WHAT'S NEW?
Loading...

Dewi Pulesari Nan Menantang

Mengulik dan mengungkit Potensi wisata daerah yang geliatnya mulai terlihat nyata melalui format DESA WISATA untuk memoles dan Bismillahirrahmaanirrahiim menggerakkannya menjadi sumber daya tarik wisata yang memikat. Untuk kawasan Desa Wisata di Yogyakarta sudah lumayan bertumbuhan cukup banyak, salah satunya yang sudahi pernah saya nikmati pesona kecantikannya adalah Dewi Pulesari ~ Desa Wisata Pulesari.

Iyaaa, saat itu ada event Jelajah wisata lereng Merapi yang di helat oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman bekerjasama dengan pengelola Dewi Pulesari pada Bulan Agustus 2014 lalu. Dengan diantar oleh Suami, saya dan Devi [sepupu saya dari Lamongan yang bersemangat untuk ikut serta] berangkat menuju Desa wisata Pulesari yang terletak di dusun Pulesari desa Wonokerto, kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. 

[Begaya] Ala Duta Wisata Dewi Pulesari neh
Desa Wisata Pulesari dibentuk pada tanggal 26 Mei 2012, berbatasan  dengan wilayah sebelah utara dusun ledok lempong, sebelah timur Arjosari, sebelah selatan dengan dusun Kopen dan sebelah barat dengan dusun wonosari desa Bangunkerto, yang memiliki ketinggian 400 s/d 900 meter DPL dengan tanah yang subur, sebagian memiliki struktur tanah berpasir dan berbatu cadas.  Jalur jelajah yang ditawarkan saat itu adalah melintasi kawasan kebun salak, perbukitan lereng Merapi, melalui bumi perkemahan Sidorejo, bunker, gardu pandang Tunggularum, Dam Sabo Sempu dan pemukiman penduduk di desa-desa yang dilalui.

Kami start berangkat dari rumah [ Desa Tridadi, Kec. Sleman] sekira jam 5.30 WIB dan tiba di lokasi jam 6.45, mestinya 45 menit bisa sampai Pulesari tapi karena sempat nyasar sebentar sehinga lebih dari satu jam deh. Dalam event ini diharapkan peserta yang multi segmen, baik pelajar, mahasiswa, para penggemar fotografi, dan masyarakat dengan target jumlah peserta  sebesar 1000 orang. Ternyata animo Jelajah Wisata ini cukup fantastis, tak hanya menarik peserta dari wilayah lokal, beberapa kota lain di luar daerah DIY pun berdatangan, serta beberapa peserta dari manca negara antara lain Kanada, Amerika, Perancis.

Sebagian tracking dalam kebun salak
Rute tempuh jelejah wisata alam dibagi dalam 4 pos dan secara keseluruhan memang tidak ada rute yang menanjak terjal. Untuk sampai pada Pos pertama, semua peserta masih terlihat segar bugar dan berebutan minta stempel. Nah, untuk mencapai pos kedua dan ketiga yang medannya cukup menantang sehingga bikin ngos-ngosan. Meski tak ada rute yang menanjak terjal [seperti jalur menuju set point melihat sun rise di Dieng], tapi yang namanya area dekat gunung kan ya cukup bikin para peserta Jelajah lereng ini senin-kemis nafasnya. YA bisa dimaklumi, mayoritas peserta kan tipikal orang hobi berpetualang di alam raya. Sedangkan rute yang di lalui dalam jelajah wisata ini lebih friendly  bagi komunitas pencinta alam dan pencinta lingkungan. Lha saya, termasuk golongan masyrakat umum yang gak sering-sering out door semacam ini. 
Tracking di luar area kebun salak
Melintasi jalan setapak di dalam kebun salak yang rasanya gak ada habisnya, seolah berjalan di belantara salak pondoh, kanan-kiri tanaman salak nan rimbun. Pada rute yang berupa jalan setapak yang di sebelah kanan aliran air dan sisi kanan agak terjal yang bikin ngeri juga kalau terpelesat karena bisa dengan empuk sampai di rerimbunan pohon salak tuh. Di rute menuju Pos 2, sempat terjadi kemacetan total karena jalannya yang sempit dan medannya rada-rada terjal. Dari pos 3 menuju pos 4, medannya sudah mulai berselang-seling dengan lahan tegalan dan pertanian serta sesekali melintasi pemukiman penduduk. Walaupun kaki mulai njarem-njarem, kami tak ingin berhenti total karena akan berat nantinya untuk mulai berjalan lagi. Gettu sih, pelajaran yang pernah saya dapatkan dari seorang teman yang hobi ke gunung. Selain itu, saat kami rasanya sudah really wanna stop for while…eee..foilaaa, melintaslah seorang bapak tua yang berjalan dengan tenang, mantap, perlahan tapi kok ya ternyata berderap cepat melampui kami berdua. Hiks…malu bro!


Merapi [penampakan dari Beran]
Step by step kami teruskan menapaki struktur tanah berpasir dan berbatu cadas sambil sesekali berhenti untuk narsis dan menenggak air mineral yang kami bawa. Finally, menjelang jam 11.30 kami tiba juga di finish dan segera mencari spot yang enak untuk menyantap sekotak nasi dengan lahap. Acara pun ditutup dengan pengambilan undian door prize dengan grand prize Sepeda Motor. 

Eh, kenapa saya malah asyik cerita pengalaman jalan-jalan wisata di Dewi Pulesarinya ya? 

Overall, menurut saya, Dewi Pulesari memang menantang untuk dijelajahi secara all out kok. Dengan karakterisitik wilayah yang berada dikaki gunung merapi, Dewi Pulesari yang merupakan bagian dari Desa Wonokerto ini terdiri dari area persawahan, tegalan, perkebunan [dominan kebun salak], pemukiman, dan hutan rakyat. Dusun Pulesari sendiri merupakan daerah pertanian yang memiliki sumber mata air yang cukup melimpah, mengalir ke sungai krasak, sungai bedog serta mencukupi kebutuhan irigasi pertanian warga desa Wonokerto sendiri. Dengan Curah hujan rata rata di daerah ini 3.908 mm per tahun, suhu udara berkisar  24 hingga 28 derajat celcius. 

Bagi yang tertarik untuk menikmati pesona lereng merapi dengan jelajah wisata melalui Desa Pulesari ini, just go to get there. Akan tetapiiiiii, sepengamatan saya tidak melihat adanya angkutan umum [angkotan desa dan sejenisnya]. 

Mumpung di kebun salak, 
Menyapa Buah Salak di Pohonnya
Saran saya, jika berencana ke Dewi Pulesari ini sebaiknya pilihlah secara berregu agar rental kendaraan pribadi bisa lebih bersahabat di kantong. Lagian, mana asyiknya coba jika berjelajah alam wisata lonely? Berasa kayak orang hilang banget tuh jika sendirian mnegubek-ubek seantero Pulesari ini. Bagi para biker, bisa asyik dengan  roda dua lho? 

Untuk mencapai lokasi Dewi PUlesari ini tidak begitu sulit, dari jalan Magelang, ambil jalan Turi- Pakem. Jika masih belum bisa menemukan jalur Turi - Pakem, silahkan gunakan GPS paling canggih: BERTANYALAH pada orang yang anda temui, whehehheee.

Then Enjoy the trip over there dengan  pilihan Paket wisata [alam] dan paket kuliner Dewi Pulesari. Juga tersedia pilihan Paket Kesepakatan yaitu Sesuai permintaan Wisatawan dan diselaraskan dengan harga  yang bisa dimusyawarahkan secara mufakat untuk memperoleh paket wisata sesuai alokas/ budget masing-masing. 

