman khas jogya
Seporsi Tongseng plus sebotol Sarparella
Bagi yang sudah ke Yogya, sudah pada mencicipi si Sarparella ini kan? Hayyyooo…Siapa Rela Tak Kenal Sarparella saat wisata di Jogya Istimewa ?

Si Kecil Sakit Saat Liburan? Inilah Pentingnya Asuransi!

Si kecil sakit saat liburan tentu bisa menjadi satu masalah urgent bagi para ibu/orang tua. Bismillahirrahmaanirrahiim, Harusnya Anda dan keluarga dapat bersenang-senang ketika berlibur, jika ada yang sakit tentu membuat kepanikan tersendiri. Tidak dipungkiri pula, apalagi, para ibu. Namun, yang namanya sakit tidak jarang tidak bisa kita hindari, bukan? Selalu ada saja yang membuat sakit, apalagi kepada si kecil. Jadi, harus bagaimana dong? 
Jika si kecil Anda mengalami sakit ketika Anda dan berkeluarga sedang berlibur, jangan panik, Bunda! Bunda bisa mengatasinya dengan beberapa langkah berikut untuk Atasi Sakit Saat Liburan bagi si Kecil:
  1. Bawa obat-obatan ketika berlibur. Ya, pastikan di awal sebelum Anda dan keluarga berangkat untuk berlibur, bawa obat-obatan yang diperlukan. Obat-obatan ini dapat dijadikan semacam “pertolongan pertama”. Anda bisa membawa P3K khusus untuk liburan. P3K tersebut dapat berisikan beberapa obat berikut: Paracetamol atau obat penurun panas, termometer digital, obat anti alergi jika anak Anda memang punya bakat alergi, obat anti diare atau oralit untuk jaga-jaga terjadi diare pada anak dan juga Anti-emetic yang berfungsi untuk mengantisipasi anak mual ketika perjalanan.  Anak-anak tentu bukan seperti orang dewasa yang sudah bisa menahan sakitnya, bukan? Jadi, ketika anak tiba-tiba sakit, Anda tidak perlu langsung panik melainkan berikan terlebih dahulu obat-obatan yang sesuai. 
  2. Istirahat yang cukup. Tentu memberi obat saja tidak cukup untuk mengatasi sakit anak. Mengurangi kegiatan pada saat liburan bisa menjadi cara yang bijaksana untuk menjaga agar sakit anak tidak semakin parah. Berikan minum yang cukup dan temani anak untuk beristirahat. Anda bisa pula membaluri anak dengan minyak telon agar mereka semakin nyaman dan cepat sembuh.
  3. Segera ke dokter / rumah sakit

Namun, bagaimana jika sakit anak sudah tidak bisa diatasi lagi dengan obat-obatan pertolongan pertama dan sekadar beristirahat?  Jangan tahan diri untuk segera membawa anak ke dokter atau rumah sakit terdekat. Jangan tunggu hingga kembali ke kota asal hanya karena alasan tertentu. 
Di sinilah pentingnya memiliki Asuransi kesehatan di saat seperti ini, tentu saja asuransi kesehatan yang juga meng-cover anggota keluarga. Salah satu asuransi yang menjawab pertanyaan tersebut adalah Asuransi Kesehatan AXA. Produk AXA untuk keluarga tersebut adalah SmartCare Executive bagi keluarga. Anda tidak perlu uang tunai ketika membawa anak ke rumah sakit. Cukup dengan menunjukkan kartu kepesertaan AXA SmartCare Executive dan anak Anda akan mendapatkan perawatan ketika sakit. 


Yang pasti perlu diketahui adalah, Asuransi Kesehatan AXA memiliki jaringan rumah sakit yang luas. Hal ini tentu memberi kelegaan karena Anda bisa segera membawa anak yang sakit pada saat liburan karena rekanan rumah sakit yang luas. Rumah-rumah sakit yang menjadi rekanan AXA tersebut juga dipilih secara khusus karena mutu pelayanannya. Apalagi para Bunda yang cukup sensitif soal pelayanan, Anda tidak perlu kuatir meski anak dirawat bukan di rumah sakit yang biasa Anda ‘berlangganan’. Sebagai informasi pula bagi para Bunda adalah  AXA SmartCare Executive memberikan program diskon premi 50% bagi anak ke-2 dan seterusnya. 

Yap! Bunda sekarang tidak perlu langsung panik ‘kan jika si kecil sakit saat liburan? Sila ikuti langkah-langkah yang sudah disebutkan di atas, jikapun harus ke rumah sakit, dengan punya asuransi, Bunda pasti lebih lega karena tidak perlu kuatir soal dana dan pelayanan. 


Note: Witten by De'I 

Mengenali Telur Ayam Kampung [Asli]

Telur dan ayam, mana yang lebih dulu ada? Bismillahirrahmaanirrahiim, yang jelas duluan peternak ayam kan ya? Gegara fenomena barang imitasi juga terjadi pada telur ayam kampung, al hasil saya pun jadi paranoid untuk beli telur ayam kampung di pasaran. Sapa yang tidak takut bin ngeri, maksudnya beli telur ayam kampung agar lebih sehat karena tidak ditelurkan oleh ayam suntikan,  tapi dapatnya telur ayam-ayaman kampung.

