WHAT'S NEW?
Loading...

[Tentang] Pakaian dan Aksesoris

Tampil gaya, modis dan cantik sudah menjadi naluri alamiah hampir setiap perempuan. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim dinamika perkembangan dunia fashion pun sangat pesatnya. Gaya pakaian khususnya untuk wanita sangat semarak, berbagai kombinasi warna, jenis kain dan model menawarkan banyak pilihan yang menggiurkan. Tinggal kembali pada diri masing-masing bagaimana memanage budget yang ada sehingga sebijaksana mungkin agar bisa coverage sesuai skala prioritas kebutuhan.

Seirama dengan trend perkembangan pakaian, juga diikuti dengan perkembangan aksesoris wanita, mulai dari pernak-pernik yang kecil imut sampai yang blink-blink dengan ukuran jumbo, bahkan terlihat tidak proporsional. Lha kan sering kita lihat ukuran cincin yang super gede dibandingkan dengan jari jemarinya. Atau gelang yang jumlahnya banyak dipakai sekaligus pada satu pergelangan tangan. Gak hanya ukuran yang over size, juga padu-padan warnanya yang nge-trend mencolok dan wouwww.

Jika bicara aneka perlengkapan trend fashion wanita, tentu tak lepas pula dengan tas wanita. Iyahhh, tas pun sudah merupakan pelengkap penampilan bagi kaum wanita. Ukuran, warna, bahan dan modelnya pun sepesat perkembangan baju. Dar harga yang murah meriah sampai yang nilainya bisa untuk mbikinin rumah orang sekampung halaman saya. Gimana saya gak mlongo terkesima, saat suatu kesempatan di infotainment ada parade koleksi tas yang harganya ratusan juta bahkan saya yakin ada yang seharga milyaran. Dengan harga tas semahal itu, otomatis menjadikan barang tersebut sebaga benda yang luxurious yang memerlukan tempat khusus untuk penyimpanannya.

Mencermati barang super mewah sebuah tas, dengan penyimpanan khusus dan perawatan yang extra hati-hati, kok ya mblarah membuat saya  bikin itung-itungan dengan kalkulator ala bakul lombok dan taraaaa...yang muncul pada displaynya EROR alias gak muat untuk menampilkan angka nol-nya. Jadi kepikiran, fixed income tiap bulannya berapa digit ya jika untuk belanja 1 buah tas saja harganya ratusan juta getu?

Ya sudahlah, skip wae mbahas tas mahal. Lha saya jugak gak pengen untuk mbelinya kok? Nunggu ntar jika gaji sudah mencapai 11 digit sajah, Hehehehee...#ngaco bin ngawur pollll. Yang jelas, dasar belanja khususnya [Tentang] Pakaian dan aksesoris, cukup simpel banget kok: Asas kepantasan untuk saya pakai dan kenyamanannya. Dan pastinya dengan HUKUM: Harmonisasi Kebutuhan dan kemampauan. Kalau sudah membutuhkan baru akan beli JIKA memang kondisi finansial mendukung. Nah, meski membutuhkan tapi dananya belum ada yaaa sabar duluuuuuu deh..


Aroma Sawah Menyebar Kerinduan

Kerinduan akan kampung halaman, tentang masa kecil beserta pernak-pernik yang melengkapinya. Memang benar yang telah berlalu tak akan mungkin berulang, tapi tak mungkin pupus tanpa jejak dari ruang ingatan. Tak jarang hal-hal yang kita temui dan ataupun melintas sekilas membangkitkan gelombang kenangan yang memaparkan BismillahirrahmaanirrahiimKerinduan. Adalah fragmen-fragmen kerinduan yang mengalun berirama kala aroma sawah menyatu dengan molekul-molekul oksigen yang mengudara. 

Lokasi kantor yang tergolong mewah ~ mepet sawah~ menyuguhkan pemandangan persawahan yang menghampar setiap kali menjejakkan kaki di tempat kerja. Manakala helaan nafas membau Aroma Sawah, ada denting rindu yang menyeruak mesra. Aroma sawah menyebar Kerinduan yang selalu menarik untuk dinikmati, terlalu banyak memori yang terukir di dalamnya. Aroma tanah basah kala musim bercocok tanam, atau padi menguning ketika musim panen menjelang. Semua aroma sawah dengan aneka musim tanamannya masing-masing senantiasa menggelombangkan kerinduan dengan mengirimkan mozaik-mozaik ingatan akan masa lalu. Melintas dalam pikiran, sosok sayadan adik saya berlari-lari kecil menuju sawah dengan keriangan khas lepas dalam balutan tanah lumpur.

Aroma sawah pun tak jarang menghadirkan begitu jelas sketsa wajahBapak dan Ibu yang tak pernah memudar cahaya ketulusannya walau pundak memikul tugas dan tanggung jawab berat  yang tak mungkin bisa saya eja dalam bahasa apapun. Aroma Sawah yang menyelusup dalam helaan nafas pun seringkali melambungkan kerinduan akan kebersamaan ketika kami masih berkumpul dirumah, ketika rentang usia masih menjadi anak-anak dimana acara pergi ke sawah senantiasa menawarkan euforia tersendiri. Ada gundah, jutek dan setengah hati jika hari libur atau sepulang sekolah saya  harus legowo menghabiskan waktu ke sawah bersama kakak-kakak dan adik untuk membantu orang tua. Mengenangnya kini, ternyata kebersamaan yang terjadi kala beraktifitas di sawah kala itu demikian indah dan selalu menghadirkan getar-getar kerinduan.

Merajut keping-keping kerinduan yang bermunculan bersama semerbak Aroma sawah yang selalu menghadirkan hasrat ingin mengenang kebersamaan dalam suka dan duka namun tetap bisa bercengkrama dengan penuh keceriaan. Betapa serunya saat berakting terpeleset jatuh di lumpur sawah ketika membantu tandur, jengkelnya mencabut rumput ketika masanya menyiangi tanaman padi, bergidik saat menemukan ulat di daun tembakau, menjerit saat ada ular sawah muncul tiba-tiba. Juga tertawa jika saya ingat di musim kemarau saya ke sawah menggunakan sandal jepit, yang diprotes oleh adik “kok lebay banget ke sawah pakai sandal lho?” Atau bawa radio jika kebetulan battery radio sedang prima, diputar keras sampai tetangga yang sawahnya berdekatan geleng-geleng kepala. Juga nikmatnya makan di pematang sawah dengan kiriman nasi yang dibungkus daun pisang berlauk tahu/tempe disambel pake Keluwek

Apalagi jika aroma sawah dikala padi menguning, spontan menghadirkan rindu akan dekap mesra Ibu. Masih terlintas jelas dalam membran ingatan sebuah skenario yang saya buat sehingga membawa Ibu saya berhujan-hujan melintasi jalan setapak saat pulang dari sawah. Saat itu menjelang panen, ada kebiasaan ‘nyulik’ padi sebelum dipanen. Nah sepulang sekolah, Ibu mengajak saya untuk memotong padi (karena adik dan kakak-kakak yang lain sudah on their job). Setelah 2 karung yang di bawa penuh dan pas hujan turun dengan lebatnya. Membawa 2 karung padi tentu saya tidak bisa menaiki sepeda pancal karena bagian belakang dan tengah di tempati hasil potong padi. Maka dengan berjalan kaki kami pun pulang di bawah siraman hujan pada senja menjelang kala itu. Saya yang tahu banget kalau sore hari di pertigaan desa ada pos yang biasa dipenuhi para pemuda, maka saya bilang pada ibu untuk lewat jalan memutar (tidak melalui jalan utama desa) yang artinya melalui tanggul ledeng setapak karena saya tidak cukup PeDe melintas di depan para cowok dalam performance kucel, basah kuyup, belepotan lumpur dan membawa dua karung padi dari sawah. Dan sampai sekarang yang diingat oleh Ibu betapa saya sudah menjadi anak baik karena tidak mengeluh berhujan-hujan di sawah kala itu?

