WHAT'S NEW?
Loading...

My Virtual Corner dalam Review Blog

Hanya dengan membaca kata “Virtual Corner”, saya yakin yang akan terbersit pertama kali adalah sesosok Blogger yang berasa dari tanah rencong yang saat ini menyandang mahkota sebagai Srikandi Blogger 2013. Hal ini menunjukkan betapa beliau sudah sangat popular di ranah blogsphere, dan Bismillahirrahmaanirrahiim sejujurnya saya terlalu over dosis confidence ketika menerima ajakan Mbak AL untuk berpasangan dalam menerima undangan kompetisi sang Blogger Leadership: Pakdhe Cholik. Kalau secara personal, persahabatan kami yang bermula dari dumay memang cukup akrab, mulai dari saling comment di postingan, kemudian chatting, kopdar dan mbolang jugak lho? Tapppiiii.....kalau secara kebisaan saya mbikin Riview Blog ya kan jauuuh dari skilled. Apalagi ini me-review blog-nya sekelas Mbak Alaika lagi? Okelah, no what-what sebisanya dan sekaligus untuk berlatih obrak-abrik blog, maka inilah My Virtual Corner dalam Review Blog versi si Ririe Khayan:

Alaika Abdullah dan Passion Menulisnya.
Blogger yang mengawali debutnya sejak tahun 2009 ini lebih suka tenar dengan nama Alaika Abdullah, berdarah Aceh ini memiliki passion menulis yang luar biasa, salah satu buktinya bisa langsung ditengok blognya yang produktif dengan berbagai tema tulisan yang bernas dan inspiratif. Bagi Mbak AL, menulis merupakan terapi jiwa. Menarasikan segala rasa yang ada di hati lewat tulisan adalah keindahan yang tidak ternilai. Efek simultan dari antusiasme beliau dalam bidang literasi ini, sebuah novel fenomenal “Selingan Semusim” sudah siap dibaca dengan penuh rasa antusias dari awal hingga halaman akhir lho?  Tidak hanya itu, Mbak AL juga bersemangat mendirikan sebuah penerbitan indie Smart Garden Publishing, dalam rangka berkontribusi serta menggiatkan semangat BAHWA menulis buku itu bisa dilakukan oleh siapa pun! Tuh kan keren banget tho? 

Untuk Blog sendiri, Mbak AL memiliki beberapa blog dengan tema spesifik, setidaknya ada 5 blog yang sudah launching dan ajeg pula postinganya. Dan ‘My virtual corner’ secara sengaja dipilih sebagai Blog induk. Melalui media virtual ini Mbak AL ingin berbagi aneka informasi, pemikiran dan pengetahuan dengan semua orang tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Dengan desain header yang membentangkan penampakan sang pemilik blogger berbackgrouNd “every where” tersebut [asumsi saya neh] dalam rangka pencitraan antara theme blog sebagai CORNER berbagi  informasi, pemikiran dan pengetahuan with no limit access yaitu secara Virtual. Sehingga tampaklah Mbak Al [di header blognya] yang [bisa] berada di mana-mana. Bener gak Mbak AL?

Then back to the topic My Virtual Corner dalam Review Blog:
Template dan lay out, sebenarnya merupakan otoritas penuh dan hak prerogratif sang empunya blog karena berkaitan langsung dengan selera dan obsesi personal. Meski demikian, Mbak Al tidak egois memfokuskan “mau-mau gue” dalam mensetting blognya. Begitu klik meluncur ke Vurtual Corner, para pengunjung blog langsung disambut dengan tampilan blog yang ramah dan nyaman karena blog yang terdiri dari dua kolom ini sangat simple, semua widget yang terpasang dalam kategori seperlunya. Pilihan Jenis huruf dan ukurannya serta warna background putih secara ergonomis membuat mata kita akan comfort.

Untuk Content Blog My Virtual 
  1. Stylish penulisan pada Virtual corner disajikan dalam naratif kalimat yang interaktif dan friendly, jadi saat pengunjung membaca berbagai ulasan topic yang tersaji akan “merasa” sedang berbicara langsung dengan sang penulis blog dalam nuansa penuh keakraban bagai teman yang sudah lama saling kenal. 
  2. Tema Tulisan yang diangkat Secara keseluruhan, tema tulisan memang beragam, artinya tidak terbatas pada segmentasi  tertentu. Mbak AL dengan style menulisnya dengan lincah menarasikan berbaga hal yang dilihat, dirasakan dan dialaminya dalam sudut pandang yang obyektif. Banyak case sensitive diulas Mbak AL dengan rangkaian kalimat yang mengalir dalam tatanan bahasan yang netral sehingga tidak mengundang friksi emosional pembacanya.  Bisa disebutkan postingan yang belum lama ini jadi trending topic: Janda, Emang kenapa? Atau, Mengapa Wanita harus “bekerja” ? Jadi tak heran jika beliau seringkali membawa pulang trophy bergengsi dalam kompetisi-kompetisi menulis yang diikutinya.
  3. Postingan yang up to date dan intens, dalam sebulan Mbak AL bisa membuat 27 postingan. Menurut saya hal ini sungguh mengagumkan, mengingat kesibukan dan mobilitas beliau yang cukup tinggi tapi masih tetap mampu memanage blognya secara regular.
Statistic Performance
Pilihan template, lay out dan desain blog yang  mengkombinasikan selera personal dan kebutuhan kenyamanan pembaca, maka tidak heran jika prestasi statistic My Virtual Corner juga sangat cemerlang. Beberapa indikatornya antara lain:
  1. Posisi PRnya sudah 2/10
  2. Alexa yang amat sangat langsing: di kisaran 210.000an. 
  3. Maka speed loading Blog ini pun tergolong ringan/cepat
  4. Banyak artikel di My Virtual Corner meraih Popularitas di mesin pencarian mbah Gugel 
My Virtual Corner sebagai blog yang sudah berdomain dot com dan sudah eksis dengan monetize ini secara keseluruhan merupakan blog yang tergolong inspiratif dan edukatif. Dan menurut saya, tak ada yang kurang, tapi mungkin bisa dipertimbangkan untuk ditambahkan yaitu:
  1. Following email  perlu ada mengingat rata-rata tulisan yang disajikan Mbak Al memiliki kualitas yang sedemikian bernas, maka sangat mungkin ada diantara visitor yang berharap bisa mendapatkan up date postingan yang dipublish di My Virtual Corner. 
  2. Model Blog Archieve yang drop down sehingga judul entry blog bisa terbaca lebih cepat oleh pengunjung. Ini memang berdasarkan kebiasaan saya, selain berdasarkan sajian related post [dibawah postingan yang sedang saya baca], biasanya jika melihat Arsip Blog ada judul yang sekiranya menarik maka saya akan memperpanjang durasi nongkrong di sebuah blog. Bukankah judul yang eye catching adalah first impression bagi sebuah tulisan?
Alhamdulillah, finally review ini bisa saya kerjakan. Masih jauh dari criteria sebuah review Blog tapi besar harapan bisa jadi pembelajaran bagi saya pribadi untuk membuat review blog/lainnya dengan lebih baik. Specially untuk Mbak Alaika, terima kasih telah berkenan mengajakku untuk berhadapan dalam kontes Unggulan Blog Review ini. Maaf banget ya jika keselarasan antar paragrafnya masih ada yang gak nyambung ya? 



My Virtual Corner dalam Review Blog ini  diikutsertakan pada
Kontes Unggulan Blog Review~Saling Berhadapan.




Masa Berlaku SIMku 6 tahun!

Turut bercerita tentang Surat Ijin Menikah Mengemudi, kalau terkait langsung dengan SIM saat kena tilang Alhamdulillah belum pernah. Memang Bismillahirrahmaanirrahiim saya pun pernah ngalamin gimana asem kecutnya kena tilang, semoga cukup dua kali sajah dan never wish banget gak kena tragedi kena tilang lagi. Aseli bikin mood berasa jadi terdakwa kriminalitas. Pertama kena tilang, karena saya keluar dari pembatas jalur lurus yang harusnya [jika diluar garis tersebut meski hanya beberapa Inchimeter] saya langsung belok kiri alias gak usah ikutan berhenti kala traffic light nyala merah. Saat itu, pikiran cerdik saya sedang tidur, karena tujuannya hendak jalur lurus ya saya spontan berhenti saat si merah menyala. Tilang kedua, tahun kemarin saat booming razia lalu lintas di Banyuwangi. Hampir setiap hari mboncengin teman yang pulangnya naik bis dari terminal Karangente, lha searah dengan saya pulang dan jaraknya sekitar 500 meter saja, ya sudahlah barengan dan teman saya gak pakai helm. Lha kok ndilalah beberapa meter sebelum terminal sedang show time Razia, kena tilang dengan sukses deh. 

