WHAT'S NEW?
Loading...

Ah, TUHAN Sayang Padaku kok...

Membaca Buku yang berjudul “Ah, TUHAN sayang padaku kok...” yang berisi berisi kisah-kisah ringan yang terjadi sehari-hari di sekitar kita, tentang soal Tuhan, ultah, patah hati, egoism, figure ibu yang menakjubkan, ketamakan, hingga fenomena theng crenthel ~ pakaian minimalis yang semakin menjadi pemandangan lumrah dimana-mana. Remah-remah kehidupan yang dituliskan oleh Edi Mulyono dengan cara yang gokil, ndagel, dan nakal…dan saya suka dengan quote ini: This river I forgive you, but the next river I kill you ! No may more out water eye ! Safe walk…!!! . Isi buku ini sebenarnya kumpulan dari notes yang dibuat oleh sang penulis (yang juga direktur penerbit Diva Press) dalam akun FBnya.

Selain quote di atas, adalagi satu bab yang memikat karena uraian-nya yang Makjleb menyindir saya banget, yaitu pada Bab yang judulnya sekaligus dipilih sebagai  judul buku ““Ah, TUHAN sayang padaku kok...” Dan Bismilllahirrahmaanirrahiim ini adalah resume dari bab tersebut, sekiranya bisa jadi wacana/renungan bagi saya khususnya dan yang berkenan singgah di sini.
============================================================
“ Sungguh, Tuhan begitu sayang padaku, padamu. Tuhan selalu memberikan yang terbaik buatku, buatmu, namun aku dan kamu lebih sering memberikan alasan pada Tuhan untuk menghadirkan hal yang kurang baik....”
Memberikan alasan pada Tuhan? Kalimat yang sederhana namun jika direnungkan sungguh dalam banget maknanya, demikian menyentak, membentak, menampar, begitu telak: SEKAKMAT!
Telah begitu dasyat nan luar biasa segala yang disuguhkan Tuhan dalam kehidupan ini, dari yang logis sampai yang nggak masuk akal. Dari yang diatas kertas bisa digapai hingga sama sekali tak terlintas dalam miliaran sel otak.


Tuhan begitu sayang padaku, cinta padaku, memberiku bahkan segala apa yang nggak sempat kuminta kepada-NYA, menghadiahku segala yang bahkan aku nggak akan pernah menggunakannya. Tapi apa hal gerangan yang telah keberikan pada Tuhan? Apa hal-hal prinsipil secara hamba yang telah kulakukan untuk membalas segala kebaikan Tuhan, anugerah-anugerahNYA selama ini? Nggak ada!


Tapi nggak, bahkan aku kian lancang padaNYA. Aku makin rajin memberi-NYA alasan dan nyatanya Tuhan masih saja menganugerahiku berbagai nikmat yang tanpa henti. Benarkah Tuhan mencintaiku? Menyayangiku? Hingga DIA nggak tega menyakitiku? Entahlah...
Yang pasti kutahu sungguh teramat sering aku menganggapNYA sebagai Dzat yang amat sangat mencintaiku. Cinta yang menghadirkan energi untuk mengerti, memaafkan dan memperhatikan. Lantaran filosofi cinta macam inilah maka Tuhan kuposisikan sebagai Dzat yang niscaya sudi mengerti, memaafkan dan memperhatikanku. Sehingga dimataku, kendati aku sering mengecewakan-NYA dengan melanggar laranganNYa, mengabaikanNYA dengan tidak istiqomah atas perintah-NYA dan mengecilkanNYA dengan sering tidak mengingat keberadaanNYA dalam hidupku, niscaya Tuhan akan tetap mengerti, memaafkan dan memperhatikanku.

Aku seringkali begitu pede lantaran merasa melakukan kebaikan yang disukaiNYA dengan meng-klaim bahwa amal baikku akan menghantarku memperoleh RidhloNYA dengan disediakan bagiku sebuah istana megah di surgaNYA! Ah pede banget aku, kendati dalam hati kadang terlintas juga” Benarkah amal baikku itu diterima? Kalaupun diterima, apa iya amal baikku itu mampu mengimbangi amal-amal burukku selama ini?” Padahal Tuhan sama sekali nggak butuh aku menyembah, mengabdi atau beribadah padaNYA. Bahkan, tanpa adanya aku pun di dunia ini, Tuhan tetap sebagai Tuhan tanpa terkurangi setitik pun kualitas keTuhanan-NYA. Lalu apa landasanku pede meng-klaim Tuhan sayang banget padaku hingga apapun yang aku lakukan, Tuhan akan tetap negrtiin aku, maafin dan merhatiin aku? Aku tak menemukan jawabannya.

Apa sih pentingnya aku ini bagi Tuhan kok mau-maunya Tuhan berbuat begitu sayang padaku? Dan apa juga dampak negatifnya bagi Tuhan jika DIA nggak merhatiin aku, mengabaikan aku? Nggak ngaruh blass!
Ah, aku ini manusia biasa kok, banget malah!
Secara rasio, aku tahu bahwa keberadaanku dan semua tindakanku sama sekali nggak ngaruh terhadap eksistensi Tuhan dengan segala keagunganNYA.

Merenungi kembali kalimat  “....lebih sering memberikan alasan pada Tuhan untuk menghadirkan tindakan kurang baik....” adalah sikap manusia dalam menyikapi perintah dan larangan Tuhan dalam kehidupan ini akan memberikan dampak positif/negatif akan ditentukan leh sikap masing-masing atas perintah dan laranganNYA. Sekalipun Tuhan memang begitu sayang padaku, padamu atau padanya, jangan suka menciptakan alasan pada pada Tuhan untuk memberikan hal buruk pada kehidupan kita.

