Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Apa Sih Lontong Orari Itu?

Traveling tanpa berwisata kuliner, rasanya kurang maksimal karena sudah jauh-jauh bepergian berbiaya, alokasi waktu dan meninggalkan PR di rumah tapi tanpa membawa oleh-oleh kesan dan kenangan mencicipi menu khas daerah yang kita kunjungi. Maka Bismillahirrahmaanirrahiim saya pun sudah pre-order jauh-jauh hari sebelum berangkat ke Banjarmasin untuk disempatkan menikmati menu khas di sekitaran Banjarmasin.
Nyobain Lontong Orari saja ya Lek?” demikian tawar Andri, keponakan saya yang saat masih setia menghuni salah satu bagian belantara Kalimantan.
Kuliner apa sih Lontong Orari itu?” tanya saya penasaran. “ Enakan mana sama lontong balap cobak?
Ya bedalah Lek “, jawab Andri dengan nada meyakinkan “ Dijamin so special pokoknya…”

Fantasi yang spontan melintasi otak saya adalah: sejenis menu lontong yang disajikan ala sambil siaran Orari atau makannya di rumah yang empunya pemilik station Orari? Lha kalau ketupat kan sudah biasa, berbagai daerah familiar dengan makanan berbahan beras ini dengan ciri kedaerahannya yang khas. Sebenarnya lontong serupa dengan ketupat, hanya beda pada pembungkusnya. Ketupat menggunakan janur [daun kelapa], sedangkan lontong memakai daun pisang untuk pembungkusnya. Di desa saya juga punya tradisi bikin ketupat tiap lebaran ketupat dan di Yogya ini saya dipertemukan tahoe teloepat: ketupat yang disajikan dengan sambel bumbu kacang, taoge dan kubis.

Dan ketika berkesempatan menjejak di Banjarmasin, bisa mencicipi sisi lain wisata kuliner menu lontong yang lebih dikenal dengan nama Lontong Orari. Lokasi RM Orari yang saya kunjungi sebenarnya berada, tepatnya di kampung Melayu yang terletak di seberang Mesjid [dekat Pasar Lama Banjarmasin]. Walaupun terletak di gang yang cukup kecil tapppiii….begitu tiba kami tiba RM Lontong Orari tersebut, WOW…parkiran penuh oleh pengunjung baik yang bersepeda motor maupun bermobil. Alhamdulillah, pas kami datang pas ada satu meja yang kosong jadi tak perlu masuk waiting list untuk menikmati kayak Apa Sih Lontong Orari itu?

Lauk pelengkap Lontong Orari lumayan variatif, mulai aneka olahan ayam, telur dan ikan. Dan saya antusias memilih ikan haruan karena namanya masih asing. Kan salah satu kode etik saat berwisata kuliner, pilihlah jenis makanan yang sekiranya belum pernah atau jarang ditemui sebelumnya.
Ikan haruan itu apa sih?” tanya saya lagi ke Andri.
Ikan yang sejenis ikan gabus atau kalau di Tlanak yang biasa disebut iwak Dheleg itu lho Lek But” …”
Model pembungkusan lontong Orari
Untunglah pelayanannya cukup cepat [bisa bikin BeTe pelanggan yang cukup banyak kalau pelayanannya lemot kan ya?]. Penasaran pengen tahu seperti Apa sih Lontong Orari itu? Tak lama berselang setelah memesan, datanglah paket menu yang kami pesan, dimana cara penyajiannya adalah lontong dibiarkan utuh dalam piring yang diracik bersama sayur nangka bersantan kental, yang ditaburi bawang goreng, untuk sambel dan lauknya disajikan secara terpisah.

Umumnya lontong dimasak dengan bungkusan daun pisang dengan bentuk lonjong/memanjang, maka lontong Orari ini dimasak dalam bungkusan daun berbentuk segitiga pipih dengan tekstur yang cukup padat.