Sudah bukan rahasia lagi kan, jika ada trik yang tidak sehat untuk memalsukan ayam kampung? Yakni telur ayam hasil ternakan yang ukuran kecil-kecil kemudian diberikan treatment zat kimia (Chlorine) sehingga perwujudannya mirip banget dengaan telur ayam kampung. 

Alasan utama pemalsuan telur ayam kampung tentu saja karena profitnya yang cukup menggiurkan karena harga telur ayam kampung (asli) lebih mahal. Sistem jual-belinya juga tidak menggunakan satuan berat (Kilogram), melainkan per butir. Terakhir kali saya pernah tanya di pasar Denggung, harga per butir ditawarkan kisaran Rp. 2.200. Lha daripada beli telur dengan harga semahal telur ayam kampung asli TAPI sudah tercemar chlorine, kan mendingan telur ayam ternakan saja tho? Makanya, kalau saya mudik dan di rumah terdapat stock telur ayam dari kandang di belakang rumah, dengan sumringah mengiyakan tawaran Ibu saya untuk membawa telur ayam tersebut. Alhamdulillah kan, *Anakyangbaik* makan telur ayam kampung gratisan dan dijamin aslinya. 

No edit, pengambilannya kurang sipp neh
Sebenarnya sejak jaman dahulu kala,  Ibu saya sudah gemati ~ gak paham kalau Bahasa Indonesia GEMATI ~  men-Stock telur ayam di rumah. “ Buat jamu”, Pak’e dan kakak-kakak yang cowok yang sudah merantau. Sebagian telur ayam kampungnya juga dijual sih untuk  tambahan mengepulkan asap dapur. Sesekali digunakan untuk lauk, di dadar dengan campuran tepung agar satu butir telur bisa dibagi untuk 4 anak.  

Nah saat mudik lagi beberapa waktu lalu, bisa ditebak kan oleh-oleh yang saya bawa? Iyaahhh, telur ayam kampung asli dari kandang ayam di belakang rumah orang tua saya. Ayamnya juga asli makan dedak (sekam padi yang halus), nasi juga kadang-kadang dan pastinya makanan lain yang di ceker-ceker sendiri oleh si ayam tersebut. 

Saya yakin, pasti tidak ada yang berasumsi kalau saya akan trial and eror bikin cake dengan telur-telur tersebut kan ya? Lha gimana mau bikin cake atau roti jika mixer dan peralatan pembuatan kue lainnya saya belum punya lho? Etapii alasan utamanya, karena belum ada greget untuk coba-coba bikin kue sih. Hehehehe…

Saya akui, sebelum-sebelum ini saya tidak perhatian terhadap telur ayam kampung. Asal mau pakai, ya to the point mau diapakan telur tersebut: di ceplok, dadar atau rebus. Makanya, saya sengaja dan demi membuat mention diri saya agar lebih ngeh seperti apa sih ciri-ciri telur ayam kampung yang asli itu,  saya NIATkan untuk mencermati mulai dari cangkangnya hingga isi didalam cangkangnya, berikut ini beberapa hal yang bisa saya kenali / ciri-ciri dari telur ayam kampung (asli)  oleh-oleh dari kampung halaman beberapa waktu lalu:
  1. Warna cangkangnya krem sampai dengan putih, tapi putihnya bukan yang putih cling kayak baju habis di cuci pakai pemutih loh ya?
  2. Ukuran telurnya tidak seragam (berbeda-beda) dan tekstur cangkangnya halus.
  3. Untuk warna kuning telur adalah kuning segar hingga orange.

Dengan Mengenali Telur Ayam Kampung [Asli] seperti apa penampakan telur ayam kampung asli, maka jika di pasaran menemui penjual telur ayam yang dilabeli “Telur Ayam kampung” tapi ciri-cirinya tidak seperti di atas, silahkan anda wajib berhati-hati. 
Jangan langsung memborong telur yang penampakannya meragukan sebagai telur ayam kampung yang asli hanya karena terbuai harga yang lebih murah (sedikit). Sebaiknya coba beli satu atau dua butir dan pastikan bagaimana isi telurnya dulu di rumah. Baru deh besoknya balik lagi ke penjual tersebut jika sudah yakin berlapis-lapis kalau telur ayam kampung tersebut memang asli. 

Tips dan triknya lainnya:

  1. Belilah dari penjual yang kita kenal dengan baik serta kita tahu suplier telurnya dari mana/siapa. 
  2. Atau kalau mau lebih safety, ikuti cara saya di atas….saat mudik kita bawa sebagian persediaan telur ayam di rumah ortu, dijamin telur ayam kampung asli dan asli gratis deh. Pisss ya….
Untuk konsumsi sehari-hari, apakah  Anda selalu atau sering membeli membeli telur ayam kampung (asli) daripada telur dari ayam petelur?