WHAT'S NEW?
Loading...

Jalan-Jalan di Luar Angkasa

Membahas tentang khayalan, tentunya setiap orang punya khayalan, setidaknya sekali saja pernah kan punya khayalan?. Kalau saya nyebutin apa saja khayalan yang pernah dan atau saat ini saya punya, Bismillahirrahmaanirrahiim dijamin akan jadi cerita fantasi semirip cerita ala Harry Potter #alaypoll. Mumpung ada kesempatan ngobral khayalan dan ada yang bersedia mbacanya, at least sang empunya GA Khayalan, iya kan? Maka, khayalan yang ingin saya pamerkan adalah........Jalan-Jalan di Luar Angkasa. Tuh kan bener, khayalan saya jauh di awang-awang tho?

Khayalan Jalan-Jalan di Luar Angkasa ini sebenarnya sudah jadi khayalan saya sejak kecil, bahkan sebelum saya tahu tentang cerita Mr. Neil Armstrong yang mendarat di bulan. Saat saya masih kuecill...saat pesawat TV masih jadi barang luxury bagi sebagian besar oang di desa saya sehingga kalau nonton tipi ya secara massal di rumah orag yang tergolong kaum elit di desa. Stasiun TV yang kala itu masih dominan oleh tayangan TVRI dengan warna klasiknya black and white. Bagi kami para anak-anak tetap lebih tertarik untuk menggunakan waktu luang dengan bermain rame-rame di bawah siraman cahaya gemintang. Waktu senggang yang bisa kami gunakan untuk bermain kebanyakan memang malam hari, yaitu sepulang dari surau selepas sholat Isya dan gak ada PR tentunya. Sejak kala itulah, di sela-sela keriuhan bermain petak umpet atau benteng-bentengan, saya suka melihat langit yang bertaburan bintang. Saat itu, imaji kanak-kanak saya mempertanyakan adakah kehidupan yang sama di awang-awang sana sama seperti di desa saya? Ada anak-anak yang bermain lompat tali, gobak sodor, kelereng, kasti, angon kambing, dll? Ataukah peradabannya di luar angkasa sana sudah sangat maju? Berbagai pertanyaan dan imajinasi senantiasa mengusik setiap kali saya menatap langit malam. Dan saat melihat ada semacam sinar bintang yang berjalan di langit, saya berkesimpulan sedang ada anjang sana antar bintang, saling ngasih kue atau lagi ada tetangga bintang yang punya hajatan mantu atau sunatan? #ngaco
Lautan Bintang dari SINI
Al hasil, sejak itulah saya memiliki khayalan Andai bisa Jalan-Jalan di Luar Angkasa  Semakin bertambah tinggi khayalan saya ketika berkenalan dengan IPS yang salah satu BABnya ada pembahasan tentang semesta dan jagad raya, yang menguraikan tentang rangkaian galaksi, gugusan bintang dengan masing-masing nama dan keunikannya. Saya semakin penasaran dan ingin melihat seperti apa  jika digambarkan secara audio visual. Akhirnya, film Star Wars yang bergenre sebagai film science fiction garapan George Lucas cukup mampu menjawab rasa penasaran saya. Film yang dibuat dengan setting sebuah luar angkasa yang dinamakan Imperium Galactic dengan intrik ceritanya berbasis pada kemampuan yang bersifat supernatural seperti telekinesis, mind control dll. 

Tapi tolong jangan tanya detail film Star wars ini. Yang masih saya ingat ceritanya hanya Star Wars yang sekuel yang ke-6 yaitu yang mengisahkan perseteruan antara Jedi sebagai pihak pembela kebajikan melawan Sith yang mewakili sisi kejahatan, dengan senjata anadalan mereka Lightsaber yang kereeennn...eh..setting luar angkasa yang didukung para pemainnya yang keren-keren, jadi makin lengkaplah keindahan gambaran luar angkasa yang disajikan dalam Star Wars. Sepertinya, kalau saya lanjutkan akan dominan bercerita tentang  keluarga Skywalker dengan generasi andalannya Luke Skywalker yang merupakan anak dari Anakin dan Padme Amidala. 
Indahnya View Angkasa dari SINI
Oia, romantis tuh saat Anakin yang tangannya tinggal satu, akhirnya bisa menikah dengan Padme Amidala. Eeehhh...kok mbalik lagi ke Star wars. Yaa....di masa kecil saya Khayalan Jalan-Jalan di Luar Angkasa bisa jadi merupakan Khayalan Tingkat tingkat suuueeekaliiii. Tapi untuk saat ini, kesempatan untuk bisa Jalan-Jalan di Luar Angkasa sudah menjadi salah satu destinasi wisata yang jadi favorit para milyarder. Tapi kalau buat saya untuk bisa wisata ke luar angkasa ya masih Emange Wes Duwe Duit piroo ?