Untuk kuah sayur nangkanya kental, ada rasa sedikit pedas dan manis serta ada aroma harum rempahnya yang khas. Menurut ukuran orang Banjar, rasa pedas kuah sayur nangka sudah cukup dianggap pedas. Tapi faktanya Orang Banjar umunya penyuka masakan manis. Jadi sepedas apapun sambal yang disajikan, masih ada taste manis yang muncul.. Nah berhubung saya penggemar pedas, maka saya masih perlu menambahkan sambel berwarna merah merona sebanyak 2 – 3 sendok lagi deh.
Cara Penyajian Lontong sayur secara terpisah
Sedangkan ikan haruan yang jadi menu andalan tersebut dimasak habang yang sekilas saya pehatikan kok ada miripnya dengan bumbu bali atau balado yaitu dimasak merah dengan sejumlah bumbu antara lain cabe merah, gula, garam, bawang merah, serai, kemiri, bawang putih dan lain-lain.  Tekstur Ikan haruannya sendiri sangat lembut dengan bau khas ikan asap.
Ketika kombinasi kuah nangka yang kental dengan aroma khas bercampur dengan bawang goreng, bercampur dengan tambahan sambel kemudian disantap bersama potongan lontong dan daging ikan haruan, ehmmmm yummyyy……….satu porsi lontong orari pun segera kandas dari piring yang diakhiri dengan segelas jeruk hangat.
1 Porsi Lontong Orari siap disantap

Oia, Penggunaan nama Orari ternyata diambil dari fungsi tempat yang dipakai untuk berjualan makanan ini merupakan tempat berkumpulnya para aktivis radio amatir yang tergabung dalam Organisasi Radio Amatir Republik Indonesia [ORARI]. At least, tebakan saya masih ada nyrempetnya kan ya? Cuma sayangnya, saya belum sempat mencari tahu apakah kegiatan ORARI di dekat-dekat RM Lontong Orari apa masih eksis sampai saat ini?
Yukkk...makan Lontong Orari

Cerita kuliner Apa Sih Lontong Orari Itu? dalam rangka berpartisipasi dalam "EAT and Travel With B Blog" Competition. Mau ikutan juga di event lomba blog berikutnya?  Ayo buruan daftar menjadi member BBlog Member www.bblog.web.id. BBlog merupakan layanan terbatas untuk anggota, yaitu hanya bloger yang sudah terdaftar menjadi member yang bisa ikutan berbagi kisah dan cerita  dalam event-event kompetiblog yang diadakan oleh BBlog.

<img src="http://tag.ripre.com/campaign?guid=on&k=81yht9nFScAAf2jMJKQoE9Tm0e898I93&c=c47cccab377f857138b4adcee72c507f" width="1" height="1" />


Untuk kompetisi blog kali ini disponsori oleh:
1.    Kumickey LittleCloset
2.    Elbelle Shop
3.    My Rasl
4.    Poupee Shop


Apa Sih Lontong Orari ini dalam rangka



♠ Facebook | Twitter | Instagram | Linkedin 

Di Antara Dua [pilihan] KA Pasundan

Menjadi tua itu kodrat, tapi bertambah usia dan menjadi lebih bijaksana adalah PILIHAN yang berarti Bismillahirrahmaanirrahiim mestinya semua orang bisa menjadi lebih bijaksana dengan berjalannya waktu dan semakin banyaknya asam garam kehidupan yang dicecap. Dan ketika saya pertanyakan pada diri saya sendiri, apakah saya sudah lebih bijaksana dari tahun lalu atau hari kemarin? Alhamdulillah, saya hanya bisa menjawab “…saya hanya bisa berusaha agar lebih baik, soal hasilnya….masing-masing orang check list [standar] ukur sendiri kan ya?”.

There’s no one the best, karena akan selalu ada yang lebih baik lagi di luar sana. Kata Simbok: ojo dumeh lan ojo jumowo, amarga isih ono langit maneh sak duwure langit. Simbok juga menasehati, jangan mengulangi kesalahan yang sama karena itu artinya kita tidak belajar dari pengalaman. Makanya saya pun pasang status siaga agar tidak mengalami kejadian yang salah kedua atau ketiga kalinya. Tapi eh tapi, ternyata kenyataan memang berbeda..hhmmm…mau tau cerita lengkapnya? Yuk, simak cerita yang bikin kesel, bingung sekalian gemesin ini hihi...*edisi emak-emak bercerita MODE ON*