Ahaiiii.......sepertinya tak akan cukup menguraikan kembali pxel-pixel yang hadir menyertai Aroma sawah menyebar Kerinduan.……yang  membawa saya  pada kenangan-kenangan  yang selain menawarkan kerinduan yang syahdu mengharu juga keajaibannya yang menakjubkan betapa Grafik Waktu, rentang masa lampau, kini dan nantiAdalah sebuah anak panah yang dilepas oleh sang ILLAHIDan tak mungkin kembali mengulang kesilaman masa. 




Alhamdulillah menang di SINI



Renungan: Titipan

Ramai dan hebohnya “bagi-bagi” uang yang belakangan ini menjadi head line news, bahkan kesannya jadi sumber rating pemberitaan sehingga baik surat kabar off line maupun on line serta On air pada bersang mempublish berbagai sisi dan sosok yang terkait dengan sang aktor utama. Bismillahirrahmaanirrahiim semoga saja semaraknya pemberitaan tersebut bisa diambil ibrahnya untuk TIDAK ditiru oleh bagi saya pribadi dan lainnya. Serta juga tidak menjadi stigma: biasanya berlalu bersama waktu…Dan sejenak ada baiknya saya bersharing tentang  sebuah Renungan: Titipan [Sebuah sajak oleh WS Rendra]

Seringkali kau berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titpan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,

tetapi,
mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa dia menitipkan padaku ?
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku ?

Dan kalau bukan milikku,
apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini ?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku ?

Mengapa hatiku justru terasa berat,
ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya ?

Ketika semua itu diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja,
untuk melukiskan bahwa itu derita.

Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan

Seolah........
semua "derita" adalah hukuman bagiku.

Seolah.....
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika.

aku rajin beribadah,
maka selayaknyalah derita menjauh dariku,
dan nikmat dunia kerap menghampiriku.

Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang,
dan bukan Kekasih...

Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku"
dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku.

Gusti......,
padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku
hanyalah untuk beribadah.....

Ketika langit dan bumi bersatu,
bencana dan keberuntungan tidak ada bedanya.

“ Muamalah Allah SWT Terhadapmu Sesuai Dengan Muamalahmu Terhadap Hamba-Nya “






Pindang Koyong: Menu Pesisir nan Kaya Gizi

Jika bicara tentang Kekayaan Gizi Daerah Pesisir,Bismillahirrahmaanirrahiim yang spontan melintas di benak saya adalah Sea Food, terutama ikan dong. Meskipun saya lahir dan dibesarkan jauh dari daerah pesisir tapi Alhamdulillah, Simbok saya sudah menjadikan menu ikan [specially ikan asin] sebagai salah satu pilihan menu lauk favorit dirumah. Lha ndilalah kok ya memasuk dunia kerja saya terdampar jugak di daerah pesisir “Kota Ikan Muncar” Banyuwangi. Kloplah, semenjak menikmati euforia kehidupan di Bumi Blambangan jadi menguatkan selera saya untuk lebih dari gemar makan ikan karena nyaris tiap hari menyantap lauk berbasis ikan.

Tinggal di Banyuwangi yang memiliki area pesisir cukup luas dengan potensi hasil perikanan melimpah, serta berprofesi di dunia perikanan otomatis membuat saya semakin familiar dengan aneka ragam masakan berbasis ikan. Salah satu masakan ikan favorit saya adalah Pindang Koyong. Secara tipically jenis masakan ikan berkuah ini bisa jadi terdapat juga di daerah lain. Tapi meski serupa tentu ada bedanya dari komposisi bumbu ataupun teknis pemasakannya. Umumnya spesies ikan yang dimasak untuk pindang koyong ini adalah jenis ikan yang berdaging putih, antara lain: Ikan Tongkol, Kakap, Lemuru, Tenggiri. Sehingga menurut saya Pindang Koyong: Menu Pesisir nan Kaya Gizi karena daging ikan laut secara umum memiliki kadar protein +23%, kadar lemak 2%, dan kadar karbohidrat kurang dari 0,5%.
Back To the Topic, masakan Pindang koyong yang memiliki ciri khas berasa agak asam, gurih dan pedas ini merupakan jenis masakan yang simple, praktis, cepat dan gak pakai ribet banget mbikinnya. Untuk bahan utama Ikan, pastinya kalau di daerah pesisir tidak sulit dunk untuk mendapatkan fresh fish. Untuk ragam bumbunya juga bisa dengan mudah dibeli lho. Berikut ini hasil saya berguru langsung pada chef yang sehari-hari menyiapkan menu makan siang di kantor. Komposisi bumbu dan bahan yang diperlukan serta teknik pemasakannya sehngga menghasilkan menu Pindang Koyong yang maknyusss :

Komposisi bumbu yang diperlukan:
1.    5 buah cabe rawit atau sesuai selera pedas yang diinginkan
2.    4 buah bawang merah
3.    1 ruas jari: kunyit, laos
4.    1 ruas jari: jahe
5.    3 siung bawang putih
6.    2 - 3 lembar daun jeruk purut
7.    2 batang serai
8.    1 sdt gula
9.    Garam secukupnya

Bahan yang diperlukan:
1.    1 ekor ikan segar atau sekira 0,5 Kg [disiangi dan dipotong menjadi beberapa bagian sesuai selera]
2.    + 0,5 - 1 L air
3.    2-3 sdm minyak goring [untuk sangrai bumbu]
4.    Belimbing wuluh 7 buah atau secukupnya sampai taste asam yang disukai [potong jadi 2 atau 3 bagian]