Ah, aku tahu betapa dalamnya makna kalimat di atas, betapa baiknya itu unutk dijadikan prinsip hidup, tapi kenapa ya kok masih saja terkungkung dalam ke-pede-an bahwa Tuhan begitu sayang padaku sehingga dosa-dosa akans elalu diampuni, dimaafkan dan dimaklumi? Sehingga aku pun masih sama seperti hari-hari kemarin: rajin melanggarNYA, masih istiqomah menyepelekanNYA dan suka jago melupanNYA?!!
============================================================

Kebenaran dalam pandanganku,
Mengandung satu kesalahan dalam pandangan orang lain.
Dan kebenaran dalam pandangan orang lain,
Mengandung satu kesalahan dalam pandanganku. (Imam syafi’ie)


[Memang] Semestinya Saia Lakukan

Saat membaca postingan Mbak Niken yang sedang menggelar hajat First Give Away dengan tema FROM ZERO TO HERO, aseli plus jujur saya tidak berani tunjuk niat untuk ikutan.  Simply reason: saya merasa masih Zero to Zero, lha hal Heroik apa yang telah  saya lakukan? Jangankan untuk orang lain, untuk orang-orang terdekat saya saja [sepertinya] belum ada ‘sesuatu’ yang hebat dan bisa di sebut tindakan seorang Hero! Tapi demi membaca detail kriteria untuk tulisan di event GA ini “.....berbagi kisah mengenai Hero dalam diri kita. Bisa menceritakan tentang sosok seseorang, peristiwa yang mengesankan, atau petunjuk yang datang. Yang semuanya mampu membuat kita bangkit dan menyadari bahwa kita punya kekuatan untuk merubah hidup kita ke arah yang lebih baik.....”. maka Bismillahirrahmaanirrahiim saya memberanikan ikut memeriahkannya. Bukan tentang kisah heroik atau hal lain yang luar biasa, melainkan  hanya sebuah sikap biasa dan keputusan yang sewajarnya dilakukan oleh seorang kakak/saudara.
Ini tentang moment-moment menjelang pernikahan adik saya. Dalam Agama dan secara logis serta ilmiah memang tidak ada ketentuan jika seorang kakak harus menikah lebih dulu dari adiknya. Namun variabel budaya dan pola pikir lingkungan sekitar [saya] masih terbawa ‘biasanya’ serta hukum wagu jika adik laki-laki mendahului mbakyu-nya menikah. Dan entah mitos apalagi yang terakit hal itu, saya kurang paham. Yang jelas ketika seorang adik menikah mendahului kakaknya tak jarang menimbulkan friksi, terutama jika  adiknya  laki-laki dan sang kakak adalah perempuan. It’s happen to me, adik saya sudah mantap dengan calonnya sedangkan saya masih absurd dengan siapa dan kapan akan menikah.

Tak ayal, niat adik untuk meresmikan hubungannya menuju jenjang pernikahan pun menghadapi ganjalan cukup serius karena orang tua saya terutama Ibuk keukeuh menginginkan saya menikah lebih dulu. Dan saya paham banget jika Adik saya tak mungkin berani melangkahkan kaki menuju jenjang pernikahan selama sikap Ibuk masih No excuse untuknya. Kakak-kakak saya lebih bersikap netral, meski awalnya juga mendukung sikap Ibuk. Tapi perlahan sikap para kakak memang meluluh demi menyadari adik saya yang sudah bekerja dan usianya juga menjelang kepala tiga.

Dan bagaimana dengan sikap saya? Beberapa bulan saya tidak menyatakan sikap apa-apa, saya tidak menentang keinginan adik tapi juga tidak menyatakan sikap setuju. Toh secara eksplisit dia belum mengatakan pada saya tentang niatnya untuk menikah? Deep inside dan sisi manusiawi, saya pengen segera menikah juga..saya ingin menikah lebih dulu dari adik! #sisi superioritas sebagai kakak mendominasi

Dalam masa beberapa bulan status sikap saya yang quo, saya pun perlahan mengendapkan rasa dan merenungkan semuanya dengan mengesampingkan sisi egoisme diri saya. Saya yakin adik saya pun mengharapkan saya lebih dulu menikah. Saya tahu dan bisa merasakan semua orang mengkhawatirkan saya karena belum jg menikah, juga apresiasi dari orang-orang di desa kami dengan segala sudut pandangnya jika adik menikah lebih dulu.Every  single breath, saya menyadari usia kami bertambah. Lelaki yang dijanjikanNYA sebagai Imam bagi saya masih belum ada penampakan sementara saya tidak bisa ASAL menikah jika Cuma untuk mengganti status kan?. Sedangkan adik sudah ada titik terang calon pendamping hidupnya yang saya tahu seorang gadis yang sholehah, baik hati dan pandai tentu saja. Dan saya pun tidak bisa memastikan dalam kurun waktu setahun mendatang akan menikah? Kecuali SUNNATULLAH, tentu saja.

ANDAI sekalipun adik bisa dan mau menunggu, tapi sampai batas waktu berapa lama? Berharap segera bisa menemukan jodoh saya dan tetap ikhtiar serta berdoa itu pasti, namun saya juga harus mengambil sikap karena adik saya tak akan berani menikah tanpa restu dari Ibuk. Maka saya pun harus menguatkan hati dan membulatkan tekad: meyakinkan ibu agar berkenan memberikan restu buat anak bungsunya untuk segera menikah. Lahir lebih dulu kan tidak berarti harus menikah lebih dulu tho? Memangnya siapa saya kok egois mengklaim diri mesti menikah dulu karena kebetulan dilahirkan sebagai kakak perempuan baginya? Sementara Sang Pengatur Hiduplah yang punya Kehendak Mutlak selalu memberikan skenario yang terbaik.