For more information, please do contact this address below [Picture]:



                ♠♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 




Benda yang Wajib Dibawa Saat Jalan-Jalan

Saat berpergian baik versi long trip/short trip, dalam rangka mbolang [sekarang sudah jarang sey], mudik,  ataupun saat on duty keluar kota, Selain dompet,  HP beserta kroninya dan pocket camera, Bismillahirrahmaanirrahiim masih segabrek barang-barang renik yang bikin ransel saya bejubel. Dan karena yang dipersyaratkan dalam GA-nya Mbak Myra Anastasia ini benda yang wajib dibawa saat jalan-jalan selain HP, kamera dan powerbank, maka dengan pertimbangan dan perdebatan yang cukup alot bin sengit *lebay*, maka inilah 3 benda yang hampir selalu saya bawa ketika bepergian:
  1. Tempat obat yaitu sebuah dompet kecil berisikan beberapa jenis obat-obatan yang sekiranya dibutuhkan setiap saat. Sakit saat diperjalanan dan apalagi naik angkutan umum, kan tidak mungkin untuk mendapatkan obat yang kita butuhkan as soon as possible. Biasanya dompet obat  tersebut saya isi Obat: Maag, sakit kepala, diare dan beberapa multivitamin. 
  2. Kaos Kaki ini saya anggap merupakan benda yang fundamental buat persiapan jika ternyata terpaksa harus sholat di saat masih dalam perjalanan. Kalau naik kendaraan pribadi tentu tak ada masalah jika hendak sholat sesuai jadwalnya. Tapi perjalanan jauh dan jalur darat seperti rute mudik saya ke LA yang rawan macet, saya sangat perlu untuk mempersiapkan diri JIKA kondisi membuat saya harus sholat dalam perjalanan.
  3. Buku menjadi salah satu benda yang mendapatkan priorotas untuk di bawa dengan alasan dan tujuan untuk menaruh uang/cost yang dibutuhkan selama dalam perjalanan. Membawa Buku ini menjadi hal yang sesuatu sekali semenjak mengalami kecopetan dompet. Kalau naik kendaraan umum dan beberapa kali pindah Bis/kendaraan tentu sebanyak itu pula [minimal] saya mengeluarkan dompet untuk membayar atau hal lainnya. Oleh karenanya, posisi dompet pun mudah saya akses. Hingga suatu ketika, itu dompet raib dengan sukses tanpa ada jejak. Semenjak saat saat itu saya menggunakan buku sebagai pengganti dompet selamat perjalanan. Saya meletakkan sejumlah uang di dalam buku untuk opersional selama perjalanan dan dompet saya letakkan di posisi yang aman. Jadi, jangan berbaik sangka kalau saya dhemen baca buku saat di perjalanan karena saya termasuk orang yang tidak bisa menikmati bacaan saat berada dalam perjalanan. Kalau untuk beberapa menit, InsyaAllah masih bisa. Tapi untuk durasi lama, pusing pun menyerang dengan sukses yang memunculkan rasa mual seperti hendak mabuk gettu deh. Tapi meski mengalami kepusingan untuk membaca buku ketika dalam perjalanan, toh tetap merasa ada yang kurang jika on the trip tidak membawa buku. Jadi, sebenarnya kebiasaan membawa buku sudah sejak lama dan mengalami penguatan peran kehadiran buku dalam perjalanan setelah mengalami tragedi kehilangan dompet.
Nah, itulah ketiga benda yang memiliki hukum [semi] wajib dibawa ketika saya bepergian.
Kalau anda, benda-benda apa saja yang memiliki prioritas untuk di bawa saat bepergian selain hand phone, kamera, atau powerbank?


Postingan ini diikutsertakan dalam "1st GA - Benda yang Wajib Dibawa Saat Jalan-Jalan"



♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


SMOGA KESUKSESANNYA MENULAR BUAT MEMBER2 BARU YG RAJIN..AMIINN




Melepas Kepak Sayang

Sementara jari jemariku asyik memencet keyboard, kulihat icon YM menyala…ada message yang masuk? 
     Abang : Hey…My dear princess? 
Oh Dear My GOD? Semestinya aku senang karena dia menyapaku? Tapi nyatanya rasa pedih dan perih yang menampar permukaan hatiku.
     
     Abang : Aku tahu kamu ada kan? Please, say something….?
Hampir sebulan vacuum tanpa sms, telpon dan akses komunikasi lainnya. Tapi itu  belum cukup untuk menetralkan perasaanku terhadapnya. Dan sapaanya di YM kali ini serta- merta kembali menayangkan peristiwa yang mencabik selaput hatiku, membias dengan demikian jelasnya, seakan baru beberapa saat lalu terjadi. Pertemuan dalam suasana yang berlatar lagu-lagu romantis mengalun syahdu memenuhi ruangan cafĂ©.  Sebulan lalu berada di sebuah cafe bersama para pengunjung yang rata-rata datang berpasangan, sepertiku juga yang datang dengan Bang Angga.  Dinner yang romantic di malam minggu, mendadak jadi garing dan membuat bumi serasa berhenti berputar karena ternyata Bang Angga justru menggunakan moment tersebut untuk mengakhiri hubungan.
     
     “Aku mencintaimu, sangat..” ucapnya dengan penuh kesungguhan dengan intonasi yang dalam. Mata teduhnya menikamkan rasa terbuai sampai ke langit tujuh. karena itu aku tidak ingin membuatmu terluka dan kecewa.....”
     “Maksud Abang....kok bicaranya jadi aneh begini?tiba-tiba aku di serbu panic luar biasa. Something is going wrong...tebakku dalam hati. 
    “Jangan menungguku lagi ya...aku mohon?” aku menarik tanganku dari genggamannya dan gagal menahan kelopak mataku yang langsung menderas oleh butiran-butiran bening.

Sekian tahun aku menunggu, berharap luka di hati Bang Angga hanya tinggal bekas tanpa rasa sakit yang membimbangkan laju cintanya padaku. Duh Gusti, sedemikain luar biasanya gadis itu sehingga Bang Angga rela menyimpan lukanya? Ratapku pilu dalam diam sibuk menenteramkan gejolak perasaanku yang porak poranda.
     Abang : BUZZZ 
Suara dari YM menghentikan lamunanku. Monitor di depanku kembali menyala setelah hibernate beberapa saat karena tidak ada aktifitas.
     Nira: Iya, apalagi yang bisa aku katakan Bang?
     Abang: Apa saja…setiap kata-katamu, segala tentangmu adalah hal terindah buatku.
     Nira: Tidak ada hal yang dianggap TERINDAH tapi dilepaskan !
Nada tulisanku mulai tersulut emosi karena sebesar apapun rasa sayangku padanya tetap tak bisa membuatnya bergeming dari trauma masa  lalunya.
     Abang : Kamu tahu persis bagaimana perasaanku padamu. Ini sangat tidak mudah…bagaimana aku harus mengambil keputusan ini? I do love you Princess, tapi cinta tidak harus memiliki kan?
      Nira: Berapa kali harus kubilang bahwa aku tak pernah setuju dengan kalimat itu Bang? Itu hanya berlaku untuk special case seperti perbedaan keyakinan…sedangkan alasan Abang apa? Bubarnya pertunangan abang yang terjadi 4 tahun lalu?
     Abang: Karena bukan kamu yang mengalaminya…kamu tidak tahu bagaimana rasanya dikhianati dan dipermalukan…
    Nira: Kalau aku yang mengalaminya, tak akan berlama-lama tenggelam dalam perasaan sakit dan di campakkan. Toh dia sudah tertawa bahagia dengan hidupnya sekarang, untuk apa masih meratapinya…


Namanya Angga dan aku memanggilnya Abang, dikenalkan oleh teman sekitar 3 tahun lalu dan hubungan kami meningkat ‘serius’ sejak dua tahun lalu.
     Abang: Kamu pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik lagi..
     Nira: Atau dengan narasi yang lain: aku tidak cukup baik untuk Abang kan? 
Kurasakan ada yang mulai mengambang di kelopak mataku. Masih saja begini, padahal aku tahu harus bisa melupakannya. Melepaskan diri seperti yang dia inginkan. Betapa sakitnya menyayangi seseorang sedangkan dia tidak sesayang yang aku harapkan. Apa artinya menyatakan cinta tapi tak ingin memiliki? Saat-saat seperti  ini terasa bagai berada pada titik nadirku. 

     Nira: Gagal pada hal yg sama, dgn cara yg sama...seperti jatuh pada lubang yang sama secara berulang. Seperti orang yang TIDAK belajar dari pengalaman.