From Banyuwangi To Sleman

Life is a STRUGGLE ~ fight it; Life is an ADVENTURE ~ dare it; 
Life is a JOURNEY ~ complete it; 
Dengan Prolog Quote  pinjaman, And I prefer to say Life Is beautiful gift, Bismillahirrahmaanirrahiim mengawali sekilas cerita tentang The New Chapter of my life: From Banyuwangi To Sleman. Sebelumnya saya sempat dihinggapi rasa kuatir mengingat cerita beberapa teman yang sempat saya interview untuk sharing pengalaman ketika mengajukan pindah kerja yang cukup memakan waktu, tenaga, dll. Singkat cerita Alhamdulillah Serangkaian proses Mutasi kerja antar daerah yang saya ajukan bisa di ACC dalam kurun waktu sekira 4 bulan. Waktu yang relatif singkat dan prosesinya juga tidak ribet serta berjalan normally. Then here I am, tinggal di Sleman secara de facto sejak 1 September 2013 dan minggu kedua mulai aktif bekerja serta pindah alamat domisili per 18 September ber-KTP sebagai warga Sleman Sembada. 
Begaya hidup nomaden, jadi cukup semobil untuk mindahin property
The New Chapter of my life ini startnya sudah pernah saya sharing disini http://www.ririekhayan.com/2013/03/merangkai-tasbih-cinta.html. Pengennya sih berlanjut dengan serangkaian cerita perubahan, harmonisasi dan rupa-rupa interdependence yang mulai kami tapaki sebagai keluarga. Saya pilih menyebut keluarga karena gerbang pernikahan yang saya masuki memang langsung terpaket lengkap dengan adanya anak-anak. Ini bukan salah ketik dan saya yakin sebagian teman bogger sudah ada yang tahu bahwa pernikahan tidak hanya memberi status sebagai seorang istri tapi sekaligus spontantly menganugerahkan peran sebagai seorang Ibu, At least melanjutkan peran sebagai seorang Ibu [se-ala kadarnya seorang saia yang sebelumnya terbiasa hidup amburadul semau guweh] untuk Ifa, Aida dan Azka yang Ibundanya telah dipanggil kembali oleh sang Khaliq sekitar tiga tahun lalu. 
Sebagian teman Blogger yang sudah menyimak kisahku
So, bagaimana wewarna masa honey moon saya tentu sangatlah berbeda dengan pasangan pengantin baru single VS single. Yang jelas, pernikahan kami adalah pernikahan 3 keluarga besar, proses adaptasi inti: Saya VS 4 orang serta bonus untuk membuka chapter tempat tinggal dan lokasi bekerja di Yogyakarta. Postingan sekaligus merupakan introduce/perform untuk keluarga [baru] saya karena walaupun ini jejak dunia maya tapi bagi saya secara maya atau nyata/off line, HANYA beda medianya. Diri saya dan atributnya tetaplah satu paket manusia yang sama. Ada hal-hal yang perlu di publish, juga ada hal-hal yang cukup untuk diketahui diri sendiri, terbatas keluarga saja atau hanya cukup orang-orang sekitar. Dan bagi saya memperkenalkan anggota keluarga baru di area blogspere merupakan hal yang perlu untuk saya lakukan. Ya minimal biar langsung klik jika nanti-nanti saya pengen nge-posting yang ada terkait dengan keluarga. Maka inilah 3 anak yang sekarang memanggil saya Bunda: yang sulung Alifia Nur ‘Afiifah yang akrab dipanggil Ifa, saat ini duduk di bangku SMP [sekolah di pesantren jadi sehari-harinya tinggal di asrama]. Yang kedua Aida Nur Fitria, dengan sapaan Aida yang saat ini kelas 6 SD. Sedangkan yang nomer tiga, Dzakia Azka Humam dengan panggilan akrab Azka yang duduk di kelas 3 SD. 
1st Pict yg saya punya: hasil paparazi keponakan saat khitbah
Jika saya ceritakan the whole story: kapan ta’aruf kami bermula, apa pertimbangan-pertimbangan saya, kenapa saya sok PeDe berani menerima ta’aruf seorang duda dengan 3 anak [belum ada yang akrab dengan saya dan ada yang bersikap kontra dengan keputusan sang ayah untuk menikah lagi], seperti apa rangkaian LABIL EMOSIS dan KONFLIK LOGIKA hingga sepakat untuk Ikrar Ijab Kabul #ikutanlatahalaVicky, bagaimana rerupa cara saya berharmonisasi dengan keluarga almarhumah dan lain-lainya [termasuk suasana melow farewel party saya dengan teman-teman di Banyuwangi], maka akan jadi postingan yang mblengeri untuk dibaca kan? InsyaAllah, pengennya saya sih bisa tercurahkan dalam sebuah blog khusus Me and My Family #ada yang mau ngasih nama blog impian saya-kah?, itung-itung sebagai rekam jejak sejarah saya sendiri yang minimal bisa jadi bacaan sendiri deh.