Sangat tidak sulit untuk mendapatkan bahan dan bumbu Pindang Koyong tersebut di ataskan? Begitu pula dengan cara memasaknya, relatif amat sangat mudah untuk dipraktekkan bahkan bagi yang hobi mbolang [ke daerah pesisir]dengan perlengkapan yang ala kadarnya. Berikut ini cara memasak Pindang Koyong:
  1. Iris tipis bumbu pada nomer 1 – 3 [untuk cabe bisa juga dibiarkan tetap utuh]
  2. Haluskan jahe dan bawang putih
  3. Memarkan serai bagian pangkalnya[diikat rapi jika menyertakan bagian daunnya]
  4. Daun jeruk biarkan utuh atau dirobek jadi dua bagian.
  5. Panaskan minyak goreng di wajan kemudian masukkan bumbu yang dihaluskan [nomer 2] hingga tercium aroma khas kemudian masukkan semua bumbu lainnya, tumis hingga layu.
  6. Masukkan potongan ikan ke dalam tumisan bumbu
  7. Didihkan air dalam panci, kemudian tuangkan pada adonan Ikan + bumbu
  8. Tunggu hingga mendidih dan segera diangkat begitu tekstur ikan sudah empuk

Beberapa tips dan trik yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil masakan pindang koyong dengan cita rasa yang spesisifik pedes, asam, gurih maknyuuuus, yaitu:
  1. Pilihlah ikan yang memiliki ciri-ciri  ikan segar [bermata cembung dan jernih, warna kulit mengkilat, cerah dan tidak berlendir, tekstur daging apabila ditekan kenyal dan kembali seperti semua, warna insang merah cerah]
  2. Kondisi air HARUS benar-benar sudah mendidih saat dituangkan pada campuran bumbu + Ikan untuk mengeliminasi bau amis ikan.
  3. Pada saat finishing step, segera angkat ketika tekstur ikan sudah empuk karena terlalu lama pemanasan akan membuat daging ikan hancur dan pastinya merusak komposisi gizi ikan [ specially protein yang bersifat mudah rusak oleh over heating]
  4. Alternatif  belimbing wuluh bisa diganti dengan kedondong atau asam, tentunya taste ‘asam’nya akan berbeda dengan belimbing wuluh.
Bahan, bumbu dan cara memasak yang cukup mudah serta tidak butuh waktu yang lama untuk menghidangkan masakan Pindang Koyong: Menu Pesisir nan Kaya Gizibaik saat di rumah ataupun kala melakukan kegiatan out door. Akan lebih lezat bin nikmat jika disantap saat masih panas dengan nasi yang hangat pula. Selamat mencoba...........


Notes: untuk feature dalam postingan adalah menggunakan ikan banyar/kembung [local name] atau rastrelliger kanagurta.

Publish on Viva: http://log.viva.co.id/news/read/415204-pindang-koyong--menu-pesisir-kaya-gizi









Bagi-Bagi Kue

Suatu pagi yang cerah ceria dan saat menu sarapan belum lama kandas dengan sukses. Lonceng pun berbunyi nyaring sebagai tanda bahwa semua staf kelurahan harus berkumpul di pendopo untuk mengikuti rapat yang tidak terjadwal karena ada pejabat dari kerajaan yang datang dalam rangka koordinasi plus konsolidasi serta sinkronisasi. Kira-kira seperti begitu kali ya istilahnya, Bismillahirrahmaanirrahiim rapat terselenggara dengan khusyu dan khidmat. Point-point yang disampaikan oleh sang pejabat pun mengalir teratur. Salah satu yang disampaikan merupakan kabar spectakuler karena kelurahan Amburadul akan ditingkatkan statusnya jadi Kademangan #weee....lha biarin ah, kelurahan dan kademangan selevel deh kayaknya. 

Acara rapatpun terus berlanjut gayeng dan cemunguts, si Acak dan Kadut pun terlihat serius menyimak sambil sesekali menulis-nulis di buku agendanya. Tapppiiii....ada yang rada-rada ganjil, lha saat si Acak habis nulis kemudian menggeserkan Agendanya pada si Kadut yang duduk di sebelahnya. Ternyata mereka sedang mementaskan trik senewen untuk mengusir rasa boring yang mulai menyapa akibat acara rapat yang belum jelas kapan akan diakhiri. Dasar Acak dan Kadut, seolah-seolah serius menyimak isi petuah sang pejabat tapi ternyata malah bikin forum invisible sendiri dengan gantian menulis di buku agenda.


“ Itu beneran ya Kelurahan kita akan dinaikkan statusnya?” tulis Kadut pada agendanya dan digeserkan ke Acak.
Sambil tersenyum si Acak pun menuliskan jawabannya “weiiiii....kalo beneran, dijamin bakal banyak posisi jabatan baru lho”
“ Getuuuu ta?”
“Iyeee....setidaknya bakal ada 7 formasi untuk posisi pejabat. “
“ Wowowoooo...keren tuh”
“ Ya sudah, kamu mau pilih posisi yang mana, Dut?”
“ Kok jadi kamu yang mbagi-bagi ?”
“ Lha iyalah, aku kan baik hati dan suka berbagi tho?”
“ Kayak kue saja yang dengan mudah kamu bagi-bagikan sesukamu, Cak...”
“ Ya anggap sajah kayak kue, jadi dengan senang hati aku bagi-bagikan....”
“ Dasar semprul..”
“ Ciyus miapah?”
“ GeJe banget deh”
“ Ya malah jelas banget dunk, kan jelas-jelas guweh gak bakal mau jika dikasih mandat untuk jadi salah satu pejabat baru tersebut...”
“ Sombong banget...”
“ Ini bentuk Percaya diri Sob..” 

Debat kusir gak jelas juntrungannya dalam bentuk corat-coret agenda antara si Acak dan Kadut juga tetap berlanjut hingga rapat usai, hingga menarik perhatian si Rona yang duduk di sebelah Kadut.
“ Kalian tadi serius nulis apaan sih?” tanya Rona penasaran setalah keluar dari ruang rapat.
“ Itu tuh, Acak lagi nyleneh bin ajaib...masak jabatan dianggapnya kue terus dia pula yang mau bagi-bagi?”
“ Hehehehe...asyik kan?”
“ Ya kalau dikasihkan ke aku, ntar ta lelang sajah. Lumayan ntar kita bagi-bagi hasil lelang jabatannya ya...” sahut Kadut tak mau kalah PeDe Over dosisnya.
“ Huuuuu...dasar yang satu senewen, satunya songong kalian ya..?” ledek Rona sekenanya.
“ Nah, temannya orang senewen dan songong apa dunk?”
“ Tau ah...sudah sono bikin spanduk pasang di depan kantor: LELANG JABATAN “
Jelas-jelas gak nyambung dan tak ada tendensi apa-apa jika judulnya Bagi-Bagi Kue dan ending percakapan nglantur jadi Lelang Jabatan. Aselinya saya sih hanya memang pengen bagi-bagi kue, apalagi Hari Jum’at waktu yang sangat baik untuk banyak beramal kan?. Jadi  bagi yang mau, silahkan diambil tuh Kuenya di atas...ntar keburu basi lhoh... If You love somebody, let them go. For if they return, they’re always yours. And if they don’t, they never were ~ Khalil Gibran




Srikandi Blogger: Aktualisasi Perempuan di Era Digital

Bagi saya pribadi, mendengar dan tahu akan Sebutan atau istilah Srikandi Blogger baru pada Bulan April lalu. Beberapa jeda waktu sebelumnya saya memang harus berkompromi dulu untuk semi hiatus dari blogging dan aktifitas lainnya yang berkaitan dengan dunia maya. Memang tidak totally sign off dari internet karena aktifitas pekerjaan masih tetap membutuhkan untuk mengakses internet. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim mana kala saya kembali membuka pintu dunia maya alias mulai kembali bersimbiosis dengan internet kemudian mengintip “rumah” KEB atau Kumpulan Emak Blogger, saya pun terpana sekaligus terpaku kagum: Wouww ternyata sedang berlangsung ajang prestisius penghargaan Acer Srikandi Blogger 2013 untuk para blogger perempuan yang aktif, eksis, dan berprestasi, tidak hanya di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. spontan terbersit gelora hati untuk ikut berpartisipasi dan setelah mencari informasi lebih lengkap....taraaaa...ternyata tahap pemilihan Srikandi Blogger sudah memasuki Top Big 50!

