Post Paid on IG

WHAT'S NEW?
Loading...

Notebook Tipis, Bikin Emak Makin Produktif. Tipis Itu Nggak Harus Mahal

Emak-emak melek internet merupakan fenomena yang tidak asing lagi. Mengakses internet tidak hanya Facebook, twitter atau chatting, namun Bismillahirrahmaanirrahiim semakin banyak para emak menggunakan internet untuk menjadi citizen jurnalism atau nge-blogger karena TIDAK memerlukan persyaratan formal yang berbasis jurnalistik untuk eksis up date tulisan. Selama tulisan tidak menghujat dan tanpa unsur SARA, maka saya yakin sebuah tulisan merupakan masterpiece sepanjang masa. Hal-hal yang kita publish di media online, bisa jadi memiliki nilai inspiratif dan bisa menjadi motivasi bagi orang-orang yang membacanya.

Semua hal yang kita alami, lihat, dengar dan rasakan sangat bisa dituangkan dalam tulisan, merekam jejak yang bisa disimak oleh anak-cucu khususnya, sekaligus berbagi cerita dengan banyak orang di luar sana. Jika mengerucut pada daily activity para emaks blogger yang kaya ragam cerita dan peristiwa serta pengalaman emosional sebagai MANAGER rumah tangga, merupakan sumber tulisan yang tiada akan habis untuk di explore.

Melek internet, memiliki sumber tulisan dan semangat untuk berkarya tulis Dalam melakukan kegiatan menulis, tentu saja para emak blogger membutuhkan sarana/alat menulis untuk menuangkan idenya di blog seperti komputer, laptop, dan gadget/smartphone. Penggunaan masing-masing peralatan tersebut tentu mempunyai segmen moment yang berbeda-beda. PC tentu sangat mendukung bilamana kita stand by di tempat [rumah/kantor]. Menulis via smartphone untuk durasi tulisan yang panjang atau frekuensi yang sering, membuat mata tidak nyaman dan sangat mungkin menambah angka minus penglihatan saya. Tapi bila disinkronkan dengan para emaks yang higly mobile, tentunya jika menenteng laptop kemana-mana cukup membebani pundak dan gak asyik.   Lha emak-emak sekarang kan rata-rata memiliki tingkat mobilitas yang tinggi dan ide-ide untuk menulis kan bisa datang kapan dan dimana saja. Selain itu, di sela-sela aktifitas para emak yang bersifat mobile, banyak terdapat kesempatan yang bisa dimanfaatkan untuk menulis, misalnya:
  1. Menunggu anak sekolah, bagi yang masih di PAUD, baru masuk TK atau SD. Kebanyakan para emaks kan menunggui putra/putrinya sampai jam pelajaran usai.
  2. Menemani anak di taman bermain . Saat anak-anak asyik bermain, seidaknya ada waktu 1-2 jam untuk menungguinya. Apalagi jika di zona tersebut ada hot spot area, asyik maknyus jika dimanfaatkan untuk menulis.
  3. Saat traveling yang long trip. Bahkan jika perjalanan via udara pun tetap ada delay time yang cukup untuk bisa dimanfaatkan dengan aktifitas produktif seperti menulis.
Dan masih banyak aktifitas mobile lainnya yang akan lebih meaningfull jika ditemani oleh gadget yang compatible untuk ditenteng kemana-mana dan spesifikasinya. Jadi tak heran jika terjadi pergeseran minat konsumen pada Notebook yang modelnya tipis dan ringan dengan tetap menomorsatukan fitur-fitur unggulan dan daya tahan baterai tinggi. Pengharapannya adalah Notebook Makin Tipis, Bikin Emak Makin Produktif  setiap saat dan dimanapun. Ekspektasi konsumen ini langsung ditangkap oleh Acer Indonesia yang Belum lama ini telah melaunching notebook dengan inovasi terbaru yaitu: Acer Aspire E1 Slim Series, 30 % Lebih Tipis, Fitur 100 % Lengkap untuk Bekerja dan Bermain. yang memadai untuk kebutuhan office basic, browsing, multimedia, bahkan untuk bermain game sekalipun.
Nah generasi baru dengan fitur esensial yang lengkap namun dengan form factor yang lebih bersahabat untuk para pengguna dengan mobile yang dirilis Acer Aspire E1-432 yang memiliki Dimensi: 30% Lebih Tipis dari notebook konvensional. Berikut ini desain performance Aspire E1-432:
  1. Monitor LED berukuran 14” dengan resolusi 1366×768 px dengan ketebalan sekitar 25.3 mm
  2. Dua pilihan warna: Piano Black dan Silky Silver dengan desain elegan pattern bintang-bintang yang dinamakan Starry Swirls pada casing dan keyboardnya
  3. Tersedia keyboard model chiclet yang luas dan nyaman jika digunakan dalam waktu lama.
  4. Trackpad dengan permukaan yang bertekstur, lebih akurat dan responsif.
  5. Kedua interface pada notebook ini didesain optimal untuk penggunaan OS Windows 8.
Adapun Fitur esensial pada Aspire E1-432 yang 30% lebih tipis:
  1. Ketersediaan optical drive sehingga user tidak perlu ribet membawa  DVD-RW external saat aktifitas mobile.
  2. Terdapat  tiga buah port USB, yang satu diantaranya sudah menggunakan USB 3.0 dengan transfer data 10x lipat lebih kencang dibandingkan USB 2.0
  3. Sebuah card reader yang dapat membaca memori berbasis SD Card dan MMC.
  4. Bagian display output, dilengkapi sebuah VGA port untuk presentasi menggunakan proyektor.
  5. Sebuah HDMI port yang sangat berguna untuk menampilkan gambar pada LCD/LED eksternal dengan ukuran dan resolusi yang lebih besar.
  6. Dilengkapi pula dengan Webcam HD sehingga spAcer tetap bisa eksis melakukan streaming, video chatting dan  kompak juga untuk bernarsis ria MODE ON.
  7. Sebuah port LAN (RJ-45) yang dapat digunakan tanpa memerlukan converter dan sebuah wireless adapter Acer Nplify 802.11b/g/n untuk berselancar melalui koneksi hotspot jika kita sedang berada di zona free wifi.
Spesifikasi Unggulan yang ditawarkan Acer Aspire E1-432 adalah Prosesor yang digunakan Intel 4th Gen terbaru  atau Haswell. Acer mempersenjatai notebook ini dengan prosesor Intel® Dual Core Celeron® Processor 2955U yang memiliki dua buah inti (dual core) dan berjalan pada kecepatan 1.40 GHz. Prosesor ini merupakan memiliki keunggulan:
  1. Penggunaan arsitektur Haswell (22nm) yang dapat bekerja sangat efisien dengan TDP hanya 15 Watt dengan kombinasi baterai 4-cell (2500mAh) sehingga daya tahan baterai notebook akan jauh lebih maksimal. Uji coba yang telah dilakukan dengan memutar multimedia [film HD], notebook mampu bertahan hingga 6 jam dan berkisar 3-4 jam saat menjalankan game.
  2. Prosesor Intel Celeron 2955U terintegrasi dengan Intel HD graphics terbaru sehingga support pula jika notebook emak-emak hendak dipakai bermain game oleh sang buah hati karena prosesor Intel Celeron 2955U ini mampu memberikan peningkatan performa yang signifikan.
  3. Aspire E1-432 juga dilengkapi RAM DDR3 sebesar 2GB  yang bisa di upgrade sampai 8GB. Media penyimpanan harddisk SATA 500GB, jadi cukup banget untuk menyimpan banyak file, multimedia, dan game.
Dengan segala fitur unggulan pada Acer Aspire E1-432, harga jualnya terhitung sangat RAMAH yaitu Rp.4.749.000,-  Jadi kehadiran Acer Aspire E1-432 ini membuktikan bahwa Notebook Makin Tipis, Bikin Emak Makin Produktif. Tipis Itu Nggak Harus Mahal.
Bagi yang sedang galau cari notebook slim dengan fitur lengkap, maka  Aspire E1-432 sangat recomended. Apalagi saat ini ada promo, setiap pembelian 31 Oktober 2013, ada garansi FULL 3 tahun termasuk service dan sparepart. Untuk Aspire E1-432, saya hanya bisa bilang WOW....mau dunk?

Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”




Reference: Acer Aspire E1-432











Peran Strategis Ibu Bagi Calon Pemimpin

Prolog
Menuliskan tentang rencana serta persiapan, atau pengalaman pribadi  “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil”, artinya mengimplementasikan secara konsisten bagaimana bersikap dalam menghadapi tutur seorang ibu yang bisa berdampak  efektif dalam pembentukan karakter anak. Mempersiapkan Si Pemimpin kecil equal dengan pembentukan karakter anak sebagai Calon penerus Pemimpin masa depan. Dan Bismillahirrahmaanirrahiim dengan mengkombinasikan antara pengalaman sebagai mantan anak, reference bacaan [buku dan artikel-artikel on line] tentang parenting dan cerita dari orang-orang sekitar yang sudah berpengalaman mendalami peran sebagai Ibu/orang tua.

Peran Strategis Ibu Bagi Calon Pemimpin
Visi Mempersiapkan Si Pemimpin kecil menjadi manusia bermanfaat yang equal dengan pembentukan karakter anak sebagai Calon penerus Pemimpin masa depan, yakni menumbuhkembangkan sejak dini dalam diri anak semenjak usia kanak-kanak tentang nilai-nilai: agama, tanggung jawab, disiplin, toleransi/tepa slira, saling menghargai dan menyayangi terhadap orang serta hal-hal diluar diri pribadi. Nilai-nilai tersebut tidak bisa hanya sekedar dogma/teori yang di berikan pada anak-anak ibarat pembacaan dongeng. Perlu adanya iklim dan aktifitas/kegiatan yang tepat sasaran sehingga secara naturally meresapkan nilai-nilai normatif tersebut dalam pola pikir, sudut pandang dan dinamika hati nurani pada diri anak, yang senada dengan pernyataan dari buku The 7 Habbits of Highly Effective People yaitu:
Taburlah gagasan petiklah perbuatan, taburlah perbuatan petiklah kebiasaan, taburlah kebiasaan petiklah KARAKTER, taburlah KARAKTER petiklah nasib.
Sehingga secara garis besar, element-element yang memiliki nilai critical point dengan kontribusinya yang sangat significant terhadap pembentukan Karakter/kepribadian anak bisa diklasifikasikan dalam 3 Main stream yaitu: Keluarga, Sekolah dan pergaulan [lingkungan sosial]. Ketiga main stream yang memiliki peran penting yang pastinya saling terkait dan melengkapi dalam proporsinya masing-masing.
 
Kembali pada Hot Topic  “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil”, artinya tulisan ini mengambil fokus pada Lingkungan Keluarga atau tepatnya kiprah dan peran Ibu [orang tua] dalam mendampingi anak-anaknya bertumbuh dewasa. Keluarga sebagai ‘sekolah’ pertama dan memiliki peran dominan dalam pembentukan karakter dan kepribadian seseorang, maka dari lingkungan keluargalah harus dimulai proses pembelajaran dan penanaman nilai-nilai agama, tanggung jawab, disiplin, toleransi/tepa slira, saling menghargai dan menyayangi. Sebagai ilustrasi sederhana, berikan kegiatan yang bisa dilakukan dan disukai anak-anak misalnya memelihara ayam. Masing-masing anak berikan seekor ayam untuk dirawat dan dipelihara. 

Secara perlahan, masing-masing anak akan terbawa dalam euforia untuk bertanggung jawab, disiplin, berkerja sama, bermusyawarah, saling membantu, serta menumbuhkan rasa kasih sayang yang tulus sebagai out put kegiatan memelihara ayam tersebut. Tentu saja ini hanya salah satu contoh yang saya adopsi dari masa kecil saya.  Pekerjaan rutin [selain mengurusi diri sendiri] yang kami lakukan sehari-hari di luar jam sekolah tersebut memberikan penguatan karakter baik pada diri sehingga secara otomatis memiliki komitmen untuk menjadi anak yang secara inisiatif muncul dari keinginan sendiri untuk melatih alert sensor minimal tidak melakukan hal-hal yang destruktif yang merugikan dan membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Tiap generasi dibangun di atas generasi sebelumnya –normally generasi sebelumnya akan berusaha memperbaiki hal-hal vital yang terkait dengan pendidikan anaknya agar lebih konstruktif bagi anak sebagai agent generasi selanjutnya. Bapak dan ibuk, tentu punya peran penting yang proporsional dalam kapasitas dan posisinya masing-masing. Kehadiran dan posisi mereka senyatanya adalah peran yang saling melengkapi dalam rangka mendampingi anak-anaknya memasuki gerbang kehidupan, menjadi individu yang sebaik mungkin menatapi proses demi proses meunuju bahagia dengan tidak menjadi sosok yang individualis serta eling marang ingkang Maha Dumadi. Bapak dan Ibu adalah sepasang manusia yang berkolaborasi intens dengan landasan tak mengharap kembali ~ ikhlas, istilah kerennya. 


Bahwa Kontribusi terbesar pembentukan karakter anak dari lingkungan keluarga yaitu orang tua-lah yang memegang peran strategis dalam mempersiapkan pondasi dasar karakter anak. Tiada maksud mengecilkan peran penting seorang ayah, tapi demi mengacu pada tema yang telah ditetapkan, sehingga serangkaian ulasan selanjutnya straight pada Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil.

