WHAT'S NEW?
Loading...

[Dilema] Selingan Semusim

Hampir semua orang punya dilema, menghadapi dilema, harus menyikapi dilema. Ketika kenyataan menghampirkan pilihan [lebih dari satu option], saat kita harus mengambil sebuah keputusan....kala itulah perlu menghadirkan pertimbangan-pertimbangan yang related dan tentunya akan dipilih yang high valueable. Hukum ekonomi secara tidak langsung pun akan mengmabil peranan, minimize the risk for high benefit. Walahhh....kok jadi nglantur kemana ini ya? Bismillahirrahmaanirrahiimini serius BUKAN tentang Dilema [Saia] yang just married dan menjalani pernikahan secara LDR lho? Dan ini tentang A little bitDilema Mbak Alaika saat hendak rilis Novel Semusim.

Yups, not big problem melainkan sebuah pertimbangan yang smart serta wise dari beliau dalam rangka go green and save the earth, sehingga Mbak Alberkeputusan mengambil langkah ”menghematpenggunaankertas”. Then here GO green shoud GO ON, Mbak Al akhirnya memutuskan kalau Novel Selingan Semusim TIDAK di wrapping dengan plastik, melainkan di bendel dengan kertas yang fungsinya bisa digunakan untuk PEMBATAS BUKU....SO, great option isn’t it????


Dan kabar bergembira berikutnya, Saia yang diberi kesempatan untuk menjadi Salah satu penulis endorsement Selingan semusim ehh...maksud saya Novel Selingan Semusim-nya sudah publish. Terus hebohnya lagiiii...saya gak perlu beli karena semua penulis endorsement-nya dikasih FREE! Ups....gak boleh ngiri yaa, beli saja deh gpp banget kok. Wong cara belinya mudah, gampang, gak pakai ribet, intinya promo neh. Hayyooo..siapa yang sudah penasaran kayak gemana seh isi Selingan semusim, seperti apa lika-liku emosional dan intrik yang muncul dalam rangkaian cerita Cinta Segitiga?Buruan deh order Novelnya yaa...ini neh caranya:

Bagi yang berminatuntukmemilikiSelinganSemusim, silahkanmelakukanpemesananlangsungkealamat email:smartgarden3@gmail.com atau admin@alaikaabdullah.com

YM ; alaika_abdullah@yahoo.com
harga: @Rp. 38.500 [belumtermasukongkir]

Nah kan, gak pake sulit dan gak pakai njlimet lah jika ingin membeli Selingan Semusim. Kalau mau nitip beli ke Saya juga bisa #begaya pinter jualan! Lha padahal Buku Mozaik Kinanthi saja masih mandeg pemasarannya. Makanya saya saluut dan kagum dengan langkah promosi, pemasaran dan marketing yang dilakukan Mbak AL. Sejujurnya saya mengakui, strategi pemasaran/marketing yang ditempuh Mbak AL Maknyuss....semoga Novel Selingan Semusimnya laris manis dan bisa nular jugak dengan Mozaik Kinanthi...#Mauuuuuunyaa [bangetsss].


Logo Liga Blogger Indonesia

Liga Blogger Indonesia atau yang lebih tenar dengan sebutan cantik LBI yang sejak tahun 2012 menggelar kompetiblog yang sifatnya mirip-mirip kayak Liga-nya Sepak bola gettu deh. Jadi ada divisi-divisi, untuk tahun 2013 ini dibentuk 2 divisi yaitu Divisi Utama dan Divisi Satu. Bismillahirrahmaanirrahiim keikutsertaan saya pun secara tidak sengaja banget. Sekira 3 bulan lalu saat saya dalam OTW mudik dan spending time ngrumpi YM-an sama Una, dia ngasih tau kalau ada Liga Blogger sekaligus baiknya si Untje yang bersedia untup ndaptari Eike tuh. Pas ndaptar aseli gak ngerti bakal kayak gimana tuh isi kompetisinya. Sekilas info yang bisa diberikan oleh Una sih kompetisi berlangsung selama 3 bulan, seperti apa mekanisme dan detailnya, totally blank.

Ternyata kompetisi diawali dengan pembentukan divisi, dan saya sukses masuk divisi satu arena pada tantangan perdana missed gak bikin postingan. Tapi syukur banget deh, kan jadinya saya sama Una tidak berada dalam satu divisi tuh. Maklum, keder plus ngeper jugak kalau satu divisi sama Una. Dan akhirnya kompetisi pun berlangsung dengan aturan main para peserta Liga Blogger diminta membuat 3 postingan di setiap minggunya dengan ketentuan: 2 postingan bertema bebas plus 1 postingan temanya ditentukan. SO, jadi makin paham kan kenapa dalam kurun 3 bulan ini ada tema postingan yang sama dengan Una dan para blogger lainnya [yang tergabung dalam LBI].



Dengan terjebak ikut LBI ini, bagus banget efeknya karena bisa jadi semacam TANTANGAN untuk keep writting in any condition! Salah satu buktinya, bahkan di rush moment persiapan menikah pun saya berusaha tetap bikin postingan. Some how and no matter what happen, saya usahakan untuk memenuhi aturan main LBI: 3 postingan tiap minggu. Sampai-sampai saat Una, Mbak AL dan Mas Stumon nanyak tentang persiapan menikah sudah sampai mana, jawaban saya: Iya neh, bikin tulisan terjadwal di blog buat persiapan untuk di moment hari H. Hehehhee...konyol bin ajaib kan? Dimana-mana orang menikah heboh prepare untuk pernikahannya, lha saya malah heboh gimana caranya bisa stabil bikin postingan. Termasuk saat minggu ini mendadak kecopetan [my lovely] netbook dan harus long trip ke Jakarta dan lanjut ke Yogyakarta, dibela-belain deh published ke warnet. Lha terlanjur nyemplung ikut LBI harus dijabanin sampai akhir musim dunk. 