Hubungan kami memang putus nyambung beberapa kali. Putus dengan sebab yang sama: ketidaktegasannyaa untuk membawa hubungan ke tahap yang lebih serius lagi. Kemudian nyambung lagi karena rasa sayangku masih sedemikian kuat sehingga dengan mudahnya menerima dia kembali saat mengajak ‘rujuk’.
     Abang: Kamu bukan jatuh ke lubang yang sama.. tapi usahamu belum ketemu Takdir Alloh..
     Nira: Mungkin, salah satu hal yang susah dilakukan di dunia ini menyadari ternyata orang yang sangat disayangi tak mungkin untuk dimiliki betapa pun sudah berusaha. 
    Abang: I’m really sorry Princess…Andai aku mengenalmu jauh sebelum bertemu ‘dia’, aku tak akan membuatmu terluka begini.
     Nira: Jangan berlindung di balik pengandaian yang nisbi seperti itu Bang. Kupikir akan ada keajaiban, ternyata hati abang yang hanya satu sudah abang berikan pada orang lain semuanya..tak ada ruang tersisa untukku. Jadi tolong abang ‘menghilang’ dari kehidupanku agar aku bisa menata ulang perasaan sayang ini sehingga bisa menganggap abang teman biasa.

Nira has signed out. (24/02/2015 11:55)

Demikian tulisku sebelum signed out, aku tidak ingin perasaanku lebih teraduk lagi. Aku harus melepaskan segenap kepak rasa sayangku walau akan terasa sangat menyakitkan daripada menanggung pedih perih ini untuk jangka waktu lebih lama lagi...it’s time to say good bye and start for new chapter.




                   ♠♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 

Noted: Edisi [belajar] bikin fiksi dan merupakan salah satu kategori fiksi ada buku Mozaik Kinanthi. Sssstt...part yang mirip dorama tidak keliatan kan?



Percakapan Nano-Nano

Dilema pelantikan Kapolri yang memancing banyak reaksi beberapa waktu lalu, membuat saya teringat Bismillahirrahmaanirrahiim dengan sepenggal episode ketika pada jaman dahulu ketika saya masih di Banyuwangi. Percakapan non formal dengan seorang guru yang sedang melakukan monitoring terhadap siswa-siswa yang sedang PKL di tempat kerja. Jadwal pemantauan rutin yang menyertai mata pelajaran PKL. Di sela-sela mengikuti anak didiknya praktek di Laboratorium, obrolan kami - entah bagaimana alurnya, maap sudah lupa- tapi saya masih ingat sangat dengan point yang jadi tematik oboral kami kala itu. 
Beberapa waktu lalu kami dan pihak sekolah mendapatkan protes dari sebuah LSM yang katanya concern terhadap Hak Asasi Anak “ 
Lha ada kasus apa Pak? “ tanya saya masih gak nyambung.
Belum lama ini kami terpaksa mengembalikan amanah pendidikan seorang anak pada orang tuanya…”
Maksudnya, dikeluarkan ya Pak?” deuhh, mestinya kan saya gak perlu menyebutkan kalimat yang segambalng itu ya?
Iya Bu. Pilihan yang tidak mudah, tapi harus kami ambil “
“ Penyebabnya apa Pak? Tentu ada alasan yang pokok sehingga keputusan tersebut harus diambil kan?”
Anak tersebut hamil. LSM tersebut melayangkan protes yang menganggap kami mengabaikan hak anak untuk bersekolah. Lha jika si LSM tersebut mengaku menyuarakan protesnya demi hak anak yang kami kembalikan pada wali muridnya, secara proporsional, bukankah LSM tersebut juga harus mempertimbangkan hak dan kepentingan sekian ratus anak-anak lainnya juga kan?” Saya diam, bingung mau menjawab apa. 

Edisi candid: belajar motret human interest 
“ Kami instiusi pendidikan, tidak sekedar mengajar pelajaran sekolah. Jika tidak ada sanki apa-apa, maka siapa yang bisa menjamin atau mencegah sekian ratus anak lainnya tidak memiliki stigma : oooo…berarti oke-oke saja tuh jika pacaran sebebasnya sampai hamil getu? “
“ Iya pak, saya mengerti kontroversi yang timbul dengan keputusan tersebut. Terus LSMnya masih mau melanjutkan protesnya kemana Pak”
Kami persilahkan saja jika mau melanjutkan kasusnya. Kami sadar jika kami tidak bisa membuat keputusan yang bisa menyenangkan semua pihak. Tapi setidaknya, keputusan kami dalam rangka mempertimbangkan kepentingan anak-anak lainya yang lebih banyak.”
Iya Pak, seperti halnya gigi yang sakit juga harus dicabut agar tidak menular pada gigi-gigi yang sehat lainnya. “ aseli jawaban ngaco  gegara habis cabut gigi tuh.
Iya, toh kami tidak memblack list. Anak tersebut masih bisa bersekolah di tempat lain, atau ke sekolah yang sama setelah bersalin yang tentunya di tahun ajaran berikutnya. Harapan kami, semoga ada pembelajaran bagi anak-anak lainya agar lebih berhati-hati dalam setiap tingkah laku karena setiap tindakan ada resiko yang sepaket dengan konsekuensinya . “ 

Dari percakapan tersebut, secara tidak langsung si Bapak Guru tersebut juga sedang mendidik saya untuk peka bahwa ukuran baik dari setiap keputusan akan memiliki ukuran yang berbeda bagi berbagai pihak karena sudut pandang yang tidak sama. 

Semakin kecil sudut yang digunakan, tentu akan memberikan penampakan yang sempit terhadap suatu permasalahan. Apalagi jika ditambahi dengan pola pikir, paradigma, kepentingan [pribadi/kelompok] dan bumbu-bumbu lainnya yang akan membuat suatu persoalan semakin nano-nano kan? Maka, demikian tulisan ini saya juduli percakapan Nano-Nano #judul asal comot

#Don’t [just] say It’s my life, Think First karena setiap resiko yang muncul akan membawa keluarga terlibat untuk menanggungnya.

[Salah satu] Visiku dan Misi Meraih kemerdekaan Finansial

Tematik #LBI2015 pekan ke-7 yang Bismillahirrahmaanirrahiim memberi tantangan untuk menuliskan Visi dan Misi. Secara definisi dasar, visi adalah tentang apa yang kita yakini mampu untuk dilaksanakan dalam kurun waktu tertentu [yang diharapkan bisa mewujudkan visi tersebut]. Sedangkan MISI adalah serangkaian hal/tindakan/perbuatan yang dilakukan dalam rangka mewujudkan suatu visi. 

Nah, untuk tematik #LBI pekan ke-7 ini, saya pilih untuk menuliskan Visi dalam hal finansial yaitu Meraih kemerdekaan Finansial. Adapun misi yang harus saya jalankan adalah:
  1. Re-engineering mind set : cash flow harus di manage tidak hanya dalam kerangka hidup hemat.
  2. Belanja berdasarkan kebutuhan, artinya meski pun awal bulan dan atau baru gajian, jika stock bahan untuk di masak masih mencukup, ya gak usah belanja meskipun untuk acara windows shopping
  3. Tidak menginginkan sesuatu yang tidak bisa saya beli. Kalau suka Rubicon ya cukup menyukai saja [dulu].
  4. Meskipun bisa membeli suatu jenis barang, harus dipikirkan nilai manfaatnya [nilai ekonomis] apakah optimal? Kalau sekedar biar tampil ghaya, HARUS dikendalikan nafsu untuk membelinya.
  5. Menyediakan dana di tabungan sebatas untuk operasional untuk menghindari ketergodaan gencarnya promosi barang-barang komplementer/fashion
  6. Disiplin menyisihkan penghasilan secara rutin untuk dialokasikan dalam tabungan yang memiliki nilai investasi [untuk keperluan jangka panjang saat anak-anak membutuhkan biaya yang lebih besar atau muncul kebutuhan yang tidak terduga dalam jumlah yang relatif besar, sedangkan daya diri sudah menurun produktifitasnya]
  7. Jika belanja barang-barang konsumtif, prioritaskan beli dalam kemasan besar karena memang digunakan setiap hari.
  8. Tidak sering-sering nonton bioskop #sengaja dimasukkan karena sudah hampir 2 tahun gak nonton film di bioskop
  9. Meminimalkan beli produk yang di kemas sachet karena jatuhnya lebih mahal dan bertentangan konsep green living #Think First [don’t] just recycle
  10. Lebih sering masak sendiri. Kuliner cukup sesekali saja, sekaligus untuk refreshing dan gathering sama anak-anak yang sehari-harinya tinggal di asrama
  11. Tetap rajin sedekah/infaq baik harian, mingguan, bulanan maupun tahunan
Demikian, Visi saya dalam hal keuangan karena saya berharap bisa menjalani hidup sehari-hari dengan kemerdekaan finansial. Masih banyak lagi lainnya yang bisa dilakukan dalam rangka wewujudkan kemerdekaan finansial ini. 