Dalam rangka menjalani keseharian peran sebagai ibu dimana start point saya adalah jumping step yaitu langsung melanjutkan peran seorang ibu untuk 3 anak yang notabene sudah mulai memiliki kemampuan untuk mengapresiasi. Antara nekad dan realistis, menjadi ibu seperti yang saya lakoni perlu saya yakinkan diri saya sendiri bahwa:
menjadi seorang ibu adalah proses belajar yang bergulir secara dinamis karena dari hari ke hari setiap orang sebenarnya menghadapi variabel-variable yang baru lagi dari sebelumnya. Maka menjalani peran sebagai ibu pun setiap hari memrlukan proses belajar dan adaptasi karena setiap hari pula anak-anak tumbuh dan bertambah dewasa. Bedanya kalau bagi posisi seorang ibu adalah terletak pada SUDAH PERNAH menjalani fase kehidupan sebagai anak sehingga secara general punya kisi-kisi tentang apa dan bagaimana dinamika perasaan, harapan dll di posisi anak.
Salah satu intisari yang saya serap dari wacana parenting adalah Mendidik anak TIDAK sama dengan membuat kue atau mendirikan konstruksi bangunan yang langsung bisa dilihat hasil jadinya. Pada dasarnya yang kita lakukan adalah menyiapkan dasar-dasar yang kuat agar dalam perjalanan hidupnya kelak si anak mampu menghadapi aneka ragam tantangan dan kesulitan hidup karena hidup tidak selalu berjalan datar. Life is never flat, demikian pula kerangka sikap yang perlu saya terapkan [saat ini] untuk menempatkan posisi dalam mendampingi Ifa, Aida dan Azka. Saya lebih sreg untuk menerapkan sikap dan perlakuan terhadap AIR bagi amanah anak saya saat ini. Dengan mengambil karakteristik utama air yaitu fluida berbentuk cair yang bersifat netral, maka:
  1. Ada saatnya untuk menambahkan tetesan perasa untuk membuat air menjadi lebih berasa, 
  2. memberikan warna tertentu sehingga warna air menjadi lebih indah berpelangi kala tersinari mentari
  3. serta ada saatnya untuk memberikan bentuk [forming time]
Air akan berasa pahit, manis, asam; bagaimana air akan berbentuk sesuai model wadah seperti mangkok, gelas piala atau melebar tanpa bentuk; serta akan kemana arah aliran air, maka peran proaktif Ibu punya porsi yang sangat menentukan. Kalau saya ringkas dalam versi lebih sederhana, ibarat Rumus Stoikiometri dimana untuk menghasilkan kesetimbangan reaksi antara ruas kanan dan kiri [peran ibu dan posisi anak], maka masing-masing senyawanya memerlukan variable/angka koefisien reaksi yang berbeda-beda agar bisa terjadi kesetimbangan reaksi.

Pendidikan anak [Tarbiyatul Abna] yang compatible, memiliki hubungan yang linear dengan pembentukan karakter anak yang solid, dimana proses pendidikan ini akan berlangsung terus-menerus yang TIDAK HANYA menelurkan Kebaikan untuk sang anak, tapi juga berbuah kebaikan bagi orang tua dan masyarakat. Ketika seorang ibu menjalankan perannya dengan optimal dalam mendidik anak-anaknya, membina dengan tarbiyah yang shalih, maka anak-anak akan menjadi generasi yang baik biidznilah. Dengan demikian akan menjadi sebab baiknya masyarakat  yang akan terus berlanjut pada generasi selanjutnya. Oleh karena itu, implementasi Peran Strategis Ibu Bagi Calon Pemimpin, pada intinya adalah bagaimana membentuk dan mengembangkan karakter baik anak yang harusnya merupakan komitment yang dilakukan secara Konsisten dan berkesinambungan.
Selaras dengan Peran Strategis Ibu Bagi Calon Pemimpin dengan visi membentuk dan mengembangkan karakter anak, berikut ini secara ringkas point-point yang perlu saya jadikan goal action dalam menjalani peran sebagai ibu dimana-mana aspek-aspek yang saya targetkan ini bisa diejawantahkan secara multitasking/bersamaan. SET UP diri sendiri dalam rangka mencapai capability personal yang high quality, yaitu:

1.    Berusaha menjadi pribadi yang sehat dan bahagia.
Menurut saya hal ini penting untuk diperhatikan karena seorang ibu yang sehat dan bahagia akan bisa melakukan banyak hal produktif dan positif bagi anak-anak dan keluarga. Seperti kita tahu bahwa menjadi bahagia  itu pilihan, sehingga kita tak tidak perlu mempersyaratkan [menunggu] tercapainya kondisi-kondisi tertentu untuk menjadi bahagia. Toh sebenarnya Rasa Bahagia bisa kita peroleh dengan cara-cara yang tidak sulit, misalnya: Menyempatkan untuk tetap menjalani hobi, melakukan aktifitas dengan enjoy, menikmati apa yang ada di sekitar kita dan berusaha positif thinking manakala mengalami peristiwa yang diluar expectation [jika sedih atau kecewa tidak perlu sampai larut berkepanjangan]. Karena saya suka mbolang, jadi ya di rekonstruksi pola mbolangnya agar mix dan match dengan kondisi setelah menikah: jalan- jalan ke pantai misalnya. Terus saya juga masih berusaha menjalani hobi menulis, termasuk menuliskan aneka warna keseharian saya yang sekarang sudah menjadi ibu. Demikian pula untuk jadi diri yang sehat yaitu dengan berusaha dan berkomitment dengan healthy life style, secara luas akan berimplikasi terhadap pola asuh kita pada anak-anak juga. cara dan melakukan hal-hal atau hobi yang kita sukai, merupakan cara yang tidak sulit untuk menjadi sehat dan bahagia. Dengan untuk menjadi sehat sebenarnya tidak mahal kan? 

2.    Hubungan dengan pasangan harus harmonis
Saya yakin, semua orang sepaham bahwa hubungan suami-istri yang tidak harmonis akan berdampak pula pada psikologis anak. Bahkan andai ditutupi dari anak-anak pun, chemistry-nya akan tetap bisa dirasakan oleh anak-anak jika something going wrong pada orang tuanya.  Maka sangat tidak salah jika keharmonisan hubungan dengan pasangan merupakan trigger untuk menciptakan kenyamanan suasana di rumah yang akan mendukung iklim yang sehat bagi perkembangan psikologis anak-anak. Dan seperti saran/nasehat para pakar dan konsultan pernikahan, keep communication atau jangan ada sandiwara [dusta] di antara suami-istri menjadi sarana efektif untuk mengharmoniskan hubungan. Bila kita bisa membangun hubungan dengan pasangan yang harmonis, tentunya tidak sulit pula untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar kita.

Kedua point SET UP diri sendiri tersebut memiliki dampak simultan yang memiliki multiple efect terhadap anak-anak yaitu kita akan memiliki motivasi untuk up to date dan up to grade. Di era digital ini, sosok seorang ibu harus bisa mengikuti perkembangan informasi yang bergerak global untuk bisa mendampingi anak-anak melalui tahapan perkembangan menuju kedewasaan dan menjadi generasi yang tangguh.