Saya juga minta salah satu kakak perempuan kami yang lebih memahami bagaimana cara ‘berdiplomasi’ efektif dengan ibuk untuk meyakinkan beliau bahwa InsyaAllah saya baik-baik saja..bahwa saya akan bisa menerima kenyataan dan semua efek sosial yang mungkin muncul jika adik saya menikah lebih dulu. Saya berharap dengan pernyataan sikap saya semoga Ibuk bisa legowo merestui rencana pernikahan anak bungsunya tersebut. Orang lain kan sudah kodratnya berkomentar jika melihat sesuatu yang dalam skala ukurnya dirasa kurang pas, toh itu lama-lama juga akan menguap seiring waktu yang berlalu. Demikian keyakinan saya meski beberapa butir transparan menetas jatuh untuk menyertai pilihan sikap saya tersebut.
Photo Balqis [moto sekenanya]
Saya tahu proses dan kemantapan hati saya untuk memberikan dukungan dan menyetujui agar adik menikah lebih dulu merupakan hal yang sudah sewajarnya saya lakukan, jadi BUKAN sesuatu yang heroik [walau melalui perdebatan hati, emosi, perasaan, akal, logika.....apa lagi ya?] tapi [Memang] Semestinya Saia Lakukan.  Jika saya renungkan lagi, alasan confidential lainnya adalah saya tidak ingin menjadi orang yang paling bersalah  karena membuat proses hidup adik saya dan banyak orang lain akan terhenti. [Calon] istri adik saya tentu  anak gadis dari orang tua yang punya kecemasan yang sama dengan yang dirasakan orang tua kami. Juga kakak dan adik dari seseorang dan bagian dari anggota masyarakat yang punya punya cara penilaian heterogen seperti lingkungan kita juga……Dan Alhamdulillah, sekitar setahun kemudian yaitu sekitar 3 tahun lalu adik saya menikah [mungkin dia masih ingin memberi saya jeda waktu siapa tahu jodoh saya segera datang] dan inilah putri mungilnya yang bernama Queen Balqis. 

Let's keep spirit up, yukk ah menyanyi dulu ... HERO-nya Mariah Carey:....There’s a hero if you look inside your heart...You don’t have to be afraid of what you are...There’s an answer if you reach into your soul....And the sorrow that you know will melt away...”


Meski kisah yang saya tulis [Memang] Semestinya Saia Lakukan alias tidak HEROik, 
ijinkan Tulisan ini diikutsertakan pada Lovely Little Garden's First Give Away 
yang diadakan oleh Mbak Niken Kusumowardani


Menanti Oase

Mencoba lagi dan lagi menulis bait-bait puisi yang beralur pada rasa ingin menulis dengan kemampuan bersyair yang seadanya atau mungkin hanya ingin mengalirkan serangkaian kata-kata tanpa alur kesastraan sebuah puisi yang seharusnya. Bismillahirrahmaanirrahiim harap dimaklumi jika  puisi ini pun masih yang kesekian kalinya terbentuk karena rasa PeDe over dosis saya yang menyebut beberapa paragraf tulisan [dengan maksud, makna dan inti membingungkan bagi yang membacanya] dalam kategori ‘puisi’

Ijabah Oase
Pilar cahaya purnama masih menyiram lembut cakrawala
Saat Frase tanya gemulir dalam serempak nada
Melesat pada kisi-kisi yang  berparalel
Pada titik tengah sahara kehidupan
Pada nadir ketidaktahuanku

Sementara tertegun pada jeda rasa yang terkurung
mengantarkan gelisah berlayar mencari jawab
melalui bait-bait doa
seiring desah nafas pada dinamika udara
dalam senyap yang meringkas semesta


Pamrihku adalah
membiarkan kemarin melaju pada bingkainya
dan mengkhatamkan risau gundah ini
di simpul-simpul syaraf yang tak menentu
akan sebuah penantian panjang yang merindukan oase

Romansa tanya ini bergilir dalam Elegi pagi dan siluet senja,
Melarutkan Doa dan pengharapan,
Tak  terpisah serupa ikatan kovalen oksigen
Maka kumenyerahkan gundah ini pada keESAan
Menanti sebuah ijabah niscaya dari langit


Sometimes we're so focused on finding our happy ending
Then We don't learn how to read the signs.



Note: Judulnya belum 'klik':(

Kopdar [lagi] de Crepes dengan Una - Stumon

Pada Bulan Juli lalu, kami: saya, Una, Mbak Alaika dan Mas Stumon kali pertama kopdar. Dan ketika saya mengabarkan ada jadwal ke Jakarta lagi, ide spontan pun dilontarkan oleh Mas Stumon untuk Kopdar lagi dan kali ini rencananya kami akan membaur dengan kehiudpan malam Jakarta tepatnya di Monas. Jelas ide yang sangat kontroversial ya? Tapi sangat menarik karena saya punya rasa penasaran seperti dinamika suasana malam di ibukota Jakarta yang sudah membuat saya “terpana” sejak sebelum saya menjejakkan kaki di Jakarta yaitu saat saya membaca “Jakarta Under Cover”nya Moammar Emka. Iya sih, fenomena Jakarta Under cover bisa jadi bukan hanya terjadi di Jakarta melainkan juga ada di daerah lain, hanya saja yang kebetulan booming go public kebetulan di Jakarta. Bismillahirrahmaanirrahiim persetujuan saya untuk melihat seperti ‘live’nya malam di jakarta tentu sudah mempertimbangkan sisi safety-nya, yaitu karena kami akan ber-4 notabene ada dua mantan preman satpam-nya Jakarta: Una dan Mas Stumon!

