WHAT'S NEW?
Loading...

Pantai Sukamade, The Paradise Of Adventure

Sebelumnya Bismillahirrahmaanirrahiim saya hanya mengenal Pantai Sukamade sebagai home land-nya penyu, salah satu binatang purba yang masuk dalam satwa langka sehingga perlu adanya upaya-upaya konservasi seperti yang terdapat di Sukamade oleh TN Merubetiri.  Sejak bisik-bisik awal hendak mengadakan field trip ke destinasi wisata alam di sisi Selatan Banyuwangi, kami direkomendasikan untuk naik kendaraan jenis off road mengingat rutenya didominasi jalur berlumpur dan bebatuan serta berkelok-kelok dengan beberapa tanjakan yang cukup terjal. “Dijamin bakal ketagihan sensasi petualangan di Sukamade”, demikian promosi seorang teman.  

Sekilas pre-info ini disampaikan oleh teman yang lahir dan besar di Silir Agung dan Pancer, dua lokasi yang berdekatan dengan Desa Sarongan.   Thank God, negosiasi rental mobil pun berjalan lancar, sebenarnya kami hanya sanggup sewa 1 Land Rover. Tappii, berhubung sang pemilik rent car juga belum pernah menjajal tracking ke arah Sukamade, maka jadilah ada dua Land Rover yang menyertai perjalanan kami. Dengan dikawal sang empunya mobil beserta dua guide, Pak Rofik dan Pak Farid (tapi kami lebih akrab memanggilnya Pak Parit, nyontek logat Pak Farid yang ada cengkok Sundanya walaupun asli orang Banyuwangi ). Pak Sigit dan Pak Parit inilah yang sekaligus nge-driver  mengantar kami berpetualang ke Pantai Sukamade.
Sebenarnya, banyak rute untuk mencapai Pantai Sukamade yang masing-masing rutenya dihiasai spot-spot wisata alam yang sangat sayang jika dilewatkan begitu saja. Saat itu Kami start berangkat dari jantung kota Banyuwangi sekira jam 07.30 WIB, melaju ke arah selatan kota Banyuwangi, tepatnya dari Jajag ambil arah ke kiri ke arah Pesanggaran ==>Sarongan ==> Sukamade. Bagi yang lewat dari Jember – Glenmore – Genteng, saat tiba di Jajag ambil belokan ke kanan ke arah Sarongan ==> Sukamade.

Begitu kemudi mobil memasuki daerah Silir Agung hingga Pesanggaran, pesona alam yang menggairahkan sukma tersaji tanpa jeda. Udara segar yang berhembus semilir mengusap lembut kulit, harum aroma udara yang bercampur tanah basah, kanan-kiri hamparan sawah bagai lazuardi biru. Pemandangan yang tak kalah eksotisnya juga terpampang saat laju mobil menapaki jalanan di area Kebun Sungai Lembu.
Rajegwesi : Pantai pertama di Jalur menuju Sukamade 
Sebelum mencapai Sukamade, rute Sarongan – Kandangan merupakan pemanasan yang memuncakkan adrenalin. Ada pantai Rajegwesi dan Teluk Hijau yang memiliki tracking bebatuan kombinasi rute berlumpur dan tanjakan-tanjakan adalah tantangan yang sangat sayang jika dilewatkan. Jadi, sekedar saran….jika hendak ke Sukamade, alokasikan waktu yang cukup untuk menuntaskan jelajah alam yang menakjubkan dengan tracking:
1. sebelum Sukamade: Pantai Rajegwesi dan Teluk Hijau
2. setelah Sukamade: Pulau Merah -  TN Alas Purwo--> sadengan (savannah)--- Pancur--> pantai plengkung – Trianggulasri.
Teluk Hijau: Pantai Kedua ke arah Sukamade
Maka, junggle tracking sekitar 13 KM selepas lokasi Teluk Hijau merupakan sajian pembuka sebelum menikmati petualangan di zona yang mirip pedalaman Amazon. Kenapa saya umpamakan mirip pedalaman Amazon? Lha tak ada listrik, penerangan menggunakan genset dengan kapasitas terbatas sehingga yang diutamakan tentu saja semata untuk penerangan, itu pun jam 11 sudah dimatikan. No signal HP, kalau pengen mendengarkan radio ya harus prepare dengan dry cell atau bawa power bank yang banyak sehingga bisa menyalakan gadget lebih lama.   