Dari konteks pemahaman di atas dan dengan mengutip wejangan Bapak Pendidikan  Ki Hajar Dewantara: Pendidikan adalah segala daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya dan bagaimana implementasi Peran Strategis Ibu Bagi Calon Pemimpin sejatinya memang berorientasi pada pembentukan kepribadian atau karakter yang paripurna, maka dalam rangka ikut sharing mengenai “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil” yang saya ringkaskan dari praktek menjadi seorang ibu [walaupun baru seumur jagung] untuk 3 orang anak yang saya jalani secara doing by learning. Berikut ini beberapa pembiasaan yang coba saya implementasikan dalam koridor dan jangkauan peran [tiba-tiba] menjadi Ibu yang secara bertahap dan ternyata memang butuh tingkat kesabaran dan penataan emosi kala mempraktekkannya terhadap anak-anak [saya] antara lain:
  1. Menerapkan  pola makan sehat dan wajib sarapan, saya tempatkan sebagai langkah awal untuk mempersiapkan stamina yang mendukung tumbuh kembang anak-anak karena jiwa yang sehat terdapat dalam tubuh yang sehat. Jadi sebisa mungkin pilih menu makan yang mendekati unsur 4 sehat 5 sempurna. Memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk meng-arrange menu makan 7 hari dalam seminggu, terutama untuk membiasakan sarapan bagi Azka [anak ketiga] yang menu makannya masih belum variatif. Kalau Ifa dan Aida sudah dengan kemauannya sendiri sarapan setiap pagi karena sudah paham manfaat sarapan bagi tumbuh kembang serta kesehatan diri untuk jangka panjang. Khusus untuk Azka, saya mencoba berbagai cara persuasif, diantaranya “mengikuti” kemauan Azka yang hobi makan mie instan sebagai langkah permulaan. Hari-hari berjalan, sedikit demi sedikit porsi mie Instan saya kurangi dengan subtitusi nasi dan lauk. Awalnya tentu ada penolakan, tapi dengan pendekatan dan sering diajak membahas tentang perlunya sarapan, saya ajak browsing artikel terkait manfaat sarapan. Kebetulan Azka suka sekali futsal. Jadi saya kaitkan kenapa saya demikian concern agar setiap pagi sarapan dengan kegiatan futsal agar Azka bisa lebih interest untuk rajin sarapan. Agar asupan sarapan memenuhi kebutuhan gizi, saya perlu memaketkan konsumsi sarapan dengan segelas susu atau cereal.
  2. Berusaha menerjemahkan Surat Luqman ayat 13Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”sebagai landasan pendidikan terhadap anak karena prioritas pertama pembentukan karakter anak adalah penanaman akidah dan akhlak sehingga Pendidikan akidah dan akhlak sangat perlu kami utamakan sebagai kerangka dasar/landasan dalam membentuk pribadi anak yang beriman. Penerjemahan konteks ini melalui kebiasaan untuk berdoa sebelum dan sesudah melakukan aktifitas dan doa-doa harian lainnya, sholat berjamaah baik di rumah dan sesering mungkin mengajaknya ke mesjid [maghrib, isya], mengaji setiap habis maghrib atau membaca Yaasiin berjamaah kala malam Jumat.
  3. Memilihkan lingkungan sekolah kondusif. Menyadari bahwa pada usia anak-anak terjadi perkembangan mental secara sangat cepat dan diusia anak pula mereka sangat sensitif dan peka mempelajari dan berlatih sesuatu yang dilihatnya, dirasakan dan didengar dari lingkungannya. Pada usia dini ini merupakan golden moment dalam pembentukan karakter anak  sebagai hasil belajar dan menyerap dari perilaku kita sebagai orang tua dan dari lingkungan sekitarnya. Maka sekolah adalah lingkungan kedua setelah keluarga dimana anak-anak akan menjalani kesehariannya yang berkontribusi besar terhadap kemampuan anak dalam membangun dan mengembangkan pilar hubungan diri sendiri – sosial – Tuhan yang merupakan karakter-karakter yang dimiliki orang-orang yang sukses. Oleh karena itu, lingkungan sekolah yang positif akan membentuk karakter yang positif pada diri anak-anak. Dalam rangka memilihkan sekolah, sebagai ibu tentu harus aware untuk memasukkan pertimbangan kenyamanan anak, semisal mengajak anak untuk melihat-lihat dulu lingkungan sekolahnya.
  4. Membelajari disiplin dan punya rasa tanggung jawab pilihan sanki yang edukatif. Kita sering bersinggungan dengan aspek-aspek yang menuntut kedisiplinan dan tanggungjawab dimana seringkali kondisi ini permulaannya identik dengan “dipaksa” oleh adanya sanksi yang bisa membuat efek jera.  Untuk orang dewasa, model ini bisa jadi tidak masalah karena pola pikir dan tingkat pemahaman yang sudah mature. Akan tetapi untuk usia anak-anak? Tentu sangat tidak mungkin jika anak-anak diajari disiplin dengan konsep ‘semi militer’ tersebut. Menurut saya, attitude disiplin dan tanggung jawab bisa dikondisikan secara linkage. Model  PILIHAN akan lebih impressif untuk anak-anak. Salah satu Contoh konkritnya adalah tentang kasus seragam sekolah yang terjadi beberapa hari. Mensiasati ketidakpunyaan asisten rumah tangga, maka untuk urusan cuci – strika baju saya delegasikan ke laundry secara rutin dua hari sekali. Aida dan Azka saya kasih penjelasan agar setiap kali ganti baju langsung ditaruh dibelakang sehingga tak ada baju kotor yang tertinggal saat ada orang laundry yang ambil cucian ke rumah. Sesekali tentu masih ada baju yang tertinggal di kamar tapi gak masalah karena baju untuk di rumah. Nah beberapa hari lalu, baju seragam Aida yang akan dipakai esok harinya ternyata masih tertinggal di kamar. Ketika Aida mendatangi saya dan menceritakan kalau bajunya belum tercuci, saya hanya bilang, “ lha apa perlu sekarang di antar ke Laundry?”. Beberapa menit Aida terdiam, sepertinya dia menimbang-nimbang, lantas menjawab “biar dicuci di rumah saja Bun”. Saya pun mengajukan pertanyaan, terus nanti yang setrika siapa kalau di cuci di rumah? “ Ya biar Aida sendiri nanti yang setrika, Bun”. Beda lagi kejadiannya dengan Azka, meski sudah biasa untuk sarapan tapi sesekali masih muncul adegan ngambeg sarapan. Saya pun sudah bilang jika tidak mau sarapan = laptop terkunci di lemari dan saya sudah pernah membuktikannya. Maka ketika minggu lalu Azka kambuh ngambeg sarapan, saya hanya bilang pada Azka, “ Bunda gak nglarang kok kalau gak mau sarapan. Silahkan saja kalau Azka tidak mau sarapan ya...”. Dan spontan Azka menjawab “terus laptopnya dikunci berapa hari Bun?”.  Dari peristiwa tersebut, saya pun berkesimpulan jika disiplin dan rasa tanggung jawab bisa ditumbuhkan kembangkan secara sinergis dari hal-hal yang mungkin sepintas sepele tapi ketika sudah terkondisikan ternyata memiliki dampak yang sangat kondusif bagi penanaman rasa disiplin dan tanggungjawab.
  5. Memberikan pujian yang bisa menguatkan rasa Percaya Diri. Untuk mendukung semangat anak-anak dalam mengotimalkan potensi dirinya, saya sesekali memberikan pujian. Semisal saat Azka mau belajar tanpa perlu dikomando atau Aida dengan inisiatifnya mau membantu memasak atau saat Ifa dirumah [libur dari asramanya] menjadi sukarekawan untuk membenahi kamar Azka yang berantakan. Pujian sederhana, semisal “ nah gitu dunk, sudah keren jadi makin keren deh; Alhamdulillah sudah tambah dewasa sekarang...dsb”, dari yang saya amati ternyata membuat mereka berbinar-binar dan terlihat lebih bersemangat. Tentu saja, saya tidak lantas setiap hari mengobral pujian karena bisa jadi saya dianggap lebay atau justru membuat anak jadi risih jika terlalu sering dipuji.
  6. Memberi Motivasi,Dukungan dan support pastinya merupakan suplemen psikologis yang sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Untuk memotivasi ini, saya perlu mengkonversi kalimat – kalimat yang berfilsafat dalam bahasa yang bisa dipahami dan dimengerti oleh Ifa dan adik-adiknya. Jika ada perlombaan tertentu, saya katakan asal mau ikut saja sudah merupakan kemenangan juga. Perolehan gelar juara dan piala memang sangat membanggakan, tapi ada yang jauh lebih membanggakan yaitu keberaniannya untuk mencoba berkompetisi karena sejatinya setiap kita ikut perlombaan adalah Faidza Azamta Fatawakal’Alallah karena berharap kemenangan sama artinya kita mendokan kekalahan peserta lain.
  7. Membatasi nge-game dan Menemani anak nonton TV. Nge-game dan menonton TV adalah dua hal yang memiliki daya magnetis luar biasa bagi anak-anak. Karena itu, saya sengaja memberikan alokasi waktu untuk nge-game di HP atau laptop agar tetap ada kesempatan bermain bersama-sama anak-anak seusianya. Permainan digital memang memiliki manfaat positif tapi tentu dalam porsi yang tidak berebihan. Akan halnya menu siaran TV, banyaknya sinetron yang belakangan ini diperankan oleh anak-anak sebagai tokoh utama dan cerita yang banyak di dominasi scene-scene represif/kekerasan perlu untuk di filter. Dan bila memang tidak bisa dilaihkan, opsi terakhir ya harus ditemani dan diberi penjelasan agar anak-anak tidak menyerap apa adanya yang dilihat.
  8. Membiasakan kebiasaan-kebiasaan yang saya praktekkan antara lain: minta maaf, minta tolong, mengucapkan terima kasih, berbagi dengan teman, saat berangkat sekolah, menunggui sarapan/makan, menyiapkan baju dan buku sekolah sendiri. Jika saya yang pergi pun perlu pamitan pada anak, demikian pula manakala saya minta bantuan anak, saya juga mengucapkan terima kasih atau minta maaf seandainya saya khilaf/melakukan kesalahan serta kebiasaan lainnya.
Dari beberapa aktifitas yang saya uraikan di atas dalam rangka melakoni peran sebagai ibu yang saya jalani, serta ragam keseharian lainnya yang saya harapkan memberikan implikasi penguatan karakter bagi anak-anak, dan sesadar-sadar saya akui  Jika fakta hariannya digambarkan dalam grafik, maka grafiknya pun masih fluktuatif dan tetap perlu pendekatan yang dinamis dari waktu ke waktu agar anak-anak tertanamkan greget dan keinginan untuk melakukannya tanpa disuruh-suruh lagi. Bukan berkeluh kesah, tapi pada prakteknya menjalani peran sebagai yang memiliki kontribusi strategis pada pembentukan karakter anak memang butuh kesabaran, waktu dan komitmen diri untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. perlu upaya, strategi dan cinta yang integral dan mengalir secara kontinyu dan tentu saja saya lebih cenderung untuk mendeskripsikan cinta disini tidak disalah artikan cara-cara yang bermuara pada memanjakan anak juga tidak memperlakukan anak bagai kaca yang mudah pecah berkeping-keping.