Setelah acara di Kuningan usai dihari Jumat, seperti biasa kalau ke Jakarta agenda rutinnya ya nyambangi sodara sekalian. Dan tibalah waktunya untuk Kopdar yang paling nekad dan Guess what happen? Acara kopdar di Monas gagal Total, hiks. Kondisi Mbak Alaika kurang fit sehingga tidak bisa datang ke jakarta. Mas stumon yang baru datang dari adventure-nya di Rinjani juga KO sukses. Dan si cantik Una ngabur ke Bogor untuk menghadiri penyerahan hadiah dari Blog Competition-nya IPB. Sekali lagi Una membuktikan kepiwaiannya menulis dengan menempatkan diri sebagai Juara 3 pada 5th journalistic Fair yang diselenggarakan IPB. 
Saya sudah fix gak janjian untuk ketemuan sama teman-teman kuliah yang ada di Jakarta dan sekitarnya [seperti biasa saat saya ada di jakarta], dan kalau kopdar bener-bener gagal? Wouuww, berasa jauh-jauh menempuh perjalanan gak ada multiply benefitnya tho? Alhamdulillah kopdar masih bisa dilanjutkan, tapi harus sabar nunggu si Una balik dari Bogor yang tentunya tak lepas dari jebakan macet sepanjang jalur Jakarta – Bogor tuh. Finally, kami sepakat jika dia masuk Jakarta setelah jam 3 sore, kopdar gak jadi. At the last minute mendekati jam 3, Una ngasih tahu jika saya bisa berangkat tuh. Meeting point: Plasa Senayan again. Saya datang lebih dulu karena Una ternyata mampir pulang ke rumah untuk naruh piala dan ada ‘hajat’ khusus. Serunya lagi, tuh anak sudah duduk manis di belakang saya tanpa saya ketahui. Bahkan dia sengaja sms pun saya gak tahu, lha HP ada dalam tas? Heheheheee....

Saya dan Una pun menyepakati agenda Kopdar: Nonton dan lanjut main ke sekre untuk nyambangi si makhluk yang baru turun dari gunung, ya itung-itung sekalian silaturahim dan bertemu langsung dengan anak asuh di sekretariat tersebut. Pilihan judul film pun jatuh pada Residence Evil dan tentunya cari camilan dulu sebelum filmnya tayang. Karena sama-sama masih separuh kenyang, Una ber-ide untuk beli de crepes saja. Dan sayangnya saya tak sanggup menghabiskan de crepes karena rasa gurihnya membuat rasa mblenger di perut saya. Coba kalau ada de crepes-nya rasa pedes, dengan cepat tuh bisa saya habiskan...#ngeles. Gak perlu diceritain lagi gimana reaksi Una pas lihat pilemnya kan? Tentunya dia ekspresif deh...whahahahaa.

So next, lanjut the part of adventure menuju Sekre-nya. Ternyata perjalanan menuju markasnya stupid monkey tidak sederhana. Dari PS naik busway, turun di Semanggi dan melintasi jembatan penyeberangan yang lumayan juga untuk jogging. 
“ Kira-kira berapa panjangnya jembatan semanggi ini, Na?”
“ Aku belum pernah bawa meteran untuk ngukur jembatan ini Mbak..”
“ ya gak usah meteran, bawa penggaris saja lah..”

Percakapan intermezo biar tetap seru meski menempuh jalan kaki hampir 1 KM di jembatan penyeberangan Semanggi. Apalgi rute busway-nya masih nambah lagi ke Grogol plus naik angkot serta lanjut jalan kaki menuju Sekre. Tralalalala....menariknya acara malam minggu kami kan?

Sesampainya di sekre, disambutlah oleh sesosok stumon dengan ekspresi-nya yang melow untuk meyakinkan jika dia beneran TKO habis dari Rinjani. Lupakan soal ekspresi kecapekan si stumon deh, kami pun asyik bertanya ini dan itu tentang perjalannya ke rInjani [yang ini Una kayaknya masih ingat detailnya, saya kan mengalami sindrom PDI ~ penurunan Daya Ingat]. Tak lupa copas film the Avenger yang belum sampat saya tonton.

“ Kamuh tuh cewek kok sukanya pilem thriler sey Mbak” demikian sindir Mas Stumon.
“ Kalau pilem drama banyak bicaranya..side efect-nya gak ada jadi kurang menarik deh..”
Una pun asyik berpoto ria dengan camdig saya, “ pake camdigmu kok hasilnya lebh cantik ya Mbak? Kata una dengan sumringah.

Ah iya, saya dan Una sempat nyengir tuh ketika ada yang pamitan dengan adegan cium tangan kami berdua....berasa tuaaa dweehhh....hihihihii.

Berhubung waktu semakin malam dan saya harus pulang sebelum jam berdentang 12 kali, takut dunk kalau ketinggalan kereta kuda-nya Cinderella? Ehmmm, gak ding...takut terulang tragedi sewaktu saya pulang kopdar pertama dulu. Dan ternyata perjalanan pulang ini tidak sesederhana dugaan saya. Kirain bisa langsung naik bis ke arah Tangerang sekeluar dari kompleks Sekre-nya Mas Stumon. Dan Inilah kali pertama saya menempuh perjalanan di ramainya lalu lalang jalan raya dengan orang yang juga takut menyeberang ke keramaian lalu lintas, KLOP! Apalagi saat sampai Grogol tuh bis jurusan Tangerang gak muncul-muncul juga sedangkan waktu semakin mendekati angka sebelas malam? Panik tentu saja..tapi Una tetap sabar deh menemani. Sepertinya dia gak tega ninggalin saya di tengah asingnya suasana malam Jakarta. Orang-orang di sekitar halte menyarankan agar kami nyegat bis-nya ke Tomang saja karena lebih banyak bis yang lewat sana yang menuju arah Tangerang. 