Sebagai wacana sepintas disini dan semoga ada sisi baik yang bisa terpercikkan tentang kronologis ta’aruf yang saya tempuh:
  1. Ta'aruf secara resmi diajukan pada Bulan Ramadhan 2012 dan memberikan tenggang waktu bagi saya untuk memikirkannya. Bisa ditebak, saya kaget dan tidak menyangka blas. Lha gak ada angin, gak ada mendung kok turun hujan? Wouw-nya lagi tenggang waktunya itu pun super singkat [menurut saya], lha mosok seminggu kemudian dia menanyakan jawaban saya? Maka saya hanya bisa menjawab: Untuk saat ini saya belum punya jawaban, jika hendak mundur atau mau menunggu, silahkan. 
  2. Seminggu setelah Idhul Adha, dia minta jawaban lagi: iya atau tidak. Sebenarnya saya masih belum punya jawaban, jadi saya mengajukan 5 pertanyaan [rahasia]. 
  3. Dari jawaban-jawabanya, akhirnya saya cukup mengatakan: Njenengan yang mengajukan pertanyaan apakah aku mau dan sanggup menikah dengan Njenengan Mas. Maka sekarang saya persilahkan Njenengan membuat jawaban atas pertanyaan Njenengan sendiri sebagai seorang imam. 
  4. Keputusannya adalah, dia siap menjadi imam bagi saya dan rencana khitbah 25 Nopember 2012.
  5. Seminggu setelah acara lamaran, pihak keluarga saya menyampaikan pilihan hari H pernikahan: 21 Desember atau 7 Maret 2013. 
  6. Awalnya sepakat jika pernikahan akan dilangsungkan Bulan Desember, tapi perkembangan berikutnya ada beberapa pertimbangan yang akhirnya pernikahan disepakati pada Maret 2013. 
  7. Dengan mengambil cuti 7 hari kerja untuk pernikahan: Akad 7 Maret, acara walimah tanggal 9 Maret 2013.
  8. Kami: saya dan suami serta anak-anak pun langsung lanjut ke Yogyakarta pada 10 Maret 2013 karena ijin sekolah Ifa, Aida, Azka gak bisa berlama-lama jelang UTS.
Demikianlah, waktu sisa seminggu masa cuti saya habiskan di yogyakarta memulai mencairkan hubungan yang masih serba kaku dan kikuk diantara kami berlima. Setelah itu, seperti beberapa kali saya sindir dalam postingan bahwa saya pun menjalani pernikahan LDR dengan tiap akhir pekan long trip sekira 15-18 Jam on the bus untuk rute Banyuwangi-Yogyakarta serta tetap menjadwalkan mudik seperti biasa Banyuwangi - Lamongan untuk menyambangi ortu [yang pastinya setelah menikah atas seizin suami]. Oleh karena pekerjaan suami yang gak mungkin dipindahtempatkan ke Banyuwangi serta saya pun menganut paham istri mengikuti suami [selama itu benar], maka pertengahan April saya mengajukan mutasi kerja secara resmi dan final process di pertengahan Agustus saya dinyatakan pindah tempat kerja ke area Sleman terhitung mulai September 2013. 

Pada 1 September jelang sore hari saya sudah menjejakkan kaki di Sleman, yang juga segera follow up untuk pindah domisili tempat tinggal. Alhasil, tanggal 18 September saya sudah memegang KTP sebagai warga Sleman, juga sekaligus hari dimana saya yang sebelum-sebelumnya live as single yang kesehariannya HANYA ngurusi diri sendiri harus siap tidak siap, bisa gak bisa tapi semoga ikhlas men-set up diri untuk jadi Single Parent InsyaAllah sampai  akhir Oktober. Saya sempat mengalami peningkatan level stress, panic, dan lain sebagainya dari saat menghadapi hari H pernikahan. Normal tho jika saya sempat so HECTIC kayak gitu, lha belum lama menetap di Sleman dan kami berdua sama-sama perantau [suami saya juga aseli Jawa Timur], lantas sunddenly harus menjalani sekian rentang waktu tanpa suami dengan ngopeni anak-anak yang sehari-hari sekolah dan saya kerja full time .....tapi akhirnya saya sumeleh, kembali pada hukum: Let's Face it....Let It Flow...Let It be....Then always hope GOD's Blessing for all the moment.

Bahwa segala sesuatu yang dihadapkan pada kita tentunya sudah melalui proses fit and proper test kalau kita sudah dilengkapi dengan modal kemampuan diri untuk menjalaninya dengan sebaik-baiknya. So, here are my days go on....tak hanya mendadak menjadi ibu oleh sebab pernikahan, juga sundenly being a single parent for about 42 days next [tanpa adanya ART/ gak dapat ART] karena suami melaksanakan ibadah haji. No matter what's going on, Semoga, bersama-sama kami bisa menjalaninya dengan sebaik-baiknya hingga membawa berkah bagi kehidupan dunia-akherat. 
Formasi Lengkap Keluarga Kami untuk saat ini
Bahwa menikah adalah hal yang sangat kodrati, tidak dapat dimatematiskan, tidak bisa dimodelkan meski sekompleks persamaan fisika quantum…Walaupun bisa dipetakan, variable pendukungnya toh tidak bisa diuraikan dalam kesetimbangan aksi dan reaksi. Tak ada standar yang baku tentang kesiapan menikah yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya. Tak akan salah atau terlambat datangnya pasangan/jodoh kepada setiap orang dan tak bisa dimajukan, ditahan ataupun dihindari. 