Epilog
Anak dari manapun datangnya, anak kandung atau pun jika berasal dari rahim orang lain, anak tetaplah anugerah yang tiada ternilai yang sangat selayaknya untuk diperlakukan secara ISTIMEWA agar menjadi pribadi yang tangguh lahir dan batinnya. Mind set perlakuan secara istimewa ini mengingat bahwa Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci atau seperti perumpamaan jika setiap anak ibarat pita kaset yang masih kosong dimana orang tuanyalah yang memiliki kontribusi besar dalam menjadikan anak-anaknya akan menjadi manusia mudhlarat ataukah jadi pemimpin berkarakter paripurna yang bermanfaat dan bahagia.

 
Peran Strategis Ibu Bagi Calon Pemimpin ini diikutsertakan dalam  
Lomba Penulisan Blog “Peran Ibu Untuk Si Pemimpin Kecil”




Note: 
Saya mengawali peran secara langsung sebagai ibu untuk Ifa [ kelas 2 SMP dan bersekolah di asrama], Aida [kelas 6 SD] dan Azka [ kelas 3 SD], sehingga tulisan ini saya deskripsikan dari praktek saya bersama mereka saat ini sudah berjalan sekira 7 bulan.


 


Reference:
  1. The 7 Habbits of Highly Effective People
  2. http://www.pendidikankarakter.com/

Bingungan and OR Lupaan?

Sebenarnya Bismillahirrahmaanirrahiim, berada di daerah baru memberikan PR buesar bagi saya, yang pertama untuk menghafal arah/lokasi suatu tempat. Yang kedua, tidak cukup hanya tempo sebulan untuk bisa ingat nama orang-orang yang ada di lingkungan tempat tinggal dan kerja baru.

Pengakuan jujur, lha semua teman-teman saya sudah pada kehabisan nalar untuk melogika kok ya bisa temannya yang cerdas #abaikan ini sulit mengingat arah/rute jalan dan mengingat nama orang [yang baru kenal]. Ya mau gimana lagi, ini sudah menjadi trade mark ‘keunikan’ saya sejak jaman dahulu kala.  Saya masih ingat banget, bagaimana Pak Khayan dengan nada gemes memberikan solusi jalan pintas manakala putri cantiqnya ini bilang gak tahu rumah/jalan menuju rumah seorang kerabat yang tinggalnya di desa sebelah, padahal sudah beberapa kali diajak silaturahim. Dan solusi yang diberikan Pak Khayan itu sampai sekarang masih saya amalkan dengan istiqomah dengan sangat baik sekali, yaitu [ini kalimat Bapak saya andai beliau melek gadget] kamu itu kan sudah dikasih GPS paling canggih sepanjang masa tho Nduk. Gunakan suara dari mulutmu dan bertanyalah, takon uwong nek ora weruh dalan yo?”
Normal Brain
Sewaktu masa masih sekolah di rumah, ‘keunikan’ tersebut tudak menjadi masalah bagi saya. Meski masih jadi siswa baru, kan kalau berangkat dan pulang sekolah sedari awal teman-temannya yang sehaluan sekolahnya banyak. Selain itu, rute tempuhnya kan ya jalan utama antar desa jadi tidak begitu membingungkan saya. Kecuali sewaktu di awal SMA, saat numpang sholat di tempat kost teman. 
Kok Ribut sholat menghadap ke utara ya?”. komentar seorang teman yang melintas di dekat saya waktu sholat dapat 1 rokaat. Sssttt, jangan bilang-bilang ya? Bahkan sampai sekarang, saya masih saja “merasa” jika SMA saya itu menghadap ke arah barat.