Dua kali kena tilang dan dua kali pula, Pak Polisinya nunjukin wajah ramah dengan pertanyaan “Lho, alamatnya kok Lamongan Mbak?”. Lha iya, kan saya di Banyuwangi belum ijin untuk jadi penduduk tetap. Untung saja pertanyaan berikutnya BUKAN “ kenal Amrozi dong?”. Coba kalau bertanya seperti itu, saya sudah siap jawaban “ Oalaaah, Bapak nge-fans tho sama Amrozi?” #penasaran juga kira-kira reaksinya kayak apah jika saya jawab demikian

Dan ada satu scene behind story SIM saya memiliki masa berlaku hampir 6 tahun yang TOP SECRET, ssttt jangan bilang siapa-siapa ya? Sebenarnya tiap kali perpanjangan SIM, saya pakai trik dan siasat ala Abu Nawas, sehingga SIM saya memiliki masa berlaku sampai dengan 6 tahun. Heheheee...iya sih gak rahasia banget, lha saya hanya ambil sisi kritis dead line masa berlaku SIM yang bersesuaian dengan tanggal lahir kok. Kebetulan saya lahir di bulan Desember, maka masa berlaku SIM saya pun jatuh di bulan Desember tentunya. Jika saya melakukan perpanjangan SIM secara on time atau itikad sregrep yaitu sebelum habis masa berlaku sudah ngurus SIM baru, pastinya umur SIM saya hanya 5 tahun [atau bahkan kurang dari 60 bulan]. Nah, dalam rangka mengambil kesempatan dalam kesempitan DL SIM, selama ini saya melakukan perpanjangan SIM ya nelat ria deh, perpanjang SIM di Bulan Januari.

Ilustrasinya begini:
KALAU tahun ini masa berlaku SIM saya habis, maka saya perpanjanglah di Januari 2014 dan otomatis dunk masa berlakunya Januari 2014 s/d Desember 2019 = hampir 6 tahun tuh. BEDA banget jika saya perpanjang SIM di tahun 2013, dijamin masa hidup SIM saya hanya 5 tahun yaitu dari Desember 2013 s/d Desember 2018. Padahal beda waktu pengurusannya gak lebih dari 3 minggu! Nah lho, siapa yang sudah ikutan trik ini?

Udahan dulu, bongkar rahasia Masa Berlaku SIMKu 6 tahun ini dalam rangka memeriahkan Giveaway Mbak Hana dengan tema Surat Ijin Mengemudi atau SIM




When ON the Trip

Rutinitas menempuh rute long trip, terlebih beberapa bulan belakangan ini hampir tiap akhir pekan jadi penumpang jalur Banyuwangi-Ngayogyokarto, automatically spending time when on the road makin lama ketimbang mudik ke LA. Nah Bismillahirrahmanirrahim pengen dan baiknya bisa ngisi durasi waktu yang lama saat di perjalanan itu dengan membaca, kebayang tuh minimal ya 1 buku untuk kisaran 100-200 halaman. Tapiiiii......nyatanya baru baca setengah halaman saja sudah terserang pusing dan rasa mual. Dan gak hanya untuk kondisi perjalanan darat (bis, KA), saya coba saat naik pesawat pun masih sama. Al hasil meski tetap naruh buku dalam tas setiap kali long trip ya nasibnya buat back up plan ketika transit deh.

Kalau membiasakan diri dengan membaca dalam perjalanan hasilnya adalah kepala pusing dan mual seperti mau mabuk, terbersit ide mungkin jika menulis situasinya bisa lebih baik. Maka ketika mendapatkan kesempatan up grade HP, saya pun bersemangat pilih smartphone agar bisa saya gunakan untuk create tulisan  terutama saat lama di perjalanan. Dan Alhamdulilllah kok ya bisa nulis satu paragrap terus muncul lagi rasa pusing dan mualnya. Nah lho? Sedangkan untuk menetralkannya butuh waktu hampir 1 jam. Dan tulisan ini pun saya create dalam kurun waktu hampir 5 jam dalam rute Bwi-Jogya.

So jelouse pokok'e jika lihat ada yang enjoy dan khusuk mbaca buku saat berada dalam perjalanan. Adakah yang cuma seorang saya yang ngalami trouble sistem dan mekanisme tubuh untuk aktifitas mbaca/nulis saat BE ON THE ROAD? Syukur banget jika ada  yang bisa sharing pengalaman bagaimana tips dan trik agar bisa enjoy mbaca-nulis ketika di perjalanan agar durasi yang super lama duduk manis di perjalanan bisa lebih produktif [gak hanya ndenegrin musik dan lihat-lhat pemandangan].





Optimis VS Pesimis

Dalam rangka mengingat diri sendiri banget sih, semoga sajah bisa jadi refreshing mind buat yang singgah di sini Bismillahirrahmaanirrahiim, me-Rewrite dari tulisan Nurul Hayat dengan judul “ Beda si Sukses dan Si gagal” dan sukak saja saya kasih judul “Optimis VS Pesimis” biar sedikit ada unsur kreatipnya, hehehehe...#ya teuteup saja NYONTEK dari majalah. Di persingkat saja preambule-nya, biar gak semangkin geje nulisnya...here we go, cekidot deh:

Optimis itu adalah mereka yang berpikir untuk memecahkan masalah
Pesimis adalah yang berpikir dalam masalah
Optimis itu tak akan kehabisan ide
Pesimis itu tak pernah habis udzurnya
Optimis itu melihat jalan keluar dalam masalah
Pesimis itu melihat masalah dalam jalan keluar
Optimis itu berkata, jalan keluar itu sulit tapi SANGAT MUNGKIN dilakukan
Pesimis itu berkata, jalan keluar itu mungkit tapi SULIT dilakukan
Optimis itu memiliki cita-cita yang akan diwujudkan
Pesimis itu memiliki angan-angan dan mimpi yang mengacaukan
Optimis itu berkata,"bergaullah dengan manusia dalam pergaulan yang kamu suka diperlakukan”
Pesimis itu berkata, " Tipulah orang lain sebelum kamu ditipu"
Optimis itu melihat adanya cita-cita dalam pekerjaannya
Pesimis itu melihat kesusahan dalam pekerjaannya
Optimis itu melihat masa yang akan datang dan merencanakan langkah-langkah untuk mewujudkannya
Pesimis itu melihat masa lalu dan tenggelam di dalamnya
Optimis itu memilih apa yang dia katakan
Pesimis itu mengatakan apa yang dia pilih
Optimis itu berdebat dengan kemampuan dan bahasa yang lembut
Pesimis itu berdebat dengan kelemahan [emosional] dan bahasa yang kasar
Optimis itu membuat peristiwa [konstruktif]
Pesimis itu dibentuk peristiwa

So, which one you wanna be? Yang Optimis adalah calon the real winner dan bagi yang lebih suka mewarnai mind set ala Pesimis ya kemungkinan untuk masuk dalam daftar the BIG loser sangat besar [jika terus menerus memupuk pola pikir ala pesimis]. Toh pada dasarnya semua peristiwa itu kan “NETRAL” dan seringnya kita yang dhemen bikin label dengan predikat “ mengerikan tingkat dewa”. 
Prefer to say that sun rise ~ Optimis
Jadi pengen ingat salah satu frase dalam tulisan mas Rawins yang “salut” dengan mental marketing credit card yang berasaskan SALES-FORCE yang tahan banting: DI TOLAK ITU BIASA, sekali gagal mem-persuasi calon customer yang gak kapok di coba lagi dan lagi deh. Lha kan masalah itu muncul kan tentunya sudah terpaket dengan solusinya, tinggal kita seberapa fight untuk meng-create solusinya. Halahh....edisi sok jadi motivator saja neh eike, padahal ya asline masih kadang-kadang suka melow....tapi semoga GAK melow-galau-putus asa. Amit-amit, semoga kita semua gak sampai yang kayak getu deh...aamiin




Mutiara Cintaku

Sejenak kutata debaran jantungku agar iramanya teratur sebelum kulangkahkan kaki memasuki  café. Setelah tiga tahun, Bismillahirrahmanirrahiim ku jejakkan kembali kaki memasuki Cafe pojok di Jalan Dharma Husada ini. Jarum jam baru saja menunjuk ke angka tujuh, masih sangat sore untuk kota Surabaya. Dan sinilah kali pertama aku bertemu dengan sesosok gadis bertubuh mungil dengan potongan rambut cepak yang langsung membuatku mengalami sensasi perasaan yang indah, dimana intelekualitas tidak bisa berjalan normal dan untuk pertama kalinya aku yakin untuk menyebutnya...CINTA. Dia yang kuliah tak jauh dari lokasi café ini, sehingga meeting point kami dulu biasanya di sini. Dengan berada di café ini, semua kenangan pun bergelombang dan membawaku hanyut menikmati pusaran-pusaran kisah kasihku, minuman dan seporsi nasi goreng sea food masih tak tersentuh. Hipnotis memoar telah membuatku mengabaikan keriuhan suasana cafe dan alunan musik serta para pengunjungnya.