Maka demi saya bisa pulang ke Tangerang dengan selamat, Una pun mengantar saya ke Tomang dengan naik Ojek serta mengantar saya hingga naik angkot karena hampir 15 menit tak juga muncul bis Tangerangnya. Setelah memastikan saya aman dalam angkot, Una pun balik ke Grogol dan pulang deh. Sedangkan saya, akhirnya kabur pindah ke bis jurusan Tangerang bersama para penumpang lain dalam angkot tersebut. Daripada kelamaan tuh angkot gak berangkat, ada bis yang muncul jadi ya cabuut saja dengan semangat ’45 dan gak sampai 45 menit kemudian saya sudah sampai Tangerang. Di jemput keponakan sehingga selamat deh m`suk rumah sebelum TEnggg jam 12 malam deh! Jadi sepatu kacanya gak perlu ketinggalan...
Menutup cerita Kopdar [lagi] de Crepes dengan Una – Stumon, sekalian ditambahi lagi deh dengan menjawab PR dari si Una :    

1. Apa arti nama lengkapmu?
Hemmm...buka saja postinganku di sini ya...lengkap poll pokoknya.
2. Pilih mana, ayah atau ibu?
Aku pilih keduanya Na, lha keduanya orang yang jadi sponsor lahirnya aku ke dunia dan membesarkan aku lho?
3. Satu cita-cita yang ingin sekali kamu raih apa?
Jadi penulis yang produktif, inovatif, kreatif dengan tulisan yang gak membingungkan pokoknya. Oh iya, pengen punya keluarga yang harmonis sakinah mawadah warohmah ini yang lebih penting lagi.
4. Dalam lima tahun ke depan, kamu menginginkan kehidupanmu seperti apa dan bagaimana?
Hidup gemah ripah loh jinawi saja deh
5. Apa passion-mu?
Pengen adventure ke Perancis...lihat piramid...ke hutan Amazon
6. Paling nggak suka, orang yang bagaimana?
Orang yang plin plan, gak konsisten, suka ingkar janji seakan hal biasa saja, gak bisa menghargai orang lain, egois...
7. Apa motto hidupmu?
Jalani dan hadapi karena kita tak akan bisa lari dari masalah...kalau kewalahan kan bisa minta tolong tho? Heheheee....
8. Kamu suka blog yang bagaimana?
Suka blog kayak punyakmu deh...
9. Satu tempat di Indonesia yang ingin kamu datangi?
Taman Mini Indonesia Indah....kan bisa sekalian ngliat miniatur Indonesia tuh?
10. Kalau ada peri cantik datang kepadamu yang bisa memenuhi tiga permintaanmu, kamu akan minta apa?
Minta tiket ONH plus untuk Ortuku dan semua keluargaku, mesin waktu [untuk bertemu Nabi dan Khulafaur Rasyidin, ketemu Hittler pas ke Indonesia, minta tanda tangan Gajah Mada, Foto Bareng Bung Karno, pinjam gaunnya Cleopatra, hemm...pokoknya jalan-jalan dengan mesin waktu ke masa silam deh], dan hapus korupsi dari Indonesia!
11. Kalau misal kamu hanya diperbolehkan membawa lima barang kepunyaanmu, apa saja yang akan kamu bawa?
Aku hanya butuh 1 barang saja Na, bawa Koper besar yang ta isikan mulai dompet, HP, buku favoritku [termasuk buku tabungan dan Polis], baju beberapa potong. Nah kan, aku gak perlu bawa sampai lima barang, wong cukup 1 koper saja kok.

Wouuuww, ternyata lumayan panjang neh cerita kopdar ini ya? Kebiasaan buruk neh kalau cerita suka berkepanjagan ya....Lha selalu ada yang seru setiap kali kopdar even ketemu orang yang sama: Una – Stumon duang. Eh, ketemu sama Reza Rahardian juga pas ngantri tiket di XXI ding! 

Menulis untuk Theraphy Hati

Setiap Blogger tentu punya experienced dengan kegiatan menulis atau bahkan punya prestasi yang membanggakan dengan bidang menulis. Beragam manfaat menulis tentu sudah dirasakan bagi siapa saja yang mencintai merangkai kata dan kalimat. Demikian pula saya yang boleh dunx jika menyebut diri sendiri menyukai dengan dunia tulis menulis meski belum punya master piece sebuah buku yang mencetak rekor best seller. 