Setiap orang, siapa saja bisa meraih kemerdekaan finansial karena ini merupakan pilihan. Sejatinya tidak ada orang yang hidup kekurangan karena Allah SWT menciptakan kondisi kekayaan dan kecukupan [bukan kekurangan ataupun kemiskinan]. Anda tentu punya cara-cara yang lebih cerdas untuk meraih kemerdekaan finansial ini sejak dini pula. Aamiin:)

Bapak adalah Ayahku

Pesawat telpon di meja kerjaku berdering kembali padahal baru satu menit aku meletakkan gagang telpon tersebut,  “ Iya Lia, ada apa lagi ?” tanyaku tanpa basa-basi pada sekertarisku. 
 “ Seorang bapak ingin bertemu, tapi tidak mau menyebutkan namanya Pak.” kudengar nada agak ragu di seberang telpon yang aku pegang. Sok misterius banget, mau bertemu tapi tidak mau menyebutkan identitasnya. Tapi demi mengingat didikan etika kedua orang tuaku, maka aku bilang pada Lia untuk mempersilahkan tamu itu masuk ke ruang kerjaku.
Assalamu’alaikum…” seorang lelaki seumuran bapak tapi sedikit lebih tinggi memasuki ruanganku. Kulitnya sawo matang, rambut agak bergelombang. Garis wajahnya mengingatkan aku pada seseorang tapi aku tidak ingat sama sekali kapan dan dimana pernah melihatnya.
“ Wa’alaikum salam,” kuterima uluran tangannya,”silahkan duduk Pak..” 
“ Maaf jika kedatangan saya mengganggu Nak Damar..”
“ Tidak ada apa-apa, tapi maaf boleh saya tahu bapak ini siapa ya?”
Lelaki itu tidak langsung menjawab, kulihat seberkas gundah menghiasi wajahnya yang mulai keriput di beberapa bagian.
“ Sangat wajar jika Nak Damar tidak mengenaliku, sama halnya aku juga tidak akan tahu bagaimana rupa Damar kecil yang telah kutinggalkan 27 tahun silam…”
“ Maksud Bapak…?” perasaan aneh, gugup dan bingung serta merta membadai di dadaku. Apakah dia….?
Iya aku ayahmu…” satu kalimat yang cukup membuat bumi terasa berhenti berputar. Aku terdiam dalam keterpanaan tiada terkira, terkejut dan ingin tidak mempercayai ucapannya. 

Bippp...bippp...suara handphone menghentikan lamunanku, kulihat nama Pratama muncul dilayar HPku. Hemm, adikku yang bawel itu pasti akan mencerca dengan banyak pertanyaan kenapa dan untuk apa aku tiba-tiba mau pulang lagi padahal belum ada seminggu berada di Jakarta. Sebagai gantinya kukirimkan pesan singkat agar besok menjemputku di Juanda.
*****
Bapak mana, Buk?” tanyaku begitu masuk rumah dan mencium tangan ibu.
Kamu ini ada apa? Tiba-tiba pulang lagi dan langsung nanyain bapakmu “ protes ibuk sambil mengacak rambutku, kebiasaannya jika gemas pada anaknya ini. “ cuci kaki dan minum teh dulu. Jam segini ya bersama taxinya, apa lupa kalau pekerjaan bapakmu itu sopir taxi?”
Lha Bapak sih ngeyel, suruh berhenti jadi sopir tidak mau. Sekarang aku sudah kerja dan Andi sudah lulus kuliah. Hanya Pratama yang harus dibiayai, aku sanggup bayari kuliahnya”.
Kamu ini datang-datang bicara ngalor-ngidul gak jelas begitu? Ada apa sih, Mar? Apa kamu malu punya bapak yang jadi sopir taxi? ”
Astaghfirullah, kok jadi salah paham begini ? Ibuk tahu jika Damar sangat menghargai dan kagum dengan bapak kan ?” aku berusaha meredamkan perasaan ibu, merangkul pundaknya dan mencium keningnya dengan lembut. “ Bagi Damar bapak adalah ayah terhebat di dunia, jadi tidak ada alasan buat Damar untuk malu dengan pekerjaannya sebagai sopir “.
“ Iya ibuk heran lha tiba-tiba kamu pulang lagi dan baru satu menit masuk rumah sudah bicara yang membingungkan seperti orang kesambet gitu “.

Ya Allah, aku tak sanggup mengatakan pada ibuk kenapa aku mendadak pulang lagi. Aku memandang pigura yang menggantung di tembok, foto kami sekeluarga saat acara wisudaku beberapa tahun lalu. Ada bapak, ibuk dan kedua adikku, sungguh potret keluarga utuh yang harmonis. Dan kenyataanya keharmonisan itu tak hanya tampak di foto. Dengan bekerja sebagai sopir taxi dan dibantu ibuk yang melayani pesanan kue, mereka membesarkan kami bertiga dalam kesederhanaan di tengah kerasnya kehidupan kota Surabaya dan mampu mengantarkan kami sampai jenjang kuliah. Bapak menikah dengan Ibuk yang janda beranak satu yaitu diriku. Sebenarnya saat itu bapak kerja di perusahaan tapi karena mengalami kebangkrutan akhirnya bapak harus mencari pekerjaan lain dan jadi sopir taxi sampai sekarang. Aku hanya mengenal Bapak sebagai ayahku, karena yang aku tahu dari cerita sekilas ayah kandungku sudah meninggalkan ibuk sejak aku belum genap berumur setahun. 
 “ Kamu kenapa? Kok dari tadi melihat foto itu? “.
Aku menoleh dan tersenyum pada ibuk “ Coba lihat di foto itu, bapak kelihatan keren kan Buk? Hehehe…”
“ Dari tadi bapakmu terus yang kamu omongin, Mar “ selidik ibu dengan instink ingin tahunya.
“ Ibuk bisa saja “, elakku sekenanya .
*****
 Semilir angin sore yang meniup perlahan, menawarkan kesegaran tersendiri dengan aroma basah sisa hujan beberapa jam lalu. Duduk pada salah satu sudut tribun di Stadion Tambaksari, melayangkan pandangan ke tengah lapangan. Tampak beberapa anak sedang asyik main bola dengan keriangannya yang tanpa beban. Pemandangan yang menerbangkan ingatanku pada masa kanak-kanak. 

Tak terasa sudah dua puluh tahun berlalu saat bapak setiap hari minggu mengajakku main bola di lapangan ini. Bapak yang mengajariku naik sepeda, menemaniku main bola dan membuatkan aku layang-layang. Bapak yang panic saat aku di serempet sepeda motor, bapak yang meredamkan amarah Ibuk waktu tahu aku coba-coba merokok. Terlalu banyak kenangan dan tak bisa aku sebutkan satu persatu betapa bapak sudah menempatkan dirinya sebagai sosok ayah yang luar biasa bagiku dan kedua adikku. 

“ Menangis itu normal Mar, tapi jadi laki-laki cengeng itu yang salah besar..” nasehatnya ketika aku jatuh saat belajar naik sepeda.
Kenapa cengeng itu salah, Pak?” tanyaku kala itu.
“ Karena cengeng itu artinya kamu lemah, kamu tidak hebat…” dengan bahasanya bapak mencoba memberi penjelasan yang bisa diterima oleh nalar kanak-kanakku.