Nah pas kuliah, kebingungan arah ini makin kentara. Untuk rute Tambaksari – Sukolilo, pada akhirnya memang bisa saya ingat tapppii dengan jalur yang sama dengan Lyn O. Kalau ada penutupan jalan, dijamin saya harus menggunakan GPS canggih saya tuh. Lha mau gimana lagi, bahkan jalur ke Tunjungan Plaza saja rasanya selalu ada yang berubah meski entah sudah berapa ratus kali saya menempuh rute ke arah TP tersebut. Wong saya pernah nyasar sampai ke Jembatan Merah, padahal dari Blauran hendak balik ke Sukolilo. Ceritanya kala itu, dengan sepeda motor pinjaman saya menuju ke Blauran dengan Lilik [ teman kost ]. Usai shopping buku second di Baluran, biar hemat waktu dan BBM, Lilik berinisiatif naik angkot ke JMP untuk pulkamp ke Gresik. Nah saya sendirian balik ke kost. Sok PeDe saya bilang “ Oke, don’t worry”. Eh, lha kok nyasar sampai JMP? Lak yo podo wae nganterin Lilik saja kalau kayak gitu kan? Sudah terlanjur nyasar, saya gak boleh panik ria tho? Lha iyalah, dari JMP kan bisa mbuntuti Lyn O dijamin sampai Sukolilo dengan aman sentausa tanpa nyasar lagiiii. 

Itu sebagian kuecill kisah dramatis bingungan dan atau arah yang jadi keunikan saya. Kalau lupaan mengingat orang yang baru dikenal, dulu-dulu sih gak begitu kentara. Kan penghuni kampus buanyak, gak bakal ketahuan jika suatu moment pernah ketemu kemudian ketemu lagi ternyata saya lupaaa. Untuk memberikan identitas pada seseorang yang saya lupa namanya, biasanya saya sebutkan salah satu ciri fisiknya sebagai penamaan. Case over deh, Hehehee...

Bersambung dengan  kondisi serba baru yang sedang saya jalani sekarang. Bingungan dan atau lupaan, dua penyakit yang belum ada obatnya bagi saya. Apalagi dilengkapi  dengan variable sebagai new comer di Sleman dengan lingkungan tempat tinggal dan pekerjaan baru yang otomatis memaketkan road map daerah yang asing bagi saya dan formasi orang-orang yang baru pulak. Hampir sebulan pun, saya belum apal semua personil yang jadi teman kerja saya. Alhamdulillah yang seruangan sudah bisa saya ingat kok. Sampai minggu kedua, saya masih kesulitan untuk mengingatnya, terutama yang bapak-bapak. Habisnya bentuk face mereka tipically chubby dengan rata-rata postur tubuh dan warna kulit yang similar pula. Boleh dunx saya bilang wajar jika beberapa kali salah sebut nama rekan seruangan saya? Peace full...

Untuk kendala bingungan arah, sedari awal saya pun menyampaikan ke atasan langsung minta dimaklumi agar saya di pending temporer jika harus tugas ke lapangan sebagai single fighter. Nunggu suami stand by dulu sekira bulan depan, kan bisa tuh mengandalkan status suami siaga untuk nganterin jika memang saya harus tinjau ke lokasi seorangan duang.
Gini saja Mbak, besok-besok kan ada sesi pengenalan ke lapangan dulu. Nah bawa cat saja untuk menandai rutenya” canda seorang teman senior di kantor.
Gunakan aplikasi GPS wae mbak” saran seorang teman. Sarannya logis banget tapi tidak bisa saya gunakan karena saya pahamnya arah kiri-kanan thok ting. Kalau GPS kan pakai mata angin tho?
Naruh Kunci: Rekor kelupaan
Another story tentang bingungan bin lupaan yang belakangan ini kok ya mulai ikutan menambah deret hitung keunikan saya: 
- lupa bawa pulpen [bisa minjem], 
- lupa naruh sandal [cari lagi dipintu lainnya]
- lupa meletakkan HP [bisa di missed call]
- lupa bawa dompet [balik ke rumah lagi]
- lupa naruh Helm [cari keluar masuk lagi ke kantor – parkir]
- lupa kalau ada kembalian saat belanja [gak banyak sey]
- dan lupa naruh kunci motor, ini yang memgang rekor paling sering. 
Seperti kejadian dua hari lalu, teman yang biasa di front office mendatangi saya, “Mbak, ini kunci motor njenengan kan?”
Saya amati sepersekian detik dan “Iyae Mbak. Ini tadi dimana ya?”
Pak Dhim yang ngambilin dari motornya njenengan di parkiran kok” Olalalala...berarti pas saya buka jok sepeda motor lagi-lagi LUPA ngambil deh.

Kok ya makin meningkat bingungan and OR lupaan saya sey? Semoga ini just temporary case karena masa transisi berhabitat baru dengan aneka variable yang harus saya adopsi dalam memory otak saya.  Masak iya isi otak saya sampai overload ? Dan tebak apa komentar yang bikin saya shock kuadrat kali 99999....9
“ Ati-ati, jangan-jangan itu  gejala awal Alzheimer lho ”

Brain With Alzheimer's disease
Kalau Aljabar, Algoritma, Al Azhar, Al sehat Wal Afiat....sih okelah, tapi jelas-jelas saya dengar Alzheimer????? Pertama kali pernah dengar nama Alzheimer dari Mr. Ronald Reagen dulu banget, ehmm maksudnya saya pernah baca/dengar tentang jenis penyakit yang dialami oleh beliau [sebenarnya cukup banyak tokoh terkenal yang menderita ALzheimer ini]. Makanya begitu ada yang nylethuk tentang Mas Alzheimer dan menyambungkan dengan “keunikan” saya, yaaa....wajib shock dunk. Apalagi setelah saya nanyak Mbah Gugel mengenai Alzheimer, sehingga lebih tahu betapa WOUW-nya penyakit ini. Alzheimer memang bukan penyakit menular, tapi sejenis sindrom kepikunan [demensia] dengan ditandai terjadinya penurunan ingatan dan kemampuan kognitif secara cepat. Bedanya dengan kepikunan yang terjadi pada lansia adalah Alzheimer perkembangan penyakitnya sangat cepat dan kebanyakan orang-orang kurang aware akan hal tersebut sehingga seringkali penyakit ini dianggap sebagai kepikunan bawaan usia tua.

Risiko mengalami Alzheimer, meningkat seiring dengan pertambahan usia, maka tak heran jika Alzheimer di iedentikkan dengan penyakit yang sinonim untuk orang tua. Biasanya pada orang usia 65 tahun memiliki resiko lima persen mengidap penyakit ini dan akan meningkat dua kali lipat setiap lima tahun, kata seorang dokter. Namun sejarah membuktikan penderita  pertama yang dikenal pasti menghidap penyakit ini adalah wanita dalam usia awal 50-an. Beberapa Faktor yang meningkatkan resiko terkena Alzheimer ini, antara lain:
1. pengidap hipertensi yang mencapai usia 40 tahun ke atas
2. Pengidap kencing manis
3. Kurang berolahraga
4. Tingkat kolesterol yang tinggi
5. Faktor keturunan - mempunyai keluarga yang mengidap penyakit ini pada usia 50-an.