Yang penting bagi saya do writing and enjoy every piece of it dan semoga sih ada satu atau dua kalimat #pengennya banyak kalimat# yang bermuatan positive dan inspirative. Bismillahirrahmaanirrahiim inilah beberapa amazing thing yang bisa saya pamerkan sebutkan dari MENULIS sebagai theraphy untuk:

1.         Menyembuhkan hati yang terluka/patah hati/kecewa/stress/depresi..etc.
Beberapa peristiwa yang membuat emosi labil dan pikiran kacau, seperti saat saya harus melepaskan hubungan yang sudah terjalin hampir sekian tahun berakhir tragis, di saat-saat down dan menangis (tentunya), saya mencoba untuk mengisinya dengan menulis. Kedengarannya aneh orang menangis kok kemudian malah menulis? Tapi saya melakukannya, menuangkan segala uneg-uneg tentang hubungan yang seharusnya berjalan baik-baik saja, tentang bagaimana harusnya saya bisa menerima kenyataan jika pada akhirnya harus benar-benar break up. Saat dalam keadaan terpuruk, dengan menyalurkan stress/depresi dalam bentuk tulisan ternyata bisa mengurangi/mengikis rasa stress yang kita alami secara efektif dan produktif.
2.         Meningkatkan minat " membaca".
Ketika saya mulai aktif menulis lagi, membuat postingan di blog pribadi kemudian rajin berkunjung pada blog teman,  saya pun jadi mulai lagi sedikit demi sedikit rajin membaca lagi. Mulai suka lagi membeli buku dan membaca, tidak hanya text/buku tapi membaca dinamika sosial, pikiran/pendapat orang lain, perkembangan IPTEK dan dunia informasi perkembangan IPTEK dan dunia informasi karena dari  input membaca tersebut menghasilkan tulisan yang komunikatif dan bisa menyampaikan inspirasi kita pada orang lain secara lintas gender, kultur,bahasa, status social/economic, usia, ruang dan long lasting). Dan yang paling membahagiakan adalah jika tulisan kita bisa membawa (impact) pencerahan dan memberikan motivasi (positive effects) buat orang yang membacanya sehingga menulis bisa bagian dari syiar dan ibadah. I hope so..Amin.
3.  Mengkayakan perbendaharaan kata dan kemampuan bahasa dan berfikir secara sistematis Dengan semakin sering menulis membuat saya tertarik dalam memandang dan menguraikan suatu topik/ tema dalam alur bahasan yang bisa mudah dicerna dan tidak membosankan untuk di baca.Bisa mengisi waktu luang secara lebih bermanfaat dan produktif untuk berbagi pikiran, pendapat serta motivasi yang inspiratif dengan banyak orang di dunia luar.
Helaing; penyembuhan
4.         Mengasah keberanian
Berani untuk menuangkan isi pikiran, berani untuk menyampaikan pendapat terhadap suatu permasalahan. Melatih keuletan dan kesabaran karena sebuah tulisan yang baik tentu membutuhkan keuletan dan kesabaran dalam merangkai kata-kata menjadi kalimat yang saling menyambung dalam alur yang jelas.
5.         Menumbuhkan rasa Percaya Diri dan optimis
Menulis merupakan perpaduan antara kekuatan pikiran, keberanian dan keuletan. Menjadi media mengendalikan emosi karena dalam proses menulis dibutuhkan emosi kondusif yang dibangun dari awal tulisan, seterusnya rakitan emosi itu terjaga agar tak melemah sehingga eksplorasi kreatifitas mengalir dalam ritme yang dinamis dan punya ‘nyawa’nya
6.         Pelampiasan’ rasa bosan yang men-trigger kecerdasan
Dengan menulis kita akan tertantang untuk untuk memaparkan hasil tarian pena yang ‘bernilai’ sehingga akan secara otomatis melatih otak kita untuk aktif berpikir dan focus.
7.         Meningkatan kepekaan social dan rasa emphaty.
Ketika membuat tulisan, maka keterlibatan rasa dan emosi kita terhadap suatu persoalan akan semakin terasah sehingga bisa memperbaiki tingkat keperdulian kita pada sesame dan lingkungan lebih baik lagi.
8.         Menulis itu asset dan investasi dengan VALUE unlimited.
9.       Saya yakin masih banyak kemanfaatan dari menulis and You knew it more and better.

Demikian beberapa manfaat menulis yang saya anggap bisa jadi media theraphy. Bagi saya menulis adalah membaca dan demikian pula sebaliknya. Jadi menulis dan membaca adalah ibarat permukaan mata uang logam, merupakan kegiatan yang saling terkait dan terintegrasi dalam satu kesatuan yang tak terpisahkan. 

And we can do writing any time, any where and no need large budget....
Are you dare to prove it?

Penemuan Partikel Tuhan

Jangankan Siapa pemenang Indonesian Idol, bahkan finalisnya saja banyak di antara kita yang [minimal] tahu namanya. Siapa saja yang masuk nominator Chef Indonesia, boys/girl band dan atau jenis audisi-audisi entertainment lainnya, tentu sangat banyak yang tahu dan kenal. Dan tak heran kalau ada yang jadi pendukung fanatik salah satu finalisnya sehingga tahu banget hal-hal yang menyangkut sang finalis tersebut. Tapi apakah sebanyak itu orang-orang yang tahu dan mendengar jika ada anak bangsa ini yang mengukir prestasi mengagumkan di bidang science? Dan Bismillahirrahmaanirrahiim inilah postingan artikel yang kebetulan pas Bulan Juli lalu saya secara ‘nyasar’ singgah di Newsroom Blog tentang Fisikawan Indonesia yang terlibat dalam penemuan partikel Tuhan. Artikel yang dipublish oleh Famega Syavira Putri ini mengabarkan tentang salah satu generasi muda Indonesia yang telah gemilang membukukan pencapaian suksesnya di bidang fisika, yang sangat mungkin kita sendiri sebagai sesama warga Indonesia BELUM mengetahui hal ini:
=========================================================================
Fisikawan Indonesia, Suharyo Sumowidagdo, terlibat dalam penemuan partikel yang dijuluki sebagai partikel Tuhan, Higgs boson. Lembaga penelitian nuklir Eropa Conseil Europeene pour la Recherche Nucleaire atau CERN mengumumkan penemuan Higgs boson pada 4 Juli 2012. Dunia fisika dikejutkan dengan penemuan partikel Higgs Bosson. Selama ini keberadaan partikel ini hanya ada dalam model teori standar. "Tanpa partikel ini tak ada akan ada berat, maka tak ada alam semesta. Tak akan ada apa-apa," kata Haryo saat diwawancara melalui voice chat, 5 Juli 2012.