Matahari memang hilang ditelan senja, tapi ia akan menepati janjinya,
datang esok hari [lagi dan lagi]
Dedauanan hijau yang masih basah oleh sisa air hujan, beberapa butirnya jatuh di tubuhku saat angin bertiup perlahan. Kupejamkan mata, merasakan romantisme suasana di stadion ini sambil mengenang kembali setiap kenangan masa-masa aku sering bermain di lapangan ini. 
Damar…” suara yang sangat aku kenal, seorang lelaki yang akrab aku panggil bapak sudah duduk dengan santai. 
Kucium tangannya dengan takzim “ Kok bapak tahu Damar di sini?”
Di sini kamu dulu suka menghabiskan waktu untuk bermain, dan di sini pula kamu biasa menyendiri jika ada masalah kan?”
Yah, tentu saja bapak dengan mudah bisa menemukan aku di sini karena dia sedemikian paham dan hafal akan semua kebiasaanku.

“ Apa dia sudah menemuimu, Mar? Sehingga kamu tiba-tiba pulang dan mau minta penjelasan kenapa bapak memberitahu dia alamatmu di Jakarta?” tanya bapak langsung pada pokok dilema hati yang aku alami.
Damar bingung, pak. Antara kecewa, sedih dan ingin marah…andai bisa di hapus, Damar akan lebih mudah untuk memilih menghapus jejaknya dalam hidup Damar “.
Hushh, jangan ngawur gitu kalau ngomong..”
Bapak menatapku dalam-dalam, seolah hendak menyelami isi hatiku dan sesaat kemudian melemparkan pandangannya lurus ke tengah lapangan.
Karena Bapak tahu bagaimana hati seorang ayah terhadap anaknya..”
“ Hanya karena dia kebetulan yang menyebabkan aku lahir? Kemudian pergi tanpa tanggung jawab sedikitpun, tidak perduli istri dan anaknya masih hidup atau tidak? Itu yang di sebut hati seorang ayah?”
“ Bapak mengerti perasaanmu, tapi dia tetap ayah kandungmu yang harus kau hormati “
“ Dan kalau aku tidak bisa maka aku di sebut anak durhaka ya kan Pak? Kenapa dia tidak di sebut ayah durhaka?”
“ Damar..!” pintas bapak dengan intonasi agak tinggi.
Maaf, Damar tidak bermaksud kasar..”

Bapak menghela nafas  panjang dan merangkul pundakku dengan kasih.
Bapak tahu tidak mudah bagimu untuk menerima kenyataan bahwa kau harus menerima dan menghormati dia. Asal kau tahu inipun salah satu resiko tidak mudah yang harus bapak hadapi ketika memutuskan menikah dengan ibukmu “
“ Maksud bapak?”
“ Aku yang membesarkan dan selalu ada buatmu..bagiku kau sudah menjadi anak kandungku. Tapi kenyataannya ada laki-laki lain yang jelas-jelas adalah ayah kandungmu ? Dan bapak tidak mungkin meniadakan fakta itu. Sangat tidak mudah buat bapak, Mar. Dengan menekan rasa cemburu dan ego, bapak meyakinkan ibukmu agar mau memperkenalkan kamu dengan keluarga ayahmu demi hubungan silaturahim agar tidak putus..”
“ Iya, Damar sama-samar masih ingat. Dulu ibuk sesekali mengajak Damar ke rumah orang yang menyebutkan dirinya sebagai Eyang” 
“ Tidak mudah juga bagi  bapak saat harus berbesar hati memberikan alamatmu, Mar. Tapi bapak harus realistis, walau bagaimana tidak ada mantan orang tua dengan anaknya kan?”
Aku terdiam menyimak kalimat demi kalimat yang di ucapkan bapak, berusaha meresapi dan mengendapkannya dalam hati serta meredam emosiku.

Sisi manusiawi bapak tidak rela, tiba-tiba dia muncul dan ingin di anggap sebagai ayah kandungmu. Tapi bapak akan jadi sosok ayah yang gagal mendidikmu jika bapak sendiri tidak mampu bersikap gentlemen dengan memberikan apa yang menjadi hak bagi kalian sebagai anak dan ayah..”
Aku terhenyak, terenyuh dalam palung haru yang terdalam. Sedemikian luar biasanya jiwa besar bapak. Dia yang sudah bersusah payah berselimut suka dan duka untuk membesarkan aku yang jelas-jelas bukan darah dagingnya, melimpahiku dengan perhatian dan kasih sayang. Dan dia berbesar hati meyakinkaku agar bisa menerima laki-laki yang mengaku sebagai ayah kandungku.
Terima kasih, bapak adalah ayahku yang terhebat” kupeluk bapak dengan sangat erat. Jika tidak ingat ini di lapangan, mungkin air mataku sudah menetes perlahan.
“ Jadi bagaimana..?”
“ Damar tidak akan mengecewakan bapak “ jawabku dengan suara serak “ Damar akan berusaha bersikap sportif terhadap ayah kandung Damar“
“ Maksudmu…?”
“ Dua puluh tujuh tahun tidak bisa ditebus dengan hitungan hari untuk melahirkan hubungan emosional antara ayah dan anak..”
“ Iya bapak mengerti itu “
“ Bapak sendiri yang suka bilang pada Damar bahwa tidak ada yang instan di dunia ini. Semua butuh proses dan waktu kan ?” 
“ Ya sudah, sekarang ayo kita pulang. Ibukmu sudah masak nasi goreng kesukaanmu lho?”

Kami pun beranjak dari stadion dengan diiringi sayup-sayup suara adzan Maghrib, menggema memecahkan langit Surabaya. Warna jingga mulai semburat di sisi barat dan angin senja pun seolah  berhenti sejenak untuk menjawab seruan suara muadzzin yang merdu mengumandangkan panggilan untuk menyerukan pada Allah azza wa jalla dalam sujud demi sujud yang khusyu. 


Noted: Sebagian cerita based on true story [ Edisi memfiksikan true story]. Masih harus banyak belajar dan berlatih lagi. #SEMANGAT




Peluang dan Potensi Bisnis Konveksi di Yogyakarta

Tumbuh kembang pesatnya industri konveksi dari waktu ke waktu dapat dipahami karena Bismillahirrahmaanirrahiim produk-produk konveksi merupakan salah satu bisnis yang akan terus hidup dan berkembang seiring perkembangan peradaban. Bisa dibilang, bisnis konveksi bukan jenis bisnis musiman karena kebutuhan manusia akan barang-barang yang dihasilkan oleh industri konveksi merupakan kebutuhan primer yang harus dipenuhi. Apalagi ditunjang dengan trend fashion yang berkembang pesat dewasa ini yang otomatis membuka peluang emas bagi bisnis konveksi semakin melaju pesat karena ragam produk konveksi sangatlah banyak, mulai baju anak-anak hingga manula, aksesoris, tas, topi, seragam, baju untuk distro, butik, dompet, kaos, jaket, dan segala jenis produk yang terkait dengan out fit sehari-hari merupakan produk yang dihasilkan industri konveksi. 

Oleh karena itu, bisnis konveksi ini menunjukkan grafik perkembangan cenderung meningkat dari waktu ke waktu di berbagai daerah, termasuk juga di Yogkarta dan Sleman khususnya yang tak mau kalah bersaing dengan geliat KONVEKSI SEMARANG yang salah satunya adalah MUSLIMAX Clothing. 

Selain kelima faktor “alamiah” di atas, perkembangan bisnis konveksi di wilayah Yogyakarta yang cukup pesat juga karena adanya ‘katalisatorstatus Yogyakarta sebagai kota pelajar dan destinasi wisata yang memiliki daya magnet sangat besar bagi para wisatawan manca negara maupun domestik. 
Bimtek membatik di Desa Sumberharjo, Sleman
Akumulasi jumlah pelajar/mahasiswa yang ngangsu kaweruh [menimba ilmu] dan berbondong-bondongnya turis ke Yogyakarta, tentunya merupakan daya ungkit demand and order terhadap kebutuhan-kebutuhan primer, salah satunya ya produk konveksi kan? Baik untuk dipakai sehari-hari ataupun untuk oleh-oleh manakala pulang kampung yang mana item konveksi merupakan salah satu pilihan oleh-oleh yang memiliki rating order cukup tinggi di kawasan Yogyakarta.