Back to the junggle tracking yang kanan-kiri jalan bertumbuhan pohon-pohon besar, memberikan nuansa seperti latar cerita film Twilight Saga. Di antara deru mesin Land Rover, terbersit khayalan Andai tiba-tiba muncul Edward Cullen pula, berlari ringan di antara pohon-pohon tinggi yang kami lalui kemudian menghampiri kami dan memberikan Liang Teh Cap Panda, dijamin makin adorable sensasi meminum herbal tea ini.  Apalagi Suasana petualangan junggle tracking pun menyambung dengan kawasan perkebunan coklat yang tak kalah menggiurkan untuk dijelajahi lho? Karena daya tarik magisnya, maka tak heran jika ada  wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang sengaja menempuhkan rute junggle  dengan jalan kaki sampai ke Pantai Sukamade-nya lho?

Begitu memasuki pintu pos Meru Betiri, jalan tak lagi beraspal dan bukan pula jalan makadam, tapi jalan penuh bebatuan runcing. Model Jalanan juga berkelok, yang tak jarang sempit sehingga jika ada dua mobil lewat bersimpangan harus berupaya ekstra rem poll dan gas poll. Ada juga bagian jalanan menanjak bebukitan, tanah becek dan sturktur jalur bebatuan terjal yang memang sengaja dibiarkan alami demi memuaskan gairah pengunjung agar merasakan sensasi perjalanan yang tak terlupakan. Model Jalanan yang berkelok tak jarang yang sempit sehingga jika ada dua mobil lewat bersimpangan harus berupaya ekstra rem poll dan gas poll. Ada juga bagian jalanan menanjak bebukitan, tanah becek dan sturktur jalur bebatuan terjal yang memang sengaja dibiarkan alami demi memuaskan gairah pengunjung agar merasakan sensasi perjalanan yang tak terlupakan. 
Sebagian rute Junggle Tracking
So, saya pun pengennya bisa menjajal jalur junggle tracking dengan jalan kaki, tapi space waktunya yang tidak mendukung. Kecuali, next time saya napak tilas lagi ke arah Sukamade.  Tantangan junggle tracking ini, topografinya yang menantang, juga rimbun pepohonan yang tinggi dan satwa-satwa hutan, asli amat sangat menantang bagi jiwa-jiwa yang suka berpetualangan. Eh, juga bagi para fotografer juga ding. Karena pastinya banyak obyek dan angle yang sangat bagus untuk di capture tho?


Selepas jalur junggle tracking, medan yang harus ditempuh untuk sampai ke Pantai Sukamade, bagi yang membawa mobil jenis jeep, untuk sampai ke Pantai Sukamade akan melewati beberapa anak sungai yang airnya setinggi lutut orang dewasa, belum lagi kalau musim hujan bisa sampai setinggi mobil jeep atau bahkan lebih lebih tinggi lagi dengan arus yang sangat deras.

Sebenarnya ada jembatan penyeberangan tapi sudah ambruk oleh hantaman arus sungai. Jadilah, alternatif untuk menuju ke Sukamade menggunakan fasilitas penyebarangan dengan rakit. Iya, rakit dari bahan bambu yang digunakan untuk menyeberang saat sungai meluap atau bagi siapa saja yang berkebutuhan untuk keluar masuk ke wilayah pantai Sukamade karena jarak tempuh untuk mendekati zona Pantai Sukamade memang sengaja berjarak cukup jauh untuk menjaga ketentraman, kedamaian dan kenyamanan bagi penyu ( khususnya penyu hijau), mengingat kharakteristik penyu sebagai makhluk yang GEOMAGNETIC TAGGING yaitu dia akan kembali ke pantai dimana dia dilahirkan. Tuh kan hebatnya penyu yang teramat sangat cinta dengan tanah kelahirannya? Sangat menginspirasi kan? 

Jadi sejauh apapun seekor tukik menjelajah samudera sampai ber-mil-mil jauhnya, ketika waktunya si tukik yang telah dewasa untuk bertelur, dijamin dia akan kembali ke pantai dimana dulu menetas [lahir]. komunitas penyu hijau telah “memilih” Pantai Sukamade sebagai home land-nya, maka perlu keperdulian semua pihak agar proses perkembangbiakan penyu bisa terjaga.