Partikel Tuhan adalah partikel terakhir dalam teori model standar. Ilmuwan mulai mencarinya sejak tahun 1964. Dalam model ini, alam semesta tercipta dari 12 partikel dasar dan enam pembawa gaya. Sebelumnya, baru lima partikel pembawa gaya yang ditemukan. "Selama ini kita melihat benda-benda yang punya berat, ada gravitasi yang membuat bumi berputar. Artinya, harus ada sesuatu yang menghasilkan massa untuk partikel-partikel itu," kata pria kelahiran Tabanan, Bali ini. Sebuah partikel Higss bisa mempengaruhi massa jutaan partikel lain. Selama ini dia selalu ada di seluruh alam semesta, tapi baru ditemukan.

Jadi Fisikawan gak bikin Haryo Botak lho?
Haryo adalah satu dari dua fisikawan Indonesia yang terlibat dalam penelitian ini. Fisikawan lain, Rahmat Rahmat, bekerja dari laboratorium Fermilab di Amerika Serikat. Adapun Haryo bekerja di laboratorium CERN di Jenewa, Swiss. Menemukan partikel ini bukan hal yang mudah. Ribuan peneliti yang ada dalam dua kelompok, ATLAS dan CMS, bekerja bersama untuk menemukan partikel tersembunyi ini. "Ini bukan hasil kerja segelintir orang tapi kolaborasi banyak lembaga dari puluhan negara," kata dia.  Haryo terlibat dalam penelitian CMS di Jenewa, Swiss, untuk menemukan Higgs boson. "Saya bertanggungjawab untuk memastikan komponen detektor beroperasi. Komponen detektor itu harus terus dipelihara, untuk bisa mendeteksi partikel," kata doktor berusia 36 tahun ini.

Lulus sarjana dan master di Universitas Indonesia, Haryo kemudian mendapatkan beasiswa untuk program doktoral di Florida State University tahun 2001. Di situlah dia mulai terlibat dalam pencarian Higgs Boson, berkolaborasi dengan Fermilab. Pada Januari 2009, Haryo menjadi bagian dari tim CERN di Swiss.  Haryo juga berperan dalam pengambilan data dari percobaan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun ini. Dia juga disibukkan dengan kolaborasi dengan peneliti-peneliti lain serta diskusi dengan peneliti yang lain. Dia juga terlibat dalam beberapa percobaan lain mengenai fisika partikel. Pencarian Higgs boson dilakukan dengan mesin Large Hadron Collider yang beroperasi selama 24 jam, tujuh hari seminggu.

Haryo sendiri bekerja tak kalah keras, biasanya dimulai pukul delapan pagi hingga sebelas malam. "Ilmuwan itu dinilai dari produktivitasnya, seperti pengusaha. Kalau tak kerja sebanyak-banyaknya, sulit untuk menang dari peneliti lain," kata Haryo yang gemar memotret saat senggang. Selain meneliti, Haryo juga menguasai ilmu teknik. Pasalnya, alat penelitian ilmuwan partikel tak bisa dibeli di supermarket terdekat. Mereka harus bisa membuat alatnya sendiri, atau setidaknya tahu cara memelihara dan merawatnya. Lalu apa sebenarnya guna penemuan partikel Higgs boson untuk umat manusia?  "Ini penemuan yang ada di luar imajinasi kita. Pengetahuan baru yang ilmuwan pun belum tahu apa kegunaan praktisnya," kata pemegang gelar doktor dari Florida State University ini. Kegunaan praktis itu mungkin belum akan diketahui dalam puluhan bahkan ratusan tahun ke depan. 

Haryo mencontohkan, penemuan ini seperti teori relativitas Einstein yang ketika diumumkan tujuh puluh tahun lalu belum bisa dipahami. Kini, GPS bekerja berdasarkan teori itu. Tanpa teori Einstein, GPS tak akan bisa menunjukkan lokasi dengan tepat dan akan meleset 50 hingga 100 meter.  "Bagi ilmuwan, mendapat pengetahuan baru tentang dunia dimana kita hidup, akan membawa apresiasi lebih kepada hidup ini," kata Haryo yang saat dihubungi tengah menghadiri konferensi International Conference for High Energy Physics di Melbourne. 


Klipping Koran yang memotivasi
Penemuan Higgs boson istimewa bagi Haryo karena penemuan ini mengingatkannya pada kejadian yang menginspirasi dia menjadi seorang fisikawan partikel. 18 tahun lalu, seorang fisikawan Indonesia bernama Stephan van den Brick ikut membuktikan adanya partikel quark top, salah satu partikel yang juga mendukung model standar. "Waktu itu saya baru diterima di UI, tak tahu apa-apa. Saya takjub bahwa ada lulusan UI yang bisa menjadi bagian dari penemuan menakjubkan itu," kata dia. Guntingan koran tahun 1994 itu masih disimpannya hingga sekarang. Kini, Haryo benar-benar mencapai cita-citanya. Dia ikut menemukan partikel Higgs boson, keping terakhir model standar, kunci dari rahasia besar alam semesta. Namun kerja belum selesai. Penemuan ini baru awal pekerjaan panjang para ilmuwan. Karenanya, Haryo berharap, penemuan ini menginspirasi anak muda Indonesia untuk menjadi fisikawan.  "Semuanya mungkin asal mau bekerja keras. Jangan takut mencoba dan meninggalkan zona nyaman," kata Haryo.
=========================================================================