Walau sempat ada sebersit rasa kecewa karena sudah tidak bisa ikut berpartisipasi, tapi sejujurnya saya salut dan respect banget dengan adanya Ajang penghargaan Acer Srikandi Blogger 2013 yang turut disponsori oleh RINSO tersebut. Sebuah event yang menjadi salah satu pembuktian jika di era digital ini, kaum perempuan mempunyai kesempatan emas untuk mengembangkan “building capability” dirinya, dengan tetap konsisten pada tugas utama di dalam keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Dengan terselenggaranya pemilihan Srikandi Blogger 2013 yang sukses telah mengukuhkan lima kategori ACER Srikandi Blogger 2013: Utama, Persahabatan, Inspiratif, terFavorit dan Lifetime Achievement.

Dengan adanya event inspiratif yang tergolong baru dan tentunya memotivasi banget khususnya buat para perempuan untuk akrab dan aktif dengan berbagai bentuk linkage di internet, saya berharap dan yakin efek pemilihan Srikandi Blogger akan membentuk gelombang yang bergerak dinamis dalam jangkauan yang luas dan di masa mendatang akan lebih besar memberikan output serta outcome untuk masyarakat secara luas. Pemilihan Srikandi Blogger berpotensi untuk menjadi salah satu mercusuar yang akan bisa membawa sinar terang untuk awake and aware bagi para perempuan di Indonesia terhadap daya magic internet yang luar biasa. 

Bukannya hendak berpresumtif skeptis atau mengecilkan populasi perempuan yang welcome pada perkembangan Ilmu pengetahuan dan Teknologi [IPTEK], khususnya terhadap internet. Dalam rangka mencoba ikut mengungkapkan opini dan pemahaman saya yang masih sederhana/sedikit tentang Srikandi Blogger, Aktualisasi Perempuan di Era Digital dengan memproyeksikan pada realitas seberapa intens para perempuan dalam menggunakan internet yang tak berbatas ruang, waktu dan ragam informasi yang up to date and profitable.

Jika ditanya, seberapa banyak kaum perempuan yang tahu dan bisa internetan? 
Sangat mungkin populasinya bisa mencapai minimal 60% [asumsi saya pribadi] dari total kaum wanita yang berstatus tinggal untuk Indonesia saja. Saya bisa menyebutkan angka demikian dengan batasan ruang lingkup: lha ponsel sekarang kan sudah pada lengkap dengan fitur internet tho? Jadi ya secara minimal, bisa mneggunakan HP tentu bisa login ke internet. Ya iya sih, tentu masih ada sekian % user HP yang fokus pada asas manfaat standar alat komunikasi: just for call and sms!

Tak bisa dihindari jika Internet yang maju sangat pesat telah banyak mengubah life style dan bergerak bebas tak kenal ruang, waktu, status social, usia, dan gender. Media social memungkinkan kita berinteraksi dengan siapa saja, darimana saja dan kapan saja. Peradaban umat manusia, dalam dinamikanya yang terus berkembang tentu tak bisa dilepaskan dari Internet sebagai salah satu produk perkembangan Teknologi. Era modernitas dengan berbagai aktifitas yang berjalan seiring dengan kemajuan IpTek dan kini membawa kita pada era digital. 

Menyikapi pesatnya perkembangan teknologi IT yang membawa kita pada era digital, idealnya memang diharapkan kaum perempuan pun bisa menjadi pengguna yang bijak dan optimal. Menutup diri dari perkembangan internet justru akan menjauhkan diri kita dari dinamika peradaban sehingga kita akan menjadi makhluk yang tergerus oleh evolusi alam, menjadi sosok yang kuper, tidak up to date, mundur kembali pada pola kehidupan manusia di gua. Kepak sayap internet yang menjelajah berbagai aspek kehidupan dan menghipnotis sejatinya justru menawarkan banyak kesempatan yang meringkas ruang dan waktu seingga kita bisa beraktualisasi di era digital ini secara efektif, optimal dan intens dalam berkarya dan berkreatifitas.

Memang suatu fenomena yang fantastis betapa mulai anak-anak hingga orang dewasa/tua yang familiar dengan internet demikian aktifnya menggunakan pada fragmentasi produk era digital: social network yang pesat berkembang berbagai jejaring sosial seperti: Facebook, twitter, Friendster, [bermacam-macam] Free Messenger and voice, dll. Dan aplikasi-aplikasi tersebut lebih dominan untuk communication tools: Mendekatkan yang jauh dan semoga makin mengakrabkan community yang sudah dekat.

Jika dilihat dari sudut pandang: pengembangan diri dan peningkatan kemampuan, masih ada satu sayap era digital yang saat ini masih dianggap exclusive alias media online yang secara penilaian umum kaum perempuan dianggap TIDAK User friendly yaitu: Nge-BLOGGER. Sehingga tak heran kalau aktifitas nge-Blog masih identik dengan dominasi cowok. Padahal para blogger laki-laki [yang saya kenal] rata-rata memiliki empati yang tinggi untuk mendukung blogger perempuan once step prgress by the time. Sebagai ilustrasi sederhana dan tidak jauh-jauh adalah lingkungan terdekat saya: 
  1. Komunitas teman kerja yang secara akademik dan fasilitas online cukup support. Dari 25 orang teman kerja saya [bergender perempuan], semuayan aktif sebagai user social networking dan bahkan dalam sehari bisa up date status lebih dari 10 kali dan rajin berkomentar untuk lingkaran komunitasnya. Dan yang punya Blog baru dua Orang. 
  2. Circle teman sekolah dan kuliah yang berpopulasi gender perempuan sekitar 60-70 orang dimana secara mayoritas juga melek internet dan aktif sebagai user socmed, namun yang sudah menjejakkan diri sebagai blogger baru 3 orang. 
  3. Dan yang paling dekat lagi, adalah lingkungan keluarga saya....baru saya dan seorang sepupu yang nge-blog ria. 
Pengambilan sample tersebut memang masih dalam lingkup mikro, sekedar sebagai ilustrasi betapa aktifitas nge-BLOG masih dianggap: asing, harus pintar menulis, perlu skill yang canggih IT dan jamaknya masih erat memegang stigma jika bikin blog dan mengelolanya itu sulit serta menyita waktu. Sehingga tertutupilah the amazing benefit side dari kegiatan nge-blog.