Begitu melihat sungai yang membentang di depan mata, maka inilah moment pertama jelajah alam off road dengan menyebarangi sungai pula! Ada rasa ngeri, kalau di bagian hulu sedang hujan deras kan arus air akan menderas kan bisa bahaya? Tapi demi melihat sang navigator kami menjajaki kedalaman air yang gak sampai sepinggang…sontak kami pun jadi histeria segera pengen merasakan sensasi menyeberangi sungai dengan naik Land Rover. Yang terlintas ketika itu adalah, rasanya seperti the real adventure kayak yang pernah saya lihat di TV getu deh.
Off Road menyeberangi sungai yang bikin Sensansi Adrenalin
Deru degug jantung berirama dalam ritme lebih cepat disaat-saat roda mobil mulai menyibak aliran air sungai….rasanya WOW, Keren! Proses menyeberangi 4 aliran sungai pun berjalan dengan sorak dan histeria, apalagi ketika Pak Parit mengalami “accident” terjatuh ke sungai saat mengomando penyebarangan gegara Pak Rofiq nge-gas mobil sementara posisi Pak Parit yang berdiri di bagian belakang Land Rover belum seimbang. Kaget pastinya, tapi lima detik berikutnya kami kompak tertawa lepas….hahahhahaha, litte accident yang justru membuat cerita jalan-jalan ke Sukamade sumringah.

Junggle tracking, perjuangan menempuh jalur off road dan melintasi aliran sungai merupakan hot spot pembukaan menuju Pantai Sukamade. Tuh kan keren, dengan medan yang ditempuh yang bikin adrenalin berpacu merupakan fenomena petualangan yang menggairahkan bagi siapa saja yang ber-adventure ke Sukamade.

Lanscape menuju Sukamade sudah melalui rute petualangan yang menghebohkan, lantas apa yang lebih menghebohkan lagi di Pantai Sukamade? Bagi yang belum pernah ke Sukamade, yukk buruan dijadwalkan untuk berkemping ria di sana ya? Mau tau kenapa?

Kami tiba di area guess house area konservasi penyu [Taman Nasional Meru Betiri] Sukamade jelang jam 3 sore.  Alhamdulillah masih ada satu kamar kosong yang bisa kami tempati dengan harga sewa seratus ribu semalam. Guess house VIP [saat itu] sudah full booked oleh rombongan keluarga dari Club TAFT Surabaya [+ 60 orang]. Sementara rombongan anak sekolah mengambil alternatif kemping atau di hall terbuka yang tersedia. Untuk mengusir lapar,  terdapat kantin yang menyediakan menu ‘instant’ dan minuman.

Setelah istirahat beberapa saat, kami pun bersiap untuk melihat-lihat area pembiakan penyu yaitu telur-telur penyu yang dikondisikan agar bisa menetas untuk kemudian anak-anak penyu [disebut tukik] dilepaskan ke laut untuk menjalani takdir hidupnya secara bebas.  Preambule singkat yang kami peroleh: ternyata Penyu merupakan binatang laut yang sudah ada sejak 150 juta tahun lalu, bahkan sebelum dinosarus ada.WOUW !

Atas: Pengeraman telur dlm pasir; Kiri: Tukik dibersihkan pasirnya;
Kanan: Kolam transisi sebelum Tukik dilepaskan ke laut
Somehow, dari tempat penetasan telur-telur penyu ini, membuat kami jadi lebih tahu tentang penyu. Berdasarkan catatan yang ada, jenis penyu yang pernah bertelur di Pantai Sukamade yaitu: Penyu Belimbing, Penyu Lekang, Penyu Sisik, Penyu Hijau. Dari 4 jenis tersebut yang naik ke pantai untuk bertelur 2-3 ekor tiap hari adalah Penyu Hijau.  Dan ternyata Pantai Sukamade ini merupakan satu-satunya habitat penyu hijau, khususnya daerah Lautan Hindia yang bisa dijadikan sebagai tempat pemulihan populasinya. Dan jika perkembangbiakan penyu dibiarkan secara alami, maka dari 1000 tukik yang menetas, hanya 1 ekor yang bertahan hidup sampai dewasa (hasil riset dari WWF).