Bagi saya, cinta yang sebenarnya adalah cinta yang tumbuh dalam pernikahan. Jadi yang lebih penting adalah bagaimana saya dapat mempelajari untuk mencintai dan mendukung orang yang mencintai saya just the way we are dengan cara yang lebih bijaksana. Cinta itu ajaib, dan dapat berlangsung lama kalau kita memahami dan menerima perbedaan-perbedaan karakter masing-masing. Mencintai seseorang berarti sudah mengukur batas kemampuan diri sendiri untuk bisa menerima/memahami apa dan bagaimana dia sebagaimana adanya, sehingga segala perbedaan yang ada menjadi kekayaan bersama untuk saling menambah, mendukung dan saling menutupi kekurangan

Kala cinta bertanya pada cinta
Imanlah jawabnya

Bahwa dua orang yang menjadi satu dalam cinta [pernikahan] adalah suatu proses penyempurnaan, melengkapi dan enrichment kualitas diri melalui kekhasan dan keunikan masing-masing dalam rangka mewujudkan tujuan bersama. Beragam pendapat dan penilaian terkait pilihan SOK preman nekad saya menerima ta'arufnya dan kini sudah menikah yang secara pandangan umum tergolong "langka" [ketimbang disebut kontroversi kan?], saya hanya bisa menjawab dengan mengutip kembali bagian dari postingan terdahulu: 

Aku hanya seseorang yang ingin jadi pembelajar hidup...
Belajar dari ketidaktahuan dan berusaha berproses dengan kerendahan hati...
Aku tak ingin menebak, seperti apa akhir semua ini...
Hanya akan berusaha sebaik yang kubisa
Agar setiap momentum berelemen RidhloNYA, selalu & selamanya

Epilog dadakan: Sebenarnya publish postingan ini semata untuk sharing sekaligus woro-woro kalau domisili saya sekarang sudah di Yogyakarta. Tapi pas BeWe kok mbaca ada even GA-nya Mbak Uniek yang sedang menggelar 10th Wedding Anniversarry, jadi ya sekalian ngiras ngirus saya sertakan dalam GA tersebut. Especially for mbak Uniek dan sang suami beserta keluarga, happy 10th wedding anniversary. Semoga selalu berlimpah Ridhlo Allah SWT sepanjang masa, selalu selamanya meniti hidup dalam kemilau cinta yang hakiki. Aamiin.

Kisah pernikahan From Banyuwangi To Sleman ini diikutsertakan pada 



#Created postingan sambil nemenin Azka nonton laga final AFF Indonesia VS Vietnam



Aku dan Adenium

Saya bukan seorang florist, juga bukan kolektor bunga, jadi saya ndak paham tentang bebungaan. Tapi Bismillahirrahmaanirrahiim saya penyuka bunga walau bunga yang ada dirumah masih bunga gratisan alias hasil ngerampok dari rumah teman/sodara pas silaturahim dirumah yang saya kunjungi punya bunga yang imut-imut dan ditawarkan untuk bawa pulang salah satu bunga, jadi berbunga-bunga deh hatinya saya.

Langsung saja  ngeceritain tentang salah satu bunga gegratisan ini adalah Adenium yang doeloenya saya kira bernama Kamboja kerdil.#dasar katrox wal ndeso! Pertama lihat Adenium saat bunga ini masih jadi salah satu bunga idola yang harganya wouw. Saat itu saya cukup bersyukur bisa menikmati aneka rekayasa Adenium secara gratis jika ada pameran bunga dengan ragam dan model bunga hasil pembonsaian dan kombinasi, dengan harga yang mengagumkan mahalnya. 

Time goes by, pas saya dan seorang teman mampir ke rumah salah satu kakak tingkat  kuliah [di Gresik], ternyata punya banyak Adenium hasil kekreatifan sang istri yang memperbanyak dan mengkombinasikannya. Tanpa banyak basa-basi, dikasihkanlah dua pot Adenium pada kami sebagai oleh-oleh. Alhamdulillah akhirnya punya bunga Adenium secara gratis. Kemudian sekira 4 tahun lalu, Adenium kedua diberi oleh mantan kakak ipar, sewaktu saya dan keluarga bersilaturahim kerumahnya. Meski pernikahannya dengan kakak sulung saya terpaksa kandas [faktor X yang tak bisa mereka hindari] tapi hubungan silaturahim masih terjalin dengan baik sampai sekarang dan semoga selamanya baik.

Dan cerita tentang Aku dan Adenium [gratisan] ini berlanjut pada Adenium ketiga. Kalau Adenium pertama dan kedua merupakan oleh-oleh silaturahim, maka Adenium ketiga adalah pemberian sekaligus ditanamkan di halaman tempat tinggal saya di Banyuwangi. Ajib tenan tho?! Awal story-nya, karena lokasi tempat tinggal saya adalah tanah persawahan yang dijadikan area perumahan, makanya ilalang dan rerumputan liar lainnya dengan gampang menghijaukan halaman di musim kemarau dan hujan. Saya yang sok sibuk ini, seringnya berakhir pekan dengan acara mudik sehingga tak jarang halaman rumah jadi padang rumput yang bisa untuk menggembala kambing deh.

