WHAT'S NEW?
Loading...

Sebuah Akhir adalah [awal] Babak Baru

Dalam rangka melanjutkan belajar nulis true story, part I: Metamorfosa cinta dari surga dan Bismillahirrahmaanirrahiim ini adalah serangkum kisah Sebuah Akhir adalah Babak baru yang   dimulai dengan berdamai pada takdir: Mengatasi rasa kehilangan dan bergegas meracik rekayasa keseharian agar bisa melanjutkan kuliah tanpa mengabaikan adik-adiknya. Serangkaian perubahan simultan lainnya memutar total ritme dan rutinitas ulil selanjutnya. 

Ulil mulai menempuh kuliahnya secara PP setiap hari. Menurutku, jarak Surabaya – Gresik terbilang jauh jika hendak ditempuh PP setiap hari. Berangkat dan pulang kuliah naik kendaraan umum dengan rute naik lyn O (Rute Osowilangun - Sukolilo) yang tak jarang butuh waktu tempuh lebih dari satu jam. Kemudian ganti naik bis mini arah Sembayat (Gresik), yang dilanjut lagi naik motor untuk sampai rumahnya. Perhitungan jarak tempuh sekilas tampak simple, tapi yang namanya naik sarana transportasi umum, nge-Lyn (nama angkutan yang nge-trend di Surabaya) tentu banyak mandeg-mandegnya. Dan tak jarang baru bisa start  pulang di sore hari, maka Ulil mensiasati rute pulang dengan naik Lyn O arah jembatan merah (JMP), kemudian oper naik Lyn Ijo (turun di Ramayana Gresik) dan naik angkutan lagi sampai Sembayat [ desanya ULil]. Alternatif ini dipilih manakala perkiraanya sampai Osowilangun lebih dari jam 7 malam  karena bis arah sembayat terakhir jam 7. Tak jarang sampai rumah jam 9 malam, bahkan pernah sekali hampir jam 12 malam baru masuk rumah. Makanya jika ada teman yang pulang ke arah gresik, baginya adalah kesempatan emas untuk numpang gratis, aman dan nyaman sampai sembayat. 

Jeda waktu di rumah digunakan untuk mengurusi rumah, menyiapkan segala keperluan adik-adiknya, terutama si bungsu dan kakaknya yang kala itu masih umur 10 tahun dan tipikal anak yang belum variatif menu makannya. “ Ada sih Embah yang bantuin, tapi kan gak bisa full. Wong Adik-adikku maunya tetap tinggal di rumah ini “ demikian penjelasan Ulil. “ Saudara-saudara Bapak dan Ibuk juga bantu, tapi kan mereka juga punya keluarga sendiri tho?” Untuk rentang waktu setahun, ada Buleknya yang menyediakan keperluan makan dengan mengirimkan menu makan setiap hari. 

Alasan utama adalah mendampingi tumbuh kembang adik-adiknya. Tak hanya soal bagaimana memenuhi kebutuhan fisik dan materi, makan, bisa bayar sekolah, beli buku, tapi lebih krusial dari itu bagaimana menyeimbangkan perkembangan psikologis adik-adiknya dalam melalui fase-fase perkembangan dalam kehidupan tanpa sosok nyata Ayah dan Ibuknya. Terlebih era digital dan intrusi pergaulan yang sedemikian dahsyat, maka segala pernik dan rerupa yang terkait dengan perkuliahannya pun harus diharmonisasikan dengan kepentingan adik-adiknya tersebut.

Melihat, mendengar dan meresapkan perubahan drastis ritme dan daily activity Ulil, Then I prefer to call it complicated. Pastinya, banyak shock demi shock bermunculan yang menyertai kompleksitas mengelola kehidupan “semi” rumah tangga tersebut. 

IMHO, sangat bisa jadi apa yang mendadak dihadapi dan dijalani oleh Ulil, levelnya  beberapa tingkat lebih tinggi daripada tantangan yang mesti dihadapi oleh pasangan yang just get married. At least, kebanyakan pasangan suami-istri baru kan membuka babak baru kehidupannya by planning, niat dan merupakan pilihan dari: you and me (perkecualian jika pernikahannya buy one get four). Sementara Ulil harus memanage sebuah keluarga by herself dengan tiga anak [adik-adiknya]. Itu pun masih disempurnakan lagi dengan kenyataan income pasif untuk biaya hidup sehari-hari. Ulil tak punya pilihan lebih baik selain menyewakan toko di pasar yang sebelumnya tempat usaha jual beli beras yang dijalani ibuknya. Juga petak tambak Ayahnya pun ikut disewakan untuk mencukupi cash flow yang super active.
Menghadapi kondisi-kondisi sulit, sejatinya adalah “perguruan” yang akan menambah luas ilmu dan cakrawala berpikir seseorang, maka ia akan lebih sedikit menyalahkan sesuatu. Bersama waktu, pengalaman yang terlahir adalah ribuan buku yang siap dibaca, hingga sudut pandang menjadi lebih lebar dan mendapati alternatif berbagai point of view untuk lebih bijak menyikapi tantangan pada setiap tapak jalan kehidupan.