Keberadaan area konservasi penyu ini dikarenakan sifat biologis penyu yang bertelur namun tidak tidak menjaga telur-telurnya hingga menetas [no parental care] dan banyaknya aktifitas yang mengancam kelestarian penyu tersebut, seperti: Penyu ditangkap dan diambil dagingnya untuk dimakan dan sisiknya untuk cinderamata, Telurnya diambil untuk dijual, Alih fungsi  pantai-pantai pendaratan jadi bangunan, ataupun kematian karena tertangkap tidak sengaja akibat alat penangkap ikan atau terkena baling-baling kapal.

Sebuah pengalaman baru yang edukatif banget, sehingga kami antusias menyimak sejarah kehidupan penyu dan asyik melihat prosesi pembiakan telur penyu. Dari cerita Mas Avian [salah satu petugas yang kami temui],  kami akhirnya tahu ternyata Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam rangka pelestarian penyu di Pantai Sukamade sangat berat dan harus memiliki rasa nasionalisme. Lha betapa tidak, wong para Bapak Petugas yang berada di konservasi Penyu tersebut harus rela tinggal jauh dari keluarganya dan melakukan serangkaian kegiatan: Patroli malam, Pemindahan telur penyu, penanaman telur penyu, penetasan telur penyu, perawatan terhadap tukik dan pelepasan tukik ke laut.

Usai sesi wisata edukasi mengenai penetasan telur-telur penyu, pas banget semburat warna jingga mulai menyorot dari arah barat. Kami pun berjalan menapaki jalur hutan yang memisahkan pantai dengan tempat penginapan. Pepohonannya memang tak selebat di jalur junggle tracking dan binatang yang paling PeDe menampakkan diri di sepanjang jalan menuju pantai adalah kera dan sekutunya.

Debur ombak Sukamade bergempita,
Menghambur menyambut kedatangan kami. 
Bebuliran pasir basah dan gradasi senja bersenyawa dengan udara 
yang berhembus menciumi kulit kami.
Suatu Senja di Pantai Sukamade dalam Gradasi serat lembayung bersaput awan
Ahahaa…menikmati panorama sunset di pantai  membuat saya terbawa aliran melankoli ala pujangga jadinya. Sesore itu kami habiskan di pantai, menikmati riak-riak air yang bergantian menyapu hamparan pasir,  debur ombak yang menerjang sepasang batu karang yang berdiri beberapa ratus meter dari garis pantai,  dan aktifitas narsis-narsisan lainnya.

Selain bisa melihat secara dekat proses penetasan telur-telur penyu, petualangan lain yang merupakan andalan wisata alam di Pantai Sukamade adalah menyaksikan secara live penyu yang bertelur. Caranya? Daftarkan diri atau mengajukan permohonan ke petugas konservasi untuk mengikuti Patroli malam dan Pemindahan telur penyu, seperti yang kami lakukan.  Maka kami balik lagi ke pantai sekitar jam 8 malam sesuai arahan Pak Petugasnya. Dan jangan pernah berpikir untuk bisa bertemu penyu jantan karena hanya penyu betina yang naik ke darat untuk bertelur dan hanya terjadi jika tidak bulan purnama. Catet Lho..!

Kalau saat sunset kami bisa bebas bertingkah dan berteriak, maka moment untuk ‘bertemu’ dengan Moomynya tukik, kami harus siap dengan syarat dan ketentuan: tidak boleh berisik dan tidak boleh menyalakan cahaya! Padahal cuaca lagi mendung dan tanpa penampakan bulan. Sesampai di pantai, kami diminta menunggu dulu. Mas Avian [as tour guide malam itu] dan Pak Didin melakukan trace keberadaan penyu yang [akan] bertelur. Kalau sudah menemukan lokasi penyu yang bertelur, maka akan diberikan ‘tanda’ dengan kilatan cahaya sekilas agar kami segera menuju ke arah tersebut. Selama menunggu ‘tanda’ tersebut, kami menikmati hembusan angin pantai dan menahan gigitan nyamuk serta menjaga volume suara serendah mungkin, karena Mas Avian sudah memberikan briefing   yang harus kami patuhi jika ingin melihat penyu sedang bertelur, DILARANG:
  1. menyinari penyu yang akan sedang bertelur
  2. berisik/gaduh atau membuat gerakan mendadak di depan penyu yang akan bertelur [penyu akan   kembali ke  laut]
  3. mengagetkan penyu sedang menyentuh air kembali ke laut karena saat tersebut sangat kritis, penyu bisa pergi dari perairan sekitar dan menuju pulau lain untuk bertelur.
JIKA pemotretan dengan blitz MAKA dapat dilakukan setelah penyu mulai bertelur [20 butir] dan harus dari arah belakang! Dan JIKA ada pengambilan gambar dengan kamera atau video kamera, MAKA dapat dilakukan saat penyu mulai bertelur dan dengan pencahayaan yang soft.

