WHAT'S NEW?
Loading...

Aku dan Indonesia: Dulu, Kini, Nanti

Aku dan Indonesia, demikian tema kontes unggulan yang digelar oleh sang Komandan BlogCAmp Group. Seberapa baik saya mengenal Ibu Pertiwi dimana saya lahir, besar dan tinggal ini?  Bismillahirrahmaanirrahiim, Indonesia adalah negara besar tak hanya dari segi penduduk menempati peringkat ke-4 [setalah USA] di dunia, tapi juga memiliki sumber daya alam berlimpah yang gemah ripah loh jinawi, betapa kekayaan negeri ini yang tak ternilai sampai membuat beberapa negara lain “berjibaku” menancapkan Imperialismenya selama 3,5 abad lebih. Negeri nan elok bagai zamrud khatulistiwa dengan ribuan pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, pun terdapatnya aneka ragam bahasa, suku, budaya dan  suku. Afirmasi secara kontekstual mengenai Indinonesia tersebut sudah sudah diwacanakan sejak duduk di bangku sekolah dasar melalui Pelajaran IPA dan IPS.

Secara persuasif, di era 90an ketika lagu anak-anak kental dengan nuansa anak-anak [gak seperti belakangan ini, event lomba lagu anak-anak tapi dominan lagu dewasa], lagu Semua Ada Disini.. (Indonesia) yang dinyanyikan Enno Lerian, bait-bait lagunya memiliki daya magic yang membangkitkan rasa bangga sebagai warga negara Indonesia dan cinta akan tanah air Indonesia. Berikut sebait cuplikan lirik lagu tersebut [untuk versi lengkapnya, silahkan klik Youtube-nya ya…]
Hei Indonesiaku..Tanah subur rakyat makmur
Hai Indonesiaku.. Aku sayang kepadamu
Tanam salak tumbuh salak
Tanam duren tumbuh duren
Tanam padi (budi) tumbuh padi (ilmu)
video
Menarik benang merah dari lagu tersebut, membuat saya terdampar pada frase masa kecil yang mengenal Indonesia sebagai negara Agraris yang termasyur dimana sekitar 70% penduduk Indinesia memiliki mata pencaharian sebagai petani. Terlebih saat mengetahui jika Indonesia sebagai negara Agraris  berhasil meraih sukses berswasembada pangan pada tahun 1984 [Pelita IV] dengan mampu memproduksi beras sebanyak 25,8 ton sehingga mendapatkan penghargaan dari FAO pada tahun 1985.  Prestasi sebagai negara agraris yang berkibar di tingkat Internasional ini semakin mengokohkan kebanggaan saya sebagai anak petani, setidaknya Bapak saya punya andil tercapainya target swasembada pangan di Pelita IV tersebut. #GeEr boleh kan? Hal ini membuat saya terdoktrin rasa bangga sebagai anak petani [gurem].

Walaupun hampir setiap hari dikondisikan untuk mengisi waktu diluar jam sekolah dengan membantu ortu bekerja di sawah, tak pernah terbersit rasa minder. Alhamdulillah, saya merasa bersyukur jadi anak petani yang [bisa] bersekolah mengingat  di era kecil saya dan di masa itu, untuk bersekolah masih sesuatu yang “mahal”. Dari rasa bersyukur berkesempatan sekolah, saya pun menjadi bangga karena mengetahui mayoritas penduduk Indonesia berprofesi sebagai petani, artinya profesi Bapak saya sebagai petani memiliki nilai prestis yang tidak kalah dengan para pegawai kantoran kan? Lha penghasil bahan makanan pokok di negeri ini. “ Ortuku itu petani tulen lho?” demikian jawaban PeDe plus terselip rasa bangga jika ada yang tanya pekerjaan ortu, terlebih saat kuliah dan masa selanjutnya.