Sebenernya kejadian ini gak cuma sekali saja dan saya juga mengalaminya di beberapa moda transportasi hehe. Pemilihan moda transportasi ini juga tergantung kebutuhan sih, misal kalau waktunya mepet maka mau gak mau saya harus mengandalkan transportasi pesawat tetapi kalau waktunya masih cukup longgar mending naik kereta atau bus dong. Nah, kebetulan waktu itu sedang ada urusan urgent, makanya cari tiket pesawat. Lihat-lihat harga di situs penjualan tiket online seperti Traveloka dan Tiket, dan ternyata lagi ada tiket promo Air Asia, makanya saya langsung melanjutkan pemesanan di situs airlinenya. Ya, waktu itu saya baru menjadikan layanan seperti Traveloka sebagai acuan saja untuk mendapatkan perkiraan harga tiket pesawat murah dengan cepat. Tapi denger-denger dari teman, katanya layanan seperti Traveloka ini lebih mudah caranya dan harga jualnya juga bersaing. Hheemmm….jadi bikin penasaran.

Senang rasanya pas tiket sudah di tangan, tapi pas waktu keberangkatan, kenyataannya aku ditinggal pesawat take off. Perasaan kesel, bingung, dll bercampur aduk jadi satu. Ehh…kejadian seperti ini ternyata ga cukup sekali, karena kembali terulang kedua kalinya dan rasanya bikin sesak, ribet plus bikin panik semua orang pula hehehe. Bagi yang sudah pernah, pasti tahu rasa dan rentetan akibatnya gimana jika tertinggal pesawat. Bagi yang belum pernah, please…jangan pernah ngarep untuk punya pengalaman serupa itu ya?

Yang berikutnya ini juga termasuk pengalaman yang gak kalah konyolnya dengan kisah ketinggalan pesawat, yaitu Di Antara Dua [Pilihan] KA Pasundan karena sudah gak jaman cerita pacar ketinggalan kereta. Sebenarnya menempuh perjalanan dengan naik kereta api sudah bukan hal baru lagi buat saya. Kalau perjalanan mudik saat masih domisili di Banyuwangi memang seringnya naik bis karena setiap saat ada bis dan gak perlu uber-uberan kejar tayang untuk berangkat. Nah, saat pindah habitat ke Yogyakarta ini dan manakala memenuhi kebutuhan batin untuk mudik ke LA demi melepas kangen pada sang Ayah Bunda, ada kalanya saya mudik sendiri. Ceritanya, karena belakangan ini jalur bis susah di prediksi alias lebih lama perjalanannya dari semestinya, sepakatlah saya untuk naik kereta api karena waktu tempuhnya lebih on schedule yaitu sekitar 5 jam untuk Yogyakarta – Surabaya.

Pengalaman yang saya alami beberapa waktu lalu ini membukukan cerita yang baru lagi selain kisah ketinggalan pesawat. Lha masak saya SALAH PILIH naik Kereta Api?!!! Sumpah saat kejadian, sama sekali ini bukan cerita yang lucu lho? Tapi aselinya sih lucu plus konyol, sampai suami saya bilang “wong biasa mbolang kemana-mana kok bisa salah naik KA gimana tho?”
Long wiken pertengahan bulan Mei lalu, setelah berjuang kesana kemari mencari tiket KA, akhirnya suami saya dapat tiket untuk tanggal berangkat 15 Mei jam 13:43 WIB dengan KA Pasundan. Demi mengantisipasi kemacetan arah menuju stasiun Lempuyangan, saya pun diantar sekira jam 12.30 WIB dan tiba di stasiun 40 menit berikutnya. Masih longgar kan waktunya, saya pun langsung “check in” di petugasnya sekaligus menanyakan kereta Pasundan yang akan saya naiki.
Keretanya nanti di jalur dua dan sekarang masih belum datang kok mbak. Sepertinya terlambat 10an menit”. Demikian penjelasan bapak petugasnya.
Saya pun antri dengan tenang dan confidence di dekat jalur dua dan begitu KA Pasundan datang langsung masuk via gerbong 6 yang saat itu posisinya terdekat dengan tempat saya berdiri.