Hingga kemudian ada tetangga baru, sang pemilik rumah sebelah yang selama ini kosong mempersilahkan Bapak Becak langganannya menempati rumah tersebut. Muncullah ide efektif, saya mengajukan penawaran pada Pak Antok [nama Bapak tersebut] untuk menghandle kebersihan halaman dan rerumputan liar si ilalang cs. Bagi saya pribadi pilihan ini berdampak simultan bagi keamanan tempat tinggal yang sering saya tinggal out going. Beberapa bulan berjalan, ketika datang dari Jakarta [kira-kira setahun lalu], terdapatlah tanaman Adenium mempercantik depan rumah. Hemm...so surprissed. Rupanya Pak Antok berinisiatif menyedapkan penampakan halaman rumah saya. Mungkin Pak Antok prihatin, masak tempat tinggal wanita cantik dan anggun kok “miskin” bunga kali ya? #Ups!

Dari Wikipedia, saya jadi lebih tahu tentang Bunga Kamboja kerdil yang lebih beken disebut Adenium ini ternyata berasal dari daerah gurun pasir yang kering yaitu dari daratan asia barat sampai afrika, merupakan daerah kering sehingga bunga ini tumbuh lebih baik pada kondisi media yang kering dibanding pada medium yang terlalu basah. Sebutannya disana adalah Mawar Padang Pasir [desert rose] dan dinamakan adenium karena salah satu tempat asal adenium adalah daerah Aden [Ibukota Yaman]. Adenium berbatang besar dengan bagian bawah menyerupai umbi, namun sosok tanamannya sendiri kecil dengan daun kecil panjang. Akar adenium juga dapat membesar menyerupai umbi yang berfungsi untuk tempat menyimpan air sebagai cadangan disaat kekeringan. Akar yang membesar dan muncul di atas tanah akan membentuk kesan unik seperti bonsai. Sedangkan batangnya lunak tidak berkayu [disebut juga sebagai sukule] yang dapat membesar.
Ada 2 kelompok adenium, yaitu kelompok species [jenis asli]  dan Varietas (hasil perkawinan dan persilangan yang dilakukan manusia untuk mencari bentuk baru). Beberapa species asli Adenium yaitu :
  1. Adenium arabicum, cirinya bentuk bonggol pendek dan besar, dengan banyak batang yang muncul dari atas bonggol tersebut. Bunganya berwarna paduan putih dan pink, kecil [diameter petal kurang dari 5 cm].
  2. Adenium obesum, cirinya bentuk bonggol besar dan agak memanjang keatas, satu batang tumbuh di atas bonggol, di atas batang muncul percabangan. Bunga berwarna paduan merah dan putih, berbunga besar [lebih dari 5 cm].
  3. Jenis-jenis species adenium lainnya adalah Adenium Socotranum, Adenium swazicum, Adenium somalense, Adenium bohemianum.
Some how, saya sungguh terharu dan berterima kasih banget dengan Adenium ketiga yang ditanamkan Pak Antok. Sekaligus, saya gak pernah nyangka jika Adenium tersebut merupakan bunga terakhir yang ditanam Pak Antok di tempat tinggal saya. Iya, saat pamit untuk mudik lebaran adalah moment kali terakhir saya bertemu, menyapa dan ngobrol dengan Pak Antok. Seusai libur Idhul Fitri, tetangga depan rumah mengabarkan meninggalnya Pak Antok pada 4 Agustus 2013, jeda 2 hari setelah saya start mudik.

Demikianlah cerita yang menyertai Adenium ketiga yang saya miliki. Setiap kali keluar rumah, melintasi tanaman Adenium dengan kelopak bunga merah bersemburat warna putih merona segar menghadirkan kenangan sosok Pak Antok yang ringan tangan, ramah dan reminder betapa kita tak pernah tahu kapan “panggilan” untuk kembali padaNYA akan datang pada kita.  



Tulisan Aku dan Adenium ini diikutsertakan pada Give Away Aku dan Pohon


Notes: 
Adenium ketiga saya dalam Klasifikasi Ilmiah termasuk dalam: 
Kingdom: Plantae; Divisi: Magnoliophyta; Kelas: Magnoliopsida; Ordo: Gentianales; Famili: Apocynaceae; Genus: Adenium; Species: A. obesum


Reference: http://id.wikipedia.org/wiki/Adenium



ASEAN: Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan

Menginjak tema ke-9 dalam rangka #daysforASEAN, Bismillahirrahmaanirrahiim masih mencoba menjawab tantangannya yang diberikan walau tulsan saya semakin semrawut. Setelah skip pada tema ke-7 karena off yang lagi rushty dan fisik nge-drop oleh pernik-pernik pindahan dalam rangka mengikuti suami [maklum, saya menganut paham jika istri fitrahnya mengikuti suami]. Lagi-lagi saya berazaz minimilais yaitu sebisa mungkin membuat postingan sesuai tema yang diberikan untuk hari ke-9, yaitu mengambil tema yang diangkat Dalam KTT ke-22 di Brunei Darussalam “Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan”, dengan pokok perundingan pembangunan badan persatuan ASEAN, dengan tiga pilar yaitu Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi dan Persatuan Sosial dan Kebudayaan. Pembangunan Badan Persatuan ASEAN itu harus dirampungkan sebelum 31 Desember 2015. Nah, inilah tema yang diberikan: Dengan ketiga pilar tersebut, bagaimana mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN? Mampukah negara-negara ASEAN mewujudkan Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan? 