Eh, kok keluar topik ya? Pekan ini adalah yang kedua belas yang artinya pekan terakhir untuk musim kompetisi LBI. Dan tantangan temanya kali ini adalah membuat definisi, artian dan atau pemaknaan untuk Logo Liga Blogger Indonesia. Gak sulit sih sebenarnya, hanya saja saya yang gak pinter bikin tafsir mimpi Logo/lambang/simbol. Lha nama sendiri, saya gak paham tuh ada maknanya apah? #koplakkkk. Namanya tantangan jika tidak dihadapi kan gak afdhol banget tho? Kata simbah, bisa dibilang pengecut kalau lari dari tantangan [baik]. Jadi inilah makna Logo Liga Blogger Indonesia versi Ririe Khayan. Hanya ada dua center view yang bisa saya jabarkan dari Logo LBI, yaitu: 

Warna Biru yang memiliki arti perdamaian dan kedamaian, maka menurut saya dengan pemilihan warna biru tersebut LBI sebagai ajang komunitas blogger [semarang] secara visioner ingin membawa pesan perdamaian dan kedamaian khususnya dalam blogsphere dan dalam kehidupan nyata meluas secara universal. 
Bentuk Lingkaran pada Logo LBI melambangkan unity, union, uniform yang artinya keberadaan LBI diharapkan bisa membawa memperkuat kesatuan sesama blogger apapun latar belakangnya pendidikannya, gendernya, asal-usulnya, religi serta status sosialnya, sesama blogger harus solid dan bersatu dalam rangka muwujudkan komunitas yang membawa visi perdamain. 

Demikian pemaknaan dan pendefinisian sederhana untuk Logo Liga Blogger Indonesia versi Saia, semoga existensi LBI stabil dan semakin dinamis di masa-masa mendatang. Keep Happy Blogging for all...#Really wish sooner will do blogging and other activity in blogsphere in normally [like before]



Kecopetan [My lovely] netbook

Konon “pengalaman adalah guru yang terbaik” dan [idealnya] jangan sampai mengalami terjatuh pada lubang yang sama dua kali? Dan Bismillahirrahmaanirrahiim ini entah apa namanya? Apakah Saya yang TIDAK belajar dari pengalamankah? Atau kok kebangetannya saia sampai terulang lagi jadi “korban” aksi pencopetan dalam perjalanan [di bis]?. Just Short review, sebenarnya saya sudah mengalami kecopetan empat kali selama menjalani rute [rutin] ke arah Banyuwangi. Dua kali HP raib sukses dari dalam tas, sekali dompet amblas, dan kemudan nyaris kecopetan yaitu tas yang khas saya pakai kalau jalan-jalan sudah berhasil di silet [sampai 4 siletan] tapi karena memang di dalamnya hanya saya isi koin plus air mineral jadi untuk peristiwa yang ke-empat hanya korban tas jadi robek-robek.

Ketika saya mengalami kecopetan dompet, deeply I Hope this the last stolen I had to through it! No more stolen! Kehilangan dompet sudah bikin saya puyeng, Renew ID card, ATM, SIM dan pas sesi ganti STNK yang prosedurnya lumayan ruwet dan bikin BeTe. Lagi pula, pastinya gak orang yang mau ngalamin bad experience berulang kali kan?

Kenyataanya, Saya mengalami lagi jadi korban aksi pencopetan dan kali ini Kecopetan [My lovely] netbook saat perjalanan menuju ke Banyuwangi pada dini hari senin kemarin [ 25 Maret 2013]. Tak ada firasat apa-apa sebelumnya, dari Yogyakarta saya dengan tenang naik Bis Akas yang notabene reputasinya sangat baik: aman dan nyaman dengan kru yang care dengan para penumpangnya. Selama ini jika saya hendak nge-trip ke Yogya ya tinggal sms ke salah satu kondekturnya untuk pesan kursi sehingga bisa mendapatkan posisi duduk yang sesuai keinginan hati.
 
Very-very limited editon!
Awalnya saya duduk agak di belakang di dekat jendela [favort saya kalau di bis agar bisa menikmat pemandangan selama diperjalanan]. Ketika sampai Solo sang kondektur menawari saya duduk di kursi paling depan [karena ada sepasang suami istri yang minta duduk berdampingan], buat saya gak masalah memberkan kesempatan suam istri untuk bersama dalam perjalanan, toh saya sendirian kan lebih flexible. Selama perjalanan pun saya merasa so far so fine [meski ibu yang duduk di sebelah saya bawaannya banyak sehingga kaki saya susah bergerak], lha mau pindah kemana wong bis full penumpang.

Perjalanan pun lancer, berhenti sebentar di Probolinggo untuk memberikan kesempatan istrahat, ke kamar kecil serta sholat. Ketika melewat jalur Lumajang saya berusaha terjaga dan waspada karena beberapa kali peristiwa kecopetan kerap terjadi di sepanjang jalur itu. Seperti saya blang jika sebenarnya Kru bis sudah melakukan tindakan preventive dengan tidak menaikkan penumpang di sepanjang jalan, terutama lagi untuk penampakan-penampakan pelaku pencopetan yang sudah dikenalinya, sang sopir akan tegas tancap gas jika ada “penumpang” itu nyegat di jalan.

Sesampai di Jember, hampir separuh penumpang yang turun dan saya lihat di deretan kedua ada kursi yang kosong. Pertimbangan praktis saya, mending saya pindah agar bisa duduk lebih nyaman. Toh rute Lumajang sudah terlewati dengan aman, hingga saya pun tertidur. Belum ada sejam ketduran, saya mendengar suara penumpang dari belakang yang histers karena laptopnya hilang, ada juga yang HPnya hilang. Langsung saya ngat jika saya juga menympan netbook dalam tas ransel dan Innalillahi wa inna Ilahi Roji’un, antara percaya dan shock: Kecopetan [My lovely] netbook pun menimpa saya! Saya tak bisa lagi menggambarkan perasaan saya, ingin menangis, teriak, entah apalagi. Suami pun kaget ketika saya beritahu karena belum genap sejam sebelumnya saya masih menjawab smsnya.
 
