Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Bukti Terima Kiriman [POS]

Ketika saya just landed [senin pagi] di Banyuwangi dan seperti biasa njujug kantor untuk ambil motor kesayangan. Waktu melintasi front office desk, mbedundug tampaklah paket nyasar  tertuju atas Nama Ririe Khayan. Pas mbaca pada Bukti Terima Kiriman, langsung deh ingat jika sekira dua bulan lalu, Jeng Una Untje kan  nge-es-em-es minta alamat katanya dia lagi menghadiri event promo punya’e Charm. Kemudian dapat kesempatan memilih teman/sahabat/tercinta untuk dikirimi paket free product charm. Feel so special plus GeEr kuadrat saya jadi salah satu orang yang dipilih Una untuk di rekomendasikan nerima free sample tersebut, so awe some having a friend like her #semoga rambutnya gak tambah kriwul.  Bismillahirrahmaanirrahiim sekaligus jadi mengingatkan saya tentang a little eror yang saya alami sewaktu pengiriman buku Mozaik Kinanthi Goes To Una jugak..

Al kisahnya, setelah hampir sebulan saya ngirim paket pada daftar penerima Mozaik Kinanthi [sebagian saya serahkan langsung by nitip pada Nona Niar Ningrum] dan especially kiriman ke Una dan Mas Stumon mengalami ketidakjelasan hubungan status pengiriman. Sepertinya something going wrong, wong saya ngirimnya pakai kilat khusus tercatat tapi sampai hampir sebulan belum sampai di alamat tujuan? Kalau yang ke Kalimantan, bisa deh masuk toleransi kan jauh tuh plus di rimba belantara, mungkin saja susyah tho nganterinnya? Apalagi jika hujan terus menerus, kemudian becek gak ada tukang ojek lagi? #ngaco!  [untuk kiirman ke Mas Stumon akhirnya clear, ternyata memang terjadi kebingungan alamat sajah]. Lha kalau destinasi Jakarta, selambat-lambatnya masak iya sampai sebulan gak sampai ke alamat penerimanya? Nyobak Check Ri-Check di Web Kantor Pos, statusnya meragukan: masih dalam proses pengiriman!

Demi memperjelas keberadaan terkirim, saya pun bersilaturahim ke Kantor Pos. Singkat cerita, antrian menunggu saya skip dan langsung pada adegan ketemu Customer Service. Ternyata sang CS pun gak paham dengan permasalahan keterlambatan pengiriman paket sehingga perlu memanggil sang supervisornya.
Embaknya kirim paketnya dari Kantor Pos sini ya?” tanya si Bapak Supervisor [ini asumsi saya jika Bapak yang menemui saya adalah supervisor #azaz sok tau MODE ON].
 “Iya Pak, padahal sudah sebulan kok belum nyampek jugak ya?”
Gak lebih dari lima menit klak-klik mouse PC di Meja CS, kemudian si Bapak menuju ke dalam dan muncul membawa amplop coklat yang kondisinya robek plus selembar kertas berisi berita acara yang menyatakan bahwa paket buku atas nama dan alamat di amplop tersebut telah hilang di Bandara. Ngik ngokkk......
Kami mohon maaf Mbak, dan sebagai konsekuensi-nya, seperti yang tertera Pada Ketentuan dan Syarat-Syarat Pengiriman, maka pihak Kantor Pos akan memberikan ganti rugi sesuai nilai pertanggungan yang tertera pada Bukti Terima Kiriman [POS]”.