Dan tanda kilatan cahaya pun akhirnya muncul, kami bergegas menuju arah datangnya cahaya tersebut. Begitu bergegasnya sampai gerak langkah kami mirip orang yang bergegas menyusul dukun bayi! Setelah acara jalan cepat hampir 2 KM, kami bertemu dengan Mas Avian dan diminta menunggu aba-aba berikutnya dari Pak Didin yang berada dekat dengan seekor induk penyu. Jadi kami baru bisa mendekat saat penyu tersebut sudah mulai bertelur.
Induk Penyu yang berhasil KOPDAR dengan kami
Masih menurut penjelasan Mas Avian, secara alami penyu memiliki sensor untuk mengetahui kelembapan udara dan temperatur yang tepat untuk bertelur. Sepertinya cuaca malam tidak mendukung sehingga induk penyu yang kami temukan tidak jadi bertelur. Kami pun segera mendekat untuk bernarsis ria sebelum si penyu tersebut nyemplung ke laut lagi. Pagi harinya kebetulan pas ada jadwal pelepasan tukik-tukik ke pantai. Heboh, seru, ramai tapi waktu itu kami escape dari acara pelepasan Tukik karena target berikutnya adalah ke Alas Purwo dan Plengkung, kan sore hari saat kami baru datang sudah berkesempatan melihat proses penetasan telur-teur penyu dan mencandai tukik-tukik yang imut nan menggemaskan.

Pantai Sukamade dalam beberapa angle
Pokoknya Pantai Sukamade yang merupakan salah satu dari Segitiga Berlian-nya Banyuwangi ( Sukamade - Plengkung - Kawah Ijen ) ini sangat recommended jika disebut The Paradise of Adventure, karena memiliki spot-spot wisata alam yang sangat menantang untuk dijabani. Mulai rute menuju ke arah Pantai Sukamade yang disambut pameran menakjubkan pantai Rajegwesi dan Teluk Hijau, berlanjut dengan junggle tracking, kemudian jalur off road melintasi aliran sungai dan sesi langka berkenalan lebih dekat dengan makhluk purba. PENYU. Jika masih ingin memaksimalkan petualangan, kegiatan lain yang bisa dilakukan antara lain jelajah hutan di seputar Bandealit dan Gunung Gendong (kawasan sekitar pantai Sukamade), bisa panjat tebing,  dan masih banyak aktifitas yang memicu gelombang adrenalin.

Oia, sebagai OOT penutup postingan ini, dalam perjalanan meninggalkan Pantai Sukamade saat itu, kami pun masih mendapatkan bonus petualangan yakni menjajal mengemudikan rakit. Hayoo…siapa yang mau menyusul menjejalah The Paradise of Adventure ini?

Moda penyeberangan rakit di dekat jembatan yang ambruk



Pantai Sukamade, The Paradise Of Adventure ini Diikutsertakan dalam 
Blog Contest Travelogue Wisata Pantai di Indonesia 
Yang diadakan Oleh Liang Teh Cap Panda


♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 

Jelajah Wisata Lereng Merapi

Jelajah wisata lereng Merapi yang Bismillahirrahmaanirrahiim awal dikasih brosur tentang event ini, point yang bikin saya mupeng untuk ikutan adalah “Lereng Merapi”, finally ada kesempatan jalan-jalan secara lebih dekat dengan gunung yang berkelas selebritis [untuk dunia per-vulkanogi-an lho]. Etaapiii pas saya conform langsung dengan Dinas Pariwasata dan Pariwisata selaku pemangku hajatan, ternyata rute yang akan ditempuh ‘hanya’ merupakan kawasan yang dekat lereng Merapi, jadi tidak persis di lereng Merapi. Titik terdekat rute jelajah berjarak 8 KM dari puncak Merapi. “ Jarak tempuh sekira 10 KM dengan jalur dominan area perkebunan salak. “