I missed this moment: do write with my lovely netbook
Peristwa kehlangan, secara materi lebih mudah di over come. Yang paling bikin shock adalah: data, dokumen[termasuk dokumentasi mbolang saya selama hampir dua tahun belakangan ini] belum ada back up-nya. Rencananya beberapa waktu ini saya hendak bel external hardisk untuk back up data tapi malah netbook raib duluan. Apalgi jika ingat draft/konsep tulisan saya untuk bikin novel [nanti] serta dokumentasi pernikahan dari camera digital yang sudah yang moved semuanya ke netbook? Penegnnya saya bikin postngan khusus untuk My Great moment setelah semua dokumentasi terkumpul, lha malah yang dari camdig hilang?

Beberapa instropeksi diri: Saya yang terlalu over convidence, saya yang mungkin tidak belajar dari pengalaman sehingga harus mengalami Kecopetan [My lovely] netbook. Saya khilaf bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman dimana pun kita berada, lha di rumah saja masih ada kemungkinan terjadi pencurian atau tndakan krminal lainnya? Apalagi di perjalanan yang peluang terjadnya tindak kejahatan justru lebih besar! Dan fnally, seberapa dalam saya ‘teraduk’ oleh peristiwa ini…by hours saya harus menata hati, mengendapkan emosi untuk berusaha ikhlas.

Barang yang sudah hilang, pilihan terbaik ya harus diikhlaskan Dind.. Meratap dan berlarut-larut dalam kesedihan justru akan menjadi kerugian yang berlipat. “ demikian hibur suami saya “ Kalau mau menangis ya menangis saja ndak pa-pa kok…InsyaAllah setelahnya akan bisa lebih lega dan bisa menerima kejadian itu dan semoga diberikan ganti yang lebih baik oleh NYA

Sebenarnya saya ingin menangis, tapi kok ya gak bisa menangis ya? InsyaAllah beberapa jam setelahnya, saya sudah bisa mulai menerima It already happen….tapi boleh dunk saya tetap optmis dan berharap ada keajaiban untuk kecopetan kali ini yaitu ALLAH SWT mengijinkan saya with some how terutama data-data dalam netbook bisa saya dapatkan kembali. Aamiin:).

Just wondering, pernahkan para pencopet itu untuk sekali saja memposisikan ANDAI dirinya yang jadi korban kecopetan barang-barang berharga/pentingnya raib diambil orang? Sekali lagi, tidak ada tempat yang benar-benar aman dimana pun kita berada…take care always as usually lho ya? Jangan over take care bisa over reacting nantinya…



# Bismillah, Menyempatkan sharing cerita jelang perjalanan ke Jakarta



Hari Musik Nasional

Musik dengan aneka ragam dan alirannya, sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari kita dan merupakan salah satu industri yang mengalami perkembangan dengan cepat. Bahkan Bismillahirrahmaanirrahiim jenis musik tertentu [misalnya musik classic] digunakan sebagai sarana/alat bantu yang bisa menunjang perkembangan kecerdasan bagi anak. Saya sendiri suka musik, tepatnya mendengarkan lagu-lagu disela-sela aktifitas sejak di SD kala jaman Radio masih menggunakan dry cell yang lebih familiar dengan sebutan battery. Manakala energi dry cell mendekati habis, untuk memperpanjangnya [dalam rangka agar radio still turn ON] ada dua cara “cerdas” yang biasa kami [saya dan saudara] lakukan, yaitu: dijemur dibawah sinar matahari dan atau dipanggang diatas tungku yang masih ada bara api [sisa memasak]. Dengan dua cara ini, battery radio pun bisa diperpanjang sampai beberapa hari, tentunya harus rajin menjemur/memanggang diatas bara api tiap kali suara radio sudah mendrip-mendrip ~ nyaris gak kedengaran suaranya bahkan saat telinga ditempelkan pada radio, hehehehe.

Kembali pada musik, sebagai orang yang awam musik plus bisa main alat musik secara NGAWUR bangetsss tapi sukak mendengarkan musik, maka saya pribadi turut menyampaikan apresiasi yang tinggi serta salut atas ditetapkannya tanggal 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. Rencana dan wacana penetapan hari musik yang mengalami hibernasi selama satu dasa warsa, akhirnya tahun 2013 ini Pemerintah berbulat sikap memilih tanggal 9 Maret yang merupakan lahirnya Tokoh Nasional fenomenal yang menciptakan lagu wajib nasional “Indonesia Raya”, yaitu Bapak Wage Rudolf Supratman.
Picture Taken from HERE
Keputusan pemerintah untuk menetapkan Hari Musik Nasional merupakan bentuk perhatian dan pengakuan terhadap kontribusi serta eksistensi pelaku dan penggiat musik yang ada di  tanah air. Seperti kita ketahui bersama, musik di Indonesia memiliki nilai historical dan berkontribusi banyak dalam perjalanan sejarah negara ini. Mulai era prakemerdekaan, awal-awal kemerdekaan dan masa pengisian kemerdekaan, musik dengan produknya yang beragam karya lagu-lagu patriotisme telah mengobarkan jiwa nasionalisme dan semangat berjuang demi kemerdekaan tanah air tercinta ini.

Di masa-masa setelah perang kemerdekaan, musik tetap memiliki peran significant sebagai media pengagungan nilai-nilai luhur bangsa. Hingga di era High Tech sekarang musik merupakan salah satu industri yang menjadi profesi untuk menafkahi banyak orang [keluarga] serta bisa menjadi salah satu media edukasi bangsa yang efektif serta efesien.

Nah bagaimanakah peranan musik bagi seorang blogger seperti saia? Bagi saya, musik itu sperti air. Secara fitrah, musik membiaskan spectrum dan panjang gelombang kebaikan. Saya jugak bukan tipically orang yang alergi pada suatu jenis musik, karena baik dan tidaknya suatu jenis musik kembali pada CARA kita menikmatinya. Saya bisa menikmati musik bergenre punyamnya Metalica, Helowen, D'masive, Keroncongnya Ibu Waljinah, musiknya Kyai Kanjeng, melow-nya Christina Perry atau Amy Search [Isabella], Musik kendang kempulnya Orang Osing, Campur sari Stasiun Balapan, pun alunan karya Bethoven/Chopin/MOzart.  Biasanya dan seringnya, saat saat saya menulis/blogging/browsing biar gak kebawa boring dan atau jadi senewen: Mendengarkan Musik/lagu MUST GO ON! Bagi saya kegiatan mendengarkan lagu/musik ini hukumnya semi wajib. Netbook running ON maka alunan musik pun berkumandang dan seringnya sih dari radio yang stay turn pada satu channel kemudian dibiarkan bebas mengudarakan siarannya. #Baiknya Saia kan? Gak protes apapun menu siaran radionya? Memang tidak selalu alunan lagu dari radio, kalau lagi pengen mendengarkan ragam lagu sesuai hati nurani ya saya nyalain winamp dengan list lagu selektif deh.