Begitulah, jeda 5 menit kemudian KA berangkat….Tutt…Tutt..Tut…bunyi kereta Api berjalan, sedangkan saya belum sampai di tempat duduk saya yaitu gerbong dua. Santai sajalah, menikmati jalan-jalan melintasi beberapa gerbong. Begitu sampai di alamat kursi yang tertera di tiket, saya pun kaget karena sudah ada yang menempati seorang Bapak dan anaknya.
Tapi nomer kursi saya juga 2B Mbak….”
Saya pun mulai di hinggapi panik plus bingung. Akhirnya si Bapak minta lihat tiket saya dan membandingkan detail tulisan yang ada di lembaran tiket kami.
Tarraaaa………glodaggg “ Nomer keretanya beda Mbak. Kereta ini nomer 121, Embak hendak ke mana tho?”
Saya mau ke Surabaya Pak. Lah kereta ini arah kemana ya Pak?”
Wah, njenengan keliru….ini mau ke Bandung, arah barat Jawa sedangkan  Embak kan ke arah timur”.
Yaaa….saya gak mudeng arah barat, timur, utara dan selatan jika sudah di tempat umum  pak
Coba Mbak-nya tanya saja ke petugas, dimana stasiun terdekat untuk bisa turun dan apa ada alternatif kereta yang menuju ke Surabaya..” saran si Bapak yang cukup menenangkan saya. Dan kebetulan kok ya pas ada security gerbong yang melintas.
Dengan diantar sekaligus dibawain travel bag oleh si Mas Security, jadilah sampailah saya di gerbong kereta yang disebut gerbong makanan tapi yang isinya para petugas duang.
GAMBAR KUTOARJO
The New Ticket: GAYA BARU MALAM
Akhirnya, pemberhentian terdekat adalah Kutoarjo dan saya disarankan untuk beli tiket baru saja karena oper naik bis justru gak efektif. Sempat juga dikasih saran untuk naik Kereta Pramex ke Yogya [lagi], tapi setelah saya pikir-pikir….sama juga gak efektif. Wong saat itu sudah jam 15.30 dan kereta pramex setengah lima. Tiba di Lempuyangan jelang jam 6 petang, sedangkan tiket baru saya berangkat jam 19.46 WIB. Yang ada, malah suami ikut capek karena bolak-balik antar jemput lagi. Ya…sudahlah, saya jadi penumpang yang super rajin menunggu mulai jam setengah empat di stasiun Kutoarjo.

Ketika saya share kisah SALAH PILIH naik KA ke beberapa teman dalam rangka mengisi masa menunggu KA datang, rerata komen dari teman-teman adalah : “ Kok bisa sey kamu salah naik KA getu?....bla…bla…”. Kemudian saya contact dengan seorang teman yang biasa mudik tiap wiken Jogya - Madiun dan jawabannya “ memang seringnya begitu Mbak, ada dua kereta dengan nama yang sama, datang di waktu yang hampir bersamaan dan jalur relnya bersisian. Salah satunya ya KA Pasundan itu…

Experience is the best teacher, dan tak perlu harus mengalaminya sendiri untuk bisa belajar dari pengalaman. Sedikit sharing pembelajaran dari pengalaman saya yang berada Di antara dua [pilihan] kereta Api Pasundan yang berada dua jalur rel yang bersebelahan TAPI Beda arah ke barat dan timur [padahal saya juga gak merhatiin posisi lokomotifnya *parahpoll*], terutama bagi yang belum pernah naik KA, juga yang memiliki keistimewaan “miss oriented” dengan arah mata angin kayak saya, sebaiknya:
  1.  jangan datang ke stasiun terlalu mepet untuk menghindari keruwetan antrian saat check ini yang bisa berakibat kita terburu-buru mencari jalur KA yang akan kita tumpangi.
  2. Jika bertanya ke petugas, selain menyebutkan nama KA juga sebutkan kota tujuan.
  3. Perhatikan tulisan yang terpampang di jalur-jalur rel KA [saat itu saya over PeDe sudah fixed info yang saya peroleh sehingga tidak fokus merhatiin tulisan yang tertera di jalur-jalur KA]
  4. Jika masih bingung lagi, di dekat-dekat gerbong biasanya berseliweran petugas berseragam [security atau polisi], cobalah bertanya lagi karena malu bertanya bisa berakibat salah naik gerbong KA juga lho?
Ending ceritanya, harusnya saya sudah tiba di Surabaya jam 19.55 tapi justru baru start [lagi] berangkat dari Kutoarjo jam 19.46 WIB.