Serangkum senyum mengembang pada katup bibirku saat memandangi sebentuk cincin dihiasi sebutir permata biru dalam kotak beludru biru yang sengaja kupersiapkan khusus untuk moment malam ini.
Maaf…sudah membuatmu lama menunggu, Han” sapa seorang gadis dengan hijab biru berpola bunga-bunga, ramah dan menggetarkan. Pandanganku telah spontan merespon getar kehadirannya di pusat sensoris dan  mengirim lewat girus singulata bersama talamus ke sistem limbik sehingga memunculkan kembali sensasi perasaan indah yang menjalari segenap sarafku. Aku tidak tiba-tiba saja memikirkannya, sebenarnya sejak lima tahun lalu, dia sudah menjadi pemicu senyawa Feromon di otakku. Tiara, tak banyak yang berubah pada penampilannya, selain sekarang mengenakan hijab dan sapuan make minimalis yang semakin memperkuat keanggunanya. Melihatnya malam ini, sisi laki-laki normalku mengakui pasti tidak sulit bagi kaum adam untuk jatuh hati pada Tiara. Berpikir demikian membuat dadaku terasa sesak dan kurasakan sebersit perih hinggap sesaat.
Tidak lama kok, terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemuiku di sini.”sambutku, mencoba meredakan kegugupan yang tiba-tiba membadai di dadaku
Iya, sangat mengejutkan tiba-tiba kamu mengajakku ketemu di sini “ sebaris senyum menawan merekah dari bibir mungil Tiara. “ Setelah keberangkatanmu ke Jepang, dan tak ada kabar sejak...?”
 “ Please....?” pintaku dengan perasaan tercerabut.
 “ Lantas, gerangan apa yang membuatmu ingin bertemu denganku.....lagi?” Tanya Tiara to the point, datar tapi menetralkan suasana yang mendadak serba canggung. “ Bukan apa-apa sih, ketiga adikku menunggu di rumah “.
Iya, aku tahu itu “ jawabku sambil mengaduk gelas capuccino dan mencari kalimat yang tepat untuk menyampaikan maksudku menemui Tiara. “ Hemm....Aku tahu ini.....”
Kalimatku terputus oleh dering HPnya Tiara, “ Ups, sorry...aku terima telpon dulu sebentar” dan selembar kertas ukuran post card terambil keluar dari dalam tas Tiara, melayang jatuh ke lantai.
“..... ini rumah kita.. sengaja kukirimkan sketsa rumah ini. Aku membangunnya untukmu, untuk kita dan keluarga kita….” saat aku mengambil selembar foto itu dari lantai, langsung terbaca olehku sebait kalimat singkat dengan nada  melankoli melambungkan yang tak kalah dengan surat cinta pujangga. “....jika aku beruntung memasuki surgaNYA, aku tidak butuh 7 bidadari, cukup seorang Mutiara bersamaku bertasbih cinta ~ Arsa

Tulisan tangan serapi itu, aku pernah beberapa kali melihatnya dan nama Arsa, tak mungkin salah lagi post card special itu tentu dari General Manager di tempat kerjaku. Dan dia satu-satunya yang suka memanggilku dengan sebutan Kapten Bhirawa karena menurutnya perawakanku tipically  sosok seorang perwira dan Pak Arsa juga bilang jika caraku mengambil keputusan selalu tegas layaknya seorang kapten. Maka tanpa melihat sketsa rumah di balik tulisan tangan itu pun aku sudah tahu seperti apa rancangannya, karena akulah yang dimintai tolong untuk mendesain. Sebuah rumah dengan halaman yang luas dipenuhi aneka tanaman bunga, asri. Dominasi kayu elegan. Ada sebuah gazhebo di salah satu sudutnya dan ayunan, serta sebuah kolam renang. Aku sungguh masih hafal detail konstruksi dan desain interiornya.
Rumah untuk keluarga saya, nanti...” ujar Pak Arsa, 3 bulan lalu, “ Saya tidak pernah bisa merasakan perasaan yang setara terhadap orang lain,  perasaan ingin berbicara berlama-lama. Merasakan tatap matanya, mendengar suaranya, melindunginya.  Meski saya mengenalnya belum genap tujuh purnama....tapi saya yakin dia sebagian tulang rusuk saya” lanjutnya dengan lugas dan penuh keyakinan yang membuatku terkesima, sekaligus tersindir. Tapi tak pernah terbersit jika Mutiara yang disebutnya kala itu adalah Mutiara Cintaku

Berkali-kali aku memejamkan mata, berusaha menahan gelora kesedihan, lalu menghirup dan mengeluarkan napas berulang-ulang. Berhasil tetapi gagal lagi. Selapis bening mengabut di kedua kelopak mataku. “ Arsa-lah yang lebih layak dipanggil Kapten Bhirawa, bukan aku...laki-laki pengecut yang meninggalkan cintaku hanya karena ragu-ragu akankah sanggup menjadi Qawwam sekaligus untuk ketiga adik Mutiara yang telah yatim piatu”. batinku penuh rasa nyeri.
" Namanya Arsa, dia teman saudara sepupuku...." jelas Tiara tanpa kuminta, usai menutup HPnya. " Bulan depan kami menikah, mohon doanya ya..Han “ nada sumringah, wajah berseri-seri, membiaskan aura kebahagiaan di hati Mutiara.
Dan betapa rasa menghunjam ke relung terdalam hatiku telah mengelukan lidahku untuk mengatakan: Aku hanya ingin menjadi lelaki yang bisa membuatmu mengatakan : Aku ada karena kamu ada. Sebaris kalimat yang mestinya sudah kusampaikan 3 tahun lalu saat Mutiara menanyakan kejelasan hubungan kami, sebelum aku menerima tawaran kerja di Jepang. Tapi Tiara sudah pamit 2 jam lalu....dan aku masih tak beranjak dari tempat duduk, sekarang dan entah sampai kapan menggengam Cincin bermata Mutiara dengan hati terserpih. Aku terpaku....Aku masih memimpikanmu  lebih dari apapun, perasaan...memilikimu.




Mutiara Cintaku ini diikutsertakan pada Flash Fiction Writing Contest: 
Senandung Cinta

Eksplorasi Wisata Alam Baluran

Eksplorasi Taman Nasional Baluran merupakan sekuel lanjutan seusai jelajah Pesona Wisata Kawah Ijen yang berbonus Berkenalan dengan Hypothermia. Iyalah, mumpung masih di Banyuwangi dan ada teman mbolang jadi low budget dunk untuk mencapai lokasi Baluran dan Bama yang sudah merupakan tujuan wisata alam skala Internsional, lha bule-bule sudah berseliweran di sana jika musim-musim liburan di negaranya sedang berlangsung. Kembali Bismillahirrahmaanirrahiim saya perlu merevisi pengetahuan karena sebelumnya saya sedemikian yakin kalau Baluran itu masih berada di kawasan Banyuwangi.  Beginilah jika sewaktu sekolah males dengan pelajaran pada chapter peta-peta buta. Lha ternyata Taman Nasional Baluran termasuk dalam wilayah Kabupaten Situbondo. #semoga Guru Geografi saya gak mbaca tulisan ini!.