Kebiasaan mendengarkan musik sambil menulis sebenarnya sudah menjadi habit sejak SMA. Saya lebih bisa enjoy belajar manakala sambil mendengarkan alunan lagu. Dulu sih kata teman-teman saya aneh, wong belajar kok ambil mendengarkan lagu-lagu. Tapi ternyata hal tersebut bisa dibenarkan secara ilmiah lho. Seperti halnya menggambar atau berhitung yang melibatkan kerja otak, dimana jika menggambar [bentuk kreatifitas] lebih banyak menggunakan otak kanan dan berhitung [eksak] lebih banyak menggunakan otak kiri. Maka kegiatan menulis [menurut saya] memerlukan kerja dari kedua belah otak.
SOK bisa maen alat music deh!
Logika sederhananya mungkin bisa dianalogikan sebagai berikut: Otak kiri dibutuhkan agar dapat menulis dengan alur bertutur yang rasional [baik karya tulis fiksi maupun non fiksi], yang coveregenya meliputi logika pengetahuan umum, psikologis sampai hukum sebab akibat. Sedangkan, otak kanan dibutuhkan berperan agar dapat berkreasi saat merangkai kata dan kalimat sehingga terbentuk alur runut, teratur dan ada soul-nya agar tulisan kita dapat dibaca dengan enak dan nyaman.

Hasil tulisan saya sendiri pun masih jauh dari kategori dapat dibaca dengan enak dan nyaman. Tappppi boleh dunk berharap [berusaha] menuju ke arah sana, [TANPA tendensi sok tau atau untuk unjuk eksistensi]. Dan ANDAI tujuan dapat dibaca dengan enak dan nyaman  bisa tercapai, maka boleh dunk lanjut pada tujuan-tujuan [baik] menulis lainnya: bisa menghibur, sharing pengetahuan  dan atau atau menginspirasi hal-hal yang positif. 

Iyyaaa sih, pada kenyatannya mendengarkan musik saat menulis bisa merupakan selera atau justru dianggap sebagai keterampilan tersendiri karena tentunya tidak semua orang bisa comfort/konsentrasi ketika melakukan kegiatan menulis yang disertai dengan mendengarkan musik. Dan sepertinya tulisan ini semakin nglantur kemana-mana lagi. Jadi
Eniwei, baidewei......Semoga penetapan Hari Musik Nasional membawa energi perubahan yang positif bagi industri musik Indonesia unutk bangkit berjaya baik dalam pasar musik dalam negeri maupun secara internasional.


Wanita Belanja Baju [Wanita]

Wanita, sosok Makhluk yang diciptakan dengan keidentikan: cantik nan imut serta penuh kelembutan dan kasih sayang tapi kadang juga cerewet, dimana baju dan belanja merupakan salah satu hal yang menarik minatnya. Bismillahirrahmaanirrahiim adakah wanita yang alergi belanja? Adakah wanita yang gak suka beli-beli baju? #Ada gak ya....?? Disini, konteks “suka” yang saya maksudkan dengan batasan minimal ya enggak sampai tiap bulan belanja baju kok. Jika tiap hari belanja baju itu namanya kulakan ya kan? Nah lha saya sendiri kalau tiap bulan beli baju, kapan memakainya? Kan ya mendingan space dananya dikumpulin dan kapan-kapan bisa digunakan untuk mbolang dengan destinasi yang lebih keren sedikit: trip ke luar angkasa misalnya? #Huuuuu......mulai mimpinya!


Ngomongin Wanita Belanja Baju [Wanita], acuan saya biasanya pilih model baju yang casual dengan motif dan corak simple sajah sehingga bisa cocok jika dipakai dalam acara santai atau pun semi formal. Sedangkan untuk baju yang digunakan acara resmi kantor, belakangan ini saya lagi dhemen pakai baju batik. Untuk persediaan baju kondangan/undangan manten dan sejenisnya, kebetulan juga lagi sukak model gamis dengan bahan batik yang dikombinasikan kain polos yang warnanya senada.

 Kalau dibandingkan dengan beli pakaian jadi, itungannya sih hampir sama. Apalagi jika belinya dengan cara belanja baju grosir dimana sistem jual baju wanita tersebut bisa dibeli secara eceran tho? Saya akui, harganya pasti lebih hemat lagi. Tapi ya memang kalau beli baju wanita, kadang ukurannya masih perlu dipermak lagi. Untuk urusan model sih, pilihan model baju grosir sekarang sangat banyak variasinya dan keren tentunya. Dan untuk saya pribadi, jika hendak beli baju, seringnya masih perlu advisor.....nanyak ke saudara, teman, keponakan. Kalau kepepet gak ada yang ditanyain, ya saya nanyak Embaknya yang jual baju wanita kira-kira baju X dengan warna dan model cocok apa enggak buat saya. Kalau jawabannya masih meragukan ya saya gak jadi beli deh. Kan kalau ragu-ragu itu lebih baik ditinggalkan saja kan? Hehehhee....udahan dulu ah edisi curcolnya, hepi bloging and happy always for all.

Mutiara Timur [Pagi]


Ini BUKAN pengalaman naik kereta Api Mutiara Timur [ Banyuwangi – Surabaya] buat saya, tapi truely it’s my first time naik KA Mutiara Timur [Pagi] dan membuat menulis postingan secara progress at the moment dan publish!. Bismilllahirrahmaanirrahiim perjaranan by KA edisi sebelum ini adalah Mudik By Probowangi yang saya cukup kan rute-nya sampai Jember saja kemudian lanjut naik Bis pas mudik liburan Idhul Adha tahun kemarin.