Laju perkembangan bisnis konveksi  tersebut, selain dilandasi inisiatif personal untuk berwirausaha di bidang jahit-menjahit dan daya kreatifitas dalam berproduksi, juga tak bisa dikesampingkan adanya dukungan dari instansi-instansi terkait. Bimbingan teknik/pelatihan yang terkait dengan konveksi yang telah rutin dilakukan antara lain: pelatihan sablon, pelatihan membatik dan fashion tradisional. Dengan pelatihan-pelatihan tersebut diharapkan:
  1. Peserta terbuka wawasannya dan termotivasi untuk menekuni usaha konveksi dan memiliki kreatifitas dalam membuat produk konveksi
  2. Meningkatkan kemampuan pelaku industri dan warga masyarakat peserta pelatihan dalam memproduksi baju dan produk konveksi turunannya yang berkualitas [kompetitif] dan memiliki prospek pasar yang baik
  3. Sebagai salah satu upaya pengembangan industri mikro dan kecil agar memiliki kemampuan untuk mengembangkan usaha yang sudah ditekuni sebelumnya
  4. Menjadi sarana untuk menumbuhkan wirausaha baru di bidang konveksi.
Bimtek membatik di Desa Sendangsari, Sleman
Terkait dengan pelatihan ini, peserta juga disupport untuk membentuk kelompak usaha dan diberikan bantuan hibah peralatan sehingga bisa bersemangat dan secepat mungkin memulai usaha konveksi begitu penyelenggaraan pelatihan/bimtek selesai. 

Selain pelatihan dan memberikan ”kail” sesuai jenis pelatihan, juga telah disediakan media untuk memasarkan hasil produksi konveksinya. Ada pasar lebaran yang diadakan secara rutin dengan mengundang para pelaku usaha kecil dan mikro untuk memasarkan produknya atau sebagai media untuk melakukan test market bagi yang baru memulai usaha konveksinya. Juga ada fasilitas showroom di Instansi yang memangku bidang perindustrian, dimana semua pelaku bisnis konveksi dipersilahkan untuk memperkenalkan dan memasarkan produk konveksi yang dihasilkannya. 

CV. Kutu Buku adalah salah satu dari sekian banyak pelaku pebisnis [IKM] konveksi yang sudah memajang produknya di Showroom Disperindagkop Sleman: mulai baju anak hingga dewasa dengan berbagai jenis bahan, tas, jilbab, dompet, bed cover, sprei, taplak meja, dan masih banyak lagi varian lainnya. Produsen konveksi CV. Kutu Buku ini beralamat di Gamping Lor, Ambarketawang, Gamping – Sleman  yang memantapkan segmentasi produknya pada jenis Kaos Anak, Kaos Lukis dan Kaos polos. Bagi yang tertarik atau berencana untuk memiliki kaos yang limited edition dengan lukisan yang special tak ada duanya, silahkan kontak ke marketing.kaos.kutubuku@gmail.com atau bisa menjelajah dulu webnya di www.kaosanakindonesia.com dan dapatkan penawaran terbaik sesuai selera anda.
[Sebagian] Name Card stake holder pebisnis Konveksi
di Showroom Disperindagkop Sleman
Bagaimana dengan pengalaman menggunakan jasa konveksi? Jelas dunk jika saya merupakan konsumen konveksi, terutama produk-produk konveksi lokal [dalam negeri], tentu amat sangat sering. Segala rerupa out fit dan pernak-pernik yang kami kenakan sehari-hari adalah produk konveksi lokal. Sebagian memang ada yang dibuat berdasarkan pesanan/menggunakan jasa konveksi [penjahit]. Terutama untuk menjahitkan baju seragam dan baju yang saya gunakan untuk ke kondangan misalnya. Cukup dengan menemukan penyedia jasa konveksi yang klik, dalam arti hasil jahitan dan modelnya sesuai dengan yang saya inginkan. Biasanya saya menyerahkan modifikasi model bajunya, termasuk pembelian kain yang cocok untuk dimix dan match dengan baju yang saya pesan tersebut. Ketika ada yang kurang pas, mereka dengan terbuka siap memperbaikinya dengan sistem free of charge. Dalam memberikan pelayanannya, pihak penyedia jasa konveksi juga komunikatif. Misalnya ketika ada modifikasi yang dirasa kurang sreg, maka akan disampaikan terlebih dulu sebelum fixed diproses penjahitannya. Kalau soal harga, rata-rata ya sesuai dengan tingkat kesulitan model baju dan seberapa banyak membutuhkan tambahan bahan [kain dan aksesoris tambahan]
Kaos pada Moment Cities of  Volcanoes ke-8
Nah, kalau pengalaman memesan kaos baik untuk pribadi ataupun seragam, sampai saat ini saya belum pernah. Biasanya ya terima beres kaos tinggal pakai, baik kaos seragam dari tempat kerja atau manakala join di suatu jenis event/komunitas. Apa saja tips [ala saya] dalam memesan kaos yang perlu dipertimbangkan ketika memesan kaos adalah:
  1. Pilih penyedia jasa konveksi kaos yang memiliki kualifikasi yang sesuai dengan jenis kaos yang hendak kita pesan. Karena masing-masing produsen kaso konveksi memiliki segmentasi produk kaos yang berbeda, ada yang menggunakan teknik penyablonan, lukis dan printing. Kecuali jika pesan kaos polosan, yang perlu diperhatikan tentu kualitas bahan dan hasil jahitannya saja sudah cukup.
  2. Menyepakati harga di awal pemesanan. Seperti apa kaos yang kita pesan tentu tergantung dengan bugdet yang sudah direncanakan dan ini perlu disampaikan ke penyedia jasa. Dengan demikian kedua belah pihak sama-sama clear, dengan budget sekian Rupiah akan mendapatkan kaos yang seperti apa.
  3. Service after sale, yaitu jika nanti ada kaos yang sudah terkirim dan ternyata terdapat cacat pengerjaannya: toleransi failure-nya apa saja, tenggang waktu penyelesaian komplain dan garansi/jaminan yang apa saja yang bisa diberikan oleh penyedia jasa konveksi.
  4. Waktu pengerjaan kaos juga sangat penting untuk disepakati karena pemesan tentu sudah merencanakan kaos tersebut akan digunakan kapan dan untuk event apa. Terlebih jika pesanan dalam jumlah besar dan jarak kotanya cukup jauh semisal di Papua dan pesannya pada penyedia KONVEKSI Semarang seperti MUSLIMAX Clothing
  5. Jangan lupa menanyakan bonusnya apa saja ya? Lha kan jika pesan kaosnya buanyak, biasanya kan ada bonus, discount, dapat kulkas, rumah atau mobil getuu kan cethar membahana tho?  

Nah, Apakah Anda punya tips jitu atau pengalaman ketika pesan kaos? Dan bagaimana perkembangan bisnis konveksi di daerah Anda?