Selama ini setiap kali mengirimkan surat/dokumen/barang saya memang membiasakan menyimpan Bukti pengiriman dengan simply reason: bukti duang kalau sudah ngirim beneran! Jadi suerrrr, saya gak begitu merhatiin detail rincian yang tertera dalam selembar kertas yang dinamai tanda bukti pengiriman tersebut. Tiap kirim paling ditanyain isinya apa? Sekilas pernah mbaca nilai nominal jaminan, tapi gak paham juga acuannya apa dalam penetapan batas nominal tersebut. Dan baru ketika saya komplain tersebut, jadi tertarik membaca detail mengenai Ketentuan dan Syarat-Syarat Pengiriman, yang memang pada poin nomer 5.g disitu menyatakan tentang ketentuan claim jika terjadi ke-eror-an pengiriman “ Pengaduan yang diajukan  setelah melewati waktu 30 hari, [untuk paket,  surat kilat khusus dan surat tercatat dalam negeri], 4 bulan [untuk EMS] dan 6 bulan [untuk paket dan surat tercatat luar negeri] sejak tanggal pengeposan”.

Alhamdulillah, prosedur dan proses claim-nya juga gak njlimet. Cukup menyerahkan Bukti Terima Kiriman [POS] dan foto copy ID card. Dalam hitungan sejam bisa cair, tentu saja jika di kantor Pos lagi lengang deh. Dan sebagai sharing pengalaman, saat saya claim memang gak bisa sehari kelar karena keisengan saya yang dhemen menggunakan Nama Pena Ririe Khayan dalam proses surat menyurat non formal, sehingga pihak Kantor Pos meminta saya menyerahkan surat keterangan jika nama pengirim paket tersebut adalah memang sesuai dengan nama di ID card. Alhamdulillah lagi, saya gak perlu sampai mudik untuk mendapatkan surat keterangan tersebut [mengingat alamat ID card saya di Lamongan] karena surat keterangan dari tempat kerja sudah memenuhi hukum keabsahan jika nama Ririe Khayan dan Ribut merupakan orang yang sama alias gak beda serta juga bukan sodara kembar. Oia satu lagi, proses Claim tersebut bisa clear dalam waktu sesingkat-singkatnya jika kita datang ke kantor pos saat Pimpinan Kantor Pos ada di tempat!


Peran [Penting] Brand

Postingan ini temanya memang serupa dengan di blog satunya, karena mendapat imel jika Job Ripiu yang baru sudah muncul sehingga saya bersangka kira pendaftaran yang sudah saya lakukan dengan blog berpelangi gak diterima. Jadilah saya mendaptar lagi dan pas dapat email balasan lha ndilalah di eprup pendaftaran untuk dua blog. Ya sudahlah, Bismillahirrahmaanirrahiim bercerita lagi tentang baju anak, gak apalah toh sebentar lagi saya juga jadi orang tua yang harus pinter-pinter belanja baju buat anak-anak kok. Sampai saat ini sih saya masih model orang yang grusa-grusu kalau beli baju, asal modelnya sukak dan enak dipakai so pastinya mampu beli deh. Karena asas grusa-grusu ini kadang eh..seringnya saya alpha memeriksa detail baju: jahitannya ada yang cela apa gak, kancingnya terpasang sempurna atau longgar, warna-warninya ada yang pudar apa gak, dll.

Untuk urusan merk atau branded, bagi saya sifatnya flexible. Dalam pengertian bahwa saya gak minded harus brand yang terkenal, lha iyalah kalau branded TOP BeGeTe mana mampu saya beli tho? Tapi kalau saya bilang gak perlu beli barang yang ada branded-nya, tentu saya bo’ong banget. Secara strategi pemasaran dan hukum produksi #asal nyomot dasar teori!, barang yang mengisi transaksi jual-beli tentunya memiliki merk. Dan menyinggung soal merk dan branded, so long time ago...jaman saya jadi MaBa nan unyu dan naif, saat acara Bakti Kampus [istilah di kampus lain OSPEK], ada salah satu peraturan aneh bin ajaib: Sepatu, kaos, celana, dan apapun yang diinstruksikan untuk dikenakan saat acara Bakti Kampus dikasih warning “No Branded”.