No matterlah, mumpung ada even out door semi andventure dengan lokasi dekat-dekat rumah, show must go ON. Saya pun berkabar-kabari pada teman-teman yang suka aksi mbolang, termasuk Mas Stumon, Una tjantiq dan Mbak Alaika, tapi mereka already fixed dengan shcedule masing-masing. But, finally pembolang yang berangkat adalah diriku dan sepupu dari lamongan sang Mutiara Devi yang ternyata memang berplanning untuk mbolang ke arah Wonosobo dengan beberapa temannya. Sebenarnya ada teman Devi yang mau gabung di jelajah wisata ini tapi urung klakon karena tiket KA Jakarta – Yogya sudah sold out. 
Then  the date is coming, Minggu, 24 Agustus 2014. Dengan diantar oleh Suami, saya pun berangkat dengan Devi menuju Desa wisata Pulesari yang terletak di dusun Pulesari desa Wonokerto, kecamatan Turi, Kabupaten Sleman. Walaupun sudah dikasih peta, ternyata gambar peta sempat bikin suami bingung juga sehingga tanya sampai tiga kali untuk menemukan jalan yang benar. Desa Pulesari ini berbatasan  dengan wilayah sebelah utara dusun ledok lempong, sebelah timur Arjosari, sebelah selatan dengan dusun Kopen dan sebelah barat dengan dusun wonosari desa Bangunkerto.  Jalur jelajah yang ditawarkan adalah melintasi kawasan kebun salak, perbukitan lereng Merapi, melalui bumi perkemahan Sidorejo, bunker, gardu pandang Tunggularum, Dam Sabo Sempu dan pemukiman penduduk di desa-desa yang dilalui.
Berangkat jam 5.30 WIB dan tiba di lokasi jam 6.45 [karena sempat nyasar sebentar]. Dalam event ini diharapkan peserta yang multi segmen, baik pelajar, mahasiswa, para penggemar fotografi, dan masyarakat dengan target jumlah peserta  sebesar 1000 orang.

Ternyata animo Jelajah Wisata ini cukup fantastis, tak hanya menarik peserta dari wilayah lokal, beberapa kota lain di luar daerah DIY pun berdatangan, serta beberapa peserta dari manca negara antara lain Kanada, Amerika, Perancis. Lha saya termasuk pendaftar yang berada di angka registrasi 1000 ke atas sehingga hanya bisa didaftar dengan fasilitas asuransi dengan biaya pendaftaran 5 ribu saja. Kalau pendaftaran yang reguler mendapat fasilitas kaos, makan siang, asuransi, dan kupon undian door prize. Taraaa….toh akhirnya saya memanfaatkan kuota temannya Devi yang batal ikut Jelajah wisata ini.

Start Jelajah wisata molor 30an menit, jam 07.30 baru diberangkatkan oleh Bupati Sleman. Rute tempuh dibagi dalam 4 pos dan pre-info: secara keseluruhan memang tidak ada rute yang menanjak terjal. Pada tiap-tiap pos tersebut, para peserta harus men-stempel-kan kupon yang dibawanya untuk kemudian diikutan undian door prize. Untuk sampai pada Pos pertama, semua peserta masih terkihat segar bugar dan berebutan minta stempel, so...gak ada kesempatan bernarsis ria di pos satu. Nah, untuk mencapai pos kedua dan ketiga yang medannya lumayan bikin ngos-ngosan. Meski tak ada rute yang menanjak terjal seperti jalur menuju set point melihat sun rise di Dieng, tapi yang namanya area dekat gunung kan ya cukup bikin para peserta Jelajah lereng ini senin-kemis nafasnya.


Ya bisa dimaklumi, mayoritas peserta kan tipikal orang hobi berpetualang di alam raya. Sedangkan rute yang di lalui dalam jelajah wisata ini  lebih friendly  bagi komunitas pencinta alam dan pencinta lingkungan. Lha saya, termasuk golongan masyrakat umum yang gak sering-sering out door semacam ini.