Kalau jawaban mencongak ala saya saat kelas dua SD sewaktu dikasih pertanyaan rebutan untuk bisa pulang sekolah duluan, ya dengan cepat dan spontan saya jawab: SANGAT BISAAAAA....!!!!
Tapiii, jika pertanyaannya dilanjutkan pada frase: bagaimana mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEAN? Maka untuk menjawabnya, saya perlu mereview sekilas filosofi dalam lambang ASEAN yang saya kutip dari Wikipedia, dimana Gagasan dasar rancangan lambang ASEAN adalah tanaman padi bahan baku untuk memasak nasi yang merupakan makanan pokok bagi mayoritas penduduk Asia Tenggara dan tanaman padi juga mengandung makna yang identik dengan kemakmuran, kecukupan pangan, dan kekayaan. Beberapa point-point lainnya yang bersifat visioner pada lambang ASEAN yang sekaligus menjadi gagasan mulia pembentukan organisasi regional di kawasan Asia tenggara ini, yaitu:
  1. Lambang ASEAN melambangkan kemantapan, perdamaian, persatuan, dan dinamika ASEAN. Warna-warna lambang — biru, merah, putih dan kuning — adalah warna-warna yang digunakan dalam berbagai bendera negara-negara anggota ASEAN.
  2. Warna biru melambangkan perdamaian dan kemantapan, merah melambangkan keberanian dan dinamika, putih melambangkan kesucian, dan kuning melambangkan kemakmuran.
  3. Sepuluh batang padi yang terikat melambangkan sepuluh negara anggota ASEAN. hal ini melambangkan harapan para bapak pendiri ASEAN yang memimpikan ASEAN terdiri atas seluruh sepuluh negara-negara Asia Tenggara yang terikat dalam persahabatan dan solidaritas.
  4. Lingkaran melambangkan persatuan ASEAN bagi seluruh lapisan masyarakat yang berada dalam negara-negara ASEAN yang hampir semuanya terdiri dari beragam: suku, budaya, agama, bahasa dan berkepulauan.

Tema yang digoalkan dalam KTT di Brunei Darussalam “Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan”, dengan pokok perundingan pembangunan pada pilar Persatuan Keamanan, Persatuan Ekonomi dan Persatuan Sosial dan Kebudayaan sebagai sekuel relevansi dari filosofi yang termaktub pada lambang ASEAN, karena pada kenyataannya semua negara anggota tipically ASEAN memiliki kemiripan dalam:
  1. Secara ekonomi, merupakan kawasan negara berkembang dengan jumlah penduduk yang cukup besar dan tingkat [status] sosial yang belum merata.
  2. Terdiri dari banyak suku/multi etnis dengan ragam budaya dan terdapat beberapa agama yang dianut.
  3. Wilayah Kepulauan yang rentan keamanannya, bahkan berpotensi timbulnya sengketa perbatasan antara sesama anggota ASEAN sendiri.

Berdasarkan kondisi umum, alasan dan tujuan pembentukan organisasi ASEAN, sejatinya bisa juga disebut sebagai representasi dari Bhinneka Tunggal Ika. Dengan demikian cara untuk mencapai tujuan pembangunan badan persatuan ASEANdalam rangka Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan bisa difokuskan pada program-program yang bertendensi pada:
Yang Pertama: Pro Poor yaitu pembangungan di berbagai bidang berkontribusi terhadap untuk menurunkan angka kemiskinan.
Yang Kedua Pro Job, bahwa setiap sektor industri dan bisnis dengan orientasi efisiensi dan efektifitas yang mendukung perluasan lapangan kerja
Yang Ketiga: Pro Growth yaitu mampu memperluas pertumbuhan ekonomi
Yang Keempat: Pro Environment dimana pertumbuhan ekonomi yang berkolaborasi konstruktif menjaga keseimbangan lingkungan yang berkelanjutan. 
Yang Kelima: Pro Demokrasi dan Kekeluargaan karena secara geografis dan demografi wilayah dari para anggota ASEAN rentan terjadinya konflik dan persengketaan, sehingga menempatkan berbagai kebijakan dan keputusan baik khusus internal masing-masing negara maupun antar sesama negara anggota ASEAN sangat penting untuk menempatkan skala prioritas yang Pro Demokrasi dan Kekeluargaan agar berbagai permasalahan yang terjadi bisa diselesaikan dengan cara-cara yang damai dan dan penuh toleransi. Yaaa...cukup saya saja yang Ribut deh, kan sudah sedari lahir saya dikasih nama Ribut #Ups nglantur deh

Karena sudah kambuh confuse-nya, jadi sekian saja opini yang bisa saya buat mengenai Asean: Menyatukan Rakyat, Menciptakan Masa Depan yang lebih baik.