Nah, kalau sekarang sengaja naik Mutiara Timur [Pagi], lha baru tiba di Banyuwangi senin pagi dan Selasa ada mandatory kalau hari Rabu ada acara di Surabaya. Karena saya Ribut BUKAN robot, jadi pilih berangkat Rabu pagi by KA saja toh acaranya dimulai jam 19.00. Lumayan masih bisa memberi kesempatan anggota badan untuk recharge dulu beberapa jam di rumah plus bisa santai selama perjalanan.  Sebenarnya pengen pulas tidur, karena usai acara my journey still continue to Jogyakarta [rute mudik baru]. Eh, kedua bola mata saya gak bisa diatur untuk terpejam. 


Ya sudahlah, mencoba menulis di atas laju KA. Berangkat dari Kantor jam 08.00 karena jadwal berangkat KA 08.17 on time guys! Kepagian juga kalau sarapan, jadi yaa.....this is the first time too I breakfast on the train. 30 Menit berlalu, menu sarapan pun ditawarkan pada para penumpang. Ingat saya [dulu] kalau naik KA executive ada fasilitas: satu kali makan, minum, dipinjami bantal plus selimut. Kenapa sekarang gak ada ya? Ada sih, bantal kursi yang ukuran mini itu....Alhamdulillah bisa buat ganjal punggung.


Perjalanan siang hari, cuaca cerah dan masih musim hujan, maka kanan-kiri terhampar pemandangan serba hijau: areal persawahan, kebun kelapa, kopi, sungai juga jurang [saat melintasi jalur gunung kumitir]. Oia, enaknya kalau perjalanan diluar wiken adalah penumpang KA lengang. Jadi sarapan bisa leluasa, kursi disamping bisa dikuasai dengan merdeka untuk naruh tas. Oia, kalau pengen menikmati rute perjalanan KA secara live ada Lori Wisata lho? Ahhh...jadi ingat kalau belum bikin reportase serunya menikmati adventure dengan Lori wisata.



Dan ternyata postingan edisi special my greatest moment juga beluuum saya bikin. Beberapa cerita mbolang juga belum saya bikin, ikutan lomba-lomba literasi juga jarang [malah hampir vacuum], lha kok berasa jadi orang yang sok sibuk gini ya si Ririe belakangan ini. Untuk kesekian kali, mohon maaf karena saya belum bisa blogwalking secara aktif.....


*Train still on speed: Jadwal Tiba di Sidoarjo jam 14.17 BBWI*



Kartunet Kampanye Aksesibilitas tanpa Batas

Sudahkah Fasilitas Publik memiliki Aksesibilitas dan Kenyamanan? Jika berbicara tentang Fasilitas Publik yang ada di Indonesia, maka Bismillahirrahmaanirrahiim secara umum sangat mungkin akan mempunyai opini yang setipe: [sangat] memprihatinkan! Sukak atau tidak, memang demikianlah adanya kondisi sebagian besar fasilitas publik di negeri ini. Beberapa yang bisa disebutkan diantaranya: terminal, stasiun, ruas jalan raya, jembatan penyeberangan. Tidak hanya mengenai kebersihannya yang amburadul, namun juga management perawatan dan pengelolaannya yang masih terkesan ala kadarnya.

Salah satu yang terlihat banget kekacauannya adalah fasilitas parkir. Sudah pemandangan yang jamak jika banyak ruas jalan [di dalam kota] yang menyempit karena tepian jalan tersebut dialihfungsikan sebagai area parkir. Bahkan yang sudah difungsikan sebagai lahan parkir pun, tak jarang kita jumpai kondisinya semrawut akut. Terlebih di tempat-tempat perniagaan grosir yang tradisional. Untuk bisa memarkirkan kendaraan bisa jadi butuh waktu 30an menit, muter-muter dulu sampai main pusing baru deh bisa dapat space untuk parkir. Ini yang saya alami beberapa waktu lalu saat ke Beringharjo, padahal kala itu tidak wiken/bukan long  vacation. Gak kebayang lagi deh gimana parahnya saat liburan atau akhir pekan?


Lahan parkir dengan kondisinya yang menguji kesabaran pagi penggunanya, belum lagi maraknya parkir yang gak jelas keabsahan pengelolaan tarif parkirnya. Semakin memprihatinkan berkali lipat manakala Aksesibilitas dan kenyamanan fasilitas publik di Indonesia jika dilihat secara menyeluruh. Kondisi diatas ,masih mengambil satu contoh, padahal pada kenyataannya sangat banyak fasilitas publik yang jauh dari kriteria nyaman untuk di akses oleh masyarakat umum. Apalagi jika kondisi tersebut diakses oleh saudara-saudara kita yang memiliki kebutuhan khusus atau penyandang disabilitas.
  
Dan lebih krusial lagi manakala aksesibilitas dan kenyamanannya fasilitas publik tersebut harus digunakan oleh sodara-sodara kita yang berkebutuhan khusus. Lha fasilitas publik bagi kebanyakan orang saja masih banyak yang gak nyaman, apalagi buat penyandang disability? Bisa disebutkan lagi fasilitas publik yang kurang bersahabat dengan penyandang disabilitas yaitu tempat duduk ditaman-taman kota  atau di ruang tunggu. Tidak adanya fasilitas yang diperuntukkan bagi penyandang disabilitas pastinya akan menyulitkan bagi  mereka untuk bisa ikut menikmati suasana refreshing atau pun saat spending time menunggu/antrian.

Salah satu halte Trans Jogya
 Untuk sesaat membayangkan ketika kondisi fisik tak sempurna dan atau  memasuki lanjut usia, tentunya akan sangat sulit melakukan aktivitas apabila fasilitas umum yang tersedia jauh dari kriteria layak? Bila ada yang menggunakan tongkat berjalan di tepian trotoar maka bisa saja terjeblos ke lubang atau terjatuh ke selokan yang tidak ditutup oleh jeruji besi. Begitupula bagi disabilitas daksa, yang kehilangan fungsi pendengaran, tidak bisa bicara/mendengar, maka akan sangat menyulitkan bagi mereka manakala membutuhkan untuk mengakses fasilitas publik yang saat ini rata-rata belum memperhitungkan fasilitas yang support bagi penyandang disabilitas.