Lha saya bingung tho, mana ada sepatu, kaos, celana, topi dll yang tanpa Merk? Meski merk abal-abal, kan tetap saja barang hasil produksi baik skala besar maupun home industri ada merk-nya? Gethuk Lindri saja ada namanya, jual Bakso juga ada namanya, hand made juga dikasih label nama tho? Batik, syal, kaos kaki, sarung tangan, under wear...apa sajalah barang yang ekonomis tentu memiliki branded yang dipilih dengan alasan agar mudah diingat dan berkesan sehingga bisa membuat konsumen terkesan dan tertarik untuk membelinya lagi dan lagiiii. Eniwei, saat itu ilmu Abu Nawas pun harus diaplikasikan....akal-akalan pun diterapkan: tulisan Merk-nya ditutup pakai lakban atau di Tipe-Ex...mana saja yang bisa menutupi tulisan merk pokoknya. Hingga acara sidak atribut pun tiba, senior dengan tampang sok bengis dan sadis men-interogasi tiap-tiap maba. Asal tahu, saat Bakti Kampus antara Maba dan Senior perbandingannya 1:1, bahkan bisa lebih banyak senior.
Kaos yang kamu pakai merk apa?”
Gak ada merk kayaknya, kan dibuatin dari kampus untuk seragam BeKa, Mas?
Kalau Sepatumu merk-nya apa?”
Juga Gak ada merk-nya?” Jawab saya sok PeDe karena merasa sudah menutup semua identitas merk sepatu.
Coba lihat bagian bawah sepatumu?” krompyang...glodak...luppaaa yang bagian bawah kan belum saya tutupi? #kenak lagi deh hukuman!

After that, bisa ditebak ceramah dari senior berintonasi sama sekali beda jauuuh dari suara Fatin X Factor Indonesia deh untuk didengerin, apalagi diselingi “hujan lokal”, huft....ampyuuunn. TAPPIIIII....ada point yang saya bookmark sejak saat itu bahwa branded atau merk atau apalah istilahnya merupakan bagian penting dalam pemasaran/penjualan sutau barang/produk. Bahwa sangat aneh jika suatu barang diproduksi untuk dijual tanpa diberi merk/brand. Adanya brand berfungsi sebagai ‘nama’ atau identitas agar barang tersebut bisa dikenal secara lebih luas dan big goal-nya tentu saja agar barang tersebt memiliki grafik penjualan pada titik kesetimbangan dalam interval waktu yang lebih lama.

Maka, untuk baju anak branded merupakan hal yang wajar jadi bagian dari kegiatan pilih dan pilah saat belanja baju untuk sang buah hati pastinya. Wong baju yang dibikin oleh skala industri rumah tangga seperti usaha konveksi pun ada Brand-nya kok. Kalau gak ada brand-nya bisa-bisa kayak minuman oplosan minyak tanah + premium + asam sulfat lhoh???? Eh, jangan protes kalau disini saya mbahasnya brand dalam definisi yang universal, BUKAN brand dalam definisi barang-barang yang high class and very expensive. Maklum dunk, kalau suruh beli barang branded yang dibandrol harga expensive paling ya ikutan teorinya Una..KW-KW gettu. Bukannya gak pengen yang Ori, ya mau sajah kalau ada yang ngirimi gratis tis tis sekaligus free of charge ongkirnya juga! Atau nanti deh kalau net income saya sudah dua belas digit ke atas......#ngigau dulu! 

Dan untuk belanja grosir baju anak merupakan salah satu alternatif jitu yang dijamin bakal super irit dan bonusnya bakal lebih disayang suami karena jadi istri yang pandai belanja super hemat untuk urusan baju. Namuuuunnnnn, untuk urusan lagi sakit kayaknya gak bisa deh jika pakai sistem grosir juga, apalagi minta bonus pas ke dokter? Bisa-bisa cabut gigi satu bonus satu tuh......#permisiiii kabuur dulu ah, mberesin yang “op-len”