Intinya, figur tentang Indonesia yang saya kenal DULU terrepresentasikan dalam lagu anak-anak di atas. Negara yang besar, tanahnya yang subur, penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Saking suburnya, mau tanam apa saja bisa tumbuh dan berbuah. Buktinya, walaupun sawah yang dimiliki oleh keluarga saya sepetak untuk menafkahi 9 anak, toh setiap hari selalu ada makanan untuk dimakan. Ada ubi jalar di samping rumah, uwi, ganyong, jengkirot yang bisa dipakai sebagai subtitusi makanan pokok. Kala gagal panen, juga masih bisa ngutang gaplek ke tetangga. Ada bulgur yang dijual harga murah merakyat….pokoknya, cerita mati kelaparan di Indonesia [kala itu] tak pernah terlintas di pikiran saya yang masih anak-anak. Jadi, jika ada peribahasa Ayam mati di lumbung padi, saya akan jawab itu ayamnya rakus dan kebanyakan makan padi sehingga temboloknya pecah kemudian mengakibatkan kematian pada si ayam tersebut kan?

Hamparan persawahan di desa saya
Karena hampir setiap hari akrab dengan acara ke sawah, maka secara pragmatis saya cukup familiar pula dengan metode bercocok tanam yang diterapkan oleh Bapak, yang kemudian saya kenal dengan istilah: Intensifikasi, dan diversifikasi. Untuk detailnya, jika mau tanya bagaimana cara tandur, menyiangi rumput, nanam jagung, metani [membuangi] ulat di daun tembakau, mikul air untuk nyirami tembakau, ngarit padi&kedelai, dan masih banyak jenis pekerjaan di sawah lainnya….just ask me, oke?

Pola tanam secara intensive dipraktekkan  oleh bapak terutama saat musim bercocok tanam padi. Pemilihan bibit unggul yang dibeli dari KUD,  pengelolaan tanah [dicangkul dan dibajak] teknik penanaman wineh [bibit padi] dengan jarak tertentu yang dipetakan saat proses nggaru [saya gak paham apa istilahnya NGGARU ini dalam bahasa Indonesia], pengairan via sarana irigasi yang kala itu dibangun dari program padat karya dan pemakaian pupuk kombinasi organik dan non-organik.