Reference: http://id.wikipedia.org/wiki/Lambang_ASEAN



Filipina dan Kebebasan BerEkspresi

Fenomena berekspresi, khususnya dalam berpendapat baik secara lisan maupun tertulis sepertinya menjadi isu yang  Bismillahirrahmaanirrahiim masih memerlukan banyak perjuangan untuk meraih dimensi Kebebsan Berekspresi yang bisa dipertanggungjawabkan. Fenomena Kebebasan berekspresi yang mengalami perkembangan yang sangat pesat seiring dengan kecepatan perkembangan IpTek, khususnya teknologi informasi dan social media yang difasilitasi oleh internet. Meski demikian, tingkat perkembangan kebebasan berekspresi dan berbagi informasi tidak seragam di masing-masing negara. Demikian pula untuk ruang lingkup komunitas anggota ASEAN, kebebasan berekspresi masih sangat berfluktuatif. Di beberapa negara, kebebasan berekspresi sangat di dukung bahkan sampai kelompok netizen jurnalism atau blogger yang produktif sebagai jurnalis warga dalam menyebarkan informasi, seperti yang sekarang berkembang di Indonesia saat ini misalnya. Tapi faktanya, masih ada beberapa negara yang alergi dan antipati tehadap kebebasan berekspresi dari kaum jurnalisme sendiri maupun warga negaranya, terutama jika tulisan/pendapatnya yang berisi kritik terhadap kebijakan dan policy parlemen/pemerintah, sehingga dengan mudahnya didakwakan pasal-pasal untuk menjugde dan mengebiri siapa saja yang dianggap tidak cooperative dengan pemerintah.

Kalau di Indonesia sekarang ini pencapaian iklim berkespresi yang kondusif bahkan hingga ke level blogger sedemikikan berkembang pesat dan mendapat dukungan – tentu saja pada awal-awalnya membutuhkan waktu dan proses perjuangan yang lengkap dengan ragam lika-likunya- lantas bagaimanakah status perkembangan berekspresi di Filipina sebagai negara yang termasuk serumpun dengan Indonesia?.

Filipina yang memiliki bentuk wilayah tipically seperti Indonesia, yaitu dengan kepulauannya yang berjumlah sekitar 7 ribu dengan mayoritas penduduk beragama Katholik dengan life style yang western dibandingkan negara-negara Asean lainnya [efek dari imperialisme Spanyol dan Amerika]. Bisa dibilang Filipina merupakan salah satu negara yang serumpun dengan Indonesia, dari ciri-ciri fisik penduduknya dan penggunaan Bahasa Melayu dalam dialek bahasa yang digunakan oleh beberapa suku di negara tersebut. Tapi secara perkembangan Kebebasan Berekspresi [secara lisan dan tulisan] bisa saya sebut jika Filipina memiliki iklim kebebasan berekspresi yang beranomali seperti dua sisi uang logam yaitu saling berseberangan/kontradiktif.

SISI KONDUSIF.
Di kawasan Asia Tenggara dan Asia, Filipina termasuk negara yang longgar dalam kebebasan berekspresi dan informasi bagi para warganegaranya, Tak untuk kalangan pers dan media resmi, tapi sudah memasyarakat sehingga banyak bermunculan penulis yang bermedia internet yaitu para blogger sebagai kelompok jurnalisme warga. Fenomena melejitnya tingkat kebebasan pers yang sangat tinggi sebagai hasil eksplorasi sistem pendidikan yang diberlakukan di Filipina dengan program-programnya yang saling berkaitan secara simultan, antara lain yaitu:

  1. Undang-undang yang meWajibkan setiap anak usia sekolah untuk mendapatkan pendidikan formal selama 13 tahun [dari sebelumnya HANYA 10 tahun: SD 6 tahun dan 4 tahun di sekolah menengah], sehingga menempatkan penduduk Filipina merdeka dari Buta Aksara mencapai kisaran 99% dari populasi penduduk yang ada di negara tersebut. Besarnya populasi warga negara yang mampu baca akan equal dengan tingkat kecerdasan yang akan membuat setiap warga negara semakin sadar akan hak-haknya, termasuk hak untuk mengemukakan pendapat.
  2. Di Filipina terdapat lebih dari 150 bahasa dan menetapkan Bahasa Tagalog sebagai Bahasa Nasional. Tapi untuk bahasa pengantar dalam sistem pendidikan formal adalah Bahasa Inggris. Pemilihan Bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam pendidikan ini menjadi katalisator transformasi informasi global.
  3. Kurikulum Pendidikan sejak level Dasar yang bermuara pada penggunaan IT, antara lain yaitu: Matematika, Science, Basic Komputer, Seni dan Teknologi dan Mata pelajaran seperti musik, Home ekonomi, Pendidikan Jasmani dan lain-lain menjadi bagian integral dari mata pelajaran inti. Kondisi ini secara multiple efect mendukung tingkat kecerdasan dan kompetensi siswa.

    Pinjam dari SINI
Sisi KONTRA Kondusif Kebebasan Berekspresi
Sistem dan kurikulum pendidikan yang diwajibkan di Filipina, memang sangat compatible untuk “menghidupkan” kebebasan berekspresi yang sangat luar biasa disana, bahkan melampui perkembangan kebebasan pers dan berekspresi di kawasan Asia tenggra lainnya, tak terkecuali Indonesia. Dan karena kebebasan berekspresi yang sedemikian luar biasa ini pula, batasan mana yang hak dan kewajiban jadi semakin kabur batasannya, membuat Filipina meraih predikat sebagai Negara yang paling berbahaya bagi jurnalis, yaitu menempati rangking ketiga, selama 4 tahun berturut-turut. Posisi yang “ironi” terhadap dari Perkembangan Kebebasan Berekspresi tersebut bisa dilihat dari beberapa fakta yang terjadi, antara lain: jumlah jurnalis yang terbunuh dari tahun 2010 sampai dengan sekarang [ dalam pemerintahan Presiden Benigno Aquino], data dari kepolisian menyebut angka delapan, sedangkan serikat wartawan nasional mengklaim setidaknya ada 15 orang jurnalis yang dibunuh dengan 10 tersangka yang tidak bisa dibuktikan sebagai otak peristiwa pembunuhan tersebut.