Tentang [ajaran] kebiasaan bijak terhadap air

Prolog: Seharusnya tulisan ini  saya posting di akun http://komp.as/jogjahijau tapi karena kala itu registrasi saya tidak kunjung mendapatkan konfirmasi pengaktifan sehingga lewat dari masa submit tulisan. Dalam rangka memasyarakatkan Gerakan Sustainable Consumption Program, Kompas mengadakan workshop kepenulisan dan fotografi yang kesemuanya berporos Sustainable Consumption Program [SCP]: #Don’t (just) Recycle! Think First berkelanjutan mulai September 2014 s.d Januari 2015. Nah, berhubung tulisan ini gagal posting di #jogjahijau,jadi deh publish di sini

Bismillahirrahmaanirrahiim 
Ketika kita dihadapkan pada himbauan “Save water”, yang spontan terlintas adalah Prinsip dan berperilaku hemat air: gunakan air secukupnya dan seperlunya. Konsep ini sebenarnya sudah ditanamkan oleh kebanyakan orang tua dan para nenek moyang kita. Salah satu bagian orang-orang bijak terhadap pola penggunaan air tersebut adalah Kedua orang tua saya. Sedikit ikut berbagi kisah kasih yang dikembangkan dalam pola didik terhadap anak-anaknya, khususnya soal penggunaan air. Berdamai dengan alam, mungkin ini salah satu refleksi dari beradaptasi. Iyaah, kami tinggal di daerah yang memiliki keterbatasan dengan ketersediaan air di saat musim kemarau. Lamongan, merupakan salah satu wilayah yang termasuk menjadi langganan kekeringan air di kala musim kemarau menyambangi musim. Dengan sebuah teori dasar: untuk mendaptakan air itu tidak mudah yaitu harus menimba dari sumur yang sangat dalam atau mengambil dari desa lain yang berjarak beberapa kilometer. 

Sehingga dalam keseharian sudah ditanamkan pola-pola untuk berhemat air seperti yang belakangan ini digencarkan dalam rangka kampanye Save Water di seluruh penjuru dunia. Sekedar bernostalgia tentang kebiasaan bijak menggunakan air yang telah dibiasakan oleh orang tua kami, bisa saya sebutkan bagian dari budaya hemat air yang saya sejak kecil antara lain:
  1. Mencuci baju seminggu sekali. Sekilas terkesan: Idiiih, jorok nian ya, lha nyuci baju kok seminggu sekali? Maksudnya, kalau mencuci baju ya nunggu jumlah baju kotornya banyak, yang diperkirakan bisa sekali periode mencuci baju dalam kuota baju oran serumah. Atau, karena kami sudah dibiasakan untuk mengurusi keperluan diri sendiri sejak SD kelas 3, lha kan kalau tiap haru nyuci baju kan capek karena nimba air berkali-kali hanya untuk mencuci baju dua atau tiga potong, ribet, riweh. Jadi ya saya kumpulin sampai seminggu baru deh dicuci pas hari libur sekolah. 
  2. Memanfaatkan air bekas cucian beras yang digunakan untuk minum binatang piaraan yang kami punyai kala itu, kambing, sapi atau ayam serta untuk menyirami tanaman konsumtif (sayur dkk). 
  3. Ketika musim kemarau, air bekas mencuci pakaian kami gunakan untuk menyiram halaman rumah dan bunga, sedangkan untuk air bilasan mencuci baju yang terakhir biasanya kami manfaatkan untuk mencuci sepatu atau sepeda onthel kesayangan (the only one). 
  4. Untuk mencuci piring, Ibu saya mengajarkan untuk menggunakan 3 baskom air: Baskom pertama, untuk merendam piring kotor. Baskom kedua untuk membilas piring/gelas yang disabun. Baskom ketiga untuk finishing alias bilas bersihnya.
  5. Kalau mandi pakai gayung, kira-kira 5-7 gayung cukuplah. Apalagi jika musim kemarau, bisa-bisa 3-4 gayung saja dan mandi cukup sekali saat sore hari. Hehehe
  6. Untuk wudhlu menggunakan ‘padasan’ yakni gentong ukuran kecil yang dikasih lubang kecil yang difungsikan sebagai kran untuk outlet air wudhlu
  7. Ketika hujan menampung air dari pancuran untuk mengisi dua gentong besar di dapur yang sehari-hari digunakan untuk memasak. Lumayan, tidak perlu capek-capek menimba air dari sumur kan? Sekaligus di saat-saat hujan, kesempatan untuk rajin mencuci baju sambil mandi dan keramas dengan berhujan-hujan. Jangan tanya soal pilek atau masuk angin ya? Waktu dulu, kami sudah terbiasa dengan bermandikan sinar matahari dan hujan ketika membantu pekerjaan di sawah. 
  8. Ketika musim hujan, menyuci sepeda onthel cukup dibiarkan kehujanan di luar ketika turun hujan. Apa tidak takut berkarat? Saat itu tidak terpikir soal sepeda berkarat, wong nyatanya sepeda butut kami baik-baik saja meski sering kehujanan kok. Bahkan sepeda pancal yang saya gunakan saat SMP sampai sekarang masih bisa digunakan dengan lancar jaya (saat ini sudah hampir 25 tahun saya lulus dari SMP).
Dan masih banyak lagi kebiasaan bijak yang ditanamkan pada kami semenjak usia kanak-kanak, yang sebagian besar masih kami lestarikan sampai sekarang untuk kemudian bisa dilanjutkan oleh generasi kami selanjutnya. Karena main core dari save water adalah ketersediaan air untuk kelangsungan kehidupan di masa mendatang.  Jika dimasa kecil saya ditanamkan KEBIASAAN hemat air, pada perkembangan selanjutnya dimana populasi manusia semakin bertambah, pola hidup juga berkembang serta dampak lingkungan akibat jumlah limbah/sampah baik industri maupun rumah tangga yang kian meruah, adalah sumber-sumber yang mengancam ketersediaan air yang tak hanya dalam batasan mencukupi untuk masa-masa tertentu, tapi juga mengancam kelestarian sumber air untuk mendukung kehidupan di masa-masa mendatang. 

Bila tiga dasawarsa lalu, orang tua kita telah mengajarkan untuk terbiasa berpola hemat dalam menggunakan air, maka Tantangan terhadap masalah air di masa-masa selanjutnya  secara global sudah TIDAK MUNGKIN lagi bisa dipecahkan dengan pemecahan persoalan-persoalan yang sudah ada saat ini semacam [hanya] pola-pola berhemat air. Karena Permasalahan air di seluruh dunia ini sebenarnya berakar dari hubungan fundamental manusia dengan alam yang seiring dengan masalah-masalah ekonomi, sosial dan ekosistem yang menyertainya sehingga berdampak (salah satunya) pada kelestarian sumber air.


Jadi, secara hukum demand and order, prinsip 3R ( reuse, reduce, dan recycle) sudah SAATnya didahului dengan pola pikir: THINK FIRST. Hemat air saja, sudah tidak cukup tangguh ‘membendung’ laju drastis penurunan ketersediaan air. Sedangkan mengaplikasikan prinsip 3R pada intinya hanya bersifat “delay Time” sebelum benar-benar terbuang ke alam bebas dalam bentuk sampah yang pada akhirnya akan menjadi salah satu sebabt utama yang memicu terjadinya masalah air di bumi ini. 

So, it’s time to think first for everything we gonna do in our life. Dalam setiap aspek kehidupan dan penggunaan barang konsumtif kita wajib mengedapankan pertimbangan THINK first sebelum memilih dan membuat keputusan. 

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusi, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” QS. Ar ruum: 41




Landmark Kabupaten Sleman

Landmark yang disematkan pada suatu spot wisata tentu sudah bukan hal baru. Begitu pula Landmark daerah yang dimaskudkan [salah satunya] sebagai “label” yang diharapkan mudah dilihat dan diingat bagi siapa saja yang sedang melintasi di [kawasan] daerah tersebut. Makanya saya tak bisa menyimpan rasa takjub manakala  Bismillahirrahmaanirrahiim ketika ke pasar Denggung sekira dua minggu lalu, melihat penampakan landmark dengan bunyi KABUPATEN SLEMAN yang anggun di sisi utara lapangan denggung [disebut juga alun-alun Sleman, satu area dengan taman Denggung] // / Jalan Magelang Km 10 [Denggung, Tridadi], Sleman, 

EH, landmark Kabupaten Sleman itu sejak kapan tho?” tanya saya ke teman di kantor. Barangkali karena saking jarangnya saya lewat sekitaran Lapangan Denggung sehingga kupdet tentang kehadiran landmark tersebut. Wong belanja juga seringnya ke arah pasar Sleman atau toko/penjual sayuran yang terletak searah dengan sekolahnya Azka. 

Lhoh Sleman punya Landmark, dimana?” *tuing-tuing* langsung deh bertambah rasa takjub saya. Teman yang saya anggap sering mobile malah gak tahu kalau ada Landmark yang saya tanyakan tersebut. “ Ahhh, barangkali kebetulan dia belum melintas di sekitaran lapangan Denggung “ batin saya dan memforward pertanyaan sama ke bebrapa teman lainnya.