Terpilihnya para Acer Srikandi blogger 2013, semoga menjadi pelopor lahirnya para Srikandi Blogger berikutnya. Sehingga secara perlahan namun pasti akan menetralisir beragam opini yang kurang pro-aktif tersebut. Dengan demikian Srikandi Blogger bisa menjadi Aktualisasi Perempuan di Era digital secara lebih luas. Sejujurnya saya juga pernah berada pada pandora pola pikir dan paradigma tentang Blogging seperti yang masih banyak dialami para perempuan lainnya saat ini. Untuk rentang waku yang cukup lama: hampir dua tahun hasrat saya untuk nge-BLOG berada pada delay time karena pikiran-pikiran yang kurang cerdas di atas. Hingga di sekitar pertengahan 2009 saya berusaha menerjemahkan kalimat yang cukup sering saya dengar dan baca: Kapan saat yang tepat untuk melangkah adalah ya just take it start! 

Jika boleh saya pakai dogma just take it start maka tidak perlu menunggu dinobatkan untuk menjadi Srikandi Blogger dalam suatu ceremonial resmi bagi siapa saja perempuan yang hendak untuk beraktualitas di era digital. Juga tidak perlu menunggu memiliki variable diri yang high quality untuk MULAI mengambil peran menjadi seorang Srikandi Blogger. By learning and doing then while keep on practice “Write what we like and share it....” Hal-hal yang kita lihat, rasakan dan alami sehari-hari merupakan lautan ide yang bisa kita tuangkan dalam blog. Pada awal-awalnya mungkin kita masih “asal” menulis, BUT be sure semakin sering/banyak kita menulis akan mengasah pena hingga kita menemukan gaya menulis yang mencirikan stylish diri kita sendiri. 

Dan yakin saja, bisa jadi hal-hal yang kita tuliskan sepintas biasa saja, tapi manakala sudah masuk dalam mesin pencarian mbah gugel ternyata banyak di view oleh user internet yang memang sedang membutuhkan informasi terkait dengan tema tulisan kita. Semisal saja: seorang Emak2 Blogger berbagi curhatan saat menghadapi anak balitanya demam dengan menceritakan hal-hal apa saja yang dilakukan untuk mengantisipasinya.

Pengalaman para Emak2 Blogger saat menghadapi situasi sang buah hatinya sakit, bagaimana dalam situasi yang menegangkan, panik dan kuatir namun harus bisa di-tenang-kan agar bisa mencari solusi terbaik bagi sang anak, yang kemudian issued menjadi sebuah buku Diary Bunda: Ketika Buah Hati Sakit merupakan salah satu bukti konkrit jika aktifititas nge-blog adalah media yang efektif sebagai Aktualisasi Perempuan di Era Digital. Atau yang fresh from the oven: Selingan Semusim karya dari Mbak Alaika sang Acer Srikandi 2013 yang notabene juga press released dari Aktualisasi tulisan beliau di Blognya. 


Sepanjang kita berkomitment untuk jadi blogger dalam batas koridor yang tidak melewati kanan-kiri “marka jalan” norma agama dan susila, kemudian by process berusaha mensinergskan rekam jejak di jalur on line dengan kiprah di dunia nyata, maka aktif jadi Blogger dalam porsi nge-BLOG yang proporsional tentu bisa menjadikan aktifitas Blogging sebagai media aktualitas diri yang lebih optimal dari situs jejaring sosial lainnya karena lebih berpeluang untuk berbagi hikmah dan manfaat secara universal, karena:
  1. Membangun kesadaran bahwa menjadi blogger membuka kesempatan yang luas dalam MEMILIH dan MENCIPTAKAN informasi positif yang seiring perjalanan waktu bisa jadi media untuk Aktualisasi Perempuan di era digital. 
  2. Dengan mengambil peran menjadi Srikandi Blogger maka automatically menempa para emak2 blogger untuk Up to date sekaligus Up grade diri secara continu. 
  3. Blog adalah merupakan media sharing pengetahuan yang potensial untuk memperkaya wawasan, pengalaman, dan sumber informasi yang akan meningkatkan kemampuan pola pikir [kecerdasan spritual, intelektual dan emosional]. 
Sedangkan Aktualisasi saya sendiri semenjak ikut menjejakkan diri sebagai blogger [ala kadarnya], selain point-point tersebutkan di atas yang powerful sebagai landasan dalam berblogging ria, ada lagi yang saya pedomani yaitu nge-BLOG merupakan aktifitas yang memiliki kombinasi spektakuler: download dan upload. Jadi ada timbal balik yang bersifat dua –arah. Dan Saya pun lebih suka menganggap internet dalam konteks sebagai media aktualisasi diri yang incredible. Bahwa dengan karakeristik internet sebagai sumber informasi yang menjangkau seluruh dunia dengan beragam informasi yang bisa di akses secara cepat, mudah dan murah adalah sangat potensial jadi ‘literature’ yang bisa di download untuk melengkapi dan meng-akselerasi kehidupan sehari-hari di dunia nyata. 


Sebagai satu contoh konkrit tentang download, terkait dengan bidang pekerjaan saya di sektor perikanan adalah Pemberdayaan wanita nelayan agar bisa berKontribusi meningkatkan pendapatan keluarga dan mendukung usaha suaminya. Salah satu implementasi yang bisa dioptimalkan adalah Prinsip Pengolahan Ikan Tanpa Limbah. Untuk mengajarkan hal ini, tentu saya butuh ‘material’ yang akan lebih meringkas waktu, biaya, tenaga JIKA saya searching dan kemudian Download kan? Karena basically background saya bukan dari perikanan dan skill saya soal pengolahan ikan pun masih acak kadut. Untuk itu saya butuh back up yang up to date mengenai cara-cara pengolahan diversifikasi ikan yang baik dan benar berdasarkan Good manufacuring practice [GMP] dan dengan cara-cara pengolahan yang higienis [ SSOP= Standard sanitanition operation procedure] sehingga dihasilkan produk perikanan yang bermutu dengan value lebih tinggi dan mampu bersaing dipasaran. 

Untuk Aktualisasi diri di era digital dengan nge-blog dari arah upload adalah posting tulisan di blog tentang beragam tema tulisan. Pada awal-awalnya, tujuan saya publish tulisan di blog HANYA untuk dokumentasi untuk coretan tulisan acak kadut saya, sekaligus dalam memotivasi diri agar lebih semangat mengasah kemampuan menulis. Lha kalau tulisan kita ada yang mbaca, kemudian ada yang mau ngasih komentar tentunya sebuah euforia kebahagiaan tersendiri bukan? Hingga one day dari sebuah kontes menulis saya mendapatkan voucher penerbitan buku[tidak bisa ditukarkan dengan jenis lainnya] yang berbatas waktu, jadi sayang banget jika saya tidak memanfaatkannya. 