Pertanyaan selanjutnya, tanggung jawab siapakah?
Kalau menyinggung soal tanggung jawab, ya pastinya tanggung jawab bersama: pemerintah dan masyarakat. Pemerintah bertanggung jawab untuk pengadaan sarana dan fasilitas publik sekaligus pengelolaannya. Dan anggota masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga kebersihannya, tidak merusaknya dengan ragam “keisengannya”, sehingga life time-nya bisa maksimal serta ikut berperan aktif menyuarakan ke pihak pemerintah agar mulai memperdulikan pengadaan fasilitas publik yang friendly bagi penyandang disabilitas, salah contohnya Kartunet Kampanye Aksesibilitas tanpa Batas.

Suasana Rest Area di depan Vrederberg
Di era  kemajuan teknolgi di berbagai bidang yang bergerak simultan, hadirnya komunitas Kartunet Kampanye Aksesibilitas tanpa Batas menjadi forum dan mediator sosial yang membahas isu-isu disabilitas dan concern memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas. Kompetiblog yang diselenggarakan Kartunet yang mengambil tema Kartunet Kampanye Aksesibilitas Tanpa Batas dengan didukung XL Axiata bersama Asean Blogger Community merupakan salah satu cara  yang tepat dan efektif untuk mensosialisasikan pentingnya kenyamanan fasilitas publik di sekitar kita bagi semua lapisan masyarakat, tentunya bagi penyandang disabilitas. Semoga ke depan bisa tercipta kondisi fasilitas publik yang nyaman dan aman untuk di akses bagi semua orang.


5 Cara Jitu Atasi Jerawat Bandel Dengan Aman dan Alami

Dilema wajah berjerawat [sepertinya] sudah menjadi trade mark universal. Terdapat berbagai penyebab munculnya jerawat, baik secara internal [Stress, Hormonal] maupun oleh faktor eksternal [debu, jenis kulit, makanan]. 

Bismillahirrahmaanirrahiim, maksud saya hampir semua orang pernah mengalami wajahnya dihiasi jerawat meskipun just once moment in life. Dan saya sendiri juga sudah kenal akrab dengan jerawat sejak  menginjak usia remaja, tepatnya sejak memasuki masa menstruasi. Meskipun tidak secara rutin mengalami jerawat akibat kondisi hormonal [saat menstruasi], tapi sesekali memang muncul jerawat di wajah ketika masa haid telah lewat. Jika faktor jerawat karena hormonal case, biasanya ya paling banyak 2 – 3 jerawat dan ini pun gak bikin pusing tujuh kelililing serta gak perlu special treatment. Biarin saja sampai waktunya habis dan tidak dipencet-pencet, biasanya jerawat saat menstruasi sembuh dan tanpa bekas. 
Tips atasi jerawat
Nah, yang pernah saya alami sekitar 5 tahun lalu ini yang luar biasa parah. Saya kurang tahu persis apa penyebabnya, yang saya ingat tidak berselang lama setelah saya pesta makan durian kemudian jerawat bermunculan di wajah saya. Jika hanya hitungan jari sih saya masih bisa stay cool and confidence kemana-mana. Lha kala itu, bahkan wajah saya sudah tidak ada tempat untuk tumbuhnya jerawat lho? Teman-teman saya yang biasanya no comment kala mendapati ada jerawat, jadi sibuk merangkai analisa, mencari sebab-musabab kok bisa wajah saya yang biasanya “anti jerawat” jadi lahan subur jerawat? Saat saya ke Surabaya dan ketemu dengan teman-teman kuliah pun rata-rata berkomentar senada “ Kamu kena kutukan dari siapa, kok tumben wajahmu jadi endemik jerawatt gitu Rie?”

Setiap kali ada yang berkomentar tentang musibah jerawatan tersebut, saya juga bingung njelasinnya. Wong saya sendiri sampai dihinggapi ketakutan luar biasa: kalau jerawat ini tidak kunjung sembuh? Jika nanti berbekas di wajah kan bisa hancur lebur rasa PeDe saya? Dan berbagai paranoid lainnya pun malah membuat saya jadi stress jadinya. Berbagai upaya saya lakukan, saran-saran dan nasehat yang diberikan oleh teman-teman pun saya jalani selama memang masuk akal dan ada korelasinya dengan penyembuhan jerawat. Dan secara garis besar, treatment eksternal dan internal yang saya lakukan saat mengalami jerawat parah kala itu antara lain:
  1.      Seorang teman menasehati agar Cuci wajah dengan air hangat setiap hendak tidur, saya pun no complain toh tujuannya agar membersihkan sisa minyak di wajah sehingga tidak menumpuk yang bisa jadi pemicu pertumbuhan bacteria.
  2.    Istri dari teman saya menceritakan pengalaman saat anaknya jerawatan disuruh membasuh dengan teh basi. Dari saran beliau, Saya memahami esensi teh yang mengandung anti oksidan yang tentunya mendukung jika untuk penyembuhan jerawat. Jadi membasuh wajah dengan teh basi pun saya lakukan di pagi hari.
  3.      Kemudian si Ibu yang masak di kantor menyarankan agar saya mencuci wajah dengan air cucian beras yang pertama. Saya menganggap hal ini pun masuk akal, kan kulit air beras kaya akan vitamin B, jadi bisa mensuport kesehatan kulit juga sehingga setiap pagi saya pesan sama si Ibu untuk menyimpan air cucian beras dalam kulkas di kantor dan setiap sore saya gunakan untuk mencuci wajah saya yang penuh jerawat bernanah.
  4.       Dan inisiatif saya sendiri adalah untuk sementara mengganti jenis vitamin E dengan jenis yang lebih qualified formulasinya, lumayan juga sih harganya. Selain itu, treatment internal lainnya yang saya lakukan adalah minum jus Kunir yang sepengetahuan saya kunir merupakan salah satu obat tradisional yang kaya akan antibiotik alami. Kenapa saya pilih kunir, lha kan mudah di dapat dan saya sudah familiar dengan rasanya sehingga tidak perlu mengalami kesulitan terhadap rasa juz kunir yang saya buat.
  5.     Implementasi daily tentu saja menggunakan facial foam yang memiliki pH sesuai kulit wajah. Hehehhee…maklum, saya tipically orang yang males untuk mbersihin wajah secara rutin. Jadi ya untuk daily-nya cukup dengan facial foam duang deh. Ritual mbersihin wajah dengan pembersih dan penyegar wajah, dalam sebulan sekali saja saya sering “lupa” untuk melakukannya. #jangan ditiru ya
Dari serangkaian langkah pengobatan yang bersifat internal dan eksternal tersebut, pastinya harus dilakukan secara rutin dan telaten serta gak mungkin secara sim salabim bakal menyembuhkan jerawat apalagi langsung hilang tanpa bekas tho? 