Lanscape  Savana Bekol
Adapun rute untuk mencapai kawasan TN Baluran ini, adalah:
1. Bali – Gilimanuk – Ketapang – Batangan – Bekol = + 171 KM. 
2. Surabaya – Situbondo – Batangan – Bekol = + 267 KM 
3. Banyuwangi – Batangan – Bekol = + 47 KM 
4. Bekol – Pantai Bama = + 3 KM 
Karena posisi saya kebetulan jadi ekspatriat di Banyuwangi, sehingga saya cukup start dari Banyuwangi dan butuh waktu sekira 1,5 jam untuk tiba di Bekol. Rute perjalanan Batangan – Bekol – Bama, Ahamdulillah jalannya terkombinasi Aspal dan Hotmix dengan kondisi sebagian rusak gettu deh. Meski demikian, untuk menikmati eksotisme Baluran hingga Bama, totally jalurnya lebih friendly. Gak perlu bercapek ria menempuh rute jalan kaki yang serba menanjak. Untuk rute yang rusak paling parah ya mungkin bisa membuat Ibu-ibu yang hamil 8 – 9 bulan bisa melairkan lebih cepat dari prediksi dokter-lah.


Untuk masuk ke TN Baluran,  dikenakan retribusi yang murah meriah yaitu Rp. 2.500,- per orang dan Rp. 6.000,- untuk kendaraan roda empat.  Sebenarnya agar bisa lebih leluasa meng-Eksplorasi Wisata Alam Baluran  bisa dilakukan dengan berbagai aktifitas wisata antara lain:
  1. Hiking, yaitu mendaki gunung Baluran yang memiliki ketinggian 1.247 mdpl, sekaligus bisa menyusuri kaldera sepanjang + 600 meter menuju sumber air Kacip yang selalu mengalir sepanjang tahun.
  2. Tracking, yaitu penjelajahan menyusuri hutan melewati berbagai tipe vegetasi sehingga bisa mengamati lebih seksama jenis-jenis flora dan fauna.
  3. Birdwatching, merupakan aktifitas yang akan memanjakan bagi para pengamat burung karena koleksi keragaman jenis burung mencapai + 189 jenis aves. 
  4. Fotografi juga aktifitas yang kehabisan obyek untuk di capture karena Eksotisme alam dengan luasnya padang savana dan kehidupan liar serta perilaku bermacam jenis satwa.
  5. Snorkling, Diving dan Canoing, bisa melengkapi pengalaman dalam meng-Eksplorasi Wisata Alam Baluran khususnya untuk potensi di Pantai Bama.
  6. Pengamatan Satwa, yang bisa dilakukan dari menara pandang ataupun saat melintasi jalur Bekol – Bama, baik dengan jalan kaki maupun berkendaraan.
Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi
Rute Bekol-Bama
Saat itu, kami tiba di Baluran jam sekitar jam 4 sore dan Point target eksplorasi kami di Baluran adalah padang Savana Bekol dan Pantai Bama. Dan planning kami adalah bermalam di salah satu penginapan yang berlokasi di tepian Pantai Bama. Karena itu pengaturan jadwal memang kami sengaja tiba di TN Balurang jelang sore dan langsung menuju arah Pantai Bama dan tentu saja dengan menikmati pemandangan savana Bekol yang tak kalah mempesonanya dengan Padang Savana-nya Afrika.. Latah ikutan teman-teman yang sudah terlebih dulu ber-eksplorasi di kawasan Baluran dan sekitarnya, yang rata-rata mengatakan jika Bekol tidak kalah amazingnya dengan Kilimanjoro.  
Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi
Aneka jenis Flora TN Baluran
Sepanjang jarak tempuh menuju Pantai Bama, kami bisa menikmati ke-eksotisan panorama alam yang terhampar seluas 25 ribu hektar dimana 40%nya merupakan ekosistem savana alami dan terluas di Pulau Jawa. Kanan-kiri sepanjang jalan terhampar pemandangan aneka ragam flora, dari yang berjenis perdu hingga pohon-pohon tinggi dan besar mirip-mirip di film Twilight Saga atau Lord of the Rings tuh. Mungkin karena kelengkapan jenis tumbuhan yang ada di Baluran ini sehingga ada pula yang menyebut Baluran sebagai miniatur hutan Indonesia. 
Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi
Jalur Evergreen: saat melintas senja dan siang hari
Di rute Batangan – Bekol ini pula terdapat jalur evergreen sepanjang kurang lebih 1 Km, yaitu jalur yang selalu hijau sepanjang tahun. Jika ingin membuktikannya, silahkan datang di musim kemarau panjang dan tak perlu shock jika di jalur Evergreen Anda merasakan fenomena kesejukan karena aneka vegetasinya tetap menghijau tak ubahnya di musim hujan. Selama menempuh jalur Batangan – Bama, sesekali ada penampakan burung merak, kijang dan yang paling sering adalah kawanan kera, seakan ingin say hello pada 7 bidadari yang sedang melintas, heheheheee.....

Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi

Demi menikmati pesona tiap inchi di sepanjang perjalanan, sehingga kami tiba di Pantai Bama hampir jam lima. Sesampai di Bama, kami langsung bongkar perbekalan untuk dipindahkan ke Cottage yang sudah kami pilih, dengan harga sewa Rp. 150.000,- semalam, fasilitasnya: 1 kamar tidur, 1 kamar mandi dan ruang tamu. Otomatis pak sopir tidurnya di mobil dan kami bertujuh tidur menyebar, ada yang dikamar, digelaran kasur dan di kursi. Fasilitas lainnya adalah Lampu penerangan [dengan pembangkit Genset] hanya akan menyala jam 6 – 11 malam. Aneka gadget untuk Online otomatis terputus dari jangkauan koneksi dan for a day menikmati indahnya “kesepian” hidup dari peradaban teknologi. 
Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi; My Trip; My adventure
Lokasi Homestay
Untuk persiapan selama menginap di Bama, kami prepare ala anak pramuka yang sedang berkemah. Jadi kami membawa peralatan memasak standar, mulai dari kompor parafin, panci, wajan sampai piring serta sendok. Untuk bahan makanan, selain aneka snack dan roti, kami juga membawa bahan makanan yang siap serta cepat dimasak: ikan dalam kaleng, sosis, bubur siap saji, dan mie instant! Dan kami sempat dibuat terkejut saat berjibaku memindahkan perbekalan dari mobil, aroma makanan yang kami pindahkan ternyata menarik perhatian komunitas monyet yang buanyakkkk di sekitar penginapan. Karenanya selama kami menginap di Pantai Bama, harus full attention pintu dan jendela serba tertutup statusnya, sedikit saja lengah maka jangan shock jika perbekalan bakal ludes dengan sukses di ganyang para monyet. Lha minuman cereal yang ditinggal sebentar saja diluar langsung disamber habis oleh kawanan monyet.

Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi; My Trip; My adventure

Ketika malam menjelang, alangkah mempesonanya menikmati suasana di tepi pantai Bama dengan siraman cahaya purnama yang dilengkapi hembusan angin sepoi-sepoi serta deburan ombak yang hilir mudik menciumi pantai. Ngobrol ngalor – ngidul hingga mengabaikan rasa lelah akibat prosesi ke kawah Ijen tidak terasa lagi. Hingga jelang tengah malam, dimana hembusan angin semakin lembab dan rasa kantuk menyerang, barulah kami bergegas masuk penginapan. Sebagai sekilas info, jangan lupa membawa lotion anti nyamuk agar keasyikan kita tidak terpecah oleh gigitan nyamuk-nyamuk yang super ganas. 
Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi; My Trip; My adventure
Pantai Bama
Kejadian yang sama berulang lagi seperti saat mbolang ke Sukamade dan Kawah Ijen, pada terbangun sebelum setting waktu yang di sepakati. Jam 3 dini hari sudah mulai heboh ada yang terbangun karena alarm dari HP saya sudah bernyanyi tiada henti. Setelah sholat shubuh dan bikin minuman penghangat tubuh, kami pun keluar menikmati pemandangan sun rise di Pantai Bama. Sayangnya langit sedang berawan sehingga penampakan mentari tidak bisa tampak penuh. Meski demikian, pemandangan pagi hari tetap eksotis dan memberikan nuansa yang khas penuh kesejukan.

Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi; My Trip; My adventure
Lokasi Menara Pandang
Dan sekitar jam 7, kami pun berangkat menuju Savana Bekol. Karena waktu yang ideal jika ingin melihat aneka satwa yang menghuni TN Baluran adalah pagi atau sore hari. Jika kita lucky, di sepanjang jalur Bama – Bekol, kita bisa melihat penampakan burung merak, kijang, banteng, ayam hutan merah/hijau, kangkareng, kera dan rangkong. Dan Alhamdulillah, saat kami melintas yang “berani” muncul hanya kawanan kera, burung merak. Demi melihat TN Baluran secara lebih luas, kami pun menuju MENARA PANDANG yang terletak di atas bukit, tepat di belakang Pos Bekol. Di situ juga di sediakan alat teropong untuk bisa melihat secara menyeluruh lanscape Savana Bekol yang menghampar dengan luas +300 ha rerumputan menghijau [dari total 10.000 ha luas savana di Baluran yang merupakan hamparan savana terluas di Pulau Jawa], berpagar pepohonan besar-besar di sisi tepian serta barisan gunung Baluran serta diiringi samar-samar suara ombak memecah pantai dari arah Pantai Bama, sungguh sketsa alam yang memorable. 
Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi; My Trip; My adventure
Another view from Menara Pandang
Harapan saya sih pengen melihat macan tutul, tapi kok ya sampai jam 9 nongkrong di Menara Pandang tetap juga gak melihat kemunculan binatang langka tersebut. Akhirnya kami balik lagi ke penginapan di Pantai Bama, untuk mengisi perut yang sudah keroncongan. Tentu saja kami harus memasak dulu secara gotong royong, masak ramai-ramai untuk disantap bareng dan cuci piring serta perlengkapan memasak pun berkolaborasi. Semakin beranjak siang, suasana di Pantai Bama semakin ramai karena Hari Minggu sehingga banyak rombongan yang berwisata keluarga. Selain itu, ada juga rombongan anak sekolah yang camping tak jauh dari lokasi penginapan [terdapat lokasi camping ground]. Untuk wisata pantainya sendiri tersedia Snorkling, diving dan canoing. Potensi pemandangan bawah airnya juga tak kalah menakjubkannya dengan aneka terumbu karang dan ikan hias, demikian cerita si Noe dengan ekspresi sumringahnya karena dia satu-satunya yang berani Snorkling sendirian. 
Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi; My Trip; My adventure
Jalur Mangrove
Sebelum meninggalkan kawasan pantai Bama, kami masih mampir ke jalur mangrove yang berada di selatan Pantai Bama. Terdapat jembatan yang membelah hutan mangrove sehingga kami bisa melihat potensi vegetasi mangrove secara lebih dekat. Saat perjalanan keluar dari Bama, sebenarnya ada rasa berat di hati. Kami masih penasaran ingin melihat lebih banyak lagi ragam spesies flora di Baluran yang sering pula disebut miniatur hutan Indonesia karena hampir semua tipe hutan terdapat di TN Baluran, antara lain: Hutan Pantai, hutan Mangrove dan rawa asin, hutan payau, Padang rumput Savana, hutan  hujan pegunungan, Hutan Musim, padang lamun dan gugusan terumbu karang.

Menurut sumber dari Pusat Informasi TN Baluran, setidaknya tercatat 444 spesies flora yang tergolong dalam 87 familia yang terdiri dari 24 tumbuhan eksotik, 265 jenis penghasil obat dan 37 jenis tumbuhan yang hidup pada ekosistem mangrove. Jenis-jens yang penting anatara lain: Pilang [acacia leucophloea wild], mimbo [ azadiracta indica A. juss], gebang [corypha utan lamk], asam [tamara indica linn], kepuh [sterculia foetida wall], widoro bukol [zyziphus jujube lamk], kesambi [schlechera oleosa], ketapang [terminalia catappa linn], manting [syzyqum polyanthum]. Tidak terlalu lebay dunk jika saat melintasi rute Batangan – Bama, kami tiada henti dibuat nggumun setiap kali melihat penampakan aneka tumbuhan yang jarang atau bahkan belum pernah kami jumpai sebelumnya.

Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi; My Trip; My adventure

Adapun keanekaragaman fauna yang terdapat di dalam kawasan konservasi yang terletak di Kecamatan Banyuputih – Situbondo ini, setidaknya terdapat 28 jenis mamalia, 189 aves, pisces dan reptilia. Dari total satwa yang ada, terdapat beberapa jenis yang dilindungi undang-undang, yaitu: 5 jenis insectivora, 5 jenis carnivora, 4 jenis herbivora, 32 jenis aves dan 1 jenis reptilia. Mamala besar yang khas di TN Baluran adalah banteng [Bos javanicus], kerbau liar [Bubalus bubalis], rusa [cervus timorensis], kijang [mutacus muntjak], babi hutan [sus scrova], macan tutul [panther pardus], kucing batu [felis bengalensis], kucing bakau [fellis viverrna] dan ajag [ cuon alpines]. Sedangkan untuk jenis primate adalah kera ekor panjang [macaca fasciculars] dan lutung/budeng [trachypithecus auratus cristatus]. Dan dari +189 jenis burung, yang mudah dijumpai adalah merak hijau [pavo muticus], ayam hutan merah [gallus gallus], ayam hutan hijau [gallus varus], kangkareng [anthracoceros convexus] dan rangkong [bucheros rhinoceros]. Maka ekspresi histeris pun berkali-kali dan bergantian mewarnai rute perjalanan sepanjang Bekol – Bama manakala kami melihat kemunculan binatang-binatang yang jadi penghuni TN Baluran. Sayangnya mereka pada pemalu, jadi belum sempat di foto sudah kabur dengan sukses.

Pesona Indonesia; Wisata Alam di Banyuwangi; My Trip; My adventure
Segernya Savana bekol di musim hujan

Bagi yang benar-benar ingin Eksplorasi Wisata Alam Baluran yang mempesona di atas, silahkan kosongkan waktu untuk menyatu dengan alam di TN Baluran setidaknya 1 minggu, dan bersiaplah menikmati euforia Kilimanjoro from de Java. So, do any one desire with this adventure.....?

Berkenalan dengan Hypothermia

Sepintas membaca atau mendengar kata Hypothermia, memang seperti nama yang keren. Bagi yang berkecimpung di dunia medis, farmasai, para pendaki gunung atau pun yang biasa berpetualang di alam bebas, pastinya istilah Hypothermia atau sering pula dikenal dengan istilah Hypothermia ini sudah sangat familiar. Dan bagi saya Bismillahirrahmaanirrahiim istilah ini baru saya ketahui saat perjalanan HENDAK meninggalkan Paltuding usai jelajah Pesona Wisata Kawah Ijen bulan Januari kemarin. Setelah berpacu dengan rintik hujan yang makin kerap dan byurrr jadi hujan cukup deras begitu langkah mendekati canteen.  Kami bertujuh istirahat dulu mengendapkan nafas yang ngos-ngosan sambil menikmati sajian kopi mixed panas. Sambil mengamati seliweran para pengunjung Kawah Ijen yang meramaikan area Paltuding, kami menyempatkan jagongan dengan salah satu petugas [Pak Polisi] yang kebetulan duduk di canteen. 

Setelah hujan agak reda, kami pun bersiap menuju ke mobil karena next trip sudah menunggu. Saat menunggu mobil dinyalakan, tiba-tiba ada cowok mendekat nanyain minyak kayu putih. Sebagai orang-orang yang sok perduli, kami bertanya untuk apa dan siapa yang masuk angin? Katanya untuk temannya yang duduk menggigil tak jauh dari tempat kami berdiri menunggu mobil. Hanya berjarak beberapa langkah dari kami, duduk seorang cowok usia belasan yang terlihat banget kedinginan, lha wong badannya sampai menggigil. Cerita dari si cowok yang minta minya kayu putih, temannya itu barusan terjatuh dari sepeda motor tak jauh dari pintu masuk paltuding.

Interview singkat tentang peristiwa kecelakaannya akibat terpeleset karena licin dan kebetulan pas di belokan yang menikung banget. Tak terlihat ada luka yang serius, tapi ciri-ciri menggigilnya yang over dosis kemudian membuat si Yoesi lebih intens mengamati dan meluncurlah diagnosa: Sepertinya temanmu itu bukan kedinginan biasa lho? Dia kena Hypothermia tuh... Secara singkat, Yoesi cerita jika pacarnya yang kerja di tim rescue pernah beberapa kali cerita melakukan evakuasi orang yang mengalami hypothermia. Makanya dia bisa memberikan presumtif jika si cowok yang menggigil itu kena Hypothermia. Dan secara spontan kami menawarkan bantuan untuk mengantar ke unit gawat darurat terdekat, yang kena Hypothermia itu biar di mobil bersama kami dan 3 temannya bawa motor mereka. Awalnya mereka gak percaya, tapi kami berusaha meyakinkan bahwa kami hanya bermaksud menolong, toh arah ke UGD terdekat juga sejalan dengan rute kami. Kondisi hujan-hujan, gak mungkin jika mereka maksain mbonceng temannya itu pakai motor. Ditambah lagi, mereka berempat gak paham daerah sekitar Paltuding – Licin. Lha kalau yang ndriver mobil kami kan tinggalnya di Licin, jadi paham seluk beluk di Licin termasuk lokasi UGD terdekatnya.