Aktif Blogging; Aktif menulis; Menulis itu Tidak sulit
Book of My Blog: Mozaik Kinanthi
Jika saya bertanya pada diri sendiri, apakah seorang Ririe ini sudah layak untuk menerbitkan sebuah buku berkualitas? Sejujurnya saya jawab: sangat belum. Akan tetapi jika saya menunggu dan menunggu sampai skill writing masuk kategori ELIGIBLE, maka sangat mungkin saya tak akan pernah menerbitkan sebuah buku apapun!. Berpegang dan Beralibi pada impian masa remaja bahwa saya ingin bisa menerbitkan buku dan Man Jadda Wa jadda...Alhasil, saya pun memilih dan memilah Upload postingan-postingan di blog plus beberapa soft file tulisan yang tersimpan di notebook. Then, jadilah MOZAIK KINANTHI dengan 3 kategori: fiksi, artikel dan puisi. 

After all, mengambil peran sebagai Srikandi Blogger merupakan Aktualisasi perempuan di era digital yang memiliki kelebihan tingkat kecepatan dan penggunaanya yang besifat flexible akan membuka peluang untuk achievement diri sebagai diri sendiri, istri, ibu dan anggota masyarakat. Menjadi Srikandi Blogger menawarkan beragam pilihan untuk meningkatkan aktualitas diri secara lebih global tanpa batasan ruang, waktu, dengan low budget dan mestinya sih tidak mengganggu tugas dan peran kodrati perempuan. Maka salah satu parameter yang bisa dijadikan tolok ukur suksesnya Srikandi Blogger:

Aktualitas perempuan di era digital manakala kediriannya sebagai seorang perempuan tetap memberikan performance prima sebagai seorang ibu rumah tangga yang bisa membawa suami ke tempat terbaiknya, bisa membawa anaknya meraih prestasi terbaik yang bisa diraih anak-anaknya, dan bisa terus mengayomi keluarganya di posisi terbaik dalam kondisi yang ada tanpa kehilangan jati diri dan eksistensinya. 



Notes: Alhamdulillah dinyatakan sebagai pemenang untuk Harapan I di http://emak2blogger.web.id/2013/05/21/pengumuman-pemenang-lomba-menulis-blog-acer-srikandi-blogger-2013/


Kata, Berkatalah.....

Sementara gempita Asean Blogger 2013 sedang berlangsung dan saia sedang berada di Sleman yang berada dalam durasi sekira 2 jam perjalanan untuk sampai Solo namun karena beberapa alasan sehingga mencukupkan diri sambil mlongo mbaca apdet twitter yang so excited. Meski gak bisa ikutan mengisi daftar absen di ajang ABFI 2013 Bismillahirrahmaanirrahiim maka tetap hepi blogging dunk.

Sementara waktu berdetak dengan layar terkembang yang tak memiliki sauh untuk dikayuh kembali menuju lintasan masa yang telah ditapaki. Lalu Aku, sebuah buku yang berisi kumpulan Puisi karya Radhar Panca Dahana menemani dan membuat ingin menculik beberapa [banyak] kalimat yang memesona rasa saya. Maka serangkaian tulisan ini merupakan kompilasi yang saya ambil dari buku Lalu Aku:

Tak ada TETAPI saat kita hidup dalam saat.
Manusia senantiasa merasa memiliki daya untuk mencipta dan melenyapkan,
sementara ia sesungguhnya tercipta dan terlenyapkan
Bagaimana yang tercipta mencipta, yang terlenyap melenyapkan?
Sesungguhnya semua hanya permainan, yang kita rekayasa sendiri
Kita ciptakan dengan daya cipta sederhana, sementara dan fluktuatif belaka

Kita pun hidup lebih dari sekedar menghidupi dan dihidupi simulacra
atau selimut yang kian tebal menutup kenyataan kita sendiri
Namun  kita sesungguhnya hidup dalam dunia dan alam yang menipu kita karena kita telah menipunya sejak lama

Manusia untuk pertama kalinya telah mengubur dirinya sendiri, dengan sengaja, walau ia tak menyadarinya
Ia telah kehilangan dirinya sendiri, hingga alam tak mengenalinya, begitupun ia tak mengenali semesta sebagaimana yang ia selalu duga sebaliknya
Waktu pun memusuhinya
Cinta tak lagi memercayainya

Manusia adalah onggokan tanah yang kemarau,
bertempur senantiasa untuk merebut daratan dimana ia bisa berdiam,
mencari hujan dimana ia tubuhnya bisa disuburkan
Tapi hanya kata-kata, hanya kata-kata ia temukan,
Tempat dimana diri-sejarahnya justru dikuburkan

Maka, kata harus ditemukan kembali
Kata harus menemukan dirinya,
yang tak lain menemukan manusia yang telah meninggalkan dan ia tinggalkan
Maka, berkatalah...
Bukan hanya untuk mengerti tapi untuk menjadi
Susunlah kata-kata hingga ia menjadi hidup yang berwaktu dan bercinta
Sebagaimana sejarah waktu ada padamu,
Sejarah cinta membentukmu



Dan kebetulan saya ingin kata, berkatalah menulis:
keyakinan pun adanya di dalam lubuk hati, tak jarang jauh dari pembuktian verbal – non verbal #gakapahepilognyanglanturlagi

Teknologi Hijau Untuk keseimbangan Lingkungan [Lagi]

Prolog: Isu Go Green dan beragam terobosan sektor industri dan manufaktur yang mengedepankan Teknologi Hijau, sebenarnya BUKAN sekedar trik dagang atau sebagai bentuk strategi marketing untuk meningkatkan penjualan dan memperbesar ratio keuntungan. Ya iya sih, Bismillahirrahmaanirrahiim dimana-mana kalau sudah masuk ranah jual-beli/dunia usaha maka hukum ekonomi: Low budget for high profit jadi acuan dalam berproses produksi. Maka opsi Teknologi Hijau merupakan salah satu bentuk meningkatnya keperdulian setiap elemen masyarakat dan sektor industri untuk menjaga keseimbangan alam serta keberlangsungan hidup dengan lingkungan yang sehat. 

Dalam lima dasawarsa terakhir, perkembangan zaman dan perkembangan teknologi berdampak nyata pada life style masyarakat khususnya warga metropolitan.  Peningkatan pembangunan pada berbagai sektor ekonomi memang mendukung ke arah perbaikan kualitas hidup tetapi juga TIDAK BISA diabaikan jika telah menimbulkan dampak negative. Salah satu dampak negative yang muncul dari hubungan timbal balik antara perkembangan teknologi dan peningkatan jumlah penduduk, fenomena urbanisasi yang tidak mengendur hingga sekarang serta peningkatan pendapatan yaitu “terganggunya” kesetimbangan CO2 atau terjadinya Pemanasan Global.