Alhamdulillah, 5 langah terapi yang saya lakukan secara significant menyembuhkan jerawat di wajah saya dan tanpa meninggalkan bekas jerawat. Sungguh saya bersyukur banget, mengingat jenis jerawat bernanah dan super banyak sekali yang saya alami ketika itu sangat berpotensi akan menyisakan bekas di wajah yang lumayan mengganggu saat sembuh [seperti yang dialami beberapa teman saya saat masih kuliah].

Dan ketika musibah Jerawat “terhebat” Dalam Hidupku sudah lewat dan ketemu lagi dengan teman-teman yang pernah ketemu saya saat dilanda banjir jerawat, maka komentar senada pun muncul lagi tapi dalam konteks kekaguman “ Kamu habis berapa duit tuh buat ngembalikan wajahmu jadi ANTI Jerawat Lagi, Rie?”

Mau tau, apa mau tahu banget? Hemmm...kasih tahu gak ya?


Benang Merah

Bahwa setiap pilihan akan membawa kita pada pilihan-pilihan [baru] selanjutnya. Sebenare prolognya gak nyambung banget dengan postingan kali ini, lha fully hampir 2 minggu gak  blogging dan  Bismillahirrahmaanirrahiim sekali lagi stockist tulisan endorsement jadi bahan postingan. Untuk edisi endorsement ini merupakan permintaan dari Putri Cahaya, yang tentunya membuat saya tersanjung [kesekian kali] tingkat dewa diberikan kesempatan untuk menuliskan endorsement pada project Antologi yang di gagas sang putri dengan judul “Benang Merah”. So, here is my endorsement ala Saia yang masih lost direction dalam membuat resume, review, resensi dan endorsement untuk karya tulis/literasi:
=====

Buku Benang Merah menghadirkan satu cermin lagi tentang pernikahan, bahwa menikah adalah hal yang sangat kodrati dan  tidak dapat dimatematiskan. Tak ada standar yang baku tentang kesiapan menikah yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya karena memang  Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah atau terlambat  datangnya kepada setiap orang dan tak bisa dimajukan
ataupun ditahan.

Dan yang lebih penting kita dapat mempelajari bagaimana mencintai dan mendukung orang yang kita cintai dengan cara yang lebih bijaksana. Cinta itu ajaib, dan dapat berlangsung lama kalau kita memahami dan menerima perbedaan-perbedaan karakter masing-masing. Mencintai seseorang berarti sudah mengukur batas kemampuan diri sendiri untuk bisa menerima/memahami apa dan bagaimana dia sebagaimana adanya, sehingga segala perbedaan yang ada menjadi kekayaan bersama untuk saling menambah, mendukung dan saling menutupi kekurangan

Semua dimulai dengan cinta
CintaNYA yang meneguhkan masing-masing langkah kita di jalan cahaya
Lalu siapa yang mengira
Jika kemudian alur kita saling bersinggungan disebuah masa
Di titik pertemuan tiada tertebak
Maka sebagaimana ia dimulai
Smoga demikian pula nantinya mengalir
Dalam himne cintaNYA.

=====
Maka menyimak kumpulan tulisan dalam benang merah memberikan kita cermin bahwa dua orang yang menjadi satu dalam cinta [pernikahan] adalah suatu proses penyempurnaan, melengkapi dan enrichment kualitas diri melalui kekhasan dan keunikan masing-masing dalam rangka mewujudkan tujuan bersama. Bahwa setiap keputusan yang kita buat  [selalu] akan mempertemukan kita pada konsekuensi-konsekuensi yang harus diterima  dan dijalani secara konsisten.

Merangkai Tasbih Cinta

Berkenaan dengan My gratest moment dalam tahapan kehidupan saya, Bismillahirrahmaanirrahiim  special posting ini terangkaikan dari kompilasi berbagai sumber. Main Frame-nya adalah Endorsement Benang Merah [rikues dari sang Puteri Cahaya], saya combine dengan Sebagian tulisan yang sudah publish di blog dan sengaja [semoga diijinkan yaa..] mengutip beberapa content dari project antologi Benang Merah.

Berkaca pada jejak langkah, berkompromi dengan keadaan maka setiap ketegangan dan ketidaksenangan adalah momen yang sengaja diciptakan oleh Allah untuk proses dalam aliran penciptaan baru kehidupan. Dan setiap kesulitan selalu mengandung element untuk berubah menjadi lebih sadar. Untuk menggapai proses, dibutuhkan pengorbanan dan daya kreatifitas yang segar-baru. Bahwa sesungguhnya penderitaan hidup tidak sepenuhnya buruk, mungkin ia tampak menakutkan, menyakitkan, dan membutakan. Namun sesungguhnya penderitaan hidup adalah sampul dari pelajaran-pelajaran dariNYA.
menikah untuk ibadah