Al hasil, mereka terpaksa percaya dan menerima tawaran bantuan kami. Kalau diingat-ingat lagi, ada lucunya juga kami saat itu. Kami yang nawarin mbantu, dengan berbagai resiko yang bisa jadi fatal tapi kok ya ngeyel dan sempat menggunakan nada mengancam “ Kalau ada apa-apa dengan temanmu, kamu siap tanggung jawab ta?”. Mungkin mendengar kalimat tersebut, akhirnya mereka terpaksa percaya jika kami orang baik-baik. Lha iyalah, dari tampang saja sudah terlihat orang baik hati dan suka menolong serta gak keberatan untuk kerepotan mbantuin mereka, kok ya masih gak percaya sih? Baru beberapa meter berjalan, hujan makin deras hingga jalanan berkabut. Kloplah, lima ratus meter terlampaui dan kami dihinggapi rasa cemas plus jadi ketakutan. Yang terkena Hypothermia makin menggigil dan sepatah katapun gak bisa menjawab pertanyaan. Nyebutin siapa namanya saja gak bisa. Tambah lagi, ketiga temannya tak kunjung kelihatan di belakang laju mobil kami.

Apa boleh buat, kami sudah niat membantu dan si pasien sedang membutuhkan pertolongan, sedangkan untuk sampai ke UGD, kata pak sopir masih sekitar 10 km lagi! Tindakan pertolongan pertama pun segera dilakukan oleh Yoesi dan Irma, yang menyediakan diri duduk mendampingi pasien hypothermia tersebut. Dengan guidance on line dari pacarnya Yoesi, beberapa tindakan untuk pertolongan pertama dalam rangka  mencegah kondisi cowok itu makin parah yang kami lakukan antara lain:
  • Membuat si penderita Hypothermia tetap terjaga, yaitu dengan terus mengajaknya bicara dan memastikan dia tidak ketiduran
  • Melepas bajunya yang basah dan mengikhlaskan jaket kami menggantikan bajunya yang basah.
  • Menjaga suhu tubuhnya tidak drop, al hasil tutup kepala, kaos kaki dan sarung tangan pak sopir pun kami rampas.
  • Tetap mengajaknya bicara, selain mencegah si penderita bablas [jika tertidur bisa bablas menyebakan kematian katanya], juga untuk mencegah lidahnya tergigit karena menahan kedinginan.

Setiba di UGD
Hanya itu yang bisa kami lakukan, dan pastinya berdoa semoga kondisinya tidak memburuk. Bisa panjang urusannya jika terjadi apa-apa, lha nama dia saja kami gak tahu. Ditanya ID card atau dompet, cowok itu menggeleng alias gak bawa. Kami bisa bernafas lega ketika kemudian ketiga temannya muncul mengikuti laju mobil kami menuju Puskesmas. Butuh waktu satu jam lebih untuk tiba di Puskesmas Jambu dan sempat panik karena petugasnya gak ada. Bukan hanya soal hypothermianya, tapi takutnya kalau-kalau dia ngalami luka dalam yang parah. Kan sering terjadi kasus kecelakaan, luka luar gak seberapa tapi organ dalam cedera parah yang berakibat kematian karena terlambat diagnose luka bagian dalam tubuhnya.

Ketika petugasnya sudah muncul, dan pasiennya sudah berada di ruang UGD...eee lha kok kami diminta untuk gantiin baju yang terpakai masih basah yaitu celana! Sepertinya si petugas medis merasa risih gantiin baju basah pasiennya, lha dia perempuan juga.  Kami langsung heboh, What? Serta merta kami lari keluar dan memanggil teman-temannya yang sedari sampai di Puskesmas gak mau ikutan masuk karena bajunya basah kuyup. Finally, yang gantiin celana BUKAN kami tapi pak sopir dan kemudian dibantu paramedis laki-laki yang datang membantu. Dan untuk keperluan administrasi, kami dimintai keterangan dan awalnya dikira jika kami yang menabrak tuh pasien. Kami jelaskan jika kami sama sekali gak kenal dan hanya kebetulan ketemu saat kami hendak meninggalkan paltuding. 
Usai pemasangan oksigen
Untuk beberapa waktu kami masih stand by di UGD, memastikan kondisinya under control. Gak tega juga lihat mereka yang bingung gak ngerti mesti ngapain. Lha ternyata mereka ber-4 itu masih siswa SMU kelas 3 dan iseng-iseng bermotor ke Kawah Ijen. Jadi gak ada yang bawa jas hujan dan perlengkapan lainnya. Sepertinya uang juga tidak bawa banyak. Saat kami minta menghubungi keluarga, ketiga temannya serba bingung dan takut. Tetap kami yakinkan jika pihak keluarga harus tahu karena kondisi temannya itu butuh perawatan intensif lanjutan. Info dari tenaga medis, bahwa Rio [akhirnya kami tahu nama pasien hypothermal tersebut] kemungkinan baru malamnya bisa dipindah ke Rumah sakit karena menunggu kondisinya lebh stabil. 

Saat kami desak, jawaban mengejutkan terucap: “mau kontak ke siapa, Mbak?”. Tanya Satrio, yang lebih banyak berkomunikasi dengan kami.
Glodag...krompyang......” ya orang tua atau saudaraya? Emang kalian gak ada yang tahu keluarganya? Atau tanya sama Pak Lurah,  pacarnya kan bisa Dheeekkkkkk...?”
Dan saat dapat nomer kontak pihak keluarga, gak ada yang ngangkat dering telpon juga. Hari semakin sore dan tujuan kami ke TN Baluran masih jauh. Akhirnya kami bersepakat, ninggalin nomer HP dan berpesan jika ada apa-apa agar mereka menghubungi kami. Setelah di infus dan di suapin beberapa sendok teh panas kemebul oleh Noe, Alhamdulillah kondisinya mulai membaik. Sudah bisa diajak bicara, sehingga kami cukup yakin untuk melanjutkan acara mbolang kami ke TN Baluran dan Pantai Bama.

Karena penasaran pengen “kenal’ lebih dekat dengan Hypothermia, saya pun menyempatkan tanya langsung pada Mbak Ipar yang kebetulan kerja di bidang medis. 
“Pastikan dulu dia beneran kena Hypothermia apa sakau. Soale orang sakau pun menunjukkan gejala yang mirip dengan Hypothermia.” Jelasnya sebelum menjawab straight to the point penyebab terjadinya Hypothermia, yaitu suatu kondisi dimana mekanisme tubuh yang mengalami kesulitan mengatasi tekanan suhu dingin atau dengan definisi lebih sederhana adalah suhu bagian dalam tubuh di bawah 35 °C. Pada dasarnya tubuh mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu  36,5-37,5 °C. Hipotermal terjadi manakala penurunan suhu inti tubuh dibawah 35°C (95°F) dimana pada suhu ini, mekanisme kompensasi fisiologis tubuh gagal untuk menjaga panas tubuh. 
Dan Berikut ini tambahan informasi tentang Hypothermia  dari Wikipedia.
  1. Gejala Hypothermia ringan adalah penderita berbicara melantur, kulit menjadi sedikit berwarna abu-abu, detak jantung melemah, tekanan darah menurun, dan terjadi kontraksi otot sebagai usaha tubuh untuk menghasilkan panas. 
  2. Pada penderita Hypothermia moderat, detak jantung dan respirasi melemah hingga mencapai hanya 3-4 kali bernapas dalam satu menit. 
  3. Pada penderita Hypothermia parah, pasien tidak sadar diri, badan menjadi sangat kaku, pupil mengalami dilatasi, terjadi hipotensi akut, dan pernapasan sangat lambat hingga tidak kentara .
Sementara pasien dengan Hypothermia sedang atau berat memerlukan perawatan khusus di rumah sakit berupa rewarming atau peningkatan kembali suhu tubuh. Perawatan ini berupa rewarming aktif yang diikuti rewarming pasif. Rewarming aktif yaitu mendekatkan benda hangat atau panas yang ditempelkan pada tubuh pasien, misalnya air panas yang sudah dimasukan ke tempat khusus kemudian ditempelkan ke tubuh. Bila pasien teraba dingin, tetapi sirkulasi masih terjaga dengan baik, maka tugas penolong adalah untuk menjaga agar korban tidak kehilangan panas tubuh lebih banyak, dan berusaha untung menghangatkan (rewarm), bila pasien mengalami cardiac arrest atau henti jantung, maka dilakukan resusitasi jantung-paru dengan modifikasi sesuai dengan prosedur.
Hypothermiaberdasarkan temperature tubuh, dapat digolongkan dalam kategori:
  • Ringan= 34-36°C. Bila orang bila berada pada suhu ini akan menggigil secara hebat, terutama di seluruh ekstremitas. Bila suhu tubuh lebih turun lagi, pasien mungkin akan mengalami amnesia dan disartria. Peningkatan kecepatan nafas juga mungkin terjadi. 
  • Sedang = 30–34°C, yaitu terjadi penurunan konsumsi oksigen oleh sistem saraf secara besar yang mengakibatkan terjadinya hiporefleks, hipoventilasi, dan penurunan aliran darah ke ginjal. Bila suhu tubuh semakin menurun, kesadaran pasien bisa menjadi stupor, tubuh kehilangan kemampuannya untuk menjaga suhu tubuh, dan adanya resiko timbul aritmia. 
  • Berat = <30°C, Pasien rentan mengalami fibrilasi ventrikular, dan penurunan kontraksi miokardium, pasien juga rentan untuk menjadi koma, pulse sulit ditemukan, tidak ada reflex, apnea, dan oligouria. 