Bagaimanakah kesetimbangan CO2 bisa terganggu?
Secara natural, keberadaan CO2 di alam semesta ini dihasilkan oleh semua makhluk hidup mulai yang bersel tunggal hingga homo sapiens alias manusia dari proses respirasinya. Zat yang berfasa gas ini berada di atmosfir mengemban peran penting dalam efek rumah kaca karena kemampuannya menyerap sinar inframerah. Seperti diketahui konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer bumi sebesar 385 ppm [berbasis volume] atau 582 ppm [berbasis massa]. Namun kondisi alamiah gas CO2 mengalami perubahan dalam konteks peningkatan jumlah yang melebihi batas optimum kurva equilibriumnya seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi, peradaban serta gaya hidup, yang lebih kita kenal dengan istilah Global Warning atau pemanasan Global. Kenaikan emisi CO2 di tahun 2011 melampaui rata-rata kenaikan dalam 10 tahun terakhir yang yaitu sebesar 2,7%. Emisi CO2 untuk wilayah Indonesia khususnya pada tahun 2011  lalu mengalami kenaikan yang “mengagumkan” [baca: mengerikan!] yaitu sebesar 210% dibandingkan dengan sepuluh tahun lalu. Secara hitungan per kapita, Emisi CO2 di Indonesia pada tahun 2011juga naik 122% [2 ton emisi CO2/penduduk] dari tahun 1990 yang masih berada pada level 0,9 ton emisi CO2/penduduk pada.
Lalu lintas padat: Ruas Jalan Raya Jogya - Solo
Secara singkat, menurut saya peningkatan jumlah emisi CO2 disebabkan oleh tiga faktor utama: pertambahan jumlah penduduk, perkembangan teknologi, kemudian mengantarkan manusia pada perubahan pola hidup sehari-harinya sehingga secara significant telah menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah gas CO2 secara dramatis, antara lain dari:
  1. Sarana transportasi kendaraan bermotor [sepeda motor dan mobil] melonjak tajam, padahal kita tahu nyaris semua kendaraan bermotor menggunakan BBM: premix, premium dan solar yangberpotensi menghasilkan emisi karbondioksia.
  2. Sektor industri dan manufaktur juga merupakan produsen utama CO2.
  3. Kebutuhan akan penerangan yang menghadirkan teknologi pembangkit listrik yang menggunakan bahan bakar fosil yaitu Batu bara yang menghasilkan CO2 paling banyak dibandingkan gas alam dan minyak.
  4. Tingkat Mobilitas yang semakin high speed sehingga kebutuhan akan pesawat terbang tak terelakkan dimana diperkirakan pesawat terbang penyumbang pemanasan Global sebanyak 3,5% dan diprediksikan akan meningkat  menjadi 15% di tahun 2050.
  5. Penyempitan lahan serta perkembangan construction engineering yang menghasilkan tanaman beton di berbagai kota metroplitan yaitu berupa gedung bertingkat dimana struktur gedung bertingkat berpotensi untuk menyumbangkan 12% emisi CO2. 
Dan mengapa pula “terganggunya” kesetimbangan CO2 menjadi BIG PROBLEM seluruh penghuni planet bumi ini? Sehingga membutuhkan tindakan konkrit untuk mengupayakan kondisi CO2 kembali mendekati [idealnya harus bisa] seimbang lagi?
Flashback sedikit tentang definisi pemanasan Global yaitu kondisi meningkatnya suhu permukaan bumi yang disebabkan oleh menumpuknya gas-gas yang menimbulkan efek rumah kaca di lapisan atmosfir bumi. Hal ini akan mengakibatkan panas bumi tertahan di lapisan bawah atmosfir, yang pada gilirannya bisa menyebabkan naiknya suhu bumi. Terjadinya pemanasan Global merupakan ancaman yang lebih serius dari masa perang dingin bagi umat manusia karena:
  1. Akan terjadi perubahan iklim sehingga memicu mencairnya: glacier di enam benua, lautan es di Kutub Utara dan Kutub Selatan, tidak ketinggalan juga lapisan es serta gletser di puncak-puncak gunung ikut-ikutan mencair.
  2. Mencairnya glacier dan lapisan-lapisan es di puncak gunung tentunya akan mengakibatkan naiknya permukaan laut menimbulkan banjir di daerah-daerah yang berbatasan dengan pantai [akibat permukaan laut yang pasang]
  3. Fenomena badai yang menghancurkan muncul silih berganti dan kekeringan yang melanda pertanian di mana-mana menyebabkan persediaan makanan dan air minum di dunia semakin menipis.
  4. Menyebarnya penyakit tropis ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak pernah dijangkiti dengan tingkat keganasan yang semakin tinggi dan meningkatnya orang yang terkena penyakit kanker dan aneka jenis penyakit lainnya yang mencakup area semakin luas.
  5. Dan dampak lainnya yang sangat mungkin segera menyusul adalah berkurangnya keaneka-ragaman hayati dan punahnya beberapa spesies satwa karena perubahan musim, siklus kehidupan, waktu migrasi, berkurangnya daerah jelajah serta berkurangnya persediaan makanan mereka. 

SEANDAINYA pertambahan jumlah emisi CO2 mengikuti persamaan linearitas, maka proses fotosintesa sebagai recycle chain alamiah tentunya akan mampu menguraikan gas CO2 menjadi eleman yang bermanfaat bagi kehidupan di semesta ini. Seperti kita ketahui bahwa gula dan oksigen yang dibutuhkan tumbuhan sebagai makanannya, diolah dengan reaksi fotosintesa dimana 6 molekul air dan 6 molekul gas CO2 dengan bantuan sinar matahari akan menghasilkan 1 molekul glukosa dan 6 molekul Oksigen [yang dibutuhkan untuk bernafas manusia dan binantang serta makhluk hidup lainnya], seperti terlihat dalam persamaan reaksi: 
6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 [glukosa] + 6O2

Kenyataannya proses recycle chain terhadap emisi CO2 pada perkembangannya mengalami ketidakseimbangan karena jumlah gas CO2 melampui hukum kesetimbangan stokiometri karena produksi emisi CO2  dewasa ini berubah mengikuti persamaan Regresi Linear Berganda dimana variabel bebasnya adalah: berbagai aktifitas akibat pertambahan jumlah penduduk, perkembangan teknologi, kemudian mengantarkan manusia pada perubahan pola hidup sehari-harinya [tersebut diatas] dan dikomplekskan lagi dengan Penggundulan hutan.  Dengan berkurangnya area hutan maka semakin banyak gas emisi CO2 yang tak terserap sehingga memenuhi atmosfir bumi.

Green Techno sebagai salah satu solusi untuk mengurangi Global Warning
Rangkaian sebab dan akibat yang relatif sederhana menurut pemahaman saya di atas cukup menunjukkan betapa serius dan kritisnya kondisi pemanasan global yang terjadi  dan tentunya harus segera dicarikan solusi untuk mengatasinya. Tentunya telah disadari bahwa salah satu kontributor  yang cukup besar menyuplai emisi CO2 adalah kendaraan bermotor [sepeda motor dan mobil] yang sudah mencapai titik mengkhawatirkan terutama dikota-kota besar.