Bagi saya, ini merupakan moment lintas alam jalan kaki pertama sejak saya lulus SMA. Sewaktu di SMA, saya pernah ikut lintas alam sejauh 21 KM  pada sepanjang jalur sungai Bengawan Solo, dengan start dari Babat dan finish di Lamongan. Apalagi jika dihitung dari sejak saya menikah, maka inilah moment pertama saya dilepas di alam bebas oleh suami saya. " Lho, memangnya diirmu masih boleh ya Rie berpetualangan kayak dulu?" tanya Mbak Al dengan nada panasaran saat ta tawari untuk ikutan jelajah wisata.

Melintasi jalan setapak di dalam kebun salak yang rasanya gak ada habisnya, seolah berjalan di belantara salak pondoh, kanan-kiri tanaman salak nan rimbun. Pada rute yang berupa jalan setapak yang di sebelah kanan aliran air dan sisi kanan agak terjal yang bikin ngeri juga kalau terpelesat karena bisa dengan empuk sampai di rerimbunan pohon salak tuh. Di rute menuju Pos 2 dan 3, sempat terjadi kemacetan total karena jalannya yang sempit dan medannya rada-rada terjal. Dari pos 3 menuju pos 4, medannya sudah mulai berselang-seling dengan lahan tegalan dan pertanian serta sesekali melintasi pemukiman penduduk.

Walaupun kaki mulai njarem-njarem, kami tak ingin berhenti total karena akan berat nantinya untuk mulai berjalan lagi. Gettu sih, pelajaran yang pernah saya dapatkan dari seorang teman yang hobi ke gunung. Selain itu, saat kami rasanya sudah really wanna stop fr while…eee..melintaslah seorang bapak tua yang berjalan dengan tenang, mantap, perlahan tapi kok ya ternyata berderap cepat melampui kami berdua. Hiks…malu bro!

Step by step kami teruskan menapaki struktur tanah berpasir dan berbatu cadas sambil sesekali berhenti untuk narsis dan menenggak air mineral yang kami bawa. Secara, kalau gak foto-foto kan jelajah wisata lereng merapi bisa hampa tanpa dokumentasi kan ya? 

Finally, menjelang jam 11.30 kami tiba juga di finish dan segera mencari spot yang enak untuk menyantap sekotak nasi dengan lahap. Acara pun ditutup dengan pengambilan undian dengan grand prize Sepeda Motor. 

Bagi yang tertarik untuk menikmati pesona lereng merapi dengan jelajah wisata melalui Desa Pulesari ini, just go to get there : Mohon maaf, sepengamatan saya kemarin kok tidak melihat angkutan umum [angkotan desa dan sejenisnya]. Jadi pilihlah untuk kesana berregu agar retal  kendaraan pribadi baik bisa lebih ringan di kantong. Atau bagi para biker, bisa asyik dengan  roda dua lho? 

[BUKAN] brand ambasador DeWi Pulesari
Dari jalan Magelang, ambil jalan Turi Pakem dan Enjoy the trip over there dengan  Paket wisata alam dan budaya tradisi yang tersedia beberapa paket wisata pilihan yang bisa disesuaikan dengan budget masing-masing.


                  ♠♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 


NgaBLOGburit Aqua

Bismillahirrahmaanirrahiim,
Edisi postingan  miskin kata dan kalimat, biarlah foto-foto acara #ngaBLOGburit AQUA, pada Hari Sabtu, 12 Juli 2014 di Pabrik AQUA Klaten berikut ini yang menggantikan tulisan saya yang biasanya nglantur kemana-mana.


















Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin
 

Bagi yang terdapat penampakan dirinya, monggo jika mau mengunduhnya ya...
Dan Foto-foto acara #ngaBLOGburit AQUA di Klaten, bisa dilihat di :
https://www.facebook.com/media/set/?set=a.10152117635511853.1073741853.242598761852&type=3

Liputan acara #ngaBLOGburit AQUA di Klaten, bisa dilihat di :
http://blogdetik.com/2014/07/14/kopdar-blogger-sambil-berbuka-puasa-bersama-di-pabrik-aqua-klaten/