Nah lho? #tariknapaslega dari 5 faktor tersebut sepertinya yang ngena di saya adalah point ketiga: kurang berolah raga! Dalam My book the record, kali terkahir saya olah raga adalah sebelum Bulan Ramadhan tuh??!! Tapi 2 minggu lalu saya ngikut jalan sehat dengan jarak tempuh 3-4 KM kok #menghiburdiri. Gejala awal Alzheimer adalah mudah lupa pada hal-hal yang sering dilakukan dan hal-hal baru. Penderita juga mengalami disorientasi waktu dan mengalami kesulitan fungsi kognitif yang kompleks seperti matematika atau aktivitas organisasi. Namun no matter what-what, tetap saya harus waspada dengan level siaga saat menyimak paparan selanjutnya dari Mbah Gugel tentang Gejala-gejala Demensia Alzheimer yang meliputi gejala ringan, antara lain:
  1. Gangguan memori yang memengaruhi keterampilan pekerjaan, seperti; lupa meletakkan kunci mobil, mengambil baki uang, lupa nomor telepon atau kardus obat yang biasa dimakan, lupa mencampurkan gula dalam minuman, garam dalam masakan atau cara-cara mengaduk air
  2. Kesulitan melakukan tugas yang biasa dilakukan, seperti: tidak mampu melakukan perkara asas seperti menguruskan diri sendiri.
  3. Kesulitan bicara dan berbahasa
  4. Disorientasi waktu, tempat dan orang, seperti: keliru dengan keadaan sekitar rumah, tidak tahu membeli barang ke kedai, tidak mengenali rekan-rekan atau anggota keluarga terdekat.
  5. Kesulitan mengambil keputusan yang tepat
  6. Kesulitan berpikir abstrak, seperti: orang yang sakit juga mendengar suara atau bisikan halus dan melihat bayangan menakutkan.
  7. Salah meletakkan barang
  8. Perubahan mood dan perilaku, seperti: menjadi agresif, cepat marah dan kehilangan minat untuk berinteraksi atau hobi yang pernah diminatinya
  9. Perubahan kepribadian, seperti; seperti menjerit, terpekik dan mengikut perawat /orang lain ke mana saja walaupun ke WC.
  10. Hilangnya minat dan inisiatif 
Untuk Alzheimer berat ditandai dengan kehilangan daya ingat yang progresif sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, disorientasi tempat, orang dan waktu, serta mengalami masalah dalam perawatan diri , seperti lupa mengganti pakaian. Penderita penyakit itu biasanya juga mengalami perubahan tingkah laku seperti depresi, paranoia, atau agresif. Orang yang mempunyai riwayat keluarga Alzheimer mempunyai risiko mengalaminya, apalagi jika kedua orang tua mengidap Alzheimer maka resiko carier Alzheimer semakin dominan [meningkat]. 

Orang yang sakit Alzheimer juga kadangkala akan berjalan ke sana sini tanpa sebab dan pola tidur mereka juga berubah. Orang yang sakit akan lebih banyak tidur pada waktu siang dan terbangun pada waktu malam. Secara umum, orang sakit yang didiagnosis mengidap penyakit ini meninggal dunia akibat radang paru-paru atau pneumonia. Ini disebabkan, pada waktu itu orang yang sakit tidak dapat melakukan sembarang aktivitas lain.

Dari Gejala-gejala Demensia Alzheimer di atas, sebagian kondisi bingungan and OR lupaan yang saya alami kan tercantum tuh di atas? #gakbolehpanic. Walaupun ada segores kekuatiran karena beberapa kemiripan dengan Mas Alzheimer, saya harus mensugesti diri dan fokus ambil sikap preventive action, seperti: Mengonsumsi minyak ikan, berolahraga rutin [kapan kira-kira bisa merutinkan diri OR ya?], mengisi teka teki silang atau game puzzle lainnya yang merupakan aktivitas- aktifitas yang bermanfaat bagi otak.

Bukan Iklan lho?
Walaupun menurut kajian terbaru, tidak ada bukti significant jika hal tersebut bisa mencegah Alzheimer. Sebuah panel yang terdiri dari para ahli menyimpulkan, suplemen, obat atau interaksi sosial juga belum terbukti dapat mencegah penyakit ini. Walaupun demikian tak ada ruginya kan tetap ditekuni, dan melengkapi tindakan pencegahan degenerasi sel syaraf ini dengan mengkonsumsi Vitamin E yang merupakan antioksidan kuat, yang ternyata cukup efektif untuk mencegah kepikunan, seperti yang dipaparkan dalam pertemuan ilmiah tahunan American Geriatrics Society  yang bisa lihat di SINI.

After all, keep positif mind tentunya. Dengan mensugesti diri untuk optimis kan secara simultan akan memendarkan energi positif yang akan bisa menjadi inner power untuk menggerakkan organ tubuh energik kan?  Yang jelas saya gak lupa kok kalau sudah menikah, sudah punya anak, sudah pindah dari Banyuwangi, wong LA tulen, KTP sudah ganti Sleman, Chat di WhatsApp diajak Una ikut Blogger Nusantara tanggal 30 Nopember 2013 nanti, Hari Senin - Jumat adalah hari kerja.....dst. Tuh kan, masih bisa mengingat dengan baik hal-hal baru yang terjadi dalam hidup saya? Berarti MEN SANA IN CORPORE SANO....Dan yang PALING UTAMA ditambah lagi intensitas untuk "mengingat Sang Khaliq#yang jelas Mr. Ronald Reagen gak pernah bikin tulisan dengan alur amburadul kayak begini deh.





Note:
Gambar brain dan Info lebih lengkap  Alzheimer, silahkan cekidot http://id.wikipedia.org/wiki/Alzheimer







Aku dan Ibuk

Tulisan ini saya ambil dari salah satu akun FB, jika gak salah ingat dari RKI ~ Renungan kisah Inspiratif. Ngambilnya sudah lumayan cukup lama, sekitar 3 tahun lalu dan Bismilllahirrahmaanirrahiim dengan sengaja banget saya jadikan list entry di Blog dengan beberapa make over/sedikit permak versi saia giitu deh. Dua pekan berperan menjalani lakon single parent dadakan, membuat saya mengalami de javu pada moment-moment keseharian bersama dengan Ibuk Saya ~ akrab dengan panggila mesra “Mbok’e”. Terus buka-buka file kok ya ndilalah nemu koleksi tulisan ini. Wowowowooo....bukan berarti Bapak saya gak sehebat Ibuk lho? 

Bapak dan ibuk, tentu punya peran penting yang proporsional dalam kapasitas dan posisinya masing-masing. Kehadiran dan posisi mereka senyatanya adalah peran yang saling melengkapi dalam rangka mendampingi anak-anaknya memasuki gerbang kehidupan, menjadi individu yang sebaik mungkin menatapi proses demi proses meunuju bahagia dengan tidak menjadi sosok yang individualis serta eling marang ingkang Maha Dumadi. Bapak dan Ibu adalah sepasang manusia yang berkolaborasi intens dengan landasan tak mengharap kembali ~ ikhlas, istilah kerennya. 