Dan di sepanjang perjalanan keluar dari wilayah Banyuwangi kota menuju TN Baluran kala itu, pembahasan tentang Rio CS masih berkelanjutan.
Tuh kan ada kisah tidak terduga lagi jika aku ikut mbolang, “ ujar Irma sok kayak mbah ndukun banget. “....yang tahun kemarin kita ke Sukamade ngalamin kehabisan BBM hingga telantar di tepian sungai dan main rakit serta kelaparan kan?”
Dan lucunya kita ini, nolongin orang lain tapi pakai jurus maksain orang yang akan ditolong agar mau ditolong.....” 
Terus yang bikin gak habis nalar, kok ya mereka careless banget...naik motor jarak jauh dengan out fit GeJe kayak getu lho?”

Then the Journey at Baluran and Bama Beach is going on.....................

#Beberapa hari kemudian kami dapat apdet info tentang Rio, ternyata ada 2 tulang rusuknya yang retak. Untuk perawatan lanjutan, pihak keluarga membawa Rio pulang ke Situbondo

Pesona Wisata Kawah Ijen

Berangkat ke Kawah Ijen merupakan [salah satu impian] jalan-jalan yang sudah lama tersimpan rapi namun tak kunjung terwujud. Setelah hampir sewindu ikut mencari sesuap nasi dan sebakul berlian di jantung kota Banyuwangi, akhirnya hasrat hati untuk menikmati Pesona Kawah Ijen kesampaian juga. Bismillahirrahmaanirrahiim perjalanan ke Kawah Ijen pun dimulai dari Kota Banyuwangi sekira jam 5 pagi dengan mampir ke Stasiun Karang Asem terlebih dulu untuk menjemput teman yang berasal dari Surabaya.  Ini merupakan petualangan mbolang terakhir saya dengan status masih SINGLE. Untuk edisi kali ini, kami bertujuh plus seorang guide yang mbawai mobil rental, sehingga kami pun sok PeDe memberi label petualangan dengan sebutan prestise “7 Bidadari” turun dari kahyangan mobil sewaan untuk melakukan Eksplorasi Pesona Wisata Kawah Ijen.
The beautiful of Teletubies Hills
Untuk mencapai kawasan Kawah Ijen bisa di akses dari dua arah yaitu dari utara melalui rute Situbondo - Bondowoso  [Sempol] lewat Wonosari kemudian lanjut ke Paltuding. Total jarak yang ditempuh dari Situbondo sampai Paltuding + 90 Km yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 2,5 jam [catet: jika lau lintas lancara jaya lho?]. Dan arah satunya adalah jalur selatan yaitu dari Banyuwangi meniti jalur menuju Desa Licin - Jambu kemudian ke Paltuding yang merupakan pos pertama dan sekaligus parkir semua kendaraan bermotor para pengunjung yang hendak ke kawah Ijen. Dari Paltuding hingga ke kawah Ijen HANYA akan ada sepeda motor milik petugas vulkanologi dan atau jika perlu rescue untuk pengunjung yang colaps di atas. Jadi jika berharap bisa naik motor dari puncak kawah Ijen, silahkan pingsan dulu yaaaaa.....

Nah Saya dan teman-teman kemarin mengambil rute selatan yaitu berangkat dari jantung kota Banyuwangi dengan mampir ke Stasiun Karang Asem. Perjalanan menuju kawah Ijen cukup lancar karena jalurnya sudah diperbaiki dalam rangka penyelenggaran Tour De Ijen pada Nopember 2012 kemarin. Tanjakan yang dulunya curam banget, sekarang sudah landai, dipapras hampir 200 meter sehingga jika naik sepeda motor yang butut tidak perlu lagi repot-repot  nuntun atau kuatir mlorot ke bawah lagi seperti yang pernah saya alami 5 tahun lalu saat pertama kali menjajaki rute ke kawah Ijen tapi hanya sampai Paltuding.
Welcome To Kawah Ijen
Butuh waktu kurang lebih 1 jam untuk sampai di Paltuding dan jangan kuatir di sepanjang jalur Desa Licin menuju Paltuding pandangan mata kita akan dimanjakan panorama serba hijau di kanan-kiri jalan karena melewati area perkebunan kopi.  Jam 7-an kami tiba di Paltuding dan sengaja tidak langsung OTW meuju Kawah Ijen. Beberapa fasilitas dapat dinikmati oleh pengunjung antara lain pondok wisata dan canteen atau warung makanan sekaligus menjual keperluan pendakian
Sarapan dulu ahh....
Setiba di Pos PHPA (Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam) - Paltuding ini kami sengaja break dulu untuk sarapan dengan menu nasi bungkus yang sudah kami bawa, pertimbangannya sih biar hemat waktu. Lha canteen yang tersedia kan terbatas dan akan butuh waktu lama jika kami nunggu order sarapan siap santap. Dengan numpang sarapan, kami pun beli minuman penghangat: Teh panas dan jahe panas.
Renovasi Rest Area
Sekaligus azaz manfaat, pinjam tongkat untuk perjalanan menuju Ijen. Beginilah jika gaya model mbolang gak mau repot, perlengkapan vital tongkat pun kami SILAP alias lupa gak membawanya. Alhamdulillah banget, si pemilik warung punya persediaan tongkat banyak dan dipinjamkan secara gratis pula pada kami. Lha ndilalah juga waktu kami datang ternyata bersamaan dengan  rombongan dari keluarga besar Perhutani Banyuwangi wilayah kerja barat. Maka suasana suangat ruamaaii poll sudah menyambut kedatangan kami sejak beberapa meter dari pintu masuk. So how lucky we are karena akhirnya kami  dianggap bagian dari rombongan Perhutani tersebut sehingga  bebas bayar tiket. Plus pastinya sepanjang jalan ada teman ngobrol dan teman kecapekan yang banyak, hehehehee...
So, Let's Go...
Start jam setengah delapan pendakian dari Paltuding menuju Kawah Ijen pun dimulai. Maksudnya, nunggu rombongan Perhutani diberangkatkan dan kami ngikut di belakangnya. Jarak yang harus kami tempuh adalah 3KM untuk sampai di puncak kawah Ijen. Dari Paltuding berjalan kaki dengan jarak sekitar 3 km dimana secara keseluruhan jalurnya landai tapi menanjak, terutama di separuh lintasan awal medannya lumayan berat karena menanjak dengan rata-rata kemiringan 25-35 derajad, jadi dengan berat hati si Noe [salah satu rekan kami] minta ditinggalkan saja karena sesak nafasnya tidak bisa diajak kompromi lagi, dan ditemani si Yoesi yang legowo gak ikutan sampai puncak karena dia sudah pernah ke Ijen sebelumnya. Beberapa Ibu-ibu [istri karyawan Perhutani] juga ada yang give up setelah menempuh perjalanan sekitar 1 Km. Dalam perjalanan menuju kawah Ijen, beberapa kali kami berhenti untuk menstabilkan nafas beberapa menit saja karena jika terlalu lama bisa kesiangan dan akibatnya semburan asap belerang semakin banyak.
Sebagian Rute ke Kawah Ijen
Sambil ngobrol ngalor-ngidul dengan teman baru [salah satu karyawan perhutani] yang bercerita tentang the real adventure di Kawah Ijen hendaknya start perjalanan tengah malam atau camping kalau pengen all out menikmati pesona kawah ijen. Dengan berangkat saat jelang dini hari maka akan sampai di puncak kawah Ijen saat masih sepi dari semburan asap belerang dan sekaligus bisa menyaksikan fenomena langka BLUE FIRE. Resikonya ya harus tahan dingin karena saat malam sampai pagi menjelang suhunya bisa menyamai suhu air membeku dan di puncak musim dingin bisa mencapai lebih dari -10 derajat Celcius!
View di kanan - kiri menuju Kawah Ijen
Di sisi kanan dan kiri lereng gunung dominan oleh tumbuhan cemara gunung dan ada bukit kayak di pilem Teletubbies yang tak kalah indahnya dengan di Bromo. Di sepanjang perjalanan kami berpapasan dengan para penambang belerang yang memikul belerang dari kawah dengan berat berkisar 70 – 90 Kg! Saat sempat bisa menjajari salah satu penambang, saya mendapat cerita katanya dalam sehari para penambang itu dua kali naik- turun dengan membawa pikulan belerang seberat itu sodara!
Mereka menggunakan trik: saat naik langsung membawa 2 pasang keranjang kosong yang silih berganti diisi belerang kemudian dinaikkan bergantian. Setelah target hasil tambang tercapai, baru mereka membawanya turun ke pos penimbangan dengan dua kali perjalanan turun. Luar biasanya lagi, harga 1 Kg belerang  600an Rupiah [gak sampai Rp.700,-.] Jadi sekali angkut, mereka memperoleh penghasilan sekitar 50 ribu. Jadi jika ada turis yang membutuhkan jasa angkut untuk anak-anaknya, ya para penambang belerang itu dengan senang hati milih untuk memikul anak turis bule. Lha ongkosnya bisa mencapai 500an ribu tuh.
Here I'm.....
Setelah ngos-ngosan meniti Perjalanan mendaki sejauh 3Km dan butuh waktu hampir 2 jam karena mandeg-mandeg mulu dan bersemangat lagi karena malu manakala melihat para penambang yang enjoy saja memikul belerang dari kawah ijen, finally kami berlima sukses sampai di puncak Kawah Ijen. Dan satu lagi pembuktian, penampakan dua puncak gunung yang setiap hari saya lihat dari kantor dan saya anggap sebagai kawah Ijen, ternyata bukan.
Penemuan terbesar di dunia: WC emergency
Begitu sampai di puncak, barulah saya tahu kalau letak kawah Ijen justru gak terlihat dari bawah melainkan berada diantara kaki gunung Raung dan Gunung Merapi, dua puncak gunung masih jauh dari Kawah Ijen.