Jika Gubernur DKI Jakarta Bapak Joko Wi telah memutuskan untuk segera merealisasikan pembangungan Light rail Transit/trem untuk jalur Kelapa Gading – Kebayoran Lama. Dan Pemkot Surabaya dengan tegas menolak pembangunan tol dalam kota yang dianggap TIDAK EFEKTIF menekan kemacetan, Justru menambah jumlah kendaraan pribadi dan pastinya pemborosan BBM. Dan Sang walikota Surabaya pun lebih PeDe memilih menghidupkan kembali moda transportasi massal monorel dan trem yang nge-trend pada masa Belanda – akhir 1950an. Grand strategy yang hendak dicapai oleh kedua kota metropolitan tersebut tentu setipe: menguraikan jalur kemacetan

Grand strategy dari kebijakan yang diambil oleh pemerintahan DKI Jakarta dan Pemkot Surabaya, secara simultan memang bisa juga menekan laju emisi CO2. Dan sedikit menelisik dan mencoba memahami [alasan baik] yang diambil oleh manajemen Daihatsu yang melaunching mobil dengan desain mesin Teknologi Hijau tentunya terobosan ini merupakan langkah sinergis dan straight to the point untuk mengurangi pertambahan emisi  CO2. Dari data statistik diketahui bahwa pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia berkisar 8-12% pertahun dimana sebagian besar menggunakan BBM berupa Premix, Premium atau Solar. Angka peningkatan sebesar itu cukup potensial dari tahun ke tahun mengakibatkan terjadi penurunan kualitas udara  yang diakibatkan gas buang yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor tersebut.
 Skema dari Daihatsu
Jadi sungguh langkah alternatif yang efektif jika Daihatsu akhirnya memutuskan untuk memproduksi jenis mobil dengan mesin Teknologi Hijau yang diharapkan bisa ramah lingkungan karena konstruksinya meliputi tiga tahapan, yaitu: 
  1. Tahap pertama disebut dengan “Eco-Idle” yang bertujuan untuk meminimalkan pemakaian BBM . Sistem teknologi ini mampu mengatur hidup dan mati mesin secara otomatis dalam keadaan macet untuk mencapai efisiensi konsumsi bahan bakar. Dengan sistem i-EGR, mesin mampu menghasilkan pembakaran sempurna dan mengeluarkan gas karbon dioksida atau CO2.
  2. Pada tahap kedua, dimana Daihatsu melanjutkan dengan pemakaian mesin 2 silinder turbocharged. Dengan penggunaan mesin 2 silinder turbocharge ini diklaim bobot jantung pacu lebih ringan lantaran pemakaian komponen lebih sedikit. Ditunjang dengan “active ignition system” dan berbagai pengembangan lainnya, efisiensi bahan bakar bisa mencapai 30% sehingga mendukung kelestarian sumber daya alam.
  3.  Tahap ketiga adalah penggunaan Precious Metal Free Liquid Feed Fuel Cell (PMfLFC). Pada tahap ini, emisi gas buang CO2 nol sehingga tidak berbahaya bagi manusia, hewan, tumbuhan dan lingkungan sekitar guna mewujudkan kendaraan yang ramah lingkungan. Jadi, Bahan dari sumber daya alam terdapat pada kendaraan, sehingga biaya yang dikeluarkan oleh pemilik kendaraan lebih rendah.
Selain pendesainan beberapa tahap teknologi hijau yang ada di mobil Daihatsu tersebut, produsen kendaraan bermotor ini juga fokus pada penggunaan bahan bakar cair baru yaitu Hidrazin Hidrat yaitu zat yang memiliki kepadatan energi yang tinggi dan tidak menghasilkan CO2. Dengan serangkaian inovasi pada mesin mobil dan sistem produksi yang Simple, Slim and Compact yang dilakukan oleh Daihatsu sehingga sangat compatible untuk mobil ramah lingkungan generasi baru.

Dan adakah yang bisa kita [termasuk saya sendiri] lakukan dalam rangka ambil bagian [meski tak seberapa] untuk mengatasi masalah besar ini?

Yuuukk, Nggowes rame-rame........
Pemanasan Global sudah memasuki status bahaya super serius yang harus segera diatasi secara kolektif oleh semua elemen masyarakat dan dilakukan secara comprehensive, mulai dari kebiasaan sehari-hari antara lain:
  • Frekuensi car free day yang saat ini baru diprogramkan pada hari minggu, sudah saatnya ditambah kuota harinya yaitu selain hari libur dengan penggunaan sepeda untuk berangkat-pulang aktifitas [pada jarak tempuh tertentu].
  • Untuk pergi ke suatu tempat yang tidak terlalu jauh jaraknya, misalnya beli sarapan atau ke warung beli beras bisa tuh berjalan kaki atau naik sepeda, bisa untuk olah raga  sekaligus bentuk kepedulian dalam menyelamatkan lingkungan kan?
  • Sedapat mungkin gunakan kendaraan umum, seperti saya tuh kalau mudik naik bis. Dan kalau ada acara kantor ke luar kota ya gunakan saja mobil secara bersamaan, jadi gak bawa mobil sendiri-sendiri deh #aselinya saia memang gak punya mobil.
  • Untuk antar jemput anak sekolah, jangan kuatir untuk membiasakan anak ikut program antar jemput sehingga bisa juga melatih anak bersosialisasi dan bertoleransi dengan komunitas teman sebaya yang lebih divergen.
  • Memanaskan kendaraan bermotor [sebelum digunakan] bisa dong di setel jangan lama-lama kayak saya tiap pagi sebelum berangkat kerja, kira-kira + 1-2 menit cukupdeh. Jika kelamaan kan bisa bikin keributan sehingga mengganggu ketentraman tetangga dan lebih dari itu merupakan pemborosan BBM yang sekaligus menyumbang jumlah gas CO2.
  • Jika hendak beli mobil pribadi, jangan lupa untuk menetapkan kriteria utama pada jenis MOBIL yang mesinnya sudah berTEKNOLOGI HIJAU

DAN tentunya masih banyak hal-hal lain [pemakaian peralatan rumah tangga, gadget, listrik, dll] yang bisa kita lakukan dalam rangka Go Green to save the earth. Setiap diri, tiap anggota keluarga dan masyarakat memiliki kemampuan dan kesempatan untuk berperan aktif dengan caranya masing-masing serta melalui hal-hal sederhana yang selama ini kita abaikan padahal sebenarnya berkontribusi dalam rangka menanggulangi perubahan iklim global. Sebuah perubahan besar [yang baik] terjadi dari rangkaian hal-hal yang kecil....So, Let’s Go Green! 


References:

1.       http://www.daihatsu.co.id/

2.       http://id.wikipedia.org/

3.       http://www.gomuda.com/