Landmark Kabupaten Sleman sudah ada tho? Kapan dipasang? Dimana?” Jawaban yang tak jauh berbeda. *kok banyak yang belum tahu?---> tanya pada rumput yang bergoyang*

Landmarknya itu bertuliskan KABUPATEN SLEMAN dan terletak di sisi utara lapangan Denggung” jawab saya sedikit bangga *sokgaul*. 

Kenapa diletakkan pada sisi utara lapangan? Itu kan berhadapan dengan pasar?” pertanyaan balik yang bikin saya nyengir kuda.

Yo pantesan aku ora weruh. Lha aku kan gak pernah ke pasar Denggung sih Mbak?” 
He-eh, ke pasar Malioboro saja rame Mas”  
“ Berarti njenengan kudunya tanya ibu-ibu yang sering ke pasar Mbak. Atau penjual di pasar Denggung, tentu mereka tahu kapan Landamark itu dibikin di sana.” 
Ide bagus, ayo traktir aku makan mie pangsit lapangan Denggung sekarang ya? Sekalian nanti kita tanya-tanya sejarah Landmark Kabupaten Sleman tersebut dan poto-poto narsis di sana
Weleh-weleh, endingnya ini lho yang bikin maju cantik mundur cantik…ogahhhhh, hahahaa…"

Secara umum, dari sekian teman yang saya tanyain tentang Landmark Kabupaten Sleman, justru memberikan pertanyaan balik “Kenapa Landmark tersebut tidak diletakkan pada sisi yang berhadapan dengan Jalan Magelang ya? “ 
Alhamdulillah, bukan hanya saya yang memiliki kepenasaran tersebut. Sangat wajar jika kami penasaran dengan posisi landmark tersebut karena dari [sedikit] yang saya pahami bahwa something yang  disebut Landmark adalah bentukan visual [buatan maupun alamiah] yang menonjol keberadaannya dan memiliki fungsi antara lain: 
  1. Identitas atau penanda suatu tempat/daerah.
  2. Pengingat /reminder sehingga biasanya landmark memiliki sifat “mengesankan” 
  3. Ciri khas yang memiliki karakteristik [unik] karena pada umumnya Landmark merupakan hasil buatan manusia yang dibuat sedemikian rupa agar special.
  4. Titik Orientasi suatu tempat
  5. Untuk berfoto-fotoan seru [hayoo ngaku, siapa saja yang suka berfoto ria di dekat landmark saat traveling ke suatu daerah?]
  6. Dipersilahkan jika mau menambahkan tujuan dan manfaat landmark lainya, Hehehe..
Penampakan dari Sisi Timur
Sangat lumrah dan seharusnya suatu Landmark berada di point of view yang strategis. Tanpa celingak-celinguk, orang yang sedang melintas di kawasan tersebut sudah bisa langsung tersita pandangan dan perhatiannya oleh keberadaan suatu Landmark. 

Nah, wajar jika saya dan beberapa teman beropini kenapa Landmark Kabupaten Sleman tersebut diletakkan pada sisi alun-alun Sleman yang berhadapan dengan pasar tradisional Denggung. Alangkah indahnya jika posisi Landmark tersebut berada pada sisi alun-alun yang berhadapan dengan Jalan Magelang. TAk ada maksud untuk memperdebatkan pemilihan letak landmark tersebut karena tentunya penempatan Landmark tersebut sudah melalui studi kelayakan dan perhitungan yang mumpuni. Mungkin cita rasa saya saja yang terlalu umum, yakni berdasarkan pada BIASAnya landmark yang pernah saya lihat berada di titik-titik yang strategis [TIDAK NDELIK]. 

Overall, saya pribadi apresiatif dengan kehadiran Landmark Kabupaten Sleman ini yang tentunya akan menambah keistimewaan bagi DI Yogyakarta *Hopefully*

Oia, Apa saja Landmark yang ada di daerah Anda [Landmark alamiah maupun buatan manusia]? Atau, landmark apa/daerah mana yang paling berkesan bagi Anda?

Note: Sekilas pandang posisi alun-alun Sleman: 
* Sisi utara menghadap pasar denggung; 
* Sisi timur berhadapan dengan Jalan Magelang, 
* Sisi selatan berhadapan dengan Jalan KRT Pringgodiningrat [arah ke pusat pemkab Sleman];
* Sisi barat berhadapan dengan beberapa gedung milik pemkab Sleman [salah satunya gedung serba guna]

Bunga di Tepi Jalan

Bunga malam dan bunga di tepi jalan, Kira-kira mana yang lebih menarik perhatian? Bismillahirrahmaanirrahiim mumpung lagi suka jalan-jalan, antusias motret-motret bunga di tepi jalan yang saya temui di sepanjang rute JJS pagi ini.  Tidak semuanya ada di tepi jalan, ada juga yang di depan rumah orang. Yang penting masuk range untuk di jepret. Lha start jalan-jalan pagi di Hari Jum’at sudah telat, sehingga just me menapaki jalan Parasamya menuju seruas Jalan Magelang dan ambil belokan ke Kanan, menyusuri jalanan desa yang di kanan-kiri terhampar tanaman padi menghijau. 
Nama Versi saya: Bunga Ganyong
Nah, mumpung jalan sendirian…bisa leluasa motret-motret tho? Kan gak bikin yang lain terhenti-henti untuk nunggu saya yang mandeg-mandeg tiap kali see something yang menarik untuk di shoot. Potograper amatiran dengan kamera poket, tapi karena obyeknya bunga-bunga, menurut saya hasilnya tetap cantik-cantik semua.
Bunga Jam Empat

Belum tahu namanya jugak
Dipersilahkan memberikan nama sesuai jenis bunga yang sudah anda kenali. Saya juga memberi nama berdasarkan "the name" yang memang sudah saya kenal di daerah saya. Jadi harap maklum jika ada penamaan yang nyleneh. Hehehehe #piss

Bunga Bakung

Bunga Bawang 
Belum tahu namanya [ nge-Zoom juga]

BUNGA-BUNGA di tepi Jalan yang saya pajang ini benaran bunga yang berwujud tanaman [sudah terlihat dari barang bukti hasil jepretan soale]. Kalau bunga malam, saya no comment. Karena nanti bisa memancing kumbang malam? Padahal, kalau kumbang yang asli, apa iya keluar malam? Kalau bunga malam beneran, kan ada bunga sedap malam itu? Cantik loh…sayang saya belum pernah moto bunga sedap malam. 
Terompet ungu [ngarang lho?]
Bunga Tapak Dara

Pacar banyu [merah]

Pacar banyu putih

Any one know this flower?
[mirip] Anggrek Ungu --> mode zoom

Puteri malu
Kesimpulan saya, walaupun bunga itu tumbuh di tepi jalan yang tak henti kena tempias debu dan kotoran, ketika mekar kelopaknya tetap memancarkan keanggunan yang sejati. Walaupun bunga di tepi jalan itu tumbuh liar, tak terawat, di dekat comberan, toh bunganya tetap CANTIK menawan hati kok. Bikin fresh dan adem gettu melihatnya.
Bunga Adenium [ada yang punya/bukan bunga liar di tepi jalan]
Makanya, bebungaan adalah salah satu obyek favorit untuk jadi sasaran tembak kamera sederhana saya.  Hanya saja, ketika bunganya berukuran kecil, agak susah mendapatkan gambar yang jelas kelopak-kelopaknya. Mestinya pakai Mode Makro, latapi kameranya gak ada opsi untuk setingan makro-mikro. Ya sudahlah, nikmati saja dan leluasain diri untuk jepret-jepret sana-sini. 

Feel the fresh air, hear the wind blows, see the flower and green field, How wonderful life can be created in every single breath.


 Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


Noted: 
Foto-foto diambil pada 06/02/2015 [Jalan-jalan pagi di Hari Jum’at] di sekitar lingkungan Kantor Pemkab Sleman. Foto hanya saya compress ke opsi document.