NOTE: Maap, koyone Njudulnya kemelipen 

Sekilas Tutur: Wisata [Orang] Osing

Istilah “Desa Wisata” merupakan salah satu hot list dalam daftar unggulan obyek wisata di banyak daerah di Indonesia. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim demikian pula dengan daerah Banyuwangi [yang dikenal juga dengan sebutan Bumi Blambangan] yang menetapkan Desa Kemiren sebagai Desa wisata [orang] Osing. Lokasi Desa Wisata ini tidak jauh lho dari tempat kerja saya, lha sama-sama di Kecamatan Glagah.....tapppiiiii jangan menyangka kalau saya sering kesana. Ya harap maklum, saya kan anak rumahan sehingga kalau wiken ya mudik ke kampung halaman. Jika gak mudik, ya stay turn di rumah tuh. Jadi jangan heran kalau saya baru sekali duwang ke Desa Wisata Osing tersebut, sekira 6 taon silam. Kala itu berserombongan banyak teman dan belum senarsis sekarang, jadi gak banyak jepret-jepret poto seputaran Desawisata [orang] Osing tersebut.

Dilihat dari peta-nya #sok paham peta neh!, posisi Desa Kemiren ini berada di jalur Kawah Ijen yang luasnya + 117.052 m2 dengan ketinggian 144 mdpl di memiliki suhu udara rata-rata berkisar 22-26°C ini rnemang dengan kedua sisinya dibatasi sungai Gulung dan Sobo. Kalau ke arah timur kita bisa menuju pemandian Tamansuruh [asli airnya duuiiingin banget] dan di sebelah baratnya terdapat perkebunan Kalibendo plus ada air terjun Kalibendo yang memukau pastinya. Dan di Air terjun Kalibendo inilah [semoga the only one experience] saya dipaksa nyebur ke sungai Kalibendo yang berakibat HP mati total karena saking paniknya ditarik masuk ke air sehingga gak kepikiran untuk menyelamatkan HP yang ada di dalam saku celana. Sapa cobak yang gak panik ngalahin kambing mau dimandiin, lha saya gak bisa renang kemudian ditarik ramai-ramai untuk masuk sungai yang gak tahu seberapa kedalamannya!. Lho, kok malah nyritain saya kecelup dalam sungai ya?
Atraksi Tari Gandrung di Anjungan Wisata Osing
Back to Desa Wisata [Orang] Osing dimana penduduk desa adalah kelompok masyarakat dengan adat istiadat dan budaya yang khas sebagai suku yang lebih dikenal dengan nama suku Osing [ada juga yang menyebut “Using”]. Sekilas pandang, eh cerita ding saat masuk Desa Wisata Osing bisa kita nikmati [menurut saia] udara yang fresh dengan pemandangan alam pedesaan yang hijau menghampar di kanan-kiri jalan. Rumah-rumah penduduk berjajar di sepanjang jalan dan tak jauh dari pemukiman warga Kemiren ini menghampar persawahan serta pepohonan hijau.

Rata-rata para wisatawan [domestik], tujuannya ke Desa Wisata Osing ya ke Anjungan yang terdapat bangunan museum modern [memajang aneka perlengkapan dan budaya suku Osing], menyajikan miniatur rumah khas Osing, pertunjukan kesenian dan memamerkan hasil kebudayaan. Dan taraaaa.....fasilitas wisata kolam renang dan arena bermain yang tentunya daya tarik tersendiri bagi pengunjung anak-anak tuh, ruameee poll apalagi jika hari libur. 
Picture By Noe: Seblang
Detail keseharian masyarakat Osing saya kurang faham, lha wong saya pas kesana semata-mata diajakin teman-teman ke tempat rekreasinya. Yang jelas tampak nyata [salah satunya] adalah suku Osing yang ada di desa Kemiren TIDAK menutup diri seperti suku Badui dari perkembangan dan modernitas. Desa Kemiren ini selain sebagai desa wisata juga ditetapkan sebagai cagar budaya dalam rangka melestarikan ke-Osing-an. Jika tertarik untuk melihat keistemewaan desa wisata [orang] Osing ini secara lebih detail, silahkan berkunjung saat ada upacara  adat, misalnya pernikahan, panen.