Sengaja saya re-publish artikel ini sebagai ungkapan kekaguman dan apresiasi personal untuk Suharyo Sumowidagdo atas prestasinya yang luar biasa tersebut. Saya yang memang menyukai hal-hal yang berbau fisika NAMUN sayangnya saya tidak begitu menguasai ilmu fisika, bahkan guru Fisika yang sekaligus wali kelas saya pernah memberikan ‘protes’ pada saya karena nilai pelajaran Fisika saya ‘mengenaskan’ padahal saya nyata-nyata memilih jurusan Fisika dengan senang hati. Seperti harapan Haryo, semoga penemuan partikel Tuhan ini menginspirasi banyak generasi negeri ini untuk menyukai dan mengukir prestasi di bidang Fisika khususnya, dan bidang keilmuan lain yang berguna bagi kesejahteraan umat manusia.

Jalan-jalan ke Kenjeran

Nama Kenjeran tentu sudah akrab sekali, apalagi bagi orang-orang Surabaya maka Kenjeran merupakan salah satu tujuan spending time atau sekedar wisata kuliner. Saat saya masih kuliah doeloe pernah sekali melihat panoama sunrise di Kenjeran. Dan setelah sekian tahun, terbersit kembali hasrat hati untuk melihat wajah Kenjeran. Bismillahirrahmaanirrahiim bebeberapa waktu lalu [31 Agustus 2012], saat di Surabaya saya menggunakan asas ‘Intimidasi’ pada keponakan untuk mengantar ke terminal Purabaya/Bungurasih dengan mengambil jalur memutar buangettts. Lha dari Tambaksari ambil rute lewat Suramadu menuju Kenjeran kemudian memutar lewat ITS untuk menuju Bungurasih. Sudah kebayang dunk jika jalur yang saya ambil aseli ‘ngerjain’ tuh keponakan saya.
Destinasi saya adalah Kenjeran, sehingga waktu melewati Suramadu saya tidak berhenti, mengingat hari sudah sore dan jalur Suramadu cukup ramai, next time saja untuk menyengaja ke Suramadu lagi. Toh sebelumnya sudah pernah juga nyoba ‘nyeberang’ Suramadu hanya saja dokumentasinya raib bersama dengan lapi lama yg hilang.

Begitu sampai di kawasan Pantai Kenjeran..deuuhhh..MakJleb: Kok pantainya beginiiiii....huaaaa. Pas surut dan aseli pemandangannya kurang sedep gettu deh. Sepanjang jalan raya Pantai Kenjeran, dipinggir-pinggirnya berjejer rapi [atau rapat?] kuliner lesehan.
   
Saat saya melintas masih belum banyak yang buka, hanya beberapa saja yang sudah siap menerima pembeli. Kata Yudy [keponakan saya yang untuk ke sekian kali mendadak jadi ‘korban’ guide pas saya di Surabaya], lesehan disitu setelah Maghrib baru ramai pengunjung apalagi kalau malam minggu.
Akhirnya saya menyempatkan untuk mengambil beberapa scene/view kawasan pantai Kenjeran dari halaman SD Bahari Muhamdiyah 9. 

Kondisi pantai yang sedang surut dan kebersihan pantai yang lekat dengan pencemaran/banyak sampah, lumayan juga aromanya yang tercium. 

Sunset yang terletak di sebelang garis pantai, langit yang berawan dan jepretan dengan camdig sehingga hasil capture sunsetnya kurang maksimal.
Setelah merasa cukup dengan aksi penjepretan sana-sini, melaju-lah menuju kawasan penjual makanan hasil olahan perikanan. Iyahhh, rasanya gak afdhol jika sudah sampai di Kenjeran tdak membawa sedikit cangkingan oleh-oleh. Aneka olahan ikan dalam berbagai versi dan jenisnya terpampang rapi di sepanjang pinggir jalan ke arah jalan Mulyosari. Saya sangat penasaran dengan teripang, kata Yudy bisa nyobain tester dulu sebelum membeli. Dan setelah saya coba makan satu ekor teripang goreng [penampakannya sekilas mirip kerupuk rambak yang gosong], ada rasa pahitnya jadi akhirnya saya hanya beli setengah Ons seharga enam ribu Rupiah...

Lha sungkan jika gak beli sih, sudah nyobain tester ya meski lidah saya ‘merasa’ kurang sreg dengan taste-nya teripang ya teuteup deh beli. Pengennya beli rambak kulit kakap, tapi beberapa toko/kios yang saya datangi memberikan jawaban yang kompak: Stock kulit kakap KOSONG!

Setelah membeli sedikit oleh-oleh: kerupuk udang, teripang dan ikan tawar [gak asin] yang tipis-tipis..saya minta Yudy untuk putar balik lagi sebentar karena merasa masih kurang banyak hasil sesi pemotretannya. Dari hasil menempuh rute ulang ini dengan motor yang melaju pelan..saya jepret-jepret lagi lokasi pasar tradisional yang menjual ikan basah dan ikan kering. Dan...tararrrrraa...ndilalah saya melihat obyek yangs sangat menarik hati untuk bertanya: Kok IPALnya begini yaaaa.....


So, bagi yang tertarik untuk membuat edisi reportase lebih lengkap....silahkan berkunjung ke Kenjeran. Bisa sekalian kuliner dan memborong oleh-oleh hasil olahan perikanan yang rata-rata harganya sudah standard [kisaran harganya rata-rata hampir sama] antara toko satu dan lainnya.

# Mohon Maaf, masih belum bisa BW:(