Bagi yang suka lihat pilem-pilem Jepang atau Korea, silahkan beranimasi seperti apa ekspresi saya kala itu. Yang jelas, saya pengen nangis tapi malu…pengen teriak tapi gak mungkin bisa…bingung…kalau KA berhenti di stasiun terdekatnya terlalu jauh dari Yogya, lha terus gimana pindah haluan ke arah tujuan mudik saya?

So awesome isn’t it? Tepatnya lucu bin konyol dan bikin geregetan sih, Hehehe…..





Ekspresi Demokrasi: Memilih karena Ingin Memilih

Pemilu untuk memilih para anggota DPR, DPD dan DPRD telah sukses dilaksanakan pada tanggal 9 April 2014 dan Bismillahirrahmaanirrahiim sekarang 9 Juli 2014 adalah agenda penting untuk mendaulatkan siapa yang layak untuk menyandang RI-1 dan RI-2. Pilpres yang dilakukan secara langsung tahun ini merupakan periode yang ketiga, dimana dua periode sebelumnya terpilih RI-1 adalah orang yang sama. Ah…..jadi wondering alias KEPO, andai dan seandainya masa jabatan presiden belum di amandemen, mungkinkah di pilpres secara langsung yang ketiga ini Beliau akan mencalonkan dan memenangkan  pemilu lagi?  
Masa kampanye Pilpres sudah lewat, ada model kampanye off air, on air, on mass media, on stadion dan on TV media. Dan Alhamdulillah, semua jenis kampanye di atas gak ada yang saya ikuti secara all out. Sebagian yang saya simak adalah versi On Line [lha banyak tuh yang nyetatus di SocMed]  dan ON TV media. Yang cukup menyita perhatian publik sepertinya kampanye versi DEBAT capres dan cawapres yang tayang langsung di stasiun televisi. Enam kali penjadwalan debat di TV telah usai, ya iyalah kan H-3 harus ada masa tenang agar calon pemilih bisa berpikir, merenung, mempertimbangkan dan memantapkan pilihan hatinya jatuh pada nomer berapa.

Then, isi dan paparan dalam debat tersebut, tentu sudah bisa jadi tambahan bekal untuk menentukan hendak pilih yang mana kan? Wong setiap kali usai tayangan debat, SosMed demikian heboh dengan up date yang merespon isi dari materi yang telah dikupas [belum] tuntas dalam acara debat tersebut. Setidaknya ada tiga [golongan besar]  jenis reaksi yang muncul:
  1. Apapun dan bagaimana pun perform calon yang di dukung, tak mengubah loyalitas pilihannya [baik pendukung nomer urut 1 maupun nomer 2] 
  2. Terjadi transformasi sikap yaitu berubah dukungan dari mendukung A ke B, atau sebaliknya. 
  3. Mengkritisi secara proporsional alias tidak memihak. Jadi isi pemaparan kedua belah pihak dianalisa dan dicermati dari sisi referensi, logika dan kemungkinan aplikasinya akan seperti apa.
Pada tipe yang pertama, mungkin ini yang di sebut The TRUE BELIEVER….right or wrong ….no matter what happen… keukeuh milih si Anu itu. Hebohnya lagi, sampai banyak yang perang komentar di SocMed kan? Demikian solid sikapnya dalam memberi dukungan, maka apapun sanggahan dan opini lain…yang pilihannya kokoh bagai karang. Yang bikin miris, tak jarang sampai terbawa emosi dan timbul konflik serta perseteruan. Saling adu pendapat dan perdebatan yang tak jelas ujungnya dengan disetai emosi jiwa, bahkan juga saling menjelek-jelekkan yang melewati batas kenormalan.
Ini saya kutip dari FB, status seorang teman [Amelia] yang menurut saya harusnya menjadi dasar dalam memberikan dukungan pada Capres- Cawapres, baik PRABOWO – HATTA maupun JOKOWI-JK
“Kampanye presiden. Masih pentingkah kampanye "tanpa isi" yang menjelek-jelekkan atau terlalu mengagung-agungkan salah satu calon? Apakah Anda lupa bahwa semuanya tidak selesai saat kampanye berakhir? Indonesia tetap harus bersatu setelah kampanye selesai. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, salah satu calon yang sudah Anda jelek-jelekkan itu akan memimpin bangsa ini. Jadi, ayo dong...STOP share link atau tulisan yang saya yakin sebenarnya Anda-anda pun belum tentu yakin betul sumbernya benar atau tidak. Berhentilah memfitnah/mempermalukan calon pemimpin bangsa sendiri.”