Masih terkait dengan kondisi kontra kondusif yang terjadi pada dunia jurnalisme, Pemerintah menyikapi dengan mengeluarkan Undang-undang Pencegahan Kejahatan di Dunia Maya 2012 [Cybercrime Prevention Act  of 2012] atau secara resmi disebut dengan Republic Act No. 10175 yang mengatur:

  1. mengenai seks di internet (cyberseks), 
  2. Cybersquatting (kejahatan di dunia maya yang dilakukan dengan cara membeli domain nama perusahaan tertentu lalu menjualnya kepada perusahaan tersebut dengan harga mahal),
  3. pornografi anak di internet, 
  4. pencurian identitas, 
  5. akses ilegal terhadap data 
  6. pencemaran nama baik. 

Al hasil, Undang - Undang tersebut membuat banyak pihak [para jurnalis] mengambil sikap kontra karena menganggap implementasinya akan membatasi kebebasan berekspresi, berpendapat, dan  mengancam kerahasiaan data bagi para pengguna jejaring internet. Ketentuan baku untuk kategori pornografi anak dan pencemaran nama baik yang belum diperjelas, menimbulkan keresahan dan kekhawatiran yang meluas di kalangan Social networkers.

Melihat melesatnya laju dunia IT yang membawa dampak Kebebasan berEkspresi di Filipina yang bersisi Kondusif dan KONTRA KOndusif, memberikan pembelajaran yang sangat berharga bahwa Idealnya memang kita [seharusnya] bisa menggunakan dengan bijak yaitu dengan adanya komitmen kendali diri dan pemahaman yang tepat tentang kebebasan berekspresi., antara lain:

  1. Membangun kesadaran bahwa Kebebasan Berekspresi mensyaratkan kesadaran bagi penggunanya (kita) dalam MEMILIH, dan MENCIPTAKAN informasi. Faktanya penyampaian berita/cerita/interaksi sosial di internet bisa dibilang tanpa proses, kecuali proses internal dalam diri kita sendiri.
  2. Perlu mengasah kemampuan untuk mengolah “menu” yang akan kita publish karena dalam kebebasan berekspresi terdapat kombinasi: download dan upload dimana filter dan sensornya adalah: kembali pada integritas diri sendiri lagi !

Segala sesuatu tentu memiliki dua sisi yang berbeda, tinggal bagaimana kita memilih sisi mana yg hendak kita explore. Banyaknya kasus criminal, pelecehan, penipuan, bahkan kadang sampai ada yg ‘terpeleset’ terpaksa harus berurusan dengan hukum, menyadarkan kita betapa dibalik pesona Kebebasan berekspresi dalam jejaring social, Bahwa setiap orang memang memiliki Hak Asasi untuk berpendapat dan mengemukakan pikiran dengan caranya masing-masing. NAMUN tetap perlu dipedomani bahwa setiap kebebasan yang kita miliki BERBATASAN dengan kebebasan orang lain. Karena itulah, sudah sewajarnya diperlukan adanya peraturan/undang-undang yang memberikan rambu-rambu yang jelas sehingga kebebasan berekspresi bisa membawa iklim yang mempersatukan dalam kerangka saling menghargai hak-hak orang lain dan memforward norma-norma humanity yang beretika..



References:
1. http://id.wikipedia.org/wiki/Filipina
2. http://oseafas.wordpress.com/
3. http://wsantoso.tripod.com/l







Maksimalisasi Peran Laos Dalam ASEAN Community

Terkait dengan Visi ASEAN 2015 untuk menjadi ASEAN single community di kawasan regional Asia Tenggara di bidang ekonomi dan politik, Bismillahirrahmaanirrahiim diperlukan kerja sama yang solid semua negara anggotanya. Termasuk Laos, yang sudah bergabung dengan ASEAN mulai tahun 1997 dan baru membuka diri seluas-luasnya melakukan kerjasama di berbagai bidang dengan negara lain pada tahun 2004. Dibandingkan dengan negara anggota lainnya, bisa dibilang peran dan kiprah Republik Laos masih belum banyak. Dan jika Saya berada diposisi sebagai negara Laos, investasi diplomatik yang  akan saya lakukan untuk kemitraan dengan dunia internasional, terutama terhadap negara-negara ASEAN, antara lain:
  1. Memberikan respon berupa upaya-upaya diplomatik untuk perkembangan situasi HAM di kawasan Myanmar yang masih rawan konflik agar mempercepat proses politik yang inklusif demi perbaikan situasi di Myanmar.
  2. Peran lainnya...TO Be continued lagi karena saat ini masih OTW dalam rangka Moved tinggal di Jogya.

 

#created postingan kejar setor URLdulu  ini saat transit di MAdiun karena "pak Sopirnya" ngantuk berat jadi One men Show nge-driver