Karena contekannya tentang IBU, sejatinya ini adalah cermin yang membuat saya melihat betapa aplikasi diri sendiri yang masih jauh dari totalitas yang dilakukan Ibuk pada kami ~ 9 anak-anaknya. Inilah postingan di FB-nya RKI yang membuat saya ber-de javu ria [beberapa bagian saya edit].

Bila bangun tidur, yang aku cari.....ibu
Bila nangis, orang pertama yang mendatangiku ....ibu
Bila ingin bermanja, aku merajuki....ibu
Bila ingin bersandar, aku duduk sebelah....ibu
Bila sedih, yang dapat menghiburku hanya....ibu
Bila nakal, yang mengingatkan dengan lemah lembut....ibu
Bila ngambeg, yang membujukku cuma.....ibu
Bila melakukan kesalahan, yang paling cepat memaafkan....ibu
Bila takut, yang menenangkan aku....ibu
Bila ingin peluk, yang aku suka peluk....ibu

Aku selalu teringatkan ....ibu
Bila sedih, aku mengadu....ibu
Bila senang, orang pertama aku ingin beritahu.... .ibu
Bila takut, aku selalu memanggil... "ibuuuuu! "
Bila sakit, orang paling risau adalah....ibu
Bila aku ingin bepergian, orang paling sibuk juga.....ibu
Bila aku ada masalah, yang pertama mendapatkan firasat.... ibu

Kalau pulang ke kampung, yang selalu memberi bekal.....ibu
Yang mengajari teliti menyimpan dan merapihkan barang-barang....ibu
Yang selalu berkirim surat dengan aku...ibu
Yang selalu memuji aku....ibu
Yang tiada bosan menasihati aku....ibu
Saat hendak menikah, persetujuan yang pertama aku butuhkan.....ibu

namun setelah aku punya pasangan……………..
Bila senang, aku cari....pasanganku
Bila sedih, aku cari.....ibu
Bila mendapat keberhasilan, aku ceritakan pada....pasanganku
Bila gagal, aku ceritakan pada....ibu
Bila bahagia, aku peluk erat....pasanganku
Bila berduka, aku peluk erat....ibuku
Bila ingin berlibur, aku bawa.....pasanganku
Bila sibuk, aku antar anak ke rumah....ibu
Bila sambut valentine.. Aku beri hadiah pada pasanganku
Bila sambut hari ibu...aku cuma dapat ucapkan "Selamat Hari Ibu"
Selalu... aku ingat pasanganku
Selalu... ibu ingat aku
Setiap saat... aku akan telepon pasanganku
Entah kapan... aku ingin telepon ibu
Selalu...aku belikan hadiah untuk pasanganku
Entah kapan... aku ingin belikan hadiah untuk ibu

Renungkan:
"Kalau kau sudah selesai belajar dan berkerja... masih ingatkah kau pada ibu?
Tidak banyak yang ibu inginkan... hanya dengan menyapa ibupun cukuplah".
Berderai air mata jika kita mendengarnya........

Berapa banyak yang sanggup menyuapi ibunya....
Berapa banyak yang sanggup mencuci muntah ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup menggantikan alas tidur ibunya......
Berapa banyak yang sanggup membersihkan najis ibunya...... .
Berapa banyak yang sanggup membuang belatung dan membersihkan luka kudis
ibunya....
Berapa banyak yang sanggup berhenti kerja untuk menjaga ibunya.....
Berapa banyak yang sanggup meluangkan waktu untuk menjaga ibunya yang telah renta…..
Gaya-nya sudah ke-Ibu-an kan?
Membaca kembali tulisan tersebut, sekaligus menunjukkan betapa saya, kalau boleh Jujur [nyontek istilah di postingan  Mas Rawins], kok ya masih sering kebawa ghaya hidup saat masih live as single: kalau pagi masih gedubrakan, kalau libur masih pengen tidur molor,  de-el-el ghaya ala coboy gitu lah. Hehehehe...peace. 

Pengumuman Pemenang Firmoo

Setelah rentang waktu sebulan memajang GA Firmoo, dengan 70 sahabat yang meninggalkan jejak dan 40 bersedia ikut memilih  jenis kaca mata dari Firmoo. Perhelatan yang memberikan sepasang kaca mata dari firmoo untuk 2 orang yang beruntung. Awalnya Bismilllahirrahmaanirrahiim pengen pesertanya bisa sampai 50 orang yang ikutan milih. Tapppiii karena saya sendiri belakangan ini jarang BeWe, yaa bakal kelamaan jam tayang GA ini untuk bisa mencapai 50 peminat kaca mata Firmoo. 

Maka, GA Firmoo saya tutup dengan 40 satu peserta. Sesuai dengan cuplikan dari imelnya Mr. Antonio yang saya sertakan pada Bagi-Bagi Kaca Mata Firmoo dan tanggapan dari pihak Firmoo atas laporan GA ini, maka inilah dua lucky winners yang berhak mendapatkan kaca mata dari Firmoo:

2. Topics

Untuk kedua sahabat tersebut, mohon info alamat emailnya yaa. Bisa via kolom komentar dibawah postingan ini atau ke ririekinanthi8p@gmail.com.

Dan Don’t worry, bagi 38 peserta lainnya pun ada cipratan kabar gembira lho?  Iyapp, Firmoo memberikan voucher yang bisa dibelanjakan untuk beli-beli kaca mata di firmoo pastinya. So...bagi khususon 38 peserta Bagi-Bagi Kaca Mata Firmo yang mau mengunakan voucher tersebut, silahkan tinggalkan alamat imelnya di komentar atau kirim inbox saya di imel yaa. Nanti saya TL~ tindaklanjuti untuk kode vouchernya. 

Demikianlah GA tanpa modal ini  saya akhiri dengan ucapan Alhamdulillah, mohon maaf, big hug dan terima kasih untuk semua teman/sahabat bloger yang tetap berkenan bersilaturahim dengan mengunjungi blog ini.



Noted: tanggapan dari pihak Firmoo atas laporan penyelenggaran GA ini:
Hi Ririe ,

The prizes for your winners are as follows,
Two pairs of eyeglasses/sunglasses excluding free shipping will be offered to your winners. (Two winners in total). Eyeglasses selected include frame plus 1.50 single vision lenses. Sunglasses selected include frame plus zero-powered lenses. Besides, all valid entrants except winners can get a voucher code which saves 50% off the selected eyewear and covers free shipping.

Moreover, if your giveaway campaign gets over 50 valid entrants, a third free pair of glasses/sunglasses plus free shipping will be offered to one of your luckiest winners.

There are 70 comments on your giveaway post and 40 of them are valid. So, you could choose two winners to win a pair of glasses without shipping. The winners need to pay the shipping themselves. And we'll also offer a vouchers which can used for 38 times for all the valid contestants except the winners. Please provide me the winners' eamil address and glasses choice. Then, I'll generate the code for you to pass to your winners.