Ada satu kekhasan Orang Osing yang jadi trade mark dalam pergaulan sehari-hari, yaitu penggunaan Bahasa Osing. Konon katanya penamaan Suku Osing pun diambil dari penggunaan kataOsingsebagai ganti untuk kata “tidak” atau “ora” [bahasa Jawa]. Dimana dalam percakapan sehari-hari, kata Osing sering mengalami pemendekan jadi “Sing” ~ Tidak ~ Ora. Jadi kalau sedang nggedabrus dengan wong Osing, harus diinget bener jika mereka bilang “sing” artinya: TIDAK. Ciri khas lain  adalah adanya sisipan “y” atau akhiran “ai” dalam pengucapan pada beberapa kata. Misalnya:
-          Makan = Madang, diucapkan “Madyang”
-          Kemana = nang endi, diucapkan “ Nyang endai
-          Merah = Abang, diucapkan “Abyang”
-          Kenapa/gimana = Kelendi, diucapkan “kelendai

Selain bahasa kesehariannya yang khas, ada lagu khasnya Orang Osing yaitu lagu kendang kempul atau yang familair juga disebut lagu Banyuwangen. Juga ada tariannya yang khas yaitu Tari Gandrung yaitu seperti tayub dan ronggeng yang diiringi musik kendang. Waktu Harjaba edisi 2012 kemarin jadi salah satu menu atraksi budaya Tari Gandrung Sewu [1000 orang menarikan tarian gandrung secara serempak ].
Picture By Noe: Gandrung Sewu On Harjaba 2012
Ah iya, rasanya kurang meyakinkan jika sekian rentang waktu berada diantara orang-orang Banyuwangi saya gak bisa ngomong Osing kan? Dengan berpedoman pada sisipan “y” atau akhiran “ai”, berikut ini beberapa hasil learning second language alias olah kalimat ala Saia dalam bahasa Osing *):
Kapyan-kapyan Isun arep mlakyu-mlakyu nyang Tamyan Blambangan
Lha kelendai, Isun sing karep maning mangyan sateai kok
Sing paran-paran, nek ngantyuk turu baen nang omyah

Sebelum semakin kepedean nulis kalimat Osing versi saya yang masih saja salah kaprah [apalagi kalau mencoba dialek Osing], yang bisa menimbulkan demo besar-besaran dari teman-teman kalau mbaca postingan saya sok pinter bahasa Osing ini. Lha sehari-hari saya sudah di omelin mereka kalau bicara Osing, katanya bisa merusak citra Bahasa Osing. Maka sekian saja Sekilas Tutur: Desa Wisata [Orang] Osing, bagi yang tertarik berwisata Osing jangan lupa ajakin saya yaaaa........


*): Silahkan DITIRU jika ingin dilabrak orang Osing!


Itik Bali untuk Pandangan Pertama

Once Again, tim penilai event Give Away berbaik hati pada saya. Keikutsertaan saya dengan postingan Pandangan Pertama: So Cool Guy dalam Giveaway Pandangan Pertama Special Untuk Langkah Catatanku. Ini kemenangan yang termasuk so surprissed, lha dari peserta total 117 [tapi yang 15 peserta gak ada postingan lomba katanya], tibak’e saya terpilih jadi salah satu pemenangnya? Bismillahirrahmaanirrahiim, bukannya saya tidak serius dalam membuat tulisan, tapi lebih pada story yang saya uraikan termasuk common sense. Makanya ketika sang Empunya lomba meng-Short Message dengan isi minta alamat saya. Seketika reaksi saya kaget mak glodagg karena yang langsung nyaut di pikiran saya “apa saia jadi salah satu pemenang lomba neh?”

Maklum sejak Bulan Nopember, aktifitas Blog Walking saya memang mengalami kekacauan. Seperti biasa alasan klasik: sok sibuk dengan kegiatan off line di kantor yang meninggi dan kebetulan memang ada hal lain yang harus saya persiapkan yang cukup menyita waktu [karena harus lebih sering mudik di wiken] serta space pikiran. Sehingga saya tidak tahu jika sudah ada pengumuman untuk GA-nya Idah Ceris. Saya pun langsung telpon untuk memastikan jika si Nona manis Idah Ceris gak salah nulis sms. Harus dipastikan sebelum saya menyalakan kembang api sebagai ekspresi suka cita karena menang lomba #bo’ong ding, gak sampai nyalain kembang api kok.