Sometimes we're so focused on finding our happy ending
Then We don't learn how to read the signs.
Hidup ini adalah simponi yang kita mainkan dengan indah. Cinta dengan kuat menumbuhkan, mengembangkan dan memekarkan.  Cinta, dengan begitu, merupakan dinamika yang bergulir secara sadar diatas latar wadah perasaan.  Dan manakala kesadaran spiritual  justru bertumbuh mendadak pada detik inagurasi, Cinta yang terbelah dan tersublimasi diantara kesadaran psiko-spiritual, yakinlah akan berujung dengan keagungan: ada cinta di atas cinta
Semua dimulai dengan cinta
CintaNYA yang meneguhkan masing-masing langkah kita di jalan cahaya
Lalu siapa yang mengira
Jika kemudian alur kita saling bersinggungan disebuah masa
Di titik pertemuan tiada tertebak
Maka sebagaimana ia dimulai
Smoga demikian pula nantinya mengalir
Dalam himne cintaNYA.
Bahwa menikah adalah hal yang sangat kodrati, tidak dapat dimatematiskan, tidak bisa dimodelkan sesederhana persamaan fisika quantum…walaupun bisa dipetakan. Variable pendukungnya juga tidak bisa diuraikan dalam kesetimbangan aksi dan reaksi. Tak ada standar yang baku tentang kesiapan menikah yang bisa diteorikan seperti kesiapan emosi, intelektual, wawasan dan sebagainya karena memang  Menikah adalah sebuah elemen kodrati sebagaimana rezeki dan juga ajal. Tak akan salah atau terlambat  datangnya kepada setiap orang dan tak bisa dimajukan
ataupun ditahan.
Tuhan Maha mengetahui yang terbaik,
Kadang akan memberi kesusahan untuk menguji kita.
Kadang Ia pun melukai hati,
supaya hikmat-NYA bisa tertanam dalam.

Jika kita kehilangan cinta, maka pasti ada alasan di baliknya.
Alasan yang kadang sulit untuk dimengerti,
namun kita tetap harus percaya bahwa ketika Ia mengambil sesuatu,
IA telah siap memberi yang lebih baik.
Dan yang lebih penting kita dapat mempelajari bagaimana mencintai dan mendukung orang yang kita cintai dengan cara yang lebih bijaksana. Cinta itu ajaib, dan dapat berlangsung lama kalau kita memahami dan menerima perbedaan-perbedaan karakter masing-masing. Mencintai seseorang berarti sudah mengukur batas kemampuan diri sendiri untuk bisa menerima/memahami apa dan bagaimana dia sebagaimana adanya, sehingga segala perbedaan yang ada menjadi kekayaan bersama untuk saling menambah, mendukung dan saling menutupi kekurangan

Bahwa dua orang yang menjadi satu dalam cinta [pernikahan] adalah suatu proses penyempurnaan, melengkapi dan enrichment kualitas diri melalui kekhasan dan keunikan masing-masing dalam rangka mewujudkan tujuan bersama.
Aku hanya seseorang yang ingin jadi pembelajar hidup...
Belajar dari ketidaktahuan dan berusaha berproses dengan kerendahan hati...
Aku tak ingin menebak, seperti apa akhir semua ini...
Hanya akan berusaha sebaik yang kubisa
Agar setiap momentum berelemen RidhloNYA, selalu & selamanya

Hidup ini cair, semesta bergerak dan waktu terus berjalan pada sungai kehidupan yang terus mengalir. Kalau cinta sudah terurai jadi laku, cinta itu sempurna seperti pohon, akarnya terhunjam dalam hati, batangnya tegak dalam kata, buahnya menjumbai dalam laku. Persis seperti iman, terpatri dalam hati, terucap dalam lisan, dan dibuktikan oleh amal.
Bersujud di Sajadah menghamparkan doa
Merangkai bait-bait asa untuk munajat bahagia
Jika kesempurnaanku adalah bersamanya
Beri aku kekuatan
dalam pilihan ini
Beri aku kesabaran dalam menjalani proses menggapai hikmah

Smoga kau ridhoi kami untuk bersatu
Mengarungi sisa usia
Menapak jalan kearah Mu
Melukis keindahan untuk dunia dan akhirat
Seirama debar yang menjelmakan buliran CintaMU

Dan kala cinta bertanya pada cinta
Imanlah jawabnya


♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥
menikah; nikah; kisah cinta

Dengan mengucap Bismillahirrahmaanirrahiim,

Ya Rabb,
Dua hati yang selama ini berserak,
terbang mengikuti kemana arah angin berhembus,
akhirnya bersatu dalam keagungan-Mu
Ijinkan kami untuk selalu bersama
Restui kami untuk selalu bersama
Kuatkan gengaman tangan kami untuk menjalani pasang dan surutnya kehidupan
Rekatkan jiwa kami untuk menempuh hari-hari yang akan dilalui
Hidup ini sepenuhnya adalah milik-Mu

Assalamualaikum wr.wb,
Insya Allah, Dengan keyakinan semoga berasal Dzat Maha Cinta, 
Kami memantapkan hati dan berusaha memantaskan diri melangkah,
mengikuti sunnah Rasulullah SAW untuk menjemput barokah membangun mahligai rumah tangga demi meraih  keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Tidak ada pesta meriah, dan semoga Ijab kabul berlangsung dengan khusyu dan acara walimah sederhana sebagai perwujudan rasa syukur.

 Akad Nikah
Kamis, 07 Maret 2013
Pukul : 08.00 WIB
Desa Tlanak, RT 033/RW III
Kedungprin, Lamongan

Walimah
Sabtu, 09 Maret 2013
Pukul : 11.00 – 13.00 WIB
Desa Tlanak, RT 033/RW III
Kedungpring, Lamongan

Mohon doanya dari teman, sahabat dan semuanya, semoga semua berjalan lancar dan dipenuhi Ridho Ilahi Rabb sehingga menguatkan Iman dan Taqwa kami dalam membersamai hari-hari  pada setiap jejak langkah ikhtiar yang lebih baik.

Dengan tidak mengurangi rasa hormat, publish tulisan ini kami niatkan sebagai pemberitahuan sekaligus undangan resmi. Sebuah kebanggaan dan kebahagiaan bagi kami apabila  sahabat, rekan, teman dan juga kenalan, berkenan hadir untuk  mendoakan kami. Sebelum dan sesudahnya, kami sampaikan terima kasih.
Jazakumullahu khairan katsiran.

Wa’alaikumsalam wr.wb


♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥♠♥

 “ The most important thing about love is that we choose to give it…
and we choose to receive it, making it the least random act in the entire universe.
It transcends blood, it transcends betrayal…
and all the dirt that makes us human.
Love as a decision not as a feeling.” ~ Chaos Theory~