Beberapa teman yang tanya langsung ke saya, mungkin penasaran atau memang dalam rangka menambahi materi/info agar lebih proporsional dalam membuat pilihan calon Capres-Cawapresnya,
Sebenarnya, saya itu pengennya ada Capres-Cawapre nomer urut tiga…..” ngeles pertama saat menjawab.
Jadinya kan Cuma ada dua tuh Mbak. Terus prefer yang mana dong?”
Ehmmm……yang jelas, saya mendukung yang terpilih jadi Presiden dan wakilnya nanti kok”.

Dijamin jika jawaban saya makin bikin gemes yang tanya tho? Lha iya, saya sebenarnya pengen menjawab gini: Saya akan memilih karena saya memang mau memilih dan tentunya dengan niat semoga yang saya pilih ini bisa amanah dan membuktikan janji/target visi-misinya dengan optimal. Saya sadari yang namanya janji, target, visi dan misi itu kan acuan, tercapi 100% itu sebuah keajaiban. Jadi, kalau toh hanya terrealisasi di kisaran 75% itu kan masih logis kan? Jika memperdebatkan siapa tim dan para pendukungnya para capres-cawapres, perdebatan tak ada habisnya. Wong yang namanya politik, dari sekelumit yang saya tahu….orang-orangnya bisa dengan cepat berubah dukungan kok. Pada putaran pilkada di daerah A beberapa parpol berkoalisi, tapi pada Pilkada di lain daerah lagi sudah beda lagi koalisinya. Tidak jauh berbeda pula dengan pilpres ini kan? Pada periode pilpres yang lalu yang berjalan mesra sebagai partner koalisi, dan di edisi pilpres sekarang berganti koalisi lagi. 
Kalau dipikir-pikir, kan ada miripnya pula dengan tim sepak bola tho? Pada kompetisi Liga, mereka satu tim dan ketika ajang piala dunia sudah berbeda tim lagi menjadi saling berlawanan. Toh ketika pertandingan selesai, mereka langsung salingberpelukan, bersalaman dan ada yang tukeran kaos ya kan? Semoga para pendukung tim-nya juga bisa seperti tim yang di dukungnya, usai kompetisi [pemilu], bisa berjabatan dan bersimbiosis lagi dengan guyub. Tukeran cinderamata juga boleh banget....
Jadi, siapa pun Capres- Cawapres yang didukung, ya marilah dukung seperlunya saja dengan tetap menghargai pilihan teman/saudara/tetangga yang punya hak untuk memilih pula. Dan jika hendak memilih ya pilihlah karena ingin memilih demi kebaikan dan kedaulatan bangsa Indonesia. Jika mengambil keputusan untuk memilih, meskipun tidak dimengerti benar akan capability, skill dan eligibilitasnya karena terbatasnya informasi tentang calon yang hendak dipilih tersebut, lebih baik bila mulai berangkat dari rumah hingga saat akan mencoblos dalam bilik — melafal (berbisik-bisik atau dalam hati) “BISMILLAH…….Niat memilih demi masa depan bangsa Indonesia yang lebih baik”.  

Man-yahdillahu fala mudhilla lah, wa man yudhlil fala hadiya lah.  
Selamat berEkspresi Demokrasi: Memilih karena Ingin Memilih





NOTED: Postingan delay publish gegara gagal koneksi--->Teuteup saja ditayangkan tho? #efekkampanye: ngeyel