 Kok nanyak alamat, aku menang GA-mu po?” tanya saya gak pakai pasa-basi dan ramah –tamah lagi.
Si Idah dengan logat ngapak-ngapaknya yang gak medok [khusus kalau ngomong sama saia katanya], njawab bahwa saya memang menang untuk kategori Pandangan Pertama.
Serius aku menang? Kok iso menang, peserta liyane uakeh sing luweh apik tulisane lho?”
Yo aku ora ngerti Mbak, kan Jurinya yang bikin penilaian ...”
“ Lha memange kriteria penilaiane opo wae?”
Kalau aku pas sempat tanya sih, katanya dari konsistensi penulisan....terus pesan yang hendak disampaikan bisa tersampaikan....terus...ehm..apah lagi ya. Lali aku Mbak, ada kok point-point untuk menilainya.”
Ehm etapi sebenarnya isi obrolan saya dengan Idah buanyak dan Maaf narasi dialog di atas tidak sama persis. Tapi intinya ya seperti dalam dialog tersebut versi seingat saya di atas deh.

Eniwei, hadiah bukunya Itik Bali karya Dyah Ayu, seorang blogger muda dari Bali. Alhamdulillah hadiah tersebut sudah saya terima dengan sukses tanpa complain dan karena bukunya masih rapih dalam wrapping-nya, jadi plissss jangan tanyain isi buku Itik Bali dulu yaaaa........

Tiada bosan mengulangi, mohon maaf untuk semua sobat Blogger yang belum saya kunjungi balik. Untuk beberapa rentang waktu ke depan acara jalan-jalan di blogsphere bakal terganggu. Ya pengennya sih bisa MODE ON ngeksis blogging gas poll rem separoh, bisa chat room lagi rame-rame, bisa sering mbolang-mbolang lagi,......Nah, sepertinya untuk sesi curcol kali ini harus segera di tutup dulu, karena sudah mulai muncul tanda-tanda bakal nglantur. Keep #Happy Blogging semuah.... 

When I Re-Start to write

Prolog: Lumayan lama gak nulis sok bule dan turis. Selagi jari-jemari menjadi asing dalam merangkaikan bahasa alien tersebut, Bismillahirrahmaanirrahiim mencoba kembali membuat postingan dalan English version. Seperti sebelum-sebelumnya, diharapkan sangat akan pemaklumannya mana kala tatanan, kosa kata dll-nya dalam tulisna ini banyak gak nyambungnya alias jungkir balik kayak dewa mabuk methanol satu jirigen ya.

So Here I’m, sitting down with my netbook and enjoy some musics from my radio. Just wanna spend a few minutes to think when I Re-Start to write [again]. Yups, I said “Re-start” because so long time ago I had fallen love in writing beside reading a book as my lovely hobby. Some how, I just stopped writing. I turn on another focus: my daily activity. Year by year goes bye, I’m waiting for something happen. Something that make me arise and write as well in my day dream. I have been waiting for a long time and nothing happens! I am frustrated: I have no skill to be good writer! Yes, I do think like that. I also assume, perhaps I have no talent too? I was in that situation a few years ago. It was so terrible completely! 

I needed good mood, good idea, much time...etc....So what did I do then? Deep inside me, truly desire to create any writing. Then, I learn and create a blog....That’s right, I started writing through my blog. This is the moment I do realize what I need just : START it.....after that, do it regularly by the time. Now wasn’t that a great solution for my stagnan writing? I started writing entry for my blog. Until now and I’m sure will never end that  I NEED still to learn and practice [over and over again] how to write better: enjoy to read, easy to understand,  no confusing sentences, briefly, so forth....BUT the fact my skill in writing still crowded [more over in English version!]