Bahwa kita tak akan pernah tahu akan seperti apa jalan kehidupan, apakah akan landai, terjal berbatu, menurun dengan curam? Juga tak akan pernah tahu kapan dan dimana jalan kehidupan yang kita tapaki akan berakhir. Dan untuk segala kemungkinan jalan kehidupan yang dibentangkan untuk ditapaki, kita tak punya hak untuk protes. Hak kita adalah menerima dan menjalaninya dengan sebaik mungkin secara lebih baik dari waktu ke waktu dan berproses untuk ikhlas bersama doa-doa yang kita panjatkan.

Sepertinya hanya Ulil dan Allah SWT yang paling tahu seperti apa rima hidup yang dia rasakan, bagaimana fluktuasi fisik dan psikis yang harus bisa dikelola agar everthing will just running so well as she can do. Dinamika mendadak “single parent” bukan sekedar drama yang akan usai ketika durasi pentas tercapai. Tapi New Chapter for New Beginning, This is my Life NOW and then mungkin ini judul drama kehidupan yang dilakoni oleh ulil dengan ketiga adiknya. 

Walau dalam nada yang berbeda dan senandung yang tak akan pernah sama dengan cara-cara yang dilakukan oleh Ibuk Bapaknya, tapi secara equal NILAI cintanya tak kalah murni dan luar biasa.

Untuk kurun waktu satu tahunan, nyaris setiap hari Ulil mengkondisikan dirinya untuk bolak-balik Gresik – Surabaya, naik turun angkutan, berlari-lari mencari tempat berteduh ketika hujan tetiba turun saat belum dapat angkutan, mengejar Lyn agar cepat sampai rumah/tidak molor sampai kost, mensiasati agar tidak kemaleman pulang ke gresik, bergegas meninggalkan kampus di saat teman-temannya masih santai ngobrol seusai jam kuliah, menyetel rasa tidak tertarik nonton bareng ketika ada film bagus sedang tayang, dan sederet perubahan dramatis lainnya. Dan untuk bisa itu semua pastinya butuh hati yang lebih luas dari samudera karena aku yakin, tentu ada perdebatan rasa, konflik emosi dan dilema yang tidak serta merta bisa diendapkan. 
Bagi kebanyakan orang lain baru melarutkan “aku”nya ketika menikah. Tapi ulil sudah melepaskan ‘aku’nya bahkan ketika dirinya belum tahu kapan akan menikah.
In every single day, bahkan mungkin di setiap detik Ulil berjuang menata logika agar dominan dalam membuat pilihan dan keputusan demi kepentingan adik-adiknya dan menomorsekiankan kepentingan dirinya sendiri. Bahwa setiap kesulitan akan diikuti kemudahan, Ulil sangat percaya itu. Buktinya, 365 hari kemudian Ulil berada dalam deretan mahasiswa yang mengenakan toga dan siap untuk wisuda. Walau secara fisik tak ada peluk hangat Bapak -Ibuknya di hari istimewa tersebut tapi ulil yakin kedua orang tuanya pun ikut menyaksikan prosesi wisudanya, just like they dream since years ago. 

Dan menurutku, Prosesi wisuda Ulil tak hanya menyatakan dirinya lulus kuliah, tapi juga sebuah pengakuan tanpa proklamasi jika Ulil sudah lulus Cumlaude dalam mengharmonisasikan kepentingan adik-adiknya. 


NOTED: Edisi Belajar menulis true story. InsyaAllah, will be continue with Life is about how to make [right] choice.

3 comments: Leave Your Comments

  1. Luar biasa banget perjuangannya. Sama seperti satu tokoh di film yg saya lihat tapi bedanya beliau menjalani dalam kenyataan. Salut. Banyak banget yang bisa dipelajari dari kisahnya Mba.

    ReplyDelete
  2. Memang hidup ini seperti Misteri besar yang tidak bisa dipecahkan dengan prediksi saja, Segala apa yang terjadi di masa yang datang tidak ada yang kita ketahui. Kekuatan doa akan menjadi salah satu pilihan yang harus kita tempuh disaat kita menemui kegagalan,. Kepada ALLAH SWT juga kita meminta pertolongan

    ReplyDelete
  3. alhamdulillah sangat mulia bisa bertanggung jawab

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.