Sukses sampai di Kawah Ijen bersama tongkat sakti
Untuk bisa berada sedemikian dekat dengan Kawah Ijen yang berada pada 2.384 mdpl membutuhkan perjuangan yang berat jadi harus dinikmati dulu dunk segenap penjuru kawah Ijen. Danau Kawah Ijen memiliki diameter 6 Km, kedalaman danau 200an meter dan luas hampir 50 Hektar dengan bentuknya yang lonjong seperti elip dengan daerah pembuangan air danau terletak sebelah barat yang merupakan hulu sungai Banyu Pahit dan Banyu Putih.
Danaunya samar-samar tertutup asap belerang
Sayangnya ketika saya sampai di atas semburan belerang sudah mulai banyak sehingga panorama danau asam yang konon ceritanya dari teman-teman yang sudah pernah melihatnya berwarna hijau tosca yang sangat indah mentakjubkan.
M0de Zoom shoot
Di sepanjang bibir kawah menyuguhkan gradasi ukiran permukaan tanah dengan kombinasi warna abu-abu dan kuning keemasan serta hitam, yang demikian dramatis keelokannya merupakan keunikan terwakili oleh kata-kata. Dan diantara keindahan alam yang mempesona tersebut, ada geliat kehidupan yang tak kalah “dramatisnya’ yaitu potret kehidupan para penambang batu belerang. Dari bibir kawah itulah pula para penambang setiap hari naik turun untuk mengambil belerang dengan tingkat resiko yang sangat tinggi mengingat produksi terbesar kawah Ijen adalah belerang dan Asam Klorida terbesar di dunia. Para Penambang itu menempuh jalan setapak yang terjal dan harus siap melawan semburan asap zat asam untuk mengambil belerang.
Para Penambang Sulfur
Melihat dan membayangkan ealitas kehidupan para penambang secara langsung di kawah Ijen sungguh merupakan salah satu sisi buram kehidupan di negeri ini. Proses penambangan belerang yang sangat tradisional dimana pengangkutannya dengan cara dipikul tenaga manusia dan inilah penambangan tradisional yang hanya terdapat di Indonesia yaitu di Welirang dan Ijen. Tempat pengambilan belerang terdapat di dasar  kawah yang sejajar dengan permukaan danau, sehingga bisa dibayangkan seberapa tinggi tingkat resiko yang setiap hari harus dihadapi para penambang belerang.
Iring-iringan penambang belerang menuruni sisi perbukitan
Dari penuturan salah satu bapak penambang yang sempat kami ajak bincang-bincang santai, mereka mengambil batu-batuan belerang yang dipecah-pecah dengan bantuan alat linggis dan kemudian langsung diangkut menggunakan keranjang. Para penambang mengangkut belerang dengan melalui dinding kaldera yang curam untuk kemudian dibawanya menuruni gunung sejauh tiga kilometer. Hingga sampai di pos timbang atau yang biasa disebut sebagai Pos Bundar. Di pos ini para penambang menimbang belerang yang berhasil dipikulnya dan mendapatkan secarik kertas tentang muatan dan nilainya, baru kemudian bukti kertas tersebut di-uang-kan.
Souvenir berbahan Sulfur didekat Pos Bundar
Semakin beranjak siang, para penambang pun semakin sedikit jumlahnya. Dan semburan asap belerang pun semakin mengganggu pernapasan walaupun kami sudah mengenakan masker. Ditambah lagi langit sudah mulai dihiasi awan, maklum kala kesana di bulan Januari yang  masih tinggi curah hujan, jika tidak segera turun harus bersiap kehujanan. Dan pastinya kami tidak ada yang bawa jas hujan maupun payung, kan mbolang gak mau repot namanya. Kalau sekedar diri yang kehujanan sih masih bisa enjoy menikmati guyuran air hujan, tapi kami masih tidak ikhlas jika HP dan Kamera kami sukses kehujanan dunk? Jadi ya kami harus menggunakan speed jalan kaki lebih cepat berlomba dengan rintik-rintik gerimis yang mulai turun berirama. Oia, ternyata si Noe yang ditemani Yoesi bisa sampai juga di pos terakhir batas pendakian [yang masih berjarak sekitar 500 meter untuk sampai kawah Ijen], sehingga lengkap lagi deh formasi 7 Bidadari dalam jelajah Pesona Wisata Kawah Ijen.

Rute turun memang lebih ringan tapi juga beresiko merosot bagai main seluncuran air karena struktur tanahnya juga berpasir sehingga tetap harus hati-hati saat menempuh perjalanan baliknya. Dan jika ingin membawa oleh-oleh aneka model belerang, harganya murah meriah. Kalau bisa nawar ala ibu-ibu, untuk ukuran yang kecil bisalah tuh 10 ribu dapat 6 biji. Tapi sebaiknya siapkan tempat khusus yang bisa mencegah belerang terkena goncangan baik saat perjalanan turun maupun ketika dalam perjalanan di kendaraan karena meskipun belerang souvenir sudah dalam kondisi padatan membeku tapi tetap bersifat fragile. Tapi ya gak apa-apa sih jika mau me-Reform sendiri sesamai di rumah. Kan tinggal dididihkan lagi tuh serpihan belerangnya dan dituangkan dalam cetakan yang diinginkan.
Another View Of Teletubbies Hill
Nah, bagi yang penasaran untuk melakukan Pesona Wisata Kawah Ijen secara totally silahkan rencanakan ke Kawah Ijen dengan start dari Paltuding menjelang dini hari dan pada bulan Agustus-September sehingga bisa melihat Blue Fire, fantastisnya danau di kawah Ijen dan bisa melihat mekarnya bunga Edelwiss saat perjalanan turunnya. Jika waktunya masih longgar bisa juga mampir ke perbukitan Teletubbies  dan sapa tahu bisa berpelukan dengan Lala, Pooh, Tingki, Dipsy dan Winkie...lho?