Untuk Langkah diversifikasi ini Bapak ngasih penjelasan yang saya terjemahkan dalam versi sekarang: adalah upaya dalam rangka menjaga tingkat kesuburan lahan pertanian, menghasilkan produk pangan yang juga eligible untuk di konsumsi serta memungkinkan hasil dalam jumlah yang maksimal karena dalam satu masa tanam di lahan yang sama bisa dihasilkan lebih dari satu jenis hasil pertanian. Misal jagung yang dikombinasikan dengan kedelai, ketela dengan jagung, dsb.
Ketika saya beranjak besar dan sedikit bertambah wawasan, hingga KINI…. Mendengarkan kembali lagu Semua ada Di sini ..[Indonesia], yang terbayang adalah serangkaian permasalahan krusial yang siap menurunkan bendera negara Agraris yang pernah berkibar dengan penuh kewibawaan di FAO.  Mestinya potensi pengembangan negara Agraris tak perlu dipertanyakan lagi mengingat SDM yang besar jumlahnya, pendidikan, pengetahuan dan teknologi juga sudah berkembang pesat yang mampu menggerakkan sektor pertanian untuk menjadi FOOD BASKET minimal di kawasan regional Asia [dan sangat memungkinkan untuk menjadi lumbung padi internasional]. Akan tetapi, tak bisa disanggah pula jika anugerah kesuburan yang menghampar di bumi pertiwi ini, sekarang berada dalam dilema benang kusut, beberapa fenomena dunia pertanian yang ada disekitar kita antara lain:
  1. Menurunnya jumlah generasi muda yang tertarik di bidang pertanian. Saat ini sudah mulai terjadi gap generation, SDM muda lebih tertarik untuk bekerja di sektor industri/pekerja kantoran ataupun jenis profesi lainnya [non pertanian]. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan petani merupakan salah satu penyebab [utama] para generasi muda enggan untuk menekuni profesi sebagai Petani muda berbakat. Beberapa faktor yang masih enyebabkan rendahnya kesejahteraan hidup petani antara lain: harga jual gabah yang anjlok saat panen raya, harga pupuk mahal, Sarana dan prasarana produksi pertanian sering tidak terjangkau oleh petani, Serangan hama dan penyakit pertanian masih cukup tinggi.
  2. Alih fungsi lahan pertanian ke non pertanian [perindustrian] masih cukup tinggi, juga dampak kebutuhan tempat tinggal akibat peningkatan jumlah penduduk secara significant juga mengurangi lahan pertanian dijadikan pemukiman.
  3. Diversifikasi produk pangan lokal belum optimal, pada umumnya petani masih “setia” bercocok tanam jenis tanaman yang turun temurun. Jika generasi sebelumnya hanya menanam varietas padi, kedelai, jagung dan tembakau, maka sang penerusnya juga PATUH mewarisi jenis tanaman yang sama untuk dibudidayakan di lahan tersebut.
  4. Kesadaran masyarakat dalam mengkonsumsi produk pangan lokal cenderung menurun, apalagi menjelang Asean Economic Community yang mempertajam persaingan produk antar negara tak terkecuali hasil pertanian. Sementara kemampuan dalam pengolahan pasca panen dan pemasaran hasil produk pertanian masih rendah.
  5. Adanya perubahan iklim yang tidak menentu, sementara tata guna dan tata kelola air belum optimal saat ini sehingga sering terjadi gagal panen akibat kekurangan air.
  6. Akses permodalan bagi petani belum merata sehingga tak jarang sistem ijon masih banyak terjadi di masyarakat petani dengan metode yang diperlunak, misalnya dipinjami pupuk dan dibayar dengan gabah hasil panen yang dibeli dengan harga lebih rendah dari harga pasaran.
Allah SWT yang Maha Kaya menganugerahkan Negeri ini sebagai Zamrud Khatulistiwa: sawah, gunung, lautan, kekayaan alam non hayati, hutan…..semua ada di Indonesia, tapi bukan berarti tanpa persoalan ataupun bebas keruwetan. Bersama banyaknya kenikmatan tentu akan disertakan ujian untuk menempa ketahanan dan sekaligus menstimulai daya kreatifitas dalam mengoptimalkan kekayaan alam tersebut. Demikian pula dengan beberapa permasalahan [pertanian] yang saya sebutkan di atas, yang baru selapis tipis terluar dari dari keseluruhan problematika yang dihadapi bangsa ini. Berkaca pada jejak langkah, berkompromi dengan keadaan maka setiap ujian dan ketidaksenangan adalah momen yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk proses dalam aliran penciptaan baru kehidupan. Dan setiap kesulitan selalu mengandung element untuk berubah menjadi lebih sadar, dibutuhkan pengorbanan dan daya kreatifitas yang segar-baru.

Sedikit pemetaan masalah dibidang pertanian yang bisa sebutkan di atas, merupakan gambaran sekilas sebagai sampling betapa multikomplek permasalahan yang menyertai semua potensi dan kekayaan alam Indonesia. Karena bukan hanya di sektor pertanian saja, di sektor perikanan, perkebunan, perternakan, pertambangan pun memiliki PR dari-NYA, tak terkecuali hal-hal yang terkait dengan kependudukan: lapangan pekerjaan/ tingginya angka pencari kerja, masih rendahkan kualitas kesehatan, pendidikan yang belum merata, sarana prasarana publik yang belum terdistribusi secara proporsional di seluruh wilayah kepulauan NKRI, dan masih banyak lagi PR yang saat ini mengantri untuk diselesaikan.
Ketika semakin melimpah nikmat, bukankah ujian juga akan semakin banyak pula? Kenapa kok yang saya tulis hanya membahas sisi permasalahan Indonesia? Ehmmm….pembenarannya kira-kira begini, dengan aware dan awake terhadap permasalahan, maka dari situ kita bisa menentukan pola, model dan design pembangunan untuk menjadi problem solving sekaligus optimalisasi semua sumber/kekayaan alam.  Maka menjadi sangat masuk akal dan memenuhi kriteria kalkulasi akuntabilitas jika eksplorasi dan eksploitasi segala sumber alam mengacu dan berbasis pada:
  1. Berpihak pada masyarakat miskin (Pro poor)
  2. Pertumbuhan ekonomi (Pro growth)
  3. Penyerapan tenaga kerja (Pro Job)
  4. Pengembangan agroindustri/agrobisnis (Pro Bussines)
  5. Penanganan perubahan lingkungan (Pro sustainable) termasuk di dalamnya mempertahankan sesuai peruntukannya, misalnya Mempertahankan fungsi lahan pertanian yaitu menetapkan lahan-lahan pertanian (subur) sebagai area konservasi secara de jure dan de facto sehingga keberadaannya bisa dipertahankan sebagai area pertanian dan ini merupakan replacement (menurut saya) dari metode extensifikasi (menambah luas lahan pertanian dengan membuka area hutan dimana hal ini sudah tidak memungkinkan lagi untuk diterapkan karena  dampaknya pada global warning).
  6. Pro Kesetaraan Gender karena selain agent of change, secara kuantitas maupun kualitas, perempuan memiliki rasio yang proporsional untuk mengambil peran aktif dalam pembangunan  di berbagai bidang.
Dengan enam grand strategi pembangungan di atas, goalnya adalah output, out come dan impact untuk keberlangsungan semua sumber alam yang lestari hingga ke generasi-generasi bangsa ini NANTI dan selanjutnya, seperti yang tercermin dalam lirik lagu di bawah ini:

Indonesia kami lahir untukmu
Berkarya dan mengabdi bagimu
Bersatu untuk membangun bagi negri tercinta
Mari majulah Indonesiaku

Bersatulah semua raih kejayaan
Melengkapi dalam perbedaan
Bersatu membela merah putih tercinta
Bangkitlah Indoinesia
Buktilah pada dunia
Mari majulah Indonesiaku

Bangkitlah Indonesia, buktilah pada dunia
Bangkitlah Indonesia, Buktilah pada dunia
Mari majulah
Majulah majulah
Mari majulah Indonesiaku

video

Meresapi tiap bait lagu Bersatulah Indonesia, Cipt. Liliana Tanoesoedibjo adalah rangkuman asa dan cita untuk menuju dan mewujudkan Indonesia menjadi  negara yang besar dan berjaya. Dan semoga berabad-abad tahun ke depan Indonesia tetap bisa berkibar sebagai negara yang tangguh pangan dan industrinya serta berdaulat di semua bidangnya, bukan sebatas memorabilia dalam bait-bait lagu ataupun catatan tinta sejarah belaka.

http://abdulcholik.com/2014/07/01/kontes-unggulan-aku-dan-indonesia/

Aku dan Indonesia: Dulu, Kini, Nanti ini diikutsertakan pada  
Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia






Sources: Wikipedia Indonesia



8 comments: Leave Your Comments

  1. andai semua orang berpikir seperti ini...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan Andai semua para pemimpin negeri ini juga berpikir dan bertindak untuk dan atas nama bangsa indonesia, bukan semata ambisi kekuasaannya ya kan mas

      Delete
  2. Replies
    1. Aamiin, ma kasihh mbak. Alhamdulillah, akhirnya bisa hadir dalam undangan GAnya pakdhe

      Etappi, tulisan peserta lainnya mbikin saya jiper deh mbak.

      Delete
  3. Wah Gimana membuat teks tulisan jadi lebih mungil dan kecil itu ya. Hihihihi. Unik nih. Apakah pake tools yang ada di website atau blog? Atau perintah manual dengan edit HTML nya tu. Boleh juga nih ditiru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tulisan yg kecil mana toh KAng? saya malah gak paham neh maksudnya yg mana...*gagalpaham alias kupdet*

      Delete
  4. SDMnya masih jauh dari kesadaran bahwa setiap tindakan egois mereka bisa membuat kekayaan SDA kita sia2.

    ReplyDelete

Leave a comment or just be silent reader, still thank you so much.
Terima kasih telah singgah di Kidung Kinanthi.
Mohon maaf, komentar terindikasi SPAM atau yang mengandung link hidup tidak akan dipublikasikan...
So, be wise and friendly.