NO matter what happen, I already declare to keep going in writing. Then, just the thought of offering my total heart and spending my time cherishing every moment with writing while reading as my hobby. I believe it brings incredible emotions to me that I have experienced before.

In every second of life, we receive a wonderful opportunity as another face of challenges, and one of them is to write. So, writing is offering an option for long live and it is always as attractive hobby as the first time since I knew it.




Surat Cinta [Biasa]

Air dengan sifat anomalinya dan perasaan manusia mempunyai keunikan yaitu [akan] berfluktuasi dengan dinamika rasa cinta, benci, takut, senang, kuatir dan semacamnya dari waktu ke waktu. Namun yang mungkin terasa sublim bahwa fluktuasi perasaan sering tidak disadari dan tidak terungkap [atau disadari tapi tidak terungkap?]. Bismillahirrahmaanirrahiim Sebuah kondisi yang kemudian menghamparkan kenyataan lain: setiap kita tidak akan pernah bisa mengetahui dengan pasti perasaan orang lain terhadap dirinya. Memang mungkin saja kita bisa menangkap dari sorotan mata, gerak tubuh dan tingkah laku lainnya, but the trueness of the feeling will never appear selama tidak diungkapkan secara verbal.

Dan dalam rangka memenuhi tantangan tematik LBI yang mengusung tema “Surat Cinta”,  yang bagi saya ini merupakan tema paling sulit dari tematik sebelum-sebelumnya. But Challenge is a Chance, then here is my first love letter “

Inilah versi non hand writting-nya,:

Dear my Lovely Cak Po,
Assalaamu’alaikum warahmatullahi Wabarakaatuh
Asli kalau aku harus menyampaikan secara langsung semua isi tulisan ini, dijamin aku bakal tetap terbungkam seribu bahasa lho. Dan aku juga yakin Cak Po juga bakal bilang: Lagi ngapalin  naskah untuk pentas teathre ta? Ya demikianlah salah satu keunikan dalam keluarga kita yang lebih menghayati [bentuk] cinta dengan menguraikan dalam laku tindakan. Kehidupan mengajari kita semua bahwa ukuran integritas cinta adalah manakala ia ada dalam hati kemudian terkembang dalam kata-kata yang meneduhkan dan diwujudkan dalam perbuatan sehari-hari secara kontinyu.… Inilah pelajaran tentang cinta yang bisa aku simpulkan dari apa-apa yang telah kau lakukan untukku dan pastinya pada yang lainnya.

Cak Po,
Maafkan adikmu ini yaa....yang selama ini menganggap segala bentuk perhatian dan kasih sayangmu sebagai hal yang biasa saja: lumrahlah kakak menyayangi adiknya, berkorban untuk adiknya, lebih mementingkan kebutuhan adiknya...bla..bla..bla...Hingga suatu hari ada seseorang yang bilang “ Sampeyan kuwi koyone adik sing paling disayangi Cak PO ya?” Dan adikmu yang naif ini pun baru mulai memikirkan dan meresapi semua hal yang Cak Po lakukan dan berikan padaku, tak hanya semasa aku masih berseragam sekolah merah putih hingga abu-abu putih kemudian kuliah serta memasuki dunia kerja....Aku yakin Cak PO tak akan ingat semua yang telah kau berikan dan lakukan padaku dan aku juga tak bisa menyebutkannya satu persatu HANYA  masih bisa mengingatnya dengan baik serta menyadari bahwa aku tak akan mampu memberikan seperti yang telah kau perjuangkan untuk adik tercantikmu ini [aku selalu suka bilang sebagai adik tercantik ya, karena adikmu yang perempuan hanya aku seorang].

Bahkan hingga ketika ada laki-laki yang menyampaikan pinangan padaku, Cak Po yang pertama memberikan persetujuan sekaligus meyakinkanku “Berterima kasihlah pada semua hal yang terjadi, karena dengan begitu kita akan bisa mengambil pembelajarannya untuk menjadi diri yang lebih kuat dan bijaksana”
Cak Po juga deh yang kemudian paling all out memberikan dukungan. Dan untuk semua hal itu, aku juga paham jika Cak PO hanya ingin aku bahagia kan?  Dengan segala adaku, aku pun hanya bisa bilang: Terima kasih karena Hukum Newton III “ Aksi = Reaksi” Atau kesetimbangan kimia “Stoikiometri” kali ini tak bisa aku buktikan padamu.

Udah dulu ya Cak PO, jika aku teruskan menulis semuanya dalam surat ini pasti tak akan ada habisnya, harapan dan doaku selalu semoga Cak Po sekeluarga dilimpahi kebahagiaan  dan keberkahan hidup dunia-akherat. Oh iya, satu lagi......I’ll be your lovely little sister ever after...Heheheeeee. ♥♥♥♥♥

Wassalam ~ Adik tercantikmu
======

Demikianlah Surat Cinta [Biasa] yang saya buat special untuk kakak tercinta Cak Po. bahwa dalam kita merenungi makna cinta, akan membawa pada salah satu simpul cinta yaitu cinta hanya kuat ketika ia datang dari pribadi yang kuat karena integritas cinta hanya mungkin lahir dari pribadi yang juga punya integritas.






Let's Move ON.....

Saat mengenang masa yang sudah lewat atau bahkan hari ini, sangat mungkin banyak yang terjadi. Ada hal yang membuat kita sedih, tapi kita juga yang bisa memberinya arti supaya tetap tersenyum.  Bismillahirrahmaanirrahiim  berkaitan dengan Tali Asih yang beberapa hari saya terima dari Pakdhe Cholik yaitu Buku Perdana yang beliau terbitkan dengan judul “Rahasia Menjadi Manusia Kaya Arti” dimana saya diberikan kehormatan untuk menjadi salah satu yang menuliskan Endorsement [padahal saya masih lost direction alias kacau balau dalam membuat: Resensi, Review dan endorsement].

Dari buku “Rahasia Menjadi Manusia Kaya Arti” yang secara keseluruhan berisikan spirit Let’s Move ON dalam tatanan kalimat yang humble dan renyah untuk dibaca, quote favorite saya dari buku tersebut: Jika hari ini kamu hanya mampu maju selangkah , majulah, tetapi jangan sampai mundur”. Dalam narasi yang lain nilai pembelajaran yang bisa saya simak adalah [sebuah] kegagalan yang sebenarnya manakala kita tidak bisa "memaknai" peristiwa “belum berhasil” sebagai media untuk introspeksi diri & menjadikannya moment untuk menguji keteguhan niat, menumbuhkan semangat kita to make better fight. Bahwa dengan kegagalan kita bisa lebih menghargai sekecil apapun pencapaian yang kita raih. Menghitung kegagalan hanya akan membuat kita kehilangan motivasi dan mendegradasi rasa kebersyukuran.

Jadi tak ada niatan untuk menggurui, hanya sekedar belajar “membaca” Rahasia Menjadi Manusia Kaya Arti bahwa saya BERUSAHA lebih suka mencoba dulu sehingga tahu hasilnya. Saya justru akan menyesal jika saya tidak pernah mencoba, saya percaya Kesempatan tidak hanya datang sekali tapi berkali-kali with different ways. Hanya orang yang tidak pernah mencoba yang tidak pernah gagal. Sedih dan kecewa jika hasil gagal menunjukkan bahwa kita memang manusia tapi tidak perlu berkepanjangan just wasting time, when we go down we'll find new spirits to face the reality and make new efforts. Saat mengalami kegagalan, bukan hanya sukses yang tertunda tapi juga kesempatan buat saya untuk lebih mawas diri dan mengasah mental untuk lebih fight. Dengan begitu saya tak perlu berlama-lama larut dalam kesedihan.



Gagal bukanlah hasil yang buruk tapi kita diberi kesempatan untuk mencoba lagi di waktu yang berbeda dan cara yg lebih baik lagi.
So, just believe there is always way to reach your dream come true....